ch
Feedback
Renungan Harian Ps Steven Agustinus

Renungan Harian Ps Steven Agustinus

前往频道在 Telegram
838
订阅者
+124 小时
-47 天
-1630 天
吸引订阅者
九月 '26
九月 '26
+3
在0个频道中
八月 '26
+10
在0个频道中
Get PRO
七月 '26
+3
在0个频道中
Get PRO
六月 '26
+10
在0个频道中
Get PRO
五月 '26
+9
在0个频道中
Get PRO
四月 '26
+8
在0个频道中
Get PRO
三月 '26
+9
在0个频道中
Get PRO
二月 '26
+9
在0个频道中
Get PRO
一月 '26
+3
在0个频道中
Get PRO
十二月 '25
+5
在0个频道中
Get PRO
十一月 '25
+22
在0个频道中
Get PRO
十月 '25
+5
在0个频道中
Get PRO
九月 '25
+4
在0个频道中
Get PRO
八月 '25
+4
在0个频道中
Get PRO
七月 '25
+4
在0个频道中
Get PRO
六月 '25
+3
在0个频道中
Get PRO
五月 '25
+5
在0个频道中
Get PRO
四月 '25
+2
在0个频道中
Get PRO
三月 '25
+6
在0个频道中
Get PRO
二月 '25
+4
在0个频道中
Get PRO
一月 '25
+3
在0个频道中
Get PRO
十二月 '24
+10
在0个频道中
Get PRO
十一月 '24
+36
在0个频道中
Get PRO
十月 '24
+50
在0个频道中
Get PRO
九月 '24
+31
在0个频道中
Get PRO
八月 '24
+25
在0个频道中
Get PRO
七月 '24
+44
在0个频道中
Get PRO
六月 '24
+40
在0个频道中
Get PRO
五月 '24
+37
在0个频道中
Get PRO
四月 '24
+44
在0个频道中
Get PRO
三月 '24
+46
在0个频道中
Get PRO
二月 '24
+20
在0个频道中
Get PRO
一月 '24
+22
在0个频道中
Get PRO
十二月 '23
+7
在0个频道中
Get PRO
十一月 '23
+9
在0个频道中
Get PRO
十月 '23
+29
在0个频道中
Get PRO
九月 '23
+16
在0个频道中
Get PRO
八月 '23
+13
在0个频道中
Get PRO
七月 '23
+18
在0个频道中
Get PRO
六月 '23
+16
在0个频道中
Get PRO
五月 '23
+31
在0个频道中
Get PRO
四月 '23
+17
在0个频道中
Get PRO
三月 '23
+23
在0个频道中
Get PRO
二月 '23
+37
在0个频道中
Get PRO
一月 '23
+27
在0个频道中
Get PRO
十二月 '22
+18
在0个频道中
Get PRO
十一月 '22
+31
在0个频道中
Get PRO
十月 '22
+33
在0个频道中
Get PRO
九月 '22
+21
在0个频道中
Get PRO
八月 '22
+25
在0个频道中
Get PRO
七月 '22
+18
在0个频道中
Get PRO
六月 '22
+11
在0个频道中
Get PRO
五月 '22
+19
在0个频道中
Get PRO
四月 '22
+15
在0个频道中
Get PRO
三月 '22
+10
在0个频道中
Get PRO
二月 '22
+13
在0个频道中
Get PRO
一月 '22
+18
在0个频道中
Get PRO
十二月 '21
+14
在0个频道中
Get PRO
十一月 '21
+13
在0个频道中
Get PRO
十月 '21
+13
在0个频道中
Get PRO
九月 '21
+14
在0个频道中
Get PRO
八月 '21
+31
在0个频道中
Get PRO
七月 '21
+26
在0个频道中
Get PRO
六月 '21
+917
在0个频道中
日期
订阅者增长
提及
频道
19 九月+1
18 九月+1
17 九月0
16 九月0
15 九月0
14 九月0
13 九月0
12 九月0
11 九月0
10 九月0
09 九月0
08 九月+1
07 九月0
06 九月0
05 九月0
04 九月0
03 九月0
02 九月0
01 九月0
频道帖子
2
Alih-alih lumpuh dalam bayang-bayang kelam, jiwa yang dibasuh oleh anugerah-Nya justru dibangkitkan kembali dengan identitas baru yang suci, siap melangkah ke depan dengan penuh pengharapan di dalam kasih karunia-Nya. *12. SUKACITA (JOY)* *Emosi tidak tepat:* Sukacita sejati yang bergeser dari sumber yang benar akan beralih menjadi pengejaran kesenangan lahiriah yang fana. Seseorang mulai mencari pelarian dan hiburan sementara yang kosong—baik melalui kesenangan duniawi, materi, atau stimulasi sesaat demi menutupi kehampaan jiwa. Sukacita palsu ini bersifat candu, memberikan kepuasan instan yang cepat berlalu dan meninggalkan kekosongan yang jauh lebih dalam setelahnya. *Emosi ilahi:* Sukacita yang berakar dan berpusat di dalam Tuhan melampaui segala bentuk kesenangan fana duniawi, menjelma menjadi kekuatan rohani yang kokoh, stabil, dan menetap di dalam hati (Nehemia 8:10). Buah Roh ini tidak bergantung pada situasi luar atau kepuasan lahiriah yang sementara, melainkan memancar dari relasi yang hidup dan intim dengan Tuhan. Sukacita ilahi ini memberikan kepuasan yang sejati, menghadirkan ketenangan di tengah badai, dan memancarkan terang serta pengharapan yang menyegarkan jiwa tanpa meninggalkan kehampaan di kemudian hari. Ps. Steven Agustinus _____ Jika hidupmu dibangun oleh renungan ini—sebarkan! Satu broadcast bisa menyelamatkan arah hidup seseorang. Gabung hari ini dan jadilah corong suara-Nya. 📎 https://wa.link/rf63zf
72
3
Mari kita tuntaskan pembahasan mengenai 'emosi'. Saya sangat yakin sekali, bahwa Tuhan sedang berurusan dengan hidup kita, Ia menghendaki untuk setiap kita membawa emosi ilahi dalam hidup sehari - hari. Emosi ilahi tersebutlah yang akan membuat kehidupan sehari - hari kita dapat menikmati realita Kerajaan Surga. Bukan hanya diri kita saja yang mengalami, tapi juga orang - orang yang berinteraksi dengan hidup kita. Mereka akan merasakan dan menjadi saksi bahwa Tuhan itu nyata menjamah dan memerdekakan hidup mereka melalui keberadaan diri kita. Berikut ini adalah kelanjutan pembahasan mengenai 12 perbandingan antara emosi yang keluar dari tempatnya (dipimpin oleh roh survival/ manifestasi daging) versus emosi yang berada di tempat yang tepat (dipimpin oleh Roh Kudus, sesuai Kebenaran): *9. KESEPIAN (LONELINESS)* *Emosi tidak tepat:* Rasa kesepian yang mendalam, ketika tidak dibawa kepada ketenangan spiritual, seringkali menjerumuskan seseorang ke dalam keputusasaan dan ketergantungan emosional yang tidak sehat pada manusia. Mereka haus akan validasi dan penerimaan, sehingga rentan terjebak dalam hubungan yang toksik hanya demi menghindari rasa sepi. Jiwa yang kesepian ini merasa hampa—terus-menerus mencari pengisi kekosongan di tempat yang salah. *Emosi ilahi:* Ketika rasa kesepian dibawa ke dalam keintiman doa dan persekutuan yang mendalam dengan Tuhan, ia bertransformasi menjadi momen keheningan suci (solitude) yang memulihkan dan mengenyangkan jiwa. Ruang