es
Feedback
Ask The Experts

Ask The Experts

Ir al canal en Telegram

Channel ini merupakan pengembangan dari Grup nasional ATE khusus Internal BPJS kesehatan yang membernya lebih dari 6.000 Orang Duta BPJS Kesehatan Selindo 🇲🇨 https://www.instagram.com/commit_asktheexperts?igsh=ZmpmN2xqbWFjZjBn

Mostrar más
1 855
Suscriptores
Sin datos24 horas
Sin datos7 días
+430 días
Archivo de publicaciones
ROAD TO TOP 16 🚨 12 Tim telah berhasil mengamankan posisi di Babak 16 Besar Kompetisi Family 100 Semarak HUT ke-58 BPJS Kese
+1
ROAD TO TOP 16 🚨 12 Tim telah berhasil mengamankan posisi di Babak 16 Besar Kompetisi Family 100 Semarak HUT ke-58 BPJS Kesehatan. Tersisa 4 slot yang diperebutkan pada sore hari ini. Stay tuned buat keseruannya
Pastikan seluruh pemain dan pendukung telah join di grup COMMIT Ask the Experts (Grup terbatas hanya untuk internal BPJS Kesehatan) --> Link Telegram

JAGA NAMA BAIK KELUARGA Oleh: Budiman Hakim "Saya menemukan video persetubuhan suami dengan selingkuhannya." Kalimat itu keluar dari mulut seorang perempuan dalam sebuah podcast. Dengan enteng ia memperlihatkan video itu pada host sambil mengungkapkan identitas selingkuhan suaminya. Dengan tangisan memilukan, dia terus bercerita bagaimana perasaannya saat melihat video itu. Bagaimana suaminya berbohong. Bagaimana rumah tangganya hancur berantakan. Jutaan pasang mata menyaksikan. Kolom komentar dipenuhi orang-orang yang merasa ikut terluka, ikut marah, bahkan ikut menjadi hakim atas kehidupan yang sebenarnya bukan milik mereka. Saya cuma bisa menghela napas panjang melihat konten tersebut. Rasanya tata nilai benar-benar berubah secara radikal. Dulu, ketika suami istri bertengkar, mereka berusaha keras agar tetangga tidak mendengar. Pintu ditutup rapat. Suara diturunkan. Jika masalah membesar, yang diajak bicara adalah keluarga atau kerabat terdekat. Ada satu nasihat legendaris: "Jangan membuka aib rumah tangga." Tentu saja nasihat itu gak terlalu pas. Ada masalah yang memang membutuhkan bantuan dari luar. Ada kekerasan yang justru harus dibicarakan dan tidak boleh disembunyikan. Namun tetap saja saya melihat sesuatu yang menarik. Dulu orang takut jika masalah rumah tangganya diketahui banyak orang. Sekarang sebagian orang justru menceritakannya di depan kamera. Apa yang berubah? Manusianya? Mungkin bukan. Yang berubah adalah dunia tempat manusia mencari perhatian. Dulu perhatian datang dari keluarga, sahabat, dan lingkungan terdekat. Ketika seseorang terluka, ia mencari telinga yang mau mendengar. Ketika seseorang bahagia, ia mencari orang-orang yang mengenalnya. Namun hari ini, perhatian datang dari layar. Dari jumlah penonton. Dari jumlah pengikut. Dari jumlah komentar. Dari orang asing yang berkata, "Saya ada di pihakmu." Otak kita sebenarnya sedang mengalami transformasi ekstrem. Saat seseorang dikhianati, pusat emosinya terluka berat dan merasa terancam. Di era digital ini, cara tercepat untuk mengobati luka itu bukan lagi dengan kesunyian, melainkan dengan Dopamin, zat kimia di otak yang memicu rasa puas dan validasi. Layar itu memberikan ilusi bahwa kita tidak sendirian. Setiap angka views yang naik, setiap komentar netizen yang membela, adalah suntikan dopamin gratis yang membius rasa sakit hati secara instan. Maka, tanpa sadar, sesuatu yang dulu dianggap aib berubah menjadi konten. Sesuatu yang dulu disimpan rapat berubah menjadi cerita publik. Sesuatu yang dulu dijaga di dalam rumah kini dipertontonkan ke seluruh dunia. Dulu orang takut tetangga mengetahui masalah rumah tangganya. Sekarang banyak orang takut kalau tidak ada yang mengetahuinya. #INISIATIF #TGIF

