Studi Islam
Открыть в Telegram
430
Подписчики
Нет данных24 часа
-37 дней
-430 дней
Загрузка данных...
Похожие каналы
Нет данных
Возникли проблемы? Пожалуйста, обновите страницу или обратитесь к нашему support-менеджеру .
Облако тегов
Входящие и исходящие упоминания
---
---
---
---
---
---
Привлечение подписчиков
сентябрь '26
сентябрь '260
в 0 каналах
август '26
+1
в 0 каналах
Get PRO
июль '26
+3
в 0 каналах
Get PRO
июнь '260
в 0 каналах
Get PRO
май '26
+1
в 0 каналах
Get PRO
апрель '26
+2
в 0 каналах
Get PRO
март '26
+1
в 0 каналах
Get PRO
февраль '260
в 0 каналах
Get PRO
январь '26
+1
в 0 каналах
Get PRO
декабрь '250
в 0 каналах
Get PRO
ноябрь '250
в 0 каналах
Get PRO
октябрь '250
в 0 каналах
Get PRO
сентябрь '250
в 0 каналах
Get PRO
август '250
в 0 каналах
Get PRO
июль '250
в 0 каналах
Get PRO
июнь '250
в 0 каналах
Get PRO
май '250
в 0 каналах
Get PRO
апрель '250
в 0 каналах
Get PRO
март '250
в 0 каналах
Get PRO
февраль '25
+1
в 0 каналах
Get PRO
январь '25
+1
в 0 каналах
Get PRO
декабрь '24
+1
в 0 каналах
Get PRO
ноябрь '24
+2
в 0 каналах
Get PRO
октябрь '240
в 0 каналах
Get PRO
сентябрь '24
+4
в 0 каналах
Get PRO
август '24
+2
в 0 каналах
Get PRO
июль '24
+8
в 0 каналах
Get PRO
июнь '24
+2
в 0 каналах
Get PRO
май '24
+5
в 0 каналах
Get PRO
апрель '24
+4
в 0 каналах
Get PRO
март '24
+5
в 0 каналах
Get PRO
февраль '24
+6
в 0 каналах
Get PRO
январь '24
+12
в 0 каналах
Get PRO
декабрь '23
+5
в 0 каналах
Get PRO
ноябрь '23
+5
в 0 каналах
Get PRO
октябрь '23
+3
в 0 каналах
Get PRO
сентябрь '23
+5
в 0 каналах
Get PRO
август '23
+11
в 0 каналах
Get PRO
июль '23
+5
в 0 каналах
Get PRO
июнь '23
+4
в 0 каналах
Get PRO
май '23
+6
в 0 каналах
Get PRO
апрель '23
+3
в 0 каналах
Get PRO
март '23
+12
в 0 каналах
Get PRO
февраль '23
+6
в 0 каналах
Get PRO
январь '23
+7
в 0 каналах
Get PRO
декабрь '22
+9
в 0 каналах
Get PRO
ноябрь '22
+2
в 0 каналах
Get PRO
октябрь '22
+8
в 0 каналах
Get PRO
сентябрь '22
+13
в 0 каналах
Get PRO
август '22
+14
в 0 каналах
Get PRO
июль '22
+4
в 0 каналах
Get PRO
июнь '22
+7
в 0 каналах
Get PRO
май '22
+10
в 0 каналах
Get PRO
апрель '22
+6
в 0 каналах
Get PRO
март '22
+7
в 0 каналах
Get PRO
февраль '22
+2
в 0 каналах
Get PRO
январь '22
+16
в 0 каналах
Get PRO
декабрь '21
+16
в 0 каналах
Get PRO
ноябрь '21
+14
в 0 каналах
Get PRO
октябрь '21
+17
в 0 каналах
Get PRO
сентябрь '21
+23
в 0 каналах
Get PRO
август '21
+13
в 0 каналах
Get PRO
июль '21
+17
в 0 каналах
Get PRO
июнь '21
+12
в 0 каналах
Get PRO
май '21
+41
в 0 каналах
Get PRO
апрель '21
+8
в 0 каналах
Get PRO
март '21
+5
в 0 каналах
Get PRO
февраль '21
+8
в 0 каналах
Get PRO
январь '210
в 0 каналах
Get PRO
декабрь '20
+460
в 0 каналах
| Дата | Привлечение подписчиков | Упоминания | Каналы | |
| 02 сентября | 0 | |||
| 01 сентября | 0 |
Посты канала
| 2 | Нет текста... | 1 |
| 3 | Ketiga, Strategi Negara dan Individu. Dapat berupa: (1) Latihan siber komprehensif, yakni simulasi penuh yang melibatkan seluruh lembaga pemerintahan untuk mengungkap celah sekaligus melatih para pemimpin menghadapi darurat digital. (2) Rencana keberlangsungan sektor kritis, yakni setiap bidang harus memiliki skenario cadangan yang diuji setiap tahun, termasuk kemungkinan kehilangan sistem sepenuhnya dan beralih ke operasi manual serta jalur komunikasi alternatif. (3) Cadangan teknologi dari berbagai sumber, yakni tidak bergantungnya teknologi pada satu penyedia atau satu negara. Diversifikasi sumber teknologi menjadi syarat mutlak menghindari kerentanan strategis. (4) Protokol respons lokal yang siap pakai, yakni keputusan dan kewenangan harus jelas sejak awal melalui undang-undang darurat siber. Krisis bukanlah waktu untuk menulis aturan protokol baru. (5) Budaya keamanan masyarakat, yakni kampanye edukasi berkelanjutan, pelatihan pegawai, dan integrasi dasar keamanan siber dalam kurikulum pendidikan. Sehingga kesadaran warga menjadi garis pertahanan pertama.
*Enkripsi Pasca-Komputasi Kuantum*
Ada ancaman mutakhir yang tidak lagi sekadar bersifat siber dalam pengertian tradisional, yaitu munculnya superkomputer kuantum. Ketika teknologi ini matang, akan mampu menembus sebagian besar algoritma enkripsi yang saat ini digunakan melindungi data pemerintahan. Bahayanya bukan hanya di masa depan, melainkan sudah dimulai sekarang melalui strategi lawan: “kumpulkan data sekarang, pecahkan enkripsinya nanti”.
Hari ini, pihak-pihak yang bermusuhan merekam data terenkripsi yang bocor lewat kabel bawah laut dan satelit, lalu menyimpannya hingga tiba saat enkripsi itu bisa dipecahkan oleh perangkat kuantum di masa mendatang. Karena itu, diperlukan langkah segera yang mencakup: (1) Inventarisasi menyeluruh algoritma enkripsi yang digunakan dalam sistem pemerintahan kritis. (2) Klasifikasi data berdasarkan “usia kedaulatan”, yakni berapa lama data tersebut tetap sensitif dan layak dilindungi. (3) Transisi bertahap menuju standar enkripsi kuantum, memastikan setiap pengembangan baru sejak awal mendukung ketahanan enkripsi.
*Kesimpulan*
Ancaman nyata masa ini bukanlah runtuhnya sebuah negara secara tiba-tiba, melainkan hilangnya ruang manuver strategis dan terkikisnya kepercayaan publik terhadap institusi di saat kritis. Perbedaan antara negara yang mampu bertahan dan berkembang dengan negara yang tertinggal bukan terletak pada besarnya sumber daya, melainkan pada pola pikir kepemimpinan.
Negara yang memperlakukan keamanan siber dan kecerdasan buatan sekadar sebagai isu teknis yang ditangani kementerian komunikasi atau departemen teknologi informasi akan tertinggal beberapa generasi. Sebaliknya, negara yang menempatkan isu ini sebagai agenda kedaulatan dan dikelola langsung oleh tingkat politik tertinggi akan berada dalam posisi siap dan berpengaruh.
