en
Feedback
Terasing Arsip

Terasing Arsip

Open in Telegram

Tafadhol di simpan sebelum channel ini ke banned

Show more
731
Subscribers
No data24 hours
No data7 days
No data30 days
Posts Archive
Repost from Dakwah Terasing
#Diary—Agung Moehadji Soemo Soemadi Seseorang bertanya pada Hassan Al Basri [rahīmahullāh]: “Apa rahasia kesālihanmu?” Ia menjawab, “Aku memahami 4 hal": 1. Aku paham, rezekiku tak bisa diambil oleh siapapun, maka hatiku merasa tenteram. 2. Aku paham, tak ada yang bisa melakukan ibādahku, maka aku melakukannya sendiri. 3. Aku paham ALLĀH تعالى memperhatikanku, maka aku merasa malu untuk berbuat salah. 4. Aku paham kematian sedang menungguku, maka mulai kupersiapkan pertemuanku dengan ALLĀH تعالى

Repost from Dakwah Terasing
Dari Jabir bin ‘Abdillah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ “Antara seseorang dengan kemusyrikan dan kekafiran itu adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim no. 257). Dari Buraidah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: اَلْعَهْدُ الَّذِيْ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلَاةُ ، فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ. "Batas antara kita dengan mereka adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka telah kafir. " (HR.Tirmidzi 2621)

Repost from N/a
#Diary—Agung Moehadji Soemo Soemadi Jika para Sahābat berfokus pada diri mereka sendiri, ras mereka, suku mereka, atau warna kulit mereka, dan jika mereka tak mengerahkan segala upaya mereka untuk dominasi Islām, maka Islām takkan tegak. Dengan mengadopsi ‘Aqīdah Islām, orang tak lagi tetap sebagai orang Arab, orang kulit Putih, atau kulit Hitam. Mereka menolak untuk tetap menjadi budak tuan-tuan palsu tersebut, tapi sebaliknya, mereka bersandar dan tunduk pada Guru yang sejati….ALLĀH, Yang Maha Tinggi. Saat ini, ketika kita melihat Ummat Islām pada umumnya, kita mendapati bahwa ummat Islām terpisah-pisah berdasarkan sejumlah besar entitas nasional, yang masing-masing memperhatikan dan menjaga batas-batasnya sendiri serta menjaga kesetiaan terhadap batas-batas tersebut. Kita menemukan ummat Islām memiliki kesetiaan mereka kepada dewa-dewa palsu seperti warna kulit, ras, suku, dan batas politik buatan yang memisahkan ummat kita. Beberapa masih menganggap diri mereka sebagai orang Arab, Pakistan, India, atau Afro Amerika. Mengusung label seperti Arab, Pakistan, Hitam, atau Putih berarti kita belum menghilangkan perbedaan kita sebagaimana Islam menghilangkan perbedaan Muslim sebelumnya. Resistensi ini mencemari aliansi dan kesetiaan kita hanya kepada ALLĀH. Hal ini merampas kebebasan dan kemerdekaan sejati kita serta menempatkan kita di bawah perbudakan baru. Hal ini jauh lebih buruk daripada perbudakan yang terjadi di perkebunan Amerika, atau pada masa pendudukan Inggris terhadap pola pikir Muslim di anak benua tersebut, atau pada koloni Perancis di Afrika Utara. Mereka yang diperbudak pada saat itu, mengetahui bahwa mereka adalah budak dan bekerja untuk membebaskan diri mereka sendiri. Namun, dalam perbudakan saat ini, kita sering kali tak menyadari kondisi kita dan mengabaikan segala upaya pembebasan. Saat ini, seluruh ummat manusia menderita akibat perbudakan ini. Ummat Islām-lah satu-satunya yang mampu membawa ummat manusia keluar dari kesengsaraan ini. Untuk melakukan hal ini, mereka harus sekali lagi menegakkan kesetiaannya (WALĀ’) hanya kepada ALLĀH Ta’āla, tunduk hanya kepada-Nya, dan menolak, mengingkari, dan melepaskan diri dari rasisme dan nasionalisme. Pada saat itulah…..dan hanya pada saat itulah, ummat manusia akan mengetahui hakekat kebebasan dan kemerdekaan yang sesungguhnya.

Repost from N/a
#Diary—Agung Moehadji Soemo Soemadi Kenalilah kedudukan para Sahābat radhiyAllāhu ‘anhum! Merekalah murid-murid langsung Rasulullāh Shallallāhu ‘Alaihi Wassalām Kehidupan mereka adalah ilustrasi untuk kita ikuti, dimana kita harus belajar dari kekurangan mereka serta amal baik mereka. Tindakan mereka dibicarakan dalam Qur’ān. Ketika mereka berbuat keliru, ALLĀH Subhānahu wa Ta’āla akan membimbing mereka menggunakan Al Qur’ān. Betapa mulia mereka Seolah-olah andai Qur’ān adalah sebuah buku pelajaran, maka para Sahābat adalah beberapa contoh kecil yang biasanya tertulis di bagian bawah halaman buku. Kehidupan para Sahābat tak tertandingi dalam kesālihan dan tanpa pamrih. Mereka hidup demi Islām! Andai saja kita bisa merenungkan dan menyadari kebesaran mereka yang terpilih untuk menjadi Sahābat Rasulullāh Shallallāhu ‘Alaihi Wassalām!

