535
Subscribers
No data24 hours
-37 days
-330 days
Posts Archive
535
📖 TERJEMAH KITAB (9)
.................................................
Judul Asli: أخطاء بعض المسلمين في توحيد الله رب العالمين
Edisi Terjemah: Kesalahan Sebagian Muslim dalam Tauhid
Penulis: Fadhilatus Syaikh Dr. Abdul Aziz Ar-Royyis hafizhahullahu
................................................
Kesalahan Kesembilan: Berlebih-lebihan Terhadap Kuburan
Saya pernah pergi ke beberapa negara dan melihat sesuatu yang mengherankan. Kamu akan sangat kesulitan untuk menemukan Masjid yang tidak ada kuburan di dalamnya!
Sesungguhnya memasukkan kuburan ke dalam Masjid adalah sikap berlebih-lebihan yang diharomkan dalam agama Alloh. Ini adalah bagian dari sikap berlebih-lebihan terhadap kuburan.
Al-Bukhori dan Muslim meriwayatkan dari hadits Ibnu ‘Abbas dan ‘Aisyah bahwa Nabi ﷺ bersabda:
«لَعنَةُ اللَّهِ عَلَى اليَهُودِ وَالنَّصَارَى؛ اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنبِيَائِهِم مَسَاجِدَ»
“Laknat Alloh atas orang-orang Yahudi dan Nashoro; mereka menjadikan kuburan para Nabi mereka sebagai Masjid.” (HR. Al-Bukhori dan Muslim)
Juga di antara bentuk berlebih-lebihan terhadap kuburan adalah membangun di atasnya dan mengapurinya. Muslim meriwayatkan dari hadits Jabir bahwa Nabi ﷺ melarang kuburan dikapuri, dibangun di atasnya, dan diduduki.
Betapa banyak kaum Muslimin yang membangun kubah-kubah di atas kuburan!
Lihatlah di sekitar negara-negara sekitarmu, kamu akan menemukan hal yang mengherankan dari perkara ini.
Bersambung insyaaAllah...
•••┈••••○❁🌻❁○••••┈•••
Semoga bermanfaat...
Barakallahu fiikum
♻️ Raihlah pahala dan kebaikan dengan membagikan postingan yang bermanfaat ini, melalui jejaring sosial yang Anda miliki.
Silahkan dishare tanpa perlu izin, semoga Allahﷻ catat sebagai amal jariyah.
https://t.me/catatanilmoe
535
#BerbagiHadits
#MenebarManfaat
#HaditsShahih
Kitab Riyadush Shalihin karya Imam Muhyiddin Yahya bin Syaraf An-Nawawi Rahimakumullah
Kitab Tazkiyat An-Nafs
Bab 57 : Larangan Meminta Jabatan.
•••┈••••○❁🌻❁○••••┈•••
Hadits 677
•••┈••••○❁🌻❁○••••┈•••
عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «إنكم سَتَحْرِصُونَ على الإِمَارَة، وستكون نَدَامَةً يوم القيامة، فَنِعْمَ المُرْضِعَةُ وَبِئْسَتِ الفَاطِمَةُ»
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, bahwa beliau bersabda, "Sesungguhnya kalian akan berambisi untuk mendapatkan kekuasaan, padahal kekuasaan itu akan menjadi penyesalan pada hari Kiamat. Kekuasaan itu enak di awalnya (dunia) seperti bayi yang diberi asi ibunya, namun tidak bagus di akhirnya (akhirat) seperti bayi yang disapih."
(HR. Bukhari 7148) (Riyadh Ash Shalihin 677)
Intisari hadits :
1. Larangan berambisi untuk mendapatkan kekuasaan, terutama bagi yang tidak mempunyai kelayakan.
2. Beratnya tanggung jawab kekuasaan.
3. Kekuasaan yang dijalankan dengan zhalim akan menjadi penyesalan dan kehinaan bagi pemiliknya. Sedangkan kekuasaan yang dijalankan dengan adil akan menjadi keistimewaan dan kehormatan bagi pemiliknya.
Bersambung insyaaAllah...
•••┈••••○❁🌻❁○••••┈•••
Semoga bermanfaat...
Barakallahu fiikum
♻️ Raihlah pahala dan kebaikan dengan membagikan postingan yang bermanfaat ini, melalui jejaring sosial yang Anda miliki.
Silahkan dishare tanpa perlu izin, semoga Allahﷻ catat sebagai amal jariyah.
https://t.me/catatanilmoe
535
📖 TERJEMAH KITAB (8)
.................................................
Judul Asli: أخطاء بعض المسلمين في توحيد الله رب العالمين
Edisi Terjemah: Kesalahan Sebagian Muslim dalam Tauhid
Penulis: Fadhilatus Syaikh Dr. Abdul Aziz Ar-Royyis hafizhahullahu
................................................
Kesalahan Kedelapan: Lemahnya Tawakkal di Hati Kita
Betapa lemahnya akidah tawakkal di hati kita!
Banyak dari kita yang hatinya bergantung pada sebab-sebab duniawi, melupakan Robb yang menciptakan sebab-sebab itu.
Maka, bersungguh-sungguhlah kita menguatkan tawakkal kepada Robb kita `Azza wa Jalla.
﴿وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ﴾
“Hanya kepada Alloh-lah kalian bertawakkal, jika kalian benar-benar orang yang beriman.” (QS. Al-Maidah: 23)
Dia berfirman:
﴿وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ﴾
“Siapa yang bertawakkal kepada Alloh, niscaya Dia akan mencukupkan (keperluan)-nya.” (QS. Ath-Tholaq: 3)
Namun, janganlah kamu memahami bahwa tawakkal itu berarti tawakkul, yaitu meninggalkan sebab-sebab. Akan tetapi, jadilah pertengahan, lakukanlah sebab-sebab yang dibolehkan syari’at, dan biarkan hatimu bergantung kepada Robb yang menciptakan sebab-seebab.
Adapun orang yang meninggalkan sebab-sebab, Ibnu Taimiyah (728 H) menjelaskan hal ini dengan perkataannya: “Ketergantungan kepada sebab-sebab adalah syirik dalam tauhid, dan menghilangkan sebab-sebab dari keberadaannya sebagai sebab adalah kekurangan dalam akal, dan berpaling dari sebab-sebab yang diperintahkan adalah celaan dalam syari’at. Maka, seorang hamba harus menjadikan hatinya bergantung kepada Alloh, bukan kepada sebab apa pun. Alloh akan mudahkan baginya sebab-sebab yang memperbaiki dirinya di dunia dan Akhirat.” (Majmu’ Al-Fatawa, 8/528)
Betapa banyak orang, baik pelajar, orang tua, maupun lainnya, yang berkata: “Kami tidak punya pekerjaan, apakah saya akan mendapatkan pekerjaan jika sudah lulus atau tidak?”
Hatinya bergantung pada pekerjaan-pekerjaan itu, melupakan Robbnya. Lakukanlah sebab-sebab yang syar’i, dan bertawakkallah kepada Robbmu. Setelah itu, apa yang Alloh takdirkan adalah kebaikan bagimu dengan taufiq (pertolongan) Alloh `Azza wa Jalla. Jika itu adalah bahaya bagimu, maka kamu bersabar sehingga mendapatkan pahala. Jika itu adalah kebaikan bagimu, maka kamu bersyukur kepada Alloh sehingga mendapatkan pahala.
Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Muslim dari hadits Abu Yahya Shuhaib Ar-Rumi, beliau bersabda:
«عَجَبًا لِأَمرِ المُؤمِنِ؛ إِنَّ أَمرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيرٌ، إِن أَصَابَتهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيرًا لَهُ، وَإِن أَصَابَتهُ سَرَّاءُ شَكَرَ؛ فَكَانَ خَيرًا لَهُ»
“Sungguh mengherankan perkara orang Mukmin. Sesungguhnya seluruh perkaranya adalah kebaikan baginya. Jika dia ditimpa kesusahan, dia bersabar, maka itu baik baginya. Jika dia ditimpa kesenangan, dia bersyukur, maka itu baik baginya.” (HR. Muslim)
Bersambung insyaaAllah...
•••┈••••○❁🌻❁○••••┈•••
Semoga bermanfaat...
