es
Feedback
Ask The Experts

Ask The Experts

Ir al canal en Telegram

Channel ini merupakan pengembangan dari Grup nasional ATE khusus Internal BPJS kesehatan yang membernya lebih dari 6.000 Orang Duta BPJS Kesehatan Selindo 🇲🇨 https://www.instagram.com/commit_asktheexperts?igsh=ZmpmN2xqbWFjZjBn

Mostrar más
1 812
Suscriptores
+124 horas
+67 días
+2030 días
Archivo de publicaciones
Oleh: Fahmi Hasan Nugroho Pernah dengar cerita orang yang marah-marah ketika ditagih utang? Atau jangan-jangan anda pernah me
Oleh: Fahmi Hasan Nugroho Pernah dengar cerita orang yang marah-marah ketika ditagih utang? Atau jangan-jangan anda pernah mengalaminya sendiri? Sebenernya, harusnya kan dia sadar bahwa yang nagih itu sedang meminta haknya yang ditahan oleh si peminjam, tapi kenapa dia malah ga mau bayar? Jawabannya sederhana sih, karena manusia lebih sering mengambil keputusan keuangan dengan menggunakan emosi ketimbang rasio. Apalagi kalo dia ga punya literasi finansial yang baik. Ada dua bagian otak manusia yang saling berperan dalam pengambilan keputusan. Pertama adalah Amigdala, dia punya respon cepat, mengaktifkan survival mode, fight or run, dia mengatur emosi manusia, inilah otak purba manusia yang telah terlatih ribuan tahun ketika manusia masih hidup "bersama" dengan hewan lain. Kedua adalah Lobus Frontal, responnya lambat karena memang fungsinya untuk berpikir logis dan mendalam. Terkait dengan uang, manusia paling ga suka jika ia kehilangan uang, akan lebih ga suka lagi kalo dia kehilangan kesempatan keuntungan. Dalam dua hal ini sering kali kita mengaktifkan survival mode (yang ga logis itu), dengan tujuan agar kita tetap bisa survive dan sebisa mungkin tidak mengalami kehilangan. Orang yang marah ketika ditagih itu karena dia merasa bahwa dia akan kehilangan uang karena harus menyerahkan sebagian harta yang ada di tangannya kepada orang lain. Orang terjerat juday online itu karena dia melihat ada kesempatan keuntungan dan ga mau kehilangan kesempatan itu, maka dia akan top up meski menghabiskan sebagian besar pendapatannya dengan berharap dia akan mendapatkan keuntungan itu. Dalam dua kasus itu, amigdala akan membanjiri otaknya dengan adrenalin sebagai bentuk pertahanan diri, jantungnya berdebar, otaknya buntu, dia dikendalikan oleh emosi hingga keputusan yang ia ambil jauh dari kata logis. Nah, belajar finansial itu melatih lobus frontal agar bisa digunakan dalam mengambil keputusan keuangan dengan terencana, logis dan teratur. Kita berlatih merencanakan keuangan dengan melihat kepada kondisi riil, kemampuan dan potensi yang bisa terjadi di masa yang akan datang. Kita belajar bahwa di setiap potensi keuntungan itu ada potensi kerugian yang sama besarnya. Kita belajar bahwa tidak ada keuntungan dan kekayaan yang instan. Kita juga belajar bahwa setiap pilihan yang kita ambil itu memiliki konsekuensi, maka kita akan selalu memikirkan konsekuensi dari setiap pilihan sebelum kita menentukan pilihan tersebut. Ini bukanlah hal yang mudah karena ini dibentuk oleh kebiasaan. Banyak orang yang sudah mengerti investasi lalu tergiur dengan potensi keuntungan yang cepat, dia FOMO dan masuk ke satu instrumen tanpa pertimbangan matang, dan sering kali mendatangkan kerugian. Banyak juga yang tidak berani mengambil keputusan karena takut akan kehilangan uang hingga ia tidak jadi berkembang. Maka teman-teman, belajar finansial itu penting, setidaknya untuk melatih otak kita agar terbiasa mengambil keputusan finansial dengan logika, bukan dengan emosi. #INISIATIF

