manhajulhaq
"Kembali kepada Manhaj dan Akidah Salaf" Pengampu Channel : Ust. Fikri Abul Hasan, حفظه الله Alumni Ma'had Ihya' As-Sunnah Yogyakarta Tegur dan Sapa : +6289605546952
Show more📈 Analytical overview of Telegram channel manhajulhaq
Channel manhajulhaq (@manhajulhaq) in the Indonesian language segment is an active participant. Currently, the community unites 10 647 subscribers, ranking 8 507 in the Religion & Spirituality category and 6 274 in the Indonesia region.
📊 Audience metrics and dynamics
Since its creation on невідомо, the project has demonstrated rapid growth, gathering an audience of 10 647 subscribers.
According to the latest data from 07 September, 2026, the channel demonstrates stable activity. Although there has been a change in the number of participants by -127 over the last 30 days and by -11 over the last 24 hours, overall reach remains high.
- Verification status: Not verified
- Engagement rate (ER): The average audience engagement rate is 8.80%. Within the first 24 hours after publication, content typically collects 3.15% reactions from the total number of subscribers.
- Post reach: On average, each post receives 937 views. Within the first day, a publication typically gains 335 views.
- Reactions and interaction: The audience actively supports content: the average number of reactions per post is 5.
- Thematic interests: Content is focused on key topics such as syiah, manhajulhaq, iran, al, ilmu.
📝 Description and content policy
The author describes the resource as a platform for expressing subjective opinions:
“"Kembali kepada Manhaj dan Akidah Salaf"
Pengampu Channel :
Ust. Fikri Abul Hasan, حفظه الله
Alumni Ma'had Ihya' As-Sunnah Yogyakarta
Tegur dan Sapa :
+6289605546952”
Thanks to the high frequency of updates (latest data received on 08 September, 2026), the channel maintains relevance and a high level of publication reach. Analytics show that the audience actively interacts with content, making it an important point of influence in the Religion & Spirituality category.
Data loading in progress...
| Date | Subscriber Growth | Mentions | Channels | |
| 08 September | 0 | |||
| 07 September | 0 | |||
| 06 September | 0 | |||
| 05 September | 0 | |||
| 04 September | +2 | |||
| 03 September | 0 | |||
| 02 September | 0 | |||
| 01 September | 0 |
| 2 | LGBT (Longsor, Gunung meletus, Banjir, Tsunami) itu bencana. Tapi kalo engkau percaya omongan peramal, bencananya jauh lebih besar!
| Saluran manhajulhaq | 306 |
| 3 | No text... | 518 |
| 4 | Mumpung masih trending topik abu gunung. Kata-kata hari ini, "Jangan engkau seperti Abu Jahl yang demi gengsi menutup diri dari kebenaran. Jadilah seperti Abu Bakr yang jujur mendahulukan kebenaran atas tradisi leluhur dan selera kebanyakan manusia. Dan jangan beragama abu-abu ala Abu Janda."
| Saluran manhajulhaq | 623 |
| 5 | Ibadah bukan hanya menjalankan apa yang diperintahkan, tetapi juga meninggalkan apa yang dilarang. Engkau tinggalkan yang haram karena Allah, itu juga termasuk ibadah.
| Saluran manhajulhaq | 595 |
| 6 | Mereka protes taqsīm tauhīd rubūbiyyah dan ulūhiyyah! Padahal pembagian ini sudah dikenal di era salaf. Lebih mengherankan lagi para ulama Asyā'irah sejak dulu sudah mengklasifikasi tauhid rubūbiyyah dan ulūhiyyah.
| Saluran manhajulhaq | 622 |
| 7 | Bukan cuma ulama Salafy, banyak tokoh-tokoh Asyā'irah kontemporer yang men-tahdzīr kesesatan Hasan As-Saqqāf karena memang akidahnya menyimpang dari ushūl ahlissunnah.
| Saluran manhajulhaq | 616 |
| 8 | Tuduhan Keji Atas Syaikh Al-Albāni yang Difitnah Mengkafirkan Al-Imām Al-Bukhāri
1/. Adanya kesalahpahaman atau tuduhan palsu yang lahir dari pemenggalan konteks atas pernyataan Syaikh Al-Albāni.
2/. Syaikh Al-Albāni mengomentari sebuah riwayat atau "takwil" (dalam konteks pemalingan makna) atas ayat Qur'an, "Kullu syai'in hālikun illā wajhahu" yang "ditakwil" illā mulkahu (kecuali kekuasaan-Nya).
