Al Ilmoe
© Koreksi & masukan: +62 853-6176-8769 Saluran telegram Al-Ilmu adalah media untuk berbagi ilmu, poster dakwah, fatwa dan nukilan islamiyah ilmiah yang bersumber dari al-Quran dan as-Sunnah sesuai dengan faham salafus shalih. #berilmusebelumberamal
Ko'proq ko'rsatish📈 Telegram kanali Al Ilmoe analitikasi
Al Ilmoe (@alilmoe) Indoneziya til segmentidagi kanali faol ishtirokchi. Hozirda hamjamiyat 15 521 obunachidan iborat bo'lib, Din & Maʼnaviyat toifasida 5 541-o'rinni va Indoneziya mintaqasida 4 703-o'rinni egallagan.
📊 Auditoriya ko‘rsatkichlari va dinamika
невідомо sanasidan buyon loyiha tez o‘sib, 15 521 obunachiga ega bo‘ldi.
25 Iyun, 2026 dagi oxirgi ma’lumotlarga ko‘ra kanal barqaror faollikka ega. Oxirgi 30 kunda obunachilar soni -121 ga, so‘nggi 24 soatda esa 1 ga o‘zgardi va umumiy qamrov yuqori darajada qolmoqda.
- Tasdiqlash holati: Tasdiqlanmagan
- Jalb etish (ER): Auditoriya o‘rtacha 16.64% darajada jalb etiladi. Nashrdan keyingi dastlabki 24 soatda kontent odatda umumiy obunachilar sonining 6.99% ini tashkil etuvchi reaksiyalarni to‘playdi.
- Post qamrovi: Har bir post o‘rtacha 2 584 marta ko‘riladi; birinchi sutkada odatda 1 086 ta ko‘rish yig‘iladi.
- Reaksiyalar va o‘zaro ta’sir: Auditoriya faol: har bir postga o‘rtacha 23 ta reaksiya keladi.
- Tematik yo‘nalishlar: Kontent а┈┈┈┈•✿❁, shalat, manusia, مِنْ, syaikh kabi asosiy mavzularga jamlangan.
📝 Tavsif va kontent siyosati
Muallif resursni shaxsiy fikrni ifoda etish maydoni sifatida ta’riflaydi:
“© Koreksi & masukan:
+62 853-6176-8769
Saluran telegram Al-Ilmu adalah media untuk berbagi ilmu, poster dakwah, fatwa dan nukilan islamiyah ilmiah yang bersumber dari al-Quran dan as-Sunnah sesuai dengan faham salafus shalih.
#berilmusebelumberama...”
Yuqori yangilanish chastotasi (oxirgi ma’lumot 26 Iyun, 2026 da olingan) sababli kanal doimo dolzarb va katta qamrovli bo‘lib qoladi. Analitika auditoriya kontent bilan faol hamkorlik qilishini, uni Din & Maʼnaviyat toifasidagi muhim ta’sir nuqtasiga aylantirishini ko‘rsatadi.
KETIKA ILMU TIDAK MELAHIRKAN AMALANUkuran ilmu bukan hanya pada apa yang diketahui, tetapi pada apa yang berubah setelah mengetahuinya. Sebab ilmu yang tidak melahirkan amalan bisa berubah menjadi beban bagi pemiliknya. Al-Imam al-Awzā‘ī (Abu ‘Amr ‘Abdurrahman bin ‘Amr, w. 157 H) rahimahullah berkata: وَيْلٌ لِلْمُتَفَقِّهِينَ بِغَيْرِ الْعِبَادَةِ، وَالْمُسْتَحِلِّينَ لِلْحُرُمَاتِ بِالشُّبُهَاتِ "Celaka bagi orang-orang yang mendalami agama tetapi tidak membuahkan ibadah, dan orang-orang yang mencari pembenaran untuk melanggar perkara yang diharamkan." Al-Awzā‘ī — Sunan ad-Dārimī (1/76), no. 187. Perkataan ini menunjukkan bahwa ilmu tidak cukup berhenti pada pemahaman. Semakin dalam seseorang memahami agama, semestinya semakin tampak pengaruhnya dalam amal dan sikap menjaga batas-batas Allah. Sebab ilmu yang benar bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi membentuk ibadah, memperbaiki akhlak, dan menumbuhkan rasa takut kepada Allah. Dari situlah ilmu mulai meninggalkan bekas. Namun ketika ilmu tidak melahirkan amalan, ia bisa berubah menjadi beban. Seseorang mengetahui kebenaran, tetapi tidak tunduk kepadanya. Ia memahami larangan, tetapi masih mencari alasan untuk mendekatinya. Ia mengenal batas-batas syariat, tetapi tetap berusaha mencari celah untuk melanggarnya. Di sinilah letak bahaya ilmu tanpa ibadah. Ilmu yang seharusnya menjadi jalan menuju Allah bisa berubah menjadi alat untuk mengikuti keinginan diri. Bukan karena ilmunya yang salah. Tetapi karena hati yang tidak mau tunduk. Karena itu, penting bagi setiap penuntut ilmu untuk melihat dirinya sendiri: Apakah ilmuku semakin mendekatkanku kepada Allah? Ataukah hanya menambah pengetahuan, tanpa menambah ketaatan? Sebab ilmu yang diberkahi adalah ilmu yang melahirkan ibadah, rasa takut kepada Allah, dan sikap menjaga diri dari apa yang Allah larang. Adapun ilmu yang paling berbahaya adalah ilmu yang berhenti di lisan, tetapi tidak turun menjadi amal. 📚 Referensi: Al-Awzā‘ī (w. 157 H). Dinukil dalam: Ad-Dārimī, ‘Abdullāh bin ‘Abdirrahmān (w. 255 H). Sunan ad-Dārimī. Jilid 1, hlm. 76, no. 187. #berilmusebelumberamal •┈┈┈┈•✿❁✿•┈┈┈┈• 📟 Instagram al_ilmoe: https://instagram.com/al_ilmoe?igshid=ZDdkNTZiNTM= 📟 WA alilmoe: https://whatsapp.com/channel/0029VaGNWYLDJ6H6tfpwSh0b