Siapa bilang healing di kantor cuma bisa lewat kopi? 😎 Kalau kamu lagi cari “olahraga anti ribet tapi manfaatnya maksimal”,
Siapa bilang healing di kantor cuma bisa lewat kopi? 😎 Kalau kamu lagi cari “olahraga anti ribet tapi manfaatnya maksimal”, ya disinilah tempatnya. Let’s smash the day together 🏓 https://www.instagram.com/p/DRb79H0ibfz/?igsh=eHFyYWZhdjRuZTU5

Oleh: Ibrahim Vatih Ada dua cara pandang yang subsconcious (alam bawah sadar) membentuk seluruh arah hidup kita: 1. Pola piki
Oleh: Ibrahim Vatih Ada dua cara pandang yang subsconcious (alam bawah sadar) membentuk seluruh arah hidup kita: 1. Pola pikir kekurangan (scarcity) 2. Pola pikir kelimpahan (abundance). Pola pikir scarcity percaya bahwa dunia ini sempit, sumber daya terbatas, dan peluang hanya datang satu kali. Kalau orang lain sukses, berarti kesempatan dia berkurang. Kalau orang lain dapat proyek, berarti dia sudah kalah saing. Kalau teman dapat promosi, berarti posisi dia terancam. Pola pikir ini penuh kecemasan, minim rasa syukur, dan akhirnya membuat mereka sulit berkembang, karena selalu hidup dalam mode "defensif". *** Sebaliknya, pola pikir abundance percaya bahwa dunia ini luas, rezeki itu datang dari banyak arah. Kesuksesan orang lain bukan ancaman, tapi inspirasi. Kebaikan yang dia sebarkan bukan mengurangi, tapi justru membuka lebih banyak peluang. Orang dengan pola pikir abundance lebih tenang, lebih mudah berbagi, lebih mampu fokus pada proses, bukan hanya hasil. Dan yang menarik, mereka cenderung lebih dipercaya oleh orang-orang di (lingkungan) sekitarnya, karena energi mereka positif dan konstruktif. *** Saya pernah ada di fase scarcity. Tapi perlahan, ketika mulai belajar membuka perspektif, saya sadar bahwa banyak sekali peluang yang justru datang ketika kita tenang, sabar, dan ngga serakah. Saya pernah membaca satu pemikiran menarik, “Bangunlah bisnis saat kamu tidak sedang butuh-butuh amat.” Saat kita membangun sesuatu dalam kondisi tenang, tanpa tekanan, dan tidak sedang tergesa-gesa mencari uang, pikiran kita bisa lebih jernih. Kita bisa membuat keputusan jangka panjang, bukan keputusan darurat yang seringkali berbiaya mahal. Kita bisa merancang strategi, bukan cuma bertahan hidup. Inilah kekuatan dari pola pikir abundance. Kita bergerak bukan karena panik, tapi karena sadar. Seringkali, yang bikin kita sulit bukan kondisi, tapi cara pandang kita sendiri. Kalau kamu sering merasa sempit, kalah duluan, atau iri dengan pencapaian orang lain, mungkin ini saatnya refleksi, "Apakah saya sedang menjalani hidup dengan pola pikir scarcity?" Latih pola pikir abundance. Bukan untuk jadi naif, tapi agar hidup terasa lebih lapang, damai, dan penuh peluang. Dunia ini luas. Tapi cara pandang kitalah yang bisa mempersempit atau meluaskannya. Dan kabar baiknya, cara pandang itu bisa kita pilih. #INISIATIF