kosong di dalam hati tidak lagi diisi oleh validasi manusia yang rapuh, melainkan dipenuhi oleh kepenuhan hadirat Roh Kudus yang memberikan rasa aman, kepastian diterima, dan kasih yang sempurna. Dari tempat kesendirian bersama Allah ini, jiwa justru menemukan kekuatan baru, penghiburan sejati, dan ketenangan batin yang membuat seseorang menyadari bahwa ia tidak pernah benar-benar sendirian karena senantiasa dikelilingi oleh kasih setia Tuhan. *10. KEGELISAHAN (ANXIETY)* *Emosi tidak tepat:* Kegelisahan yang dibiarkan merajalela akan memicu kekhawatiran kronis dan siklus pikiran yang berputar tanpa henti (overthinking). Hal ini mencerminkan kebutuhan yang besar untuk memegang kendali atas segala aspek kehidupan di luar batas kemampuan manusia. Akibatnya, kedamaian batin hilang, digantikan oleh ketegangan mental yang konstan, ketakutan akan masa depan, dan ketidakmampuan untuk menikmati momen saat ini. *Emosi ilahi:* Di bawah pimpinan Roh Kudus, kegelisahan dan dorongan untuk memegang kendali atas segala hal ditundukkan melalui penyerahan total kepada kedaulatan Allah, melahirkan kedamaian batin yang melampaui segala akal (Filipi 4:6-7). Alih-alih membiarkan pikiran berputar dalam kekhawatiran masa depan, emosi ini diarahkan menjadi kesadaran penuh akan penyertaan Tuhan di setiap momen saat ini. Hal ini memampukan seseorang untuk melepaskan beban kekuatiran, bersandar pada janji - janji-Nya dengan tenang, dan melangkah hari demi hari dengan keyakinan penuh bahwa Bapa yang memelihara hari esok memegang kendali atas hidupnya. *11. RASA BERSALAH (GUILTY)* *Emosi tidak tepat:* Rasa bersalah yang tidak dibereskan dengan benar dapat berubah menjadi penghukuman diri yang kejam. Hal ini mengakibatkan kehancuran identitas yang parah, di mana seseorang merasa dirinya begitu kotor hingga tidak ada lagi harapan pengampunan atau pemulihan. Beban moral ini terus menghantui, melumpuhkan langkah untuk bangkit, dan membuat seseorang hidup di bawah bayang-bayang masa lalu yang kelam. *Emosi ilahi:* Rasa bersalah yang diserahkan di bawah kuasa darah Kristus tidak lagi berfungsi sebagai penghukuman yang menghancurkan, melainkan berubah menjadi kepekaan nurani yang murni untuk membawa seseorang kepada pertobatan yang sungguh-sungguh dan pemulihan mutlak (1 Yohanes 1:9). Kesadaran ini mengarahkan hati untuk menerima pengampunan ilahi secara utuh, melepaskan belenggu masa lalu, dan berjalan dalam kemerdekaan rohani yang sejati.
62
4
没有文字...
76
5
*Emosi ilahi:* Kasih yang digerakkan oleh Roh Kudus melampaui batas-batas egoisme manusia, bermanifestasi sebagai pengorbanan tanpa pamrih yang tulus, kesabaran yang luar biasa, kebaikan yang nyata, serta kelapangan hati atas kelemahan orang lain (1 Korintus 13:4-7). Kasih ilahi ini tidak menuntut atau mengekang, melainkan memerdekakan, membangun, dan menyembuhkan, mencerminkan karakter Kristus yang sepenuhnya menyerahkan diri demi keselamatan dan kebaikan orang yang dikasihi-Nya. Juga memastikan melalui hidup kita orang lain mengalami kemajuan yang nyata. Message ini masih akan berlanjut besok. Ps. Steven Agustinus _____ Jika hidupmu dibangun oleh renungan ini—sebarkan! Satu broadcast bisa menyelamatkan arah hidup seseorang. Gabung hari ini dan jadilah corong suara-Nya. 📎 https://wa.link/rf63zf
76
6
Saya percaya, dunia ini menjadi rusak dikarenakan ada banyak orang yang gagal mengendalikan emosinya. Tapi saya juga sangat yakin, akan ada begitu banyak pemulihan yang terjadi bilamana ada orang - orang yang senantiasa membawa emosi yang ilahi. Berikut ini adalah kelanjutan pembahasan mengenai 12 perbandingan antara emosi yang keluar dari tempatnya (dipimpin oleh roh survival/ manifestasi daging) versus emosi yang berada di tempat yang tepat (dipimpin oleh Roh Kudus, sesuai Kebenaran): *5. KEINGINAN (DESIRE)* *Emosi tidak tepat:* Keinginan manusiawi yang keluar kendali dapat dengan mudah bergeser menjadi hawa nafsu, kecanduan yang mengikat, dan kerakusan yang tidak pernah puas. Dorongan ini sering kali berujung pada bentuk penyembahan berhala modern, di mana hal-hal duniawi atau kesenangan jasmaniah ditempatkan di atas segala-galanya. Akibatnya, manusia menjadi hamba dari nafsunya sendiri, rela mengorbankan integritas dan nilai-nilai luhur demi memuaskan dahaga yang tidak ada habisnya. *Emosi ilahi:* Ketika hasrat dan keinginan terdalam manusia diselaraskan dan diserahkan kepada kedaulatan Allah, ia bertransformasi menjadi kerinduan yang murni akan tujuan-tujuan ilahi, keintiman yang mendalam dengan Sang Pencipta, serta sumber kreativitas yang menghasilkan berbagai karya yang baik (Mazmur 37:4, Filipi 2:13). Keinginan yang kudus ini bukan lagi tentang memuaskan keakuan, melainkan sebuah dorongan batin yang dipimpin oleh Roh Kudus untuk mengejar perkara-perkara sorgawi, memancarkan kemuliaan-Nya melalui setiap talenta, dan menikmati kepuasan sejati yang hanya ditemukan