Repost from N/a
BISMILLAH.. Sedikit yang memahami Dien ini... Sedikit yang memihak jalan ini... Sedikit yang mengadopsi bentuk Islam yang benar... Sedikit yang membahas ketegasan dan otoritas Islam... Banyak yang membahas aspek Islam yang manis-manis saja... Banyak yang berbicara kasih sayang Allah saja... Banyak yang berucap Islam tegak hanya lewat jalan damai... Banyak yang berasumsi Islam tegak cukup lewat khutbah dimimbar-mimbar saja... Siapa yang akan mengingatkan umat ini... Allah maha lembut juga maha keras azabnya... Siapa yang akan memberi tahu umat ini... Nabi diutus membawa perdamaian juga diutus dengan pedang... Akankah engkau berdusta... Saat Nabi berkata: Aku diperintahkan untuk memerangi seluruh manusia... Akankah engkau talbis... Saat Nabi berkata: Rezky ku berada diujung tombakku... Umat tiap hari dibombardir... Umat sedang dijagal laksana hewan tanpa ampun... Muslimah dihinakan hampir disetiap jengkal bumi Allah... Kekayaan negeri muslim dan hukum-hukumnya digagahi... Lalu para khatib selebriti dan ulama bayaran berkata: Islam agama damai... Tak ada jihad hari ini... Jihad harus bersama ulil amri... Lalu diikuti para ustadz dan para thullabnya... Semua membeo dan berkata: Betul wahai syeikh... Benar wahai ustadz... Islam agama damai, tak ada jihad hari ini... Beri tahu kami... Adakah metode yang terbaik... Untuk menjayakan dan mengangkat Izzah umat... Selain metode Rasulullah...!!!??? Apa do'a mu lebih makbul... Nabi berdo'a juga memanggul senjata... Apa metode dakwah mu lebih baik... Nabi berdakwah juga mengangkat pedang... Apa engkau lebih faqih berdakwah dari Abu Bakar as shiddiq...? Apa ibadah mu lebih baik dari Umar bin khattab...? Apa engkau lebih mulia dari Khalid bin walid...? Mereka berdakwah juga terjun dimedan laga... Semua takut memihak kebenaran. Semua takut menyuarakan kebenaran. Semua bahkan takut sekedar melihat kebenaran. Tak ada yang mau menjawab karena semua benci pertanyaan ini. (Al-Baqarah; 216)--> KUTIBA 'ALAIKUMU L-QITAAL, . . . . (Al-Baqarah; 216) Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. Ustadz.Abu Luqman

Repost from Dakwah Terasing
*ONE DAY ONE HADITS* `Kamis, 28 Desember 2023 / 15 Jumadil Akhir 1445``` _*Fitnah yang Ditimbulkan Wanita Sangat Kuat*_ عن أسامة بن زيد رضي الله عنهما عن النَّبيّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ((مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً هِيَ أضَرُّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّساء)). مُتَّفَقٌ عَلَيهِ. Dari Usamah bin Zaid radhiallahu 'anhuma dari Nabiﷺ sabdanya: "Saya tidak meninggalkan sesuatu fitnah sepeninggalku nanti yang fitnah itu Iebih besar bahayanya untuk dihadapi oleh kaum lelaki, Iebih hebat dari fitnah yang ditimbulkan oleh kerana persoalan orang-orang perempuan." *(Muttafaq 'alaih)* *Pelajaran yang terdapat di dalam hadist:* 1- Hadist ini memberi petunjuk bahwa fitnah-fitnah pada wanita paling dahsyat dari sekian syahwat. 2- Karena syahwat kepada wanita tidak ada puasnya. 3- Kadang-kadang cinta pada wanita membawa laki-laki tak peduli itu harom dan meninggalkan apa yang bermanfaat untuk dirinya dunia ataupun akhirat. 4- Ini merupakan peringatan rasulullah shalallahu alaihi wasallam hendaklah waspada dengan wanita jangan sampai celaka dunia dan akhirat. *Tema hadist yang berkaitan dengan al quran:* 1- Hati-hati dan waspada dengan tipu daya wanita إِنَّ كَيْدَكُنَّ عَظِيمٌ sesungguhnya tipu daya kamu(wanita) besar.”  *(Yusuf: 28)* 2- Allah Subhanahu wa Ta'ala memberitakan tentang semua yang dijadikan perhiasan bagi manusia dalam kehidupan di dunia ini, berupa berbagai kesenangan yang antara lain ialah wanita dan anak-anak. Dalam ayat ini dimulai dengan sebutan wanita, karena fitnah yang ditimbulkan oleh mereka sangat kuat. زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). *(An nisa : 14)* Wallahu a'lam

Repost from Dakwah Terasing
Tafadhol bagi yang ingin meringankan beban beliau
Tafadhol bagi yang ingin meringankan beban beliau