KETIKA KESOMBONGAN MULAI MERUSAK AKALTidak semua kerusakan akal bermula dari kebodohan. Sebagiannya bermula dari kesombongan. Seseorang bisa kehilangan kejernihan berpikir, bukan karena kurang ilmu, tetapi karena hatinya dipenuhi kesombongan. Muhammad bin ‘Ali bin al-Husain Zain al-‘Abidin (w. 94 H) rahimahullah berkata: مَا دَخَلَ قَلْبَ امْرِئٍ شَيْءٌ مِنَ الْكِبْرِ إِلَّا نَقَصَ مِنْ عَقْلِهِ مِثْلَ مَا دَخَلَ مِنْ ذَلِكَ، قَلَّ ذَلِكَ أَوْ كَثُرَ "Tidaklah kesombongan masuk ke dalam hati seseorang, kecuali akalnya akan berkurang sesuai kadar kesombongan yang masuk ke dalam dirinya, sedikit ataupun banyak." Perkataan ini menunjukkan bahwa kesombongan bukan sekadar penyakit akhlak, tetapi juga dapat merusak akal. Semakin besar kesombongan seseorang, semakin berkurang kejernihannya dalam melihat kebenaran. Sebab kesombongan membuat seseorang merasa cukup dengan dirinya. Ia menjadi berat menerima nasihat, sulit tunduk kepada kebenaran, dan mudah meremehkan orang lain. Di sinilah akal mulai kehilangan fungsinya. Bukan karena ia tidak tahu. Tetapi karena hatinya menolak untuk menerima. Kesombongan membuat seseorang lebih sibuk mempertahankan dirinya daripada mencari kebenaran. Padahal akal yang sehat semestinya menuntun seseorang untuk tunduk kepada apa yang benar, meskipun itu berat bagi dirinya. Karena itu, penting bagi setiap orang untuk melihat dirinya sendiri: Apakah aku masih mau menerima kebenaran ketika ia datang kepadaku? Ataukah ada kesombongan dalam diriku yang membuatku enggan tunduk kepadanya? Seseorang bisa memiliki ilmu yang luas, tetapi kesombongan dapat membuatnya buta terhadap kebenaran yang ada di hadapannya. Sebab semakin besar kesombongan dalam hati, semakin kecil bagian akal yang tersisa untuk menerima kebenaran. 📚 Referensi: Muḥammad bin ‘Alī bin al-Ḥusain (w. 94 H), dinukil dalam: Ibn Abī ad-Dunyā, Abū Bakr ‘Abdullāh bin Muḥammad (w. 281 H). At-Tawāḍu‘. no. 226. #berilmusebelumberamal •┈┈┈┈•✿❁✿•┈┈┈┈• 📟 Instagram al_ilmoe: https://instagram.com/al_ilmoe?igshid=ZDdkNTZiNTM= 📟 WA alilmoe: https://whatsapp.com/channel/0029VaGNWYLDJ6H6tfpwSh0b
لا يجوز تعمد إشغال المصلي عن صلاته بكلام ولا غيره، حتى إن القارئ للقرآن لا يرفع صوته بالقراءة حتى لا يشغل من يصلي بجانبه، ففي الحديث عن أبي سعيد رضي الله عنه قال: قال رسول الله ﷺ: «ألا إن كلكم مناج ربه، فلا يؤذي بعضكم بعضا،ولا يرفع بعضكم على بعض في القراءة» "Tidak boleh sengaja menyibukkan atau mengganggu orang yang sedang shalat, baik dengan suara obrolan maupun selainnya. Bahkan orang yang sedang membaca Al-Qur'an pun tidak boleh mengeraskan suaranya hingga mengganggu orang yang sedang shalat di sampingnya. Hal ini sebagaimana yang ada dalam sebuah hadits, dari sahabat Abu Sa'id Al-Khudri radhiallāhu 'anhu, beliau berkata, bahwa Rasulullāh ﷺ pernah bersabda, «أَلَا إِنَّ كُلَّكُمْ مُنَاجٍ رَبَّهُ، فَلَا يُؤْذِي بَعْضُكُمْ بَعْضًا، وَلَا يَرْفَعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الْقِرَاءَةِ» "Ketahuilah, sesungguhnya masing-masing dari kalian sedang bermunajat kepada Rabbnya. Maka janganlah sebagian kalian mengganggu sebagian yang lain, dan janganlah sebagian kalian mengeraskan bacaan di atas bacaan sebagian yang lain." 📚
Sumber : Fatāwā al-Lajnah ad-Dā'imah (7/194)
•┈┈┈┈•✿❁✿•┈┈┈┈•
📲 Telegram alilmoe:
https://t.me/alilmoe
📟 Instagram al_ilmoe: https://instagram.com/al_ilmoe?igshid=ZDdkNTZiNTM=
📲 WA alilmoe:
