fa
Feedback
Studi Islam

Studi Islam

رفتن به کانال در Telegram

Channel Pecinta Ilmu-Ilmu Agama

نمایش بیشتر
430
مشترکین
اطلاعاتی وجود ندارد24 ساعت
-27 روز
-430 روز

در حال بارگیری داده...

کانال‌های مشابه
هیچ داده‌ای
مشکلی وجود دارد؟ لطفاً صفحه را تازه کنید یا با مدیر پشتیبانی ما تماس بگیرید.
اشارات ورودی و خروجی
---
---
---
---
---
---
جذب مشترکین
اوت '26
اوت '26
+1
در 0 کانال‌ها
ژوئیه '26
+3
در 0 کانال‌ها
Get PRO
ژوئن '260
در 0 کانال‌ها
Get PRO
مه '26
+1
در 0 کانال‌ها
Get PRO
آوریل '26
+2
در 0 کانال‌ها
Get PRO
مارس '26
+1
در 0 کانال‌ها
Get PRO
فوریه '260
در 0 کانال‌ها
Get PRO
ژانویه '26
+1
در 0 کانال‌ها
Get PRO
دسامبر '250
در 0 کانال‌ها
Get PRO
نوامبر '250
در 0 کانال‌ها
Get PRO
اکتبر '250
در 0 کانال‌ها
Get PRO
سپتامبر '250
در 0 کانال‌ها
Get PRO
اوت '250
در 0 کانال‌ها
Get PRO
ژوئیه '250
در 0 کانال‌ها
Get PRO
ژوئن '250
در 0 کانال‌ها
Get PRO
مه '250
در 0 کانال‌ها
Get PRO
آوریل '250
در 0 کانال‌ها
Get PRO
مارس '250
در 0 کانال‌ها
Get PRO
فوریه '25
+1
در 0 کانال‌ها
Get PRO
ژانویه '25
+1
در 0 کانال‌ها
Get PRO
دسامبر '24
+1
در 0 کانال‌ها
Get PRO
نوامبر '24
+2
در 0 کانال‌ها
Get PRO
اکتبر '240
در 0 کانال‌ها
Get PRO
سپتامبر '24
+4
در 0 کانال‌ها
Get PRO
اوت '24
+2
در 0 کانال‌ها
Get PRO
ژوئیه '24
+8
در 0 کانال‌ها
Get PRO
ژوئن '24
+2
در 0 کانال‌ها
Get PRO
مه '24
+5
در 0 کانال‌ها
Get PRO
آوریل '24
+4
در 0 کانال‌ها
Get PRO
مارس '24
+5
در 0 کانال‌ها
Get PRO
فوریه '24
+6
در 0 کانال‌ها
Get PRO
ژانویه '24
+12
در 0 کانال‌ها
Get PRO
دسامبر '23
+5
در 0 کانال‌ها
Get PRO
نوامبر '23
+5
در 0 کانال‌ها
Get PRO
اکتبر '23
+3
در 0 کانال‌ها
Get PRO
سپتامبر '23
+5
در 0 کانال‌ها
Get PRO
اوت '23
+11
در 0 کانال‌ها
Get PRO
ژوئیه '23
+5
در 0 کانال‌ها
Get PRO
ژوئن '23
+4
در 0 کانال‌ها
Get PRO
مه '23
+6
در 0 کانال‌ها
Get PRO
آوریل '23
+3
در 0 کانال‌ها
Get PRO
مارس '23
+12
در 0 کانال‌ها
Get PRO
فوریه '23
+6
در 0 کانال‌ها
Get PRO
ژانویه '23
+7
در 0 کانال‌ها
Get PRO
دسامبر '22
+9
در 0 کانال‌ها
Get PRO
نوامبر '22
+2
در 0 کانال‌ها
Get PRO
اکتبر '22
+8
در 0 کانال‌ها
Get PRO
سپتامبر '22
+13
در 0 کانال‌ها
Get PRO
اوت '22
+14
در 0 کانال‌ها
Get PRO
ژوئیه '22
+4
در 0 کانال‌ها
Get PRO
ژوئن '22
+7
در 0 کانال‌ها
Get PRO
مه '22
+10
در 0 کانال‌ها
Get PRO
آوریل '22
+6
در 0 کانال‌ها
Get PRO
مارس '22
+7
در 0 کانال‌ها
Get PRO
فوریه '22
+2
در 0 کانال‌ها
Get PRO
ژانویه '22
+16
در 0 کانال‌ها
Get PRO
دسامبر '21
+16
در 0 کانال‌ها
Get PRO
نوامبر '21
+14
در 0 کانال‌ها
Get PRO
اکتبر '21
+17
در 0 کانال‌ها
Get PRO
سپتامبر '21
+23
در 0 کانال‌ها
Get PRO
اوت '21
+13
در 0 کانال‌ها
Get PRO
ژوئیه '21
+17
در 0 کانال‌ها
Get PRO
ژوئن '21
+12
در 0 کانال‌ها
Get PRO
مه '21
+41
در 0 کانال‌ها
Get PRO
آوریل '21
+8
در 0 کانال‌ها
Get PRO
مارس '21
+5
در 0 کانال‌ها
Get PRO
فوریه '21
+8
در 0 کانال‌ها
Get PRO
ژانویه '210
در 0 کانال‌ها
Get PRO
دسامبر '20
+460
در 0 کانال‌ها
تاریخ
رشد مشترکین
اشارات
کانال‌ها
30 اوت0
29 اوت0
28 اوت0
27 اوت0
26 اوت0
25 اوت0
24 اوت0
23 اوت0
22 اوت0
21 اوت0
20 اوت0
19 اوت0
18 اوت0
17 اوت0
16 اوت0
15 اوت0
14 اوت0
13 اوت0
12 اوت0
11 اوت0
10 اوت0
09 اوت0
08 اوت0
07 اوت0
06 اوت0
05 اوت0
04 اوت0
03 اوت+1
02 اوت0
01 اوت0
پست‌های کانال
2
BYPASS.. Akses WATCHING 🖥️ https://qudwah.space/watch https://qudwah.space/watch https://qudwah.space/watch *nonton QUDWAH now!!*📺
15
3
KAJIAN TAFSIR AL-WA'IE | "PELAJARAN PENTING SURAH AN-NAS : BERLINDUNG DARI GODAAN SYAITHAN" Tafsir QS An Nas: 5-6 💥 BERLINDUNG DARI GODAAN SYAITHAN Siapa yang tak kenal Surah An-Nas? Surah penutup dalam Al-Qur'an ini bukan sekadar hafalan, melainkan benteng utama seorang muslim dari godaan syaitan yang membisikkan kejahatan ke dalam dada manusia. > Pelajaran-pelajaran penting dari Surah An-Nas dan bagaimana menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari agar hati kita senantiasa terjaga dari gangguan bisikan jahat. Yuk, simak pembahasannya sampai selesai! Jangan lupa Like, Comment, dan Subscribe agar tidak ketinggalan konten bermanfaat lainnya. Mari ikuti Kajian Tafsir Al-Wa'ie bersama: 🎙️ KH. Rokhmat S. Labib 🗓️ Rabu, 19 Agustus 2026 ⏰ Pukul 20.00 WIB 🔴 SAKSIKAN : ▶️ YouTube: https://youtu.be/AGok-OwqhwU ▶️ TikTok: https://www.tiktok.com/@rokhmatslabib ✍️ Ajak keluarga, sahabat, dan rekan untuk ikut menyimak. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat dan menambah keteguhan dalam menjalankan Islam secara kaffah. #TafsirAlWaie #TafsirAlQuran #KajianIslam #IslamKaffah #SyariatIslam #DakwahIslam #KHRokhmatSLabib #LiveYouTube
30
4
بدون متن...