3/. Menurut Syaikh Al-Albāni "takwil" seperti itu tidak pantas diucapkan oleh seorang muslim yang beriman. Kritikan tajam ini sebetulnya diarahkan pada redaksi atau takwil tersebut; sama sekali bukan mengarah ke pribadi Al-Imām Al-Bukhāri.
4/. Syaikh Al-Albāni sendiri meragukan apakah benar takwil yang dinisbatkan kepada Al-Imām Al-Bukhāri tersebut terkonfirmasi valid berasal dari Al-Imām Al-Bukhāri?
5/. Faktanya Syaikh Al-Albāni mengakui tidak ada kitab hadits yang paling shahīh mengungguli kitab Shahīh Al-Bukhāri dan mengakui kedudukan Al-Imām Al-Bukhāri sebagai Amīrul Mu'minin Fil Hadīts.
6/. Adanya pihak-pihak yang sengaja memenggal kalimat Syaikh Al-Albāni tanpa melihat secara utuh penjelasan beliau.
7/. Kebenaran punya sifat yang terang dan jelas. Ia akan selalu tampak bercahaya dan menyingkap gelapnya kebohongan.
| Saluran manhajulhaq | 742 |
| 9 | Kajian Dasar-Dasar Akidah Seorang Muslim
"Membela Kehormatan Muhajirin dan Anshar"
Ustadz Fikri Abul Hasan, hafidzhahullah. Sabtu Pagi 5 September 2026 Pkl. 08.00-09.15 WIB.
https://telkomsel.zoom.us/j/99474829836?pwd=U2RxdFppTzNudktEaDdFbG9SZ3oydz09
Meeting ID: 994 7482 9836
Passcode: 360316 | 567 |
| 10 | Al-Mu'āfa bin 'Imrān ditanya, "Siapa yang lebih utama Mu'āwiyah atau Umar bin Abdil Azīz?" Mendengar pertanyaan ini beliau marah lalu berkata kepada si penanya, "Apakah engkau hendak menyamakan seorang shahabat Nabi dengan seorang tabiin?! Mu'āwiyah adalah shahabat, iparnya Nabi, juru tulisnya yang dipercaya mencatat wahyu!" ~Al-Bidāyah wan Nihāyah (8/130)
| Saluran manhajulhaq | 565 |
| 11 | Fatwa Lajnah Dāimah, “Syaikh Al-Albāni adalah sosok ulama yang tidak diragukan lagi keilmuannya, keutamaannya, pengagungannya terhadap sunnah. Beliau orang yang berjuang membela madzhab Ahlussunnah wal Jamā’ah dalam mentahdzir sikap ta’asshub (fanatik) dan taqlid buta. Karya-karya beliau sangat bermanfaat dan beliau bukanlah orang yang ma’shūm (terjaga dari kesalahan) sama seperti para ulama lainnya.” ~Fatwa (no. 5981)
| Saluran manhajulhaq | 545 |
| 12 | Fatwa Lajnah Dāimah, “Syaikh Al-Albani adalah sosok yang tidak diragukan lagi keilmuannya, keutamaannya, pengagungannya terhadap sunnah. Beliau orang yang berjuang membela madzhab Ahlussunnah wal Jamā’ah dalam mentahdzir sikap ta’asshub (fanatik) dan taqlid buta. Karya-karya beliau sangat bermanfaat dan beliau bukanlah orang yang ma’shum (terjaga dari kesalahan) sama seperti para ulama lainnya.” ~Fatwa (no. 5981)
| Saluran manhajulhaq | 19 |
| 13 | No text... | 508 |
| 14 | Para ulama yang tergabung dalam komite riset ilmiah dan fatwa menyampaikan, "Orang ini (Hasan As-Saqqāf) rusak akidahnya. Hal itu bisa diketahui dari buku-buku akidah yang dia sebarkan dan kebatilan-kebatilan yang terkandung di dalamnya." ~Fatwa Lajnah Dāimah (16421)
| Saluran manhajulhaq | 499 |
| 15 | Syaikh bin Bāz dan Syaikh Al-Albāni dahulu memfatwakan JIHAD SECARA INTERNASIONAL di Afganistan melawan Uni Soviet. Rahimahumāllāh.
| Saluran manhajulhaq | 656 |
| 16 | Apakah Kepemimpinan yang Datang Setelahnya Selalu Lebih Buruk dari Sebelumnya?
