es
Feedback
Ask The Experts

Ask The Experts

Ir al canal en Telegram

Channel ini merupakan pengembangan dari Grup nasional ATE khusus Internal BPJS kesehatan yang membernya lebih dari 6.000 Orang Duta BPJS Kesehatan Selindo 🇲🇨 https://www.instagram.com/commit_asktheexperts?igsh=ZmpmN2xqbWFjZjBn

Mostrar más
1 809
Suscriptores
+124 horas
+67 días
+2030 días
Archivo de publicaciones
Oleh: Dedi Priadi Waktu kita—baik sehari, seminggu, maupun seumur hidup—ibarat sebuah stoples. Kapasitasnya sudah pasti, tak
Oleh: Dedi Priadi Waktu kita—baik sehari, seminggu, maupun seumur hidup—ibarat sebuah stoples. Kapasitasnya sudah pasti, tak bisa ditambah atau dikurangi. Maka, keterampilan hidup yang paling krusial adalah memilih apa yang akan mengisi stoples ini, dan yang tak kalah penting, urutan memasukkannya. Mari kita analogikan tiga jenis pengisi waktu kita. 𝘉𝘢𝘵𝘶-𝘣𝘢𝘵𝘶 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳 (𝘳𝘰𝘤𝘬𝘴) adalah inti dari kehidupan Anda: tujuan mulia (𝘯𝘰𝘣𝘭𝘦 𝘱𝘶𝘳𝘱𝘰𝘴𝘦), kesehatan, hubungan yang berharga, keluarga, dan pekerjaan inti. Inilah hal-hal yang paling penting. Masukkan ini terlebih dahulu. Jika Anda tidak meluangkan waktu untuk batu besar, mustahil mereka akan muat di kemudian hari. Dengan memprioritaskan item-item esensial dan bermakna, Anda memastikan bahwa waktu Anda benar-benar tercurah pada hal-hal yang memuliakan dan memperkaya hidup Anda. 𝘒𝘦𝘳𝘪𝘬𝘪𝘭 (𝘱𝘦𝘣𝘣𝘭𝘦𝘴) adalah tugas-tugas yang perlu, namun tidak sepenting batu besar: email, rapat rutin, atau pekerjaan sampingan. Mereka penting, tetapi fungsinya hanyalah melayani dan mendukung batu besar Anda, jangan sampai menggantikannya. Kerikil dimaksudkan untuk mengisi ruang di sekitar hal-hal esensial. Kerikil tidak seharusnya mengambil volume utama stoples. 𝘗𝘢𝘴𝘪𝘳 (𝘴𝘢𝘯𝘥) adalah segala bentuk gangguan kecil dan kesibukan yang menyita perhatian: 𝘴𝘤𝘳𝘰𝘭𝘭𝘪𝘯𝘨 di media sosial tanpa tujuan, nongkrong-nongkrong di kafe, berjalan-jalan di mal, atau menyibukkan diri berdebat di media sosial. Bayangkan, jika Anda menuangkan pasir lebih dulu, ia akan memenuhi stoples sedemikian rupa, sehingga tidak ada lagi ruang tersisa bagi batu besar yang sesungguhnya bernilai sangat penting untuk kehidupan Anda. Untuk menjalani hidup yang terfokus dan bermakna, selalu dahulukan batu besar Anda. Setelah hal-hal krusial itu aman dalam stoples, barulah kerikil dan pasir—tugas rutin dan gangguan kecil—akan menemukan tempatnya, mengisi celah-celah di sekitar. Jangan pernah melakukan sebaliknya. Jangan biarkan hal-hal kecil dan remeh (pasir) mencuri ruang berharga yang seharusnya Anda sediakan bagi hal-hal besar yang menentukan arah kesuksesan dan kebahagiaan sejati hidup Anda. #INISIATIF