Barakallahu fiikum
♻️ Raihlah pahala dan kebaikan dengan membagikan postingan yang bermanfaat ini, melalui jejaring sosial yang Anda miliki.
Silahkan dishare tanpa perlu izin, semoga Allahﷻ catat sebagai amal jariyah.
https://t.me/catatanilmoe
535
📖 TERJEMAH KITAB (7)
.................................................
Judul Asli: أخطاء بعض المسلمين في توحيد الله رب العالمين
Edisi Terjemah: Kesalahan Sebagian Muslim dalam Tauhid
Penulis: Fadhilatus Syaikh Dr. Abdul Aziz Ar-Royyis hafizhahullahu
................................................
Kesalahan Ketujuh: Riya’ (Pamer Amal)
Tahukah kamu apa itu riya’? Riya’ adalah beribadah kepada Alloh karena orang lain. Orang yang Sholat karena orang lain, orang yang berdzikir karena orang lain, orang yang mengajar karena orang lain, orang yang bersedekah karena orang lain.
Riya’ ini berbahaya dan banyak tersebar. Buktinya adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Al-Baihaqi dari Mahmud bin Labid bahwa Nabi ﷺ bersabda kepada para Shohabatnya—dan mereka adalah Shohabatnya:
«أَخوَفُ مَا أَخَافُ عَلَيكُمُ الشِّركَ الأَصغَرَ»، فَلَمَّا سُئِلَ عَنهُ، قَالَ: «الرِّيَاءُ»
“Sesungguhnya hal yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik ashghor (kecil).” Ketika ditanya tentangnya, beliau menjawab: “Riya’.” (HR. Ahmad dan Al-Baihaqi)
Muslim meriwayatkan dari hadits Abu Huroiroh dalam hadits qudsi, Alloh Ta’ala berfirman:
«أَنَا أَغنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّركِ، مَن عَمِلَ عَمَلًا أَشرَكَ مَعِي فِيهِ غَيرِي، تَرَكتُهُ وَشِركَهُ»
“Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Siapa yang beramal suatu amalan lalu dia menyekutukan Aku dengan selain-Ku di dalamnya, maka Aku akan meninggalkannya dan sekutunya.” (HR. Muslim)
Jadi, masalah ini berbahaya, wahai saudara-saudara. Bahkan syirik ashghor seperti riya’ lebih besar dari dosa-dosa besar. Lebih besar dosanya dari zina dan dosa-dosa lainnya, dan ini banyak tersebar.
Aku memohon kepada Alloh dengan karunia, keutamaan, kemurahan, dan kemuliaan-Nya agar Dia melindungiku dan kalian darinya, serta menjaga kita dari dosa besar ini dan dosa-dosa lainnya dengan karunia dan keutamaan-Nya.
Riya’ ini merusak amal, menghapus pahalanya, dan menyiksa pelakunya.
Saya ingatkan bahwa banyak orang yang gemar menunjukkan amal sholihnya di hadapan orang lain untuk memotivasi mereka. Ini benar dan merupakan hal yang baik, akan tetapi jangan terlalu sering melakukannya. Agar syaiton tidak menipumu sehingga kamu jatuh ke dalam riya’. Karena orang pertama yang dinyalakan api Neraka untuk mereka ada tiga orang—sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim dari hadits Abu Huroiroh: seorang alim yang membaca Kitab Alloh, seorang mujahid, dan seorang yang bersedekah. Maka berhati-hatilah.
Aku memohon kepada Alloh agar melindungi aku dan kalian dari dosa besar ini.
Bersambung insyaaAllah...
•••┈••••○❁🌻❁○••••┈•••
Semoga bermanfaat...
Barakallahu fiikum
♻️ Raihlah pahala dan kebaikan dengan membagikan postingan yang bermanfaat ini, melalui jejaring sosial yang Anda miliki.
Silahkan dishare tanpa perlu izin, semoga Allahﷻ catat sebagai amal jariyah.
https://t.me/catatanilmoe
535
Bukti yang paling jelas untuk hal itu adalah petunjuk praktis Rosululloh ﷺ. Di Makkah, jihad tidak disyari’atkan karena kelemahan Rosululloh ﷺ dan para Shohabatnya. Berbeda dengan ketika beliau pindah ke Madinah. Jihad tholab disyari’atkan ketika kaum Muslimin telah kuat, sebagaimana firman Alloh Ta’ala:
﴿قَاتِلُوا الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَلَا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ، وَلَا يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَن يَدٍ وَهُمْ صَغِرُونَ﴾
“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Alloh dan hari Akhirat, dan mereka tidak mengharomkan apa yang diharomkan Alloh dan Rosul-Nya, dan tidak beragama dengan agama yang benar, yaitu dari orang-orang yang diberi Kitab, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.” (QS. At-Taubah: 29)
Aku memohon kepada Alloh kemuliaan bagi Islam dan kaum Muslimin, dan ditinggikannya bendera tauhid dan sunnah.
Sedangkan ilmu-Nya, ada di setiap tempat.
Bersambung insyaaAllah...
•••┈••••○❁🌻❁○••••┈•••
Semoga bermanfaat...
Barakallahu fiikum
♻️ Raihlah pahala dan kebaikan dengan membagikan postingan yang bermanfaat ini, melalui jejaring sosial yang Anda miliki.
Silahkan dishare tanpa perlu izin, semoga Allahﷻ catat sebagai amal jariyah.
https://t.me/catatanilmoe
535
“Janganlah kalian mendahului orang Yahudi dan Nashoro dalam mengucapkan salam. jika kalian bertemu salah seorang dari mereka di jalan, maka desaklah dia ke jalan yang paling sempit.” (HR. Muslim)
Maka, bersungguh-sungguhlah kita menegakkan akidah yang penuh berkah ini tanpa berlebih-lebihan dan tanpa kelalaian. Kita ingat firman Alloh `Azza wa Jalla:
﴿قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ﴾
“Sungguh telah ada bagi kalian teladan yang baik pada ‘Ibrohim dan orang-orang yang bersamanya.” (QS. Al-Mumtahanah: 4).
Ketahuilah bahwa Nabi ‘Ibrohim ﷺ berbicara kepada bapaknya dan kaumnya:
﴿إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَءَاءُ مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ﴾
“Ketika mereka berkata kepada kaumnya: ‘Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Alloh. Kami ingkari (kekafiran) kalian, dan telah tampak antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya sampai kalian beriman kepada Alloh saja’.” (QS. Al-Mumtahanah: 4)
Lihatlah bagaimana Nabi ‘Ibrohim ﷺ menegakkan akidah yang penuh berkah ini, dan Alloh telah menjadikan beliau sebagai teladan yang baik bagi kita.
Sangat menyakitkan dan disayangkan, salah satu orang yang terfitnah di sebuah stasiun televisi berkata: “Saya tidak mengkafirkan orang-orang Nashoro, Yahudi, Budha, dan lainnya.”
Ini adalah penyimpangan dan keluar dari agama. Karena siapa yang tidak mengkafirkan orang yang Alloh dan Rosul-Nya kafirkan, seperti orang Yahudi dan Nashoro, maka dia adalah kafir menurut ijma’ kaum Muslimin.
Syaikhul Islam Abu Al-‘Abbas Ibnu Taimiyah (728 H) berkata: “Siapa yang tidak mengharomkan beragama—setelah diutusnya Nabi ﷺ—dengan agama Yahudi dan Nashoro, bahkan siapa yang tidak mengkafirkan dan membenci mereka, maka dia bukanlah seorang Muslim menurut kesepakatan kaum Muslimin.” (Ro’su Al-Husain, 194)
Alloh Ta’ala berfirman:
﴿لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ﴾
“Sungguh telah kafir orang-orang yang mengatakan: ‘Sesungguhnya Alloh adalah salah satu dari yang tiga’.” (QS. Al-Ma’idah: 73)
Dia berfirman:
﴿لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ﴾
“Orang-orang kafir dari kalangan Ahli Kitab.” (QS. Al-Bayyinah: 1)
Maksudnya: Yahudi, Nashoro, dan orang-orang musyrik.
Alloh mengkafirkan mereka, sedangkan orang ini mendustakan firman Alloh dan tidak mengkafirkan mereka. Maka, perbuatan dan perkataannya adalah penyimpangan dan keluar dari agama.
