en
Feedback
Channel Diskusi Pajak

Channel Diskusi Pajak

Open in Telegram

Info perpajakan

Show more

πŸ“ˆ Analytical overview of Telegram channel Channel Diskusi Pajak

Channel Channel Diskusi Pajak (@tutorialpajak) in the Indonesian language segment is an active participant. Currently, the community unites 11 973 subscribers, ranking 10 038 in the Economy & Finance category and 6 011 in the Indonesia region.

πŸ“Š Audience metrics and dynamics

Since its creation on Π½Π΅Π²Ρ–Π΄ΠΎΠΌΠΎ, the project has demonstrated rapid growth, gathering an audience of 11 973 subscribers.

According to the latest data from 02 July, 2026, the channel demonstrates stable activity. Although there has been a change in the number of participants by -56 over the last 30 days and by -3 over the last 24 hours, overall reach remains high.

  • Verification status: Not verified
  • Engagement rate (ER): The average audience engagement rate is 17.17%. Within the first 24 hours after publication, content typically collects 6.06% reactions from the total number of subscribers.
  • Post reach: On average, each post receives 2 056 views. Within the first day, a publication typically gains 726 views.
  • Reactions and interaction: The audience actively supports content: the average number of reactions per post is 2.

πŸ“ Description and content policy

The author describes the resource as a platform for expressing subjective opinions:
β€œInfo perpajakan”

Thanks to the high frequency of updates (latest data received on 03 July, 2026), the channel maintains relevance and a high level of publication reach. Analytics show that the audience actively interacts with content, making it an important point of influence in the Economy & Finance category.

11 973
Subscribers
-324 hours
-207 days
-5630 days
Posts Archive
Repackage e-SPT

-replace db bawaan installer dengan db kosong -copy + register arpro2.dll -shortcut ke desktop

-Install VBRun60SP6.exe, beberapa PC butuh ini diinstall dulu -shortcut abis install

-update PMK-141/PMK.03/2015 -shortcut abis install

-shortcut ke desktop

eSPT Masa PPh Pasal 21 v2.4 -CR 64bit sudah dihilangkan -cek Dotnet, jika sudah terinstall dotnet v4.xx terinstall, akan diskip -cek CR32bit, jika sudah terinstall, akan diskip -update espt2114.exe.config dari v2.2 -update db with patch v2.3 termasuk yg di folder db kosong -update v2.4.0.0 -create shortcut ke desktop abis install