Untuk Laki-laki: Bekerjalah, Cukupi Nafkah Keluargamu 💪 Oleh: Hasanudin Abdurakhman Cukup sering saya mendapat pesan di FB m
Untuk Laki-laki: Bekerjalah, Cukupi Nafkah Keluargamu 💪 Oleh: Hasanudin Abdurakhman Cukup sering saya mendapat pesan di FB messenger dari para perempuan. Mereka mengeluh karena suami mereka tidak bekerja, dengan penghasilan yang cukup untuk menghidupi keluarganya. Maksudnya, ada yang bekerja tapi hasilnya tidak cukup. Ada pula yang memang tidak bekerja sama sekali. Ada cukup banyak cerita tentang orang yang tadinya bekerja dengan penghasilan lumayan, tapi kemudian berhenti, lalu tidak punya penghasilan. Alasan berhenti itu sungguh sepele, atau tidak jelas sama sekali. Ada yang misalnya berhenti kerja dengan alasan situasi kantor tidak kondusif. Ada yang berhenti karena ingin tinggal dekat dengan orang tua. Kenapa itu semua saya anggap sepele? Di hadapan kewajiban untuk menafkahi keluarga, itu semua sepele. Prinsip saya, kerja memang tidak semuanya nyaman dan menyenangkan. Kalau suatu kerja mendatangkan hasil yang cukup untuk menafkahi keluarga, ada ketidaknyamanan akan saya hadapi. Suasana tidak nyaman itu tidak seberapa dibandingkan dengan rasa tidak nyaman karena nafkah keluarga tidak terpenuhi. Sebagai kepala keluarga saya menempatkan kenyamanan saya di posisi nomor sekian, bukan hal utama. Ada kalanya kita harus mengorbankan kenyamanan kita demi keluarga. Tidak jarang alasannya hanya mengada-ada. Ada sedikit ketidaknyamanan sudah menyerah. Saya harus katakan, kerja memang begitu. Ada banyak ketidaknyamanan. Tapi ingat, kerja itu tumpukan tanggung jawab. Ini tidak melulu soal bahwa kita dibayar dan uangnya bisa dipakai untuk menafkahi keluarga. Di luar soal itu, kita memang dituntut untuk bisa mengatasi berbagai persoalan dalam bekerja. Termasuk mengatasi ketidaknyamanan itu. Jadi, kalau ada ketidaknyamanan, atasi. Bukan malah berhenti. Dalam bekerja kita tidak hanya dituntut untuk bertahan, tapi juga meningkat. Kebutuhan keluarga meningkat seiring pertumbuhan anak-anak. Inflasi juga membuat nilai uang kita mengecil. Kalau tidak meningkat, penghasilan yang tadinya cukup jadi tidak cukup. Tidak sekadar bekerja, seorang penanggung jawab nafkah keluarga wajib membuat program pengembangan diri, sekaligus rencana peningkatan penghasilan. Sering saya harus menghela nafas kalau menemukan orang yang sudah mau 50 tahun usianya, tapi penghasilannya belum beranjak jauh dari nilai UMK. Sudah bekerja pun belum cukup bagus kalau tidak ada peningkatan. Apalagi tidak bekerja. Di sisi lain, banyak perempuan yang cuma mengeluh dan merengek saat suaminya tidak bekerja atau berpenghasilan cukup. Hanya sedikit yang berani keluar dari zona nyaman nyonya rumah, lalu bertarung untuk mengambil tanggung jawab yang diabaikan suaminya. Yang bertarung ini ada yang sukses, tapi itu tidak mengubah suaminya. Ada perempuan yang mengeluh soal kekurangan nafkah, tapi saya lihat penampilannya di media sosial seperti sosialita. #INISIATIF #TGIF

INFO PODIUM 🏆 Selamat kepada team mini soccer BPJS Kesehatan KC Kebumen yang keluar sebagai Juara 3 dalam rangka memperingat
+2
INFO PODIUM 🏆 Selamat kepada team mini soccer BPJS Kesehatan KC Kebumen yang keluar sebagai Juara 3 dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Nasional ke-61 yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Kebumen 19-20 Nopemeber 2025 🇲🇨 #INISIATIF

INFO PODIUM 🏆 Selamat kepada team Bulutangkis beregu BPJS Kesehatan KC Kebumen yang keluar sebagai Juara 3 dalam rangka memp
+2
INFO PODIUM 🏆 Selamat kepada team Bulutangkis beregu BPJS Kesehatan KC Kebumen yang keluar sebagai Juara 3 dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Nasional ke-61 yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Kebumen 18 Nopemeber 2025 🇲🇨 #INISIATIF