😀😃😄😁 Webinar Managed Care Manajemen Klaim dan Preventing Fraud–Waste–Abuse (FWA) Praktik terbaik dalam verifikasi, analis
😀😃😄😁 Webinar Managed Care Manajemen Klaim dan Preventing Fraud–Waste–Abuse (FWA) Praktik terbaik dalam verifikasi, analisis pola klaim, automation, dan fraud analytics" Ikuti webinar Managed Care PAMJAKI Edisi Keempat dengan tema Manajemen Klaim dan Preventing Fraud–Waste–Abuse (FWA) 📅 Kamis, 12 Maret 2026 ⏰ 10.00 - 11.30 WIB 🎙️ Speaker : 1. dr. Taufik Hidayat, MM., AAK 2. dr. Mulyo Wibowo, AAAK, CHIA 3. Evan Wijaya Tanotogono, ST, MT, QCRO Moderator: dr. A Mahathir Anas 💻 Link zoom: https://bit.ly/JoinZoomMeeting-Ed-Ke4 💻 Virtual Background https://bit.ly/VBManagedCare-Ed-ke4 GRATIS! Bagi yang ingin mendapatkan e-sertifikat, biaya registrasi IDR 50.000 Daftar sekarang : https://bit.ly/Registrasi-Webinar-Managedcare4

Yang menarik dari sudut pandang ekonomi adalah bahwa setiap keputusan selalu melibatkan trade-off. Ketika kita memilih satu tindakan, kita otomatis menutup kemungkinan tindakan yang lain. Di sinilah konsep opportunity cost menjadi penting. Opportunity cost bukan hanya tentang uang yang kita keluarkan, tetapi tentang nilai dari pilihan terbaik yang tidak kita ambil. Sebagai contoh sederhana, ketika seseorang memutuskan menghabiskan dua jam untuk menonton film, opportunity cost-nya bisa berupa waktu membaca buku, mengerjakan proyek pribadi, atau beristirahat. Pilihan menonton film mungkin terasa ringan dan tidak mahal, tetapi tetap ada nilai lain yang dikorbankan. Dalam ekonomi, nilai yang hilang dari pilihan yang tidak diambil itulah yang disebut opportunity cost. Konsep ini menjadi jauh lebih jelas ketika kita berbicara tentang keputusan besar dalam hidup, seperti memilih tempat studi. Keputusan ini bukan sekadar memilih kampus atau program tertentu, tetapi juga berarti menolak berbagai kemungkinan lain yang mungkin sama-sama bernilai. Misalnya seseorang memiliki beberapa pilihan tempat studi: - universitas yang lebih prestisius tetapi jauh dari rumah dan lebih mahal, - universitas yang lebih dekat dengan keluarga tetapi reputasinya biasa saja, - atau pilihan untuk bekerja terlebih dahulu sebelum melanjutkan pendidikan. Ketika seseorang memilih salah satu dari pilihan tersebut, ia sebenarnya sedang menerima paket konsekuensi tertentu sekaligus mengorbankan paket konsekuensi yang lain. Jika ia memilih universitas yang prestisius, opportunity cost-nya bisa berupa biaya yang lebih besar atau jarak yang lebih jauh dari keluarga. Jika ia memilih universitas yang lebih dekat dan murah, opportunity cost-nya mungkin berupa akses jaringan akademik atau peluang karier yang lebih luas di tempat lain. Dengan memahami opportunity cost, keputusan memilih tempat studi tidak lagi hanya dilihat sebagai pertanyaan “mana yang terbaik?”, tetapi lebih tepat dilihat sebagai “mana yang paling sebanding dengan apa yang bersedia saya korbankan?” Dalam banyak kasus, keputusan yang baik bukanlah keputusan yang tidak memiliki biaya, melainkan keputusan yang opportunity costnya paling sesuai dengan tujuan hidup seseorang. Karena itu, memahami tujuan hidup kita sendiri menjadi penting. Pada saat yang sama, kita juga perlu menyadari bahwa orang lain bisa memiliki tujuan hidup yang berbeda. Jika ini dipahami, seharusnya tidak perlu ada sikap saling menyinyiri hanya karena prioritas hidupnya tidak sama. Misalnya, ada orang yang mendahulukan studi daripada menikah. Ada yang memilih bekerja terlebih dahulu daripada melanjutkan studi. Ada pula yang memilih pasangan A yang dari luar terlihat biasa saja dibandingkan pasangan B yang tampak jauh lebih mempesona. Pilihan-pilihan seperti itu sering kali sulit dipahami dari luar. Namun dalam banyak kasus, nilai sebenarnya dari sebuah keputusan hanya benar-benar diketahui oleh orang yang mengambil keputusan tersebut, karena hanya dia yang memahami tujuan hidup, pertimbangan pribadi, serta opportunity cost yang harus ia tanggung. Wallahu'alam bish showab #INISIATIF

