Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mensyariatkan ibadah kurban sebagai bentuk taqarrub (pendekatan diri) kepada-Nya. Daging dan darah hewan kurban itu tidak akan sampai kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan, keikhlasan, dan tauhid kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata.
Ikhwatal Islam, setelah hari Nahr (10 Zulhijah), terdapat tiga hari yang disebut dengan hari-hari Tasyrik, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 Zulhijah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرٍ لِلَّهِ
“Hari-hari tasyrik adalah hari makan, minum, dan berzikir kepada Allah.” (HR. Muslim)
Maka diharamkan berpuasa sunnah pada hari-hari tasyrik. Karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan bahwa hari-hari tasyrik adalah hari-hari makan dan minum serta disyariatkan untuk memperbanyak zikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di mana saja dan kapan saja, baik sebelum shalat maupun setelahnya, dianjurkan untuk memperbanyak zikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Saat berjalan, duduk, atau berbaring, diperintahkan untuk banyak berzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, bertakbir, dan membesarkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Adapun mengkhususkan takbir hanya setelah shalat, sementara di waktu dan tempat lain tidak melakukannya selama hari-hari tasyrik, maka hal tersebut bukanlah amalan yang dilakukan oleh salafus shalih. Karena yang mereka lakukan dahulu adalah bertakbir di mana saja dan kapan saja selama hari-hari tasyrik. Membesarkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dapat dilakukan dengan mengucapkan:
اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Membesarkan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak hanya dengan lisan, tetapi juga dengan hati. Kita mengagungkan Allah Subhanahu wa Ta’ala setinggi-tingginya, hingga tidak ada sesuatu pun yang lebih besar di dalam hati kita selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang paling agung di hati kita (seorang mukmin). Ketika itu, kita benar-benar mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menjauhkan diri dari segala bentuk kesyirikan.
Saudaraku seiman, sesungguhnya bagi orang yang beriman, mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah perkara yang paling besar. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ
“Dan sungguh, mengingat Allah itu lebih besar (keutamaannya).” (QS. Al-‘Ankabut [29]: 45)
Adapun bagi orang yang lemah imannya, mengingat dunia terasa lebih besar di hatinya. Mengingat sesuatu selain Allah Subhanahu wa Ta’ala terasa lebih mengasyikkan baginya. Akibatnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala memalingkan hatinya dari zikir kepada-Nya, hingga ia tidak lagi merasakan kenikmatan dalam mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Maka jadikanlah zikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di hari-hari tasyrik sebagai sesuatu yang sungguh kita upayakan di hari-hari tersebut. Jangan sampai, wahai saudaraku seiman, kita termasuk orang-orang yang lalai lebih asyik dengan urusan duniawi, lebih sibuk dengan ponsel, media sosial, permainan, dan hal-hal sejenisnya hingga akhirnya kita menjadi hamba yang lupa mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sementara Allah berfirman:
وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ
“Dan janganlah engkau termasuk orang-orang yang lalai.” (QS. Al-Aʿrāf [7]: 205)
Simak selengkapnya:
https://rodja.id/5na