ILMU HOKI BERNAMA KONSISTENSI 🤝 Oleh: Ibrahim Vatih Orang sering ngira keberuntungan itu turun dari langit, acak, misterius,
ILMU HOKI BERNAMA KONSISTENSI 🤝 Oleh: Ibrahim Vatih Orang sering ngira keberuntungan itu turun dari langit, acak, misterius, dan ngga bisa dikendalikan. Tapi kalau diperhatikan, keberuntungan cenderung muncul di sekitar orang yang konsisten. Orang yang tetap hadir saat orang lain memilih untuk berhenti. Orang yang mengerjakan hal yang sama dan terkesan membosankan. Orang lain akan anggap dia beruntung (hoki). Padahal ngga, itu efek samping dari konsistensi. Psikologi udah lama mengenali pola ini. Fenomena mere-exposure effect yang ditemukan oleh Robert Zajonc menunjukkan bahwa hal yang sering muncul akan lebih mudah dipercaya, dipilih, dan diingat. Jadi ketika kamu konsisten berkarya, muncul, dan membangun jejak, kamu sebenarnya sedang memperbesar peluang untuk ditemukan. Di buku Outliers-nya Malcolm Gladwell menjelaskan bagaimana jam terbang menciptakan momen-momen kebetulan yang sebenarnya bukan kebetulan. The Beatles dianggap “beruntung” mendapatkan kesempatan tampil di panggung besar. Tapi sebelum itu, mereka udah ribuan jam tampil di event-event kecil di Hamburg. Kesempatan itu datang karena mereka udah siap secara skill dan momentum. Lagi-lagi hasil dari konsistensi. Penelitian dari University of London tentang compound practice juga menunjukkan bahwa latihan kecil yang dilakukan terus-menerus jauh lebih signifikan dampaknya dibanding latihan besar tapi jarang. Kemampuan untuk tumbuh secara perlahan sering membuat seseorang tampak lebih beruntung, padahal dia emang lebih siap daripada kebanyakan orang. Secara matematis pun keberuntungan bisa dijelaskan. Konsep law of large numbers dalam statistik menjelaskan bahwa semakin banyak percobaan, semakin besar peluang mendapatkan hasil yang baik. Satu percobaan peluangnya kecil. Seratus percobaan peluangnya akan berbeda. Bukan berarti kamu jadi orang yang hoki, kamu cuma memerintahkan angka-angka untuk memihak padamu. Juga dalam studi tentang serendipity, seperti yang ditulis oleh Christian Busch dalam bukunya The Serendipity Mindset, dijelaskan bahwa kebetulan yang baik sering lahir dari rangkaian tindakan kecil yang konsisten sehingga membuka pintu-pintu opportunity. Orang yang ngga konsisten hanya membuka sedikit pintu. Orang yang konsisten akan membuka banyak pintu, sehingga peluang menemukan opportunity jadi berkali-kali lipat lebih tinggi. Keberuntungan akhirnya bukan soal nasib, bukan soal bakat, bukan soal momentum kosmik. Keberuntungan lebih sering merupakan konsekuensi dari orang yang ngga hilang. Orang yang menaruh lebih banyak jejak di dunia, sehingga kemungkinan untuk disapa oleh peluang, meningkat secara drastis. Jadi kalau kamu ingin terlihat lebih "beruntung", sebenernya jawabannya sederhana; konsisten aja. Bekerja lebih stabil. Hidup lebih teratur. Dominasi hari-hari dengan hal positif. Tetap berbagi. Tetap beribadah. Tetap berjalan dan tetap bertahan. Konsistensi, pada akhirnya, adalah cara paling rasional untuk menciptakan keberuntungan. #INISIATIF