Dengan ini, kamu akan mengerti kesalahan dari apa yang sebagian orang serukan, yaitu tentang mendekatkan agama-agama, dan penyatuan agama-agama.
Karena agama Islam itu mulia, tidak ridho untuk mendekati siapapun, dan tidak ridho untuk bersama siapapun. Akan tetapi, dia adalah agama yang benar pada dirinya sendiri, yang menganggap setiap agama selainnya adalah kekufuran yang menyebabkan pelakunya kekal di dalam Neraka.
Muslim meriwayatkan dari Abu Huroiroh bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«وَالَّذِي نَفسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا يَسمَعُ بِي أَحَدٌ مِن هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نَصرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوتُ وَلَم يُؤمِنْ بِالَّذِي أُرسِلتُ بِهِ إِلَّا كَانَ مِن أَصحَابِ النَّارِ»
“Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, tidaklah seorang pun dari umat ini, Yahudi maupun Nashoro, mendengar tentang aku, lalu dia mati dan tidak beriman kepada apa yang aku diutus dengannya, kecuali dia termasuk penghuni Neraka.” (HR. Muslim)
Maka, bersungguh-sungguhlah kita dalam berbangga dengan akidah yang penuh berkah ini.
Saya ingatkan bahwa kita harus membedakan antara keadaan kuat dan keadaan lemah. Diperbolehkan dalam keadaan kuat sesuatu yang tidak boleh dalam keadaan lemah. Di antaranya adalah jihad tholab (menyerang musuh), itu adalah tuntutan syar’i dalam keadaan kuat, berbeda dengan keadaan lemah.
535
Keempat: Mereka menyebabkan lemahnya akidah al-wala’ wal baro’. Karena ketika orang-orang melihat orang-orang yang berlebih-lebihan dalam akidah al-wala’ wal baro’, mereka akan mengalami reaksi yang berlebihan dan mengurangi pembicaraan tentangnya, agar sikap berlebih-lebihan tidak menyebar di antara masyarakat.
Perlu diketahui bahwa ada sebagian orang yang lalai dalam menegakkan akidah ini.
Di antara bentuk kelalaian mereka adalah menyerupai orang-orang kafir.
Abu Dawud meriwayatkan dari Ibnu ‘Umar bahwa Nabi ﷺ bersabda:
«مَن تَشَبَّهَ بِقَومٍ فَهُوَ مِنهُم»
“Siapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk dari mereka.” (HSR. Abu Dawud)
Di antara konsekuensi dari akidah yang penuh berkah ini adalah haromnya menyerupai orang-orang kafir. Sebaliknya, seorang Muslim harus bangga dengan bahasanya dan penampilannya yang lahiriah, serta berbeda dengan orang-orang kafir dalam hal-hal yang menjadi ciri khas mereka. Adapun hal-hal yang tersebar dan umum di kalangan Muslim dan kafir, maka tidak boleh bagi siapapun untuk melarang kaum Muslimin melakukannya hanya karena orang-orang kafir juga melakukannya. Masalah ini memiliki rincian yang tidak cocok untuk pembahasan ringkas seperti ini.
Di antara bentuk kelalaian adalah anggapan sebagian orang bahwa permusuhan hanya berlaku bagi orang kafir harbi (yang memerangi). Adapun orang-orang kafir yang tidak memerangi, maka kita tidak membenci dan memusuhi mereka.
Ini adalah kesalahan yang bertentangan dengan Al-Qur’an. Karena Alloh berfirman:
﴿لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ، وَلَوْ كَانُوا ءَابَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُوْلَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُوْلَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِفُونَ﴾
“Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Alloh dan hari Akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Alloh dan Rosul-Nya, sekalipun orang-orang itu adalah bapak-bapaknya sendiri, anak-anaknya sendiri, saudara-saudaranya sendiri, atau keluarganya sendiri. Mereka itulah orang-orang yang Alloh telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan roh (pertolongan) dari-Nya. Alloh akan memasukkan mereka ke dalam Jannah-Jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Alloh ridho terhadap mereka dan mereka pun ridho terhadap-Nya. Mereka itulah golongan Alloh. Ketahuilah, sesungguhnya golongan Alloh itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Mujadilah: 22)
Kita diperintahkan untuk membenci orang-orang kafir meskipun mereka adalah bapak-bapak kita, anak-anak kita, saudara-saudara kita, dan kaum keluarga kita. Karena mereka adalah orang-orang kafir yang menentang Alloh dan Rosul-Nya, bukan karena mereka memerangi kita.
Ini tidak bertentangan dengan berbuat baik kepada orang yang tidak memerangi. Sebagaimana Alloh Ta’ala berfirman:
﴿لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ﴾
“Alloh tidak melarang kalian untuk berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang yang tidak memerangi kalian karena agama, dan tidak mengusir kalian dari kampung halaman kalian. Sesungguhnya Alloh mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al-Mumtahanah: 8)
Sebagaimana di dalam hati bisa berkumpul rasa cinta terhadap obat yang rasanya pahit karena manfaatnya, sekaligus membenci rasanya.
Di antara bentuk kelalaian kaum Muslimin dalam akidah yang penuh berkah ini adalah mendahului orang-orang kafir dalam mengucapkan salam.
Muslim meriwayatkan dari hadits Abu Huroiroh bahwa Nabi ﷺ bersabda:
«لَا تَبدَءُوا اليَهُودَ وَلَا النَّصَارَى بِالسَّلَامِ، فَإِذَا لَقِيتُم أَحَدَهُم فِي طَرِيقٍ فَاضطَرُّوهُ إِلَى أَضيَقِهِ»
535
📖 TERJEMAH KITAB (6)
.................................................
Judul Asli: أخطاء بعض المسلمين في توحيد الله رب العالمين
Edisi Terjemah: Kesalahan Sebagian Muslim dalam Tauhid
Penulis: Fadhilatus Syaikh Dr. Abdul Aziz Ar-Royyis hafizhahullahu
.................................................
Kesalahan Keenam: Lemahnya Akidah Al-Wala’ wal Baro’
Ringkasan akidah ini adalah: mencintai orang-orang yang beriman sesuai kadar keimanan mereka, membenci orang-orang kafir secara mutlak, dan membenci ahli bid’ah secara mutlak sesuai kadar bid’ah mereka, dan adapun ahli maksiat dibenci sesuai kadar maksiat mereka. Inilah akidah al-wala’ wal baro’, dan kedudukannya dalam syari’at sangat agung.
Abu Al-Wafa’ Ibnu ‘Aqil (513 H) berkata: “Jika kamu ingin mengetahui kedudukan Islam dari penduduk zaman, maka janganlah kamu melihat ramainya mereka di pintu-pintu Masjid, dan jangan pula melihat hiruk pikuk mereka dengan ucapan: ‘Labbaik (talbiyyah).’ Akan tetapi, lihatlah kesesuaian mereka terhadap musuh-musuh syari’at.” (Ad-Duror As-Saniyyah, 8/300)
Dengan ini, Ibnu ‘Aqil memberikan timbangan kepada kita tentang kekuatan Islam. Bukan dengan banyaknya orang yang Haji dan Umroh, bukan pula dengan ramainya orang-orang di pintu-pintu Masjid, akan tetapi timbangannya adalah bagaimana keadaan hati dan amalan mereka terhadap orang-orang kafir. Apakah mereka membenci orang-orang kafir karena kekafiran mereka, dan membenci ahli bid’ah karena bid’ah mereka?
Jika demikian, maka ketahuilah bahwa Islam itu kuat. Namun, jika sebaliknya, maka ketahuilah bahwa ada kelemahan dalam Islam.
Akidah al-wala’ wal baro’ adalah akidah yang seimbang dan kokoh. Sebagian kelompok bersikap berlebih-lebihan dalam akidah ini dan menjadikan beberapa hal sebagai bagian dari akidah baro’ (berlepas diri) dari orang-orang kafir, padahal tidak demikian.
Di antaranya adalah anggapan sebagian orang bahwa salah satu bentuk penegakan akidah ini adalah membunuh orang-orang yang mengadakan perjanjian damai dan orang-orang yang dilindungi (musta’man).