25
5
بدون متن...
41
6
Perlu dipahami, Nabi saw hijrah ke Madinah bukan karena takut dibunuh Quraisy. Namun motif hijrah adalah karena di Madinah terdapat kesiapan masyarakat untuk menegakkan Daulah Islamiyah dan mendukung dakwah Islam yang diemban Nabi saw. (Taqiyuddin an-Nabhani, Ad-Daulah al-Islamiyah, hal. 47). *Ketiga, Wafatnya Nabi SAW* Hari Senin tanggal 12 Rabiul Awwal tahun 11 H Nabi wafat. (Ibnu Katsir, As-Sirah An-Nabawiyah, IV/507; Al-Mas’udi, Muruj adz-Dzahab, II/304). Wafatnya Baginda SAW ini merupakan sinyal lahirnya negara Khilafah Islam Rasyidah. Karena, pada hari yang sama, sebelum jenazah SAW dimakamkan, umat Islam telah membaiat Abu Bakar sebagai khalifah. Tegasnya, Rasul SAW meninggal pada waktu Dhuha hari Senin tersebut. Sementara Abu Bakar dibaiat (baiat in’iqad) sebagai khalifah hari Senin itu pula. Lalu, selasa pagi Abu Bakar ra dibaiat (baiat tha’at) oleh kaum muslimin di masjid. Nabi SAW sendiri baru dimakamkan pada pertengahan malam pada malam Rabu. (Ajhizah Daulah al-Khilafah, hal.13). Tiga kejadian besar ini menunjukan alur historis yang sangat penting dalam membangun rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW. *Manifestasi Cinta Rasulullah SAW yang Sejati* Cinta tanpa manifestasi dan pembuktian tentunya hanyalah kedustaan belaka, karenanya berikut akan dijelaskan, perwujudan cinta hakiki kepada Rasulullah saw, diantaranya: Pertama, mentauhidkan Allah. Sebab, para rasul diutus, termasuk Rasulullah saw, adalah untuk menyeru manusia pada tauhid yang murni dan menentang syirik (QS. an-Nahl [16]: 36). Kedua, mempelajari, memahami dan mengamalkan al-Quran yang Beliau bawa, sebagai petunjuk dan rahmat bagi manusia (QS. an-Nahl [16]: 89). Berkenaan dengan ini, Ibnu Mas’ud berkata: “Janganlah seseorang meminta untuk dirinya kecuali al-Quran. Jika dia mencintai al-Quran berarti dia mencintai Allah dan Rasul-Nya.” (Al-Firyabi, Fadha’il al-Qur’an, no. 6). Ketiga, meneladani segala ucapan dan perbuatan Nabi saw. (Lihat: QS al-Ahzab [33]: 21). Keempat, mencintai mereka yang dicintai Nabi saw, seperti keluarga dan Sahabatnya, serta seluruh kaum muslim yang berpegang teguh kepada ajarannya; serta membenci orang yang dibenci Beliau, seperti orang kafir yang memusuhi Islam dan kaum Muslim. Kelima, membela Nabi saw, dari serangan kaum kafir dan munafik, sebagaimana akhir-akhir ini semakin nampak dilakukan mereka. Keenam, menaati semua perintah Nabi saw, dan menjauhi larangan Beliau (QS al-Hasyr [59]: 7). Ketujuh, mengemban risalah Beliau, yakni mendakwahkan syariah yang Beliau bawa. Allah saw berfirman: “Hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyerukan al-khair (Islam) serta melakukan amar ma’ruf nahi munkar.” (QS Ali Imran [3]: 103). Kedelapan, karena pada bulan Rabiul Awwal terjadi tiga peristiwa besar, yaitu Maulid Nabi saw, Maulid Daulah Islamiyah, dan Maulid Khilafah Rasyidah. Maka, ketiganya wajib dipahami dan dijadikan sebagai sumber spirit di masa kini, demi berjuang menegakkan kembali sistem pemerintahan Islam, yakni Khilafah. Sebab Khilafah inilah sunnah (metode) yang dirintis Nabi saw sebagai Daulah Islamiyah, lalu sunnah ini dilanjutkan para Khulafaur Rasyidin sebagai Khilafah Rasyidah. Inilah relevansi Sabda Nabi saw: “Maka hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk, dan gigitlah sunnah-sunnah itu dengan gigi-gigi gerahammu [peganglah dan amalkan dengan kuat].” (HR. At-Tirmidzi, no 2816). Walhasil, menegakkan kembali Khilafah yang akan menegakkan kembali risalah yang dibawa Rasul, dan menyebarluaskannya ke seluruh dunia, jelas merupakan puncak manifestasi kecintaan kita terhadap Baginda Rasulullah saw, sekaligus menunjukan dalamnya pemahaman kita akan makna Maulid. Sehingga, sungguh aneh jika ada yang mengaku mencintai Nabi SAW, tetapi enggan menegakkan syariah dan enggan pula memperjuangkan negara yang dulu pernah beliau SAW dirikan. Wallâhu a’lam. (Disadur dari buku “Islam Rahmatan Lil Alamin Solusi untuk Indonesia", 2016). https://www.trenopini.com/2022/10/memahami-maulid-nabi-secara-mendalam.html?m=1
34
7
Menurut catatan sejarah, Peringatan Maulid Nabi saw, pertama kali diperkenalkan oleh Abu Said al-Qakburi, Gubernur Irbil, Irak, pada masa pemerintahan Sultan Shalahuddin al-Ayyubi (1138-1193 M). Menurut sumber lain, yang pertama mencetuskan ide Peringatan Maulid Nabi saw, adalah Sultan Shalahuddin al-Ayyubi sendiri. Kala itu bertujuan untuk memperkokoh semangat umat Islam umumnya, khususnya mental tentara Muslim yang lemah dalam menghadapi serangan tentara Salib dari Eropa, yang ingin merebut tanah suci Yerusalem dari tangan kaum Muslim. (Al-Islam, ed. 348, tahun 2007). Inilah sekilas awal mula perayaan Maulid Nabi saw. Selanjutnya, apa sebenarnya yang terjadi pada bulan Rabiul Awwal? Berdasarkan penelusuran historis, sesungguhnya pada bulan Rabiul Awwal telah terjadi tiga peristiwa besar yang patut umat Islam senantiasa mengingatnya. Ketiga peristiwa besar tersebut adalah: *Pertama, Peristiwa Maulid (lahirnya) Nabi SAW* Nabi dilahirkan hari Senin 12 Rabiul Awwal pada tahun Gajah di Makkah (Rawwas Qal’ahji, Sirah Nabawiyah (terj), hal. 15; Ibnul Qayyim, Zadul Ma’ad, I/28). Menurut sebagian ulama, kelahirannya diiringi berbagai keajaiban. Qadhi Iyadh menyebut ada 132 keajaiban. Salah satunya, ketika lahir dan digendong Asy-Syifa Ummu Abdurrahman bin Auf, beliau –Nabi SAW– menangis keras dan berkata kepada Asy-Syifa’: “Rahimakillah” (Semoga Allah merahmatimu). (Asy-Syifa bi Ta’rif Huquq al-Mushtafa, hal. 205). Keistimewaan Nabi SAW yang sangat terasa, adalah beliau memegang dua kedudukan sekaligus, yakni sebagai