Repost from N/a
#Diary —Agung Moehadji Soemo Soemadi Wahai saudaraku Muslim, jangan pernah kehilangan harapan pada Rabb kalian. Ingatlah selalu bahwa seberat apapun ujian yang kalian hadapi, para Sahābat menghadapi skenario yang lebih buruk. Ibn Taimiyyah, Abu Hanifah, Ahmad ibn Hanbal [rahimahumullāh] dan banyak Ulama besar lain dijebloskan dalam jeruji besi namun tak sekalipun mereka berkompromi pada seruan mereka. ‘Ammar ibn Yāsir [radhiyAllāhu ‘anhu] menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri penyiksaan dan pembunuhan terhadap ibunya, Hamzah [radhiyAllāhu ‘anhu] dimutilasi, Bilal [radhiyAllāhu ‘anhu] disiksa, Abu Bakar [radhiyAllāhu ‘anhu] dipukuli sampai hampir mati, ‘Utsman [radhiyAllāhu ‘anhu] dibunuh, dan Rasulullāh Shallallāhu ‘Alaihi Wassalām dicekik dan kehabisan nafas. Serupakah jenis ujian yang kita hadapi dalam hidup kita karena ALLAH? Jika kalian mendengar seorang munāfiq atau korup bilang, “Ya…tapi itu kan di jaman mereka. Kenyataan sudah berganti dan kita hidup dalam situasi yang berbeda…” maka jangan dengarkan…karena ada penyakit di hatinya. Tak seorang pun akan masuk Syurga tanpa menghadapi ujian berat dari ALLAH Subhānahu wa Ta’āla di setiap bidang kehidupan, karena ALLAH akan menguji mereka yang dicintai-Nya. ❝Ketika ALLAH menghendaki kebaikan bagi seseorang, Dia akan mengujinya.❞ —Muhammad Shallallāhu ‘Alaihi Wassalām (Al Bukhary)

Repost from N/a
Karena tanpa iman kepada dan qadha dan qadar maka pemahaman tauhid ini akan pincang bahkan akan di tinggalkan ketika seseorang mendapatkan kesulitan mendapatkan ujian dari Allah subhanahu wa ta'ala ( Ust Abu Sulaiman, Audio Khutbah Jum'at ke 91)

Repost from N/a
Sungguh telah kafir yang mengatakan isa putra maryam anak Tuhan.

Repost from N/a
#Diary—Agung Moehadji Soemo Soemadi 4 perkara yang membuat tubuhmu sakit; 1) Bicara berlebihan. 2) Tidur berlebihan. 3) Makan berlebihan. 4) Bertemu berlebihan dengan orang lain. 4 perkara yang meningkatkan aura wajah dan kebahagiaanmu; 1) Kesālihan. 2) Loyalitas. 3) Kemurahan hati/ dermawan. 4) Membantu orang lain tanpa diminta. 4 perkara yang menghentikan Rizqimu; 1) Tidur di pagi hari (antara Subuh dan matahari terbit) 2) Tak teratur dalam shalāt (Tariqu shalāt) 3) Kemalasan/ pengangguran. 4) Pengkhianatan/ ketidakjujuran. 4 perkara yang meningkatkan Rizqimu; 1) Tetap terjaga di malam hari untuk shalāt. 2) Selalu bertaubat. 3) Berderma secara rutin. 4) Dzikirullāh (mengingat ALLĀH)

Repost from N/a
#Diary—Agung Moehadji Soemo Soemadi ❝Siapapun yang meninggalkan Syari'āh yang sudah jelas, yang diturunkan kepada Muhammad Ibn Abdillāh, penutup para Nabi, dan mengambil hukum selainnya dari hukum kāfir yang bātil, maka dia KĀFIR. Lalu bagaimana dengan seseorang yang mengambil Hukum 'Yasiq' (hukum orang Tartar yang dicampur Syari'āh dengan aturan-aturan yang ditetapkan) dan memilih menggunakannya daripada Syari’āh?! Siapapun yang melakukan itu, ia telah KĀFIR dengan Ijmā' ummat Islām.❞ —Al Hāfidz Ibn Katsir; Al-Bidāyah wan-Nihāyah, Vol. 13/119

