846
Subscribers
No data24 hours
No data7 days
No data30 days
Posts Archive
Dzikir tidak akan membuahkan ketenangan hati kecuali jika dibarengi dengan cara berpikir yang sehat (al-fikru as-salim) dengannya ia bisa memahami sunatullah. Sedangkan orang-orang yang menggunakan cara berpikirnya dengan cara khurafat dan menolak sunatullah dia tidak akan mencapai janji ilahi dari pertolongan, kemenangan sempurna (tamkin) dan izah. Inilah makna firman Allah ta’ala:
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ ………. وَيَتَفَكَّرُونَ
“Orang-orang yang berdzikir…….. dan berfikir.”
Yang menghasilkan pengakuan:
مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا
Inilah yang disebut seseorang faqih; mendapatkan bashirah pengetahuan alam syahadah dan juga alam ghaib. Dia memantau pergerakan alam ghaib untuk memelihara pergerakan alam nyata.
Rasa pengangungan Allah dalam hati bisa terwujud dengan mengenal qudrah-Nya (kekuasaan-Nya). Mengenal qudrah Allah tidak bisa kecuali dengan mengerti makhluk-Nya; caranya dengan tafakur, pengamatan, menganalisis, pengembaraan dan studi. Mereka inilah yang disebut ulil albab.
Mengapa kekafiran walaupun memiliki kekuatan yang melebihi kaum mukminin dapat dikalahkan? Karena mereka kaum yang la yafqahun (tidak faqih, tidak memahami). Mereka bukan golongan ulil albab seperti firman Allah:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ حَرِّضِ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى الْقِتَالِ ۚ إِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ عِشْرُونَ صَابِرُونَ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ ۚ وَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ مِائَةٌ يَغْلِبُوا أَلْفًا مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَفْقَهُونَ
“Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak faqih.” (Al-Anfal: 65)
Maka, hakikat pergulatan adalah antara kaum yang faqih pada al-haq dari syariat dan sunatullah versus kaum yang sesat tidak faqih syariat dan sunatullah. Permusuhan antara ulil albab versus ad-dhalin (orang-orang sesat).
والله أعلم بالصواب
Silahkan disebarkan, mudah2an anda mendapatkan bagian dari pahalanya
Baarakallahu fiikum ... .
Dikutip "NgajiBersama"
Tsalaasai 06 Syawal 1442 H
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بِسْـــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِـــــــــيم
Dzikir dan Berpikir
قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ بِتُّ عِنْدَ خَالَتِي مَيْمُونَةَ ، فَقُلْتُ لَأَنْظُرَنَّ إِلَى صَلاَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَطُرِحَتْ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وِسَادَةٌ ، فَنَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي طُولِهَا ، فَجَعَلَ يَمْسَحُ النَّوْمَ عَنْ وَجْهِهِ ، ثُمَّ قَرَأَ الآيَاتِ العَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ آلِ عِمْرَانَ ، حَتَّى خَتَمَ ثُمَّ أَتَى سِقاَءً مُعَلَّقًا ، فَأَخَذَهُ فَتَوَضَّأَ ثُمَّ قَامَ يُصَلِّي
Berkata Ibnu ’Abbas radhiyallahu ‘anhu: “Suatu hari aku menginap di rumah bibiku Maimunah, lalu aku berkata padanya; ‘Sungguh aku ingin melihat shalat (malam) Rasulullah.’ Maka (bibiku) menyiapkan bantal bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam setelah itu beliau tidur di pembaringan bagian sisi panjangnya. Ketika bangun (malam) mengusap kantuk dari wajahnya lalu beliau membaca sepuluh ayat terakhir surat Ali Imran hingga selesai. Kemudian beliau menuju ke geriba air minum yang tergantung, beliau berwudhu darinya lalu beliau shalat.’” (Al-Bukhari)
Dalam hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam mengajarkan kesempurnaan seorang mukmin; dzikir dan berpikir.
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan batil, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (Ali Imran: 191)
Dzikir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam tatkala bangun malam bersiap qiyamullail dengan membaca sepuluh ayat terakhir surat Ali Imran. Dzikir mengingat Allah Rabb semesta, dzikir mengingat negeri akhirat, dzikir membaca Kitabullah yang semua itu menguatkan ruh.
Dzikir harus diimbangi dengan berpikir; maknanya mengerahkan potensi akal untuk menimbang dan menganalisis. Berpikir agar dapat memahami sunah kauniyah dan qadariyah kehidupan ini dan memahami bagaimana Allah menundukkan mahkluk yang telah Ia ciptakan bagi manusia.
وَسَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مِنْهُ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir. (Al-Jasiyah: 13)
Menundukkan sesuatu tidak bisa dilakukan kecuali dengan itqan (ketelitian, kesungguhan serta penguasaan). Yaitu dengan mengenal sunatullah didalamnya. Semakin manusia memahami sunatullah maka semakin dia dapat menundukkan apa yang ada di langit dan bumi. Sehingga dia mengatakan:
مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا
“Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan batil.”
Sebaliknya orang-orang yang menolak untuk memahami sunatullah akan mengatakan:
هَٰذَا بَاطِلًا
“Penciptaan ini batil.”
Batil adalah sesuatu yang tidak berfaedah; perkataan yang menunjukkan kebodohannya pada hikmah Allah dan kesucian-Nya. Sebab tidaklah Allah menciptakan sesuatu di langit dan bumi kecuali ada manfaatnya bagi manusia.
Supaya kita dapat memahami sunatullah dengan baik, maka perlu memasukinya melalui pintunya terlebih dahulu. Pintu memerlukan kunci untuk membukanya yaitu ilmu mengenai takdir penciptaan sampai mencapai pemahaman yang akan membimbingnya.
Sedang ayat-ayat kauniyah (kosmos) merupakan tanda-tanda untuk memahami sunatullah. Ayat juga berarti alaqah (hubungan atau keterkaitan) yang memiliki banyak makna. Di antara maknanya adalah petunjuk siapa yang menciptakan-Nya, keagungan-Nya, dan hikmah-Nya. Orang yang memiliki akal sehat akan menemukan makna tersebut.
NgajiBersama:
بِسْـــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِـــــــــيم
Lanjutan
TERJEMAHAN KITAB
Mukhashar Al Fiqhil Islamiy
Syaikh Muhammad Ibnu Ibrahim
At Tuwaijiriy
• Jujur/Sabar:
1. Allah ta’ala berfirman:
“Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa” (Az Zumar: 33)
2. Allah ta’ala berfirman:
“Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al Kitab (Al Quran) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang Nabi” (Maryam:
41)
• Sabar:
1. Allah ta’ala berfirman:
“Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) Rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Allah kepada mereka. Tak ada seorangpun yang dapat merobah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebahagian dari berita Rasul-rasul itu”. (Al-An’am: 34)
2. Allah ta’ala berfirman:
“Dan bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan kamu.” (Ar-Rum: 60)
3. Allah ta’ala berfirman:
“Maka bersabarlah kamu dengan sabar yang baik.” (Al-Ma’arij: 5)
• Ikhlas:
1. Allah ta’ala berfirman:
“Sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu kitab (Al Quran) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya”. (Az-Zumar: 2)
2. Allah ta’ala berfirman:
“Dialah yang hidup kekal, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan dia; maka sembahlah Dia dengan memurnikan ibadat kepada-Nya. segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.” (Ghafir: 65)
• Dermawan, memberikan pelayanan dan tawadlu:
1. Allah ta’ala berfirman:
“Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (Yaitu malaikat- malaikat) yang dimuliakan? (ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan: “Salaamun”. Ibrahim menjawab: “Salaamun (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal.” Maka Dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk, lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim lalu berkata: “Silahkan anda makan.” (Adz-Dzariat: 24-27)
2. Allah ta’ala berfirman tentang Musa ‘alaihissalam dan kisahnya bersama dua wanita:
“Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Mad-yan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: “Apakah maksudmu (dengan berbuat at begitu)?” kedua wanita itu menjawab: “Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak Kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya”. Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian Dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa: “Ya Tuhanku Sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku”. (Al-Qasahsh: 23-24)
3. Dari Umar radliyallahu 'anhu berkata saya mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
ﺼَﺎرَىﻻ ﺘُطْرُوﻨِﻲ ﻜَﻤَﺎ أَطْرَتِ اﻝﻨ» :أﺨرﺠﻪ اﻝﺒﺨﺎري ﻋن ﻋﻤر رﻀﻲ اﷲ ﻋﻨﻪ ﻗﺎل: ﺴﻤﻌت اﻝﻨﺒﻲ ﺼﻠﻰ اﷲ ﻋﻠﻴﻪ وﺴﻠم ﻴﻘول .« ﻤَﺎ أَﻨَﺎ ﻋَﺒْدُﻩُ ﻓَﻘُوﻝُوا: ﻋَﺒْدُاﷲ وَرَﺴُوﻝُـﻪُاﺒْنَ ﻤَرْﻴَـمَ ﻓَﺈﻨ
“Janganlah kalian mengkultuskanku sebagaimana orang-orang Nasrani telah mengkultuskan Ibnu maryam, aku ini hanyalah hamba-Nya, maka katakan: hamba Allah dan utusan-Nya” (HR Al Bukhari).233
""""""""""""""""""""""""""
233 Al Bukhari (3445)
• Berpaling dari perhiasan kehidupan dunia:
1. Allah ta’ala berfirman:
“Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.” (Thaha: 131)
2. Allah ta’ala berfirman:
Dua Kalimat Ringan Di Lisan, Berat Di Timbangan
Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ، ثَقِيلَتَانِ فِى الْمِيزَانِ ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ
“Dua kalimat yang ringan di lisan, namun berat ditimbangan, dan disukai Ar Rahman yaitu “Subhanallah wa bi hamdih, subhanallahil ‘azhim” (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya. Maha Suci Allah Yang Maha Agung).