Imam Muhammad bin Abdul Wahhab (1206 H) berkata: “Di antaranya adalah keberanian terhadap perjanjian damai kaum Muslimin. Apabila salah seorang Muslim, baik amir atau selainnya, memberikan jaminan aman kepada salah seorang kafir, maka tidak halal bagi seorang Muslim pun untuk melanggarnya, baik terhadap darahnya maupun hartanya.”
Sebagaimana disebutkan dalam hadits:
«ذِمَّةُ المُسلِمِينَ وَاحِدَةٌ، يَسعَى بِهَا أَدنَاهُم، فَمَن أَخفَرَ مُسلِمًا فَعَلَيهِ لَعنَةُ اللَّهِ وَالمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجمَعِينَ، لَا يَقبَلُ اللَّهُ مِنهُ يَومَ القِيَامَةِ صَرفًا وَلَا عَدلًا»
“Jaminan aman kaum Muslimin itu satu, diberikan oleh orang yang paling rendah kedudukannya di antara mereka. Siapa melanggar jaminan aman seorang Muslim, maka baginya laknat Alloh, Malaikat, dan seluruh manusia. Alloh tidak akan menerima darinya pada hari Kiamat shorf (tebusan) dan ‘adl (amal wajib).” (HR. Ibnu Majah)
Sungguh mengherankan, sebagian orang jahil melakukan ini dengan alasan agama dan mengira itu adalah bentuk memusuhi orang-orang kafir. (Ad-Duror As-Saniyyah fi Al-Ajwibah An-Najdiyah, 14/10)
Sesungguhnya membunuh orang-orang kafir yang mengadakan perjanjian damai adalah sangat diharomkan dalam agama Muhammad ﷺ.
Al-Bukhori meriwayatkan dari hadits Abdullah bin ‘Amr bin Al-’Ash bahwa beliau berkata:
«مَن قَتَلَ مُعَاهَدًا لَم يَرحْ رَائِحَةَ الجَنَّةِ، وَإِنَّ رِيحَهَا تُوجَدُ مِن مَسِيرَةِ أَربَعِينَ عَامًا»
“Siapa membunuh orang kafir yang memiliki perjanjian damai, dia tidak akan mencium bau Jannah. Padahal baunya bisa tercium dari jarak 40 tahun perjalanan.” (HR. Al-Bukhori)
Orang-orang yang berlebih-lebihan dalam akidah al-wala’ wal baro’ ini telah terjerumus dalam beberapa kesalahan.
Pertama: Mereka meyakini sesuatu yang bertentangan dengan agama Alloh.
Kedua: Mereka terjerumus dalam sikap berlebih-lebihan, dan sikap berlebih-lebihan itu diharomkan dalam agama.
Ketiga: Mereka menyebabkan orang-orang kafir berkuasa atas kaum Muslimin.
535
Abdullah putra Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanadnya dari ‘Abbad bin Al-’Awam Al-Wasithy (185 H), imam penduduk Wasith dari generasi guru-guru Asy-Syafi’i dan Ahmad, bahwa dia berkata:
«فَرَأَيتُ آخِرَ كَلَامِهِم يَنتَهِي أَن يَقُولُوا: لَيسَ فِي السَّمَاءِ شَيءٌ»
“Aku berbicara dengan Bisyr Al-Mirisy (218 H) dan teman-teman Bisyr. Aku melihat bahwa akhir dari perkataan mereka adalah mengatakan: ‘Tidak ada sesuatu pun di langit.’”
Dari Abdur Rohman bin Mahdi (198 H), imam yang terkenal, dia berkata:
«لَيسَ فِي أَصحَابِ الأَهوَاءِ شَرٌّ مِن أَصحَابِ جَهمٍ، يَدُورُونَ عَلَى أَن يَقُولُوا: لَيسَ فِي السَّمَاءِ شَيءٌ، أَرَى وَاللَّهِ أَلَّا يُنَاكِحُوا وَلَا يُوَارَثُوا»
“Tidak ada di antara penganut hawa nafsu yang lebih buruk dari pengikut Jahm. Mereka berkeliling untuk mengatakan: ‘Tidak ada sesuatu pun di langit.’ Demi Alloh, aku berpendapat agar mereka tidak dinikahi dan tidak diwarisi.” (HR. Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunnah)
Adapun fitroh (naluri): Kamu melihat kita, jika ingin berdoa, kita mengangkat tangan kita ke langit. Demi Alloh, beritahu aku: Apa yang membuat kita mengangkat tangan kita ke langit kecuali fitroh yang Alloh ciptakan pada diri kita?!
Adapun akal, jika kamu ditanya: “Mana tempat yang lebih baik, atas atau bawah?”
Tidak diragukan lagi, akal menunjukkan bahwa tempat yang tinggi lebih baik dari tempat yang rendah. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Ahmad dalam bantahannya terhadap orang-orang zindiq, dan Imam Ibnu Taimiyah (728 H) dalam Bayan Talbis Al-Jahmiyyah, serta Imam Ibnul Qoyyim (751 H) dalam kitabnya Ash-Showaiq Al-Mursalah.
Maka, bersungguh-sungguhlah kita meyakini dengan yakin dan mantap bahwa Alloh ada di atas langit. Namun, ilmu-Nya ada di setiap tempat, Dia mengetahui kita dan segala yang terjadi.
Dia Subhanahu ada di atas, bersemayam di atas ‘Arsy-Nya. Sedangkan ilmu-Nya, yang merupakan sifat-Nya, meliputi segala sesuatu yang telah terjadi, yang sedang terjadi, yang akan terjadi, dan seandainya sesuatu itu terjadi, bagaimana terjadinya, sesungguhnya Dia mengetahuinya Subhanahu.
Maka, janganlah kamu mencampuradukkan antara dua hal ini. Jika kamu ditanya: “Di mana Alloh?” Maka jawablah dengan yakin: “Dia di langit, tinggi di atas ‘Arsy-Nya.” Sebagaimana Dia kabarkan dalam tujuh ayat, dan di antaranya adalah firman-Nya:
﴿الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى﴾
“Ar-Rohman tinggi di atas ‘Arsy.” (QS. Thoha: 5)
Sedangkan ilmu-Nya, ada di setiap tempat.
Bersambung insyaaAllah...
•••┈••••○❁🌻❁○••••┈•••
Semoga bermanfaat...
Barakallahu fiikum
♻️ Raihlah pahala dan kebaikan dengan membagikan postingan yang bermanfaat ini, melalui jejaring sosial yang Anda miliki.
Silahkan dishare tanpa perlu izin, semoga Allahﷻ catat sebagai amal jariyah.
https://t.me/catatanilmoe
535
TERJEMAHAN KITAB:
📖 TERJEMAH KITAB (5)
.................................................
Judul Asli: أخطاء بعض المسلمين في توحيد الله رب العالمين
Edisi Terjemah: Kesalahan Sebagian Muslim dalam Tauhid
Penulis: Fadhilatus Syaikh Dr. Abdul Aziz Ar-Royyis hafizhahullahu
.................................................
Kesalahan Kelima: Meyakini Bahwa Alloh Berada di Setiap Tempat
Jika kamu bertanya kepada seseorang: “Di mana Alloh?” Dia akan menjawab: “Di setiap tempat.”
Ini adalah kekufuran, kemurtadan, dan keluar dari agama. Karena ini mendustakan Kitab Alloh, sunnah Rosul-Nya, ijma’ (kesepakatan) para ulama, fitroh, dan akal.