di dalam kehendak-Nya. *6. CEMBURU (JEALOUSY)* *Emosi tidak tepat:* Rasa cemburu yang dibiarkan berakar akan berubah menjadi iri hati yang beracun, mendorong seseorang untuk terus-menerus membandingkan hidupnya dengan pencapaian atau kebahagiaan orang lain. Kondisi ini melahirkan kepahitan batin yang mengikis rasa syukur, memicu rasa tidak adil yang palsu, dan sering kali mendorong seseorang untuk merusak reputasi atau kebahagiaan sesama demi meredakan ketidakamanan di dalam dirinya sendiri. *Emosi ilahi:* Rasa cemburu yang ditempatkan di bawah pimpinan ilahi bukanlah iri hati yang merusak, melainkan sebuah bentuk gairah rohani yang murni untuk menjaga kesucian perjanjian, memperkuat komitmen, dan melindungi hal-hal yang kudus di dalam Tuhan (2 Korintus 11:2). Cemburu yang ilahi ini mencerminkan hati Allah yang rindu umat-Nya tetap setia, menjauhkan diri dari kompromi duniawi, dan merawat hubungan kasih yang eksklusif serta tak tergoyahkan di dalam kebenaran-Nya. *7. PERCAYA DIRI (CONFIDENCE)* *Emosi tidak tepat:* Kepercayaan diri yang melampaui batas hikmat dan kerendahan hati dapat berbalik menjadi kesombongan serta arogansi yang berbahaya. Seseorang mulai sepenuhnya mengandalkan kekuatan, kepintaran, dan sumber daya diri sendiri, melupakan ketergantungan mutlak kepada Sang Pencipta. Sikap ini melahirkan sikap tinggi hati, meremehkan orang lain, dan menutup telinga terhadap masukan maupun koreksi karena merasa dirinya sudah sempurna. *Emosi ilahi:* Kepercayaan diri yang sejati di dalam terang rohani bukanlah hasil dari kehebatan diri sendiri, melainkan keberanian yang murni diberdayakan oleh Tuhan yang berpadu dengan kerendahan hati yang dalam (Filipi 4:13). Keyakinan ini lahir dari kesadaran bahwa segala kemampuan dan kekuatan bersumber dari anugerah-Nya, memampukan seseorang untuk menghadapi setiap tantangan hidup dengan penuh keteguhan tanpa harus jatuh ke dalam perangkap kesombongan atau arogansi. *8. KASIH (LOVE)* *Emosi tidak tepat:* Bahkan kasih yang murni, jika disalahartikan oleh ego manusia, dapat berubah menjadi keterikatan yang tidak sehat dan posesif. Kasih yang salah arah ini bermanifestasi sebagai keinginan untuk mengontrol hidup orang lain, memanjakan secara berlebihan, atau menganggap orang lain sebagai milik pribadi yang harus menuruti segala kehendaknya. Alih-alih memerdekakan, kasih yang berpusat pada ego justru mencekik dan membebani orang-orang yang dikasihinya.
65
7
没有文字...
86
8
*4. RASA MALU (SHAME)* *Emosi tidak tepat:* Rasa malu yang tidak sehat sering kali mendorong seseorang untuk bersembunyi dari realitas dan dari sesama. Hal ini menciptakan kehancuran identitas yang mendalam, di mana seseorang mulai membenci diri sendiri dan merasa tidak layak untuk dikasihi atau diterima. Alih-alih menjadi introspeksi yang membangun, rasa malu ini menjelma menjadi topeng penutup diri, ketakutan terekspos, dan perasaan tertuduh yang terus-menerus menggerogoti harga diri. *Emosi ilahi:* Ketika rasa bersalah dan rasa tidak layak diproses di dalam terang penebusan Kristus, ia tidak lagi menjadi beban yang menghancurkan identitas, melainkan berfungsi sebagai katalisator yang membawa kepada pertobatan sejati, pemulihan jati diri, dan kesembuhan batin yang tuntas (2 Korintus 7:10, Roma 8:1). Rasa malu yang dikuduskan ini menyadarkan kita akan kerapuhan manusiawi sekaligus mengarahkan pandangan kita kepada salib, tempat di mana identitas kita dipulihkan sepenuhnya, dibebaskan dari penghukuman, dan diterima secara mutlak sebagai anak-anak Allah yang dikasihi. Message ini masih akan berlanjut besok. Ps. Steven Agustinus ____ Jika hidupmu dibangun oleh renungan ini—sebarkan! Satu broadcast bisa menyelamatkan arah hidup seseorang. Gabung hari ini dan jadilah corong suara-Nya. 📎 https://wa.link/rf63zf
83
9
Kita masih membasah mengenai emosi yang tepat dan ilahi. Emosi manusia memiliki pengaruh yang besar dalam kehidupan kita dan karena itu tidak boleh diabaikan begitu saja. Setiap emosi yang muncul dapat memengaruhi cara kita berpikir, mengambil keputusan, berbicara, dan bertindak; emosi yang tidak dikelola dapat membawa kita kepada respons yang salah, tetapi emosi yang diarahkan dan ditundukkan kepada pemerintahan Kristus dapat menjadi energi yang mendorong kita menghasilkan respons yang benar sesuai dengan Firman Tuhan. Berikut ini adalah 12 perbandingan antara emosi yang keluar dari tempatnya (dipimpin oleh roh survival/ manifestasi daging) versus emosi yang berada di tempat yang tepat (dipimpin oleh Roh Kudus, sesuai Kebenaran): *1. TAKUT (FEAR)* *Emosi tidak tepat:* Saat ketakutan mulai kita biarkan menguasai diri, hal itu sering kali bermanifestasi menjadi kecemasan berlebihan, paranoia, serta kebutuhan defensif untuk terus mempertahankan diri. Pikiran mulai berimajinasi liar, membayangkan berbagai skenario terburuk yang seolah-olah sudah benar-benar terjadi di depan