nabi sekaligus kepala negara. Taqiyuddin an-Nabhani berkata: “Nabi saw dahulu memegang kedudukan kenabian dan kerasulan, dan pada waktu yang sama Nabi saw memegang kedudukan kepemimpinan kaum muslimin dalam menegakkan hukum-hukum Islam.” (Nizham al-Hukm fi al-Islam, hal. 116-117). Hal tersebut didasari keterangan dua tema ayat, yang satu berkaitan dengan tabligh (penyampaian wahyu; QS. Al-Maidah [5]: 67); dan ayat yang lain berkaitan dengan tugas menerapkan hukum yang diturunkan Allah (QS Al-Maidah [5]: 48 dan 49). Tugas kenabian memang berakhir dengan wafatnya Nabi saw, akan tetapi tugas kepemimpinan negara tak berakhir, melainkan diteruskan oleh para khalifah sebagai kepala negara Khilafah sepeninggal Nabi saw. “Dahulu Bani Israil diatur segala urusannya oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi wafat, dia digantikan nabi lainnya. Dan sesungguhnya tak ada lagi nabi sesudahku, yang ada adalah para khalifah dan jumlah mereka akan banyak…” (HR Muslim, no 1842). *Kedua, Hijrahnya Nabi SAW* Menurut M. Shiddiq al-Jawi, bulan Muharram memang patokan awal perhitungan tahun Hijriyah. Tapi hijrahnya sendiri bukan pada bulan Muharram, melainkan bulan Rabiul Awwal. Beliau saw mulai berhijrah meninggalkan Gua Tsur malam Senin, tanggal 1 Rabiul Awwal tahun I Hijriyah (16 September 622 M). Nabi saw sampai di Quba’ hari Senin, 8 Rabiul Awwal tahun 1 H (23 September 622 M), lalu berdiam di sana selama empat hari: Senin, Selasa, Rabu, dan Kamis. Beliau lalu memasuki Madinah hari Jumat, 12 Rabiul Awwal tahun 1 H. (Shafiyurrahman Mubarakfuri, Sirah Nabawiyah (terj), hal. 232-233; Ahmad Ratib Armusy, Qiyadah ar-Rasul, hal. 40). Berdasarkan itu, tanggal 12 Rabiul Awwal adalah sampainya Nabi di Madinah. Ini menandai berdirinya Daulah Islamiyah. (Taqiyuddin an-Nabhani, Ad-Daulah al-Islamiyah, hal. 48). Sebelum hijrah, terjadi peristiwa Baiat Aqabah II di Makkah antara Nabi saw dan Suku Auz dan Khrazraj dari Madinah. Baiat ini adalah akad pendirian Daulah Islamiyah, antara Nabi saw dan Suku Aus dan Khazraj. (Al-Marakbi, al-Khilafah al-Islamiyah Baina Nuzhum al-Hukm al-Muashirah, hal. 16). Jadi dengan baiat itu, secara hukum, Nabi saw sudah menjadi kepala negara di Madinah. Tapi secara fakta (de facto) kepemimpinan ini baru efektif sesudah Baginda tiba di Madinah.
15
8
*Memahami Maulid Nabi Secara Mendalam* Umat Islam di Indonesia setiap tanggal 12 Rabiul Awwal senantiasa memperingati Maulid Nabi Muhammad saw, hari kelahiran beliau. Perayaan Maulid Nabi merupakan perwujudan rasa penghormatan yang begitu tinggi terhadap sosok Rasulullah saw tersebut. Baginda saw merupakan manusia yang paling istimewa di bumi ini, tidak hanya muslim, bahkan non muslim pun mengakuinya. Michael H. Heart, Profesor astronomi, fisika dan sejarah sains, dalam bukunya The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History (New York: 1978, hal. 33), dia menulis: “My choice of Muhammad to lead the list of the world’s most influential persons may surprise some readers and may be questioned by others, but he was the only man in history who was supremely successful on both the religious and secular level.” (Saya memilih Nabi Muhammad sebagai urutan pertama tokoh yang paling berpengaruh di dunia mungkin mengejutkan sebagian pembaca dan mungkin dipertanyakan oleh yang lainnya. Tapi memang hanya dialah Nabi Muhammad satu-satunya manusia dalam sejarah yang berhasil meraih kesuksesan luar biasa, baik dari ukuran agama maupun ruang lingkup dunia). William Montgomery Watt (1909-2006), Profesor (emeritus) Studi Bahasa Arab dan Islam University of Edinburgh, dalam bukunya Mohammad At Mecca (Oxford: 1953, hal. 52), menulis: “His readiness to undergo persecutions for his beliefs, the high moral character of the men who believed in him and looked up to him as leader, and the greatness of his ultimate achievement –all argue his fundamental integrity…” (Kerelaannya dalam mengalami penganiayaan demi keyakinan, ketinggian akhlak orang-orang yang mempercayai dan menghormatinya sebagai pemimpin, dan kegemilangan prestasi puncaknya –semua itu membuktikan ketulusan hatinya yang sempurna..). John William Draper (1811-1882), Ilmuwan, filosof, dan sejarawan Amerika, dalam bukunya A History of the Intellectual Development of Europe (London: 1875, vol. 1, hal. 329-330): “Four year after the death of Justinian, A.D. 569, was born at Mecca, in Arabia the man who, of all men exercised the greatest influence upon the human race.. Mohammed..” (Empat tahun setelah runtuhnya kekaisaran Roma Timur (Kaisar Justin), tahun 569 Masehi, di kota Makkah jazirah Arab, lahirlah manusia yang di antara seluruh manusia telah memberikan pengaruh amat besar bagi umat manusia.. Muhammad). George Bernard Shaw dalam The Genuine Islam (1936: Vol. 1, No. 8. www. the Muslim times. org): “I believe that if a man like him were to assume the dictatorship of the modern world he would succeed in solving its problems in a way that would bring it the much needed peace and happiness: I have prophesied about the faith of Muhammad that it would be acceptable to the Europe of tomorrow as it is beginning to be acceptable to the Europe of today.” (Saya yakin, apabila orang semisal Muhammad memegang kekuasaan tunggal di dunia modern ini, beliau akan berhasil mengatasi segala macam permasalahan, hingga membawa kedamaian dan kebahagiaan yang dibutuhkan dunia: Ramalanku, keyakinan yang dibawanya akan diterima Eropa di masa datang dan memang ia telah mulai diterima Eropa saat ini). Demikianlah beberapa pernyataan para intelektual Barat tentang Nabi Muhammad SAW. Namun jika kita kembali berbicara tentang perayaan Maulid Nabi saw –terlepas dari sikap kontra sebagian kalangan terhadap kegiatan Peringatan Maulid Nabi saw; penulis mencermati bahwa Maulid masih terkesan seremonial belaka dan setengah-setengah. Karena itu, tulisan ini mencoba untuk memaknai Maulid Nabi saw secara mendalam, sehingga umat Islam mampu membawa semangat Maulid Nabi saw dalam konteks dunia modern dan mampu mewujudkan cinta hakiki terhadap Rasul saw secara benar. *Sekilas Sejarah dan Berbagai Peristiwa Besar*