Pintu kesempatan masih terbuka sekarang. Namun, keterlambatan satu tahun dalam bidang ini setara dengan ketertinggalan satu dekade di sektor lain, mengingat laju perkembangan teknologi yang begitu sangat cepat.
Oleh: Abdul Halim al-Haurani
(Sumber: Majalah al-Wa’ie Arab, edisi 482 – Tahun ke 41, Rabi‘ul Awwal 1448 H/ Agustus 2026 M; Alih bahasa: Yan S. Prasetiadi) | 4 |
| 4 | Dengan evolusi serangan berbasis AI, ancaman bisa lebih ekstrem: radar dapat dikacaukan sehingga mengklasifikasikan kawan sebagai lawan, atau sebaliknya.
*Apakah Negara Bisa Runtuh?*
Jawabannya bergantung pada jenis keruntuhan yang dimaksud:
Pertama, keruntuhan total dan mendadak: Kemungkinannya rendah. Karena negara modern memiliki banyak jalur cadangan yang mencegah jatuhnya seluruh sektor vital sekaligus. Militer beroperasi dengan jaringan terpisah, sementara infrastruktur vital masih memiliki sistem kendali manual.
Kedua, kelumpuhan bertahap dan berlapis: Kemungkinannya jauh lebih tinggi. Serangan terkoordinasi yang menghantam tiga atau empat sektor vital secara berurutan dalam hitungan hari, ditambah kampanye disinformasi, dapat membawa negara ke titik kehilangan kendali nyata.
Perbedaan keruntuhan yang pertama dan yang kedua, seperti antara ledakan dahsyat dan kebakaran senyap yang menggerogoti. Negara bisa bangkit dari gempa bumi fisik dalam hitungan bulan, tetapi gempa kepercayaan di ranah siber bisa membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dipulihkan.
*Tembok Pertahanan Tiga Lapis*
Pertahanan yang efektif tidak lahir dari langkah-langkah terpisah, melainkan dari sistem terpadu yang berdiri di atas tiga fondasi utama:
(1) Governansi dan Regulasi (Organisasi). Negara perlu membentuk badan keamanan siber dan kecerdasan buatan dengan otoritas independen, dilengkapi komando siber yang terhubung langsung dengan kepemimpinan tertinggi negara. Tugasnya menetapkan aturan dan pedoman resmi bagi sektor-sektor vital, sehingga tercipta standar minimum keamanan yang tak bisa ditawar.
(2) Kapabilitas Teknis Berdaulat (Mesin). Kedaulatan berarti kendali penuh atas titik-titik kritis. Hal ini diwujudkan dengan membangun infrastruktur cloud nasional untuk menyimpan dan mengolah data pemerintahan yang sensitif, mendirikan pusat komputasi khusus, serta mengembangkan model kecerdasan buatan inti yang dilatih dengan data lokal yang bersifat kedaulatan.
(3) Modal Manusia (SDM). Teknologi tanpa tim kerja hanyalah wadah kosong. Sebuah rencana yang berhasil selalu menempatkan manusia terbaik di garis depan. Negara perlu menyiapkan tim ahli dengan keterampilan tinggi dan mendirikan pusat riset yang mampu melahirkan “pasukan” tenaga profesional dari berbagai bidang—mulai dari intelijen, teknik, psikologi, ekonomi, hingga ilmu politik. Dengan kekuatan lintas disiplin ini, terbentuklah sistem pertahanan sekaligus serangan yang terpadu dan siap menghadapi ancaman kompleks.
*Sistem Pertahanan dan Protokol Kedaulatan*
Gagasan tentang AI Defense Force (tentara pertahanan kecerdasan buatan) lahir dari kenyataan bahwa serangan siber berlangsung secepat kilat. Tidak mungkin otak manusia yang bekerja di balik layar mampu menahan gempuran itu sendirian. Yang dibutuhkan adalah sistem pertahanan otomatis yang bisa merespons dalam hitungan detik. Kerangka ini terbagi ke dalam tiga pilar utama:
Pertama, Sistem Digital Cerdas. Terdiri dari: (1) Pusat operasi pintar, yakni ruang kendali yang menyaring ribuan peringatan sepele, menyelesaikan masalah sederhana secara otomatis, dan hanya menyerahkan keputusan besar kepada manusia. (2) Pemburu proaktif, yakni agen digital yang menelusuri sistem untuk mendeteksi jejak penyusup sebelum mereka menyerang. Pencegahan selalu lebih murah daripada perbaikan. (3) Tim uji serangan etis, yakni peretas dan perangkat lunak yang secara rutin menyerang sistem negara untuk menemukan celah dan menutupnya sebelum dimanfaatkan musuh.
Kedua, Kedaulatan Digital dan Perlindungan Konten. Berupa: (1) Cap digital, yakni tanda otentikasi tak kasat mata pada data resmi, melindungi masyarakat dari kabut informasi dan hoaks. Setiap pernyataan tanpa cap dianggap palsu. (2) Kemandirian teknologi, yakni pembangunan kecerdasan buatan lokal yang memahami budaya sendiri dan menjaga kerahasiaan data negara, tanpa bergantung pada perusahaan asing yang berisiko membocorkan informasi. | 4 |
| 5 | (1) Penyuntikan Informasi Palsu (Data Poisoning): Penyerang sengaja memasukkan data menyesatkan pada tahap pelatihan, sehingga sistem menyerap logika yang cacat tanpa disadari siapapun. Contoh: sebuah sistem audit kontrak konstruksi dilatih secara tersembunyi untuk mengabaikan klausul denda keterlambatan pada kontrak tertentu.
(2) Serangan dengan Input Terselubung (Adversarial Attacks): Setelah sistem selesai dilatih, penyerang menyajikan masukan yang dimodifikasi secara cermat untuk menipu model. Misalnya, sedikit perubahan pada file virus agar terbaca sebagai dokumen teks biasa oleh sistem keamanan, atau modifikasi halus pada gambar yang membuat sistem pengenal wajah gagal mengenali identitas.
(3) Pencurian Rahasia Sistem (Model Extraction): Penyerang berusaha mengambil data sensitif atau bahkan mencuri algoritma inti. Jika sistem dilatih dengan rahasia dagang sebuah perusahaan, serangan cerdas dapat memancing model untuk mengungkap informasi tersebut melalui serangkaian pertanyaan yang dirancang khusus.
*Skenario Serangan Siber*
Tidak semua sistem memiliki nilai yang sama; infrastruktur nasional yang sensitif adalah prioritas utama dalam perlindungan. Empat skenario nyata berikut menggambarkan bagaimana kecerdasan buatan dapat mengubah wajah ancaman:
Skenario Pertama: Runtuhnya Jaringan Listrik dan Energi. Serangan terkoordinasi berbasis AI terhadap sejumlah gardu induk sekaligus dengan memanfaatkan celah pada sistem kendali industri. Dalam hitungan menit, gangguan berantai terjadi; dalam beberapa jam, negara terjerumus dalam pemadaman total. Baterai cadangan di rumah sakit dan pusat data pun habis. Bencana bukan sekadar gelap gulita, melainkan kelumpuhan total: komunikasi, perbankan, dan sistem pembayaran elektronik berhenti seketika. Dalam versi yang diperkuat AI, ini bukan lagi “titik melawan titik” seperti di Ukraina tahun 2015, melainkan “algoritma melawan algoritma” yang mengoordinasikan serangan multipoint dan menyesuaikan diri dengan pertahanan secara real-time.