(HR. Bukhari no. 6682 dan Muslim no. 2694)
Repost from N/a
Mencontoh Imam Ahmad Dalam Akhlak
Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullâh pernah berdoa di dalam sujud beliau :
"اللهم من كان في هذه الأمة علىٰ غير الحق، ويظن. أنه علىٰ الحق فردّه إلى الحق"!
"Ya Allâh, siapa saja di umat ini yang berada di atas selain kebenaran namun ia mengira dirinya di atas kebenaran, maka kembalikanlah ia kepada kebenaran."
Yahya bin Ma'in mengisahkan :
ﻣﺎ ﺭﺃﻳﺖ ﻣﺜﻞ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺣﻨﺒﻞ،
ﺻﺤﺒﻨﺎﻩ ﺧﻤﺴﻴﻦ ﺳﻨﺔ ... لم يفتخر ﻋﻠﻴﻨﺎ ﺑﺸﻲﺀ ﻣﻤﺎ ﻛﺎﻥ ﻓﻴﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﺼﻼﺡ ﻭ ﺍﻟﺨﻴﺮ ... ﻭﻛﺎﻥ ﺭﺣﻤﺔ ﺍﻟﻠﻪ ﻳﻘﻮﻝ: ﻧﺤﻦ ﻗﻮﻡ ﻣﺴﺎﻛﻴﻦ.
Belum pernah kulihat orang seperti Ahmad bin Hanbal.
Kami bersahabat dengan beliau selama 50 tahun, dan belum pernah sedikitpun beliau menyombongkan diri di hadapan kami dengan keshalihan dan kebaikannya. Beliau rahimahullâhu mengatakan : "Kita ini adalah kaum papa (miskin)"
Dikisahkan oleh para huffazh :
ﺭﺃﻳﻨﺎ ﺍﻹﻣﺎﻡ أﺣﻤﺪ ﻧﺰﻝ ﺇﻟﻰ ﺳﻮﻕ ﺑﻐﺪﺍﺩ، ﻓاﺷﺘﺮﻯ ﺣﺰﻣﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﺤﻄﺐ، ﻭﺟﻌﻠﻬﺎ ﻋﻠﻰ ﻛﺘﻔﻪ،
ﻓﻠﻤﺎ ﻋﺮﻓﻪ ﺍﻟﻨﺎﺱ، ﺗﺮﻙ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻤﺘﺎﺟﺮ ﻣﺘﺎﺟﺮﻫﻢ، ﻭﺃﻫﻞ ﺍﻟﺪﻛﺎﻛﻴﻦ ﺩﻛﺎﻛﻴﻨﻬﻢ، ﻭﺗﻮﻗﻒ ﺍﻟﻤﺎﺭﺓ ﻓﻲ ﻃﺮﻗﻬﻢ، ﻳﺴﻠﻤﻮﻥ ﻋﻠﻴﻪ، ﻭﻳﻘﻮﻟﻮﻥ: ﻧﺤﻤﻞ ﻋﻨﻚ ﺍﻟﺤﻄﺐ،
ﻓﻬز ﻳﺪﻩ، واﺣﻤﺮ ﻭﺟﻬﻪ، ﻭﺩﻣﻌﺖ ﻋﻴﻨﺎﻩ ﻭﻗﺎﻝ: ﻧﺤﻦ ﻗﻮﻡ ﻣﺴﺎﻛﻴﻦ، ﻟﻮﻻ ﺳﺘﺮ الله ﻻﻓﺘﻀﺤﻨﺎ.
Pernah kami melihat Imam Ahmad singgah di suatu toko di Baghdad. Beliau membeli seikat kayu bakar lalu beliau panggul di atas belikatnya.
Ketika orang-orang sadar bahwa beliau adalah imam Ahmad, maka para pedagang dan penjual segera meninggalkan toko dan jualan mereka, lantas mereka berdiri menghadang beliau, lalu menyalaminya.
Mereka berkata : "Biarkan kami yang membawakan kayu bakar tersebut."
Maka bergetarlah tangan Imam Ahmad, wajahnya memerah dan air matanya bercucuran. Beliau berkata : "Kami ini hanyalah kaum papa (miskin). Sekiranya Allâh tidak menutupi niscaya kan tersingkap aib kami."
Diriwayatkan pula ada seorang pria memuji Imam Ahmad, lalu Imam Ahmad merespon :
ﺃﺷﻬﺪ الله ﺇﻧﻲ ﺃﻣﻘﺘﻚ ﻓﻲ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻜﻼﻡ، والله ﻟﻮ ﻋﻠﻤﺖ ﻣﺎ ﻋﻨﺪﻱ ﻣﻦ ﺍﻟﺬﻧﻮﺏ ﻭﺍﻟﺨﻄﺎﻳﺎ ﻟﺤﺜﻮﺕ ﻋﻠﻰ ﺭﺃﺳﻲ ﺑﺎﻟﺘﺮﺍﺏ..
"Allâh sebagai saksi bahwa aku ini tidak ridha dengan perkataanmu.
Demi Allâh, sekiranya kau tahu dosa dan kesalahan padaku, niscaya kau kan menaburiku dengan debu."
Imam Ahmad pernah berkata :
ﻳﺎ ﻟﻴﺘﻨﻲ ﻣﺎ ﻋﺮﻓﺖ ﺍﻟﺸﻬﺮﺓ،
ﻳﺎ ﻟﻴﺘﻨﻲ ﻓﻲ ﺷﻌﺐ ﻣﻦ ﺷﻌﺎﺏ ﻣﻜﺔ ﻣﺎ ﻋﺮﻓﻨﻲ ﺍﻟﻨﺎﺱ.
Duhai sekiranya ku tak mengenal popularitas...
Duhai sekiranya diantara penduduk Makkah tiada orang yang mengenalku...
(al-Hilyah Karya Abû Nu'aim IX/181)
Inilah sedikit teladan dari Imam Ahmad bagaimana beliau rahimahullah sangat hati-hati dengan popularitas, serta beliau juga menjaga akhlak dan menunjukkan adab yang baik dihadapan manusia.
______note_
Huffazd : Al-Huffâzh (الحُفَّاظُ) adalah bentuk jama’ dari al-hâfizh (الحَافِظُ) artinya yang menjaga atau menghafal. Yang dimaksud huffazh di sini ahli hadits yang memiliki hafalan hadits sangat banyak sekali.