Ada hadits shahih yang menyebutkan,
لا يأتي عليكم زمان إلا والذي بعده شر منه
"Akan datang kepada kalian suatu zaman yang zaman itu lebih jelek dari zaman sebelumnya." ~HR. Al-Bukhari (7068)
Namun juga ada hadits lain yang menyebutkan,
مثل أمتي مثل المطر لا يدرى أوله خير أم آخره
"Perumpamaan umatku ibarat hujan, tidak diketahui apakah yang duluan lebih baik dari yang belakangan." ~HR. At-Tirmidzi (2869)
Syaikh Al-'Allamah Al-Albanirahimahullah mengatakan dengan mengompromikan kedua hadits di atas bahwa hal itu (yakni yang datang belakangan selalu lebih buruk) tidaklah berlaku secara mutlak; meski pada umumnya demikian.
Karena tidak disangsikan lagi bahwa era kepemimpinan Umar bin Abdil Aziz lebih baik dari era sebelumnya yaitu periode setelah Mu'awiyah bin Abi Sufyan.
Begitupula dengan kabar gembira turunnya Nabi Isa 'alaihissalam di akhir zaman dan berkumpulnya beliau bersama Imam Mahdi ketika itu dimana satu kali sujud kaum muslimin lebih baik dari dunia dan seisinya.
| Saluran manhajulhaq | 695 |
| 17 | Pernyataan Syaikh Muqbil bin Hâdi Al-Wādi'i bahwa Syaikh Nāshiruddin Al-Albāni adalah bāhits tidak menafikan kedudukan beliau sebagai muhaddits. Syaikh Muqbil mengakui tidak ada di zaman ini ahli hadits yang mengungguli Al-Albāni. Rahimahumāllāh.
| Saluran manhajulhaq | 589 |
| 18 | Begini metode Syaikh Al-Albāni rahimahullāh dalam menyajikan takhrij, kritik sanad, dan menganalisis keabsahan sebuah hadits.
Dari kitab beliau yang monumental "Silsilah Al-Ahādits Adh-Dha'īfah wal Maudhū'ah wa Atsāruhas Sayyi' fil Ummah". Hadits pertama berbunyi,
الدين هو العقل من لا دين له لا عقل له
"Agama ini adalah akal, siapa yang tidak punya agama, maka dia tidak punya akal."
Syaikh Al-Albāni rahimahullāh berkata, "Ad-Daulābi dalam "Al-Kunā wal Asmā'" (2/104) meriwayatkan dari Al-Imām An-Nasā'i dengan sanadnya dari Abu Mālik Bisyr bin Ghālib bin Bisyr bin Ghālib, dari Az-Zuhri, dari Mujammi' bin Jāriyah, dari pamannya secara marfū' tanpa redaksi, "Agama itu adalah akal."
Al-Imām An-Nasā'i mengatakan, "Status hadits ini batil munkar!"
Rawi yang bernama Bisyr statusnya majhūl sebagaimana ditegaskan oleh Al-Azdi.
Hal itu juga ditegaskan oleh Al-Imām Adz-Dzahabi dalam "Lisānul Mīzān Fi Naqdir Rijāl". Begitu pula Al-Hāfidzh Ibnu Hajar Al-Asqalāni dalam "Lisānul Mīzān".
Al-Hārits bin Abi Usāmah dalam Musnadnya merilis riwayat dari Dāwud Al-Muhabbir sebanyak 33 hadits lebih tentang keutamaan akal.
Namun, Al-Hāfidzh Ibnu Hajar Al-Asqalāni mengomentarinya dengan mengatakan, "Semua hadits-hadits tersebut palsu!"
Demikian pula Al-Imām As-Suyūthi dalam "Dzailul La-āli Al-Mashnū'ah Fil Ahādits Al- Maudhū'ah" (hlm. 4-10).
Al-'Allāmah Thāhir Al-Fatani Al-Hindi juga mengutip dari Al-Imām As-Suyūthi dalam "Tadzkiratul Maudhū'āt" (hlm. 29-30).
Para ulama mengkritik keras Dāwud Al-Muhabbir yang menunjukkan tidak selayaknya meriwayatkan hadits darinya. Para ulama tersebut antara lain Al-Imām Ahmad, Al-Imām Adz-Dzahabi, Abu Hātim, Ad-Dāruquthni, rahimahumullāh.