Skenario Kedua: Lumpuhnya Sistem Perbankan dan Keuangan. Serangan berlapis dimulai dengan panggilan palsu berbasis deepfake dari seorang pejabat keuangan senior, bersamaan dengan serangan ransomware yang melumpuhkan sistem kliring bank. Dalam beberapa jam, pembayaran instan berhenti; sehari kemudian, antrean panjang terbentuk di ATM untuk penarikan massal, sementara akun otomatis menyebarkan rumor yang mengguncang kepercayaan terhadap mata uang nasional. Kasus ini mengingatkan pada serangan ransomware di Kosta Rika tahun 2022 yang melumpuhkan institusi negara hingga memaksa deklarasi darurat. Namun dengan AI, ancaman bergeser dari sekadar kelumpuhan operasional menjadi krisis kedaulatan moneter penuh.
Skenario Ketiga: Erosi Kepercayaan Sosial dan Ruang Informasi. Ini adalah skenario paling berbahaya karena tidak membutuhkan peretasan teknis, melainkan memanfaatkan sifat terbuka internet. AI menciptakan ribuan akun otomatis yang terkoordinasi, menyebarkan cuplikan video palsu berkualitas tinggi tentang pejabat, serta artikel yang meniru gaya media arus utama. Tujuannya bukan meyakinkan semua orang, melainkan menanamkan keraguan massal sehingga warga kehilangan kemampuan membedakan antara fakta dan rekayasa. Kondisi ini melumpuhkan kapasitas negara mengelola krisis; Akibatnya, setiap pernyataan resmi negara langsung dicurigai. Para peneliti menyebut fenomena ini sebagai The Liar’s Dividend (keuntungan strategis yang diperoleh pembohong ketika masyarakat hidup dalam iklim keraguan total) dan kemungkinan terjadinya dinilai paling tinggi.
Skenario Keempat: Pengambilalihan Sistem Persenjataan dan Pertahanan. Dengan meluasnya penggunaan drone dan sistem otonom, muncul ancaman terhadap kendali senjata: serangan bisa menonaktifkan armada drone atau bahkan mengarahkannya menyerang pemiliknya sendiri. Hal ini dapat dilakukan melalui infiltrasi rantai pasok perangkat lunak atau data poisoning pada sistem identifikasi target. Beberapa medan perang telah mencatat insiden gangguan navigasi yang membuat drone berbalik menyerang pasukan sendiri. | 3 |
| 6 | *Kecerdasan Buatan dan Kedaulatan Keamanan Siber*
Artikel ini ditulis dengan kesadaran penuh bahwa sebagian besar tulisannya akan segera kehilangan kekinian dalam waktu singkat; sebab laju perubahan di bidang ini melampaui kemampuan kita mendokumentasikannya. Persoalan kecerdasan buatan tidak lagi berhenti pada ranah penelitian akademik, lebih jauh lagi telah masuk pada ranah perang siber dan meresap dalam detail kehidupan sehari-hari. Negara yang terlambat hari ini membangun pertahanannya tidak hanya kehilangan satu atau dua sistem, tetapi akan kehilangan seluruh ruang gerak strategisnya, di momen krusial ketika kedaulatan negara benar-benar dipertaruhkan. Dan meskipun persiapan menghadapi hal ini membutuhkan anggaran yang besar, penyesalan karena tidak bersiap akan jauh lebih mahal dan lebih berat ditanggung dampaknya setelah kejadian.
*Perubahan Doktrin Serangan*
Ada kekeliruan yang cukup umum dalam membedakan ragam kecerdasan buatan, dan hal ini memengaruhi cara kita memahami ancaman yang muncul. Untuk memudahkan agar bisa dimengerti masyarakat luas, perbedaan ragam kecerdasan buatan dapat dijelaskan sebagai berikut:
Pertama, ada yang namanya Kecerdasan Buatan Diskriminatif (Discriminative AI): jenis yang agak kuno dan paling banyak digunakan. Tugas utamanya memilah dan mengklasifikasikan objek. Contohnya mirip filter pada kotak masuk email yang mampu mengenali pesan spam dan secara otomatis memisahkannya.
Kedua, Kecerdasan Buatan Generatif (Generative AI): inilah yang kita lihat pada model modern seperti ChatGPT dll. AI ini mampu berkreasi dan menghasilkan konten baru sepenuhnya berdasarkan data yang telah dilatih sebelumnya.
Sebelum tercipta model generatif, serangan siber membutuhkan tim terorganisasi dan anggaran besar untuk melakukan pengintaian. Hal itu membuat kemampuan ofensif hanya berada di tangan negara-negara besar dan segelintir elit. Namun kini, kecerdasan buatan telah menurunkan biaya operasi serangan secara drastis. Akibatnya, tim kecil atau bahkan individu dengan keterampilan menengah sekalipun dapat menimbulkan kerusakan serius dengan anggaran operasional yang sangat rendah.
*Ragam Serangan Siber*
Berdasarkan fakta hari ini, ada beberapa ragam serangan siber yang berkembang, diantaranya sebagai berikut:
(1) Intelijen Cerdas (Intelligent Reconnaissance atau Automated Reconnaissance): Proses yang dulu membutuhkan waktu berminggu-minggu yang dilakukan agen manusia mengumpulkan informasi dan memetakan target, kini dapat dilakukan agen digital hanya dalam hitungan jam, melampaui kemampuan pertahanan yang ada.
(2) Penciptaan Celah Otomatis (Automated Vulnerability Generation atau Exploitation): Alat kecerdasan buatan yang mampu mencari kelemahan dalam perangkat lunak dan mengubahnya menjadi kode eksploitasi nyata dalam waktu singkat, mendahului kemampuan pihak yang diserang untuk memperbaiki sistemnya.
(3) Phishing Terarah Cerdas (Intelligent Spear Phishing): Era pesan penipuan yang kikuk sudah berakhir; kecerdasan buatan kini mempelajari jejak digital dan gaya komunikasi korban, lalu menyusun pesan khusus yang sulit dikenali bahkan oleh pengguna berpengalaman.
(4) Deepfake (Deepfake Attack): Teknologi ini telah melampaui tahap eksperimen; cukup dengan sampel suara singkat, sistem dapat meniru suara dengan kualitas tinggi dan membuat percakapan audio atau video palsu untuk menipu korban agar melakukan transfer dana besar.
(5) Malware Berkamuflase (Polymorphic Malware): Perangkat lunak berbahaya yang terus mengubah bentuk dan kodenya setiap kali berpindah, sehingga membingungkan sistem deteksi klasik dan memungkinkan virus bertahan dalam sistem tanpa terdeteksi.
*Serangan terhadap Kecerdasan Buatan*
Pada perkembangannya ada hal yang lebih mengerikan, yakni telah terjadi sebuah pergeseran mendasar: target serangan kini bukan lagi sekadar sistem jaringan, melainkan “otak” kecerdasan buatan itu sendiri. Bentuk serangan ini umumnya mengambil tiga pola utama: | 3 |
| 7 | https://www.youtube.com/live/glKBWllvNfc?si=AkhvbtMAKc0mO38n | 15 |
| 8 | BYPASS.. Akses WATCHING 🖥️
https://qudwah.space/watch
https://qudwah.space/watch
https://qudwah.space/watch
*nonton QUDWAH now!!*📺 | 19 |
| 9 | KAJIAN TAFSIR AL-WA'IE | "PELAJARAN PENTING SURAH AN-NAS : BERLINDUNG DARI GODAAN SYAITHAN"
Tafsir QS An Nas: 5-6
💥 BERLINDUNG DARI GODAAN SYAITHAN
Siapa yang tak kenal Surah An-Nas? Surah penutup dalam Al-Qur'an ini bukan sekadar hafalan, melainkan benteng utama seorang muslim dari godaan syaitan yang membisikkan kejahatan ke dalam dada manusia.