Https://t.me/thulab_ilmi15
Sahl bin ‘Atik bin al-Nu’man رضي الله عنه
277. Tha’labah bin Amru bin Mihshan رضي الله عنه
278. Al-Harith bin al-Shimmah bin Amru رضي الله عنه
279. Ubai bin Ka’ab bin Qais رضي الله عنه
280. Anas bin Muaz bin Anas bin Qais رضي الله عنه
281. Aus bin Thabit bin al-Munzir bin Haram رضي الله عنه
282. Abu Syeikh bin Ubai bin Thabit رضي الله عنه
283. Abu Tolhah bin Zaid bin Sahl رضي الله عنه
284. Abu Syeikh Ubai bin Thabit رضي الله عنه
285. Harithah bin Suraqah bin al-Harith رضي الله عنه
286. Amru bin Tha’labah bin Wahb bin Adi رضي الله عنه
287. Salit bin Qais bin Amru bin ‘Atik رضي الله عنه
288. Abu Salit bin Usairah bin Amru رضي الله عنه
289. Thabit bin Khansa’ bin Amru bin Malik رضي الله عنه
290. Amir bin Umaiyyah bin Zaid رضي الله عنه
291. Muhriz bin Amir bin Malik رضي الله عنه
292. Sawad bin Ghaziyyah رضي الله عنه
293. Abu Zaid Qais bin Sakan رضي الله عنه
294. Abul A’war bin al-Harith bin Zalim رضي الله عنه
295. Sulaim bin Milhan رضي الله عنه
296. Haram bin Milhan رضي الله عنه
297. Qais bin Abi Sha’sha’ah رضي الله عنه
298. Abdullah bin Ka’ab bin Amru رضي الله عنه
299. ‘Ishmah al-Asadi رضي الله عنه
300. Abu Daud Umair bin Amir bin Malik رضي الله عنه
301. Suraqah bin Amru bin ‘Atiyyah رضي الله عنه
302. Qais bin Mukhallad bin Tha’labah رضي الله عنه
303. Al-Nu’man bin Abdi Amru bin Mas’ud رضي الله عنه
304. Al-Dhahhak bin Abdi Amru رضي الله عنه
305. Sulaim bin al-Harith bin Tha’labah رضي الله عنه
306. Jabir bin Khalid bin Mas’ud رضي الله عنه
307. Sa’ad bin Suhail bin Abdul Asyhal رضي الله عنه
308. Ka’ab bin Zaid bin Qais رضي الله عنه
309. Bujir bin Abi Bujir al-Abbasi رضي الله عنه
310. ‘Itban bin Malik bin Amru al-Ajalan رضي الله عنه
311. ‘Ismah bin al-Hushain bin Wabarah رضي الله عنه
312. Hilal bin al-Mu’alla al-Khazraj رضي الله عنه
313. Oleh bin Syuqrat رضي الله عنه
(khadam Nabi ﷺ )
Demikian ulasan singkat Perang Badar dan 313 nama-nama pejuang Ahlul Badar.
Semoga Allah Ta'ala memberikan sebaik-baik balasan dan kedudukan terbaik untuk se
mua nama-nama Ahlul Badar. Mudah-mudahan kita juga mendapat bagian syafa'at para Syuhada Badar yang mulia ini.
Nama-nama yang disebutkan di atas, Rasulullah bersabda, "Yang ikut serta dalam Perang Badar tidak akan masuk neraka."
(HR. Imam Ahmad).
Wallahu a'lam.[]
Rusman H Siregar
Kitab lainnya
Jaliyatul Kadar Bi-Ashhabi Sayyidil Mala'ikati wal Basyar (جاليةالكدر بأصحاب سيد الملائكة والبشر).
Kitab Jaliyatul Kadar inilah yang juga dirujuk oleh Kiai Muhammd Dimyathi bin Muhammad Amin Al-Bantani dalam menyusun syiir yang diberi judul Ashlul Qadar fi Khosho'isi Fadho'ili Ahlil Badar (أصل القدر في خصائص فضائل أهل البدر).
#Copas
#SDA
Abu Rabbihi bin Haqqi bin Aus رضي الله عنه
193. Ka’ab bin Humar al-Juhani رضي الله عنه
194. Dhamrah bin Amru رضي الله عنه
195. Ziyad bin Amru رضي الله عنه
196. Basbas bin Amru رضي الله عنه
197. Abdullah bin Amir al-Ba’lawi رضي الله عنه
198. Khirasy bin al-Shimmah bin Amru رضي الله عنه
199. Al-Hubab bin al-Munzir bin al-Jamuh رضي الله عنه
200. Umair bin al-Humam bin al-Jamuh رضي الله عنه
201. Tamim (maula Khirasy bin al-Shimmah) رضي الله عنه
202. Abdullah bin Amru bin Haram رضي الله عنه
203. Muaz bin Amru bin al-Jamuh رضي الله عنه
204. Mu’awwiz bin Amru bin al-Jamuh رضي الله عنه
205. Khallad bin Amru bin al-Jamuh رضي الله عنه
206. ‘Uqbah bin Amir bin Nabi bin Zaid رضي الله عنه
207. Hubaib bin Aswad رضي الله عنه
208. Thabit bin al-Jiz’i رضي الله عنه
209. Umair bin al-Harith bin Labdah رضي الله عنه
210. Basyir bin al-Barra’ bin Ma’mur رضي الله عنه
211. Al-Tufail bin al-Nu’man bin Khansa’ رضي الله عنه
212. Sinan bin Saifi bin Sakhr bin Khansa’ رضي الله عنه
213. Abdullah bin al-Jaddi bin Qais رضي الله عنه
214. Atabah bin Abdullah bin Sakhr رضي الله عنه
215. Jabbar bin Umaiyah bin Sakhr رضي الله عنه
216. Kharijah bin Humayyir al-Asyja’i رضي الله عنه
217. Abdullah bin Humayyir al-Asyja’i رضي الله عنه
218. Yazid bin al-Munzir bin Sahr رضي الله عنه
219. Ma’qil bin al-Munzir bin Sahr رضي الله عنه
220. Abdullah bin al-Nu’man bin Baldumah رضي الله عنه
221. Al-Dhahlak bin Harithah bin Zaid رضي الله عنه
222. Sawad bin Razni bin Zaid رضي الله عنه
223. Ma’bad bin Qais bin Sakhr bin Haram رضي الله عنه
224. Abdullah bin Qais bin Sakhr bin Haram رضي الله عنه
225. Abdullah bin Abdi Manaf رضي الله عنه
226. Jabir bin Abdullah bin Riab رضي الله عنه
227. Khulaidah bin Qais bin al-Nu’man رضي الله عنه
228. An-Nu’man bin Yasar رضي الله عنه
229. Abu al-Munzir Yazid bin Amir رضي الله عنه
230. Qutbah bin Amir bin Hadidah رضي الله عنه
231. Sulaim bin Amru bin Hadidah رضي الله عنه
232. Antarah (maula Qutbah bin Amir) رضي الل
ه عنه
233. Abbas bin Amir bin Adi رضي الله عنه
234. Abul Yasar Ka’ab bin Amru bin Abbad رضي الله عنه
235. Sahl bin Qais bin Abi Ka’ab bin al-Qais رضي الله عنه
236. Amru bin Talqi bin Zaid bin Umaiyah رضي الله عنه
237. Muaz bin Jabal bin Amru bin Aus رضي الله عنه
238. Qais bin Mihshan bin Khalid رضي الله عنه
239. Abu Khalid al-Harith bin Qais bin Khalid رضي الله عنه
240. Jubair bin Iyas bin Khalid رضي الله عنه
241. Abu Ubadah Sa’ad bin Uthman رضي الله عنه
242. ‘Uqbah bin Uthman bin Khaladah رضي الله عنه
243. Ubadah bin Qais bin Amir bin Khalid رضي الله عنه
244. As’ad bin Yazid bin al-Fakih رضي الله عنه
245. Al-Fakih bin Bisyr رضي الله عنه
246. Zakwan bin Abdu Qais bin Khaladah رضي الله عنه
247. Muaz bin Ma’ish bin Qais bin Khaladah رضي الله عنه
248. Aiz bin Ma’ish bin Qais bin Khaladah رضي الله عنه
249. Mas’ud bin Qais bin Khaladah رضي الله عنه
250. Rifa’ah bin Rafi’ bin al-Ajalan رضي الله عنه
251. Khallad bin Rafi’ bin al-Ajalan رضي الله عنه
252. Ubaid bin Yazid bin Amir bin al-Ajalan رضي الله عنه
253. Ziyad bin Lubaid bin Tha’labah رضي الله عنه
254. Khalid bin Qais bin al-Ajalan رضي الله عنه
255. Rujailah bin Tha’labah bin Khalid رضي الله عنه
256. Atiyyah bin Nuwairah bin Amir رضي الله عنه
257. Khalifah bin Adi bin Amru رضي الله عنه
258. Rafi’ bin al-Mu’alla bin Luzan رضي الله عنه
259. Abu Ayyub bin Khalid al-Ansari رضي الله عنه
260. Thabit bin Khalid bin al-Nu’man رضي الله عنه
261. ‘Umarah bin Hazmi bin Zaid رضي الله عنه
262. Suraqah bin Ka’ab bin Abdul Uzza رضي الله عنه
263. Suhail bin Rafi’ bin Abi Amru رضي الله عنه
264. Adi bin Abi al-Zaghba’ al-Juhani رضي الله عنه
265. Mas’ud bin Aus bin Zaid رضي الله عنه
266. Abu Khuzaimah bin Aus bin Zaid رضي الله عنه
267. Rafi’ bin al-Harith bin Sawad bin Zaid رضي الله عنه
268. Auf bin al-Harith bin Rifa’ah رضي الله عنه
269. Mu’awwaz bin al-Harith bin Rifa’ah رضي الله عنه
270. Muaz bin al-Harith bin Rifa’ah رضي الله عنه
271. An-Nu’man bin Amru bin Rifa’ah رضي الله عنه
272. Abdullah bin Qais bin Khalid رضي الله عنه
273. Wadi’ah bin Amru al-Juhani رضي الله عنه
274. Ishmah al-Asyja’i رضي الله عنه
275. Thabit bin Amru bin Zaid bin Adi رضي الله عنه
276.