mata. Akibatnya, reaksi dan keputusan yang diambil menjadi tidak rasional, membuat seseorang menarik diri dari realitas, mengurung diri, dan hidup dalam cengkeraman ketidakpastian yang melumpuhkan. *Emosi ilahi:* Ketika rasa takut dibawa dan ditundukkan di bawah terang Firman Tuhan, ia bertransformasi menjadi kerendahan hati yang sehat, kewaspadaan yang bijaksana, serta rasa takut akan Tuhan yang benar (Mazmur 56:4, Amsal 9:10). Alih-alih melumpuhkan, emosi ini justru menajamkan kepekaan rohani kita untuk mengenali situasi sekaligus mengalihkan seluruh sandaran hidup kepada perlindungan dan kedaulatan-Nya. Dengan demikian, kita dapat melangkah dengan penuh ketenangan, hikmat, dan kepastian iman di tengah dunia yang penuh dengan ketidakpastian. *2. MARAH (ANGER)* *Emosi tidak tepat:* Ketika amarah tidak dikelola dengan bijak, ia berubah menjadi api yang merusak, memicu ledakan emosi yang tidak terkendali, dendam kesumat, hingga tindakan yang kejam. Rasa marah yang dipelihara akan berakar menjadi kepahitan mendalam, membuat seseorang mudah tersinggung, menghakimi orang lain secara berlebihan, dan merusak hubungan sosial maupun batiniah akibat dorongan destruktif yang selalu mencari pelampiasan. *Emosi ilahi:* Di bawah pimpinan Roh Kudus, energi dari rasa marah disucikan dan diarahkan menjadi kekuatan yang konstruktif untuk menjaga batasan-batasan hidup yang benar, membela kebenaran ilahi, serta memperjuangkan keadilan (Efesus 4:26). Kemarahan yang kudus ini tidak bertujuan untuk merusak atau melukai sesama, melainkan menjadi dorongan moral yang penuh kasih untuk menegakkan kebaikan, menentang ketidakadilan, dan merespons setiap situasi pelik dengan ketegasan yang berlandaskan kasih karunia serta kebenaran Kristus. *3. SEDIH (SADNESS)* *Emosi tidak tepat:* Rasa sedih yang kehilangan arah dan tidak diserahkan pada pemulihan jiwa akan merosot menjadi keputusasaan yang pekat. Seseorang mulai kehilangan harapan atas masa depan, merasa hidupnya kehilangan makna, dan memilih untuk menarik diri sepenuhnya dari interaksi sosial. Kesedihan ini menjelma menjadi beban berat yang mengisolasi jiwa, membuat mereka merasa sendirian di tengah keramaian dan enggan menerima uluran tangan. *Emosi ilahi:* Rasa sedih yang diserahkan kepada keintiman dengan Tuhan tidak akan menjerumuskan jiwa ke dalam keputusasaan, melainkan justru memperdalam kapasitas belas kasihan, ketulusan iman, dan ketergantungan mutlak kepada-Nya. Melalui proses penyembuhan di hadapan takhta rahmat, hati yang remuk diregenerasi menjadi ladang empati yang luas, memampukan seseorang untuk turut merasakan penderitaan sesama, terhibur oleh penghiburan ilahi, dan menemukan kembali pengharapan hidup yang kokoh di dalam kasih setia Tuhan.
79
10
Emosi manusia memiliki pengaruh yang besar dalam kehidupan kita dan karena itu tidak boleh diabaikan begitu saja. Setiap emosi yang muncul dapat memengaruhi cara kita berpikir, mengambil keputusan, berbicara, dan bertindak; emosi yang tidak dikelola dapat membawa kita kepada respons yang salah, tetapi emosi yang diarahkan dan ditundukkan kepada pemerintahan Kristus dapat menjadi energi yang mendorong kita menghasilkan respons yang benar sesuai dengan Firman Tuhan. Message ini masih akan berlanjut besok. Ps. Steven Agustinus __ Jika hidupmu dibangun oleh renungan ini—sebarkan! Satu broadcast bisa menyelamatkan arah hidup seseorang. Gabung hari ini dan jadilah corong suara-Nya. 📎 https://wa.link/rf63zf
103
11
Masih berbicara soal menguasai dan menundukan emosi pada Pemerintahan Kristus. Saya yakin, saat kita memerhatikan dan merenungkan ayat - ayat Firman yang saya kutip dan jelaskan, maka hidup kita akan dimerdekakan dari segala pemikiran - pemikiran buruk yang membuat emosi kita bergejolak ke arah yang negatif. - Amsal 17:22 (TB) Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang. Ada hubungan yang kuat antara kondisi batin dan kehidupan seseorang. Hati yang gembira dapat menjadi sumber kekuatan, sementara semangat yang patah dapat membuat seseorang kehilangan daya untuk melangkah. Karena itu, menjaga kondisi hati bukan perkara sepele; ini merupakan bagian dari menjaga kehidupan yang Tuhan percayakan kepada kita. - Amsal 19:2 (TB) Tanpa pengetahuan kerajinanpun tidak baik; orang yang tergesa-gesa akan salah langkah. Emosi yang tidak dikelola sering membuat seseorang bertindak terlalu cepat. Ketika marah, kita ingin segera membalas. Ketika takut, kita ingin segera mengambil keputusan. Ketika kecewa, kita ingin segera menyerah. Padahal keputusan yang lahir dari keadaan emosional yang tidak stabil berpotensi membawa kita kepada “salah langkah.” Karena itu, kita perlu belajar memberi ruang bagi Roh Kudus untuk memimpin sebelum kita merespons. - Amsal 19:11 (VMD) Pengalaman membuat orang sabar, dan orang semakin sabar bila mengabaikan hinaan. Kedewasaan terlihat dari kemampuan seseorang untuk tidak memberikan