Oleh: Muhammad Farid Maricar Hari ini saya nonton podcast ini, dan di podcast ini mereka bahas tentang banyak hal, tapi sebag
Oleh: Muhammad Farid Maricar Hari ini saya nonton podcast ini, dan di podcast ini mereka bahas tentang banyak hal, tapi sebagian besar membahas tentang buku si Ferry Irwandi. Tapi, saya paham, membahas panjang lebar tidak akan memberikan banyak pelajaran bagi kita. Makanya, saya mau fokus untuk membahas satu hal, yang sangat penting dan relate dengan pengalaman kita sehari-hari, yaitu tentang opportunity cost...apa itu? Sebelumnya, mungkin secara umum kita sadar atau tidak sadar bahwa kita banyak membuat banyak keputusan setiap harinya. Angkanya tentu bisa berbeda-beda menurut penelitian, tetapi ide utamanya sama, bahwa kehidupan sehari-hari sebenarnya adalah rangkaian pilihan yang terus-menerus kita buat. Sebagian keputusan itu terlihat besar, misalnya memilih pekerjaan, memilih tempat tinggal, memilih tempat studi, atau yang nggak kalah sakral memilih pasangan. Namun sebagian besar keputusan justru bersifat kecil dan otomatis, semisal bangun jam berapa, sarapan apa, membuka media sosial atau tidak, menonton sesuatu atau membaca, pulang cepat atau lembur, dan seterusnya. Karena keputusan-keputusan kecil ini terjadi berulang kali sepanjang hari, totalnya bisa mencapai ratusan bahkan ribuan. Lanjut 👇

Share event menarik buat yang tertarik 😄 Semoga bermanfaat https://bit.ly/Registrasi-Webinar-Managedcare4
Share event menarik buat yang tertarik 😄 Semoga bermanfaat https://bit.ly/Registrasi-Webinar-Managedcare4

Oleh: Dedi Priadi Mungkin kita tengah di titik ini: jiwa serasa di ambang 𝘣𝘶𝘳𝘯𝘰𝘶𝘵, doa-doa yang dipanjat memantul di r
Oleh: Dedi Priadi Mungkin kita tengah di titik ini: jiwa serasa di ambang 𝘣𝘶𝘳𝘯𝘰𝘶𝘵, doa-doa yang dipanjat memantul di ruang hampa, dan bara semangat di hati mulai meredup. Kita telah mengerahkan segenap jiwa dan raga, namun beban cobaan terasa menuntut kepasrahan, memaksa kita memilih: menyerah pada lelah atau tetap menggenggam janji yang samar. Ketahuilah, Tuhan tidak pernah membiarkan kita berjuang sendirian. Justru ketika kita merasa paling terpuruk, ada Kehadiran Ilahi yang tanpa lelah merajut takdir di balik tirai. Keletihan yang kau rasa sesungguhnya hanyalah jeda yang diizinkan, bukan akhir dari perjalanan. Dalam sunyi penantian itu, Tuhan sedang sibuk menyiapkan jalan keluar yang sempurna bagimu. Sebab Tuhan telah menjamin bagimu suatu ijabah (pengabulan doa) dalam bentuk yang Dia pilihkan bagimu, bukan dalam bentuk yang engkau pilih untuk dirimu. Kebijaksanaan-Nya yang tak terbatas selalu membimbing setiap langkahmu menuju kebaikan sejati. Dan ijabah itu pun hadir pada waktu yang Tuhan kehendaki, bukan pada waktu yang engkau kehendaki. Karunia itu akan tiba tepat pada irama yang Tuhan tetapkan. Tepat pada saat engkau telah siap menampungnya, memaksimalkan setiap manfaatnya. Karena kesabaranmu begitu berharga dalam pandangan-Nya. Ketika beban terasa mendesak, izinkanlah dirimu sejenak beristirahat dengan penuh kepasrahan. Jangan memilih untuk menyerah, tetapi serahkanlah segala kendali kepada Kuasa Yang Maha Pengasih. Rasakanlah topangan spiritual yang lembut, yang perlahan mengubah beban berat menjadi ringan. Biarkan cahaya optimisme menghangatkan kembali ruang hatimu. Yakinlah, bahwa setiap kesulitan yang kau lalui sedang diubah menjadi fondasi keajaiban yang kokoh. Sebentar lagi, tirai penantian doa-doamu itu akan tersingkap. Saat waktu-Nya tiba, engkau akan menyaksikan bahwa ketabahan dan air matamu telah dibalas dengan kelimpahan yang indah. Engkau akan menemukan kedamaian dan sukacita, jauh melampaui semua impian yang pernah kau rajut. #INISIATIF #TGIF