https://whatsapp.com/channel/0029VaGNWYLDJ6H6tfpwSh0b‘ASYURA: HARI KEMENANGAN YANG DIABADIKAN DENGAN PUASAPada pembahasan sebelumnya, kita telah melihat bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mencukupkan puasa ‘Asyura dengan satu hari saja, tetapi ingin menyempurnakannya dengan puasa Tasu’a. Dari sana kita memahami bahwa syariat tidak datang tanpa hikmah, bahkan dalam perkara yang tampak kecil sekalipun. Lalu muncul satu pertanyaan yang lebih mendasar: mengapa hari ‘Asyura sendiri memiliki kedudukan yang begitu agung dalam Islam? Mengapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi perhatian besar terhadap hari ini? Mengapa beliau berpuasa padanya dan menjelaskan keutamaannya dengan penghapusan dosa setahun yang lalu? Untuk memahami hal itu, kita perlu kembali kepada asal mula pengagungan hari ‘Asyura dalam sejarah para nabi. 1. Mengapa Hari ‘Asyura Diagungkan? Asal mula pengagungan hari ‘Asyura tidak bisa dipisahkan dari satu peristiwa besar dalam sejarah para nabi: hari ketika Allah menyelamatkan Nabi Musa ‘alaihis salam dan kaumnya, serta menenggelamkan Fir’aun beserta bala tentaranya. Sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدِمَ الْمَدِينَةَ، فَوَجَدَ الْيَهُودَ صُيَّامًا يَوْمَ عَاشُورَاءَ، فَقَالَ: مَا هَذَا؟ قَالُوا: هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ، هَذَا يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ، فَصَامَهُ مُوسَى “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura. Maka beliau bertanya: ‘Hari apa ini?’ Mereka menjawab: ‘Ini adalah hari yang baik. Hari ketika Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka, maka Musa berpuasa pada hari itu.’” HR. Al-Bukhari no. 2004 dan Muslim no. 1130 dari sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Riwayat ini menunjukkan bahwa ‘Asyura bukan sekadar hari yang dikenal dalam syariat umat ini, tetapi hari yang telah memiliki tempat dalam sejarah para nabi sebelumnya. Ia adalah hari kemenangan tauhid atas kebatilan, hari ketika Allah menampakkan pertolongan-Nya kepada hamba-Nya yang beriman. Dan dari sini tampak bahwa dalam syariat para nabi, nikmat kemenangan tidak cukup dikenang, tetapi dihidupkan dengan syukur kepada Allah. Dari sinilah kita mulai memahami mengapa hari ini memiliki kedudukan yang agung dalam syariat Islam. 2. Mengapa Nabi ﷺ Berpuasa pada Hari ‘Asyura? Jika pada pembahasan sebelumnya kita melihat bahwa ‘Asyura adalah hari besar yang berkaitan dengan kemenangan Nabi Musa ‘alaihis salam, maka muncul pertanyaan berikutnya: bagaimana sikap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap hari itu? Jawabannya ada dalam lanjutan riwayat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Ketika orang-orang Yahudi menjelaskan bahwa hari itu adalah hari diselamatkannya Musa dan kaumnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: فَنَحْنُ أَحَقُّ وَأَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ “Maka kami lebih berhak dan lebih utama dalam mengikuti Musa daripada kalian.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada hari itu dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa padanya. HR. Al-Bukhari no. 2004 dan Muslim no. 1130 dari sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini menunjukkan bahwa ajaran para nabi pada asalnya adalah satu: mentauhidkan Allah dan memerangi kesyirikan. Nabi Musa ‘alaihis salam berdiri menghadapi Fir’aun dengan membawa tauhid, sementara Fir’aun menjadi simbol kesombongan dan kekufuran, sampai ia berkata: أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَى “Akulah tuhan kalian yang paling tinggi.” (QS. An-Nazi’at: 24) Ketika Allah menyelamatkan Musa dan menenggelamkan Fir’aun, itu bukan sekadar kemenangan satu kaum atas kaum lain, tetapi kemenangan tauhid atas kebatilan. Karena itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan umat ini lebih berhak mewarisi jalan Nabi Musa, sebab jalan yang dibawa adalah jalan tauhid, syukur, dan ketaatan kepada Allah.