Komunitas Strong Nation BPJS Kesehatan masuk Tv nih 🔥🤝 🇲🇨

GRAND FINAL BPJS IDOL SEASON II 2025 🇲🇨 Saksikan behind the scenenya https://www.instagram.com/lifeatbpjskesehatan?igsh=MWtwYWo4NXA3YjY1

oleh: Dedi Priadi Dalam benak seorang pencemas, kecemasan bukan sekadar masalah pikiran, melainkan monster raksasa yang mendo
oleh: Dedi Priadi Dalam benak seorang pencemas, kecemasan bukan sekadar masalah pikiran, melainkan monster raksasa yang mendominasi seluruh layar mental. Seperti tampak dalam ilustrasi, pencemas membesar-besarkan bayangan masalah, sehingga pikirannya terisi penuh oleh spekulasi negatif mengenai masa depan yang belum terwujud. Pola pikir ini sering menjebak seseorang dalam 𝘤𝘢𝘵𝘢𝘴𝘵𝘳𝘰𝘱𝘩𝘪𝘻𝘪𝘯𝘨. Seorang pencemas terus membayangkan hal terburuk, seolah skenario negatif adalah kepastian yang pasti terjadi. Imbasnya, nasihat atau masukan dari luar menjadi sulit dicerna; otaknya sudah dipenuhi "sinyal ancaman." Dari sisi neurologis, saat kita cemas, "alarm" di otak kita, yang disebut 𝘢𝘮𝘺𝘨𝘥𝘢𝘭𝘢, berbunyi terlalu keras. Pemicu ini segera mengaktifkan respons "lawan atau lari," membanjiri sistem kita dengan stres dan ketegangan fisik secara instan. Akibatnya, 𝘱𝘳𝘦𝘧𝘳𝘰𝘯𝘵𝘢𝘭 𝘤𝘰𝘳𝘵𝘦𝘹, bagian otak yang seharusnya berpikir logis dan membuat keputusan, menjadi lumpuh. Otak kita secara keliru mempercayai bahwa apa yang kita bayangkan adalah ancaman yang benar-benar nyata, meskipun itu murni sebuah proyeksi semata. Namun, di tengah kondisi kelumpuhan mental ini, ada satu titik balik penting yang sering terlewatkan: kekuatan 𝘵𝘪𝘯𝘥𝘢𝘬𝘢𝘯. Begitu kita mulai berani bergerak menuju sumber kecemasan, perubahan fundamental dan dramatis akan segera terjadi. Misalkan, seorang yang sangat cemas sebelum sebuah presentasi penting. Kekhawatiran membayangkan kegagalan dan ditertawakan saat presentasi akan segera menciut drastis begitu ia memberanikan diri melangkah ke panggung dan memulai kata-kata pertamanya. Pada saat presentasi itu dilakukan, tindakan nyata tersebut berfungsi sebagai bukti empiris bagi otak bahwa perkiraan 𝘤𝘢𝘵𝘢𝘴𝘵𝘳𝘰𝘱𝘩𝘪𝘻𝘪𝘯𝘨 itu keliru. Ia berhasil melewatinya, dan bahaya yang dibayangkan ternyata tidak terwujud sama sekali di hadapannya. Secara bertahap, otak belajar dari pengalaman baru ini. Organ tersebut mulai membangun koneksi saraf yang lebih kuat antara logika (𝘱𝘳𝘦𝘧𝘳𝘰𝘯𝘵𝘢𝘭 𝘤𝘰𝘳𝘵𝘦𝘹) dan pusat emosi (𝘢𝘮𝘺𝘨𝘥𝘢𝘭𝘢). Melalui proses inilah, kekhawatirannya akan berangsur-angsur menurun tajam. Jangan biarkan pikiran negatif mengendalikan realitas kehidupan kita. Bertindaklah, karena tindakan adalah obat penawar yang efektif untuk kecemasan. Dengan bertindak, kita melatih ulang respons otak kita -- mengubah “monster" menjadi bayangan yang terus mengecil. #INISIATIF

🎥 Cikagooo lagi LIVE di TikTok nihh https://www.tiktok.com/@cikagooo_news?_r=1&_t=ZS-91Uvh2Juomz 👉 Jangan sampai kelewatan yaa Bantu join, tap2, like n share yaa bapak/ibu, mas/mba. Hatur nuhunn🙏🏻

Live Report 10 Tahun Festival Paduan Suara Sektor Jasa Keuangan. Mhn doanya sob semoga rekan-rekan Padus BPJS Kesehatan bisa mengeluarkan penampilan maksimalnya dan kelak mendapatkan hasil terbaik 🇲🇨 Update behind the scene nya di sini: https://www.instagram.com/lifeatbpjskesehatan?igsh=MWtwYWo4NXA3YjY1