reaksi terhadap setiap stimulus emosional. Tidak setiap perkataan harus dibalas, tidak setiap hinaan harus dijawab, dan tidak setiap provokasi harus direspons. Ada kekuatan rohani dalam kemampuan untuk mengabaikan hinaan dan memilih tetap tenang. Ini bukan kelemahan, tetapi bentuk penguasaan diri. - Amsal 24:16 (TB) Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali, tetapi orang fasik akan roboh dalam bencana. Salah satu emosi yang sering muncul setelah kegagalan adalah kecewa terhadap diri sendiri, malu, atau kehilangan harapan. Namun orang benar tidak didefinisikan oleh berapa kali ia jatuh, melainkan oleh kemampuannya untuk bangun kembali. Penguasaan emosi berarti kita tidak membiarkan kegagalan menjadi identitas kita. Kita boleh jatuh, tetapi kita tidak tinggal dalam keadaan jatuh. Perhatikan emosi-emosi kita karena itu mempengaruhi keputusan-keputusan dan tindakan-tindakan kita. - Mazmur 4:4 (TB) Biarlah kamu marah, tetapi jangan berbuat dosa; berkata-katalah dalam hatimu di tempat tidurmu, tetapi tetaplah diam. - Mazmur 42:5 (TB) Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku! - Mazmur 56:3-4 (TB) Waktu aku takut, aku ini percaya kepada-Mu; kepada Allah, yang firman-Nya kupuji, kepada Allah aku percaya, aku tidak takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku? - Efesus 4:26-27 (TB) Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis. Munculnya emosi tidak selalu salah, kemarahan sendiri tidak otomatis merupakan dosa. Namun, ketika emosi tersebut dibiarkan mengendalikan respons dan tindakan kita, emosi dapat membawa kita kepada dosa. Karena itu, emosi harus diproses dan diarahkan dengan benar. - Kolose 3:15 (TB) Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah. Kata memerintah menunjukkan bahwa hati kita membutuhkan pemerintahan yang benar. Ketika emosi sedang bergejolak, kita tidak boleh membiarkan ketakutan, kemarahan, atau kecemasan mengambil posisi sebagai penguasa, tetapi membiarkan damai Kristus menjadi penentu dan pengarah respons kita. - 1 Petrus 5:7 (TB) Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.
97
12
Emosi adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Kita semua pernah mengalami marah, takut, kecewa, sedih, sukacita, dan berbagai gejolak batin lainnya yang merupakan bagian dari kehidupan emosional kita. Namun sesungguhnya emosi itu sendiri bersifat netral; emosi menjadi positif atau negatif bergantung pada bagaimana kita mengarahkannya dan ke mana energi tersebut kita gerakkan. Emosi dapat dipahami sebagai _energy in motion_- energi yang bergerak. Karena itu, emosi bukan untuk ditekan atau dimatikan, melainkan harus kita kuasai, arahkan, dan tundukkan kepada pemerintahan Kristus, sehingga energi yang bergerak dari dalam diri kita menghasilkan respons yang selaras dengan Firman dan tatanan Kerajaan Allah. Perhatikan beberapa ayat firman berikut yang berkaitan dengan bagaimana menguasai emosi kita, manfaatnya maupun konsekuensinya: - Amsal 12:25 (TB) Kekuatiran dalam hati membungkukkan orang, tetapi perkataan yang baik menggembirakan dia. Emosi dapat muncul dalam bentuk kekhawatiran. Jika kekhawatiran terus dibiarkan dan mengambil alih pikiran, Alkitab menggambarkannya sebagai sesuatu yang dapat “membungkukkan” seseorang- weigh him down, membuat seseorang kehilangan kekuatan, semangat, bahkan kemampuan untuk melihat kehidupan dengan perspektif yang benar. Karena itu, kekhawatiran bukan sekadar perasaan yang boleh kita biarkan begitu saja; kita perlu membawanya kepada Tuhan dan menggantikannya dengan kebenaran Firman. - Amsal 14:30 (TB) Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang. Kondisi hati ternyata memiliki dampak terhadap kehidupan secara keseluruhan. Hati yang tenang membawa kesegaran, sedangkan iri hati yang terus dipelihara dapat menggerogoti kehidupan dari dalam. Ini menunjukkan bahwa apa yang terjadi di dalam diri kita tidak berhenti sebagai emosi, tetapi dapat memengaruhi kondisi hidup kita secara nyata. - Amsal 15:13 (TB) Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat. Apa yang terjadi di dalam hati pada akhirnya dapat terlihat keluar. Sukacita memberikan ekspresi kehidupan, sementara kepedihan yang tidak ditanggulangi dapat mematahkan semangat. Karena itu, kita perlu memperhatikan kondisi hati kita, bukan hanya apa yang tampak secara lahiriah. - Amsal 15:15 (TB) Hari orang berkesusahan buruk semuanya, tetapi orang yang gembira hatinya selalu berpesta. Kondisi batin dapat memengaruhi cara seseorang memandang realitas. Keadaan yang sama dapat dipersepsikan secara berbeda ketika kondisi hati berbeda. Ini bukan berarti kita menyangkal fakta atau berpura-pura bahwa masalah tidak ada, tetapi menunjukkan bahwa kondisi hati kita dapat memengaruhi cara kita melihat, menilai, dan merespons keadaan. Message ini masih akan berlanjut besok. Ps. Steven Agustinus __ Jika hidupmu dibangun oleh renungan ini—sebarkan! Satu broadcast bisa menyelamatkan arah hidup seseorang. Gabung hari ini dan jadilah corong suara-Nya. 📎 https://wa.link/rf63zf