Adapun Kitab Alloh, itu mutawatir (diriwayatkan secara luas) dalam menjelaskan bahwa Alloh ada di atas langit. Sebagaimana Alloh `Azza wa Jalla berfirman:
﴿الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى﴾
“Ar-Rohman di atas ‘Arsy.” (QS. Thoha: 5)
Juga firman-Nya:
﴿أَأَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاءِ أَن يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ﴾
“Apakah kalian merasa aman terhadap Dzat yang di atas langit bahwa Dia akan membenamkan kalian ke dalam bumi sehingga tiba-tiba bumi itu berguncang?” (QS. Al-Mulk: 16)
Adapun Sunnah Nabi, itu mutawatir dalam menjelaskan bahwa Alloh ada di atas langit. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Muslim dari hadits Mu’awiyah bin Al-Hakam As-Sulami bahwa Nabi ﷺ bertanya kepada seorang budak wanita:
«أَيْنَ اللَّهُ؟» قَالَت: فِي السَّمَاءِ، قَالَ: «مَن أَنَا؟» قَالَت: أَنتَ رَسُولُ اللَّهِ، قَالَ: «أَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤمِنَةٌ»
“Di mana Alloh?” Budak itu menjawab: “Di langit.” Beliau bertanya lagi: “Siapa aku?” Budak itu menjawab: “Engkau adalah Rosululloh.” Beliau bersabda: “Merdekakanlah dia, karena dia adalah Mukminah.” (HR. Muslim)
Ijma’ (kesepakatan) bahwa Alloh ada di atas langit telah diceritakan oleh banyak ulama. Di antaranya adalah Imam Abu Al-’Abbas Ibnu Taimiyah (728 H) dalam ‘Aqidah Al-Wasiithiyyah, di mana dia menjadikannya sebagai keyakinan para Salaf.
Beliau juga berkata dalam Al-Fatwa Al-Hamawiyah Al-Kubra, Abdullah bin Ahmad dan yang lainnya meriwayatkan dengan sanad yang shohih dari Ibnul Mubarok (181 H) bahwa dia ditanya: “Dengan apa kita mengenal Robb kita?” Dia menjawab:
«بِأَنَّهُ فَوقَ سَمَاوَاتِهِ عَلَى عَرشِهِ بَائِنٌ مِن خَلقِهِ، وَلَا نَقُولُ كَمَا تَقُولُ الجَهمِيَّةُ: إِنَّهُ هَاهُنَا فِي الأَرضِ»
“Dia di atas langit-Nya, di atas ‘Arsy-Nya, terpisah dari makhluk-Nya. Kita tidak mengatakan sebagaimana orang Jahmiyah mengatakan: ‘Dia ada di sini, di bumi.’”
Demikian pula yang dikatakan oleh Imam Ahmad dan yang lainnya.
Diriwayatkan dengan sanad yang shohih dari Sulaiman bin Harb (224 H), seorang imam, bahwa dia mendengar Hammad bin Zaid (179 H) menyebut orang-orang Jahmiyah. Lalu dia berkata: “Mereka hanyalah berusaha untuk mengatakan bahwa tidak ada sesuatu pun di langit.”
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dalam kitab Ar-Rodd ‘ala Al-Jahmiyah dari Sa’id bin ‘Amir Adh-Dhoba’i (208 H)—imam penduduk Bashroh dalam ilmu dan agama, salah satu guru Imam Ahmad—bahwa ketika disebutkan orang-orang Jahmiyah di sisinya, dia berkata: “Perkataan mereka lebih buruk dari orang-orang Yahudi dan Nashoro. Orang-orang Yahudi dan Nashoro serta para penganut agama lain bersepakat dengan kaum Muslimin bahwa Alloh ada di atas ‘Arsy, sedangkan mereka (orang-orang Jahmiyah) mengatakan: ‘Tidak ada di atas sesuatu apa pun.’”
Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah (311 H), imam para imam, berkata:
مَن لَم يَقُلْ: إِنَّ اللَّهَ فَوقَ سَمَوَاتِهِ عَلَى عَرشِهِ بَائِنٌ مِن خَلقِهِ، وَجَبَ أَن يُستَتَابَ، فَإِن تَابَ وَإِلَّا ضُرِبَت عُنُقُهُ، ثُمَّ أُلقِيَ عَلَى مَزبَلَةٍ؛ لِئَلَّا يَتَأَذَّى بِرِيحِهِ أَهلُ القِبلَةِ وَلَا أَهلُ الذِّمَّةِ
“Siapa yang tidak mengatakan bahwa Alloh berada di atas langit-Nya, di atas ‘Arsy-Nya, terpisah dari makhluk-Nya: wajib untuk diminta bertaubat. Jika dia bertaubat (maka baik), jika tidak, lehernya dipenggal, lalu dilemparkan ke tempat sampah. Agar penduduk kiblat dan ahli dzimmah tidak terganggu oleh baunya.”
Hal ini disebutkan oleh Al-Hakim dengan sanad yang shohih.
535
#BerbagiHadits
#MenebarManfaat
#HaditsShahih
Kitab Riyadush Shalihin karya Imam Muhyiddin Yahya bin Syaraf An-Nawawi Rahimakumullah
Kitab Tazkiyat An-Nafs
Bab 57 : Larangan Meminta Jabatan.
•••┈••••○❁🌻❁○••••┈•••
Hadits 676
•••┈••••○❁🌻❁○••••┈•••
عن أبي ذر رضي الله عنه قال: قُلتُ: يَا رسُولَ الله، أَلاَ تَسْتَعْمِلُنِي؟ فَضَرَبَ بِيَدِهِ عَلَى مَنْكِبِي، ثُمَّ قَالَ: «يَا أَبَا ذَرٍّ، إِنَّكَ ضَعِيفٌ، وَإِنَّهَا أَمَانَةٌ، وَإِنَّهَا يَوْمَ القِيَامَةِ خِزيٌ وَنَدَامَةٌ، إِلاَّ مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا، وَأَدَّى الَّذِي عَلَيهِ فِيهَا»
Dari Abu Żar -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, "Aku berkata, 'Wahai Rasulullah, mengapa engkau tidak memberiku kekuasaan (jabatan)?' Beliau memegang pundakku dengan tangannya lalu bersabda, 'Wahai Abu Żar, sesungguhnya engkau adalah orang yang lemah dan jabatan itu adalah amanah. Sesungguhnya jabatan itu pada hari kiamat menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mendapatkannya dengan jalan yang benar dan menunaikan tugas yang menjadi kewajibannya.'"
(HR. Muslim 1825) (Riyadh Ash Shalihin 676)
Intisari hadits :
1. Jabatan adalah amanah dan tanggung jawab yang besar. Karena itu, orang yang memegangnya harus menunaikan haknya dan tidak boleh mengkhianati janjinya kepada Allah.
2. Keutamaan orang yang memegang jabatan dengan benar.
3. Islam mengatur semua hal termasuk masalah kekuasaan.
Bersambung insyaaAllah...
•••┈••••○❁🌻❁○••••┈•••
Semoga bermanfaat...
Barakallahu fiikum
♻️ Raihlah pahala dan kebaikan dengan membagikan postingan yang bermanfaat ini, melalui jejaring sosial yang Anda miliki.
Silahkan dishare tanpa perlu izin, semoga Allahﷻ catat sebagai amal jariyah.
https://t.me/catatanilmoe
535
Atau dia menyebutkan hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan penyakit, seperti: ‘Kamu telah membunuh kucing pada tahun sekian,’ atau ‘di perutmu ada tahi lalat,’ atau ‘ambillah uang ini lalu lemparkan di tempat ini,’ atau ‘ambil ayam betina atau jantan lalu sembelihlah di tempat buang air besar,’ dan seterusnya.
Jika kamu melihatnya menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang tidak ada hubungannya dengan penyakit, maka lari dan selamatkanlah agamamu. Karena kamu sedang berada di hadapan tukang sihir dan penipu. Selamatkan agama karena ia paling berharga.
Saya memperingatkan kalian dari beberapa majalah yang memuat ramalan bintang, seperti bintang Taurus dan yang lainnya. Mereka mengatakan: ‘Jika kamu lahir di bintang anu, maka kamu beruntung,’ dan ‘jika kamu lahir di bintang anu, maka kamu celaka,’ dan seterusnya.
Ini termasuk perdukunan dan peramalan, dan itu diharomkan dalam agama Alloh. Siapa yang meyakini kebenaran mereka dan bahwa mereka mengetahui hal ghoib secara mandiri, maka dia telah terjerumus dalam syirik akbar (besar). Adapun orang yang melihatnya tanpa membenarkannya, Sholatnya tidak akan diterima selama 40 hari, dan ini termasuk kekafiran terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad ﷺ, dengan rincian dalam masalah ini.
Bersambung insyaaAllah...
•••┈••••○❁🌻❁○••••┈•••
Semoga bermanfaat...
Barakallahu fiikum
♻️ Raihlah pahala dan kebaikan dengan membagikan postingan yang bermanfaat ini, melalui jejaring sosial yang Anda miliki.