Repost from Dakwah Terasing
Dzikir tidak akan membuahkan ketenangan hati kecuali jika dibarengi dengan cara berpikir yang sehat (al-fikru as-salim) dengannya ia bisa memahami sunatullah. Sedangkan orang-orang yang menggunakan cara berpikirnya dengan cara khurafat dan menolak sunatullah dia tidak akan mencapai janji ilahi dari pertolongan, kemenangan sempurna (tamkin) dan izah. Inilah makna firman Allah ta’ala: الَّذِينَ يَذْكُرُونَ ………. وَيَتَفَكَّرُونَ “Orang-orang yang berdzikir…….. dan berfikir.” Yang menghasilkan pengakuan: مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا Inilah yang disebut seseorang faqih; mendapatkan bashirah pengetahuan alam syahadah dan juga alam ghaib. Dia memantau pergerakan alam ghaib untuk memelihara pergerakan alam nyata. Rasa pengangungan Allah dalam hati bisa terwujud dengan mengenal qudrah-Nya (kekuasaan-Nya). Mengenal qudrah Allah tidak bisa kecuali dengan mengerti makhluk-Nya; caranya dengan tafakur, pengamatan, menganalisis, pengembaraan dan studi. Mereka inilah yang disebut ulil albab. Mengapa kekafiran walaupun memiliki kekuatan yang melebihi kaum mukminin dapat dikalahkan? Karena mereka kaum yang la yafqahun (tidak faqih, tidak memahami). Mereka bukan golongan ulil albab seperti firman Allah: يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ حَرِّضِ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى الْقِتَالِ ۚ إِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ عِشْرُونَ صَابِرُونَ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ ۚ وَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ مِائَةٌ يَغْلِبُوا أَلْفًا مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَفْقَهُونَ “Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak faqih.” (Al-Anfal: 65) Maka, hakikat pergulatan adalah antara kaum yang faqih pada al-haq dari syariat dan sunatullah versus kaum yang sesat tidak faqih syariat dan sunatullah. Permusuhan antara ulil albab versus ad-dhalin (orang-orang sesat). والله أعلم بالصواب Silahkan disebarkan, mudah2an anda mendapatkan bagian dari pahalanya Baarakallahu fiikum ... . Dikutip "NgajiBersama"

Tsalaasai 06 Syawal 1442 H السلام عليكم ورحمة الله وبركاته بِسْـــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِـــــــــيم Dzikir dan Berpikir قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ بِتُّ عِنْدَ خَالَتِي مَيْمُونَةَ ، فَقُلْتُ لَأَنْظُرَنَّ إِلَى صَلاَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَطُرِحَتْ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وِسَادَةٌ ، فَنَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي طُولِهَا ، فَجَعَلَ يَمْسَحُ النَّوْمَ عَنْ وَجْهِهِ ، ثُمَّ قَرَأَ الآيَاتِ العَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ آلِ عِمْرَانَ ، حَتَّى خَتَمَ ثُمَّ أَتَى سِقاَءً مُعَلَّقًا ، فَأَخَذَهُ فَتَوَضَّأَ ثُمَّ قَامَ يُصَلِّي Berkata Ibnu ’Abbas radhiyallahu ‘anhu: “Suatu hari aku menginap di rumah bibiku Maimunah, lalu aku berkata padanya; ‘Sungguh aku ingin melihat shalat (malam) Rasulullah.’ Maka (bibiku) menyiapkan bantal bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam setelah itu beliau tidur di pembaringan bagian sisi panjangnya. Ketika bangun (malam) mengusap kantuk dari wajahnya lalu beliau membaca sepuluh ayat terakhir surat Ali Imran hingga selesai. Kemudian beliau menuju ke geriba air minum yang tergantung, beliau berwudhu darinya lalu beliau shalat.’” (Al-Bukhari) Dalam hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam mengajarkan kesempurnaan seorang mukmin; dzikir dan berpikir. الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan batil, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (Ali Imran: 191) Dzikir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam tatkala bangun malam bersiap qiyamullail dengan membaca sepuluh ayat terakhir surat Ali Imran. Dzikir mengingat Allah Rabb semesta, dzikir mengingat negeri akhirat, dzikir membaca Kitabullah yang semua itu menguatkan ruh. Dzikir harus diimbangi dengan berpikir; maknanya mengerahkan potensi akal untuk menimbang dan menganalisis. Berpikir agar dapat memahami sunah kauniyah dan qadariyah kehidupan ini dan memahami bagaimana Allah menundukkan mahkluk yang telah Ia ciptakan bagi manusia. وَسَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مِنْهُ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir. (Al-Jasiyah: 13) Menundukkan sesuatu tidak bisa dilakukan kecuali dengan itqan (ketelitian, kesungguhan serta penguasaan). Yaitu dengan mengenal sunatullah didalamnya. Semakin manusia memahami sunatullah maka semakin dia dapat menundukkan apa yang ada di langit dan bumi. Sehingga dia mengatakan: مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا “Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan batil.” Sebaliknya orang-orang yang menolak untuk memahami sunatullah akan mengatakan: هَٰذَا بَاطِلًا “Penciptaan ini batil.” Batil adalah sesuatu yang tidak berfaedah; perkataan yang menunjukkan kebodohannya pada hikmah Allah dan kesucian-Nya. Sebab tidaklah Allah menciptakan sesuatu di langit dan bumi kecuali ada manfaatnya bagi manusia. Supaya kita dapat memahami sunatullah dengan baik, maka perlu memasukinya melalui pintunya terlebih dahulu. Pintu memerlukan kunci untuk membukanya yaitu ilmu mengenai takdir penciptaan sampai mencapai pemahaman yang akan membimbingnya. Sedang ayat-ayat kauniyah (kosmos) merupakan tanda-tanda untuk memahami sunatullah. Ayat juga berarti alaqah (hubungan atau keterkaitan) yang memiliki banyak makna. Di antara maknanya adalah petunjuk siapa yang menciptakan-Nya, keagungan-Nya, dan hikmah-Nya. Orang yang memiliki akal sehat akan menemukan makna tersebut.

