𝐊†
Open in Telegram
✞ Grow In Faith ✞︎ Grow In Faith yaitu Komunitas rohani Kristen yang menjadi tempat untuk bertumbuh dalam Iman Kristus Yesus. — Bot : @GrowInFaith_bot — Follow Akun Instagram @.GrowIn_Faithh — Follow Akun tiktok @.GrowInFaith — all account allowed
Show more3 586
Subscribers
-924 hours
-237 days
-9430 days
Data loading in progress...
Similar Channels
Tags Cloud
Incoming and Outgoing Mentions
---
---
---
---
---
---
Attracting Subscribers
September '26
September '26
+1
in 0 channels
August '26
+7
in 0 channels
Get PRO
July '26
+22
in 0 channels
Get PRO
June '26
+29
in 0 channels
Get PRO
May '26
+35
in 1 channels
Get PRO
April '26
+17
in 0 channels
Get PRO
March '26
+3
in 0 channels
Get PRO
February '26
+8
in 1 channels
Get PRO
January '26
+17
in 0 channels
Get PRO
December '25
+15
in 2 channels
Get PRO
November '25
+25
in 0 channels
Get PRO
October '25
+27
in 1 channels
Get PRO
September '25
+29
in 1 channels
Get PRO
August '25
+48
in 2 channels
Get PRO
July '25
+28
in 0 channels
Get PRO
June '25
+24
in 0 channels
Get PRO
May '25
+31
in 0 channels
Get PRO
April '25
+44
in 1 channels
Get PRO
March '25
+32
in 0 channels
Get PRO
February '25
+56
in 0 channels
Get PRO
January '25
+43
in 0 channels
Get PRO
December '24
+69
in 2 channels
Get PRO
November '24
+60
in 1 channels
Get PRO
October '24
+78
in 1 channels
Get PRO
September '24
+94
in 2 channels
Get PRO
August '24
+98
in 1 channels
Get PRO
July '24
+176
in 3 channels
Get PRO
June '24
+264
in 3 channels
Get PRO
May '24
+312
in 4 channels
Get PRO
April '24
+337
in 2 channels
Get PRO
March '24
+91
in 1 channels
Get PRO
February '24
+46
in 1 channels
Get PRO
January '24
+61
in 0 channels
Get PRO
December '23
+42
in 0 channels
Get PRO
November '23
+39
in 0 channels
Get PRO
October '23
+72
in 0 channels
Get PRO
September '23
+72
in 0 channels
Get PRO
August '23
+103
in 0 channels
Get PRO
July '23
+142
in 0 channels
Get PRO
June '23
+98
in 0 channels
Get PRO
May '23
+203
in 0 channels
Get PRO
April '23
+96
in 0 channels
Get PRO
March '23
+49
in 0 channels
Get PRO
February '23
+30
in 0 channels
Get PRO
January '23
+50
in 0 channels
Get PRO
December '22
+36
in 0 channels
Get PRO
November '22
+40
in 0 channels
Get PRO
October '22
+21
in 0 channels
Get PRO
September '22
+43
in 0 channels
Get PRO
August '22
+43
in 0 channels
Get PRO
July '22
+63
in 0 channels
Get PRO
June '22
+77
in 0 channels
Get PRO
May '22
+234
in 0 channels
Get PRO
April '22
+392
in 0 channels
Get PRO
March '22
+283
in 0 channels
Get PRO
February '22
+331
in 0 channels
Get PRO
January '22
+3 584
in 0 channels
Get PRO
December '21
+334
in 0 channels
Get PRO
November '21
+550
in 0 channels
Get PRO
October '21
+833
in 0 channels
Get PRO
September '21
+1 116
in 0 channels
Get PRO
August '21
+1 306
in 0 channels
Get PRO
July '21
+1 351
in 0 channels
Get PRO
June '21
+957
in 0 channels
Get PRO
May '21
+679
in 0 channels
| Date | Subscriber Growth | Mentions | Channels | |
| 06 September | 0 | |||
| 05 September | 0 | |||
| 04 September | 0 | |||
| 03 September | 0 | |||
| 02 September | +1 | |||
| 01 September | 0 |
Channel Posts
2 Petrus 3:18 TB
[18] Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya.
