uk
Feedback
manhajulhaq

manhajulhaq

Відкрити в Telegram

"Kembali kepada Manhaj dan Akidah Salaf" Pengampu Channel : Ust. Fikri Abul Hasan, حفظه الله Alumni Ma'had Ihya' As-Sunnah Yogyakarta Tegur dan Sapa : +6289605546952

Показати більше

📈 Аналітичний огляд Telegram-каналу manhajulhaq

Канал manhajulhaq (@manhajulhaq) у мовному сегменті Індонезійська є активним учасником. На даний момент спільнота об'єднує 10 805 підписників, посідаючи 8 469 місце в категорії Релігія і духовність та 6 561 місце у регіоні Індонезія.

📊 Показники аудиторії та динаміка

З моменту свого створення невідомо, проект продемонстрував стрімке зростання, зібравши аудиторію у 10 805 підписників.

За останніми даними від 30 липня, 2026, канал демонструє стабільну активність. Хоча за останні 30 днів спостерігається зміна кількості учасників на -95, а за останні 24 години на -5, загальне охоплення залишається високим.

  • Статус верифікації: Не верифікований
  • Рівень залученості (ER): Середній показник залученості аудиторії становить 7.90%. Протягом перших 24 годин після публікації контент зазвичай збирає 2.99% реакцій від загальної кількості підписників.
  • Охоплення публікацій: В середньому кожен допис отримує 854 переглядів. Протягом першої доби публікація в середньому набирає 323 переглядів.
  • Реакції та взаємодія: Аудиторія активно підтримує контент: середня кількість реакцій на один пост – 6.
  • Тематичні інтереси: Контент зосереджений навколо ключових тем, таких як syiah, manhajulhaq, iran, al, ilmu.

📝 Опис та контентна політика

Автор описує ресурс як майданчик для висловлення суб'єктивної думки:
"Kembali kepada Manhaj dan Akidah Salaf" Pengampu Channel : Ust. Fikri Abul Hasan, حفظه الله Alumni Ma'had Ihya' As-Sunnah Yogyakarta Tegur dan Sapa : +6289605546952

Завдяки високій частоті оновлень (останні дані отримано 31 липня, 2026), канал підтримує актуальність та високий рівень охоплення публікацій. Аналітика показує, що аудиторія активно взаємодіє з контентом, що робить його важливою точкою впливу в категорії Релігія і духовність.

10 805
Підписники
-524 години
-127 днів
-9530 день
Архів дописів
Taqiyyah Dua Muka Kaum Syiah Di dalam Al-Qur'an, Allah mengizinkan seseorang bertaqiyyah (bersiasat) apabila mendapati ancaman pembunuhan atau kejahatan dari orang kafir demi menyelamatkan diri; sepanjang batinnya tidak membenarkan perbuatannya. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلَّا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً "Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka." (QS. Ali-Imran: 28) Shahabat Abud Darda' radhiyallahu 'anhu berkata, "Sungguh kami (para shahabat) benar-benar tersenyum di hadapan wajah suatu kaum (musyrikin), sementara batin kami melaknat mereka." ~Hilyatul Awliya' (1/222) Jauh berbeda dengan taqiyyah ala Syiah Rafidhah yang menghalalkan dusta dan halus bersandiwara kalau berinteraksi dengan Ahlussunnah. Al-Imam Asy-Syafiirahimahullah (204 H) berkata, لم أر أحدا من أصحاب الأهواء أكذب في الدعوى ولا أشهد بالزور من الرافضة “Tidaklah aku melihat seorangpun dari pengekor hawa nafsu yang paling dusta dalam pengakuan serta paling palsu dalam persaksian melebihi Syiah Rafidhah.” ~Riwayat Ibnu Batthah "Al-Ibanatul Kubra" (2/545) Al-Imam Al-Lalaka’i "Syarh Ushul I’tiqad Ahlissunnah" (8/457) Menurut keyakinan mereka, menghalalkan dusta dengan bertaqiyyah itu hukumnya wajib sampai Imam Mahdi versi mereka keluar dari gua persembunyiannya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyahrahimahullah berkata, "Orang-orang Syiah Rafidhah menjadikan taqiyyah sebagai pokok agamanya. Mereka berdusta atas nama keluarga Nabi dengan kedustaan yang tidak dapat dihitung kecuali oleh Allah. Mereka berdusta atas nama Ja'far Ash-Shadiq, "Taqiyyah adalah agamaku dan agama leluhurku!" Dan sungguh taqiyyah mereka ini syiar kemunafikan." ~Majmu' Fatawa (13/263) |  Saluran manhajulhaq