Ubaid bin Aus رضي الله عنه
105. Nasr bin al-Harith bin ‘Abd رضي الله عنه
106. Mu’attib bin ‘Ubaid رضي الله عنه
107. Abdullah bin Tariq al-Ba’lawi رضي الله عنه
108. Mas’ud bin Sa’ad رضي الله عنه
109. Abu Absi Jabr bin Amru رضي الله عنه
110. Abu Burdah Hani’ bin Niyyar al-Ba’lawi رضي الله عنه
111. Asim bin Thabit bin Abi al-Aqlah رضي الله عنه
112. Mu’attib bin Qusyair bin Mulail رضي الله عنه
113. Abu Mulail bin al-Az’ar bin Zaid رضي الله عنه
114. Umair bin Mab’ad bin al-Az’ar رضي الله عنه
115. Sahl bin Hunaif bin Wahib رضي الله عنه
116. Abu Lubabah Basyir bin Abdul Munzir رضي الله عنه
117. Mubasyir bin Abdul Munzir رضي الله عنه
118. Rifa’ah bin Abdul Munzir رضي الله عنه
119. Sa’ad bin ‘Ubaid bin al-Nu’man رضي الله عنه
120. ‘Uwaim bin Sa’dah bin ‘Aisy رضي الله عنه
121. Rafi’ bin Anjadah رضي الله عنه
122. ‘Ubaidah bin Abi ‘Ubaid رضي الله عنه
123. Tha’labah bin Hatib رضي الله عنه
124. Unais bin Qatadah bin Rabi’ah رضي الله عنه
125. Ma’ni bin Adi al-Ba’lawi رضي الله عنه
126. Thabit bin Akhram al-Ba’lawi رضي الله عنه
127. Zaid bin Aslam bin Tha’labah al-Ba’lawi رضي الله عنه
128. Rib’ie bin Rafi’ al-Ba’lawi رضي الله عنه
129. Asim bin Adi al-Ba’lawi رضي الله عنه
130. Jubr bin ‘Atik رضي الله عنه
131. Malik bin Numailah al-Muzani رضي الله عنه
132. Al-Nu’man bin ‘Asr al-Ba’lawi رضي الله عنه
133. Abdullah bin Jubair رضي الله عنه
134. Asim bin Qais bin Thabit رضي الله عنه
135. Abu Dhayyah bin Thabit bin al-Nu’man رضي الله عنه
136. Abu Hayyah bin Thabit bin al-Nu’man رضي الله عنه
137. Salim bin Amir bin Thabit رضي الله عنه
138. Al-Harith bin al-Nu’man bin Umayyah رضي الله عنه
139. Khawwat bin Jubair bin al-Nu’man رضي الله عنه
140. Al-Munzir bin Muhammad bin ‘Uqbah رضي الله عنه
141. Abu ‘Uqail bin Abdullah bin Tha’labah رضي الله عنه
142. Sa’ad bin Khaithamah رضي الله عنه
143. Munzir bin Qudamah bin Arfajah رضي الله عنه
144. Tamim (maula Sa’ad bin Khaithamah) رضي الله عنه
145. Al-Har
ith bin Arfajah رضي الله عنه
146. Kharijah bin Zaid bin Abi Zuhair رضي الله عنه
147. Sa’ad bin al-Rabi’ bin Amru رضي الله عنه
148. Abdullah bin Rawahah رضي الله عنه
149. Khallad bin Suwaid bin Tha’labah رضي الله عنه
150. Basyir bin Sa’ad bin Tha’labah رضي الله عنه
151. Sima’ bin Sa’ad bin Tha’labah رضي الله عنه
152. Subai bin Qais bin ‘Isyah رضي الله عنه
153. ‘Ubbad bin Qais bin ‘Isyah رضي الله عنه
154. Abdullah bin Abbas رضي الله عنه
155. Yazid bin al-Harith bin Qais رضي الله عنه
156. Khubaib bin Isaf bin ‘Atabah رضي الله عنه
157. Abdullah bin Zaid bin Tha’labah رضي الله عنه
158. Huraith bin Zaid bin Tha’labah رضي الله عنه
159. Sufyan bin Bisyr bin Amru رضي الله عنه
160. Tamim bin Ya’ar bin Qais رضي الله عنه
161. Abdullah bin Umair رضي الله عنه
162. Zaid bin al-Marini bin Qais رضي الله عنه
163. Abdullah bin ‘Urfutah رضي الله عنه
164. Abdullah bin Rabi’ bin Qais رضي الله عنه
165. Abdullah bin Abdullah bin Ubai رضي الله عنه
166. Aus bin Khauli bin Abdullah رضي الله عنه
167. Zaid bin Wadi’ah bin Amru رضي الله عنه
168. ‘Uqbah bin Wahab bin Kaladah رضي الله عنه
169. Rifa’ah bin Amru bin Amru bin Zaid رضي الله عنه
170. Amir bin Salamah رضي الله عنه
171. Abu Khamishah Ma’bad bin Ubbad رضي الله عنه
172. Amir bin al-Bukair رضي الله عنه
173. Naufal bin Abdullah bin Nadhlah رضي الله عنه
174. ‘Utban bin Malik bin Amru bin al-Ajlan رضي الله عنه
175. ‘Ubadah bin al-Somit رضي الله عنه
176. Aus bin al-Somit رضي الله عنه
177. Al-Nu’man bin Malik bin Tha’labah رضي الله عنه
178. Thabit bin Huzal bin Amru bin Qarbus رضي الله عنه
179. Malik bin Dukhsyum bin Mirdhakhah رضي الله عنه
180. Al-Rabi’ bin Iyas bin Amru bin Ghanam رضي الله عنه
181. Waraqah bin Iyas bin Ghanam رضي الله عنه
182. Amru bin Iyas رضي الله عنه
183. Al-Mujazzar bin Ziyad bin Amru رضي الله عنه
184. ‘Ubadah bin al-Khasykhasy رضي الله عنه
185. Nahhab bin Tha’labah bin Khazamah رضي الله عنه
186. Abdullah bin Tha’labah bin Khazamah رضي الله عنه
187. Utbah bin Rabi’ah bin Khalid رضي الله عنه
188. Abu Dujanah Sima’ bin Kharasyah رضي الله عنه
189. Al-Munzir bin Amru bin Khunais رضي الله عنه
190. Abu Usaid bin Malik bin Rabi’ah رضي الله عنه
191. Malik bin Mas’ud bin al-Badan رضي الله عنه
192.