Oleh: Jaha Nababan Slide “Leadership in the AI Era: Coaching Curriculum Framework to Prepare an Adaptive and Excellent Generation” menekankan bahwa kepemimpinan di era AI membutuhkan pendekatan coaching yang sistematis dan adaptif. Intinya, generasi unggul di era AI tidak cukup hanya menguasai teknologi, tetapi perlu dibekali pola pikir reflektif, kemampuan adaptasi, dan kepemimpinan berbasis kesadaran diri. Bagian inti menjelaskan perbedaan coaching dan mentoring. Coaching berfokus pada proses bertanya (ASK), menggali kesadaran, dan membantu coachee menemukan solusi sendiri, bukan memberi jawaban langsung. Berbeda dengan mentoring yang berbasis pengalaman mentor, coaching menempatkan coach sebagai fasilitator yang menjaga netralitas dan tidak mengintervensi keputusan. Standar coaching yang dirujuk mengacu pada International Coaching Federation (ICF), yang menekankan etika, membangun trust dan safety, kehadiran penuh (presence), serta memfasilitasi pertumbuhan klien. Prinsip dasarnya: setiap individu sebenarnya memiliki sumber daya untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Materi juga membahas integrasi AI dalam coaching dan kepemimpinan. AI dapat dimanfaatkan untuk otomasi, riset, produksi konten, hingga AI coaching. Namun, terdapat tantangan seperti halusinasi AI, kelelahan sistem, hingga risiko “AI psychosis” jika pengguna terlalu bergantung tanpa berpikir kritis. Karena itu, mindset yang ditekankan adalah: jangan pernah sepenuhnya percaya pada AI, selalu latih dan beri instruksi dengan jelas, serta lakukan pengecekan akhir oleh manusia. AI adalah alat bantu, bukan pengganti nalar dan tanggung jawab manusia. Pada bagian akhir, materi menyoroti perubahan paradigma pembelajaran dan kurikulum di era AI. Kurikulum bukan sekadar materi, tetapi rangkaian pengalaman belajar. Pendekatan 4C (Collect, Connect, Create, Contribute) menggambarkan pergeseran dari sekadar menerima informasi menjadi aktif mencari, menyaring, mengolah, dan membagikan nilai. Kesimpulannya, kepemimpinan di era AI membutuhkan kombinasi coaching mindset, kecakapan digital, dan kemampuan membangun ekosistem belajar yang adaptif serta berorientasi kontribusi. #INISIATIF