Tasu’a dan ‘Asyura: Menyempurnakan Puasa di Awal Al-MuharramKetika Al-Muharram tiba, banyak kaum muslimin sudah mengenal keutamaan puasa ‘Asyura. Sebuah hari yang Allah jadikan sebagai sebab dihapuskannya dosa setahun yang telah lalu. Karena itu, perhatian biasanya langsung tertuju kepada hari kesepuluh. Namun ada satu hari yang sering luput dari perhatian, hari kesembilan Al-Muharram, yang dikenal dengan Tasu’a. Padahal hari ini bukan sekadar hari sebelum ‘Asyura. Ia adalah hari yang secara khusus Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam niatkan untuk digabungkan dengan puasa ‘Asyura. Ini memberi pelajaran bahwa dalam syariat, kesempurnaan sebuah amal kadang tidak hanya terletak pada amalan utamanya, tetapi juga pada bagaimana amal itu dijaga, disempurnakan, dan dilakukan sesuai tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena itu, Tasu’a bukan sekadar hari sebelum ‘Asyura, tetapi bagian dari tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menyempurnakan ibadah. 1. Apa yang Dimaksud dengan Tasu’a? Tasu’a (تاسوعاء) adalah hari kesembilan dari bulan Al-Muharram. Namanya diambil dari kata tis’ah (تسعة) yang berarti sembilan. Hari ini berada tepat sebelum ‘Asyura, yaitu hari kesepuluh Al-Muharram. Dan karena itu, pembahasan tentang Tasu’a tidak bisa dipisahkan dari puasa ‘Asyura. Sebab dari sanalah asal anjuran untuk berpuasa pada hari kesembilan ini. 2. Mengapa Nabi ﷺ Ingin Menambah Hari Kesembilan? Puasa ‘Asyura adalah salah satu puasa sunnah yang memiliki keutamaan besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ “Dan puasa pada hari ‘Asyura, aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa setahun yang telah lalu.” HR. Muslim no. 1162 dari sahabat Abu Qatadah Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu. Karena besarnya keutamaan puasa ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa padanya. Namun ketika para sahabat menyebutkan bahwa hari itu juga diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابِلٍ لَأَصُومَنَّ التَّاسِعَ “Jika aku masih hidup sampai tahun depan, sungguh aku akan berpuasa pada hari kesembilan.” HR. Muslim no. 1134 dari sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Hadits ini menjadi dasar anjuran puasa Tasu’a, yaitu berpuasa pada hari kesembilan Al-Muharram bersama puasa ‘Asyura. 3. Apa Hikmah di Balik Puasa Tasu’a? Ketika para sahabat menyebutkan bahwa ‘Asyura juga diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani, mereka bukan sedang memberitahu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sesuatu yang belum beliau ketahui. Syaikh Shalih Al-‘Ushaimi hafizhahullah menjelaskan bahwa maksud mereka adalah meminta bentuk puasa yang membedakan kaum muslimin dari Ahlul Kitab. (Sulālah fī Marātib Shiyām ‘Āsyūrā, hlm. 2–3). Karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berniat menambah puasa pada hari kesembilan. Ini menunjukkan bahwa syariat tidak hanya mengajarkan ibadah, tetapi juga mengajarkan agar ibadah itu dijaga sesuai tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan memiliki ciri yang membedakan umat ini dari umat sebelumnya. Maka Tasu’a bukan sekadar tambahan, tetapi bagian dari kesempurnaan dalam mengikuti sunnah.