2. Abu Bakar as-Shiddiq رضي الله عنه
3. Umar bin al-Khattab رضي الله عنه
4. Utsman bin Affan رضي الله عنه
5. Ali bin Abu Tholib رضي الله عنه
6. Talhah bin ‘Ubaidillah رضي الله عنه
7. Bilal bin Rabbah رضي الله عنه
8. Hamzah bin Abdul Muttolib رضي الله عنه
9. Abdullah bin Jahsyi رضي الله عنه
10. Al-Zubair bin al-Awwam رضي الله عنه
11. Mus’ab bin Umair bin Hasyim رضي الله عنه
12. Abdur Rahman bin ‘Auf رضي الله عنه
13. Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه
14. Sa’ad bin Abi Waqqas رضي الله عنه
15. Abu Kabsyah al-Faris رضي الله عنه
16. Anasah al-Habsyi رضي الله عنه
17. Zaid bin Harithah al-Kalbi رضي الله عنه
18. Marthad bin Abi Marthad al-Ghanawi رضي الله عنه
19. Abu Marthad al-Ghanawi رضي الله عنه
20. Al-Husain bin al-Harith bin Abdul Muttolib رضي الله عنه
21. ‘Ubaidah bin al-Harith bin Abdul Muttolib رضي الله عنه
22. Al-Tufail bin al-Harith bin Abdul Muttolib رضي الله عنه
23. Mistah bin Usasah bin ‘Ubbad bin Abdul Muttolib رضي الله عنه
24. Abu Huzaifah bin ‘Utbah bin Rabi’ah رضي الله عنه
25. Subaih (maula Abi ‘Asi bin Umaiyyah) رضي الله عنه
26. Salim (maula Abu Huzaifah) رضي الله عنه
27. Sinan bin Muhsin رضي الله عنه
28. ‘Ukasyah bin Muhsin رضي الله عنه
29. Sinan bin Abi Sinan رضي الله عنه
30. Abu Sinan bin Muhsin رضي الله عنه
31. Syuja’ bin Wahab رضي الله عنه
32. ‘Utbah bin Wahab رضي الله عنه
33. Yazid bin Ruqais رضي الله عنه
34. Muhriz bin Nadhlah رضي الله عنه
35. Rabi’ah bin Aksam رضي الله عنه
36. Thaqfu bin Amir رضي الله عنه
37. Malik bin Amir رضي الله عنه
38. Mudlij bin Amir رضي الله عنه
39. Abu Makhsyi Suwaid bin Makhsyi al-To’i رضي الله عنه
40. ‘Utbah bin Ghazwan رضي الله عنه
41. Khabbab (maula ‘Utbah bin Ghazwan) رضي الله عنه
42. Hathib bin Abi Balta’ah al-Lakhmi رضي الله عنه
43. Sa’ad al-Kalbi (maula Hathib) رضي الله عنه
44. Suwaibit bin Sa’ad bin Harmalah رضي الله عنه
45. Umair bin Abi Waqqas رضي الله عنه
46. Al-Miqdad bin ‘Amru رضي الله عنه
47. Mas’ud bin Rabi’ah رضي الله عنه
48. Zus Syimalain Amru bin Amru رضي الله عنه
49. Khabbab bin al-Arat
al-Tamimi رضي الله عنه
50. Amir bin Fuhairah رضي الله عنه
51. Suhaib bin Sinan رضي الله عنه
52. Abu Salamah bin Abdul Asad رضي الله عنه
53. Syammas bin Uthman رضي الله عنه
54. Al-Arqam bin Abi al-Arqam رضي الله عنه
55. Ammar bin Yasir رضي الله عنه
56. Mu’attib bin ‘Auf al-Khuza’i رضي الله عنه
57. Zaid bin al-Khattab رضي الله عنه
58. Amru bin Suraqah رضي الله عنه
59. Abdullah bin Suraqah رضي الله عنه
60. Sa’id bin Zaid bin Amru رضي الله عنه
61. Mihja bin Akk (maula Umar bin al-Khattab) رضي الله عنه
62. Waqid
al-Ijli رضي الله عنه
65. Amir bin Rabi’ah رضي الله عنه
66. Amir bin al-Bukair رضي الله عنه
67. Aqil bin al-Bukair رضي الله عنه
68. Khalid bin al-Bukair رضي الله عنه
69. Iyas bin al-Bukair رضي الله عنه
70. Uthman bin Maz’un رضي الله عنه
71. Qudamah bin Maz’un رضي الله عنه
72. Abdullah bin Maz’un رضي الله عنه
73. Al-Saib bin Uthman bin Maz’un رضي الله عنه
74. Ma’mar bin al-Harith رضي الله عنه
75. Khunais bin Huzafah رضي الله عنه
76. Abu Sabrah bin Abi Ruhm رضي الله عنه
77. Abdullah bin Makhramah رضي الله عنه
78. Abdullah bin Suhail bin Amru رضي الله عنه
79. Wahab bin Sa’ad bin Abi Sarah رضي الله عنه
80. Hatib bin Amru رضي الله عنه
81. Umair bin Auf رضي الله عنه
82. Sa’ad bin Khaulah رضي الله عنه
83. Abu Ubaidah Amir al-Jarah رضي الله عنه
84. Amru bin al-Harith رضي الله عنه
85. Suhail bin Wahab bin Rabi’ah رضي الله عنه
86. Safwan bin Wahab رضي الله عنه
87. Amru bin Abi Sarah bin Rabi’ah رضي الله عنه
88. Sa’ad bin Muaz رضي الله عنه
89. Amru bin Muaz رضي الله عنه
90. Al-Harith bin Aus رضي الله عنه
91. Al-Harith bin Anas رضي الله عنه
92. Sa’ad bin Zaid bin Malik رضي الله عنه
93. Salamah bin Salamah bin Waqsyi رضي الله عنه
94. ‘Ubbad bin Waqsyi رضي الله عنه
95. Salamah bin Thabit bin Waqsyi رضي الله عنه
96. Rafi’ bin Yazid bin Kurz رضي الله عنه
97. Al-Harith bin Khazamah bin ‘Adi رضي الله عنه
98. Muhammad bin Maslamah al-Khazraj رضي الله عنه
99. Salamah bin Aslam bin Harisy رضي الله عنه
100. Abul Haitham bin al-Tayyihan رضي الله عنه
101. ‘Ubaid bin Tayyihan رضي الله عنه
102. Abdullah bin Sahl رضي الله عنه
103. Qatadah bin Nu’manEh bin Zaid رضي الله عنه
104.
*🏆 MENGENAL 313 (PEJUANG TERBAIK AHLUL BADAR, SIAPA SAJA MEREKA?*
Allah Azza wa Jalla berfirman :
وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ بِبَدْرٍ وَأَنْتُمْ أَذِلَّةٌ ۖ فَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Sungguh Allah telah menolong kalian dalam peperangan Badar, padahal kalian adalah (ketika itu) lemah. Karena itu, bertakwalah kepada Allah, supaya kalian mensyukuri-Nya. [Ali Imrân/3:123]
عن جابر رضي الله عنهما قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «لن يدخلَ النارَ رجلٌ شَهِد بدرًا والحُدَيْبِيَة».
[صحيح] - [رواه أحمد، وأصله في صحيح مسلم]
Jābir -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, “Tidak akan masuk neraka orang yang ikut dalam perang Badar dan perjanjian Hudaibiyah."
Hadis sahih - Diriwayatkan oleh Imam Ahmad
Perang Badar Al-Kubra merupakan peristiwa besar bersejarah yang menentukan masa depan Islam dan kaum muslimin.
Perang ini terjadi pada 17 Ramadhan 2 Hijriyah (13 Maret 624 Masehi) dan dikenal sebagai perang ideologi bertemunya dua kekuatan yaitu pasukan muslim dengan kafir Quraisy.