18
9
Tidak merayakan hari kemerdekaan bukan berarti seseorang membenci Indonesia. Tidak memasang atribut 17 Agustus bukan otomatis berarti seseorang melupakan pengorbanan orang-orang yang telah berjuang melawan penjajahan. Bahkan, seseorang dapat saja mengenang jasa para pahlawan dengan cara yang jauh lebih substantif: mempertanyakan apakah cita-cita perjuangan mereka benar-benar telah diwujudkan. Sebab para pahlawan tidak berjuang agar generasi berikutnya hanya mewarisi sebuah seremoni. Mereka tidak mengorbankan harta, darah, dan nyawa agar setiap tahun rakyat sekadar mengikuti upacara, memasang bendera, menyanyikan lagu kebangsaan, lalu kembali menjalani kehidupan yang penuh ketidakadilan Maka, ketika seseorang berkata, “Tahun ini saya tidak ikut merayakan 17 Agustus karena saya kecewa dengan keadaan negeri,” pernyataan itu semestinya tidak langsung dibalas dengan tuduhan negatif. Bisa jadi ia sedang menyampaikan kritik bahwa kemerdekaan secara formal belum identik dengan kemerdekaan yang substantif Dalam perspektif Islam, persoalan ini bahkan harus ditempatkan pada kerangka yang lebih mendasar. Islam tidak menjadikan simbol kebangsaan sebagai ukuran tertinggi dalam menilai kehidupan. Ukuran kebenaran adalah wahyu Allah SWT. Allah berfirman: “Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah.” (QS Yusuf: 40) Karena itu, seorang Muslim tidak cukup bertanya apakah negeri ini telah merdeka dari penjajahan asing. Ia juga harus bertanya: Apakah kehidupan masyarakat telah diatur dengan hukum Allah? Apakah kekayaan dikelola untuk kemaslahatan rakyat? Apakah kezaliman diberantas? Apakah penguasa menjalankan amanah sebagai pelayan umat? Jika jawabannya belum, maka persoalannya jauh lebih dalam daripada sekadar ada atau tidak adanya perayaan 17 Agustus Kemerdekaan tidak boleh direduksi menjadi pesta. Sebab ketika rakyat yang kecewa terhadap kondisi negeri justru diminta menutup mata selama sehari, memasang bendera, mengikuti perlombaan, dan melupakan berbagai persoalan yang mereka hadapi, maka perayaan dapat berubah menjadi sekadar ritual yang menenangkan kesadaran publik mustanir.net/tidak-merayakan #17Agustus #HariKemerdekaan #KemerdekaanIndonesia #IndonesiaBertauhid #NKRI
31
10
Dengan demikian, seorang muslim yang beriman tidak akan meninggalkan syariat yang dibawa oleh Nabinya hanya demi mengikuti pendapat dan ajaran Barat tentang sekularisme, apalagi menyerukan untuk menerapkan nilai-nilai saja. Tidak cukup dengan sekadar islami, melainkan harus menerapkan Islam secara kafah. Wallahualam. [MNews/GZ] *** Baca artikel lainnya di Fp Muslimah News Like & Follow https://facebook.com/muslimahnews
36
11
Pemikiran seperti inilah yang melandasi pernyataan tokoh-tokoh Islam yang telah “tersibgah” (tercelup, ed.) pemahaman filsafat Barat untuk mencukupkan penerapan Islam hanya pada level nilai-nilai dan kemudian menganggapnya sudah islami. Terkait hal ini, pengamalan nilai-nilai agama dengan meninggalkan bentuk formalnya, yaitu syariat, pada hakikatnya ialah bentuk sekularisasi. Syed Muhammad Naquib al-Attas (1978) dalam Islam and Secularism menjelaskan bahwa sekularisasi ialah memisahkan makna agama dari struktur hukumnya sehingga agama akhirnya hanya dipahami sebagai sumber etika. Beliau mengatakan, “Islam is not merely a system of ethical values but a complete way of life.” Islam bukan sekadar sistem nilai etika, melainkan merupakan sebuah cara hidup yang menyeluruh. Mengambil sebatas nilai, lantas menyingkirkan syariat, berarti menjauhkan agama dari pengaturan kehidupan. Inilah yang dilakukan negara-negara sekuler di Barat. Mereka mengambil nilai kejujuran dan menghukum para pejabat yang korupsi. Mereka mengambil nilai kemanusiaan dan menetapkan hukuman pada para pembunuh dan pelaku tindak kriminal. Sama halnya dengan kita dan kita pun menyebutnya “islami”. Akan tetapi, apakah negara-negara Barat itu mengeklaim mereka negara islami dan bukan negara sekuler? Nyatanya tidak! Prancis, AS, Inggris, dan negara-negara Barat lain justru dengan bangga memproklamasikan diri sebagai negara sekuler dan berjuang mempertahankan sekularisme. Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa pernyataan “bukan negara agama, tetapi bukan negara sekuler” ialah jargon belaka. Justru mengambil agama hanya sebatas nilai, lantas menyingkirkan syariat, ialah bentuk sekularisme, yaitu meninggalkan agama dalam pengaturan kehidupan dan mengurungnya dalam ruang-ruang privat. ––– Taat Syariat ialah Manifestasi Iman ––– Dalam Islam, keimanan kepada Allah bukan hanya mengakui-Nya sebagai satu-satunya Yang Mutlak, Yang Tidak Terbatas, dan Maha Sempurna. Pengakuan terhadap-Nya juga harus diikuti pengakuan untuk tidak menyekutukan-Nya, serta tunduk kepada-Nya dengan cara, metode, jalan, dan bentuk yang ditunjukkan-Nya melalui para rasul-Nya. Mengakui Allah, tetapi mengingkari cara, metode, jalan, dan bentuk yang Allah ajarkan melalui Nabi-Nya ialah bentuk kekafiran. Orang seperti ini tidak benar-benar berserah diri kepada-Nya. Buktinya, iblis juga percaya pada Allah dan mengakui-Nya sebagai Sang Pencipta alam