es
Feedback
Pendidikan Merdeka Belajar

Pendidikan Merdeka Belajar

Ir al canal en Telegram

Info dan tips pendidikan #MerdekaBelajar. Ayo ajak yang lain bergabung

Mostrar más
2 733
Suscriptores
-224 horas
-117 días
-4430 días
Archivo de publicaciones
Guru Mendorong, Murid Menumpang dan Pembelajaran yang Jalan di Tempat Mengapa kelas dan program donor sama-sama sibuk, tapi pembelajarannya jalan di tempat? https://www.linkedin.com/pulse/guru-mendorong-murid-menumpang-dan-pembelajaran-yang-jalan-setiawan-9xtuc

Budaya Hore-hore yang Belum Saya Tanyai Sebelum saya sempat bertanya apa-apa, kepala saya sudah dikalungi budaya hore-hore — dan saya baru tahu itu namanya belakangan. https://medium.com/@bukik/budaya-hore-hore-yang-belum-saya-tanyai-f356606ff685?sharedUserId=bukik

Mengapa Menulis Community First Kami telah terjun dalam dunia pendidikan lebih dari 27 tahun, berawal di Sekolah Cikal hingga pada tahun 2016 berdiri menjadi Guru Belajar Foundation. Kami mencapai sejumlah keberhasilan, sebagaimana kami mendapatkan pelajaran dari sejumlah kegagalan. Dari kegiatan pelatihan guru, menjadi program peningkatan kapasitas yang lebih kompleks, hingga menjadi pengorganisasian komunitas yang lebih berdaya. Hingga saat ini, kami telah mendampingi puluhan ribu guru belajar di lebih dari 200 daerah di Indonesia dengan beragam level keberdayaan. Perluasan dampak melalui Program Pengembangan Kepemimpinan Guru dan Temu Pendidik Nusantara pun telah mendapatkan rekognisi global sebagai 10 finalis UNESCO-Hamdan Prize for Teacher Development. Dari perjalanan panjang tersebut, kami mengenali sejumlah pola yang bertahan dalam ekosistem pendidikan dari waktu ke waktu. Ada pola yang menghasilkan keberhasilan dan terus merawat peningkatan. Ada pola yang menghasilkan kegagalan meski seringkali bisa dikemas sebagai keberhasilan. Sebagaimana komitmen kami dalam pembelajaran berpihak pada anak, maka komitmen kami dalam pendidikan adalah berpihak pada komunitas. Apabila selama ini program lebih dipandang dari sudut pandang manajemen, kami menggeser lensanya menjadi sudut pandang komunitas. Karena komunitas bukan hanya penerima manfaat, tapi penggerak sesungguhnya dari misi yang dibawa oleh program. Oleh karena itu, kami mencetuskan buletin Community First di LinkedIn — untuk menyajikan wawasan dari sudut pandang komunitas. Harapannya, ketika manajemen program, baik CSR maupun lembaga filantropi, mendapatkan wawasan ini, akan lahir program yang lebih berdampak dan berkelanjutan. Enam artikel yang telah terbit sejauh ini sebenarnya berputar di satu titik yang sama: yang selama ini dirawat sebagai keberhasilan sering kali hanyalah kepatuhan pada logika program — bukan pada kebutuhan komunitas yang bergerak jauh lebih lambat dan tidak selalu linear. Enam pola ini baru diagnosis. Dari sinilah kami sedang menyusun langkah berikutnya — bagaimana pola-pola ini bisa dijawab, bukan sekadar dikenali. Dan untuk sampai ke sana, kami butuh satu hal yang tidak bisa kami dapatkan dari refleksi internal saja: sudut pandang Anda sebagai pembaca yang mengalami langsung ekosistem ini dari posisi yang berbeda-beda. Caranya sederhana. Dari enam artikel di atas, pilih satu yang paling terasa dekat dengan yang pernah Anda alami atau amati — lalu jawab di kolom komentar: Kenapa artikel itu yang paling terasa dekat bagi Anda? Apa yang menurut Anda masih perlu ditambahkan atau diperbaiki dari artikel tersebut? Jawaban paling tajam dan reflektif — baik yang mengafirmasi maupun yang mengoreksi — akan kami pilih untuk mendapatkan buku terbitan GBF, sebagai tanda terima kasih. Batas menjawab: 10 Agustus. Kami menunggu sudut pandang Anda di https://www.linkedin.com/pulse/mengapa-menulis-community-first-bukik-setiawan-2ir9c

Mengapa Miskonsepsi Manajemen Berbasis Sekolah Dirawat Dua Dekade Lebih? Sebuah miskonsepsi bisa bertahan dua dekade lebih bukan karena tidak terlihat, tapi karena semua pihak punya alasan untuk tidak melihatnya. https://www.linkedin.com/pulse/mengapa-miskonsepsi-manajemen-berbasis-sekolah-dirawat-bukik-setiawan-egx9c