eSPT Masa PPh Pasal 4 Ayat (2) v1.1 -repackage-silent.exe21.76 MB

eSPT Masa PPN 1107PUTv3.0-repackage-silent.exe13.59 MB

eSPT Masa PPh Pasal 23 26 v1.0-repackage-silent-incl.PMK-141.exe28.48 MB

eSPT Masa PPh Pasal 22 v2.2-repackage-silent.exe25.43 MB

eSPT Masa PPh Pasal 21 v2.4 -repackage-slim-silent.exe176.00 MB

photo content

Bisnis harus nya dijalankan seperti ini

photo content

STAN is dead. Long Live STAN! STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara) sudah tiada. Per 9 November 2015, STAN telah berubah bentuk menjadi Politeknik Keuangan Negara-STAN (PKN-STAN). Nama STAN di "PKN-STAN" hanya menunjukkan keterkaitan dengan STAN di masa lalu. STAN memang sudah menjadi brand name sendiri. Mengingat masa perjuangan kuliah di STAN bikin hati terharu-biru. Sebenarnya, apa yang membedakan STAN dengan perguruan tinggi lainnya? Fasilitasnya luar biasa: 1. Kuliahnya gratis. Text book disediakan dipinjamkan. Buku tulis disediakan. All free! (Kecuali pacar yang disuruh cari sendiri). 2. Setelah lulus kuliah, langsung diangkat menjadi PNS di instansi-instansi hebat : BPKP, Ditjen Pajak, Kementerian Keuangan atau BPK 3. Waktu masih kuliah sudah dapat gaji, karena ketika di tingkat 2, sudah diangkat jadi CPNS. Akibat dari fasilitas ini: 1. Ortu di kampung di Tembung,Medan bangga: anakku sekolah di SETAN (kalau nyebut STAN dengan aksen batak yang kental) 2. Mudah menyebabkan calon mertua terkesan (kalau anaknya sih belum tentu, lihat penjelasan di bawah) Tapi tekanannya juga luar biasa: 1. Tingkat persaingan masuk STAN sangat tinggi. Prosentase siswa yang diterima (dari jumlah siswa yang ikut ujian) sangat rendah. Tempat ujian masuk waktu itu, stadion senayan, sejauh mata memandang penuh dengan peserta ujian! Gentar juga hati waktu itu. 2. Di setiap tingkat (tingkat 1, 2 dan 3) berlaku sistem DO (drop-out). Ada mata kuliah tertentu seperti Tata Buku, Hitung Dagang, Akuntansi, Akuntansi Biaya yang tidak boleh gagal. Jadi walaupun mata kuliah yang lainnya dapat nilai A semua, tapi bila ada mata kuliah tertentu tadi ada yang tidak lulus maka siswa tersebut DO. 3. Tidak punya dosen, yang ada hanyalah widyaiswara (pejabat instansi pemerintah, kebanyakan dari Departemen Keuangan), yang kadang kadang sibuk dengan tugasnya sehingga tidak sempat ngajar. Mahasiswa belajar sendiri. Walau dosen tidak mengajar, tidak ada ampun kalau gagal ujian. Untung di tingkat 1 dan 2, ada para asisten dosen (asdos) khusus untuk mata kuliah yang susah-susah, seperti Tata Buku, Hitung Dagang, Akuntansi. Para asdos yang menyelamatkan hidup kami. Mas Dite Abimanyu, Bang Helmy Yahya, Mas Kunarso Kiputra, Mas Mulyadinoto, Bang Ateh, I am always grateful to you). 4. PR-nya bejibun. Ampuun. (Belakangan saya baru sadar, bahwa belajar akuntansi memang harus seperti belajar matematika, yaitu mengerjakan banyak latihan dan tidak bisa cuma membaca buku sambil rileks seperti membaca novel.) 5. Mengerjakan berbagai perhitungan tidak boleh pakai kalkulator. Menghitung penjumlahan di neraja lajur, berpuluh puluh baris dari atas ke bawah, kiri ke kanan. Menghitung anuitas dengan hanya dibekali dengan tabel suku bunga anuitas. Membuat rekening koran yang harus menghitung jumlah bunga harian. It was a torture! (Btw, sampai sekarang saya masih takjub dengan anuitas.Harusnya penemunya mendapatkan hadiah Nobel tuh.) Akibat dari tekanan-tekanan ini juga jelas: 1. Wajah mahasiswanya stress semua (sebagian bahkan jadi culun), tidak ada kepastian apakah akan lanjut kuliah tahun berikutnya. Wajah hanya cerah kalau setelah menerima rapelan gaji pertama dan gaji bulan bulan berikutnya. (Setelah habis rapelan gaji, semua pakai baju baru dan celana baru. Hore!) 2.Kebanyakan nggak sempat mikir atau dapat pacar (ada juga beberapa pengecualian, khususnya yang sangat cerdas, definitely not me lah). Kombinasi dari Fasilitas dan Tekanan itu yang menyebabkan lulusan STAN menjadi sangat spartan dan unik. Dengan segala plus minusnya. Saya bersyukur bisa kuliah di STAN, berterima kasih kepada pemerintah, dan Departemen Keuangan, yang waktu itu yang menyediakan biaya untuk mendidik kami. STAN banyak menyelamatkan nasib generasi muda, yang kalau bukan karena STAN mungkin tidak bisa kuliah. I was one of them, definitely. Dan seperti tradisi ketika ada raja yang mangkat dan saat itu juga ditahbiskan raja baru, mari kita berseru "STAN is dead. Long live STAN!"

Yang mau jadi pegawai Kemenkeu.

#E-SPT masa PPh 21 Repackaged @sildaprayona