NgajiBersama: بِسْـــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِـــــــــيم Lanjutan TERJEMAHAN KITAB Mukhashar Al Fiqhil Islamiy Syaikh Muhammad Ibnu Ibrahim At Tuwaijiriy • Jujur/Sabar: 1. Allah ta’ala berfirman: “Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa” (Az Zumar: 33) 2. Allah ta’ala berfirman: “Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al Kitab (Al Quran) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang Nabi” (Maryam: 41) • Sabar: 1. Allah ta’ala berfirman: “Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) Rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Allah kepada mereka. Tak ada seorangpun yang dapat merobah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebahagian dari berita Rasul-rasul itu”. (Al-An’am: 34) 2. Allah ta’ala berfirman: “Dan bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan kamu.” (Ar-Rum: 60) 3. Allah ta’ala berfirman: “Maka bersabarlah kamu dengan sabar yang baik.” (Al-Ma’arij: 5) • Ikhlas: 1. Allah ta’ala berfirman: “Sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu kitab (Al Quran) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya”. (Az-Zumar: 2) 2. Allah ta’ala berfirman: “Dialah yang hidup kekal, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan dia; maka sembahlah Dia dengan memurnikan ibadat kepada-Nya. segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.” (Ghafir: 65) • Dermawan, memberikan pelayanan dan tawadlu: 1. Allah ta’ala berfirman: “Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (Yaitu malaikat- malaikat) yang dimuliakan? (ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan: “Salaamun”. Ibrahim menjawab: “Salaamun (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal.” Maka Dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk, lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim lalu berkata: “Silahkan anda makan.” (Adz-Dzariat: 24-27) 2. Allah ta’ala berfirman tentang Musa ‘alaihissalam dan kisahnya bersama dua wanita: “Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Mad-yan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: “Apakah maksudmu (dengan berbuat at begitu)?” kedua wanita itu menjawab: “Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak Kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya”. Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian Dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa: “Ya Tuhanku Sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku”. (Al-Qasahsh: 23-24) 3. Dari Umar radliyallahu 'anhu berkata saya mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: ﺼَﺎرَىﻻ ﺘُطْرُوﻨِﻲ ﻜَﻤَﺎ أَطْرَتِ اﻝﻨ» :أﺨرﺠﻪ اﻝﺒﺨﺎري ﻋن ﻋﻤر رﻀﻲ اﷲ ﻋﻨﻪ ﻗﺎل: ﺴﻤﻌت اﻝﻨﺒﻲ ﺼﻠﻰ اﷲ ﻋﻠﻴﻪ وﺴﻠم ﻴﻘول .« ﻤَﺎ أَﻨَﺎ ﻋَﺒْدُﻩُ ﻓَﻘُوﻝُوا: ﻋَﺒْدُاﷲ وَرَﺴُوﻝُـﻪُاﺒْنَ ﻤَرْﻴَـمَ ﻓَﺈﻨ “Janganlah kalian mengkultuskanku sebagaimana orang-orang Nasrani telah mengkultuskan Ibnu maryam, aku ini hanyalah hamba-Nya, maka katakan: hamba Allah dan utusan-Nya” (HR Al Bukhari).233 """""""""""""""""""""""""" 233 Al Bukhari (3445) • Berpaling dari perhiasan kehidupan dunia: 1. Allah ta’ala berfirman: “Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.” (Thaha: 131) 2. Allah ta’ala berfirman:

Repost from Dakwah Terasing
Dua Kalimat Ringan Di Lisan, Berat Di Timbangan Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ، ثَقِيلَتَانِ فِى الْمِيزَانِ ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ “Dua kalimat yang ringan di lisan, namun berat ditimbangan, dan disukai Ar Rahman yaitu “Subhanallah wa bi hamdih, subhanallahil ‘azhim” (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya. Maha Suci Allah Yang Maha Agung). (HR. Bukhari no. 6682 dan Muslim no. 2694)