106
13
BCC Sunday Service Alamilah perjumpaan pribadi dengan Tuhan yang membangkitkan anda dari segala keterpurukan untuk menjadi para pahlawan iman dalam ibadah Breakthrough City Church: 🕘 Minggu, 09.00 WIB 🛜 https://stevenagustinus.com/streaming
113
14
Efesus 6:10-18 (TB) Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya. Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah, dalam segala doa dan permohonan. Sadarilah bahwa hehidupan sehari-hari yang kita jalani sesungguhnya adalah suatu peperangan rohani. Menjalani kehidupan sehari-hari adalah sama seperti memasuki suatu peperangan rohani. Ada "hari yang jahat" di sana, ada "masa sukar" yang menunggu dan ada "panah-panah api dari si Jahat" yang sewaktu-waktu bisa menghunjam ke dalam kehidupan kita. Belum lagi berbagai sistem korup yang dipraktekkan oleh orang-orang fasik yang hidup dalam pengaruh atau kendali si Jahat sendiri (Efesus 5:16, Efesus 6:16, 2 Timotius 3:1-9, 1 Yohanes 5:19). Tapi sebagai orang percaya, sesungguhnya Tuhan sudah menganugerahkan kepada kita teritorial rohani yang berkemenangan. Tuhan sudah menetapkan kehidupan setiap orang percaya berkemenangan dalam segala hal. Jadi, pastikan kita memiliki mentalitas sebagai para prajurit Allah yang perkasa. Jadi, sehebat apa pun peperangan rohani yang sedang kita hadapi, ketahui dan yakinlah bahwa kita sudah berada pada posisi rohani yang berkemenangan, karena Kristus telah menang dan menaklukkan Iblis, dosa dan maut. Tidak pada tempatnya setiap orang percaya terus berada dalam posisi sebagai korban (victim) atau pihak yang kalah dari peperangan rohani yang terjadi. Karena sesungguhnya kita hanya berhadapan dengan tipu muslihat musuh yang terus mempengaruhi pikiran dan melemahkan diri kita. Ketika kita berhasil menyelaraskan sikap hati dan pikiran kita terus tertuju hanya kepada firman-Nya, maka pasti kemenangan yang sudah Tuhan tetapkan sebagai porsi kita akan dapat kita raih di dalam kekuatan kuasa-Nya. Kita bangkit dalam kuasa Roh dan keluar sebagai para pemenang (the victors) dalam setiap peperangan rohani yang kita hadapi. Ps. Steven Agustinus _____ Jika hidupmu dibangun oleh renungan ini—sebarkan! Satu broadcast bisa menyelamatkan arah hidup seseorang. Gabung hari ini dan jadilah corong suara-Nya. 📎 https://wa.link/rf63zf
116
15
Renungan ini masih membahas tentang 'respon dan reaksi'. Ini adalah kelanjutan dari poin penting yang saya dapat dari Tuhan agar kehidupan kita sehari - hari sebagai orang percaya dapat meresponi segala sesuatu secara ilahi: Mereka yang dengan mudah memunculkan reaksi negatif atas apa pun yang sedang ia alami, sejatinya ia sedang menunjukkan bahwa dirinya masih kekanak-kanakan. Ketahuilah, hanya pekerjaan firman dan Roh yang berkesinambungan akan mampu mendewasakan seseorang. Jadi, jangan abaikan persekutuan dengan Tuhan. Berdoalah, menyembah, dan membaca firman sampai hadirat-Nya menjamah merupakan bentuk pengkondisian diri yang akan mendewasakan diri kita di dalam hadirat-Nya. 3) KESADARAN SESEORANG AKAN JATI DIRINYA YANG BARU DI DALAM KRISTUS AKAN MENGKONDISIKAN DIRINYA UNTUK TERUS MEMUNCULKAN RESPON YANG AKURAT. Ada banyak orang yang memunculkan reaksi negatif, tapi pada akhirnya menyesali hal tersebut karena saat seseorang 'lupa' akan jati dirinya, ia hanya mengikuti dorongan emosi negatif yang sedang meluap - luap dalam batinnya. Ia mengabaikan berbagai pertimbangan yang sebetulnya bertujuan untuk menjagai keberadaan dirinya sebagai seorang representasi Kristus dalam kehidupan sehari-hari. Tindakan melakukan perenungan firman secara konsisten akan menyebabkan alam bawah sadar kita (yang mengontrol berbagai aktivitas emosi spontan seseorang) jadi semakin memunculkan natur ilahi sehingga mengeliminir kemungkinan untuk kita mengambil tindakan atau berkata-kata hanya berdasarkan kendali emosi negatif (memunculkan reaksi negatif). 4) RESPON YANG AKURAT MENGKONDISIKAN SESEORANG UNTUK SELALU ADA PADA POSISI YANG PASTI BERKEMENANGAN. Ada banyak orang percaya yang seringkali menyerahkan 'kendali hidupnya' kepada orang-orang lain dan situasi yang sedang dihadapi. Sehingga tanpa ia sadari hal itu justru membuat kehidupannya menjadi bertambah runyam. Orang-orang yang sering memunculkan reaksi negatif, biasanya akal sehatnya sudah tertutupi oleh 'kabut emosional' sehingga sulit untuk memunculkan sikap dan tindakan yang akurat. Padahal di sanalah titik penentuan 'menang-kalah' seseorang dalam menghadapi sesuatu. Mulai hari ini, pastikan kita terus memunculkan respon yang akurat. Ps. Steven Agustinus _____ Jika hidupmu dibangun oleh renungan ini—sebarkan! Satu broadcast bisa menyelamatkan arah hidup seseorang. Gabung hari ini dan jadilah corong suara-Nya. 📎 https://wa.link/rf63zf
147
16
没有文字...