photo content

Arab Sendiri Meninggalkan Tradisi Leluhur Islamophobia dari kalangan musyrikin di masa silam; di antara agenda utama mereka, membujuk orang-orang Arab agar kembali kepada tradisi dan budaya leluhur. Kembali menyembah batu, kembali merendah di hadapan berhala, hidup dalam kebodohan, memakan bangkai binatang, menghalalkan perbuatan keji. Lebih dari itu, mereka sewenang-wenang menindas, menganiaya, mempersempit ruang gerak orang yang berbeda pandangan sampai akhirnya kaum muslimin hijrah ke negeri Habasyah (Ethiopia) demi menyelamatkan diri dan dapat suaka. Ja'far bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu selaku juru bicara kaum muslimin saat itu menyampaikan kepada Raja Habasyah (An-Najasyi), "Wahai baginda Raja! Dulunya kami hidup dalam kebodohan (jahiliah), menyembah berhala, makan bangkai, menghalalkan perbuatan keji, memutus silatutahmi, suka mengganggu tetangga, orang yang kuat di antara kami menindas orang-orang yang lemah. Begitulah kondisi kami ketika itu. Hingga kemudian Allah mengutus di tengah-tengah kami seorang Rasul dari bangsa kami yang kami kenal latar belakangnya, silsilahnya, kejujurannya, amanahnya, serta kesucian dirinya. Lalu dia mengajak kami untuk mentauhidkan Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun. Sehingga kami tidak lagi menyembah batu dan berhala yang dulu disembah oleh leluhur kami. Dan beliau memerintahkan kami agar berlaku jujur, amanah, menyambung tali silaturahmi, berbuat baik dengan tetangga, dan menghindari pertumpahan darah. Beliau juga melarang kami dari melakukan perbuatan keji, berdusta, makan harta anak yatim, serta melarang kami menuduh wanita yang suci melakukan zina tanpa bukti. Beliau juga memerintahkan kami shalat, membayar zakat, puasa lalu kami benarkan semua itu dan beriman kepadanya sebagai utusan Allah.." Dialog antara Ja'far bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu dengan Raja Najasyi berlangsung hangat hingga Ja'far membacakan permulaan surat Maryam dan menjelaskan siapa sosok Nabi Isa bin Maryam. Sang Raja pun terharu berlinang air mata seraya berkata, "Sesungguhnya ini dan apa yang dibawa oleh Isa bersumber dari satu lentera." Dari sini bisa kita lihat, orang-orang Arab sendiri tidak bersikeras mempertahankan tradisi leluhur mereka. Karena mereka sadar betul itu yang menghambat mereka dari kemajuan berpikir. Jelas-jelas lebih banyak mudharatnya. Adapun tradisi yang bermaslahat dan tidak bersinggungan dengan akidah dan syariat, maka Islam tidak mencegahnya dan tidak pula melarangnya. Artinya gak semua dari tradisi budaya itu ditolak dan gak semuanya juga diterima. | Saluran manhajulhaq

Sebagian ulama berkata, berlaku "sombong" kepada orang yang sombong bisa tergolong sedekah. Karena jika engkau merendah kepada orang yang sombong, itu akan menjadikan dirinya terus-menerus di atas kebatilan. | Saluran manhajulhaq

"Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya." ~HR. At-Tirmidzi (1162). Akidah dan akhlak punya hubungan harmonis. Kalau akhlak sama orang tua, anak, istri, kawan masih problematik, sama utang masih sering mangkir; itu tanda ada yang gak beres sama manhaj akidahnya. | Saluran manhajulhaq

photo content

Allah mengaruniakan pendengaran, penglihatan, hati, akal pikiran supaya kita syukuri sebagai sarana menuntut ilmu, mengangkat kebodohan dari dalam diri, dan selamat dari sikap ikut-ikutan dalam segala hal. "Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai ilmu tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya." (QS. Al-Isra': 36) | Saluran manhajulhaq

photo content

photo content

Kajian Online Akidah Tauhid Khusus Muslimah "Hebat Tapi Musyrik (?)" Narasumber : Ustadz Fikri Abul Hasan, waffaqahullah Hari & Waktu : Selasa, 28 Juli 2026 Pkl. 10.00 WIB Link Zoom : https://us06web.zoom.us/j/88364857160?pwd=KTr3mYuVtbOMsHzn27tS0n7KNRwirv.1 ID rapat : 883 6485 7160 Kode Sandi: 3 Semoga jadi ilmu bermanfaat & amal yang saleh!