Tips Perawatan untuk Mencegah "Tragedi Perempuan Pendamping" 🤝❤️ Oleh: Hasanudin Abdurakhman Perempuan memilih jadi pendamping suami. Ia berjuang keras agar suaminya sukses. Ada yang harus berhenti kuliah demi karir suami. Ada juga yang berhenti kerja. Atau sebaliknya, kerja berlipat-lipat agar suaminya tertolong. Ada yang sampai jual harta, sampai habis. Semua dilakukan agar suaminya sukses. Kelak kalau suaminya sukses, orang akan berkata,"Di balik suami sukses ada istri yang bekerja keras mendukungnya." Tapi sering ceritanya berbelok menjadi tragedi klise. Saat suami sukses, ia tak melihat perjuangan istrinya. Yang ia lihat yang buruk-buruk saja. Termasuk yang buruk-buruk akibat perjuangan tadi. Tubuh istri tak terawat karena bekerja terlalu keras. Apalagi kalau beranak dan merawat anak. Segera saja tubuhnya jadi gembrot dan tak menarik lagi. Ada salah-salah bini, suami melihatnya sebagai keburukan belaka. Suami sukses jadi orang penting, sedangkan istrinya tak berkembang (kecuali lemak tubuhnya). Suami tak lagi merasa istrinya patut mendampinginya secara intelektual. Pokoknya ada banyak hal yang bisa jadi alasan untuk meninggalkan istri. Lalu cari yang baru. Saat sukses, apa susahnya cari lagi. Harta ada, jabatan ada, kepercayaan diri pun tinggi menjulang. Perempuan yang mau ada banyak. Mereka pun tak peduli bahwa laki-laki ini dengan mudah mencampakkan rekan seperjuangannya. Lebih penting untuk menikmati masa depan ketimbang mengorek masa lalu. Tinggallah si perempuan merana. Uang tak punya, skill tak bertambah, kecantikan sudah memudar, tenaga mulai rapuh, tubuh melar tak terkendali. Siapa yang mau? Agar tak jadi tragedi, jangan mau jadi perempuan pendamping. Kau bukan nomor 2. Jadilah partner. Rumah tangga itu milik berdua, setara. Dampingi suami agar sukses, tapi di saat yang sama kau berhak menuntut dukungan juga. Jangan puas jadi pelengkap sukses suami. Kau harus sukses juga. Perempuan perlu melakukan perawatan. Merawat hal-hal berikut. Agar tak sekadar jadi pendamping. Kalau pahit-pahitnya suamimu berubah jadi brengsek, kau tak terpuruk. 1. Rawat intelektualitas dan skill. Jangan malas belajar. Jangan jadikan peran sebagai ibu sebagai alasan untuk tertinggal. Jangan bangga dengan istilah "emak-emak" dalam konotasi rendah. Emak-emak yang tak berpengetahuan dan tak beretiket. Jaga diri untuk tetap menjadi perempuan intelek yang tumbuh. 2. Rawat penghasilan. Jangan berhenti kerja. Atau, jangan berhenti berpenghasilan. Memilih untuk merawat anak tidak selalu bermakna jadi nol penghasilan, dan bergantung pada suami. Manfaatkan skill untuk terus punya income. 3. Rawat jaringan. Jangan sampai putus hubungan dengan rekan-rekan di dunia profesional. Tidak sekadar berkomunikasi, tapi tetaplah jadi profesional yang diperhitungkan. 4. Rawat tubuh. Menikah dan punya anak bukan alasan untuk mengabaikan perawatan tubuh. Jangan jadikan "suami tidak keberatan" sebagai dalih untuk tidak merawat tubuh. Rawat tubuhmu untuk dirimu, bukan untuk orang lain. Untuk bisa melakukan perawatan itu, kau tidak bisa sendiri. Kau perlu dukungan. Maka tuntutlah dukungan timbal balik. Dukung suamimu, tapi di saat yang sama ia wajib mendungkungmu. Tegaskan bahwa tugas pengasuhan anak dan pengelolaan rumah tangga adalah tugas berdua. Jangan mau dibebani dengan tugas-tugas secara tidak adil, yang membuat kau tak punya waktu untuk pengembangan diri. #INISIATIF

Oleh: Dedi Priadi Jika telur pecah akibat tekanan dari luar, sebuah kehidupan berakhir. Kekuatan luar adalah tekanan, tuntuta
Oleh: Dedi Priadi Jika telur pecah akibat tekanan dari luar, sebuah kehidupan berakhir. Kekuatan luar adalah tekanan, tuntutan orang lain, atau ketakutan, yang seringkali memadamkan semangat kita. Hidup yang dipimpin oleh paksaan tidak akan pernah menjadi milik kita seutuhnya, dan potensi sejati pun menghilang. Namun, keajaiban nyata terjadi jika telur pecah akibat kekuatan dari dalam, sebuah kehidupan dimulai. Inilah dorongan dari hati yang paling dalam (𝘪𝘯𝘵𝘳𝘪𝘯𝘴𝘪𝘤 𝘮𝘰𝘵𝘪𝘷𝘢𝘵𝘪𝘰𝘯), hasrat yang tulus, dan kemauan otentik yang berkembang. Hanya dari titik inilah perubahan yang kita alami dapat bertahan lama dan memberikan makna yang mendalam. Dalam mendidik anak, hindari terus menerus memberi imbalan atau hukuman. Jangan jadikan imbalan dan hukuman menjadi penyebab tekanan luar itu. Sebaliknya, bangunlah rasa tanggung jawab dan kemampuan untuk memilih pada anak-anak kita. Biarkan mereka bangga dengan apa yang mereka capai atas inisiatif sendiri, bukan karena tekanan orang tuanya. Di sekolah, jangan biarkan nilai-nilai akademik menjadi satu-satunya tujuan. Tekanan itu bisa menghilangkan kegembiraan belajar. Ajak siswa menemukan minat pribadi mereka, ubah tugas menjadi sebuah petualangan seru. Dengan begitu, rasa ingin tahu akan menjadi motivasi terbaik mereka. Di kantor, uang atau aturan saja tidak bisa membuat orang peduli. Keterlibatan yang tulus tidak bisa dipaksakan. Berikan kebebasan kepada tim untuk menentukan cara mereka bekerja dan pastikan mereka tahu dampak penting dari hasil kerja mereka. Ketika mereka merasa dihargai dan punya peran, semangat kerja yang tulus akan tumbuh sendiri. Filosofi ini mengajarkan kesederhanaan: pilihlah untuk tumbuh dari dalam. Kapan pun Anda menghadapi kesulitan—baik di rumah, sekolah, atau kantor—tanyakan: 𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴, 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯? Pilihan yang datang dari hati selalu memberi ketenangan dan kekuatan. Jangan biarkan orang lain memegang palu di luar cangkang Anda. Kekuatan untuk berubah, untuk menjadi lebih baik, dan untuk hidup lebih bermakna sudah ada di dalam diri Anda. Gunakan kekuatan internal itu, pecahkan cangkang Anda sendiri, dan hiduplah sebagaimana seharusnya Anda hidup. 𝘉𝘪 '𝘢𝘶𝘯𝘪𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘸𝘢 𝘲𝘶𝘸𝘸𝘢𝘵𝘪𝘩. #INISIATIF