Al-'Allāmah Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitab "Al-Manār" (hlm. 25) menegaskan, "Hadits-hadits yang berkenaan dengan akal semuanya dusta."
Kemudian Syaikh Al-Albāni memberi kesimpulan, "Perlu dicamkan bahwa seluruh hadits yang menunjukkan keutamaan akal adalah hadits-hadits yang tidak shahīh berkisar antara dha'īf (lemah) dan maudhū' (palsu).
Dan aku telah meneliti hadits-hadits yang dirilis oleh Abu Bakr bin Abid Dunyā dalam kitab beliau, "Al-'Aqlu wa Fadhluhu", maka aku dapati seperti yang telah kusampaikan yaitu tidak ada yang shāhih sama sekali."
| Saluran manhajulhaq | 660 |
| 19 | Syaikh Al-Albāni Ditanya Perbedaan Hadits Syādz dengan Ziyādatuts Tsiqah Al-Maqbūlah
Syaikh rahimahullāh menjelaskan,
"Permasalahan semacam ini butuh ketelitian karena termasuk dalam pembahasan ilmu hadits yang cukup pelik. Namun, di sana ada perbedaan pendapat antara ulama ahli hadits dan ulama ushul fikih.
Menurut ulama ushul fikih, ziyādatuts tsiqah (adanya tambahan redaksi dari rawi yang terpercaya) dapat diterima secara mutlak.
Sama saja, apakah rawinya selevel dalam tingkat ketsiqahannya dengan rawi yang meriwayatkan tambahan tadi ataukah statusnya lebih tsiqah.
Kendati demikian, para ulama ushul fikih dalam sejumlah hadits justru tidak memakai kaidah tersebut (yaitu kaidah ziyadatuts tsiqah diterima secara mutlak).
Bahkan para ulama ushul fikih kerap menganggap sebuah hadits ada illat-nya lantaran rawinya yang tsiqah menyelisihi rawi lain yang statusnya lebih tsiqah.
Jadi dalam kasus tertentu para ulama ushul fikih mengikuti metode yang ditempuh oleh ulama ahli hadits.
Sedangkan yang dimaksud dengan hadits syādz (ganjil) adalah hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang tsiqah tetapi menyelisihi rawi yang statusnya lebih tsiqah atau menyelisihi rawi tsiqah lainnya yang jumlahnya lebih banyak.
Maka yang disebut ziyādatuts tsiqah yaitu jika rawi yang tsiqah memberi tambahan atas hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang selevel ketsiqahannya, maka tambahan redaksi itu bisa diterima.
Adapun jika yang membawakan tambahan itu adalah rawi yang lebih tsiqah atau rawi lain yang sama-sama tsiqah tetapi lebih banyak jumlahnya, maka ini yang disebut hadits syādz." ~Fatawa Al-Madinah (no. 13)
| Saluran manhajulhaq | 579 |
| 20 | Syaikh Al-Albāni Minta Dihadirkan Rohnya Al-Imām Al-Bukhāri
Diceritakan, ada dukun yang mengaku bisa menghadirkan arwah maka Syaikh Al-Albāni rahimahullāh menyambanginya dengan maksud inkarul munkar.
Syaikh Al-Albānirahimahullāh berkata,
أرجو أن تحضر لي روحا
"Aku ingin engkau menghadirkan roh untukku."
Dukun itu berkata,
من تريد؟
"Roh siapa yang engkau mau?"
Syaikh Al-Albānirahimahullāh berkata,
أريد روح البخاري!
"Aku mau rohnya Al-Bukhāri!"
Dukun itu berkata,
إيش تبغى في البخاري؟
"Apa yang engkau inginkan dari rohnya Al-Bukhāri?"
Syaikh Al-Albānirahimahullāh berkata,
أنا عندي أشياء أسألها للبخاري!
"Aku punya beberapa masalah yang ingin kutanyakan kepada Al-Bukhāri!"
Lantas si dukun berkata, "Hari ini pemanggilan arwah sudah selesai, kembalilah hari senin."
Beliau kembali datang hari senin dan tidak mendapati dukun tersebut di tempatnya dan rupanya dia sudah pindah ke tempat lain." (Selesai)
Si dukun keberatan karena dia tidak tahu-menahu ilmu hadits, tentunya itu akan merepotkan dan kebohongannya bisa terbongkar.
| Saluran manhajulhaq | 652 |
