es
Feedback
Ask The Experts

Ask The Experts

Ir al canal en Telegram

Channel ini merupakan pengembangan dari Grup nasional ATE khusus Internal BPJS kesehatan yang membernya lebih dari 6.000 Orang Duta BPJS Kesehatan Selindo 🇲🇨 https://www.instagram.com/commit_asktheexperts?igsh=ZmpmN2xqbWFjZjBn

Mostrar más
1 839
Suscriptores
+224 horas
+107 días
+3230 días
Archivo de publicaciones
Maka jangan sampai.. Kita memberikan media yang muatannya baguus dan bisa memantik karakter anak, namun media tersebut bertentangan atau punya potensi menganggu perkembangan fisik dan psikis anak itu sendiri

Anak memiliki tahap perkembangan fisiologis dan psikologis tertentu, yang butuh dipenuhi oleh jenis media tertentu

Karena kalau bicara media, tentu ada banyak media ya yang bisa kita pilih. Ada televisi, ada radio, ada game, ada berita internet, dan masih banyak lainnya. Tapi media terbaik apa yang bisa kita pilih untuk membentuk karakter anak? Buku adalah jawabannya :))

Di sinilah buku hadir memegang peran yang sangaaaat penting

photo content

Selain itu, Berbeda dengan orang tua yang cenderung ‘ceramah’, media ini tampil dengan jauuuh lebih ramah. Pesan moralnya mungkin sama, Tapi cara penyampaian yang berbeda membuat anak lebih mudah menyerap itu dibanding ceramah panjang lebar dari orang tuanya 😅

Sedangkan yang terakhir adalah media. Kenapa? Karena ada banyak hal, situasi, kondisi, konflik, dan sebagainya yang mungkin tidak/jarang sekali ditemui oleh anak anak dalam kehidupan sehari hari mereka. Misalnya anak yang tunggal, mungkin gak kebayang bagaimana rasanya berkonflik dengan saudara kandungnya sendiri saat berebut mainan. Nah dalam hal ini, media mengambil peran untuk menyugukan ragam situasi sehingga memperkaya sumber belajar anak

Tapi tentu buku pun tidak secara ‘ajaib’ bisa menggugah karakter anak ya. Setidaknya ada 3 ‘pihak’ yang bertanggung jawab dalam pembentukan karakter anak. Pertama adalah teladan dalam keseharian. Melalui orang tua, guru, lingkungan Kedua adalam pembiasaan. Misalnya.. Anak yang dibiasakan untuk berkata benar, akan mudah untuk melawan godaan saat ia mempunyai kesempatan untuk berbohong demi menyelamatkan diri/martabatnya. Ia akan memilih jujur, meski itu merugikan dirinya.

photo content

Kita butuh sesuatu yang mampu menggugah anak, Dan itu banyaaak sekali terdapat dalam kisah di buku buku.

Membacakan ciri ciri orang yang dermawan, gak akan membuat anak otomatis jadi anak yang dermawan

Meminta anak berulang menghapalkan definisi murah hati, gak akan otomatis membuat anak jadi orang yang murah hati

Karakter juga bukanlah sesuatu yang bisa didapat hanya lewat pengetahuan saja

Karakter adalah hal yang abstrak, semua setuju yaa? Dia ada di dalam diri manusia. Karakter bukanlah aksesoris yang bisa kita ‘beli’ dari toko, beda dengan tampilan fisik. Kalau kita ingin anak fisiknya bersih & harum, kita tinggal beli sabun atau shampoo dengan kualitas terbaik sehingga setelah dipakai mandi, anak akan bersih dan haruuum sekali. Sedangkan karakter, Ini gak ada toko yang menjualnya 😆

photo content

Lalu apa nih hubungannya pendidikan karakter dengan buku?

Buat saya pribadi, ketika menjadikan karakter sebagai mindset dasar dalam mendidik anak.. rasanya jauh lebih tenaang sekali. Tidak mudah digrasa grusu oleh tuntutan nilai, peringkat, maupun kurikulum. Karena memang tujuannya bukan ke arah situ :)

Kalau dulu ketika anak mendapat tugas melakukan percobaan fisika/kimia/biologi, kita akan mencari cari pada sebagus dan selengkap apa anak menuliskan laporannya, Maka dalam pendidikan karakter, kita akan fokus pada.. apakah anak saya teliti dalam melakukan percobaan dan pengamatan? Apakah ia sudah menuliskan laporannya dengan jujur?

Jadi tujuan pendidikan saat ini, arahnya untuk bisa menumbuhkan karakter karakter di atas. Ini sedikit banyak menurut saya, penting juga untuk kita pegang erat erat sebagai mindset dasar dalam menemani anak belajar. Kalau dulu ketika anak mengerjakan PR, kita akan fokus pada berapa soal yang berhasil ia jawab dengan benar.. Maka dalam pendidikan karakter, kita akan lebih fokus pada sejauh mana anak saya tumbuh responsibility-nya untuk mengerjakan tugasnya?

Saya mencoba ngubek ngubek beberapa jurnal riste pendidikan, dan karakter karakter di atas lah yang muncul sebagai ‘top of mind’ dari pendidikan. Bukan cuma di Indonesia, tapi di seluruh dunia