Oleh: Fahmi Hasan Nugroho Mencicil berarti mengambil uang dari masa depan untuk digunakan pada hari ini. Ga ada yang salah da
Oleh: Fahmi Hasan Nugroho Mencicil berarti mengambil uang dari masa depan untuk digunakan pada hari ini. Ga ada yang salah dari mencicil karena banyak kebutuhan kita yang memang ga bisa kita beli secara tunai, yang salah adalah jika strategi mengatur keuangannya tidak dipikirkan dengan baik. Para finansial planner membatasi cicilan jangan sampai melebihi 30% dari pendapatan dengan tetap mewajibkan ada porsi pendapatan untuk investasi, agar hidup masih terjaga dan masa depan juga tetap terarah. Mereka juga menyarankan agar kita menghindari mencicil suatu barang yang nilainya akan terus menurun, seperti kendaraan dan barang elektronik, karena kita akan membayar lebih mahal untuk barang yang jika kita jual kembali harganya jauh dari harga yang kita beli. Mobil 300 juta, dicicil jadi 350 juta, sekali keluar dealer harga jualnya ga akan jadi 300 juta lagi. Ada juga sih yang menjadikan cicilan sebagai penyemangat kerja, ya hidup itu adalah pilihan. Tapi jika boleh menyarankan, cari cicilan yang ringan, murah, dan tetap berinvestasi untuk masa depan, karena menjadikan "bisa nabung lebih banyak" sebagai penyemangat kerja itu lebih baik dari pada menjadikan "cicilan" jadi penyemangat kerja. #INISIATIF

Di garis depan pelayanan, ada para Frontliner yang bekerja dengan hati kuat dan dedikasi tanpa batas. Mereka yang setiap hari
Di garis depan pelayanan, ada para Frontliner yang bekerja dengan hati kuat dan dedikasi tanpa batas. Mereka yang setiap harinya menyapa peserta dengan senyum, mendengarkan dengan empati, dan membantu dengan penuh ketulusan. Skill mereka terasah oleh waktu, semangat mereka tumbuh dari setiap pengalaman, dan kehadiran mereka menjadi wajah terbaik pelayanan BPJS Kesehatan 🇲🇨 Big respect untuk kalian semua 🔥 https://www.instagram.com/p/DRJt0uIiZ4T/?igsh=eWE2a3M2N2ZnZGUw

Don't Make it Original, Make it Yours 💪 Semua orang mulai dari meniru orang lain, karena gak ada yang benar-benar baru di dunia ini 🤝 credit: anandarsf #INISIATIF

Perwakilan 20 Negara pelajari keberhasilan Program JKN. Apa saja yang mereka pelajari? 🤝 Langsung cek di sini https://youtu.be/vkRnCxlfxWk?si=jT5b2nygNpRiITSQ

Repost from N/a
🔠🔠🔠 🔠🔠🔠🔠 🏆 Sebanyak 246 pemain dari 35 Kampus Top Nasional & BPJS Kesehatan siap adu strategi di Ultimate Chess Battl
+6
🔠🔠🔠 🔠🔠🔠🔠 🏆 Sebanyak 246 pemain dari 35 Kampus Top Nasional & BPJS Kesehatan siap adu strategi di Ultimate Chess Battle Vol. 2. Dengan semangat “JKN Hero in Action”, para pecatur muda ini akan buktikan kalau jadi sehat itu juga bentuk perjuangan. 💪♟ Seiring kualitas layanan BPJS Kesehatan yang terus meningkat, kita tetap perlu langkah yang strategis dengan menjaga keaktifan kepesertaan JKN agar perlindungan tetap berjalan tanpa celah 🇲🇨 Catat Waktu & Tglnya: 📅 Selasa, 18 November 2025 🕖 Pukul 18.45 WIB – selesai 📍 Lichess https://lichess.org/swiss/gZu1Q15Y Password: DownloadMobileJKN
Join di Grup Telegram BKC (Grup Terbuka Untuk Pegawai Tetap, PATT, TAD di Lingkup BPJS Kesehatan): https://t.me/+XqeaySjUeWg4NzQ1
#INISIATIF #BerpikirSebelumBertindak