Oleh: Raymond Arief "What you are doing now, affects others. Either instantly or soon will be." Kadang kita nggak sadar kalau hal-hal kecil yang kita lakukan sehari-hari itu sebenarnya nyebar jauh lebih luas dari yang kita kira. Cara kita ngomong, cara kita nge-handle emosi, keputusan-keputusan kecil yang kita buat, semuanya ngirim “gelombang” ke sekitar kita. Ada yang kerasa langsung, ada juga yang baru kelihatan nanti. Tapi satu hal pasti: hidup kita selalu menyentuh hidup orang lain. Makanya penting banget buat punya kesadaran bahwa hidup yang “impactful” itu bukan soal hal-hal besar saja. Impact itu bisa lahir dari respons kita yang tenang, kebaikan kecil yang konsisten, postingan di social media atau integritas yang kita pegang waktu nggak ada yang lihat. Dan sebaliknya, keputusan yang egois juga bisa punya rantai panjang yang bikin orang di sekitar kita ikut kena. Seperti kalimat, “Apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.” Impact seperti apa yang mau kita tinggalkan, dan apa yang kita ingin orang lain rasakan dari kehadiran kita? Kita bisa pilih untuk bikin orang lain merasa aman, didengar, dan dikuatkan… atau malah sebaliknya. Ingat, hidup ini selalu bergerak, dan setiap yang kita lakukan mulai dari keputusan yang kita ambil sampai hal sesederhana postingan di social media, langsung atau nggak langsung akan ngasih impact ke orang lain. Tinggal kita mau pilih impact yang seperti apa. Let’s learn to be wiser.✌️😊 #INISIATIF

Oleh: Iwan Kusworo Selamat pagi, Sahabat! Another "jleb" moment dari tulisan ini... 🥹 To limit yourself by your education, y
Oleh: Iwan Kusworo Selamat pagi, Sahabat! Another "jleb" moment dari tulisan ini... 🥹
To limit yourself by your education, your experience, where you live, or your family situation is creating your own jail cell. It becomes your crutch, your excuse as to why you can't move in a new direction.
Ketika kita terlalu membatasi diri entah itu karena alasan latar belakang pendidikan, pengalaman, lingkungan tempat tinggal, atau kondisi keluarga, sebenarnya kita sedang membangun “penjara” kita sendiri. Itu tanpa kita sadari akan menjadi alasan dan pembenaran mengapa kita merasa tidak bisa melangkah ke arah baru yang lebih baik. Tidak heran ungkapan-ungkapan seperti ini mungkin jadi cukup familiar... "Hah, belajar coding? Duh, saya sudah ketuaan. Otaknya gak nyampe." "Jadi agen properti? Kayaknya gak mampu deh. Saya kan orangnya introvert." "Pakai AI? Apaan lagi tuh? Gak sempet belajar ah, kerjaan udah banyak." Sahabat... Learning is an investment in yourself. Never stop learning, because life never stops teaching. Buku apa yang sedang Anda baca pagi ini? Have a nice and wonderful day! ❤️ #INISIATIF #TGIF