Pola-Pola Islamophobia Menghadang Kebenaran di Era Digital Ada beberapa pola islamophobia yang dilancarkan kaum musyrikin Quraisy di zaman Nabi ﷺ demi menghadang dakwah Islam, 1/. Mengolok, Menyindir, Mendustakan, Menertawakan Target mereka melemahkan semangat juang kaum muslimin dan membuat kapok. Tatkala Rasulullah ﷺ sedang duduk-duduk bersama para shahabatnya dari kalangan mustadh'afun (orang-orang lemah); mereka mengejek outfit dan menyinggung kefakiran seraya berkata, أَهَٰٓؤُلَآءِ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَيْهِم مِّنۢ بَيْنِنَآ "Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah Allah kepada mereka?" Kontan Allah membantah ucapan norak mereka, أَلَيْسَ ٱللَّهُ بِأَعْلَمَ بِٱلشَّٰكِرِينَ "Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepada-Nya)?." (QS. Al-An'am: 53) 2/. Stigma Negatif Mereka menebar syubhat, hoax, tuduhan dusta, dan membikin statemen-statemen yang membuat orang awam geger tentang ajaran yang beliau bawa, diri dan pribadi beliau serta membesar-besarkannya. Di antara statemen mereka, selalu berkata tentang Al-Qur'an sebagai dongengan belaka. Asâthirul Awwalîn (dongengan orang-orang terdahulu). Padahal Al-Qur'an adalah kalamullah. Bukan khurafat, takhayyul, bukan pula produk subyektivitas dan budaya manusia. Al-Qur'an wahyu yang Allah turunkan kepada Nabi-Nya ﷺ. Sebagaimana Allah menurunkan wahyu kepada para nabi-nabi sebelumnya. 3/. Menghalang-halangi Manusia Agar Tidak Mendengar Kebenaran Jika Rasulullah ﷺ sedang menjelaskan tentang kebenaran, mengingatkan tentang Allah dan hari pembalasan; mereka menimpali setelahnya dengan cerita-cerita tokoh Persia seperti Rustum dan Asvandiar; agar orang-orang tidak tertarik kepada Islam. Mereka juga memperalat budak perempuan dengan menghidangkan makanan dan bersenandung dengan nyanyian kepada orang-orang awam. Seraya berkata, "Inilah yang lebih baik dari apa yang diserukan Muhammad kepada kalian." Maka turunlah ayat, وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَشْتَرِى لَهْوَ ٱلْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌ "Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan kata-kata yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa menyadari (dampaknya) dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan." (QS. Luqman: 6) Pola-pola semacam inilah yang dijiplak buzzer-buzzer receh di era sosmed sekarang. Namun, Allah menghendaki siapa yang pantas dapat petunjuk di antara hamba-Nya. | Saluran manhajulhaq

Tradisi masyarakat jahiliah dahulu fanatismenya karena kesukuan. Rasulullah ﷺ mengingatkan, "Bukan golongan kami orang yang menyerukan fanatisme kelompok". Di era modern sekarang, cinta dan benci, benar salah, like dislike, karena partai, karena ormas, komunitas, individu. Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata, "Orang yang fanatik meski bisa melihat dan mendengar, sejatinya ia tuli dan buta." ~Fat-hul Qadir (3/88) |  Saluran manhajulhaq

Islam ketika turun di Arab yang kali pertama dikritik adalah budaya masyarakat Arab. Yang baik dilestarikan. Yang buruk, keji dan hina ditinggalkan. Begitu pula ketika Islam melebar ke wilayah Persia, Romawi, sampai ke Nusantara. Gak semuanya diterima dan gak semuanya ditolak. | Saluran manhajulhaq

Ibnul Mubârak rahimahullah belajar ilmu 20 tahun, belajar adab 30 tahun. Zaman sekarang, orang baru belajar kulitnya, minus adab pula. Semoga Allah karuniakan kita ilmu yang bermanfaat. | Saluran manhajulhaq

Kajian Dasar-Dasar Akidah Seorang Muslim "Membela Kehormatan Muhajirin dan Anshar" Ust. Fikri Abul Hasan, hafidzhahullah. Sabtu Pagi 25 Juli 2026 Pkl. 08.00-09.15 WIB. https://telkomsel.zoom.us/j/99474829836?pwd=U2RxdFppTzNudktEaDdFbG9SZ3oydz09 Meeting ID: 994 7482 9836 Passcode: 360316

Hidupnya Ilmu dengan Mudzâkarah Salah satu tradisi para ulama salaf dalam mematangkan keilmuan dan menajamkan pemahaman adalah mudzâkarah. Disebutkan dalam sebuah syair, فحياة العلم مذاكرته "Hidupnya ilmu dengan mudzakarah (kembali mengingatnya)." Syaikh Al-'Allamah Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan ada dua model mudzâkarah, Pertama, mudzâkarah sendiri (مذاكرة مع النفس) Yaitu engkau duduk sendirian mengingat kembali kajian ilmu yang sudah dipelajari. Kemudian menganalisis pendapat-pendapat para ulama dan menimbang mana lebih kuat. Kedua, mudzâkarah bersama orang lain (مذاكرة مع الغير) Yaitu engkau bersama salah seorang penuntut ilmu untuk membantumu menelaah ilmu dan memahaminya bersama-sama, saling menyetorkan hafalan, sehingga menguatkan daya ingat, terasah pemahaman dan bertambah faedah ilmunya. ~Kitabul 'Ilmi (hlm. 165) Dengan tradisi mudzâkarah ini Imam Ahmad bin Hanbal menghafal satu juta hadits (dengan pengulangan) lengkap bersama sanadnya. Imam Abu Zur'ah Ar-Razi menghafal tiga ratus ribu hadits (dengan pengulangan) seperti menghafal surat Al-Ikhlash. Imam Syu'bah bin Al-Hajjaj, Imam Sufyan Ats-Tsawri dan Imam Al-Bukhari dijuluki "Amirul Mukminin fil Hadits". Imam Malik bin Anas dijuluki "Imam Daril Hijrah". Imam Asy-Syafii meraup ratusan faedah hanya dari sebuah hadits. Demikian pula Imam Abu Hanifah serta para ulama yang lain, rahimahumullah. |  Saluran manhajulhaq