Tasu’a dan ‘Asyura: Menyempurnakan Puasa di Awal Al-MuharramKetika Al-Muharram tiba, banyak kaum muslimin sudah mengenal keutamaan puasa ‘Asyura. Sebuah hari yang Allah jadikan sebagai sebab dihapuskannya dosa setahun yang telah lalu. Karena itu, perhatian biasanya langsung tertuju kepada hari kesepuluh. Namun ada satu hari yang sering luput dari perhatian, hari kesembilan Al-Muharram, yang dikenal dengan Tasu’a. Padahal hari ini bukan sekadar hari sebelum ‘Asyura. Ia adalah hari yang secara khusus Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam niatkan untuk digabungkan dengan puasa ‘Asyura. Ini memberi pelajaran bahwa dalam syariat, kesempurnaan sebuah amal kadang tidak hanya terletak pada amalan utamanya, tetapi juga pada bagaimana amal itu dijaga, disempurnakan, dan dilakukan sesuai tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena itu, Tasu’a bukan sekadar hari sebelum ‘Asyura, tetapi bagian dari tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menyempurnakan ibadah. 1. Apa yang Dimaksud dengan Tasu’a? Tasu’a (تاسوعاء) adalah hari kesembilan dari bulan Al-Muharram. Namanya diambil dari kata tis’ah (تسعة) yang berarti sembilan. Hari ini berada tepat sebelum ‘Asyura, yaitu hari kesepuluh Al-Muharram. Dan karena itu, pembahasan tentang Tasu’a tidak bisa dipisahkan dari puasa ‘Asyura. Sebab dari sanalah asal anjuran untuk berpuasa pada hari kesembilan ini. 2. Mengapa Nabi ﷺ Ingin Menambah Hari Kesembilan? Puasa ‘Asyura adalah salah satu puasa sunnah yang memiliki keutamaan besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ “Dan puasa pada hari ‘Asyura, aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa setahun yang telah lalu.” HR. Muslim no. 1162 dari sahabat Abu Qatadah Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu. Karena besarnya keutamaan puasa ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa padanya. Namun ketika para sahabat menyebutkan bahwa hari itu juga diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابِلٍ لَأَصُومَنَّ التَّاسِعَ “Jika aku masih hidup sampai tahun depan, sungguh aku akan berpuasa pada hari kesembilan.” HR. Muslim no. 1134 dari sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Hadits ini menjadi dasar anjuran puasa Tasu’a, yaitu berpuasa pada hari kesembilan Al-Muharram bersama puasa ‘Asyura. 3. Apa Hikmah di Balik Puasa Tasu’a? Ketika para sahabat menyebutkan bahwa ‘Asyura juga diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani, mereka bukan sedang memberitahu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sesuatu yang belum beliau ketahui. Syaikh Shalih Al-‘Ushaimi hafizhahullah menjelaskan bahwa maksud mereka adalah meminta bentuk puasa yang membedakan kaum muslimin dari Ahlul Kitab. (Sulālah fī Marātib Shiyām ‘Āsyūrā, hlm. 2–3). Karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berniat menambah puasa pada hari kesembilan. Ini menunjukkan bahwa syariat tidak hanya mengajarkan ibadah, tetapi juga mengajarkan agar ibadah itu dijaga sesuai tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan memiliki ciri yang membedakan umat ini dari umat sebelumnya. Maka Tasu’a bukan sekadar tambahan, tetapi bagian dari kesempurnaan dalam mengikuti sunnah. Penutup Banyak orang ingin meraih keutamaan puasa ‘Asyura. Namun tidak semua memperhatikan bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin menyempurnakannya. Di sinilah Tasu’a mengajarkan satu pelajaran penting: bahwa dalam beribadah, bukan hanya hasil yang dicari, tetapi juga cara yang benar dalam menempuhnya. Kadang satu tambahan amal yang ringan justru menjadi pembeda antara sekadar beramal dan berusaha menyempurnakan amal. Maka jika Allah masih memberi kesempatan untuk bertemu Tasu’a dan ‘Asyura tahun ini, jangan biarkan keduanya berlalu begitu saja.