Silahkan dishare tanpa perlu izin, semoga Allahﷻ catat sebagai amal jariyah.
https://t.me/catatanilmoe
535
📖 TERJEMAH KITAB (4)
.................................................
Judul Asli: أخطاء بعض المسلمين في توحيد الله رب العالمين
Edisi Terjemah: Kesalahan Sebagian Muslim dalam Tauhid
Penulis: Fadhilatus Syaikh Dr. Abdul Aziz Ar-Royyis hafizhahullahu
.................................................
Kesalahan Keempat: Mendatangi Tukang Sihir, Dukun, dan Peramal
Terkadang sebagian Muslim diuji dengan penyakit pada dirinya, istri, anak, atau teman dekatnya. Lalu dia pergi ke dokter, mengetuk pintu-pintu mereka, dan meminta kesembuhan kepada Allah dengan melakukan sebab-sebab yang Alloh mudahkan. Hal ini tidaklah tercela.
Namun, yang tercela adalah sebagian dari mereka, jika tidak menemukan kesembuhan dan obat dari dokter, setelah itu mereka pergi ke tukang sihir, peramal, dan dukun. Mereka meminta kesembuhan kepada mereka dan meminta pertolongan kepada mereka dan jin-jin mereka agar menghilangkan bahaya yang menimpanya. Ini adalah hal yang berbahaya.
Alloh `Azza wa Jalla berfirman:
﴿وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَنُ وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ﴾
“Sulaiman tidaklah kafir, akan tetapi syaiton-syaitonlah yang kafir. Mereka mengajarkan sihir kepada manusia.” (QS. Al-Baqoroh: 102)
Kemudian di akhir ayat, Alloh berfirman:
﴿وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ﴾
“Sungguh mereka telah mengetahui bahwa siapa yang menukarnya (dengan iman), maka tidak ada baginya di Akhirat sedikit pun bagian.” (QS. Al-Baqoroh: 102)
Maksudnya, tidak ada baginya bagian sedikit pun di Akhirat.
Imam Ahmad meriwayatkan dari sebagian istri Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda:
«مَن أَتى عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ لَم تُقبَل لَهُ صَلاةٌ أَربَعِينَ يَومًا»
“Siapa mendatangi peramal lalu membenarkan apa yang dikatakannya, maka Sholatnya tidak akan diterima selama empat puluh hari.” (HR. Ahmad)
Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Huroiroh:
«فَقَد كَفَرَ بِمَا أُنزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ ﷺ»
“Sungguh dia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad ﷺ.” (HR. Ahmad)
Ini adalah masalah yang berbahaya. Seorang Muslim harus berhati-hati, dan tidak merusak agama serta Akhiratnya dengan harga yang murah. Kewajiban adalah bersabar, terus bersabar, dan berharap pahala dari Alloh. Hendaklah dia tahu bahwa apa yang menimpanya adalah takdir Alloh. Seandainya Alloh berkehendak, niscaya Dia akan menghilangkannya dengan firman-Nya: “Jadilah!” maka jadilah.
Maka, bersungguh-sungguhlah untuk kembali kepada Alloh dan bersabar. Sebagaimana firman Alloh Ta’ala:
﴿اصْبِرُوا وَصَابِرُوا﴾
“Bersabarlah dan kuatkanlah kesabaran kalian.” (QS. Ali ‘Imron: 200)
Juga firman Alloh Ta’ala:
﴿إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ﴾
“Hanyalah orang-orang yang bersabar yang disempurnakan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)
Juga sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al-Bukhori dan Muslim dari hadits Abu Sa’id, bahwa Nabi ﷺ bersabda:
«وَمَن يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ، وَمَا أُعطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيرًا وَأَوسَعَ مِنَ الصَّبرِ»
“Siapa yang berusaha bersabar, Alloh akan menjadikannya sabar. Tidaklah seseorang diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” (HR. Al-Bukhori dan Muslim)
Al-Bukhori meriwayatkan secara mu’allaq dari ‘Umar Rodhiyallahu ‘Anhu bahwa beliau berkata:
«وَجَدْنَا خَيْرَ عَيْشِنَا بِالصَّبْرِ»
“Kami menemukan sebaik-baik kehidupan kami adalah dengan kesabaran.” (HR. Al-Bukhori)
Waspadalah terhadap tukang sihir dan peramal yang muncul di hadapan manusia dengan nama “tabib (dokter) tradisional.” Saya tidak bermaksud bahwa semua tabib tradisional adalah tukang sihir, tidak. Akan tetapi, maksud saya adalah bahwa ada tukang sihir dan peramal yang muncul di hadapan manusia dengan nama pengobatan tradisional dan Arab.
Jika ada yang bertanya: “Bagaimana cara membedakan antara tabib yang jujur dan tukang sihir yang pendusta?”
Jawabannya: “Dengan melihat pertanyaan-pertanyaannya. Misalnya dia menanyakan hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan penyakit, seperti: ‘Siapa nama ibumu?’
535
Jadi, beliau tidak akan memberikan syafa’at kecuali setelah Alloh `Azza wa Jalla mengizinkannya. Lalu bagaimana bisa dikatakan bahwa beliau memiliki hak untuk mengampuni dosa? Ini sama sekali bukan merendahkan beliau, tidak demi Alloh. Akan tetapi, ini adalah bentuk ketaatan terhadap perintahnya dan perintah Alloh, serta menempatkan beliau pada kedudukannya.
Sebagaimana sabda beliau yang diriwayatkan oleh Al-Bukhori dari ‘Umar:
«لَا تُطرُونِي كَمَا أَطرَتِ النَّصَارَى ابنَ مَريَمَ؛ فَإِنَّمَا أَنَا عَبدُهُ، فَقُولُوا: عَبدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ»
“Janganlah kalian berlebih-lebihan memujiku, sebagaimana orang-orang Nashoro (Nasroni) berlebih-lebihan memuji ‘Isa bin Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah hamba-Nya, maka katakanlah: ‘Hamba Alloh dan Rosul-Nya.’” (HR. Al-Bukhori)
Beliau bersabda dalam hadits Ibnu Mas’ud dalam Ash-Shohihain:
«إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثلُكُم أَنسَى كَمَا تَنسَونَ»
“Sesungguhnya aku hanyalah manusia biasa seperti kalian, aku lupa sebagaimana kalian lupa.” (HR. Al-Bukhori dan Muslim)
Beliau adalah manusia biasa. Maka, siapa saja yang berkata bahwa beliau tidak mengetahui hal ghoib dan tidak boleh berkeyakinan bahwa beliau memiliki hak untuk mengampuni dosa, memasukkan manusia ke Jannah, dan seterusnya, sesungguhnya dia hanya mengatakan apa yang diperintahkan oleh Alloh dan Rosul-Nya.
Bersambung insyaaAllah...
•••┈••••○❁🌻❁○••••┈•••
Semoga bermanfaat...
Barakallahu fiikum
♻️ Raihlah pahala dan kebaikan dengan membagikan postingan yang bermanfaat ini, melalui jejaring sosial yang Anda miliki.
Silahkan dishare tanpa perlu izin, semoga Allahﷻ catat sebagai amal jariyah.
https://t.me/catatanilmoe
535
📖 TERJEMAH KITAB (3)
.................................................
Judul Asli: أخطاء بعض المسلمين في توحيد الله رب العالمين
Edisi Terjemah: Kesalahan Sebagian Muslim dalam Tauhid
Penulis: Fadhilatus Syaikh Dr. Abdul Aziz Ar-Royyis hafizhahullahu
.................................................
Kesalahan Ketiga: Berlebih-lebihan dalam Mengagungkan Orang-orang Sholih
Termasuk Nabi kita Muhammad ﷺ. Betapa banyak sikap berlebih-lebihan dalam mengagungkan orang-orang sholih di antara anak cucu Adam. Cukuplah bukti bahwa syirik pertama kali terjadi karena sikap berlebih-lebihan dalam mengagungkan orang-orang sholih, sebagaimana telah disebutkan dalam tafsir Ibnu ‘Abbas terhadap firman Alloh Ta’ala:
﴿وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا﴾
“Waddan, Suwa’an, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasron.” (QS. Nuh: 23)
Di antara bentuk berlebih-lebihan dalam mengagungkan Nabi kita Muhammad ﷺ adalah mengklaim bahwa beliau mengetahui hal yang ghoib. Betapa banyak kaum Muslimin, seperti kelompok shufiyah dan sejenisnya, yang mengklaim bahwa Rosul kita ﷺ mengetahui hal yang ghoib. Ini adalah pendustaan yang jelas terhadap Kitab Alloh dan sunnah Rosul-Nya ﷺ.