#AYAT
| 2 | Ibrani 13:5 TB
[5] Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: ”Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.”
#AYAT | 87 |
| 3 | 1 Petrus 5:7 TB
[7] Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.
#AYAT | 102 |
| 4 | Keep your tongue from evil and your lips from telling lies.
#REMINDER | 105 |
| 5 | Tidak apa-apa untuk kehilangan diri sesaat, tidak apa-apa untuk sekadar mengatakan bahwa kamu lelah, tidak apa-apa untuk mengatakan bahwa kamu capek.
Yang tidak boleh itu adalah kita terus membiarkan diri kita berlarut dalam keterpurukan, dan menyalahkan keadaan.
Apalagi sampai meragukan Tuhan dan menyalakan Tuhan.
#REMINDER | 254 |
| 6 | Jesus is always listening.
Then you will call on me and come and pray to me,
and you I Will listen to you.
-Jeremiah 29:12
#AYAT | 100 |
| 7 | Yohanes 8:36 TB
[36] Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka.”
#AYAT | 128 |
| 8 | "Dari Abraham kita belajar bahwa Allah memanggil kita karena inisiatif Allah, bukan karena kepantasan kita"
#REMINDER | 132 |
| 9 | Yosua 24:13-14 (TB)
13 Demikianlah Kuberikan kepadamu negeri yang kamu peroleh tanpa bersusah-susah dan kota-kota yang tidak kamu dirikan, tetapi kamulah yang diam di dalamnya; juga kebun-kebun anggur dan kebun-kebun zaitun yang tidak kamu tanami, kamulah yang makan hasilnya.
14 Oleh sebab itu, takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia. Jauhkanlah allah yang kepadanya nenek moyangmu telah beribadah di seberang sungai Efrat dan di Mesir, dan beribadahlah kepada TUHAN.
#AYAT | 127 |
| 10 | Anugerah Keselamatan dan Rintangan Harta Duniawi
1 Korintus 15:1-11
Matius 19:16-26
Bacaan Kitab Suci pada hari Minggu ini membawa kita pada perenungan yang mendalam tentang esensi Injil, anugerah Allah, serta hambatan terbesar manusia dalam mencapai kesempurnaan rohani dan Kerajaan Surga.
Dalam suratnya kepada jemaat di Korintus, Rasul Paulus mengingatkan kembali tentang inti dari Injil yang telah ia beritakan dan yang menjadi jalan keselamatan, yaitu bahwa Kristus telah mati untuk dosa-dosa kita, dikuburkan, dan dibangkitkan pada hari yang ketiga. Ajaran mengenai keselamatan ini berawal dari peristiwa Allah yang menjadi manusia, disalibkan, dan bangkit kembali.
Di samping penegasan dogma ini, Paulus memberikan kesaksian pribadi yang sangat menyentuh. Ia menyebut dirinya sebagai anak yang "lahir sebelum waktunya" dan merasa tidak layak disebut sebagai rasul karena masa lalunya yang menganiaya jemaat Allah. Sikap ini bukanlah sekadar merendahkan diri tanpa makna, melainkan ungkapan tulus dari hati yang sungguh-sungguh hancur dan bertobat. Namun, justru di dalam ketidaklayakannya itulah anugerah Allah bekerja dengan sangat luar biasa. Ia menyadari bahwa pencapaiannya—di mana ia bekerja lebih keras dari rasul-rasul yang lain—bukanlah hasil dari kekuatan pribadinya, melainkan semata-mata karena anugerah Allah yang menyertainya. Hal ini mengajarkan kita bahwa segala pencapaian rohani tidak boleh membuat kita sombong, melainkan harus senantiasa dikembalikan kepada Allah sebagai sumber kekuatan.
