Al Ilmoe
© Koreksi & masukan: +62 853-6176-8769 Saluran telegram Al-Ilmu adalah media untuk berbagi ilmu, poster dakwah, fatwa dan nukilan islamiyah ilmiah yang bersumber dari al-Quran dan as-Sunnah sesuai dengan faham salafus shalih. #berilmusebelumberamal
إظهار المزيد📈 نظرة تحليلية على قناة تيليجرام Al Ilmoe
تُعد قناة Al Ilmoe (@alilmoe) في القطاع اللغوي الإندونيسية لاعباً نشطاً. يضم المجتمع حالياً 15 094 مشتركاً، محتلاً المرتبة 5 686 في فئة الدين والقيم الروحية والمرتبة 4 342 في منطقة اندونيسيا.
📊 مؤشرات الجمهور والحراك
منذ تأسيسه في невідомо، حقق المشروع نمواً سريعاً وجمع 15 094 مشتركاً.
بحسب آخر البيانات بتاريخ 14 أكتوبر, 2026، تحافظ القناة على نشاط مستقر. خلال آخر 30 يوماً تغيّر عدد الأعضاء بمقدار -89، وفي آخر 24 ساعة بمقدار 0، مع بقاء الوصول العام مرتفعاً.
- حالة التحقق: غير موثّقة
- معدل التفاعل (ER): يبلغ متوسط تفاعل الجمهور 14.37%. وخلال أول 24 ساعة من النشر يحصد المحتوى عادةً 6.28% من ردود الفعل نسبةً إلى إجمالي المشتركين.
- وصول المنشورات: يحصل كل منشور على متوسط 2 170 مشاهدة. وخلال اليوم الأول يجمع عادةً 948 مشاهدة.
- التفاعلات والاستجابة: يتفاعل الجمهور بانتظام؛ متوسط التفاعلات لكل منشور يبلغ 18.
- الاهتمامات الموضوعية: يركز المحتوى على مواضيع رئيسية مثل а┈┈┈┈•✿❁, shalat, manusia, مِنْ, syaikh.
📝 الوصف وسياسة المحتوى
يصف المؤلف القناة بأنها مساحة للتعبير عن الآراء الذاتية:
“© Koreksi & masukan:
+62 853-6176-8769
Saluran telegram Al-Ilmu adalah media untuk berbagi ilmu, poster dakwah, fatwa dan nukilan islamiyah ilmiah yang bersumber dari al-Quran dan as-Sunnah sesuai dengan faham salafus shalih.
#berilmusebelumberama...”
بفضل وتيرة التحديث المرتفعة (أحدث البيانات بتاريخ 15 أكتوبر, 2026) تحافظ القناة على حداثتها ومستوى وصول مرتفع. وتُظهر التحليلات تفاعلاً نشطاً من الجمهور، ما يجعلها نقطة تأثير مهمة ضمن فئة الدين والقيم الروحية.