Webinar Managed Care Edisi ke 6 Aktuaria dalam Managed Care Mengulas aktuaria berbasis risiko, premium setting, pemanfaatan u
Webinar Managed Care Edisi ke 6 Aktuaria dalam Managed Care Mengulas aktuaria berbasis risiko, premium setting, pemanfaatan utilization review dalam aktuaria. Ikuti Webinar Managed Care PAMJAKI Edisi Keenam dengan tema Aktuaria dalam Managed Care ⏰ 10.00 - 11.30 WIB 🎙️ Speaker : 1. dr. Taufik Hidayat, MM., AAK 2. dr. Elsa Novelia, MKM 3. ⁠Esthi Andayani, S.K.M., FSAI, AAIJ, AAK Moderator: Liza Festary FSAI, AAK 💻 Link zoom: https://bit.ly/JoinZoomMeeting-Ed-Ke6 💻 Virtual Background https://bit.ly/VB-WebinarMC-Edisi6 GRATIS! Bagi yang ingin mendapatkan e-sertifikat, biaya registrasi IDR 50.000 Daftar sekarang :https://bit.ly/Registrasi-WebinarMC-Edisi-6 #healthinsurance #pamjaki #gelarprofesi #health

Oleh: Iwan Kusworo Selamat pagi, Sahabat! Ada sebuah quote yang pernah saya dengar: “Luck favors the prepared.” Keberuntungan
Oleh: Iwan Kusworo Selamat pagi, Sahabat! Ada sebuah quote yang pernah saya dengar: “Luck favors the prepared.” Keberuntungan akan datang kepada mereka yang siap. Pagi ini, saat melanjutkan membaca What I Wish I Knew About Luck karya Tina Seelig, saya teringat lagi dengan quote tersebut. Di bagian berjudul Winds of Luck, Tina Seelig mengibaratkan keberuntungan seperti angin, dan kita adalah nahkoda dari kapal kita masing-masing. Kita tidak bisa mengendalikan kapan angin bertiup atau dari arah mana ia datang. Kadang hanya berupa hembusan kecil yang hampir tidak terasa. Kadang datang begitu kuat sehingga membawa kita jauh lebih cepat dari yang kita bayangkan. Namun tugas kita ternyata bukan menunggu angin. Tugas kita adalah menyiapkan kapal. Memperkuat kemampuan, memperjelas nilai-nilai yang kita pegang, dan mengetahui ke mana kita ingin berlayar. Lalu merekrut awak kapal. Karena keberuntungan jarang datang sendirian. Teman, mentor, pasangan, dan keluarga sering kali menjadi orang-orang yang membantu kita melihat peluang yang sebelumnya tidak terlihat. Dan tentu saja, kita tetap harus mengembangkan layar. Karena kapal yang paling bagus sekalipun tidak akan bergerak jika layarnya tidak pernah dikembangkan. Kita harus tetap hadir (show up), tetap belajar, tetap mencoba, tetap mengambil risiko, dan sesekali keluar dari zona nyaman. Sesekali pun kita bisa gagal. Yang juga menarik, tidak semua angin menguntungkan. Ada tailwinds yang membuat perjalanan terasa lebih ringan. Ada juga headwinds yang memperlambat kita, bahkan memaksa kita mengubah arah. Tetapi mungkin tidak semua perubahan arah adalah sesuatu yang buruk. Sering kali, baru setelah melihat ke belakang kita menyadari bahwa beberapa “angin yang melawan” justru membawa kita ke tempat yang lebih baik daripada tujuan awal yang kita rencanakan. Barangkali keberuntungan bukan sekadar tentang menunggu kesempatan datang. Melainkan tentang menjadi orang yang siap ketika kesempatan itu tiba. Dan ketika angin berubah arah, mungkin yang perlu kita lakukan bukan mengutuk anginnya, melainkan belajar mengatur layar. Buku apa yang sedang Anda baca pagi ini? Have a nice day! ❤️ #INISIATIF