semesta, tetapi di dalam Al-Qur’an ia tetap disebut “kafir” karena pengingkaran kepada perintah-Nya. Alhasil, memahami dan mengakui Allah sebagai Tuhan harus dengan mengikuti perintah, bentuk, cara, dan jalan-Nya, yaitu syariat yang kebenarannya tidak boleh diragukan. Allah Swt. menegaskan dalam QS An-Nisa ayat 65, فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا “Demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga bertahkim kepadamu (Nabi Muhammad) dalam perkara yang diperselisihkan di antara mereka. Kemudian, tidak ada keberatan dalam diri mereka terhadap putusan yang engkau berikan dan mereka terima dengan sepenuhnya.” Ath-Thabari dalam kitab tafsirnya, Jāmiʿ al-Bayān ʿan Taʾwīl Āy al-Qurʾān, mengartikan وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا (wa yusallimuu tasliimaa) sebagai ‘mereka tunduk kepada keputusanmu dengan ketundukan yang sempurna, patuh sepenuhnya, dan tidak menolaknya sedikit pun’.Dari penjelasan Imam Ath-Thabari ini bisa disimpulkan tiga syarat kesempurnaan iman, yakni menjadikan Rasul sebagai hakim, tidak merasa keberatan terhadap keputusan beliau, dan tunduk sepenuhnya kepada keputusan tersebut. Syariat Islam ialah apa saja yang dibawa dan diputuskan oleh Rasulullah ﷺ untuk diterapkan. Penolakan terhadap syariat berarti menolak apa saja yang Rasulullah ﷺ tetapkan. Hal ini berkonsekuensi meniadakan kesempurnaan iman pada diri seorang muslim.
34
12
lafaz “kaaffah” menurut beliau menunjukkan ‘mencakup seluruh syariat’, bukan memilih sebagian lalu meninggalkan sebagian lainnya. Syariat agama juga bukan hanya salat, zakat, saum, haji, nikah, talak, dan jilbab, yang mana saat ini bisa diamalkan leluasa di Indonesia, melainkan juga mencakup aturan lainnya. Ada sistem ekonomi yang mengatur haramnya riba, larangan menimbun harta, monopoli, dan sebagainya. Sistem sosial mengatur interaksi laki-laki dan perempuan dalam masyarakat. Sistem politik dan pemerintahan mengatur cara memilih penguasa dan wajibnya taat pada penguasa yang menerapkan syariat. Begitu juga sistem sanksi, mengatur hukuman atas berbagai pelanggaran ketentuan agama. Masuk Islam secara kafah berarti menjalankan semua syariat tersebut, bukan hanya mengambil sebagian dan meninggalkan sebagiannya. Allah Swt. mengancam perbuatan semacam ini dalam firman-Nya di QS Al-Baqarah ayat 85, أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ ٱلْكِتَٰبِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ ۚ فَمَا جَزَآءُ مَن يَفْعَلُ ذَٰلِكَ مِنكُمْ إِلَّا خِزْىٌ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَيَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ يُرَدُّونَ إِلَىٰٓ أَشَدِّ ٱلْعَذَابِ ۗ وَمَا ٱللَّهُ بِغَٰفِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ “… Apakah kamu beriman pada sebagian Kitab (Taurat) dan ingkar pada sebagian (yang lain)? Maka, tidak ada balasan (yang pantas) bagi orang yang berbuat demikian di antaramu, selain kenistaan dalam kehidupan dunia dan pada Hari Kiamat mereka dikembalikan pada azab yang paling berat. Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan.” Allah Swt. menurunkan Al-Qur’an yang merupakan sumber dari mabda Islam agar menjadi rahmat bagi manusia. Rahmat yang terkandung dalam Al-Qur’an itu hanya akan terwujud jika seruan-seruannya dipenuhi oleh manusia dan hukum-hukumnya diterapkan. Inilah yang akan mendatangkan keberkahan bagi kehidupan manusia. Firman-Nya dalam QS Al-An‘am [6] ayat 155, وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ “(Al-Qur’an) ini adalah Kitab yang Kami turunkan lagi diberkahi. Maka, ikutilah dan bertakwalah agar kamu dirahmati.” Imam Al-Alusi menjelaskan, Al-Qur’an disifati dengan mubârak (yang diberkati) karena mengandung banyak kebaikan di dalamnya—untuk kepentingan agama maupun dunia. Adapun frasa fattabi‘ûhu, maknanya ialah fa‘malû bimâ fîhi (karena itu amalkanlah semua hal yang terkandung di dalam Al-Qur’an itu). (Al-Alusi, Ruh al-Ma’ani, 6/77). ––– Pengamalan Nilai Saja Merupakan Bentuk Sekularisasi ––– Munculnya ide untuk menerapkan Islam sekadar nilai-nilainya ialah buah dari pengadopsian pemikiran filsafat yang kita sebut perenialisme, satu pemikiran yang tidak terpisahkan dari sekularisme. Inti dari filsafat perenialisme bertolak pada pembagian dua dimensi agama, yaitu esoterik (batin) dan eksoterik (lahir). Bagi pendukung teori ini, dimensi esoterik dianggap lebih tinggi dibandingkan dimensi eksoterik. Dalam perspektif filsafat perenial, dimensi esoterik dipandang sebagai wilayah kebenaran metafisik yang bersifat universal dan absolut. Sementara itu, dimensi eksoterik merupakan manifestasi historis dan formal dari agama-agama sehingga bentuknya relatif, meskipun berasal dari sumber wahyu yang sama. (Frithjof Schuon, 1989, The Transcendent Unity of Religions). Dari pemahaman ini, nilai-nilai yang bersifat universal masuk ke dalam dimensi esoterik, dianggap merupakan nilai-nilai yang ditetapkan Tuhan sehingga kebenarannya bersifat absolut. Contohnya ialah persamaan, keadilan, toleransi, keseimbangan, dan kemaslahatan. Sedangkan syariat, tersebab masuk ke dalam ranah eksoterik, kebenarannya tidak dianggap mutlak. Syariat dianggap sekadar pencerminan dari nilai-nilai pada ranah esoterik. Sebagai dimensi eksoterik, kebenaran syariat harus direlatifkan agar agama-agama yang ada bisa hidup berdampingan secara damai. Walhasil, dalam kehidupan bernegara saat ini, suatu agama hanya boleh diambil nilai-nilainya karena dianggap bersifat sama untuk semua agama. Sedangkan syariatnya tidak boleh diambil karena tiap agama berbeda-beda dan hal ini dianggap berpotensi menimbulkan konflik.