NIAT BAIK SAJA BELUMLAH CUKUPAbdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu pernah berkata: «وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ» “Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, tetapi tidak berhasil meraihnya.”¹ Seseorang mungkin ingin mendekatkan diri kepada Allah dengan memperbanyak ibadah. Namun, keinginan yang baik tidak dengan sendirinya menjadikan suatu amalan benar. Dalam beribadah, tujuan yang baik harus disertai tuntunan yang menjadi dasar pelaksanaannya. Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan: «وَالْوَاجِبُ الْحَذَرُ مِنَ الْبِدَعِ كُلِّهَا، وَأَلَّا يَتَعَبَّدَ الْإِنْسَانُ إِلَّا بِمَا شَرَعَهُ رَسُولُ اللهِ ﷺ لِيَكُونَ إِمَامُهُ حَقِيقَةً؛ أَيْ: لِيَكُونَ الرَّسُولُ ﷺ إِمَامَهُ حَقِيقَةً؛ لِأَنَّ مَنْ سَلَكَ سَبِيلَ بِدْعَةٍ فَقَدْ جَعَلَ الْمُبْتَدِعَ إِمَامًا لَهُ فِي هَذِهِ الْبِدْعَةِ دُونَ رَسُولِ اللهِ ﷺ.» “Wajib mewaspadai seluruh perkara baru dalam agama yang tidak disyariatkan, dan tidak beribadah kecuali dengan apa yang disyariatkan oleh Rasulullah ﷺ, agar benar-benar menjadikan beliau sebagai panutan. Sebab, siapa yang menempuh jalan perkara baru dalam agama yang tidak disyariatkan, berarti ia telah menjadikan orang yang mengada-adakannya sebagai panutannya dalam perkara tersebut, bukan Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam.”² Penjelasan ini menunjukkan bahwa mengikuti Rasulullah ﷺ bukan sekadar pengakuan, tetapi harus terlihat dalam cara seseorang beribadah. Ketika hendak melakukan suatu amalan untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta‘ala, kita perlu mengetahui landasan dan tuntunan yang mendasarinya. Apakah amalan tersebut memang disyariatkan oleh Rasulullah ﷺ? Apakah ada dasar yang dapat dipertanggungjawabkan dalam agama? Keinginan untuk beribadah tentu merupakan tujuan yang baik. Namun, dalam urusan ibadah, kita tidak cukup hanya mengandalkan perasaan bahwa suatu amalan itu baik. Jangan sampai keinginan untuk mendekatkan diri kepada Allah justru membuat kita menempuh jalan yang tidak dituntunkan oleh Rasulullah ﷺ. Niat yang baik perlu disertai cara yang benar, dan tuntunan Rasulullah ﷺ harus menjadi panutan dalam beribadah. --- Referensi ¹ Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, Muqaddimah Sunan ad-Dārimī, no. 210. Dan sanadnya dinilai sahih oleh syaikh al-Albani dalam Silsilah al-Aḥādīth aṣ-Ṣaḥīḥah, jil. 5, hlm. 11. ² Muhammad bin Shalih bin Muhammad al-‘Utsaimin, Audio Fatāwā Nūr ‘alā ad-Darb, rekaman no. 029. •┈┈┈┈•✿❁✿•┈┈┈┈• 📟 Instagram al_ilmoe: https://instagram.com/al_ilmoe?igshid=ZDdkNTZiNTM= 📟 WA alilmoe: https://whatsapp.com/channel/0029VaGNWYLDJ6H6tfpwSh0b
Disebut kan dari Ibnu Katsir dalam Al-Bidāyah wan-Nihāyah (10/247, cet. Dār Hijr•┈┈┈┈•✿❁✿•┈┈┈┈• 📲 Telegram alilmoe: https://t.me/alilmoe 📟 Instagram al_ilmoe: https://instagram.com/al_ilmoe?igshid=ZDdkNTZiNTM= 📲 WA alilmoe: https://whatsapp.com/channel/0029VaGNWYLDJ6H6tfpwSh0b 🌐 Website alilmoe : https://alilmoe.com/
فالذّنوبُ لها عُقُوباتٌ:السّرُّ بالسّرِّ، والعَلانِيةُ بالعَلانِيَةِ.Setiap dosa itu ada balasannya, ketika dosa itu dilakukan diam-diam, maka balasannya dengan tersembunyi, dan kalau dilakukan terang-terangan, maka balasannya dengan terang-terangan. 📚 Sumber: Majmu'ul Fatawa (jilid: 14/hal.111) •┈┈┈┈•✿❁✿•┈┈┈┈• 📲 Telegram alilmoe: https://t.me/alilmoe 📟 Instagram al_ilmoe: https://instagram.com/al_ilmoe?igshid=ZDdkNTZiNTM= 📲 WA alilmoe: https://whatsapp.com/channel/0029VaGNWYLDJ6H6tfpwSh0b 🌐 Website alilmoe : https://alilmoe.com/