> Pelajaran-pelajaran penting dari Surah An-Nas dan bagaimana menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari agar hati kita senantiasa terjaga dari gangguan bisikan jahat.
Yuk, simak pembahasannya sampai selesai! Jangan lupa Like, Comment, dan Subscribe agar tidak ketinggalan konten bermanfaat lainnya.
Mari ikuti Kajian Tafsir Al-Wa'ie bersama:
🎙️ KH. Rokhmat S. Labib
🗓️ Rabu, 19 Agustus 2026
⏰ Pukul 20.00 WIB
🔴 SAKSIKAN :
▶️ YouTube: https://youtu.be/AGok-OwqhwU
▶️ TikTok: https://www.tiktok.com/@rokhmatslabib
✍️ Ajak keluarga, sahabat, dan rekan untuk ikut menyimak.
Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat dan menambah keteguhan dalam menjalankan Islam secara kaffah.
#TafsirAlWaie
#TafsirAlQuran
#KajianIslam
#IslamKaffah
#SyariatIslam
#DakwahIslam
#KHRokhmatSLabib
#LiveYouTube | 33 |
| 10 | Нет текста... | 27 |
| 11 | Нет текста... | 42 |
| 12 | Perlu dipahami, Nabi saw hijrah ke Madinah bukan karena takut dibunuh Quraisy. Namun motif hijrah adalah karena di Madinah terdapat kesiapan masyarakat untuk menegakkan Daulah Islamiyah dan mendukung dakwah Islam yang diemban Nabi saw. (Taqiyuddin an-Nabhani, Ad-Daulah al-Islamiyah, hal. 47).
*Ketiga, Wafatnya Nabi SAW*
Hari Senin tanggal 12 Rabiul Awwal tahun 11 H Nabi wafat. (Ibnu Katsir, As-Sirah An-Nabawiyah, IV/507; Al-Mas’udi, Muruj adz-Dzahab, II/304). Wafatnya Baginda SAW ini merupakan sinyal lahirnya negara Khilafah Islam Rasyidah. Karena, pada hari yang sama, sebelum jenazah SAW dimakamkan, umat Islam telah membaiat Abu Bakar sebagai khalifah.
Tegasnya, Rasul SAW meninggal pada waktu Dhuha hari Senin tersebut. Sementara Abu Bakar dibaiat (baiat in’iqad) sebagai khalifah hari Senin itu pula. Lalu, selasa pagi Abu Bakar ra dibaiat (baiat tha’at) oleh kaum muslimin di masjid. Nabi SAW sendiri baru dimakamkan pada pertengahan malam pada malam Rabu. (Ajhizah Daulah al-Khilafah, hal.13).
Tiga kejadian besar ini menunjukan alur historis yang sangat penting dalam membangun rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW.
*Manifestasi Cinta Rasulullah SAW yang Sejati*
Cinta tanpa manifestasi dan pembuktian tentunya hanyalah kedustaan belaka, karenanya berikut akan dijelaskan, perwujudan cinta hakiki kepada Rasulullah saw, diantaranya:
Pertama, mentauhidkan Allah. Sebab, para rasul diutus, termasuk Rasulullah saw, adalah untuk menyeru manusia pada tauhid yang murni dan menentang syirik (QS. an-Nahl [16]: 36).
Kedua, mempelajari, memahami dan mengamalkan al-Quran yang Beliau bawa, sebagai petunjuk dan rahmat bagi manusia (QS. an-Nahl [16]: 89). Berkenaan dengan ini, Ibnu Mas’ud berkata: “Janganlah seseorang meminta untuk dirinya kecuali al-Quran. Jika dia mencintai al-Quran berarti dia mencintai Allah dan Rasul-Nya.” (Al-Firyabi, Fadha’il al-Qur’an, no. 6).
Ketiga, meneladani segala ucapan dan perbuatan Nabi saw. (Lihat: QS al-Ahzab [33]: 21).
Keempat, mencintai mereka yang dicintai Nabi saw, seperti keluarga dan Sahabatnya, serta seluruh kaum muslim yang berpegang teguh kepada ajarannya; serta membenci orang yang dibenci Beliau, seperti orang kafir yang memusuhi Islam dan kaum Muslim.
Kelima, membela Nabi saw, dari serangan kaum kafir dan munafik, sebagaimana akhir-akhir ini semakin nampak dilakukan mereka.
Keenam, menaati semua perintah Nabi saw, dan menjauhi larangan Beliau (QS al-Hasyr [59]: 7).
Ketujuh, mengemban risalah Beliau, yakni mendakwahkan syariah yang Beliau bawa. Allah saw berfirman: “Hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyerukan al-khair (Islam) serta melakukan amar ma’ruf nahi munkar.” (QS Ali Imran [3]: 103).
Kedelapan, karena pada bulan Rabiul Awwal terjadi tiga peristiwa besar, yaitu Maulid Nabi saw, Maulid Daulah Islamiyah, dan Maulid Khilafah Rasyidah. Maka, ketiganya wajib dipahami dan dijadikan sebagai sumber spirit di masa kini, demi berjuang menegakkan kembali sistem pemerintahan Islam, yakni Khilafah.
Sebab Khilafah inilah sunnah (metode) yang dirintis Nabi saw sebagai Daulah Islamiyah, lalu sunnah ini dilanjutkan para Khulafaur Rasyidin sebagai Khilafah Rasyidah. Inilah relevansi Sabda Nabi saw: “Maka hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk, dan gigitlah sunnah-sunnah itu dengan gigi-gigi gerahammu [peganglah dan amalkan dengan kuat].” (HR. At-Tirmidzi, no 2816).
Walhasil, menegakkan kembali Khilafah yang akan menegakkan kembali risalah yang dibawa Rasul, dan menyebarluaskannya ke seluruh dunia, jelas merupakan puncak manifestasi kecintaan kita terhadap Baginda Rasulullah saw, sekaligus menunjukan dalamnya pemahaman kita akan makna Maulid.
Sehingga, sungguh aneh jika ada yang mengaku mencintai Nabi SAW, tetapi enggan menegakkan syariah dan enggan pula memperjuangkan negara yang dulu pernah beliau SAW dirikan. Wallâhu a’lam. (Disadur dari buku “Islam Rahmatan Lil Alamin Solusi untuk Indonesia", 2016).
https://www.trenopini.com/2022/10/memahami-maulid-nabi-secara-mendalam.html?m=1 | 35 |
| 13 | Menurut catatan sejarah, Peringatan Maulid Nabi saw, pertama kali diperkenalkan oleh Abu Said al-Qakburi, Gubernur Irbil, Irak, pada masa pemerintahan Sultan Shalahuddin al-Ayyubi (1138-1193 M). Menurut sumber lain, yang pertama mencetuskan ide Peringatan Maulid Nabi saw, adalah Sultan Shalahuddin al-Ayyubi sendiri.
Kala itu bertujuan untuk memperkokoh semangat umat Islam umumnya, khususnya mental tentara Muslim yang lemah dalam menghadapi serangan tentara Salib dari Eropa, yang ingin merebut tanah suci Yerusalem dari tangan kaum Muslim. (Al-Islam, ed. 348, tahun 2007). Inilah sekilas awal mula perayaan Maulid Nabi saw. Selanjutnya, apa sebenarnya yang terjadi pada bulan Rabiul Awwal?