14
13
Mantan Menko Polhukam Mahfud MD menegaskan bahwa Indonesia bukan negara Islam, melainkan negara islami yang dibangun di atas nilai-nilai Islam serta kesepakatan para pendiri bangsa. Dalam pandangannya, substansi jauh lebih penting dibandingkan simbol formal. Tepatkah pandangannya tersebut? #Tsaqafah #Politik ––– Pernyataan "Indonesia Negara Islami", Cukupkah Hanya dengan Menerapkan Nilai? https://muslimahnews.net/2026/08/06/42770/ ––– Penulis: Arini Retnaningsih, S.P. Muslimah News, TSAQAFAH — Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD menegaskan bahwa Indonesia bukan negara Islam, melainkan negara islami yang dibangun di atas nilai-nilai Islam serta kesepakatan para pendiri bangsa. Pernyataan itu ia sampaikan saat menjadi pembicara dalam Sidang Pleno XV Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) bertema “Masyarakat Madani (Civil Society) di Tengah Dinamika Kehidupan Nasional Dewasa Ini” di Hotel Bidakara, Jakarta, Sabtu (25-7-2026). Ia menjelaskan bahwa istilah “Islam” dan “islami” memiliki makna yang berbeda. Menurutnya, “Islam” merujuk pada nama atau simbol, sedangkan “islami” menggambarkan sifat dan nilai yang terkandung dalam ajaran agama. Oleh karenanya, ia menilai bentuk NKRI telah sejalan dengan nilai-nilai luhur Islam tanpa harus menggunakan label “negara Islam”. Dalam pandangannya, substansi jauh lebih penting dibandingkan simbol formal. (Republika, 26-6-2026). ––– Cukupkah Sekadar Pengamalan Nilai Islam? ––– Sejatinya, ada perbedaan mendasar antara Islam dan agama lainnya. Kalau agama selain Islam diambil hanya nilai-nilai ajarannya, tidak menjadi masalah karena memang agama-agama tersebut tidak memiliki syariat yang mengatur seluruh aspek kehidupan. Sedangkan Islam, ia merupakan suatu mabda (ideologi), yaitu pemikiran mendasar dan menyeluruh yang melahirkan aturan-aturan kehidupan sesuai pemikiran tersebut. Juga terdapat perbedaan yang jelas antara nilai dan aturan. Ahmed Akgunduz (2010), seorang Profesor Hukum Islam di Universitas Rotterdam, menerangkan bahwa Islam memiliki dua dimensi yang saling berkaitan, yakni values (nilai-nilai), merupakan tujuan moral seperti keadilan, perlindungan jiwa, agama, harta, akal, dan keturunan; serta norms (aturan/hukum), yaitu aturan syariat yang dibuat untuk menjaga nilai-nilai tersebut. Beliau menegaskan bahwa syariat tidak hanya berisi nilai moral, melainkan juga seperangkat norma hukum yang merealisasikan nilai tersebut. (The Values and Norms of Islam, The Journal of Rotterdam Islamic and Social Sciences). Sementara itu, Imam Asy-Syathibi—yang dijadikan rujukan dalam pembahasan maqashid syariah—menegaskan bahwa maqashid syariah (yaitu maslahat) adalah tujuan, sedangkan syariat adalah perangkat yang Allah tetapkan untuk mewujudkan maslahat. Beliau menuliskan, “Penetapan syariat-syariat itu tidak lain ialah untuk mewujudkan kemaslahatan hamba di dunia dan di akhirat.” (Kitab Al-Maqashid, Jilid 2, Dar Ibn ‘Affan, hlm. 8–9). Dengan demikian, nilai atau tujuan ialah hasil dari penerapan aturan Islam. Pemahaman ini tidak boleh dibalik, yang ketika nilai atau tujuan telah tercapai, syariat tidak lagi diperlukan, karena sesungguhnya ini merupakan mutilasi terhadap ajaran Islam. Misalnya, apakah karena tujuan kita salat dan berdoa ialah untuk mengingat Allah, lantas kita boleh mengingat Allah dan berdoa tanpa melakukan salat? Kemudian, menerapkan Islam sebatas sifat dan nilai ajarannya saja sesungguhnya bertentangan dengan apa yang Allah Swt. perintahkan dalam QS Al-Baqarah ayat 208, يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱدْخُلُوا۟ فِى ٱلسِّلْمِ كَآفَّةً “Wahai orang-orang yang beriman masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan…” Imam Ath-Thabari dalam kitab tafsirnya, Jāmiʿ al-Bayān ʿan Taʾwīl Āy al-Qurʾān, mengatakan bahwa pendapat yang paling benar ialah pendapat yang mengatakan bahwa makna ayat ini adalah, “Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, masuklah kalian ke dalam seluruh syariat Islam, jangan meninggalkan sedikit pun darinya, dan amalkan seluruh ajarannya.”Beliau memilih tafsir ini karena
20
14
*Hidup di Jalan Allah Kunci Segala Kebaikan* قال رسول الله ﷺ: «مَن كانتِ الآخرةُ هَمَّهُ جعلَ اللَّهُ غِناهُ في قلبِهِ وجمعَ لَه شملَهُ وأتَتْهُ الدُّنيا وَهيَ راغمةٌ، ومَن كانتِ الدُّنيا هَمَّهُ جعلَ اللَّهُ فقرَهُ بينَ عينَيْهِ وفرَّقَ عليهِ شملَهُ، ولم يأتِهِ منَ الدُّنيا إلَّا ما قُدِّرَ لَهُ *Rasulullah ﷺ bersabda*: "Barangsiapa yang menjadikan akhirat sebagai tujuan utamanya, Allah akan menanamkan kekayaannya di dalam hati, menyatukan urusannya, dan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan hina. Barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai tujuan utamanya, Allah akan menanamkan kefakirannya di depan matanya, mencerai-beraikan urusannya, dan ia tidak akan memperoleh dari dunia kecuali apa yang telah ditetapkan baginya." (HR. At-Tirmidzi) Nabi ﷺ dalam hadis ini meletakkan sebuah pedoman agung terkait fokus utama seorang hamba ketika menjalani kehidupan. Beliau menjelaskan bagaimana niat dan perhatian seseorang hamba akan tercermin pada kondisi batin maupun keadaan lahiriah, baik secara psikologis maupun fisik-materi. Dalam hadits ini, manusia terbagi menjadi dua golongan: *Pertama*: Orang yang menjadikan akhirat sebagai tujuan utamanya (pemilik cita-cita yang tinggi). Dialah