Repost from N/a
Khutbah Jum'at ke 106, Lemahnya Keyakinan.amr3.69 MB

Repost from N/a
Mencontoh Imam Ahmad Dalam Akhlak Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullâh pernah berdoa di dalam sujud beliau : "اللهم من كان في هذه الأمة علىٰ غير الحق، ويظن. أنه علىٰ الحق فردّه إلى الحق"! "Ya Allâh, siapa saja di umat ini yang berada di atas selain kebenaran namun ia mengira dirinya di atas kebenaran, maka kembalikanlah ia kepada kebenaran." Yahya bin Ma'in mengisahkan : ﻣﺎ ﺭﺃﻳﺖ ﻣﺜﻞ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺣﻨﺒﻞ، ﺻﺤﺒﻨﺎﻩ ﺧﻤﺴﻴﻦ ﺳﻨﺔ ... لم يفتخر ﻋﻠﻴﻨﺎ ﺑﺸﻲﺀ ﻣﻤﺎ ﻛﺎﻥ ﻓﻴﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﺼﻼﺡ ﻭ ﺍﻟﺨﻴﺮ ... ﻭﻛﺎﻥ ﺭﺣﻤﺔ ﺍﻟﻠﻪ ﻳﻘﻮﻝ: ﻧﺤﻦ ﻗﻮﻡ ﻣﺴﺎﻛﻴﻦ. Belum pernah kulihat orang seperti Ahmad bin Hanbal. Kami bersahabat dengan beliau selama 50 tahun, dan belum pernah sedikitpun beliau menyombongkan diri di hadapan kami dengan keshalihan dan kebaikannya. Beliau rahimahullâhu mengatakan : "Kita ini adalah kaum papa (miskin)" Dikisahkan oleh para huffazh : ﺭﺃﻳﻨﺎ ﺍﻹﻣﺎﻡ أﺣﻤﺪ ﻧﺰﻝ ﺇﻟﻰ ﺳﻮﻕ ﺑﻐﺪﺍﺩ، ﻓاﺷﺘﺮﻯ ﺣﺰﻣﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﺤﻄﺐ، ﻭﺟﻌﻠﻬﺎ ﻋﻠﻰ ﻛﺘﻔﻪ، ﻓﻠﻤﺎ ﻋﺮﻓﻪ ﺍﻟﻨﺎﺱ، ﺗﺮﻙ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻤﺘﺎﺟﺮ ﻣﺘﺎﺟﺮﻫﻢ، ﻭﺃﻫﻞ ﺍﻟﺪﻛﺎﻛﻴﻦ ﺩﻛﺎﻛﻴﻨﻬﻢ، ﻭﺗﻮﻗﻒ ﺍﻟﻤﺎﺭﺓ ﻓﻲ ﻃﺮﻗﻬﻢ، ﻳﺴﻠﻤﻮﻥ ﻋﻠﻴﻪ، ﻭﻳﻘﻮﻟﻮﻥ: ﻧﺤﻤﻞ ﻋﻨﻚ ﺍﻟﺤﻄﺐ، ﻓﻬز ﻳﺪﻩ، واﺣﻤﺮ ﻭﺟﻬﻪ، ﻭﺩﻣﻌﺖ ﻋﻴﻨﺎﻩ ﻭﻗﺎﻝ: ﻧﺤﻦ ﻗﻮﻡ ﻣﺴﺎﻛﻴﻦ، ﻟﻮﻻ ﺳﺘﺮ الله ﻻﻓﺘﻀﺤﻨﺎ. Pernah kami melihat Imam Ahmad singgah di suatu toko di Baghdad. Beliau membeli seikat kayu bakar lalu beliau panggul di atas belikatnya. Ketika orang-orang sadar bahwa beliau adalah imam Ahmad, maka para pedagang dan penjual segera meninggalkan toko dan jualan mereka, lantas mereka berdiri menghadang beliau, lalu menyalaminya. Mereka berkata : "Biarkan kami yang membawakan kayu bakar tersebut." Maka bergetarlah tangan Imam Ahmad, wajahnya memerah dan air matanya bercucuran. Beliau berkata : "Kami ini hanyalah kaum papa (miskin). Sekiranya Allâh tidak menutupi niscaya kan tersingkap aib kami." Diriwayatkan pula ada seorang pria memuji Imam Ahmad, lalu Imam Ahmad merespon : ﺃﺷﻬﺪ الله ﺇﻧﻲ ﺃﻣﻘﺘﻚ ﻓﻲ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻜﻼﻡ، والله ﻟﻮ ﻋﻠﻤﺖ ﻣﺎ ﻋﻨﺪﻱ ﻣﻦ ﺍﻟﺬﻧﻮﺏ ﻭﺍﻟﺨﻄﺎﻳﺎ ﻟﺤﺜﻮﺕ ﻋﻠﻰ ﺭﺃﺳﻲ ﺑﺎﻟﺘﺮﺍﺏ.. "Allâh sebagai saksi bahwa aku ini tidak ridha dengan perkataanmu. Demi Allâh, sekiranya kau tahu dosa dan kesalahan padaku, niscaya kau kan menaburiku dengan debu." Imam Ahmad pernah berkata : ﻳﺎ ﻟﻴﺘﻨﻲ ﻣﺎ ﻋﺮﻓﺖ ﺍﻟﺸﻬﺮﺓ، ﻳﺎ ﻟﻴﺘﻨﻲ ﻓﻲ ﺷﻌﺐ ﻣﻦ ﺷﻌﺎﺏ ﻣﻜﺔ ﻣﺎ ﻋﺮﻓﻨﻲ ﺍﻟﻨﺎﺱ. Duhai sekiranya ku tak mengenal popularitas... Duhai sekiranya diantara penduduk Makkah tiada orang yang mengenalku... (al-Hilyah Karya Abû Nu'aim IX/181) Inilah sedikit teladan dari Imam Ahmad bagaimana beliau rahimahullah sangat hati-hati dengan popularitas, serta beliau juga menjaga akhlak dan menunjukkan adab yang baik dihadapan manusia. ______note_ Huffazd : Al-Huffâzh (الحُفَّاظُ) adalah bentuk jama’ dari al-hâfizh (الحَافِظُ) artinya yang menjaga atau menghafal. Yang dimaksud huffazh di sini ahli hadits yang memiliki hafalan hadits sangat banyak sekali.  Https://t.me/thulab_ilmi15