*Sebanyak 313 pasukan muslim yang merupakan orang-orang terbaik mengalahkan pasukan kafir Quraisy yang berjumlah 1.000 orang. Al-Qur'an menamakan peristiwa itu dengan Yaumul Furqan (hari pembeda) yaitu hari bertemunya 2 pasukan. Inilah karunia besar Allah untuk kaum muslimin.*
*Dalam Kitab Ar-Rahiqul Makhtum Sirah Nabawiyah karya Syeikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri dijelaskan,*
Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam hanya membawa 313 pasukan muslim di perang Badar, perang yang terjadi di lembah bernama Badar antara Makkah dan Madinah. Rinciannya, 82 sahabat muhajirin, 61 orang dari suku Aus, dan 170 dari suku Khazraj.
*Ahlul Badr (pejuang perang Badar) Radhiyallahu'anhum adalah orang-orang paling mulia (afdhol) sebagaimana dikatakan oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.*
Dalam Al-Qur'an, Allah Ta'ala berfirman:
كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ
"…Betapa banyak golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar."
(QS. Al Baqarah: 249).
Dalam riwayat Imam Ahmad dengan sanad yang sesuai syarat Imam Muslim dari hadis Jabir, ditegaskan bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
لَنْ يَدْخُلَ النَّارَ أَحَدٌ شَهِدَ بَدْرًا
"Yang ikut serta dalam Perang Badar tidak akan masuk neraka".
(Al-Fath, 9/46).
Adapun sahabat Utsman bin Affan Radhiallahu 'anhu walaupun tidak ikut dalam pertempuran itu,Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam tetap memberinya bagian dari harta rampasan perang.
Nabi memerintahkan Utsman di rumah untuk menjaga istrinya yang juga putri Rasulullah kala itu sedang sakit.
Berikut Nama 313 Pejuang Perang Badar:
1. Sayyiduna Muhammad Rasulullah ﷺ.
Repost from Dakwah Terasing
🌱ilmu itu seperti air ia akan jatuh ketempat yang lebih rendah.
.
Join telegram : http://t.me/dakwah_terasing
AL BAQOROH 256 . AN NAHL 36 . AN NISA' 60-65 . AL MA'IDAH 44, 45, 47, & 50
#dakwah_terasing #dakwah
Bismillah
_KETIKA ALLAH MENGINGINKAN KEBAIKAN PADA SEORANG HAMBA, ALLAH AKAN MENJADIKAN TIGA PERANGAI DALAM DIRINYA_
Muhammad bin Ka'ab al-Qurazhi رحمه الله berkata,
إذا أَرَادَ ﷲ بعبدٍ خَيْرًا جَعَلَ فِيْهِ ثَلَاث خِصال: فِقْهًا في الدين، وَ زَهَادَةً فِي الدنيا، وَ بَصَرًا بِعُيُوبِهِ
Jika Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba, Allah akan menjadikan tiga perangai dalam dirinya:
1) memahami agama;
2) zuhud terhadap dunia; dan
3) mengetahui aib-aib dirinya.
[Shifatush Shafwah: 270]
#risalahdakwah
#milisitauhidmedia
Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan faidah. Beliau berkata bahwa:
"Tidak akan pernah bertemu antara ikhlas dan cinta ketenaran/pujian di dalam hati seorang hamba, sebagaimana tidak akan pernah bertemu antara air dan api..."
Wahai hamba Allah, lihatlah keadaanmu. Jangan sampai engkau beramal hanya untuk nampak di tengah manusia.
Maka, lihatlah dirimu!
Jangan sampai engkau anggap dirimu mulia, engkau anggap dirimu baik, engkau anggap dirimu bijaksana, dst, tetapi di sisi Allah engkau adalah orang yang hina.
Disebutkan dari Utbah bin Ghazwan Rahimahullah, beliau berkata:
"Aku berlindung kepada Allah dari mengganggap diriku agung dan besar. Tetapi di sisi Allah aku adalah orang yang hina."
Adapun kalau misalkan engkau mendapatkan pujian di sisi manusia yang engkau tidak harapkan, maka ini keutamaan dari Allah.
ONE DAY ONE HADITS
Rab'iul Akhir 1445
Pentingnya Menuntut Ilmu
عن أبي هريرة رضي اللَّه عنه أنه قال، قال رسول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :
الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ مَلْعُونٌ مَا فِيهَا إِلاَّ ذِكْرَ اللَّهِ وَمَا وَالاَهُ أَوْ عَالِمٌ أَوْ مُتَعَلِّمٌ
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Dunia dan seluruh isinya dilaknati, kecuali dzikir mengingat Allah, taat pada-Nya (mau mengikuti tuntunan, pen.), orang yang berilmu (seorang alim) atau orang yang belajar ilmu agama.” (HR Ibnu Majah, no. 4112; Tirmidzi, no. 2322. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)
Pelajaran yang terdapat di dalam hadist:
1- Kalimat di atas seakan-akan maksudnya adalah dunia itu dicela, artinya dunia itu tidak dipuji kecuali bagi yang rajin berdzikir, yang beribadah pada Allah, seorang alim, atau yang mau belajar atau mendalami agama.
2- Kesimpulannya jika ingin selamat maka jadilah bagian dari empat orang berikut ini:
-Orang yang rajin berdzikir
-Orang yang beribadah sesuai tuntunan
- Orang yang ‘alim (berilmu)
- Orang yang mau belajar.
3- Dari Al-Hasan Al-Bashri, dari Abu Ad-Darda’, ia berkata,
كُنْ عَالِمًا ، أَوْ مُتَعَلِّمًا ، أَوْ مُسْتَمِعًا ، أَوْ مُحِبًّا ، وَلاَ تَكُنْ الخَامِسَةَ فَتَهْلَكُ. قَالَ : فَقُلْتُ لِلْحَسَنِ : مَنِ الخَامِسَةُ ؟ قال : المبْتَدِعُ
“Jadilah seorang alim atau seorang yang mau belajar, atau seorang yang sekedar mau dengar, atau seorang yang sekedar suka, janganlah jadi yang kelima.”
4- Humaid berkata pada Al-Hasan Al-Bashri, yang kelima itu apa. Jawab Hasan, “Janganlah jadi ahli bid’ah (yang beramal asal-asalan tanpa panduan ilmu) (Al-Ibanah Al-Kubra karya Ibnu Batthah)
*"Tema hadist yang berkaitan dengan Al qur'an :**
1- Ada banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan atau hanya sekedar menyinggung tentang keutamaan menuntut ilmu,
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ
Tidak sepatutnya bagi orang-orang mu’min itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.[At taubah :122]
2- Sesungguhnya barang siapa yang berendah diri terhadap perintah Allah, niscaya Allah akan meninggikan kedudukannya dan mengharumkan namanya.
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Mujadilah: 11)ONE DAY ONE HADITS
Rab'iul Akhir 1445
_Kemenangan Pertolongan Dengan Sebab Orang-orang Lemah_
عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ، قَالَ: رَأَى سَعْدٌ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-، أَنَّ لَهُ فَضْلاً عَلَى مَنْ دُوْنَهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-: ((هَلْ تُنْصَرُوْنَ وَتُرْزَقُوْنَ إِلاَّ بِضُعَفَائِكُمْ؟)).
Dari Mush’ab bin Sa’ad, beliau berkata bahwa Sa’ad Radhiyallahu ‘anhu memandang dirinya memiliki keutamaan di atas yang lainnya (dari para sahabat). Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bukankah kalian ditolong (dimenangkan) dan diberi rezeki melainkan dengan sebab orang-orang yang lemah di antara kalian?”.
[ al Imam al Bukhari, di dalam Shahih-nya, Kitab al Jihad was-Siyar, Bab Man Ista’ana bidh- Dhu’afa-i wash Shalihina fil-Harbi, nomer(2896)].
Pelajaran yang terdapat di dalam hadist:
1- Orang-orang yang lemah merupakan sumber kebaikan umat Islam. Karena sesungguhnya, walaupun tubuh mereka lemah, namun keimanan mereka kuat. Demikian pula keyakinan dan kepercayaan mereka (kuat) kepada Rabb. Mereka pun tidak peduli terhadap kepentingan pribadi dan tujuan-tujuan keduniaan. Dengan sebab inilah, maka apabila mereka berdoa dengan ikhlas, Allah pun mengabulkan doa mereka. Allah juga memberi rezeki kepada umat ini dengan sebab (doa) mereka.