KETIKA ILMU TIDAK MELAHIRKAN KERENDAHAN HATITidak semua orang yang belajar agama menjadi lebih rendah hati. Sebagian justru semakin sulit menerima nasihat. Sebagian mulai merasa cukup dengan ilmunya. Sebagian ingin cepat dianggap layak berbicara dan diikuti. Padahal ilmu yang benar semestinya melahirkan kerendahan hati, bukan rasa tinggi hati. Syaikh ‘Ubaid al-Jabiri rahimahullah berkata: طَالِبُ الْعِلْمِ لَا بُدَّ أَنْ يُرَبِّيَ نَفْسَهُ عَلَى التَّوَاضُعِ، وَتَرْكِ التَّمَشُّيخِ، وَحُبِّ التَّرَفُّعِ "Seorang penuntut ilmu harus melatih dirinya untuk bersikap tawadhu, meninggalkan sikap merasa paling tahu atau merasa layak diikuti, serta meninggalkan kecintaan untuk tampil lebih tinggi dari orang lain." Di sini Syaikh ‘Ubaid mengingatkan bahwa sikap tawadhu adalah bagian dari adab yang harus dijaga oleh penuntut ilmu. Sebab tawadhu tidak lahir dengan sendirinya, tetapi perlu dilatih seiring bertambahnya ilmu. Karena semakin bertambah ilmu seseorang, semakin besar pula ujian yang menyertainya. Di antara ujian itu adalah merasa lebih tahu, ingin lebih didengar, dan ingin lebih dihormati. Di sinilah banyak penuntut ilmu tergelincir. Bukan karena kurang ilmu. Tetapi karena kurang menjaga hatinya. Tawadhu adalah sikap rendah hati yang membuat seseorang mudah menerima kebenaran dan tidak merasa lebih tinggi dari orang lain. Karena itu, Syaikh ‘Ubaid memperingatkan dua penyakit yang sering merusak penuntut ilmu: at-tamasyyukh dan hubbut taraffu’. At-tamasyyukh adalah keinginan untuk cepat dianggap sebagai orang berilmu sebelum matang dalam ilmu dan adab. Sedangkan hubbut taraffu’ adalah kecintaan untuk merasa lebih tinggi dari orang lain. Kedua penyakit ini sering tumbuh bersamaan. Seseorang ingin terlihat berilmu, lalu perlahan menjadi berat menerima nasihat dan koreksi. Padahal ilmu yang benar semestinya lebih dahulu tampak pada akhlak pemiliknya, sebelum terlihat pada lisannya. Semakin banyak ilmu, semestinya semakin mudah tunduk kepada kebenaran. Semakin luas pemahaman, semestinya semakin sadar bahwa masih banyak yang belum diketahui. Di situlah ilmu mulai meninggalkan bekas. Namun ketika hati tidak dijaga, ilmu justru bisa menjadi sebab munculnya kesombongan, kerasnya hati, dan sulitnya menerima kebenaran. Karena itu, penting bagi setiap penuntut ilmu untuk menilai dirinya sendiri: Apakah ilmu yang kupelajari membuatku lebih mudah menerima kebenaran? Ataukah justru membuatku semakin berat menerima kebenaran, meskipun datang dari orang lain? Sebab salah satu tanda ilmu yang bermanfaat adalah bertambahnya kerendahan hati, bukan bertambahnya rasa tinggi hati. 📚 Referensi: Al-Jābirī, ‘Ubaid bin ‘Abdillāh (w. 1444 H/2022 M). Sharḥ Uṣūl as-Sunnah lil-Ḥumaydī. Atas matan al-Ḥumaydī, ‘Abdullāh bin az-Zubair (w. 219 H), hlm. 15. #berilmusebelumberamal •┈┈┈┈•✿❁✿•┈┈┈┈• 📟 Instagram al_ilmoe: https://instagram.com/al_ilmoe?igshid=ZDdkNTZiNTM= 📟 WA alilmoe: https://whatsapp.com/channel/0029VaGNWYLDJ6H6tfpwSh0b
JANGAN BIARKAN ‘ASYURA TERLEWATAda amalan yang jika terlewat, tidak bisa diganti. Bukan karena tidak penting. Justru karena waktunya sangat terbatas. Di antara hari yang seperti itu adalah hari ‘Asyura. Al-Imam adz-Dzahabi rahimahullah menukil bahwa Imam Muhammad bin Syihab az-Zuhri tetap berpuasa ‘Asyura ketika safar. Lalu beliau ditanya: لِمَ تَصُومُ وَأَنْتَ تُفْطِرُ فِي رَمَضَانَ فِي السَّفَرِ؟ "Mengapa engkau tetap berpuasa, padahal ketika safar engkau berbuka di bulan Ramadhan?" Beliau menjawab: إِنَّ رَمَضَانَ لَهُ عِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ، وَإِنَّ عَاشُورَاءَ يَفُوتُ "Sesungguhnya Ramadhan memiliki hari-hari pengganti, sedangkan ‘Asyura akan terlewat." Perkataan ini menunjukkan bagaimana para salaf memandang kesempatan amal. Mereka memahami bahwa tidak semua amal memiliki peluang yang sama. Ada ibadah yang jika ditinggalkan, masih bisa diganti. Dan ada ibadah yang jika terlewat, maka keutamaannya ikut terlewat. Inilah mengapa az-Zuhri tetap berpuasa ‘Asyura meskipun sedang safar. Bukan karena puasa safar wajib. Tetapi karena beliau memahami nilai dari momentum itu. Di sinilah kita belajar bahwa musim-musim kebaikan tidak boleh dipandang biasa. Karena bisa jadi satu hari yang terjaga lebih berat dalam timbangan amal daripada banyak hari yang berlalu tanpa ibadah. Maka selama Allah masih memberi kesempatan menjumpai ‘Asyura, jangan biarkan ia berlalu tanpa puasa. Sebab kesempatan yang telah pergi belum tentu kembali. 📚 Referensi: Adz-Dzahabi, Syamsuddin Muhammad bin Ahmad (w. 748 H). Siyar A‘lam an-Nubalā’. Jilid 5, hlm. 342. #asyura #puasa #muharram •┈┈┈┈•✿❁✿•┈┈┈┈• 📟 Instagram al_ilmoe: https://instagram.com/al_ilmoe?igshid=ZDdkNTZiNTM= 📟 WA alilmoe: https://whatsapp.com/channel/0029VaGNWYLDJ6H6tfpwSh0b