Mengapa Peningkatan Kapasitas yang Berulang Tidak Selalu Memperbesar Dampak pada Komunitas? Portofolio proyeknya terus bertambah, kemampuan mengelolanya terus meningkat — tapi daya pengaruh organisasi terhadap perubahan yang sebenarnya berhenti di titik yang sama selama bertahun-tahun. https://www.linkedin.com/pulse/mengapa-peningkatan-kapasitas-yang-berulang-tidak-selalu-setiawan-3lx9c

Membaca yang Ternyata Bukan Milik Saya Andala menoleh ke arah buku, lalu menatap ibunya, seperti memastikan sesuatu sebelum menoleh lagi ke halaman yang sedang dibuka. https://medium.com/@bukik/membaca-yang-ternyata-bukan-milik-saya-a18cd65effa7

Proyek selesai dengan baik, tapi bagaimana ekosistemnya? Semakin disiplin sebuah proyek mengikuti logikanya sendiri, semakin jauh hasilnya dari ekosistem yang ingin dibangunnya. https://www.linkedin.com/pulse/proyek-selesai-dengan-baik-tapi-bagaimana-bukik-setiawan-xhpvc

When a program ends, why does the impact leave with it? Many education programs end with strong evaluations, yet a year later most of their impact is gone — and this is not a failure of implementation, but a hidden assumption about agency that needs re-examining. https://www.linkedin.com/pulse/when-program-ends-why-does-impact-leave-yayasangurubelajar-ukqse/

*Mengapa intervensi paling komprehensif justru paling berisiko gagal?* Bukan karena cakupannya terlalu luas — tapi karena luasnya itu jarang diuji terhadap kapasitas nyata yang akan menjalankannya. https://www.linkedin.com/pulse/mengapa-intervensi-paling-komprehensif-justru-gagal-bukik-setiawan-h0cxe

Mengapa intervensi yang berhasil di satu tempat sering gagal di tempat lain? Bukan selalu karena intervensinya salah — tapi lebih karena kondisi yang membuatnya berhasil hampir tidak pernah ikut pindah. https://www.linkedin.com/pulse/mengapa-intervensi-yang-berhasil-di-satu-tempat-sering-bukik-setiawan-m7ebc

Tanggung jawab baru, buletin baru. Sedang persiapan akhir, artikel pertama akan terbit minggu depan. Harapannya, menyediakan sudut pandang berbeda dalam memandang filantropi pendidikan. Silahkan berlangganan di LinkedIn https://www.linkedin.com/build-relation/newsletter-follow?entityUrn=7470530895071010816

📚✨ *Cerita dari Kelas #CDK3* "Setiap Anak Punya Kisah untuk Dibagikan" Belajar tidak hanya terjadi di dalam kelas. Melalui c
📚✨ *Cerita dari Kelas #CDK3* "Setiap Anak Punya Kisah untuk Dibagikan" Belajar tidak hanya terjadi di dalam kelas. Melalui cerita, anak-anak belajar mengamati, bertanya, berimajinasi, dan memahami dunia di sekitarnya. Mari bergabung dalam “Cerita dari Kelas”, sebuah kegiatan seru yang menghadirkan kisah-kisah inspiratif, kreativitas, dan pengalaman belajar yang bermakna bagi anak-anak. Yuuk catat dulu: 🗓️ Sabtu, 13 Juni 2026 📍 Perpustakaan Hanoman ⏰ 09.00–12.00 WIB 💰 Kontribusi: Rp15.000,- 🤩 Terbuka untuk Umum. Bersama, kita merayakan rasa ingin tahu, keberanian bercerita, dan sukacita belajar. Karena setiap anak adalah penulis dari kisah hebatnya sendiri. 🌱📖💛 Pendaftaran: 0897-1747-788

*Survei Guru dan Kepala Sekolah tentang Praktik Pembelajaran* Bapak/Ibu Guru dan Kepala Sekolah yang kami hormati, Program INOVASI sedang menguji instrumen survei tentang peran guru dalam praktik pembelajaran dan kepala sekolah dalam mendukung pembelajaran — dan kami membutuhkan bantuan Bapak/Ibu. Survei ini berisi pertanyaan tentang kegiatan Bapak/Ibu sehari-hari sebagai guru dan pemimpin sekolah. Tidak ada jawaban benar atau salah. Cukup gambarkan apa yang Bapak/Ibu lakukan. ⏱️ Waktu pengisian: sekitar 30 menit 📅 Batas waktu: Jumat, 29 Mei 👉 Survei Guru Ringkas https://forms.gle/WkCaQrnYPJXvmVcb8 👉 Survei Kepala Sekolah Ringkas https://forms.gle/sVBMGHxBXjEcumv4A Terima kasih atas waktu dan kontribusi Bapak/Ibu. 🙏

Bagaimana gambaran praktik pembelajaran mendalam? Bagaimana bentuk dukungan terhadap praktik pembelajaran mendalam? Isi dan pelajari 👉 Survei Guru https://forms.gle/qzACcAtET1nEKDht9 👉 Survei Kepala Sekolah https://forms.gle/LJdz4TB8CzX6F5ya6