yang menjadikan ridha Allah dan negeri akhirat sebagai tujuan mendasar dalam setiap perbuatan dan tingkah lakunya. Allah menganugerahkan kepadanya tiga hal: (1) Menanamkan kekayaan di dalam hatinya: diberi ketenangan, rasa cukup, dan puas dengan apa yang dimilikinya. Hidup bergantung kepada Allah, tidak menoleh kepada apa yang ada pada orang lain, dan tidak tamak terhadapnya. (2) Allah menyatukan urusannya: segala perkara yang tercerai-berai dikumpulkan, sehingga ia merasakan ketenteraman jiwa, kestabilan batin, dan kemudahan dalam urusa n hidupnya. (3) Dunia datang kepadanya dalam keadaan hina: dunia tunduk dan mengikuti, rezeki yang telah ditetapkan Allah akan datang kepadanya tanpa ia harus merendahkan diri untuk mengejarnya, selama ia tetap mengambil sebab-sebab yang halal. *Kedua*: Orang yang menjadikan dunia sebagai tujuan utamanya (pemilik orientasi duniawi). Dialah yang mengerahkan seluruh pikiran dan tenaganya hanya untuk mengumpulkan harta dunia, mengikuti hawa nafsu, dan mengejar gemerlapnya. Konsekuensi dari arah hidup seperti ini tampak dalam tiga hal yang berlawanan dengan golongan pertama: (1) Allah menanamkan kefakiran di depan matanya: Allah menumbuhkan rasa takut miskin dan kebutuhan dalam hatinya, sehingga tetap serakah dan kalah secara batin. Selalu melihat bayangan kefakiran di hadapannya, meskipun ia termasuk orang kaya. (2) Allah mencerai-beraikan urusannya: segala urusannya menjadi kacau, diliputi kegelisahan dan kesedihan, sehingga tidak pernah merasakan ketenangan dan kestabilan hidup. (3) Tidak memperoleh dari dunia kecuali apa yang telah ditetapkan: meski berlari, bersusah payah, dan menguras pikiran, ia tidak akan mampu mendapatkan lebih dari apa yang sudah ditentukan Allah untuknya. *Kesimpulan* Hadits ini bukanlah ajakan untuk meninggalkan usaha dunia, melainkan seruan membebaskan hati dari keterikatannya. Dunia seharusnya berada di tangan kita untuk melayani agama dan akhirat, bukan menguasai hati hingga menjerat pikiran. Tiada amal yang lebih agung setelah iman kepada Allah selain berjuang menegakkan syariat-Nya, agar hukum-Nya berkuasa dan kalimat-Nya senantiasa tinggi. إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِمَن كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya." (QS. Qaf [50]: 37) Ustadz Abdurrahman ‘Umar Maktab I’lami Wilayah Suriah
30
15
Jauh sebelum masa boikot yang brutal ini terjadi, Allah sebenarnya sudah memberikan "bocoran" balasan dari langit untuk wanita mulia tersebut. Allah mengutus Malaikat Jibril untuk turun ke bumi membawa sebuah pesan khusus. Jibril menemui Rasulullah dan menyampaikan salam dari Allah. "Sampaikan salam kepadanya dari Tuhannya (yaitu Allah) dan dari diriku, dan berikan kabar gembira kepadanya tentang sebuah istana dari Qasab di Surga, di mana tidak ada suara gaduh dan tidak ada kelelahan (kesulitan)." Dan di dalam tenda pengasingan inilah, makna dari janji tersebut menemukan pembuktian terbesarnya. Allah menghadiahkannya istana surga tanpa keributan dan keletihan, justru karena wanita ini menghabiskan sisa umurnya menelan rasa letih tanpa pernah membuat keributan (mengeluh) di hadapan suaminya. Sebuah ketabahan diam-diam yang kelak membuat Rasulullah menangisi kepergiannya hingga tahun itu dinamakan 'Amul Huzni (Tahun Kesedihan). Sahabat, mungkin hari ini kamu dan pasanganmu sedang berada di titik terendah. Saldo tabungan menipis, usaha berantakan, atau ada tagihan yang mencekik. Rasa lelah berjuang di fase sulit rumah tangga ini sering kali membuat dada sesak. Terkadang muncul rasa bersalah karena merasa belum bisa membahagiakan pasangan. Kisah ini menata ulang ekspektasi kita. Dukungan terbaik untuk pasangan ternyata bukan selalu tentang uang atau jalan keluar yang instan. Terkadang, wujud cinta paling heroik adalah saat kita memilih untuk menahan ego, meredam keluhan, dan menyunggingkan senyum di tengah badai. Sebuah ketenangan yang menjaga kewarasan pasangan kita agar tidak hancur. Yakinlah, Allah mencatat teliti setiap air mata yang kamu tahan demi menjaga senyum pasanganmu. Ujian ini hanyalah sementara. Tetaplah saling menguatkan! Allah tidak akan membiarkan dua tangan yang saling menggenggam dalam ketaatan, hancur oleh kerasnya penderitaan. *Sumber:* Shahih Bukhari No. 3820, Sirah Ibnu Hisyam
46
16
Bangsawan Terkaya Makkah Ini Rela Makan Daun Kering Demi Menjaga Senyum Suaminya Lembah Abu Thalib terbakar panas matahari Makkah. Angin kering membawa debu pekat, menebas tenda-tenda usang yang mulai robek. Di sinilah umat Islam dikurung dan diboikot total oleh Kaum Quraisy. Tidak ada makanan yang boleh masuk, tidak ada transaksi jual beli yang diizinkan. Teriakan bayi-bayi yang kelaparan menggema memecah keheningan malam, menyayat hati siapa saja yang mendengarnya. Di sudut salah satu kemah terpal yang gelap, duduklah seorang wanita tua dengan tubuh yang mulai ringkih. Ia adalah Sayyidah Khadijah radhiyallahu 'anha. Wanita yang dulunya merupakan ratu bisnis dan konglomerat terkaya di seluruh jazirah Arab. Namun hari itu, seluruh hartanya telah habis tak bersisa demi mendanai dakwah agama Allah. Lapar yang teramat sangat mulai menggerogoti dinding lambungnya. Perutnya terasa melilit perih tak tertahankan. Untuk sekadar mengganjal rasa perih itu, ia terpaksa mengunyah dedaunan kering dan merebus kulit unta yang sudah mengeras. Keringat