Berdasarkan penelusuran historis, sesungguhnya pada bulan Rabiul Awwal telah terjadi tiga peristiwa besar yang patut umat Islam senantiasa mengingatnya. Ketiga peristiwa besar tersebut adalah:
*Pertama, Peristiwa Maulid (lahirnya) Nabi SAW*
Nabi dilahirkan hari Senin 12 Rabiul Awwal pada tahun Gajah di Makkah (Rawwas Qal’ahji, Sirah Nabawiyah (terj), hal. 15; Ibnul Qayyim, Zadul Ma’ad, I/28). Menurut sebagian ulama, kelahirannya diiringi berbagai keajaiban. Qadhi Iyadh menyebut ada 132 keajaiban. Salah satunya, ketika lahir dan digendong Asy-Syifa Ummu Abdurrahman bin Auf, beliau –Nabi SAW– menangis keras dan berkata kepada Asy-Syifa’: “Rahimakillah” (Semoga Allah merahmatimu). (Asy-Syifa bi Ta’rif Huquq al-Mushtafa, hal. 205).
Keistimewaan Nabi SAW yang sangat terasa, adalah beliau memegang dua kedudukan sekaligus, yakni sebagai nabi sekaligus kepala negara. Taqiyuddin an-Nabhani berkata: “Nabi saw dahulu memegang kedudukan kenabian dan kerasulan, dan pada waktu yang sama Nabi saw memegang kedudukan kepemimpinan kaum muslimin dalam menegakkan hukum-hukum Islam.” (Nizham al-Hukm fi al-Islam, hal. 116-117).
Hal tersebut didasari keterangan dua tema ayat, yang satu berkaitan dengan tabligh (penyampaian wahyu; QS. Al-Maidah [5]: 67); dan ayat yang lain berkaitan dengan tugas menerapkan hukum yang diturunkan Allah (QS Al-Maidah [5]: 48 dan 49).
Tugas kenabian memang berakhir dengan wafatnya Nabi saw, akan tetapi tugas kepemimpinan negara tak berakhir, melainkan diteruskan oleh para khalifah sebagai kepala negara Khilafah sepeninggal Nabi saw. “Dahulu Bani Israil diatur segala urusannya oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi wafat, dia digantikan nabi lainnya. Dan sesungguhnya tak ada lagi nabi sesudahku, yang ada adalah para khalifah dan jumlah mereka akan banyak…” (HR Muslim, no 1842).
*Kedua, Hijrahnya Nabi SAW*
Menurut M. Shiddiq al-Jawi, bulan Muharram memang patokan awal perhitungan tahun Hijriyah. Tapi hijrahnya sendiri bukan pada bulan Muharram, melainkan bulan Rabiul Awwal. Beliau saw mulai berhijrah meninggalkan Gua Tsur malam Senin, tanggal 1 Rabiul Awwal tahun I Hijriyah (16 September 622 M).
Nabi saw sampai di Quba’ hari Senin, 8 Rabiul Awwal tahun 1 H (23 September 622 M), lalu berdiam di sana selama empat hari: Senin, Selasa, Rabu, dan Kamis. Beliau lalu memasuki Madinah hari Jumat, 12 Rabiul Awwal tahun 1 H. (Shafiyurrahman Mubarakfuri, Sirah Nabawiyah (terj), hal. 232-233; Ahmad Ratib Armusy, Qiyadah ar-Rasul, hal. 40).
Berdasarkan itu, tanggal 12 Rabiul Awwal adalah sampainya Nabi di Madinah. Ini menandai berdirinya Daulah Islamiyah. (Taqiyuddin an-Nabhani, Ad-Daulah al-Islamiyah, hal. 48). Sebelum hijrah, terjadi peristiwa Baiat Aqabah II di Makkah antara Nabi saw dan Suku Auz dan Khrazraj dari Madinah.
Baiat ini adalah akad pendirian Daulah Islamiyah, antara Nabi saw dan Suku Aus dan Khazraj. (Al-Marakbi, al-Khilafah al-Islamiyah Baina Nuzhum al-Hukm al-Muashirah, hal. 16).
Jadi dengan baiat itu, secara hukum, Nabi saw sudah menjadi kepala negara di Madinah. Tapi secara fakta (de facto) kepemimpinan ini baru efektif sesudah Baginda tiba di Madinah. | 16 |
| 14 | *Memahami Maulid Nabi Secara Mendalam*
Umat Islam di Indonesia setiap tanggal 12 Rabiul Awwal senantiasa memperingati Maulid Nabi Muhammad saw, hari kelahiran beliau. Perayaan Maulid Nabi merupakan perwujudan rasa penghormatan yang begitu tinggi terhadap sosok Rasulullah saw tersebut. Baginda saw merupakan manusia yang paling istimewa di bumi ini, tidak hanya muslim, bahkan non muslim pun mengakuinya.
Michael H. Heart, Profesor astronomi, fisika dan sejarah sains, dalam bukunya The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History (New York: 1978, hal. 33), dia menulis: “My choice of Muhammad to lead the list of the world’s most influential persons may surprise some readers and may be questioned by others, but he was the only man in history who was supremely successful on both the religious and secular level.” (Saya memilih Nabi Muhammad sebagai urutan pertama tokoh yang paling berpengaruh di dunia mungkin mengejutkan sebagian pembaca dan mungkin dipertanyakan oleh yang lainnya. Tapi memang hanya dialah Nabi Muhammad satu-satunya manusia dalam sejarah yang berhasil meraih kesuksesan luar biasa, baik dari ukuran agama maupun ruang lingkup dunia).
William Montgomery Watt (1909-2006), Profesor (emeritus) Studi Bahasa Arab dan Islam University of Edinburgh, dalam bukunya Mohammad At Mecca (Oxford: 1953, hal. 52), menulis: “His readiness to undergo persecutions for his beliefs, the high moral character of the men who believed in him and looked up to him as leader, and the greatness of his ultimate achievement –all argue his fundamental integrity…” (Kerelaannya dalam mengalami penganiayaan demi keyakinan, ketinggian akhlak orang-orang yang mempercayai dan menghormatinya sebagai pemimpin, dan kegemilangan prestasi puncaknya –semua itu membuktikan ketulusan hatinya yang sempurna..).
John William Draper (1811-1882), Ilmuwan, filosof, dan sejarawan Amerika, dalam bukunya A History of the Intellectual Development of Europe (London: 1875, vol. 1, hal. 329-330): “Four year after the death of Justinian, A.D. 569, was born at Mecca, in Arabia the man who, of all men exercised the greatest influence upon the human race.. Mohammed..” (Empat tahun setelah runtuhnya kekaisaran Roma Timur (Kaisar Justin), tahun 569 Masehi, di kota Makkah jazirah Arab, lahirlah manusia yang di antara seluruh manusia telah memberikan pengaruh amat besar bagi umat manusia.. Muhammad).
George Bernard Shaw dalam The Genuine Islam (1936: Vol. 1, No. 8. www. the Muslim times. org): “I believe that if a man like him were to assume the dictatorship of the modern world he would succeed in solving its problems in a way that would bring it the much needed peace and happiness: I have prophesied about the faith of Muhammad that it would be acceptable to the Europe of tomorrow as it is beginning to be acceptable to the Europe of today.” (Saya yakin, apabila orang semisal Muhammad memegang kekuasaan tunggal di dunia modern ini, beliau akan berhasil mengatasi segala macam permasalahan, hingga membawa kedamaian dan kebahagiaan yang dibutuhkan dunia: Ramalanku, keyakinan yang dibawanya akan diterima Eropa di masa datang dan memang ia telah mulai diterima Eropa saat ini).