*Survei Guru dan Kepala Sekolah tentang Praktik Pembelajaran* Bapak/Ibu Guru dan Kepala Sekolah yang kami hormati, Program INOVASI sedang menguji instrumen survei tentang peran guru dalam praktik pembelajaran dan kepala sekolah dalam mendukung pembelajaran — dan kami membutuhkan bantuan Bapak/Ibu. Survei ini berisi pertanyaan tentang kegiatan Bapak/Ibu sehari-hari sebagai guru dan pemimpin sekolah. Tidak ada jawaban benar atau salah. Cukup gambarkan apa yang Bapak/Ibu lakukan. ⏱️ Waktu pengisian: sekitar 30 menit 📅 Batas waktu: Jumat, 29 Mei 👉 Survei Guru https://forms.gle/qzACcAtET1nEKDht9 👉 Survei Kepala Sekolah https://forms.gle/LJdz4TB8CzX6F5ya6 Terima kasih atas waktu dan kontribusi Bapak/Ibu. 🙏

Menurut Bukik, penerimaan murid baru untuk tingkat pendidikan dasar semestinya memang dilakukan pemerintah daerah melalui dinas pendidikan, bukan oleh sekolah secara mandiri. Selain itu, ia menilai semua anak yang memenuhi kriteria usia di suatu wilayah, wajib diterima, kemudian didistribusikan ke sekolah negeri atau swasta yang dibiayai pemerintah. Bukik menyebut, ketika penerimaan murid baru jadi urusan daerah, maka potensi diskriminasi dan seleksi berbasis kemampuan bisa diminimalkan. Sehingga, sekolah tidak punya kewenangan mempertimbangkan kesiapan sebagai syarat masuk, melainkan pemda menyediakan asesmen psikolog. Asesmen ini juga bukan sebagai alat seleksi, tetapi peta awal untuk menyesuaikan pendampingan. Baca artikel detikedu, "Kata Ahli, Ini yang Perlu Dilakukan Supaya Anak Siap Masuk SD" selengkapnya https://www.detik.com/edu/sekolah/d-8503511/kata-ahli-ini-yang-perlu-dilakukan-supaya-anak-siap-masuk-sd.

*Survei Guru dan Kepala Sekolah tentang Praktik Pembelajaran* Bapak/Ibu Guru dan Kepala Sekolah yang kami hormati, Program INOVASI sedang menguji instrumen survei tentang peran guru dalam praktik pembelajaran dan kepala sekolah dalam mendukung pembelajaran — dan kami membutuhkan bantuan Bapak/Ibu. Survei ini berisi pertanyaan tentang kegiatan Bapak/Ibu sehari-hari sebagai guru dan pemimpin sekolah. Tidak ada jawaban benar atau salah. Cukup gambarkan apa yang Bapak/Ibu lakukan. ⏱️ Waktu pengisian: sekitar 30 menit 📅 Batas waktu: Jumat, 29 Mei 👉 Survei Guru https://forms.gle/qzACcAtET1nEKDht9 👉 Survei Kepala Sekolah https://forms.gle/LJdz4TB8CzX6F5ya6 Terima kasih atas waktu dan kontribusi Bapak/Ibu. 🙏

Ketika Bayi Tiga Bulan Mengajari Saya Cara Belajar Bayi tiga bulan mengajari saya bagaimana cara belajar lebih utuh dibandingkan pelatihan yang pernah saya ikuti. Mengurus bayi baru lahir adalah pekerjaan penuh waktu — dan itu terutama pekerjaan isteri saya. Ia yang mengurus Andala dari pagi hingga malam: menyusui, memandikan, mengganti pakaian, menenangkan tangisan. Saya membantu dengan cara yang paling sederhana — menggendong. Saya menggendong Andala — tiga bulan tiga minggu usianya — pada petang dan malam, ketika saya tidak di luar kota. Tubuhnya di dada saya, kepalanya di bahu, napasnya yang pendek-pendek menenangkan sesuatu di kepala saya yang masih penuh urusan kantor. Di saat itulah celotehan itu muncul. Suara-suara kecil — campuran vokal dan desisan — keluar dari mulut mungilnya tanpa pola yang bisa saya kenali. Saya mendengarnya. Tapi seperti mendengar hujan: tahu ada bunyi, tidak perlu memahami artinya. Dengar tapi tidak memahami. Begitulah saya memperlakukan ocehan Andala selama berminggu-minggu. Hingga suatu sore, Andala berbaring di kasur, saya duduk di depannya, menatap matanya. Situasinya santai — ia segar, pakaiannya bersih, tidak ada tangisan yang perlu diselesaikan. Saya iseng mengenalkan kata-kata pendek berirama: kiki kaka, koko keke, anda andi, Andala Pantha. Andala merespons dengan senyum. Bukan senyum kecil — senyum penuh sampai muncul lesung pipi di pipi kirinya. Dan celotehan. Saya ulangi. Ia respons lagi. Tiga kali bolak-balik. Esok harinya saya coba lagi. Hasilnya sama. Di titik itu saya mulai curiga: ini bukan kebetulan. Baca lengkapnya di https://medium.com/p/cb64d2dc4a21