135
17
Ada satu artikel yang saya sempat baca tentang 'respon' dan 'reaksi', dalam artikel tersebut kurang lebih diceritakan tentang adanya seorang bijaksana yang mengalami perlakuan kurang menyenangkan dari salah satu pelayan restoran hanya karena pakaian sederhana yang ia kenakan. Lalu, di depan matanya sendiri, orang bijaksana tersebut melihat bagaimana pelayan yang sama memperlakukan tamu restoran lain yang terlihat lebih mentereng, dengan sikap yang sangat ramah. Meskipun mengalami perlakuan yang kurang menyenangkan, tidak terlihat adanya tanda-tanda kekesalan atau ketersinggungan dalam diri orang bijaksana tersebut. Sedemikian gamblang perbedaan yang ada, sampai-sampai sang pemilik restoran merasa tidak enak hati sehingga langsung memberikan teguran kepada pelayan yang bersangkutan. Sang pemilik restoran juga segera meminta maaf kepada orang bijak tersebut, tapi sambil meminta maaf, sang pemilik restoran mengajukan satu pertanyaan, "Tuan, saya melihat dengan jelas bagaimana pegawai saya memperlakukan Anda, tapi saya melihat bagaimana Anda tetap menunjukkan keramahan dan sopan santun kepada pegawai saya. Anda tidak merasa tersinggung?". Orang bijak tersebut menjawab, "Saya tidak mau kehilangan sukacita dan pada akhirnya merusak selera makan saya dengan menjadi marah-marah atau tersinggung hanya karena perlakuan dari pegawai Anda. Jika itu yang terjadi, artinya saya telah menyerahkan kendali hidup saya kepada pegawai Anda". Sikap yang ditunjukkan oleh si orang bijak adalah sebuah respon, bukan reaksi. Secara sederhana, reaksi dapat dijabarkan sebagai suatu tindakan yang kita ambil karena dipengaruhi oleh apa yang sedang terjadi atau kita alami. Sedangkan respon dapat dijabarkan sebagai suatu bentuk tindakan yang bersumber dari keberadaan atau jati diri kita yang sesungguhnya. Orang-orang yang terus memunculkan reaksi atas apa yang terjadi atau yang mereka alami, biasanya akan terjebak untuk terus mengekspresikan emosi negatif dalam kehidupan sehari-harinya. Sementara itu, untuk orang-orang yang terus memunculkan respon akurat, biasanya mereka justru akan terkondisikan untuk berfungsi sebagai solusi dari setiap situasi dan juga keadaan yang sedang dihadapi. Berikut adalah beberapa poin penting yang saya terima dari Tuhan berkaitan dengan kebutuhan untuk setiap kita harus selalu memunculkan respon yang akurat daripada terus memunculkan reaksi negatif atas apa yang terjadi: 1) UNTUK SELALU MEMUNCULKAN RESPON YANG AKURAT, DIBUTUHKAN ADANYA KESADARAN AKAN HADIRAT TUHAN YANG TERUS MENCENGKERAM DAN MELIPUTI BATIN KITA. Kesadaran akan hadirat-Nya mampu mengondisikan diri kita untuk tidak mudah terpancing dan memunculkan reaksi negatif meski atmosfer serta situasi sedang terus berakumulasi dengan hal-hal yang negatif. Realita hadirat Tuhan akan terus memberikan ketenangan dan keakuratan dalam menilai, menimbang, serta mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari. 2)⁠ ⁠RESPON YANG AKURAT MERUPAKAN SALAH SATU BENTUK MANIFESTASI DARI KEDEWASAAN ATAU KEMATANGAN SESEORANG. Mereka yang dengan mudah memunculkan reaksi negatif atas apa pun yang sedang ia alami, sejatinya ia sedang menunjukkan bahwa dirinya masih kekanak-kanakan. Ketahuilah, hanya pekerjaan firman dan Roh yang berkesinambungan akan mampu mendewasakan seseorang. Jadi, jangan abaikan persekutuan dengan Tuhan. Doa, menyembah, baca firman sampai hadirat-Nya menjamah merupakan bentuk pengkondisian diri yang akan mendewasakan diri kita di dalam hadirat-Nya. Message ini masih akan berlanjut besok. Ps. Steven Agustinus ____ Jika hidupmu dibangun oleh renungan ini—sebarkan! Satu broadcast bisa menyelamatkan arah hidup seseorang. Gabung hari ini dan jadilah corong suara-Nya. 📎 https://wa.link/rf63zf
139
18
Di hari-hari terakhir ini, kita tidak bisa lagi menjalani kehidupan sehari-hari kita dengan 'hanya mengandalkan' satu dasar keyakinan saja: Jika aku mati, pasti masuk ke sorga. Jika hanya itu yang menjadi dasar keyakinan kita, maka kita akan terus menjadi korban dan menjalani kehidupan kita dengan penuh gejolak dan kegoncangan di dalam dunia ini. Bukan itu kehendak Tuhan atas kita! Kita harus terus bertumbuh dari satu level iman ke level iman yang berikutnya (Roma 1:17, Galatia 2:19-20, 1 Yohanes 5:4). Dalam menjalani kehidupan ini, kita terus membutuhkan penyingkapan firman yang progresif agar dapat kita bangun menjadi dasar keyakinan. Sebab semakin tidak menentu kehidupan di depan, semakin kita membutuhkan firman-Nya. Wahyu 1:17-18 (TB) Ketika aku melihat Dia, tersungkurlah aku di depan kaki-Nya sama seperti orang yang mati; tetapi Ia meletakkan tangan kanan-Nya di atasku, lalu berkata: "Jangan takut! Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir, dan Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut. Ayat firman di atas merupakan pernyataan dari keberadaan Kristus yang sudah dipermuliakan di sebelah kanan Bapa. Dasar keyakinan kita haruslah dibangun di atas dasar penyingkapan pewahyuan tentang keberadaan Kristus (Matius 16: 15-19, 1 Korintus 3:10-15). Ketika kita menerima pengertian-pengertian yang berasal dari penyingkapan Roh Kudus, artinya kita memiliki material yang bersifat ilahi (emas, perak dan batu permata). Tetapi jika kita 'menangkap' pengertian-pengertian yang sifatnya manusiawi, artinya kita sedang membangun dasar keyakinan kita dari material yang juga manusiawi atau lahiriah (kayu, rumput kering dan jerami). Faktor pembeda yang membedakan seseorang akan menerima pengertian-pengertian yang bersifat ilahi dengan yang manusiawi adalah ditentukan oleh nature atau keberadaan dan kecenderungan hati yang ia miliki (1 Korintus 3:1-3). Diperlukan tindakan bertekun untuk 'merendam diri' di dalam firman yang sedang datang tersebut dengan hati yang memang haus dan lapar