Repost from N/a
🔠🔠🔠 🔠🔠🔠🔠 🏆 Sebanyak 246 pemain dari 35 Kampus Top Nasional & BPJS Kesehatan siap adu strategi di Ultimate Chess Battl
+6
🔠🔠🔠 🔠🔠🔠🔠 🏆 Sebanyak 246 pemain dari 35 Kampus Top Nasional & BPJS Kesehatan siap adu strategi di Ultimate Chess Battle Vol. 2. Dengan semangat “JKN Hero in Action”, para pecatur muda ini akan buktikan kalau jadi sehat itu juga bentuk perjuangan. 💪♟ Seiring kualitas layanan BPJS Kesehatan yang terus meningkat, kita tetap perlu langkah yang strategis dengan menjaga keaktifan kepesertaan JKN agar perlindungan tetap berjalan tanpa celah 🇲🇨 Catat Waktu & Tglnya: 📅 Selasa, 18 November 2025 🕖 Pukul 18.45 WIB – selesai 📍 Lichess https://lichess.org/swiss/gZu1Q15Y Password: DownloadMobileJKN
Join di Grup Telegram BKC (Grup Terbuka Untuk Pegawai Tetap, PATT, TAD di Lingkup BPJS Kesehatan): https://t.me/+K0kkTPcnAbVkMzQ1
#INISIATIF #BerpikirSebelumBertindak

Oleh: Sucipto Hadi Saputro Ustadz Firanda pernah menasihati bahwa salah satu adab dalam berkomunikasi lewat chat adalah langs
Oleh: Sucipto Hadi Saputro Ustadz Firanda pernah menasihati bahwa salah satu adab dalam berkomunikasi lewat chat adalah langsung berbicara to the point bila memang ada kebutuhan. Jangan berbelit-belit atau berputar-putar, karena setiap orang memiliki kesibukan dan waktunya sendiri. Namun, kadang saya temukan ada orang yang cara meminta tolongnya justru terkesan menjebak, entah sadar atau tidak, dia menggiring lawan bicara agar sulit menolak permintaannya. Pola chatnya kurang lebih seperti ini: 👳 : Assalamualaikum 🧒 : Waalaikumussalam, iya ada apa? 👳 : Lagi di mana sekarang? 🧒 : Di rumah, kenapa? 👳 : Sibuk nggak? 🧒 : Nggak terlalu, kenapa emangnya? 👳 : Bisa tolong belikan pulpen di toko Berkah? Nah, di sini terlihat bagaimana lawan chat “digiring” untuk tidak bisa menolak. Karena sudah menjawab “tidak sibuk”, akhirnya ia merasa sungkan menolak permintaan tersebut. Padahal, mungkin sebenarnya ia sedang tidak dalam kondisi memungkinkan untuk membantu. Dalam perihal adab, cara seperti ini jelas tidak terpuji. Adab yang baik adalah bersikap jelas, jujur, dan tidak memaksa dalam meminta bantuan. Jika niat kita meminta tolong, maka caranya pun harus baik, tidak menodong secara halus, tidak memanipulasi, dan tidak membuat orang lain merasa terpaksa. Maka, adab yang benar ketika ingin meminta tolong lewat chat adalah: 1. Awali dengan salam dan basa-basi secukupnya. 2. Langsung jelaskan keperluannya dengan sopan dan terbuka. 3. Berikan kebebasan bagi orang lain untuk menolak tanpa merasa bersalah. Contohnya: "Assalamualaikum, gimana kabarnya? Semoga senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan oleh Allah. Maaf kalau mengganggu. Bila berkenan, boleh minta tolong belikan pulpen di toko Berkah? Kalau sedang tidak memungkinkan juga tidak apa-apa, terima kasih, mohon maaf sebelumnya." Dengan cara seperti ini, komunikasi menjadi lebih jujur, santun, dan beradab. Orang lain pun merasa dihargai, bukan dijebak. Karena bukan hanya isi pesan yang dinilai, tapi juga adab dan niat di baliknya. #INISIATIF #TGIF