😂🤣🥲☺️😊🙂 Update sementara (H-2) peserta lomba BPJS Kesehatan Ramadan Fest (BRF) 2026 🇲🇨 Lomba Menyanyi Lagu Islami 1. SDSU https://www.instagram.com/reel/DU60z3_E0Gw/?igsh=cW1na3o4ajNxbXYx 2. KC Jakarta Barat https://www.instagram.com/reel/DVDKXmZETZY/?igsh=eXI5YnlqcThxeHUx 3. KC Jember https://www.instagram.com/reel/DVDlsjyk6X7/?igsh=MWlubXBlY280NWVoag== 4. KC Bandung https://www.instagram.com/reel/DVGqsgegDdw/?igsh=amxrbjgzcWlvZ3Q3 5. KC Magelang https://www.instagram.com/reel/DVILw_QkeWH/?igsh=aW9pa3l3dXJzcHJw 6. KC Kebumen https://www.instagram.com/reel/DVKZD7Jj-qA/?igsh=M3lzM2pjamZ6eTAw 7. KC Pontianak https://www.instagram.com/reel/DVLUEaTgUSB/?igsh=MXI2ajUxaXZjdXpnbA== 8. KC Tulungagung https://www.instagram.com/reel/DVMlvKGkpPx/?igsh=MXBlMXI1c2Q5Nmt5NA== 9. KC Curup https://www.instagram.com/reel/DVL6NKWEu-4/?igsh=ZWplajVhOWhlNDRs 10. KC Palembang https://www.instagram.com/reel/DVNOpLHEeu4/?igsh=MTBxcDVvdXlmN3BiaQ== 11. KC Surabaya https://www.instagram.com/reel/DVNYXsiklzT/?igsh=MWFwZTM4cGU0N2RxNw== -------------------- Lomba Da'i Cilik 1. KC Luwuk https://www.instagram.com/reel/DVFpu3-kqT-/?igsh=MXNpcHU3MHJ0bGpvaA== 2. TINVEST https://www.instagram.com/reel/DVF_p-HAUT_/?igsh=Y2RjcHJlZmUzMnV5 3. KC Lubuklinggau https://www.instagram.com/reel/DVGBtmIE2yA/?igsh=b2VzZWdyODZkbThv 4. KC Palembang https://www.instagram.com/reel/DVIHCuwE3l7/?igsh=MXRkNWwzYm9iOXF0dg== 5. KC Singkawang https://www.instagram.com/reel/DVLJi1IE-8C/?igsh=MTZ1N3FkdW5kdzB2cQ== 6. KC Kendari https://www.instagram.com/reel/DVNStBBCXtu/?igsh=MXVyOWVzbmZnaDZ3eQ==