Sebaliknya, bacaan Injil menampilkan seorang pemuda kaya yang datang kepada Yesus dengan pertanyaan, "Guru yang baik, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" Pemuda ini datang dengan antusiasme yang tulus, bukan untuk berpura-pura, melainkan ia benar-benar berlari dan bertelut di hadapan Kristus. Kristus kemudian membimbing pemuda itu secara perlahan untuk menjauh dari sanjungan duniawi dan mengarahkan hatinya hanya kepada Allah sebagai sumber segala yang baik.
Ketika Kristus memberikan syarat untuk sebuah kesempurnaan rohani, yaitu, "Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku," pemuda itu pergi dengan sedih. Kesedihannya muncul karena ia sangat dikuasai dan diperbudak oleh harta kekayaannya.
Melalui peristiwa ini, Kristus memberikan peringatan keras bahwa "lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Sorga." Para Bapa Gereja menjelaskan bahwa Kristus di sini tidak sedang menyalahkan kekayaan itu sendiri, melainkan menyalahkan orang-orang yang diperbudak dan tunduk pada kekayaan tersebut. Kecintaan akan uang disebut sebagai benteng dan akar dari segala kejahatan, yang membuat jiwa manusia menjadi gelap, sunyi, kotor, dan penuh dengan debu. Seseorang yang hidup dalam kemewahan berlebih namun mengabaikan sesamanya yang hidup dalam kemiskinan, pada hakikatnya tidak bisa sungguh-sungguh mengasihi sesamanya.
Meskipun tampak sangat sulit atau bahkan mustahil bagi manusia yang mencintai dunia untuk melepaskan kekayaannya, Kristus memberikan pengharapan: "Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin." Melalui rahmat dan bantuan Allah, apa yang tampaknya mustahil untuk diatasi oleh tabiat manusia dapat menjadi mungkin.
Kedua bacaan ini mengundang kita untuk meneladani Rasul Paulus dan hamba-hamba Allah yang rela melepaskan ikatan dunia demi Kristus, serta memandang harta benda surgawi jauh lebih berharga daripada bangunan mewah atau kekayaan di bumi. Mari kita berjuang menanggalkan penyakit keserakahan yang membutakan jiwa. Dengan demikian, kita tidak akan pergi meninggalkan Kristus dengan duka seperti pemuda yang kaya itu, melainkan dapat bersandar penuh pada anugerah Allah yang akan memampukan kita untuk hidup dalam kerendahan hati demi mewarisi hidup yang kekal. | 143 |
| 11 | “Rancangan-Ku bukanlah rancanganmu…” — Yesaya 55:8–9
Mungkin masalah terbesar kita bukan karena Tuhan tidak menjelaskan rencana-Nya, tetapi karena kita terus memaksa Tuhan menjelaskan sesuatu yang memang berada di luar cara berpikir kita. Kalau pikiran Tuhan selalu bisa kita pahami, mungkin Tuhan tidak sebesar yang kita kira.
Happy Sunday 🕊️
#REMINDER | 97 |
| 12 | “TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil…” — Ayub 1:21
Ayub kehilangan hampir semuanya, tetapi tidak kehilangan satu hal: siapa Tuhan baginya. Iman yang paling mahal bukan iman ketika tanganmu penuh, melainkan ketika tanganmu kosong tetapi mulutmu masih sanggup berkata, “Terpujilah nama Tuhan.”
#REMINDER | 172 |
| 13 | Mari kita jadikan momen kemerdekaan ini sebagai panggilan untuk saling menanggung beban, saling melayani, dan menyingkirkan perselisihan. Gereja adalah persekutuan rohani yang mempersatukan manusia dari berbagai bangsa, bahasa, dan latar belakang ke dalam kebebasan yang didasarkan pada kasih.
Jika prinsip kasih ini kita terapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, niscaya semangat gotong royong, kepedulian terhadap sesama, dan penghormatan terhadap martabat manusia akan menjadi fondasi yang tidak tergoyahkan bagi kemajuan bangsa Indonesia.