KETIKA YANG VIRAL DIANGGAP BENARDi media sosial, sesuatu yang sedang ramai dibicarakan sering kali dianggap baik dan benar. Hanya berdasarkan sebuah video yang tersebar luas, kutipan yang beredar, atau asumsi seseorang, berbagai komentar pun langsung bermunculan. Tidak sedikit yang langsung memberikan penilaian. Ada yang mencela, ada yang ikut menyebarkan tuduhan, bahkan ada yang mengajak orang lain membenci orang yang dituduh. Padahal, duduk perkaranya belum diketahui secara utuh. Tanpa sadar, kita ikut menyebarkan tuduhan tentang sesuatu yang sebenarnya tidak kita ketahui. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: إِنَّ الْفِتَنَ إِنَّمَا يُعْرَفُ مَا فِيهَا مِنَ الشَّرِّ إِذَا أَدْبَرَتْ، فَأَمَّا إِذَا أَقْبَلَتْ فَإِنَّهَا تُزَيَّنُ، وَيُظَنُّ أَنَّ فِيهَا خَيْرًا، فَإِذَا ذَاقَ النَّاسُ مَا فِيهَا مِنَ الشَّرِّ وَالْمَرَارَةِ وَالْبَلَاءِ، صَارَ ذَلِكَ مُبَيِّنًا لَهُمْ مَضَرَّتَهَا، وَوَاعِظًا لَهُمْ أَنْ يَعُودُوا فِي مِثْلِهَا. “Keburukan yang ada dalam fitnah baru diketahui setelah fitnah itu berlalu. Ketika baru muncul, fitnah itu justru tampak indah dan disangka membawa kebaikan. Namun, setelah manusia merasakan sendiri keburukan, kepahitan, dan penderitaan yang ditimbulkannya, barulah mereka menyadari bahayanya. Pengalaman itu pun menjadi pelajaran agar mereka tidak kembali terjerumus dalam fitnah serupa.”¹ Fitnah tidak selalu tampak buruk ketika pertama kali muncul. Ada kalanya ia terlihat seperti sesuatu yang patut didukung, sampai orang-orang merasakan sendiri akibatnya. Di media sosial, kita pun bisa terbawa arus yang sama: merasa sedang membela kebenaran, padahal belum mengetahui perkara yang sebenarnya. Ketika kekeliruan akhirnya terungkap, penyesalan sering kali tidak lagi banyak berarti. Nama baik orang yang dituduh sudah telanjur tercemar, sementara kabar buruk tentangnya telah menyebar ke mana-mana. Sebelum mempercayai, mengomentari, atau menyebarkan sesuatu yang sedang viral, sudahkah kita memeriksa sumbernya dan memahami duduk perkaranya? Ataukah kita telah menjatuhkan penilaian hanya karena banyak orang mempercayainya? Jangan sampai kita merasa sedang membela kebenaran, padahal kita hanya terbawa arus.
Referensi:¹ Taqiyuddin Abu al-‘Abbas Ahmad bin ‘Abdul Halim bin ‘Abdus Salam Ibnu Taimiyyah al-Harrani (w. 728 H), Minhāj as-Sunnah an-Nabawiyyah fī Naqḍ Kalām asy-Syī‘ah al-Qadariyyah, tahqiq Muhammad Rasyad Salim (Riyadh: Jami‘ah al-Imam Muhammad bin Sa‘ud al-Islamiyyah, cet. 1, 1406 H/1986 M), jil. 4, hlm. 409. •┈┈┈┈•✿❁✿•┈┈┈┈• 📟 Instagram al_ilmoe: https://instagram.com/al_ilmoe?igshid=ZDdkNTZiNTM= 📟 WA alilmoe: https://whatsapp.com/channel/0029VaGNWYLDJ6H6tfpwSh0b
Sumber : al-Jami'ul Kabir, jilid 2/hlm.478.•┈┈┈┈•✿❁✿•┈┈┈┈• 📲 Telegram alilmoe: https://t.me/alilmoe 📟 Instagram al_ilmoe: https://instagram.com/al_ilmoe?igshid=ZDdkNTZiNTM= 📲 WA alilmoe: https://whatsapp.com/channel/0029VaGNWYLDJ6H6tfpwSh0b 🌐 Website alilmoe : https://alilmoe.com/
RENUNGAN DARI MENINGGALNYA ORANG-ORANG SHALIH DI AKHIR ZAMANRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ” يَذْهَبُ الصَّالِحُونَ الْأَوَّلُ فَالْأَوَّلُ وَيَبْقَى حُفَالَةٌ كَحُفَالَةِ الشَّعِيرِ أَوْ التَّمْرِ لَا يُبَالِيهِمْ اللَّهُ بَالَةً.“ “Akan pergi (wafat) orang-orang shalih satu demi satu, sehingga yang tersisa hanyalah orang-orang yang tidak berguna, seperti halnya sisa-sisa ampas gandum atau kurma, dan Allah tidak akan memperdulikan mereka sedikit pun.” HR. Imam Al-Bukhari dalam shahihnya (no. 6434) dari sahabat Mirdas Al-Aslami radhiyallahu ‘anhu. ---- ---- ---- ---- ---- ---- 📚 Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu ta‘ala berkata, bahwa makna, 'Allah tidak memperdulikan mereka sedikit pun' ialah, Allah ‘Azza wa Jalla tidak merahmati dan tidak menurunkan rahmat-Nya terhadap mereka.