2- Hadits ini mengandung anjuran untuk tawadhu’ (merendah hati) dan tidak sombong kepada orang lain.
3- Hadits ini mengandung (penjelasan) hikmah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam merubah kemungkaran, melunakkan hati orang lain, dan mengarahkannya kepada apa-apa yang Allah cintai dan Allah ridhai.
4- Punya kedudukan, jabatan, popularitas, harta banyak itu semuanya palsu kalau kita tidak mencintai, mengasihi, menolong orang-orang yang lemah.
5- Karena sesungguhnya kalian diberi rezeki dan ditolong (dimenangkan) dengan sebab orang-orang yang lemah (di antara) kalian.
Tema hadist yang berkaitan dengan Al-Quran:
- Betapa banyak orang-orang yang kafir dan fajir diberi rezeki (oleh Allah), bahkan mereka pun ada yang diberi kemenangan (oleh Allah). Namun (itu semua) karena istidraj (pemberian kenikmatan sementara, agar mereka semakin sesat dan jauh dari petunjuk Allah). Bahkan terjadi pula pada kaum Muslimin kekalahan, namun hal ini agar mereka kembali dan bertaubat untuk beribadah dengan ikhlas (kepada Allah). Sehingga, justru mereka pun mendapatkan ampunan Allah dan keleluasaan (kemenangan) setelahnya. Maka ketahuilah, tidak setiap pemberian nikmat (dari Allah) merupakan penghormatan dan kemuliaan, sebagaimana tidak setiap musibah merupakan siksaan.
فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ
وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ
- (Dalam pada itu manusia tidak menghiraukan balasan akhirat), oleh yang demikian, maka kebanyakan manusia apabila diuji oleh Tuhannya dengan dimuliakan dan dimewahkan hidupnya, (ia tidak mahu bersyukur tetapi terus bersikap takbur) serta berkata dengan sombongnya: "Tuhanku telah memuliakan daku!"
Dan sebaliknya apabila ia diuji oleh Tuhannya, dengan disempitkan rezekinya, (ia tidak bersabar bahkan ia resah gelisah) serta merepek dengan katanya: "Tuhanku telah menghinakan daku!"
[Surat Al-Fajr :15-16]DIANTARA PESAN SYAIKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB RAHIMAHULLAH
ﻓﺎﺻﺒﺮﻭا ﻳﺎ ﺇﺧﻮاﻧﻲ، ﻭاﺣﻤﺪﻭا اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﺃﻋﻄﺎﻛﻢ، ﻣﻦ ﻣﻌﺮﻓﺔ اﻟﻠﻪ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ، ﻭﻣﻌﺮﻓﺔ ﺣﻘﻪ ﻋﻠﻰ ﻋﺒﺎﺩﻩ، ﻭﻣﻌﺮﻓﺔ ﻣﻠﺔ ﺃﺑﻴﻜﻢ ﺇﺑﺮاﻫﻴﻢ - ﻓﻲ ﻫﺬا اﻟﺰﻣﺎﻥ - اﻟﺘﻲ ﺃﻛﺜﺮ اﻟﻨﺎﺱ ﻣﻨﻜﺮ ﻟﻬﺎ; ﻭاﺿﺮﻋﻮا ﺇﻟﻰ اﻟﻠﻪ ﺃﻥ ﻳﺰﻳﺪﻛﻢ ﺇﻳﻤﺎﻧﺎ ﻭﻳﻘﻴﻨﺎ ﻭﻋﻠﻤﺎ، ﻭﺃﻥ ﻳﺜﺒﺖ ﻗﻠﻮﺑﻜﻢ ﻋﻠﻰ ﺩﻳﻨﻪ، ﻭﻗﻮﻟﻮا ﻛﻤﺎ ﻗﺎﻝ اﻟﺼﺎﻟﺤﻮﻥ، اﻟﺬﻳﻦ ﺃﺛﻨﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺑﻪ: ﴿ ﺭﺑﻨﺎ ﻻ ﺗﺰﻍ ﻗﻠﻮﺑﻨﺎ ﺑﻌﺪ ﺇﺫ ﻫﺪﻳﺘﻨﺎ ﻭﻫﺐ ﻟﻨﺎ ﻣﻦ ﻟﺪﻧﻚ ﺭﺣﻤﺔ ﺇﻧﻚ ﺃﻧﺖ اﻟﻮﻫﺎﺏ ﴾ [ﺳﻮﺭﺓ ﺁﻝ ﻋﻤﺮاﻥ ﺁﻳﺔ 8].
" Bersabarlah wahai Ikhwan, bersyukurlah kepada Allah terhadap apa yang telah diberikan kepada kalian berupa pengetahuan terhadap Allah dan Hak-Nya atas hamba-hamba-Nya. Mohonlah kepada Allah agar selalu menambahkan untuk kalian iman, keyakinan dan ilmu. Dan agar mengokohkan hati kalian di atas din-Nya.
Dan bacalah sebagaimana apa yang dibaca para shalihin yang telah Allah puji di dalam kitab-Nya :
ﺭﺑﻨﺎ ﻻ ﺗﺰﻍ ﻗﻠﻮﺑﻨﺎ ﺑﻌﺪ ﺇﺫ ﻫﺪﻳﺘﻨﺎ ﻭﻫﺐ ﻟﻨﺎ ﻣﻦ ﻟﺪﻧﻚ ﺭﺣﻤﺔ ﺇﻧﻚ ﺃﻧﺖ اﻟﻮﻫﺎﺏ
" Wahai Rabb kami janganlah Engkau palingkan hati kami setelah Engkau berikan hidayah kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami Rahmat dari sisi Mu, sesungguhnya engkau Maha Pemberi karunia." (Ali Imran: 8)
[Ad-Durar As-Saniyyah 8/10]
DIANTARA PESAN SYAIKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB ROHIMAHULLOH
ﻓﺎﺻﺒﺮﻭا ﻳﺎ ﺇﺧﻮاﻧﻲ، ﻭاﺣﻤﺪﻭا اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﺃﻋﻄﺎﻛﻢ، ﻣﻦ ﻣﻌﺮﻓﺔ اﻟﻠﻪ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ، ﻭﻣﻌﺮﻓﺔ ﺣﻘﻪ ﻋﻠﻰ ﻋﺒﺎﺩﻩ، ﻭﻣﻌﺮﻓﺔ ﻣﻠﺔ ﺃﺑﻴﻜﻢ ﺇﺑﺮاﻫﻴﻢ - ﻓﻲ ﻫﺬا اﻟﺰﻣﺎﻥ - اﻟﺘﻲ ﺃﻛﺜﺮ اﻟﻨﺎﺱ ﻣﻨﻜﺮ ﻟﻬﺎ; ﻭاﺿﺮﻋﻮا ﺇﻟﻰ اﻟﻠﻪ ﺃﻥ ﻳﺰﻳﺪﻛﻢ ﺇﻳﻤﺎﻧﺎ ﻭﻳﻘﻴﻨﺎ ﻭﻋﻠﻤﺎ، ﻭﺃﻥ ﻳﺜﺒﺖ ﻗﻠﻮﺑﻜﻢ ﻋﻠﻰ ﺩﻳﻨﻪ، ﻭﻗﻮﻟﻮا ﻛﻤﺎ ﻗﺎﻝ اﻟﺼﺎﻟﺤﻮﻥ، اﻟﺬﻳﻦ ﺃﺛﻨﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺑﻪ: ﴿ ﺭﺑﻨﺎ ﻻ ﺗﺰﻍ ﻗﻠﻮﺑﻨﺎ ﺑﻌﺪ ﺇﺫ ﻫﺪﻳﺘﻨﺎ ﻭﻫﺐ ﻟﻨﺎ ﻣﻦ ﻟﺪﻧﻚ ﺭﺣﻤﺔ ﺇﻧﻚ ﺃﻧﺖ اﻟﻮﻫﺎﺏ ﴾ [ﺳﻮﺭﺓ ﺁﻝ ﻋﻤﺮاﻥ ﺁﻳﺔ 8].