Oleh: Dedi Priadi Secara biologis, porsi mendengar kita seharusnya dua kali lipat dari berbicara. Sialnya, kesombongan punya
Oleh: Dedi Priadi Secara biologis, porsi mendengar kita seharusnya dua kali lipat dari berbicara. Sialnya, kesombongan punya cara sendiri untuk merusak fungsi itu: membuat mulut bekerja lembur, sementara telinga memilih pensiun dini. Kita sering terjebak dalam hasrat besar untuk selalu menang dan mendominasi setiap percakapan. Padahal, kekuatan seorang manusia bukan terletak pada seberapa keras ia membantah, melainkan seberapa mampu ia mengendalikan diri. Ingatlah bahwa kata 𝘭𝘪𝘴𝘵𝘦𝘯 (mendengarkan) dan 𝘴𝘪𝘭𝘦𝘯𝘵 (diam) memiliki huruf yang sama persis. Ini adalah sebuah tamparan halus bagi ego kita: kita tidak akan pernah bisa benar-benar mendengar selama kita menolak untuk diam. Saat kita sibuk memotong pembicaraan, otak kita sebenarnya sedang menutup diri dari informasi baru. Kita menjadi keras kepala karena kita lebih mencintai suara pemikiran kita sendiri daripada kebenaran yang dibawa orang lain. Mendengarkan bukan berarti kita kalah atau menyerah kalah dalam sebuah perdebatan. Mendengarkan adalah tanda kematangan mental, sebuah keputusan sadar untuk menurunkan senjata ego demi memahami realitas yang lebih utuh. Ketika kita terus mendominasi, orang di sekitar kita akan perlahan menarik diri karena merasa tidak dihargai. Hubungan yang sehat hancur bukan karena perbedaan pendapat, melainkan karena hilangnya ruang aman untuk saling berbicara. Ibarat sebuah cangkir yang sudah penuh meluap dengan air panas, ia tidak akan bisa lagi menampung teh yang baru. Begitulah pikiran yang dominan; ia terlalu penuh dengan asumsi diri sendiri. Kita perlu mengosongkan sedikit ruang di dalam kepala kita dari ambisi untuk selalu terlihat benar. Hanya dengan cara itulah, kita bisa mengisi diri dengan kebijaksanaan dan pengetahuan yang baru. Menjadi pendengar yang baik justru akan membuat karisma dan wibawa kita naik berlipat ganda. Orang akan lebih segan pada pribadi yang tahu kapan harus diam, daripada yang terus-menerus menggurui. Mendengarkan dengan tulus itu seperti membuka pintu gerbang benteng yang selama ini kita jaga dengan ketat. Kita memberi jalan bagi kedamaian untuk masuk dan meredakan ketegangan di dalam dada. Cobalah untuk menahan diri, ambil napas dalam-dalam, dan biarkan orang lain menuntaskan kalimatnya sampai selesai. Kendalikan keinginan untuk menyerang balik, karena di situlah letak ujian kedewasaan kita yang sesungguhnya. Belajarlah untuk menciptakan keheningan (𝘴𝘪𝘭𝘦𝘯𝘵) di dalam pikiranmu yang riuh itu. Sebab, hanya ketika engkau mampu melunakkan ego untuk diam, engkau baru bisa benar-benar mulai mendengarkan (𝘭𝘪𝘴𝘵𝘦𝘯). #INISIATIF

BPJS TALK 2026 https://www.instagram.com/reel/DZ6gTTbzmym/?igsh=ejA1cTNweXd2eDRu btw, para peserta BPJS Talk yang telah mengu
BPJS TALK 2026 https://www.instagram.com/reel/DZ6gTTbzmym/?igsh=ejA1cTNweXd2eDRu btw, para peserta BPJS Talk yang telah mengupload video ke IG, diharapkan dapat melakukan koordinasi ke PIC kk @erizkiayu atau kk @yunrahap yah 🤝