dingin sebesar biji jagung mengucur deras dari keningnya. Bibirnya pucat pasi menahan penderitaan fisik yang sangat ekstrem. Tubuhnya menggigil hebat. Secara manusiawi, ia berhak untuk meratap atau sekadar mengeluh tentang kondisinya yang memprihatinkan. Namun tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki yang sangat ia kenal mendekati tirai kemahnya. Itu adalah langkah suaminya tercinta, Rasulullah, yang baru saja pulang setelah seharian dihina dan diusir oleh kaum Quraisy. Mendengar suaminya tiba, Sayyidah Khadijah langsung menegakkan posisi duduknya. Tangan gemetarnya buru-buru menyeka keringat dingin di dahi. Ia merapikan pakaiannya yang lusuh dan menarik napas dalam-dalam untuk menyembunyikan rasa perih di lambungnya. Saat Rasulullah membuka tirai kemah, sebuah keajaiban cinta terjadi. Wanita yang sedang sekarat kelaparan itu menyambut sang suami dengan senyuman yang paling hangat dan menenangkan. Tidak ada raut penderitaan di wajahnya. Tidak ada satu pun keluhan yang keluar dari lisannya tentang dedaunan kering yang baru ia telan. Matanya memancarkan keteduhan, seolah-olah lembah pengasingan itu adalah istana termewah di dunia. Sayyidah Khadijah melakukan penderitaan diam-diam ini bukan tanpa alasan. Ia sangat cerdas dalam memahami beban psikologis pasangannya. Ia tahu betul bahwa dada Rasulullah sudah terlalu sesak menanggung cacian, penolakan, dan ancaman pembunuhan dari luar sana. Ia menolak membebani suaminya dengan keluhan kelaparan. Jika ia menangis, hati Rasulullah pasti akan hancur lebur merasa bersalah karena belum bisa memberikan kehidupan yang layak. Maka ia memilih menelan rasa sakitnya sendirian. Ia menjadikan dirinya sebagai pelabuhan paling aman agar suaminya bisa bersandar tenang. Pengorbanan tak bersuara inilah yang akhirnya menarik perhatian langsung dari Sang Pencipta semesta.
42
17
+3
بدون متن...
38
18
+9
بدون متن...
36
19
Ketika Euforia Dunia Mengalahkan Realitas Akhirat.pptx
35
20
*Kematiannya Membuat 'Arsy Allah Berguncang Padahal Ia Hanya Manusia Biasa* Di tengah Perang Khandaq, ribuan pasukan musuh mengepung Madinah. Sebuah anak panah melesat tajam, menghujam lengan Sa’d bin Mu’adz dan memutus urat nadinya. Darah mengalir deras membasahi tanah parit, namun ia tidak menjerit. Ia menengadah ke langit, membisikkan doa yang ganjil. “Ya Allah, jika masih ada sisa perang melawan kaum yang mendustakan Rasul-Mu, sisakan nyawaku untuk berjuang bersama mereka. Tapi jika Engkau telah mengakhiri perang ini, maka jadikan luka inilah jalan kematianku menuju-Mu.” Sa’d bukan orang lemah yang putus asa. Ia pemimpin Suku Aus, pilar kekuatan Madinah. Tubuhnya tinggi besar, wibawanya disegani kawan dan ditakuti lawan. Orang seperti ini biasanya berdoa meminta panjang umur dan kemenangan, tapi Sa’d justru meminta kematian di jalan yang dicintai Tuhannya. Ia dirawat di tenda milik Rufaidah, perawat wanita pertama dalam Islam. Tenda itu dipasang di dalam masjid agar Nabi mudah menjenguknya. Di tengah tubuh yang melemah, ketulusannya justru bersinar. Ia tidak mengeluh, hanya bertanya dalam hati: “Apakah perjuanganku sudah cukup di mata Allah?” Lalu datang ujian terakhir. Bani Quraizhah, sekutu Madinah yang berkhianat, akhirnya menyerah dan meminta dihukumi olehnya. Sa’d yang sekarat dipapah di atas keledai untuk menjatuhkan keputusan. Tubuhnya lemah, tapi keadilannya tidak. Ia menjatuhkan vonis tegas dan adil tanpa condong pada siapa pun. Rasulullah ﷺ bersabda, “Sungguh engkau telah memutuskan perkara mereka dengan hukum Allah dari atas tujuh langit.” Sebuah pujian langit untuk keputusan seorang manusia. Tugas besarnya di dunia kini tuntas. Setelah misinya selesai, Sa’d menengadah dengan doa terakhirnya: “Ya Allah, jika masih tersisa perang dengan kaum itu, hidupkanlah aku untuknya. Tapi jika tidak, maka pertemukanlah aku dengan-Mu.” Seketika luka yang sempat mengering kembali terbuka, darahnya mengalir untuk terakhir kali. Sa’d bin Mu’adz menghembuskan napas terakhirnya. Di mata manusia, seorang pemimpin telah tiada. Tapi di langit yang tak terlihat mata, sesuatu yang luar biasa terjadi. Rasulullah ﷺ mengabarkan hal yang belum pernah beliau katakan untuk siapa pun. Beliau bersabda, “Arsy Sang Maha Pengasih bergetar karena kematian Sa’d bin Mu’adz.” Singgasana teragung di seluruh semesta ikut bergetar, bukan karena runtuhnya seorang raja, tapi karena perginya satu hamba yang tulus. Bayangkan, Langit tidak bergetar untuk penguasa yang namanya diukir di istana, atau orang paling kaya di zamannya. Langit bergetar untuk seorang lelaki yang seluruh hidupnya hanya ingin diterima oleh Allah. Di situlah letak kemuliaan sejati. Kita sering menghabiskan begitu banyak energi mengejar pengakuan manusia—berapa yang menyukai postingan kita, berapa banyak pengikut kita, seberapa ramai kita disanjung. Tapi semua tepuk tangan itu berhenti di tepi liang lahat. Kehormatan sejati bukan dari riuhnya dunia, tapi dari reaksi langit atas ketulusan yang dijaga diam-diam. Yang melihatmu saat tak ada siapa-siapa, yang mencatat sujud dan air matamu yang tak terlihat manusia, hanyalah Allah. Satu pandangan ridho dari-Nya lebih berharga dari seluruh pengakuan dunia. Berhentilah mengemis agar dilihat manusia—pastikan saja penduduk langit mengenal namamu. (Sumber: Shahih Bukhari No. 3803, 3043 & Shahih Muslim No. 2466, 1768; Daily Sirah).
44