" Bersabarlah wahai Ikhwan, bersyukurlah kepada Allah terhadap apa yang telah diberikan kepada kalian berupa pengetahuan terhadap Allah dan Hak-Nya atas hamba-hamba-Nya. Mohonlah kepada Allah agar selalu menambahkan untuk kalian iman, keyakinan dan ilmu. Dan agar mengokohkan hati kalian di atas din-Nya.
Dan bacalah sebagaimana apa yang dibaca para shalihin yang telah Allah puji di dalam kitab-Nya :
ﺭﺑﻨﺎ ﻻ ﺗﺰﻍ ﻗﻠﻮﺑﻨﺎ ﺑﻌﺪ ﺇﺫ ﻫﺪﻳﺘﻨﺎ ﻭﻫﺐ ﻟﻨﺎ ﻣﻦ ﻟﺪﻧﻚ ﺭﺣﻤﺔ ﺇﻧﻚ ﺃﻧﺖ اﻟﻮﻫﺎﺏ
" Wahai Rabb kami janganlah Engkau palingkan hati kami setelah Engkau berikan hidayah kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami Rahmat dari sisi Mu, sesungguhnya engkau Maha Pemberi karunia." (Ali Imran: 8)
[Ad-Durar As-Saniyyah 8/10]
DIANTARA PESAN SYAIKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB RAHIMAHULLAH
ﻓﺎﺻﺒﺮﻭا ﻳﺎ ﺇﺧﻮاﻧﻲ، ﻭاﺣﻤﺪﻭا اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﺃﻋﻄﺎﻛﻢ، ﻣﻦ ﻣﻌﺮﻓﺔ اﻟﻠﻪ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ، ﻭﻣﻌﺮﻓﺔ ﺣﻘﻪ ﻋﻠﻰ ﻋﺒﺎﺩﻩ، ﻭﻣﻌﺮﻓﺔ ﻣﻠﺔ ﺃﺑﻴﻜﻢ ﺇﺑﺮاﻫﻴﻢ - ﻓﻲ ﻫﺬا اﻟﺰﻣﺎﻥ - اﻟﺘﻲ ﺃﻛﺜﺮ اﻟﻨﺎﺱ ﻣﻨﻜﺮ ﻟﻬﺎ; ﻭاﺿﺮﻋﻮا ﺇﻟﻰ اﻟﻠﻪ ﺃﻥ ﻳﺰﻳﺪﻛﻢ ﺇﻳﻤﺎﻧﺎ ﻭﻳﻘﻴﻨﺎ ﻭﻋﻠﻤﺎ، ﻭﺃﻥ ﻳﺜﺒﺖ ﻗﻠﻮﺑﻜﻢ ﻋﻠﻰ ﺩﻳﻨﻪ، ﻭﻗﻮﻟﻮا ﻛﻤﺎ ﻗﺎﻝ اﻟﺼﺎﻟﺤﻮﻥ، اﻟﺬﻳﻦ ﺃﺛﻨﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺑﻪ: ﴿ ﺭﺑﻨﺎ ﻻ ﺗﺰﻍ ﻗﻠﻮﺑﻨﺎ ﺑﻌﺪ ﺇﺫ ﻫﺪﻳﺘﻨﺎ ﻭﻫﺐ ﻟﻨﺎ ﻣﻦ ﻟﺪﻧﻚ ﺭﺣﻤﺔ ﺇﻧﻚ ﺃﻧﺖ اﻟﻮﻫﺎﺏ ﴾ [ﺳﻮﺭﺓ ﺁﻝ ﻋﻤﺮاﻥ ﺁﻳﺔ 8].
" Bersabarlah wahai Ikhwan, bersyukurlah kepada Alloh terhadap apa yang telah diberikan kepada kalian berupa pengetahuan terhadap Alloh dan Hak-Nya atas hamba-hamba-Nya. Mohonlah kepada Alloh agar selalu menambahkan untuk kalian iman, keyakinan dan ilmu. Dan agar mengokohkan hati kalian di atas din-Nya.
Dan bacalah sebagaimana apa yang dibaca para shalihin yang telah Alloh puji di dalam kitab-Nya :
ﺭﺑﻨﺎ ﻻ ﺗﺰﻍ ﻗﻠﻮﺑﻨﺎ ﺑﻌﺪ ﺇﺫ ﻫﺪﻳﺘﻨﺎ ﻭﻫﺐ ﻟﻨﺎ ﻣﻦ ﻟﺪﻧﻚ ﺭﺣﻤﺔ ﺇﻧﻚ ﺃﻧﺖ اﻟﻮﻫﺎﺏ
" Wahai Robb kami janganlah Engkau palingkan hati kami setelah Engkau berikan hidayah kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami Rahmat dari sisi Mu, sesungguhnya engkau Maha Pemberi karunia." (Ali Imran: 8)
[Ad-Durar As-Saniyyah 8/10]
DIANTARA PESAN SYAIKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB ROHIMAHULLOH
ﻓﺎﺻﺒﺮﻭا ﻳﺎ ﺇﺧﻮاﻧﻲ، ﻭاﺣﻤﺪﻭا اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﺃﻋﻄﺎﻛﻢ، ﻣﻦ ﻣﻌﺮﻓﺔ اﻟﻠﻪ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ، ﻭﻣﻌﺮﻓﺔ ﺣﻘﻪ ﻋﻠﻰ ﻋﺒﺎﺩﻩ، ﻭﻣﻌﺮﻓﺔ ﻣﻠﺔ ﺃﺑﻴﻜﻢ ﺇﺑﺮاﻫﻴﻢ - ﻓﻲ ﻫﺬا اﻟﺰﻣﺎﻥ - اﻟﺘﻲ ﺃﻛﺜﺮ اﻟﻨﺎﺱ ﻣﻨﻜﺮ ﻟﻬﺎ; ﻭاﺿﺮﻋﻮا ﺇﻟﻰ اﻟﻠﻪ ﺃﻥ ﻳﺰﻳﺪﻛﻢ ﺇﻳﻤﺎﻧﺎ ﻭﻳﻘﻴﻨﺎ ﻭﻋﻠﻤﺎ، ﻭﺃﻥ ﻳﺜﺒﺖ ﻗﻠﻮﺑﻜﻢ ﻋﻠﻰ ﺩﻳﻨﻪ، ﻭﻗﻮﻟﻮا ﻛﻤﺎ ﻗﺎﻝ اﻟﺼﺎﻟﺤﻮﻥ، اﻟﺬﻳﻦ ﺃﺛﻨﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺑﻪ: ﴿ ﺭﺑﻨﺎ ﻻ ﺗﺰﻍ ﻗﻠﻮﺑﻨﺎ ﺑﻌﺪ ﺇﺫ ﻫﺪﻳﺘﻨﺎ ﻭﻫﺐ ﻟﻨﺎ ﻣﻦ ﻟﺪﻧﻚ ﺭﺣﻤﺔ ﺇﻧﻚ ﺃﻧﺖ اﻟﻮﻫﺎﺏ ﴾ [ﺳﻮﺭﺓ ﺁﻝ ﻋﻤﺮاﻥ ﺁﻳﺔ 8].
" Bersabarlah wahai Ikhwan, bersyukurlah kepada Alloh terhadap apa yang telah diberikan kepada kalian berupa pengetahuan terhadap Alloh dan Hak-Nya atas hamba-hamba-Nya. Mohonlah kepada Alloh agar selalu menambahkan untuk kalian iman, keyakinan dan ilmu. Dan agar mengokohkan hati kalian di atas din-Nya.
Dan bacalah sebagaimana apa yang dibaca para shalihin yang telah Alloh puji di dalam kitab-Nya :
ﺭﺑﻨﺎ ﻻ ﺗﺰﻍ ﻗﻠﻮﺑﻨﺎ ﺑﻌﺪ ﺇﺫ ﻫﺪﻳﺘﻨﺎ ﻭﻫﺐ ﻟﻨﺎ ﻣﻦ ﻟﺪﻧﻚ ﺭﺣﻤﺔ ﺇﻧﻚ ﺃﻧﺖ اﻟﻮﻫﺎﺏ
" Wahai Robb kami janganlah Engkau palingkan hati kami setelah Engkau berikan hidayah kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami Rahmat dari sisi Mu, sesungguhnya engkau Maha Pemberi karunia." (Ali Imran: 8)
[Ad-Durar As-Saniyyah 8/10]