Dan beliau juga mengatakan,لذلك تجدُ الناسَ يترَدُّون كلَّ عام عن العام الذي قبل، فيما سبق تجدُ الناس يتهجَّدون في الليل، ويصومون النهار، ويتصدَّقون من أقواتهم، ويؤثرون على أنفسهم. “Oleh karenanya engkau akan mendapati (kualitas agama) manusia semakin memburuk pada setiap tahun dari tahun sebelumnya. Di masa lampau, engkau mendapatkan manusia tahajjud di malam hari, berpuasa di siang hari, bersedekah dengan makan dan mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingan mereka sendiri. أما الآن تجدُ الناسَ تغيروا من سنة إلى أخرى إلى أردى من قبل، سهرٌ في الليل على غير طاعة الله، ونوم في النهار أو لهوٌ أو بيعٌ وشراء يشتمل على الغش والكذب والعياذُ بالله. Namun hari ini, engkau melihat manusia telah berubah, dari tahun ke tahun menjadi lebih buruk dari sebelumnya, bergadang di malam hari di atas kemaksiatan, siang hari dihabiskan untuk tidur atau perbuatan sia-sia, muamalah jual beli mengandung tipu daya dan kebohongan, wal iyadzu billah. ومع ذلك يوجدٌ أناسٌ ولله الحمدُ على دينِ اللهِ مستقيمين على ما يبدو، لكنَّ العبرةَ بالعموم والشمول. Walaupun demikian, masih ada sebagian yang masih istiqomah dia atas syariah Islam -menurut apa yang terlihat dari penampilan zahir mereka-, namun yang menjadi tolok ukur ialah keumuman dan yang lebih dominan. ولذلك يَجِبُ الحذرُ من أن يكونَ الإنسانُ من الحثالةِ التي كحثالةِ الشعير أو التمر،ِ وأن يحرصَ على أمرِ اللهِ حتى لو كان الناسُ قد هلكوا؛ فإنهم إن أصيبوا بالعذابِ العامِّ فإنه يُبعثُ كلُّ إنسانٍ على نيَّتِه يَوْمَ القيامة. Oleh karenanya, wajib bagi seorang hamba berhati-hati dari menjadi ampas, seperti ampas yang terdapat pada sisa-sisa gandum ataupun kurma. Hendaklah dia berupaya untuk menjalankan perintah Allah azza wa jalla bahkan walaupun manusia binasa, jika seandainya ditimpa azab yang menyebabkan mereka semua sama rata mendapatkannya, maka pada hari kiamat nanti akan dibangkitkan sesuai dengan niat mereka masing-masing.” Sumber: Syarah Riyadhus Shalihin (jilid: 6/hal. 634) •┈┈┈┈•✿❁✿•┈┈┈┈• 📟 Instagram al_ilmoe: https://instagram.com/al_ilmoe?igshid=ZDdkNTZiNTM= 📟 WA alilmoe: https://whatsapp.com/channel/0029VaGNWYLDJ6H6tfpwSh0b
حالُ العبدِ في القبر ؛ كحال القلب في الصدر : نعيمًا وعذابًا ، وسجنًا وانطلاقًا ، فإذا أردت أن تعرف حالك في قبرك ؛ فانظر إلى حال قلبك في صدرك : فإذا كان قلبك ممتلئـًا ببشاشة وسكينة وطهارة ؛ فهذا حالك في قبرك بإذن الله ، والعكس صحيح .. ولهذا تجد صاحب الطاعة ، وحسن الخلق ، والسماحة ؛ أكثر الناس طمأنينة ، فالإيمان : يُذهب الهموم ، ويزيل الغموم ، وهو قرة عين الموحدين ، وسلوة العابدين، من أدام التسبيح