Demikianlah beberapa pernyataan para intelektual Barat tentang Nabi Muhammad SAW. Namun jika kita kembali berbicara tentang perayaan Maulid Nabi saw –terlepas dari sikap kontra sebagian kalangan terhadap kegiatan Peringatan Maulid Nabi saw; penulis mencermati bahwa Maulid masih terkesan seremonial belaka dan setengah-setengah.
Karena itu, tulisan ini mencoba untuk memaknai Maulid Nabi saw secara mendalam, sehingga umat Islam mampu membawa semangat Maulid Nabi saw dalam konteks dunia modern dan mampu mewujudkan cinta hakiki terhadap Rasul saw secara benar.
*Sekilas Sejarah dan Berbagai Peristiwa Besar* | 19 |
| 15 | Tidak merayakan hari kemerdekaan bukan berarti seseorang membenci Indonesia. Tidak memasang atribut 17 Agustus bukan otomatis berarti seseorang melupakan pengorbanan orang-orang yang telah berjuang melawan penjajahan.
Bahkan, seseorang dapat saja mengenang jasa para pahlawan dengan cara yang jauh lebih substantif: mempertanyakan apakah cita-cita perjuangan mereka benar-benar telah diwujudkan.
Sebab para pahlawan tidak berjuang agar generasi berikutnya hanya mewarisi sebuah seremoni. Mereka tidak mengorbankan harta, darah, dan nyawa agar setiap tahun rakyat sekadar mengikuti upacara, memasang bendera, menyanyikan lagu kebangsaan, lalu kembali menjalani kehidupan yang penuh ketidakadilan
Maka, ketika seseorang berkata, “Tahun ini saya tidak ikut merayakan 17 Agustus karena saya kecewa dengan keadaan negeri,” pernyataan itu semestinya tidak langsung dibalas dengan tuduhan negatif. Bisa jadi ia sedang menyampaikan kritik bahwa kemerdekaan secara formal belum identik dengan kemerdekaan yang substantif
Dalam perspektif Islam, persoalan ini bahkan harus ditempatkan pada kerangka yang lebih mendasar. Islam tidak menjadikan simbol kebangsaan sebagai ukuran tertinggi dalam menilai kehidupan. Ukuran kebenaran adalah wahyu Allah SWT. Allah berfirman:
“Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah.” (QS Yusuf: 40)
Karena itu, seorang Muslim tidak cukup bertanya apakah negeri ini telah merdeka dari penjajahan asing. Ia juga harus bertanya: Apakah kehidupan masyarakat telah diatur dengan hukum Allah? Apakah kekayaan dikelola untuk kemaslahatan rakyat? Apakah kezaliman diberantas? Apakah penguasa menjalankan amanah sebagai pelayan umat?
Jika jawabannya belum, maka persoalannya jauh lebih dalam daripada sekadar ada atau tidak adanya perayaan 17 Agustus
Kemerdekaan tidak boleh direduksi menjadi pesta. Sebab ketika rakyat yang kecewa terhadap kondisi negeri justru diminta menutup mata selama sehari, memasang bendera, mengikuti perlombaan, dan melupakan berbagai persoalan yang mereka hadapi, maka perayaan dapat berubah menjadi sekadar ritual yang menenangkan kesadaran publik
mustanir.net/tidak-merayakan
#17Agustus #HariKemerdekaan #KemerdekaanIndonesia #IndonesiaBertauhid #NKRI | 32 |
| 16 | Dengan demikian, seorang muslim yang beriman tidak akan meninggalkan syariat yang dibawa oleh Nabinya hanya demi mengikuti pendapat dan ajaran Barat tentang sekularisme, apalagi menyerukan untuk menerapkan nilai-nilai saja. Tidak cukup dengan sekadar islami, melainkan harus menerapkan Islam secara kafah. Wallahualam. [MNews/GZ]
***
Baca artikel lainnya di Fp Muslimah News
Like & Follow https://facebook.com/muslimahnews | 37 |
| 17 | Pemikiran seperti inilah yang melandasi pernyataan tokoh-tokoh Islam yang telah “tersibgah” (tercelup, ed.) pemahaman filsafat Barat untuk mencukupkan penerapan Islam hanya pada level nilai-nilai dan kemudian menganggapnya sudah islami.
Terkait hal ini, pengamalan nilai-nilai agama dengan meninggalkan bentuk formalnya, yaitu syariat, pada hakikatnya ialah bentuk sekularisasi. Syed Muhammad Naquib al-Attas (1978) dalam Islam and Secularism menjelaskan bahwa sekularisasi ialah memisahkan makna agama dari struktur hukumnya sehingga agama akhirnya hanya dipahami sebagai sumber etika. Beliau mengatakan, “Islam is not merely a system of ethical values but a complete way of life.” Islam bukan sekadar sistem nilai etika, melainkan merupakan sebuah cara hidup yang menyeluruh.
Mengambil sebatas nilai, lantas menyingkirkan syariat, berarti menjauhkan agama dari pengaturan kehidupan. Inilah yang dilakukan negara-negara sekuler di Barat. Mereka mengambil nilai kejujuran dan menghukum para pejabat yang korupsi. Mereka mengambil nilai kemanusiaan dan menetapkan hukuman pada para pembunuh dan pelaku tindak kriminal. Sama halnya dengan kita dan kita pun menyebutnya “islami”. Akan tetapi, apakah negara-negara Barat itu mengeklaim mereka negara islami dan bukan negara sekuler? Nyatanya tidak! Prancis, AS, Inggris, dan negara-negara Barat lain justru dengan bangga memproklamasikan diri sebagai negara sekuler dan berjuang mempertahankan sekularisme.
Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa pernyataan “bukan negara agama, tetapi bukan negara sekuler” ialah jargon belaka. Justru mengambil agama hanya sebatas nilai, lantas menyingkirkan syariat, ialah bentuk sekularisme, yaitu meninggalkan agama dalam pengaturan kehidupan dan mengurungnya dalam ruang-ruang privat.
–––
Taat Syariat ialah Manifestasi Iman
–––
Dalam Islam, keimanan kepada Allah bukan hanya mengakui-Nya sebagai satu-satunya Yang Mutlak, Yang Tidak Terbatas, dan Maha Sempurna. Pengakuan terhadap-Nya juga harus diikuti pengakuan untuk tidak menyekutukan-Nya, serta tunduk kepada-Nya dengan cara, metode, jalan, dan bentuk yang ditunjukkan-Nya melalui para rasul-Nya.
Mengakui Allah, tetapi mengingkari cara, metode, jalan, dan bentuk yang Allah ajarkan melalui Nabi-Nya ialah bentuk kekafiran. Orang seperti ini tidak benar-benar berserah diri kepada-Nya. Buktinya, iblis juga percaya pada Allah dan mengakui-Nya sebagai Sang Pencipta alam semesta, tetapi di dalam Al-Qur’an ia tetap disebut “kafir” karena pengingkaran kepada perintah-Nya. Alhasil, memahami dan mengakui Allah sebagai Tuhan harus dengan mengikuti perintah, bentuk, cara, dan jalan-Nya, yaitu syariat yang kebenarannya tidak boleh diragukan.
Allah Swt. menegaskan dalam QS An-Nisa ayat 65,
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga bertahkim kepadamu (Nabi Muhammad) dalam perkara yang diperselisihkan di antara mereka. Kemudian, tidak ada keberatan dalam diri mereka terhadap putusan yang engkau berikan dan mereka terima dengan sepenuhnya.”