Sambil kita berjuang membangun Republik Indonesia agar semakin maju, adil, damai, dan bermartabat, kita tetap menyadari bahwa kehidupan dan kemegahan di bumi ini bersifat fana. Kita memiliki pengharapan akan kewarganegaraan surgawi dan “kota yang akan datang”.
Kiranya perjuangan kita dalam menghidupi kemerdekaan hari ini senantiasa diarahkan untuk memuliakan nama-Nya. Semoga Allah Yang Maha Pengasih senantiasa melindungi, memberkati, dan menuntun bangsa Indonesia menuju kedamaian, keadilan, persatuan, dan kesejahteraan yang sejati.
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.
Merdeka dalam kasih, melayani dalam iman, dan berkarya bagi sesama. | 178 |
| 14 | REFLEKSI KEMERDEKAAN RI KE-81
Pada peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81 ini, kita diajak untuk menaikkan ucapan syukur yang mendalam atas anugerah kebebasan dan kedamaian yang telah dilimpahkan kepada bangsa kita. Dalam setiap peribadatan, Gereja senantiasa menaikkan doa secara khusus bagi negara, para pemimpin pemerintahan, serta angkatan bersenjata, memohon agar Tuhan mengaruniakan masa-masa yang aman sehingga dalam ketenteraman tersebut, kita dapat menjalani kehidupan yang tenang dan damai dalam segala kesalehan dan kekudusan.
Kedamaian dan kebebasan suatu bangsa adalah berkat yang berharga, yang memungkinkan setiap warganya untuk bertumbuh, berkarya, serta mewujudkan kebaikan bagi sesama.
Namun, kacamata iman Kristen mengajak kita untuk merenungkan makna kemerdekaan hingga pada tataran yang jauh lebih esensial. Kemerdekaan sejati bukanlah sekadar kebebasan dari penjajahan fisik atau sekadar kemandirian individualistis yang egois, melainkan sebuah harmoni yang utuh dengan Allah, sesama manusia, dan seluruh ciptaan.
Di dunia sekuler saat ini, kebebasan sering kali disalahartikan sebagai otonomi mutlak untuk melakukan apa saja. Kebebasan yang demikian pada akhirnya justru dapat mengarah pada keterasingan, individualisme, dan hancurnya tanggung jawab sosial. Sebaliknya, Kekristenan mengajarkan bahwa kebebasan sejati pada hakikatnya tidak dapat dipisahkan dari kasih. Kebebasan sejati adalah ketika manusia keluar dari penjara dirinya sendiri dan bersatu dalam kasih persaudaraan (sobornost), ketika kita melihat setiap saudara sebagai “diri kita yang lain” dan melihat Kristus di dalam diri mereka.
Gereja mengingatkan bahwa penjajahan yang paling mengerikan bagi umat manusia bukanlah penindasan politik semata, melainkan perbudakan oleh dosa, kerusakan, dan maut. Kristus berinkarnasi, menyerahkan tubuh-Nya untuk disalibkan, dan turun ke alam maut (Hades) justru untuk menghancurkan gerbang kematian, menaklukkan tirani iblis, dan memberikan kemerdekaan yang kekal bagi seluruh umat manusia.
Melalui kebangkitan-Nya, manusia dibebaskan dari belenggu dosa dan diberikan kekuatan rahmat untuk meraih tujuan tertinggi hidupnya, yaitu Theosis—pendewasaan dan penyatuan dengan Allah, di mana manusia dipanggil untuk mengambil bagian dalam kehidupan dan kodrat ilahi.
Sebagai warga negara Indonesia sekaligus warga Kerajaan Surga, kita tidak dipanggil untuk mengasingkan diri dari dunia, melainkan untuk mengubah dan meneranginya dari dalam. Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81 menjadi momentum bagi kita untuk mengisi ruang kebebasan ini dengan karya nyata.
Tradisi Kristen menegaskan bahwa apa pun profesi kita, baik sebagai pemimpin pemerintahan, prajurit militer, petani, ilmuwan, pekerja seni, maupun berbagai profesi lainnya, semua itu bukanlah rintangan bagi pertumbuhan spiritual. Sebaliknya, setiap pekerjaan dapat menjadi wadah bagi kita untuk berpartisipasi dalam menghadirkan kebaikan dan mengubah kondisi masyarakat ke arah yang lebih baik.