لِأَنَّ الْمَوْلِدَ وَالْمَبْعَثَ لَا يَخْلُو وَاحِدٌ مِنْهُمَا مِنَ النِّزَاعِ فِي تَعْيِينِ السَّنَةِ، وَأَمَّا وَقْتُ الْوَفَاةِ فَأَعْرَضُوا عَنْهُ لِمَا تُوُقِّعَ بِذِكْرِهِ مِنَ الْأَسَفِ عَلَيْهِ، فَانْحَصَرَ فِي الْهِجْرَةِ“Karena kelahiran beliau dan awal diutusnya beliau tidak lepas dari adanya perbedaan pendapat dalam penentuan tahunnya. Adapun waktu wafat beliau, maka para sahabat berpaling darinya karena dikhawatirkan penyebutannya akan terus membangkitkan kesedihan atas beliau. Maka pilihan pun terbatas pada hijrah.” Fath Al-Bari (7/315). Penjelasan ini menunjukkan bahwa kelahiran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak dipilih bukan karena tidak penting. Justru ia adalah nikmat besar bagi umat ini. Namun tahun kelahirannya diperselisihkan. Demikian pula awal diutusnya beliau sebagai nabi. Itu adalah permulaan turunnya wahyu dan awal risalah, tetapi rincian waktunya juga tidak lepas dari perbedaan. Adapun wafat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka para sahabat tidak menjadikannya sebagai pembuka sejarah umat ini karena beratnya musibah yang terkandung di dalamnya. Makna ini menjadi semakin jelas dalam kesaksian Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Ia berkata:
فَمَا رَأَيْتُ يَوْمًا كَانَ أَقْبَحَ وَلَا أَظْلَمَ مِنْ يَوْمٍ مَاتَ فِيهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ“Aku tidak pernah melihat satu hari pun yang lebih buruk dan lebih gelap daripada hari wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” HR. Ad-Darimi no. 88 dan At-Tirmidzi no. 3618 Dalam riwayat At-Tirmidzi disebutkan:
فَلَمَّا كَانَ الْيَوْمُ الَّذِي مَاتَ فِيهِ أَظْلَمَ مِنْهَا كُلُّ شَيْءٍ“Ketika hari wafat beliau tiba, maka segala sesuatu di Madinah terasa menjadi gelap.” HR. At-Tirmidzi no. 3618 Riwayat-riwayat ini menunjukkan betapa dalamnya luka yang dirasakan para sahabat atas wafat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena itu, sangat wajar jika mereka tidak menjadikan wafat beliau sebagai permulaan penanggalan umat ini. Maka setelah tiga kemungkinan itu tersisih, pilihan pun mengerucut kepada hijrah. Dan itu bukan tanpa alasan. Karena hijrah adalah peristiwa yang paling jelas, paling disepakati, dan paling menentukan dalam perjalanan Islam. Di sanalah agama ini mulai berdiri dengan masyarakat, kepemimpinan, hukum, dan kekuatan. Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata:
الهجرة فرقت بين الحق والباطل“Hijrah telah memisahkan antara kebenaran dan kebatilan.” Disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Fath Al-Bari (7/314). Mengapa Dimulai dari Al-Muharram, Bukan Rabi’ul Awwal? Setelah kita mengetahui mengapa hijrah dipilih sebagai titik awal penanggalan Islam, masih tersisa satu pertanyaan: jika hijrah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terjadi pada bulan Rabi’ul Awwal, mengapa awal tahun hijriah justru dimulai dari Al-Muharram? Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu ta’ala menjelaskan:
وَإِنَّمَا أَخَّرُوهُ مِنْ رَبِيعِ الْأَوَّلِ إِلَى الْمُحَرَّمِ؛ لِأَنَّ ابْتِدَاءَ الْعَزْمِ عَلَى الْهِجْرَةِ كَانَ فِي الْمُحَرَّمِ
Al-Muharram dan Awal Tarikh Islam: Membaca Ulang Sejarah Penanggalan HijriahSetiap tahun kaum muslimin memasuki bulan Al-Muharram sebagai pembuka tahun hijriah. Namun banyak yang mengira bahwa sejak awal Islam, bulan ini memang telah ditetapkan sebagai permulaan kalender kaum muslimin. Padahal tidak demikian. Penanggalan hijriah tidak ditetapkan pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan tidak pula pada masa Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. Ia baru dibentuk pada masa Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, setelah para sahabat bermusyawarah untuk menentukan dari peristiwa apa sejarah Islam harus dimulai. Namun di balik itu, ada satu pertanyaan penting yang jarang dibahas: Mengapa hitungan tahun Islam justru dimulai dari Al-Muharram, padahal hijrah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Madinah terjadi pada bulan Rabi’ul Awwal, bukan pada Al-Muharram? Untuk memahami hal itu, kita perlu kembali kepada jejak awal penanggalan Islam. 1. Jejak Awal Penanggalan Islam Penanggalan Islam tidak lahir dari asumsi, tetapi dari musyawarah generasi terbaik umat ini. Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu berkata:
مَا عَدُّوا مِنْ مَبْعَثِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا مِنْ وَفَاتِهِ، مَا عَدُّوا إِلَّا مِنْ مَقْدَمِهِ الْمَدِينَةَ“Mereka tidak menghitung penanggalan dari masa diutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan tidak pula dari wafat beliau. Mereka menghitungnya dari kedatangan beliau ke Madinah.” HR. Al-Bukhari no. 3934 Atsar ini menunjukkan bahwa para sahabat dengan sengaja tidak menjadikan awal kenabian dan tidak pula wafat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai titik awal sejarah Islam. Mereka memilih hijrah. Karena hijrah menjadi batas yang jelas antara dua fase besar perjalanan Islam: fase tekanan dan kelemahan di Makkah, dan fase tegaknya masyarakat Islam di Madinah. Makna ini semakin jelas dalam atsar Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Ketika Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu mengumpulkan para sahabat untuk menentukan awal penanggalan Islam, Ali mengusulkan:
مِنْ يَوْمِ هَاجَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَرَكَ أَرْضَ الشِّرْكِ“(Hendaknya mulai dihitung) dari hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berhijrah dan meninggalkan negeri syirik.” Lalu Umar radhiyallahu ‘anhu menyetujuinya dan menetapkannya sebagai awal penanggalan Islam. HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak no. 4344 (3/550). Riwayat ini menunjukkan bahwa hijrah bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi perpindahan dari lingkungan kesyirikan menuju tegaknya tauhid dan kehidupan Islam. 2. Mengapa Hijrah yang Dipilih? Setelah para sahabat sepakat bahwa hijrah menjadi titik awal penanggalan Islam, muncul pertanyaan berikutnya: mengapa yang dipilih justru hijrah? Padahal dalam perjalanan hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ada beberapa peristiwa besar lain yang juga mungkin dijadikan titik awal sejarah. Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani (wafat 852 H) rahimahullahu ta’ala menjelaskan:
وَكَانَتِ الْقَضَايَا الَّتِي اتُّفِقَتْ لَهُ وَيُمْكِنُ أَنْ يُؤَرَّخَ بِهَا أَرْبَعَةً: مَوْلِدُهُ، وَمَبْعَثُهُ، وَهِجْرَتُهُ، وَوَفَاتُهُ، فَرَجَحَ عِنْدَهُمْ جَعْلُهَا مِنَ الْهِجْرَةِ“Peristiwa-peristiwa besar yang disepakati dalam kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan memungkinkan untuk dijadikan dasar penanggalan ada empat: kelahiran beliau, awal kenabian beliau, hijrah beliau, dan wafat beliau. Lalu menurut mereka, yang paling kuat untuk dijadikan permulaan adalah hijrah.” Fath Al-Bari (7/315). Namun hijrah tidak dipilih begitu saja. Ada proses pertimbangan di baliknya.
PUASA TERBAIK SETELAH RAMADHANTidak semua puasa sunnah memiliki kedudukan yang sama. Ada hari-hari tertentu yang Allah lebih muliakan, dan ada bulan-bulan tertentu yang lebih dianjurkan untuk diisi dengan ibadah. Di antara bulan itu adalah al-Muharram. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ "Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, bulan Muharram. Dan shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam." Takhrij: Hadits riwayat Muslim no. 1163 dari sahabat Abu Hurairah. Hadits ini menunjukkan keutamaan besar bulan al-Muharram. Sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya sebagai: شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ "bulan Allah, al-Muharram." Penyandaran ini menunjukkan kemuliaan dan keistimewaannya. Ibnu Rajab menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan anjuran untuk memperbanyak puasa di bulan al-Muharram. Lathā’if al-Ma‘ārif. hlm. 77–79. Namun bukan berarti berpuasa penuh selama sebulan. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak diketahui pernah menyempurnakan puasa sebulan penuh selain Ramadhan. Maka makna hadits ini adalah memperbanyak puasa sunnah padanya. Dan dari seluruh hari di bulan al-Muharram, hari ‘Asyura (tanggal 10 al-Muharram) memiliki keutamaan yang lebih khusus. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ "Dan puasa pada hari ‘Asyura, aku berharap kepada Allah agar dapat menghapus dosa setahun sebelumnya." HR. Muslim no. 1162 dari sahabat Abu Qatadah al-Anshari. Maka al-Muharram adalah kesempatan untuk membuka tahun hijriyah dengan amal. Siapa yang ingin memulai tahun barunya dengan kebaikan, hendaknya tidak melewatkan puasa di bulan ini. Jangan biarkan al-Muharram berlalu seperti bulan-bulan biasa. Sebab di dalamnya ada kesempatan besar untuk mengumpulkan pahala, menghapus dosa, dan memulai langkah baru dalam ketaatan. #puasa #muharram #asyura •┈┈┈┈•✿❁✿•┈┈┈┈• 📟 Instagram al_ilmoe: https://instagram.com/al_ilmoe?igshid=ZDdkNTZiNTM= 📟 WA alilmoe: https://whatsapp.com/channel/0029VaGNWYLDJ6H6tfpwSh0b
Endi mavjud! Telegram Tadqiqoti 2025 — yilning asosiy insaytlari 