Ath-Thabari dalam kitab tafsirnya, Jāmiʿ al-Bayān ʿan Taʾwīl Āy al-Qurʾān, mengartikan وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا (wa yusallimuu tasliimaa) sebagai ‘mereka tunduk kepada keputusanmu dengan ketundukan yang sempurna, patuh sepenuhnya, dan tidak menolaknya sedikit pun’.Dari penjelasan Imam Ath-Thabari ini bisa disimpulkan tiga syarat kesempurnaan iman, yakni menjadikan Rasul sebagai hakim, tidak merasa keberatan terhadap keputusan beliau, dan tunduk sepenuhnya kepada keputusan tersebut.
Syariat Islam ialah apa saja yang dibawa dan diputuskan oleh Rasulullah ﷺ untuk diterapkan. Penolakan terhadap syariat berarti menolak apa saja yang Rasulullah ﷺ tetapkan. Hal ini berkonsekuensi meniadakan kesempurnaan iman pada diri seorang muslim. | 35 |
| 18 | lafaz “kaaffah” menurut beliau menunjukkan ‘mencakup seluruh syariat’, bukan memilih sebagian lalu meninggalkan sebagian lainnya.
Syariat agama juga bukan hanya salat, zakat, saum, haji, nikah, talak, dan jilbab, yang mana saat ini bisa diamalkan leluasa di Indonesia, melainkan juga mencakup aturan lainnya. Ada sistem ekonomi yang mengatur haramnya riba, larangan menimbun harta, monopoli, dan sebagainya. Sistem sosial mengatur interaksi laki-laki dan perempuan dalam masyarakat. Sistem politik dan pemerintahan mengatur cara memilih penguasa dan wajibnya taat pada penguasa yang menerapkan syariat. Begitu juga sistem sanksi, mengatur hukuman atas berbagai pelanggaran ketentuan agama.
Masuk Islam secara kafah berarti menjalankan semua syariat tersebut, bukan hanya mengambil sebagian dan meninggalkan sebagiannya. Allah Swt. mengancam perbuatan semacam ini dalam firman-Nya di QS Al-Baqarah ayat 85,
أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ ٱلْكِتَٰبِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ ۚ فَمَا جَزَآءُ مَن يَفْعَلُ ذَٰلِكَ مِنكُمْ إِلَّا خِزْىٌ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَيَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ يُرَدُّونَ إِلَىٰٓ أَشَدِّ ٱلْعَذَابِ ۗ وَمَا ٱللَّهُ بِغَٰفِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ
“… Apakah kamu beriman pada sebagian Kitab (Taurat) dan ingkar pada sebagian (yang lain)? Maka, tidak ada balasan (yang pantas) bagi orang yang berbuat demikian di antaramu, selain kenistaan dalam kehidupan dunia dan pada Hari Kiamat mereka dikembalikan pada azab yang paling berat. Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan.”
Allah Swt. menurunkan Al-Qur’an yang merupakan sumber dari mabda Islam agar menjadi rahmat bagi manusia. Rahmat yang terkandung dalam Al-Qur’an itu hanya akan terwujud jika seruan-seruannya dipenuhi oleh manusia dan hukum-hukumnya diterapkan. Inilah yang akan mendatangkan keberkahan bagi kehidupan manusia.
Firman-Nya dalam QS Al-An‘am [6] ayat 155,
وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“(Al-Qur’an) ini adalah Kitab yang Kami turunkan lagi diberkahi. Maka, ikutilah dan bertakwalah agar kamu dirahmati.”
Imam Al-Alusi menjelaskan, Al-Qur’an disifati dengan mubârak (yang diberkati) karena mengandung banyak kebaikan di dalamnya—untuk kepentingan agama maupun dunia. Adapun frasa fattabi‘ûhu, maknanya ialah fa‘malû bimâ fîhi (karena itu amalkanlah semua hal yang terkandung di dalam Al-Qur’an itu). (Al-Alusi, Ruh al-Ma’ani, 6/77).
–––
Pengamalan Nilai Saja Merupakan Bentuk Sekularisasi
–––
Munculnya ide untuk menerapkan Islam sekadar nilai-nilainya ialah buah dari pengadopsian pemikiran filsafat yang kita sebut perenialisme, satu pemikiran yang tidak terpisahkan dari sekularisme. Inti dari filsafat perenialisme bertolak pada pembagian dua dimensi agama, yaitu esoterik (batin) dan eksoterik (lahir). Bagi pendukung teori ini, dimensi esoterik dianggap lebih tinggi dibandingkan dimensi eksoterik. Dalam perspektif filsafat perenial, dimensi esoterik dipandang sebagai wilayah kebenaran metafisik yang bersifat universal dan absolut. Sementara itu, dimensi eksoterik merupakan manifestasi historis dan formal dari agama-agama sehingga bentuknya relatif, meskipun berasal dari sumber wahyu yang sama. (Frithjof Schuon, 1989, The Transcendent Unity of Religions).
Dari pemahaman ini, nilai-nilai yang bersifat universal masuk ke dalam dimensi esoterik, dianggap merupakan nilai-nilai yang ditetapkan Tuhan sehingga kebenarannya bersifat absolut. Contohnya ialah persamaan, keadilan, toleransi, keseimbangan, dan kemaslahatan. Sedangkan syariat, tersebab masuk ke dalam ranah eksoterik, kebenarannya tidak dianggap mutlak. Syariat dianggap sekadar pencerminan dari nilai-nilai pada ranah esoterik. Sebagai dimensi eksoterik, kebenaran syariat harus direlatifkan agar agama-agama yang ada bisa hidup berdampingan secara damai.
Walhasil, dalam kehidupan bernegara saat ini, suatu agama hanya boleh diambil nilai-nilainya karena dianggap bersifat sama untuk semua agama. Sedangkan syariatnya tidak boleh diambil karena tiap agama berbeda-beda dan hal ini dianggap berpotensi menimbulkan konflik. | 15 |
| 19 | Mantan Menko Polhukam Mahfud MD menegaskan bahwa Indonesia bukan negara Islam, melainkan negara islami yang dibangun di atas nilai-nilai Islam serta kesepakatan para pendiri bangsa. Dalam pandangannya, substansi jauh lebih penting dibandingkan simbol formal. Tepatkah pandangannya tersebut? #Tsaqafah #Politik
–––
Pernyataan "Indonesia Negara Islami", Cukupkah Hanya dengan Menerapkan Nilai?
https://muslimahnews.net/2026/08/06/42770/
–––
Penulis: Arini Retnaningsih, S.P.
Muslimah News, TSAQAFAH — Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD menegaskan bahwa Indonesia bukan negara Islam, melainkan negara islami yang dibangun di atas nilai-nilai Islam serta kesepakatan para pendiri bangsa. Pernyataan itu ia sampaikan saat menjadi pembicara dalam Sidang Pleno XV Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) bertema “Masyarakat Madani (Civil Society) di Tengah Dinamika Kehidupan Nasional Dewasa Ini” di Hotel Bidakara, Jakarta, Sabtu (25-7-2026).
Ia menjelaskan bahwa istilah “Islam” dan “islami” memiliki makna yang berbeda. Menurutnya, “Islam” merujuk pada nama atau simbol, sedangkan “islami” menggambarkan sifat dan nilai yang terkandung dalam ajaran agama. Oleh karenanya, ia menilai bentuk NKRI telah sejalan dengan nilai-nilai luhur Islam tanpa harus menggunakan label “negara Islam”. Dalam pandangannya, substansi jauh lebih penting dibandingkan simbol formal. (Republika, 26-6-2026).
–––
Cukupkah Sekadar Pengamalan Nilai Islam?