Segala dimensi kehidupan manusia, baik pekerjaan, kehidupan sosial, maupun tata kelola negara, dapat dan harus diarahkan kepada Kristus. Iman tidak hanya hidup di dalam ruang ibadah, tetapi juga diwujudkan melalui cara kita bekerja, memperlakukan sesama, menjaga keadilan, menjalankan tanggung jawab, serta membangun kehidupan bersama.
Di tengah bangsa yang besar ini, kita dipanggil untuk menjalankan peran sebagai “imam bagi ciptaan” (priests of creation). Ini berarti kita mengelola, merawat, dan memajukan kekayaan alam Indonesia serta segala hasil karya dan ilmu pengetahuan yang dipercayakan kepada kita, lalu mempersembahkannya kembali kepada Allah Sang Pencipta dengan penuh ucapan syukur.
Semangat untuk mewujudkan keadilan sosial, perdamaian, dan kesejahteraan di tanah air sesungguhnya merupakan cerminan dari kerinduan jiwa manusia untuk menghadirkan kehidupan yang memantulkan tatanan kasih Allah Tritunggal Mahakudus. | 153 |
| 15 | No text... | 104 |
| 16 | No text... | 1 |
| 17 | Mari kita jadikan momen kemerdekaan ini sebagai panggilan untuk saling menanggung beban, saling melayani, dan menyingkirkan perselisihan. Gereja adalah persekutuan rohani yang mempersatukan manusia dari berbagai bangsa, bahasa, dan latar belakang ke dalam kebebasan yang didasarkan pada kasih.
Jika prinsip kasih ini kita terapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, niscaya semangat gotong royong, kepedulian terhadap sesama, dan penghormatan terhadap martabat manusia akan menjadi fondasi yang tidak tergoyahkan bagi kemajuan bangsa Indonesia.
Sambil kita berjuang membangun Republik Indonesia agar semakin maju, adil, damai, dan bermartabat, kita tetap menyadari bahwa kehidupan dan kemegahan di bumi ini bersifat fana. Kita memiliki pengharapan akan kewarganegaraan surgawi dan “kota yang akan datang”.
Kiranya perjuangan kita dalam menghidupi kemerdekaan hari ini senantiasa diarahkan untuk memuliakan nama-Nya. Semoga Allah Yang Maha Pengasih senantiasa melindungi, memberkati, dan menuntun bangsa Indonesia menuju kedamaian, keadilan, persatuan, dan kesejahteraan yang sejati.
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.
Merdeka dalam kasih, melayani dalam iman, dan berkarya bagi sesama. | 1 |
| 18 | REFLEKSI KEMERDEKAAN RI KE-81
Pada peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81 ini, kita diajak untuk menaikkan ucapan syukur yang mendalam atas anugerah kebebasan dan kedamaian yang telah dilimpahkan kepada bangsa kita. Dalam setiap peribadatan, Gereja senantiasa menaikkan doa secara khusus bagi negara, para pemimpin pemerintahan, serta angkatan bersenjata, memohon agar Tuhan mengaruniakan masa-masa yang aman sehingga dalam ketenteraman tersebut, kita dapat menjalani kehidupan yang tenang dan damai dalam segala kesalehan dan kekudusan.
Kedamaian dan kebebasan suatu bangsa adalah berkat yang berharga, yang memungkinkan setiap warganya untuk bertumbuh, berkarya, serta mewujudkan kebaikan bagi sesama.
Namun, kacamata iman Kristen mengajak kita untuk merenungkan makna kemerdekaan hingga pada tataran yang jauh lebih esensial. Kemerdekaan sejati bukanlah sekadar kebebasan dari penjajahan fisik atau sekadar kemandirian individualistis yang egois, melainkan sebuah harmoni yang utuh dengan Allah, sesama manusia, dan seluruh ciptaan.