انفرجت أساريره، ومن أدام الحمد تتابعت عليه الخيرات، ومن أدام الاستغفار فتحت له المغاليق“Keadaan seorang hamba di dalam kubur seperti keadaan hatinya di dalam dada: apakah dalam kenikmatan atau azab, dalam kesempitan atau kelapangan. Maka, jika engkau ingin mengetahui bagaimana keadaanmu kelak di dalam kubur, lihatlah bagaimana keadaan hatimu saat ini. Jika hatimu dipenuhi kegembiraan, ketenangan, dan kesucian, maka demikianlah keadaanmu kelak di dalam kubur, dengan izin Allah. Begitu pula sebaliknya. Oleh karena itu, engkau akan mendapati bahwa orang-orang yang taat kepada Allah, berakhlak mulia, dan berlapang dada adalah orang-orang yang paling merasakan ketenangan. Keimanan akan menghilangkan kegelisahan dan menyingkirkan kesedihan. Ia menjadi penyejuk mata bagi orang-orang yang bertauhid dan pelipur lara bagi orang-orang yang beribadah kepada Allah. Barang siapa yang senantiasa bertasbih, akan dilapangkan dadanya. Barang siapa yang senantiasa memuji Allah, kebaikan demi kebaikan akan terus menghampirinya. Dan barang siapa yang senantiasa beristighfar, akan dibukakan baginya pintu-pintu yang tertutup.” 📚 Ad-Dā’ wa ad-Dawā’, hlm. 187–188. •┈┈┈┈•✿❁✿•┈┈┈┈• 📲 Telegram alilmoe: https://t.me/alilmoe 📟 Instagram al_ilmoe: https://instagram.com/al_ilmoe?igshid=ZDdkNTZiNTM= 📲 WA alilmoe: https://whatsapp.com/channel/0029VaGNWYLDJ6H6tfpwSh0b 🌐 Website alilmoe : https://alilmoe.com/
إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ، الْغَنِيَّ، الْخَفِيَّ“Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, merasa cukup, dan tersembunyi.” 📚 HR. Muslim no. 2960 ▪️ Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan:
التَّقِيُّ الَّذِي يَتَّقِي اللهَ عَزَّ وَجَلَّ.“At-Taqi adalah orang yang bertakwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
الْغَنِيُّ الَّذِي اسْتَغْنَى بِنَفْسِهِ عَنِ النَّاسِ.Al-Ghani adalah orang yang merasa cukup dan tidak bergantung kepada manusia.
الْخَفِيُّ هُوَ الَّذِي لَا يُظْهِرُ نَفْسَهُ.Al-Khafi (tersembunyi) adalah orang yang tidak suka menampakkan dirinya.” 📚 Sumber : Syarh Riyadhish Shalihin, 1/629 🌿 Tiga sifat yang dicintai Allah:
"Bertakwa kepada-Nya, merasa cukup dengan apa yang Allah berikan sehingga tidak bergantung kepada manusia, dan tidak suka menonjolkan atau mempopulerkan dirinya.•┈┈┈┈•✿❁✿•┈┈┈┈• 📲 Telegram alilmoe: https://t.me/alilmoe 📟 Instagram al_ilmoe: https://instagram.com/al_ilmoe?igshid=ZDdkNTZiNTM= 📲 WA alilmoe: https://whatsapp.com/channel/0029VaGNWYLDJ6H6tfpwSh0b 🌐 Website alilmoe : https://alilmoe.com/