Alloh berfirman kepada Nabi-Nya:
﴿وَلَوْ كُنتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ﴾
“Seandainya aku mengetahui hal yang ghoib, niscaya aku akan memperbanyak kebaikan dan aku tidak akan ditimpa keburukan.” (QS. Al-A’rof: 188)
Penjelasan bahwa ilmu ghoib hanya milik-Nya adalah firman Alloh:
﴿وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ﴾
“Hanya di sisi-Nyalah kunci-kunci ghoib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia.” (QS. Al-An’am: 59)
Tidak ada yang mengetahui apa yang ada di langit dan bumi serta hal ghoib kecuali Alloh. Maka, siapa saja yang mengklaim bahwa Rosul kita Muhammad ﷺ mengetahui hal yang ghoib, sungguh dia telah menyamakan selain Alloh dengan Alloh dalam sesuatu yang merupakan kekhususan Alloh. Maka dia telah terjerumus dalam syirik akbar (besar) yang tidak akan diampuni.
Juga di antara bentuk berlebih-lebihan dalam mengagungkan orang-orang sholih, termasuk Nabi kita yang mulia Muhammad ﷺ, adalah mengklaim bahwa beliau memiliki hak untuk mengampuni dosa dan memasukkan manusia ke Jannah atau mengeluarkan mereka dari Neraka.
Ini adalah kesalahan besar. Karena syafa’at —termasuk syafa’at Rosul kita ﷺ— tidak akan terjadi kecuali setelah Alloh mengizinkan dan ridho terhadap orang yang akan diberi syafa’at. Sebagaimana firman Alloh Ta’ala:
﴿وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَى﴾
“Mereka tidak memberikan syafa’at melainkan kepada orang yang Alloh ridhoi.” (QS. Al-Anbiya’: 28)
Firman-Nya:
﴿مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ﴾
“Siapakah yang dapat memberikan syafa’at di sisi-Nya tanpa izin-Nya?” (QS. Al-Baqoroh: 255)
Al-Bukhori meriwayatkan dari Abu Huroiroh bahwa dia bertanya kepada Nabi ﷺ: “Siapakah orang yang paling berbahagia dengan syafa’atmu pada hari Kiamat?” Beliau menjawab:
«لَقَد ظَنَنتُ يَا أَبَا هُرَيرَةَ أَلَّا يَسأَلَنِي عَن هَذَا الحَدِيثِ أَحَدٌ أَوَّلَ مِنكَ لِمَا رَأَيتُ مِن حِرصِكَ عَلَى الحَدِيثِ، أَسعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَومَ القِيَامَةِ مَن قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ خَالِصًا مِن قَبلِ نَفسِهِ»
“Aku sudah menduga, wahai Abu Huroiroh, tidak ada seorang pun yang akan bertanya kepadaku tentang hadits ini sebelum kamu, karena aku melihat betapa kamu bersemangat dalam mencari hadits. Orang yang paling berbahagia dengan syafa’atku pada hari Kiamat adalah orang yang mengucapkan ‘laa ilaha illalloh’ dengan ikhlas dari lubuk hatinya.” (HR. Al-Bukhori)
Disebutkan dalam Ash-Shohihain dari Abu Huroiroh, dari Nabi ﷺ:
«فَيَأتُونِي فَأَسجُدُ تَحتَ العَرشِ فَيُقَالُ: يَا مُحَمَّدُ ارفَعْ رَأسَكَ، وَاشفَعْ تُشَفَّعْ، وَسَل تُعْطَهْ»
“Maka mereka mendatangiku, lalu aku sujud di bawah ‘Arsy, lalu dikatakan: ‘Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu, berikanlah syafa’at niscaya engkau akan diberi syafa’at, dan mintalah niscaya engkau akan diberi.’” (HR. Al-Bukhori dan Muslim)
535
#BerbagiHadits
#MenebarManfaat
#HaditsShahih
Kitab Riyadush Shalihin karya Imam Muhyiddin Yahya bin Syaraf An-Nawawi Rahimakumullah
Kitab Tazkiyat An-Nafs
Bab 57 : Larangan Meminta Jabatan.
•••┈••••○❁🌻❁○••••┈•••
Hadits 674
•••┈••••○❁🌻❁○••••┈•••
عن عَبْد الرَّحْمَنِ بْن سَمُرَةَ رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال له: «يا عبد الرحمن بن سَمُرَة، لا تَسْأَلِ الإِمَارَةَ؛ فإنك إن أُعْطِيتَها عن مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إليها، وإن أُعْطِيتَهَا عن غير مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عليها، وإذا حَلَفْتَ على يمينٍ فرأيتَ غيرها خيرًا منها، فَكَفِّرْ عن يمينك، وَأْتِ الذي هو خير»
Dari Abdurrahman bin Samurah -raḍiyallahu 'anhu- bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda kepadanya, “Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta jabatan! Karena sesungguhnya jika jabatan itu diberikan kepadamu karena permintaan, maka jabatan itu akan diserahkan kepadamu (tanpa pertolongan dari Allah). Dan jika jabatan itu diberikan kepadamu tanpa permintaan darimu, niscaya engkau akan ditolong (oleh Allah) dalam melaksanakannya. Dan apabila engkau bersumpah dengan satu sumpah kemudian engkau melihat selainnya lebih baik darinya, maka bayarlah kafarat sumpahmu itu dan kerjakanlah yang lebih baik (darinya)!"
(HR. Bukhari 6622 dan Muslim 1652) (Riyadh Ash Shalihin 674)
Intisari hadits :
1. Jabatan pada hakikatnya adalah amanat berat yang harus dipertanggungjawabkan.
2. Larangan meminta jabatan untuk kepentingan pribadi.
3. Kekuasaan memiliki peran besar dalam menegakkan agama Allah, oleh karena itu hendaklah dipegang oleh orang-orang shalih yang memiliki kepedulian terhadap Islam.
Bersambung insyaaAllah...
•••┈••••○❁🌻❁○••••┈•••
Semoga bermanfaat...
Barakallahu fiikum
♻️ Raihlah pahala dan kebaikan dengan membagikan postingan yang bermanfaat ini, melalui jejaring sosial yang Anda miliki.
Silahkan dishare tanpa perlu izin, semoga Allahﷻ catat sebagai amal jariyah.
https://t.me/catatanilmoe
535
📖 TERJEMAH KITAB (2)
.................................................
Judul Asli: أخطاء بعض المسلمين في توحيد الله رب العالمين
Edisi Terjemah: Kesalahan Sebagian Muslim dalam Tauhid
Penulis: Fadhilatus Syaikh Dr. Abdul Aziz Ar-Royyis hafizhahullahu
.................................................
Kesalahan Kedua: Memahami Kalimat Tauhid Berbeda dengan Makna Benarnya
Betapa banyak universitas di dunia Islam yang menafsirkan kalimat tauhid (laa ilaha illalloh) dengan makna yang bertentangan dengan makna yang dibawa oleh Nabi-Nabi dan Rosul-Rosul Alloh, termasuk Nabi Muhammad ﷺ!
Betapa banyak kaum Muslimin yang mengatakan bahwa makna laa ilaha illalloh adalah “tidak ada pencipta kecuali Alloh,” “tidak ada yang berkuasa menciptakan kecuali Alloh,” dan kalimat-kalimat lainnya yang intinya mengembalikan penafsiran kalimat tauhid kepada tauhid rububiyah, bukan tauhid uluhiyah.
Ini adalah kesalahan besar. Karena jika makna kalimat tauhid (laa ilaha illalloh) adalah “tidak ada pencipta kecuali Alloh,” maka Abu Jahl, Abu Lahab, dan orang-orang kafir Quroisy lainnya akan menjadi Muslim. Sebab mereka mengakui bahwa tidak ada pencipta, pemberi rizki, dan pengatur kecuali Alloh.