akan kebenaran-Nya. Perhatikan tulisan di dalam injil Matius 13, pembeda antara tanah hati pinggir jalan dengan tanah hati yang baik adalah kesediaan dari orang yang bersangkutan untuk menyatukan pikirannya dengan suara Tuhan yang sedang datang kepadanya. Pastikan kita memiliki hati yang memang haus dan lapar akan kebenaran-Nya sehingga kondisi hati kita tersebut akan mengaktivasi bekerjanya roh hikmat dan wahyu dalam hidup kita. Mengkondisikan diri kita untuk dapat mengenal Dia dengan benar, sehingga akan terlahir banyak pengertian yang bersifat ilahi (material yang berasal dari emas, perak dan batu permata). Dan itulah yang harus kita bangun menjadi dasar keyakinan dalam hidup kita! Ps. Steven Agustinus __ Jika hidupmu dibangun oleh renungan ini—sebarkan! Satu broadcast bisa menyelamatkan arah hidup seseorang. Gabung hari ini dan jadilah corong suara-Nya. 📎 https://wa.link/rf63zf
148
19
Tuhan menghendaki agar diri kita sebagai orang percaya lebih mempercayai firman, dipengaruhi dan bergantung hanya pada janji-janji Tuhan yang besar dan ajaib - bukan dipengaruhi oleh setiap data dan fakta lahiriah yang dipaparkan dunia ini. Jika berbagai fakta dan data lahiriah lebih dipercayai dibanding mempercayai firman Tuhan, artinya paradigma yang dimiliki orang yang bersangkutan masih tercetak oleh bentukan pola dan sistem dunia ini. Inilah kondisi yang diinginkan musuh yang selalu bertujuan untuk menekan dan mematikan kehidupan ilahi yang telah dianugerahkan Tuhan dalam hidup setiap orang percaya. Tuhan menghendaki bahwa kesadaran akan realita Tuhan dalam hidup setiap orang percaya akan terus bertambah kuat dan nyata dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sehingga semua fakta dan data lahiriah akan dapat ditelan oleh manifestasi kuasa firman yang membangkitkan iman, pengharapan dan kasih. Jiwa ataupun batin kita pun akan selalu dilingkupi oleh ketenangan dan kedamaian. Ada damai sejahtera dan sukacita yang terus mengalir dan meluap, serta perasaan aman dan terkendali. Sebab kita dapat terus melihat perbuatan - perbuatan tangan-Nya yang penuh kasih setia selalu melindungi dan memelihara kehidupan setiap kita yang terhubung dan bergantung pada realita keberadaan Tuhan dan firman-Nya. Hanya dengan terus mengalami kesadaran akan realita Tuhan yang semakin bertumbuh kuat dari waktu ke waktu, maka unsur-unsur dalam keberadaan kita sebagai manusia, yaitu unsur roh, mentalitas, perasaan dan tubuh lahiriah dapat selalu terjaga dan terpelihara dari berbagai serangan musuh yang selalu datang dalam bentuk tipu daya dan suara yang mengintimidasi. Dengarlah gereja Tuhan, buka telinga rohanimu untuk mendengar suara Tuhan yang datang: “Firman-Ku adalah tetap dan terus berkuasa untuk selama-lamanya. Hiduplah hanya dari firman-Ku. Teruslah berpegang hanya pada janji-janji-Ku. Tidak peduli dengan berbagai situasi dan kondisi yang dunia nyatakan, tapi engkau teruslah mempercayai firman-Ku dan melihat realita-Ku lebih daripada data dan fakta lahiriah yang ada. Dengan demikian, realita-Ku itu akan menyertai engkau untuk selama-lamanya, membedakan dan mengistimewakan hidupmu dari antara sekalian bangsa. Bukan lagi suara yang menghadirkan ketakutan, kekhawatiran atau intimidasi yang engkau dengar, tapi suara yang telah Kulepaskan dari ruang tahta-Ku, hanya firman-Ku. Itulah yang harus engkau dengar, maka engkau akan melihat sayap rajawali (pekerjaan firman dan Roh) yang membawa engkau terbang dan keluar dari lingkupan awan gelap dan badai yang ada. Sebab untuk gereja dan umat-Ku, Aku memberikan posisi rohani yang selalu berkemenangan dan mengatasi berbagai masalah dan tantangan. Aku mencurahkan roh kebangkitan, yaitu roh yang berkemenangan bagimu, karena engkau telah ditetapkan menjadi umat yang lebih dari pemenang, maut telah ditelan dalam kemenangan!” Ps. Steven Agustinus __ Jika hidupmu dibangun oleh renungan ini—sebarkan! Satu broadcast bisa menyelamatkan arah hidup seseorang. Gabung hari ini dan jadilah corong suara-Nya. 📎 https://wa.link/rf63zf
152
20
Tari-tarian, sorak-sorai dan melompat di dalam Tuhan adalah sebuah senjata rohani yang Tuhan sediakan bagi umat-Nya, sebab kehidupan sehari-hari yang kita jalani sesungguhnya adalah sebuah peperangan rohani. Dengan segala macam cara musuh akan terus berupaya mencuri sukacita dan damai sejahtera dari hidup orang-orang percaya. Entah dengan memanfaatkan hari yang jahat, masa yang sukar, anak panah si jahat, sistem dunia yang jahat ini ataupun orang-orang fasik. Sesungguhnya kehidupan sehari-hari yang penuh sukacita dan sorak-sorai merupakan hak dari setiap umat pilihan Tuhan! Dan itulah yang terus dicuri atau dirampok oleh Musuh dari kehidupan orang percaya. Jadi, tidaklah pada tempatnya untuk umat Tuhan kehilangan sukacita atau roh yang berkemenangan dalam hidupnya - jangan pernah menganggap hal tersebut menjadi sesuatu yang normal! Di saat Musuh mencuri damai atau sukacita dari hidup kita, segeralah mengambil tindakan untuk mempergunakan senjata rohani yang Tuhan sediakan: Sorak sorai dan tari-tarian—segera lakukan tindakan iman dan mulailah menari-nari serta bersorak sorai! Terus lakukan hingga kita kembali merasakan aliran air hidup dalam diri kita meluap dan memenuhi batin kita. Jangan segera berhenti, teruslah 'merendam diri' dalam gelora sukacita dan tari-tarian hingga seluruh batin kita sepenuhnya dipulihkan—He restores my soul! Nikmati dan jalani kehidupanmu sebagai umat pilihan yang memang sudah ditetapkan untuk selalu dilingkupi roh sukacita, roh terobosan dan roh yang berkemenangan dalam segala hal! Ps. Steven Agustinus __ Jika hidupmu dibangun oleh renungan ini—sebarkan! Satu broadcast bisa menyelamatkan arah hidup seseorang. Gabung hari ini dan jadilah corong suara-Nya. 📎 https://wa.link/rf63zf
172