😂🤣🥲☺️😊🙂 Update sementara (H-2) peserta lomba BPJS Kesehatan Ramadan Fest (BRF) 2026 🇲🇨 Lomba Vlog Ramadan 1. KC Kediri https://www.instagram.com/reel/DU9BLtnkteQ/?igsh=MWRjZmg0am52ZW56eQ== 2. KC Jember https://www.instagram.com/reel/DVBH94rk9Y_/?igsh=Z2UzZHFybThvdjhu 3. KC Jayapura https://www.instagram.com/reel/DVD8H8XEnqt/?igsh=Y3Y4bnlqcDkwbXZo 4. KC Surakarta https://www.instagram.com/reel/DVGjGe2gLu1/?igsh=MTZ6Y3I0YnhzMmdjbA== 5. KC Langsa https://www.instagram.com/reel/DVGmbUUCYGF/?igsh=ZjM0YjJkdHhndnFl 6. KC Sukabumi https://www.instagram.com/reel/DVH5VP1k3dy/?igsh=eG1pNGd4eWx1cTl4 7. KC Jayapura https://www.instagram.com/reel/DVItcWTiakQ/?igsh=dnNmaWNhbnVhZGFn 8. KC Biak Numfor https://www.instagram.com/reel/DVH80dVEvyq/?igsh=MXUyaTJ1cXBvdzF5ZA== 9. KC Waingapu https://www.instagram.com/reel/DVKrU2bkgG0/?igsh=MWthdWJoNWVkbmhicw== 10. KC Tigaraksa https://www.instagram.com/reel/DVKuR--ieoQ/?igsh=eGF0YTd5d2Q4ZHIw 11. KC Meulaboh https://www.instagram.com/reel/DVK5GsYEThn/?igsh=aHpuOHBzNzRmMmw1 12. KC Bandung https://www.instagram.com/reel/DVLBN_zE0HD/?igsh=c3Q4ejFuazBzZ3Rt 13. KC Langsa https://www.instagram.com/reel/DVLkqSmEtB8/?igsh=MWoxdzViOHA5aG9iaQ== 14. KC Pekanbaru https://www.instagram.com/reel/DVL4UNIEWbx/?igsh=MWw3bTR0dmtvcnd3dg== 15. KC Pematangsiantar https://www.instagram.com/reel/DVNDd7tkXfk/?igsh=MWx6a2x5MjhyMWF6 16. KC Denpasar https://www.instagram.com/reel/DVNBJrEks2w/?igsh=b2xvdzk2bnBuaXEx 17. KC Biak Numfor https://www.instagram.com/reel/DVNS6M2Eedb/?igsh=eGl2NzBwMDJyNHk1 18. KC Palembang https://www.instagram.com/reel/DVNWuC7kvG-/?igsh=MTF4eDV6dnBkeGZlMg== 19. KC Samarinda https://www.instagram.com/reel/DVNtsK7EvX8/?igsh=MTI1eWI3am1wN3p2aA==

Oleh: Dedi Priadi Kita usahakan makan tanpa merebut piring orang lain, meskipun piring kita pernah direbut orang lain. Inilah
Oleh: Dedi Priadi Kita usahakan makan tanpa merebut piring orang lain, meskipun piring kita pernah direbut orang lain. Inilah harga diri manusia beradab. Ia laksana akar pohon jati yang meski dihimpit batu, tetap tumbuh lurus mencari air bening. Jangan sampai rasa sakit karena dicurangi mengubah kita menjadi pribadi yang picik. Mungkin piring kita pernah kosong karena ulah orang lain, tapi ingatlah bahwa Tuhan tidak pernah tidur. Dia selalu punya cara untuk mencukupi hamba-Nya yang sabar. Harta hasil memalak hak orang lain itu laksana meminum air laut. Semakin kita teguk, semakin haus dan gersang jiwa kita. Tak akan pernah ada rasa syukur di sana. Kehormatan kita ada pada keringat yang halal. Biarpun lauk kita hanya tahu dan tempe, selama itu hasil jerih payah sendiri, rasanya akan jauh lebih nikmat dan menenangkan. Jadilah pribadi yang integritasnya teguh. Jangan kotori tangan kita hanya karena perut kita lapar. Rasa lapar itu sifatnya sementara, namun noda di jiwa akan membekas sangat lama. Tataplah wajah keluarga kita dengan bangga. Katakan pada mereka bahwa setiap butir nasi yang mereka makan adalah cahaya, bukan beban yang akan menghalangi doa-doa menuju langit. Tetaplah membumi dan fokus mempercantik isi piring kita dengan cara yang baik. Rezeki itu sudah ada takarannya, ia tidak akan pernah tertukar dengan milik orang lain. Apa yang menjadi milik kita tidak akan melewatkan kita, dan apa yang melewatkan kita memang bukan milik kita. Biarlah piring kita sedikit isinya, asal ia penuh dengan kehormatan. Sebab rezeki halal adalah warisan terbaik yang membuat langkah kita ringan menuju alam keabadian tanpa rasa takut. #INISIATIF

Ramadan menghadirkan energi yang berbeda di tempat kerja. Selalu ada sosok yang dengan caranya masing-masing menjaga suasana
+6
Ramadan menghadirkan energi yang berbeda di tempat kerja. Selalu ada sosok yang dengan caranya masing-masing menjaga suasana tetap positif, baik lewat kesabaran, dukungan, maupun pengingat kebaikan 😍 Kalau di unit kerjamu, siapa yang paling Ramadan vibes? mention orangnya di komentar yah👇 https://www.instagram.com/p/DVLJk8ACekZ/?igsh=cmU5N3ZnMmVwM3J5