Repost from Dakwah Terasing
Sahl bin ‘Atik bin al-Nu’man رضي الله عنه 277. Tha’labah bin Amru bin Mihshan رضي الله عنه 278. Al-Harith bin al-Shimmah bin Amru رضي الله عنه 279. Ubai bin Ka’ab bin Qais رضي الله عنه 280. Anas bin Muaz bin Anas bin Qais رضي الله عنه 281. Aus bin Thabit bin al-Munzir bin Haram رضي الله عنه 282. Abu Syeikh bin Ubai bin Thabit رضي الله عنه 283. Abu Tolhah bin Zaid bin Sahl رضي الله عنه 284. Abu Syeikh Ubai bin Thabit رضي الله عنه 285. Harithah bin Suraqah bin al-Harith رضي الله عنه 286. Amru bin Tha’labah bin Wahb bin Adi رضي الله عنه 287. Salit bin Qais bin Amru bin ‘Atik رضي الله عنه 288. Abu Salit bin Usairah bin Amru رضي الله عنه 289. Thabit bin Khansa’ bin Amru bin Malik رضي الله عنه 290. Amir bin Umaiyyah bin Zaid رضي الله عنه 291. Muhriz bin Amir bin Malik رضي الله عنه 292. Sawad bin Ghaziyyah رضي الله عنه 293. Abu Zaid Qais bin Sakan رضي الله عنه 294. Abul A’war bin al-Harith bin Zalim رضي الله عنه 295. Sulaim bin Milhan رضي الله عنه 296. Haram bin Milhan رضي الله عنه 297. Qais bin Abi Sha’sha’ah رضي الله عنه 298. Abdullah bin Ka’ab bin Amru رضي الله عنه 299. ‘Ishmah al-Asadi رضي الله عنه 300. Abu Daud Umair bin Amir bin Malik رضي الله عنه 301. Suraqah bin Amru bin ‘Atiyyah رضي الله عنه 302. Qais bin Mukhallad bin Tha’labah رضي الله عنه 303. Al-Nu’man bin Abdi Amru bin Mas’ud رضي الله عنه 304. Al-Dhahhak bin Abdi Amru رضي الله عنه 305. Sulaim bin al-Harith bin Tha’labah رضي الله عنه 306. Jabir bin Khalid bin Mas’ud رضي الله عنه 307. Sa’ad bin Suhail bin Abdul Asyhal رضي الله عنه 308. Ka’ab bin Zaid bin Qais رضي الله عنه 309. Bujir bin Abi Bujir al-Abbasi رضي الله عنه 310. ‘Itban bin Malik bin Amru al-Ajalan رضي الله عنه 311. ‘Ismah bin al-Hushain bin Wabarah رضي الله عنه 312. Hilal bin al-Mu’alla al-Khazraj رضي الله عنه 313. Oleh bin Syuqrat رضي الله عنه (khadam Nabi ﷺ ) Demikian ulasan singkat Perang Badar dan 313 nama-nama pejuang Ahlul Badar. Semoga Allah Ta'ala memberikan sebaik-baik balasan dan kedudukan terbaik untuk se mua nama-nama Ahlul Badar. Mudah-mudahan kita juga mendapat bagian syafa'at para Syuhada Badar yang mulia ini. Nama-nama yang disebutkan di atas, Rasulullah bersabda, "Yang ikut serta dalam Perang Badar tidak akan masuk neraka." (HR. Imam Ahmad). Wallahu a'lam.[] Rusman H Siregar Kitab lainnya Jaliyatul Kadar Bi-Ashhabi Sayyidil Mala'ikati wal Basyar (جاليةالكدر بأصحاب سيد الملائكة والبشر). Kitab Jaliyatul Kadar inilah yang juga dirujuk oleh Kiai Muhammd Dimyathi bin Muhammad Amin Al-Bantani dalam menyusun syiir yang diberi judul Ashlul Qadar fi Khosho'isi Fadho'ili Ahlil Badar (أصل القدر في خصائص فضائل أهل البدر). #Copas #SDA