﴿وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ﴾
“Jika kamu bertanya kepada mereka: ‘Siapa yang menciptakan langit dan bumi?’ Pasti mereka akan menjawab: “Alloh.” (QS. Luqman: 25)
Alloh berfirman:
﴿قُلْ مَن يَرْزُقُكُم مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَن يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَرَ وَمَن يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَن يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ﴾
“Katakanlah (wahai Muhammad): ‘Siapa yang memberikan rizki kepada kalian dari langit dan bumi? Atau siapa yang menguasai pendengaran dan penglihatan? Siapa yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup? Siapa yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab: ‘Alloh.’ Maka katakanlah: ‘Mengapa kalian tidak bertakwa (kepada-Nya)?” (QS. Yunus: 31)
Jika makna laa ilaha illalloh adalah “tidak ada pencipta kecuali Alloh,” niscaya Abu Jahl dan Abu Lahab adalah orang yang pertama kali beriman. Mereka tidak akan berkata:
﴿أَجَعَلَ الْأَلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ﴾
“Mengapa Muhammad menjadikan banyak sesembahan hanya satu sesembahan saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.” (QS. Shod: 5)
Ini menunjukkan bahwa makna (laa ilaha illalloh) kembali kepada tauhid uluhiyah. Inilah medan pertempuran para Rosul dengan mereka, yaitu mengesakan Alloh dalam beribadah.
Di antara yang disebutkan oleh Imam pembaru yang sholih Muhammad bin Abdul Wahhab (1206 H) adalah bahwa orang-orang kafir Quroisy lebih baik daripada orang-orang yang terjerumus dalam syirik dari kalangan orang-orang belakangan. Beliau menyebutkan beberapa sebab, di antaranya adalah bahwa orang-orang terdahulu tahu makna kalimat tauhid, sedangkan orang-orang belakangan ini tidak tahu makna kalimat tauhid. Oleh karena itu, salah seorang dari mereka mengucapkan laa ilaha illalloh, padahal dia menyembelih untuk selain Alloh dan meminta pertolongan kepadanya.
Bersambung insyaaAllah...
•••┈••••○❁🌻❁○••••┈•••
Semoga bermanfaat...
Barakallahu fiikum
♻️ Raihlah pahala dan kebaikan dengan membagikan postingan yang bermanfaat ini, melalui jejaring sosial yang Anda miliki.
Silahkan dishare tanpa perlu izin, semoga Allahﷻ catat sebagai amal jariyah.
https://t.me/catatanilmoe
535
📖 TERJEMAH KITAB (1)
.................................................
Judul Asli: أخطاء بعض المسلمين في توحيد الله رب العالمين
Edisi Terjemah: Kesalahan Sebagian Muslim dalam Tauhid
Penulis: Fadhilatus Syaikh Dr. Abdul Aziz Ar-Royyis hafizhahullahu
.................................................
Kesalahan Pertama: Mengalihkan Ibadah kepada Selain Alloh
Betapa banyak kaum Muslimin yang mengucapkan kalimat tauhid dan menganggap diri mereka Muslim, padahal mereka telah tenggelam dalam lautan syirik!
Di salah satu negara tetangga, pada hari lahir salah satu orang yang mereka sebut “wali,” berkumpul di kuburannya tiga juta orang. Mereka thowaf mengelilingi kuburannya, menyembelih hewan, bernadzar untuknya, meminta kesembuhan, ampunan dosa, dan penghilangan kesusahan kepadanya. Meskipun demikian, mereka mengklaim diri mereka sebagai Muslim.
Di salah satu negara tetangga lainnya, di sebuah daerah yang tidak terlalu besar, terdapat 200 makam yang disembah selain Alloh.
Lihatlah keadaan kaum Muslimin di negara-negara tetangga, engkau akan melihat mereka mendatangi syirik secara berbondong-bondong atas nama agama. Kalau saja syaiton tidak mendatangi mereka melalui pintu agama (kultuskan orang sholih yang telah mati), maka rencana dan syubhatnya tidak akan laku.
Maka kesalahan pertama yang dilakukan sebagian kaum Muslimin adalah mengalihkan ibadah kepada selain Alloh. Demi Alloh, saya pernah mendengar dengan telinga saya sendiri saat thowaf di Ka’bah pada salah satu Romadhon yang lalu, seorang wanita tua berkata sambil thowaf mengelilingi Baitulloh: “Madad, madad, ya Rosululloh!” Maksudnya: “Wahai Rosululloh, berikan aku pertolongan untuk pengampunan, untuk dihilangkan kesusahan, dan untuk dikabulkan hajatku…” dan seterusnya.
Tidakkah kalian lihat bagaimana banyak kaum Muslimin yang tenggelam dalam syirik? Inilah sebab utama mengapa orang-orang kafir bisa mengalahkan kita. Karena, demi Alloh, seandainya kita benar-benar menegakkan tauhid, niscaya Robb kita akan menolong kita.
Alloh berfirman:
﴿وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا﴾
“Alloh telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan amal-amal sholih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhoi untuk mereka, dan Dia benar-benar akan mengubah (keadaan) mereka, setelah mereka berada dalam ketakutan, menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tidak menyekutukan Aku dengan sesuatu pun.” (QS. An-Nur: 55)
Alloh `Azza wa Jalla berfirman dalam surat Ar-Rum:
﴿وَعْدَ اللَّهِ لَا يُخْلِفُ اللَّهُ وَعْدَهُ، وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ﴾
“Itu adalah janji Alloh. Alloh tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rum: 6)
Sudah pasti, seandainya kita benar-benar menegakkan tauhid Alloh, niscaya Alloh akan menolong kita dengan sungguh-sungguh. Akan tetapi, demi Alloh, kita tidak layak mendapatkan pertolongan-Nya, karena tersebarnya syirik di antara banyak kaum Muslimin, kecuali jika Dia mengaruniai kita dengan keutamaan-Nya, dan Dia adalah Dzat Yang memiliki keutamaan dan karunia.
Bersambung insyaaAllah...
•••┈••••○❁🌻❁○••••┈•••
Semoga bermanfaat...
Barakallahu fiikum
♻️ Raihlah pahala dan kebaikan dengan membagikan postingan yang bermanfaat ini, melalui jejaring sosial yang Anda miliki.
Silahkan dishare tanpa perlu izin, semoga Allahﷻ catat sebagai amal jariyah.
https://t.me/catatanilmoe
535
#BerbagiHadits
#MenebarManfaat
#HaditsShahih
Kitab Riyadush Shalihin karya Imam Muhyiddin Yahya bin Syaraf An-Nawawi Rahimakumullah
Kitab Tazkiyat An-Nafs
Bab 56 : Nasihat Untuk Pemimpin Dan Rakyat.
•••┈••••○❁🌻❁○••••┈•••
Hadits 671
•••┈••••○❁🌻❁○••••┈•••
عن أبي هريرة رضي الله عنه مرفوعاً: «من أطاعني فقد أطاع الله، ومن عصاني فقد عصى الله، ومن يطع الأمير فقد أطاعني، ومن يعص الأمير فقد عصاني».
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', “Siapa yang menaatiku, maka sungguh ia telah menaati Allah. Namun siapa yang mendurhakaiku, maka sungguh ia telah mendurhakai Allah. Siapa yang menaati pemimpinnya, maka ia telah menaatiku. Namun siapa yang mendurhakai pemimpinnya, maka ia telah mendurhakaiku.”
(HR. Bukhari - 3603 dan Muslim 1843) (Riyadh Ash Shalihin 671)
Intisari hadits :
1. Taat kepada Rasulullah berarti taat kepada Allah, karena Allah telah memerintahkan agar menaati Rasulullah.
2. Taat kepada pemimpin berarti taat kepada Rasulullah, karena beliau telah memerintahkan agar menaati pemimpin.
3. Perintah taat kepada pemimpin jika tidak dalam hal maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.
Bersambung insyaaAllah...
•••┈••••○❁🌻❁○••••┈•••
Semoga bermanfaat...
Barakallahu fiikum
♻️ Raihlah pahala dan kebaikan dengan membagikan postingan yang bermanfaat ini, melalui jejaring sosial yang Anda miliki.
Silahkan dishare tanpa perlu izin, semoga Allahﷻ catat sebagai amal jariyah.
https://t.me/catatanilmoe