–––
Sejatinya, ada perbedaan mendasar antara Islam dan agama lainnya. Kalau agama selain Islam diambil hanya nilai-nilai ajarannya, tidak menjadi masalah karena memang agama-agama tersebut tidak memiliki syariat yang mengatur seluruh aspek kehidupan. Sedangkan Islam, ia merupakan suatu mabda (ideologi), yaitu pemikiran mendasar dan menyeluruh yang melahirkan aturan-aturan kehidupan sesuai pemikiran tersebut.
Juga terdapat perbedaan yang jelas antara nilai dan aturan. Ahmed Akgunduz (2010), seorang Profesor Hukum Islam di Universitas Rotterdam, menerangkan bahwa Islam memiliki dua dimensi yang saling berkaitan, yakni values (nilai-nilai), merupakan tujuan moral seperti keadilan, perlindungan jiwa, agama, harta, akal, dan keturunan; serta norms (aturan/hukum), yaitu aturan syariat yang dibuat untuk menjaga nilai-nilai tersebut. Beliau menegaskan bahwa syariat tidak hanya berisi nilai moral, melainkan juga seperangkat norma hukum yang merealisasikan nilai tersebut. (The Values and Norms of Islam, The Journal of Rotterdam Islamic and Social Sciences).
Sementara itu, Imam Asy-Syathibi—yang dijadikan rujukan dalam pembahasan maqashid syariah—menegaskan bahwa maqashid syariah (yaitu maslahat) adalah tujuan, sedangkan syariat adalah perangkat yang Allah tetapkan untuk mewujudkan maslahat. Beliau menuliskan, “Penetapan syariat-syariat itu tidak lain ialah untuk mewujudkan kemaslahatan hamba di dunia dan di akhirat.” (Kitab Al-Maqashid, Jilid 2, Dar Ibn ‘Affan, hlm. 8–9).
Dengan demikian, nilai atau tujuan ialah hasil dari penerapan aturan Islam. Pemahaman ini tidak boleh dibalik, yang ketika nilai atau tujuan telah tercapai, syariat tidak lagi diperlukan, karena sesungguhnya ini merupakan mutilasi terhadap ajaran Islam. Misalnya, apakah karena tujuan kita salat dan berdoa ialah untuk mengingat Allah, lantas kita boleh mengingat Allah dan berdoa tanpa melakukan salat?
Kemudian, menerapkan Islam sebatas sifat dan nilai ajarannya saja sesungguhnya bertentangan dengan apa yang Allah Swt. perintahkan dalam QS Al-Baqarah ayat 208,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱدْخُلُوا۟ فِى ٱلسِّلْمِ كَآفَّةً
“Wahai orang-orang yang beriman masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan…”
Imam Ath-Thabari dalam kitab tafsirnya, Jāmiʿ al-Bayān ʿan Taʾwīl Āy al-Qurʾān, mengatakan bahwa pendapat yang paling benar ialah pendapat yang mengatakan bahwa makna ayat ini adalah, “Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, masuklah kalian ke dalam seluruh syariat Islam, jangan meninggalkan sedikit pun darinya, dan amalkan seluruh ajarannya.”Beliau memilih tafsir ini karena | 21 |
| 20 | *Hidup di Jalan Allah Kunci Segala Kebaikan*
قال رسول الله ﷺ: «مَن كانتِ الآخرةُ هَمَّهُ جعلَ اللَّهُ غِناهُ في قلبِهِ وجمعَ لَه شملَهُ وأتَتْهُ الدُّنيا وَهيَ راغمةٌ، ومَن كانتِ الدُّنيا هَمَّهُ جعلَ اللَّهُ فقرَهُ بينَ عينَيْهِ وفرَّقَ عليهِ شملَهُ، ولم يأتِهِ منَ الدُّنيا إلَّا ما قُدِّرَ لَهُ
*Rasulullah ﷺ bersabda*: "Barangsiapa yang menjadikan akhirat sebagai tujuan utamanya, Allah akan menanamkan kekayaannya di dalam hati, menyatukan urusannya, dan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan hina. Barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai tujuan utamanya, Allah akan menanamkan kefakirannya di depan matanya, mencerai-beraikan urusannya, dan ia tidak akan memperoleh dari dunia kecuali apa yang telah ditetapkan baginya." (HR. At-Tirmidzi)
Nabi ﷺ dalam hadis ini meletakkan sebuah pedoman agung terkait fokus utama seorang hamba ketika menjalani kehidupan. Beliau menjelaskan bagaimana niat dan perhatian seseorang hamba akan tercermin pada kondisi batin maupun keadaan lahiriah, baik secara psikologis maupun fisik-materi. Dalam hadits ini, manusia terbagi menjadi dua golongan:
*Pertama*: Orang yang menjadikan akhirat sebagai tujuan utamanya (pemilik cita-cita yang tinggi). Dialah yang menjadikan ridha Allah dan negeri akhirat sebagai tujuan mendasar dalam setiap perbuatan dan tingkah lakunya. Allah menganugerahkan kepadanya tiga hal: (1) Menanamkan kekayaan di dalam hatinya: diberi ketenangan, rasa cukup, dan puas dengan apa yang dimilikinya. Hidup bergantung kepada Allah, tidak menoleh kepada apa yang ada pada orang lain, dan tidak tamak terhadapnya. (2) Allah menyatukan urusannya: segala perkara yang tercerai-berai dikumpulkan, sehingga ia merasakan ketenteraman jiwa, kestabilan batin, dan kemudahan dalam urusa n hidupnya. (3) Dunia datang kepadanya dalam keadaan hina: dunia tunduk dan mengikuti, rezeki yang telah ditetapkan Allah akan datang kepadanya tanpa ia harus merendahkan diri untuk mengejarnya, selama ia tetap mengambil sebab-sebab yang halal.
*Kedua*: Orang yang menjadikan dunia sebagai tujuan utamanya (pemilik orientasi duniawi). Dialah yang mengerahkan seluruh pikiran dan tenaganya hanya untuk mengumpulkan harta dunia, mengikuti hawa nafsu, dan mengejar gemerlapnya. Konsekuensi dari arah hidup seperti ini tampak dalam tiga hal yang berlawanan dengan golongan pertama: (1) Allah menanamkan kefakiran di depan matanya: Allah menumbuhkan rasa takut miskin dan kebutuhan dalam hatinya, sehingga tetap serakah dan kalah secara batin. Selalu melihat bayangan kefakiran di hadapannya, meskipun ia termasuk orang kaya. (2) Allah mencerai-beraikan urusannya: segala urusannya menjadi kacau, diliputi kegelisahan dan kesedihan, sehingga tidak pernah merasakan ketenangan dan kestabilan hidup. (3) Tidak memperoleh dari dunia kecuali apa yang telah ditetapkan: meski berlari, bersusah payah, dan menguras pikiran, ia tidak akan mampu mendapatkan lebih dari apa yang sudah ditentukan Allah untuknya.
*Kesimpulan*
Hadits ini bukanlah ajakan untuk meninggalkan usaha dunia, melainkan seruan membebaskan hati dari keterikatannya. Dunia seharusnya berada di tangan kita untuk melayani agama dan akhirat, bukan menguasai hati hingga menjerat pikiran. Tiada amal yang lebih agung setelah iman kepada Allah selain berjuang menegakkan syariat-Nya, agar hukum-Nya berkuasa dan kalimat-Nya senantiasa tinggi.
إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِمَن كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ
"Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya." (QS. Qaf [50]: 37)
Ustadz Abdurrahman ‘Umar
Maktab I’lami Wilayah Suriah | 32 |