Di dunia sekuler saat ini, kebebasan sering kali disalahartikan sebagai otonomi mutlak untuk melakukan apa saja. Kebebasan yang demikian pada akhirnya justru dapat mengarah pada keterasingan, individualisme, dan hancurnya tanggung jawab sosial. Sebaliknya, Kekristenan mengajarkan bahwa kebebasan sejati pada hakikatnya tidak dapat dipisahkan dari kasih. Kebebasan sejati adalah ketika manusia keluar dari penjara dirinya sendiri dan bersatu dalam kasih persaudaraan (sobornost), ketika kita melihat setiap saudara sebagai “diri kita yang lain” dan melihat Kristus di dalam diri mereka.
Gereja mengingatkan bahwa penjajahan yang paling mengerikan bagi umat manusia bukanlah penindasan politik semata, melainkan perbudakan oleh dosa, kerusakan, dan maut. Kristus berinkarnasi, menyerahkan tubuh-Nya untuk disalibkan, dan turun ke alam maut (Hades) justru untuk menghancurkan gerbang kematian, menaklukkan tirani iblis, dan memberikan kemerdekaan yang kekal bagi seluruh umat manusia.
Melalui kebangkitan-Nya, manusia dibebaskan dari belenggu dosa dan diberikan kekuatan rahmat untuk meraih tujuan tertinggi hidupnya, yaitu Theosis—pendewasaan dan penyatuan dengan Allah, di mana manusia dipanggil untuk mengambil bagian dalam kehidupan dan kodrat ilahi.
Sebagai warga negara Indonesia sekaligus warga Kerajaan Surga, kita tidak dipanggil untuk mengasingkan diri dari dunia, melainkan untuk mengubah dan meneranginya dari dalam. Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81 menjadi momentum bagi kita untuk mengisi ruang kebebasan ini dengan karya nyata.
Tradisi Kristen menegaskan bahwa apa pun profesi kita, baik sebagai pemimpin pemerintahan, prajurit militer, petani, ilmuwan, pekerja seni, maupun berbagai profesi lainnya, semua itu bukanlah rintangan bagi pertumbuhan spiritual. Sebaliknya, setiap pekerjaan dapat menjadi wadah bagi kita untuk berpartisipasi dalam menghadirkan kebaikan dan mengubah kondisi masyarakat ke arah yang lebih baik.
Segala dimensi kehidupan manusia, baik pekerjaan, kehidupan sosial, maupun tata kelola negara, dapat dan harus diarahkan kepada Kristus. Iman tidak hanya hidup di dalam ruang ibadah, tetapi juga diwujudkan melalui cara kita bekerja, memperlakukan sesama, menjaga keadilan, menjalankan tanggung jawab, serta membangun kehidupan bersama.
Di tengah bangsa yang besar ini, kita dipanggil untuk menjalankan peran sebagai “imam bagi ciptaan” (priests of creation). Ini berarti kita mengelola, merawat, dan memajukan kekayaan alam Indonesia serta segala hasil karya dan ilmu pengetahuan yang dipercayakan kepada kita, lalu mempersembahkannya kembali kepada Allah Sang Pencipta dengan penuh ucapan syukur.
Semangat untuk mewujudkan keadilan sosial, perdamaian, dan kesejahteraan di tanah air sesungguhnya merupakan cerminan dari kerinduan jiwa manusia untuk menghadirkan kehidupan yang memantulkan tatanan kasih Allah Tritunggal Mahakudus. | 1 |
| 19 | Pada titik tertentu, doa bukan lagi tentang “Tuhan, berikan aku apa yang kuinginkan,” tetapi “Tuhan, jangan biarkan aku mendapatkan sesuatu yang akan menjauhkan aku dari-Mu.”
#REMINDER | 130 |
| 20 | Ada musim ketika Tuhan tidak memberimu bunga. Ia memberimu akar. Karena bunga hanya indah ketika dilihat, tetapi akar membuatmu tetap hidup ketika tidak ada seorang pun yang melihat.
#REMINDER | 132 |