Repost from Dakwah Terasing
Abu Rabbihi bin Haqqi bin Aus رضي الله عنه 193. Ka’ab bin Humar al-Juhani رضي الله عنه 194. Dhamrah bin Amru رضي الله عنه 195. Ziyad bin Amru رضي الله عنه 196. Basbas bin Amru رضي الله عنه 197. Abdullah bin Amir al-Ba’lawi رضي الله عنه 198. Khirasy bin al-Shimmah bin Amru رضي الله عنه 199. Al-Hubab bin al-Munzir bin al-Jamuh رضي الله عنه 200. Umair bin al-Humam bin al-Jamuh رضي الله عنه 201. Tamim (maula Khirasy bin al-Shimmah) رضي الله عنه 202. Abdullah bin Amru bin Haram رضي الله عنه 203. Muaz bin Amru bin al-Jamuh رضي الله عنه 204. Mu’awwiz bin Amru bin al-Jamuh رضي الله عنه 205. Khallad bin Amru bin al-Jamuh رضي الله عنه 206. ‘Uqbah bin Amir bin Nabi bin Zaid رضي الله عنه 207. Hubaib bin Aswad رضي الله عنه 208. Thabit bin al-Jiz’i رضي الله عنه 209. Umair bin al-Harith bin Labdah رضي الله عنه 210. Basyir bin al-Barra’ bin Ma’mur رضي الله عنه 211. Al-Tufail bin al-Nu’man bin Khansa’ رضي الله عنه 212. Sinan bin Saifi bin Sakhr bin Khansa’ رضي الله عنه 213. Abdullah bin al-Jaddi bin Qais رضي الله عنه 214. Atabah bin Abdullah bin Sakhr رضي الله عنه 215. Jabbar bin Umaiyah bin Sakhr رضي الله عنه 216. Kharijah bin Humayyir al-Asyja’i رضي الله عنه 217. Abdullah bin Humayyir al-Asyja’i رضي الله عنه 218. Yazid bin al-Munzir bin Sahr رضي الله عنه 219. Ma’qil bin al-Munzir bin Sahr رضي الله عنه 220. Abdullah bin al-Nu’man bin Baldumah رضي الله عنه 221. Al-Dhahlak bin Harithah bin Zaid رضي الله عنه 222. Sawad bin Razni bin Zaid رضي الله عنه 223. Ma’bad bin Qais bin Sakhr bin Haram رضي الله عنه 224. Abdullah bin Qais bin Sakhr bin Haram رضي الله عنه 225. Abdullah bin Abdi Manaf رضي الله عنه 226. Jabir bin Abdullah bin Riab رضي الله عنه 227. Khulaidah bin Qais bin al-Nu’man رضي الله عنه 228. An-Nu’man bin Yasar رضي الله عنه 229. Abu al-Munzir Yazid bin Amir رضي الله عنه 230. Qutbah bin Amir bin Hadidah رضي الله عنه 231. Sulaim bin Amru bin Hadidah رضي الله عنه 232. Antarah (maula Qutbah bin Amir) رضي الل ه عنه 233. Abbas bin Amir bin Adi رضي الله عنه 234. Abul Yasar Ka’ab bin Amru bin Abbad رضي الله عنه 235. Sahl bin Qais bin Abi Ka’ab bin al-Qais رضي الله عنه 236. Amru bin Talqi bin Zaid bin Umaiyah رضي الله عنه 237. Muaz bin Jabal bin Amru bin Aus رضي الله عنه 238. Qais bin Mihshan bin Khalid رضي الله عنه 239. Abu Khalid al-Harith bin Qais bin Khalid رضي الله عنه 240. Jubair bin Iyas bin Khalid رضي الله عنه 241. Abu Ubadah Sa’ad bin Uthman رضي الله عنه 242. ‘Uqbah bin Uthman bin Khaladah رضي الله عنه 243. Ubadah bin Qais bin Amir bin Khalid رضي الله عنه 244. As’ad bin Yazid bin al-Fakih رضي الله عنه 245. Al-Fakih bin Bisyr رضي الله عنه 246. Zakwan bin Abdu Qais bin Khaladah رضي الله عنه 247. Muaz bin Ma’ish bin Qais bin Khaladah رضي الله عنه 248. Aiz bin Ma’ish bin Qais bin Khaladah رضي الله عنه 249. Mas’ud bin Qais bin Khaladah رضي الله عنه 250. Rifa’ah bin Rafi’ bin al-Ajalan رضي الله عنه 251. Khallad bin Rafi’ bin al-Ajalan رضي الله عنه 252. Ubaid bin Yazid bin Amir bin al-Ajalan رضي الله عنه 253. Ziyad bin Lubaid bin Tha’labah رضي الله عنه 254. Khalid bin Qais bin al-Ajalan رضي الله عنه 255. Rujailah bin Tha’labah bin Khalid رضي الله عنه 256. Atiyyah bin Nuwairah bin Amir رضي الله عنه 257. Khalifah bin Adi bin Amru رضي الله عنه 258. Rafi’ bin al-Mu’alla bin Luzan رضي الله عنه 259. Abu Ayyub bin Khalid al-Ansari رضي الله عنه 260. Thabit bin Khalid bin al-Nu’man رضي الله عنه 261. ‘Umarah bin Hazmi bin Zaid رضي الله عنه 262. Suraqah bin Ka’ab bin Abdul Uzza رضي الله عنه 263. Suhail bin Rafi’ bin Abi Amru رضي الله عنه 264. Adi bin Abi al-Zaghba’ al-Juhani رضي الله عنه 265. Mas’ud bin Aus bin Zaid رضي الله عنه 266. Abu Khuzaimah bin Aus bin Zaid رضي الله عنه 267. Rafi’ bin al-Harith bin Sawad bin Zaid رضي الله عنه 268. Auf bin al-Harith bin Rifa’ah رضي الله عنه 269. Mu’awwaz bin al-Harith bin Rifa’ah رضي الله عنه 270. Muaz bin al-Harith bin Rifa’ah رضي الله عنه 271. An-Nu’man bin Amru bin Rifa’ah رضي الله عنه 272. Abdullah bin Qais bin Khalid رضي الله عنه 273. Wadi’ah bin Amru al-Juhani رضي الله عنه 274. Ishmah al-Asyja’i رضي الله عنه 275. Thabit bin Amru bin Zaid bin Adi رضي الله عنه 276.