en
Feedback
Gen Saladin Channel

Gen Saladin Channel

Open in Telegram

Media Dakwah Berbasis Sejarah dan Kepalestinaan β€’ "Learn History, Repeat Victory" β€’ gensaberilmu.com β€’ Free to share πŸ˜ƒ

Show more

πŸ“ˆ Analytical overview of Telegram channel Gen Saladin Channel

Channel Gen Saladin Channel (@gensaladin) in the Indonesian language segment is an active participant. Currently, the community unites 23 289 subscribers, ranking 3 231 in the Religion & Spirituality category and 2 738 in the Indonesia region.

πŸ“Š Audience metrics and dynamics

Since its creation on Π½Π΅Π²Ρ–Π΄ΠΎΠΌΠΎ, the project has demonstrated rapid growth, gathering an audience of 23 289 subscribers.

According to the latest data from 09 September, 2026, the channel demonstrates stable activity. Although there has been a change in the number of participants by -256 over the last 30 days and by -5 over the last 24 hours, overall reach remains high.

  • Verification status: Not verified
  • Engagement rate (ER): The average audience engagement rate is 5.09%. Within the first 24 hours after publication, content typically collects 1.89% reactions from the total number of subscribers.
  • Post reach: On average, each post receives 1 185 views. Within the first day, a publication typically gains 440 views.
  • Reactions and interaction: The audience actively supports content: the average number of reactions per post is 16.
  • Thematic interests: Content is focused on key topics such as nabi, muhammad, sejarah, jajah, kaum.

πŸ“ Description and content policy

The author describes the resource as a platform for expressing subjective opinions:
β€œMedia Dakwah Berbasis Sejarah dan Kepalestinaan β€’ "Learn History, Repeat Victory" β€’ gensaberilmu.com β€’ Free to share πŸ˜ƒβ€

Thanks to the high frequency of updates (latest data received on 10 September, 2026), the channel maintains relevance and a high level of publication reach. Analytics show that the audience actively interacts with content, making it an important point of influence in the Religion & Spirituality category.

23 289
Subscribers
-524 hours
-677 days
-25630 days
Posts Archive
Apa yang Terjadi di Dunia Islam dan Tokoh-tokohnya Saat Gunung Krakatau Meletus Tahun 1883? Gen Saladin β€’ @gen.saladin Letusan anak Krakatau belum lama menjadi bahan bahasan kita hari-hari ini. Sekolah di Jabodetabek sampai melakukan agenda belajar daring. Hujan abu vulkanik menyelimuti langit ibukota dan viral dalam video dan catatan media. Tahukah kamu, bahwa Krakatau yang asli (yang ada di kawasan yang sama dengan anak Krakatau) meletus di tahun 1883? Siapa tokoh yang hidup di saat itu? Tokoh-tokoh penting perjuangan menuju Indonesia merdeka masih berusia belia saat peristiwa ini terjadi. Gunung Krakatau meletus pada 26–27 Agustus 1883, menewaskan 36417 korban jiwa resmi berdasarkan catatan pemerintah penjajah kala itu. Mayoritas korban (lebih dari 31.000 orang) wafat bukan karena terkena lava langsung, melainkan akibat terjangan tsunami setinggi 35-41 meter yang dahsyat. KH Hasyim Asyari menzamani peristiwa fenomenal itu saat usia beliau 12 tahun, sementara KH Ahmad Dahlan berusia 15 tahun. Syaikh Kholil Bangkalan berusia 48 tahun dan sedang membangun jejaring pesantren besar di Madura. Sementara tokoh seperti RA Kartini masih berusia 4 tahun, dan HOS Tjokroaminoto bahkan baru 1 tahun. Saat itu yang tercatat telah berperan besar, adalah Syaikh Nawawi Al Bantani yang berusia 70 tahun dan mengajar di Mekkah, menjadi rujukan internasional. Namun rata-rata, saat itu jiwa zaman dunia Islam memang lagi berjuang semua melawan penjajahan Eropa. Tahun 1883 hampir semua negeri muslim dijajah. Dan di tahun itulah muncul Jamaluddin al-Afghani dan muridnya, Muhammad Abduh. Mereka gencar merumuskan gerakan Pan-Islamisme, menyerukan agar umat Islam bersatu melintasi batas negara untuk melawan imperialisme Barat. Apakah saat itu kekhalifahan Utsmaniyah masih ada? Ya. Bahkan saat itu kekhalifahan dipimpin oleh sang legenda; Sultan Abdul Hamid II yang sedang kuat-kuatnya mengkampanyekan gerakan persatuan umat. Keberadaan konsulat Utsmaniyah di Batavia saat itu mempertebal harapan emosional umat Islam Nusantara bahwa mereka punya pelindung global di masa-masa sulit. Jadi, jangan dibayangkan ketika Krakatau meletus itu kita ada di zaman yang benar-benar ghamidh, alias tidak jelas, sehingga kita menganggapnya terlalu jauh dari zaman kita. Saat itu, bahkan, ulama Banten menjadikan peristiwa meletusnya Krakatau sebagai momentum menyadarkan umat bahwa umat ini terlalu jauh dalam maksiat. Para orientalis Barat pun takut jika peristiwa Krakatau dianggap umat Islam sebagai "sinyal ilahi" untuk bergerak masif melawan penjajahan. Ketakutan inilah yang mendorong Belanda mengirim orientalis muda, Snouck Hurgronje, ke Mekkah pada tahun berikutnya (1884–1885) untuk menyusup dan memata-matai jaringan haji Nusantara.

photo content
+7

Bagaimana Jika Selama Ini Peta Dunia yang Kita Lihat Tak Seperti Bentuk Bumi yang Sebenarnya? Gen Saladin β€’ @gen.saladin Sebagai seorang pecinta peta, aku tersenyum melihat berita beberapa hari ini. Berita besar, itu menurutku. Mengapa? Sebuah resolusi PBB bertajuk "Correct the Map" resmi disetujui pada Jumat, 4 September 2026. Dan dengan berita ini, kita akan menyadari bahwa sebenarnya peta dunia yang banyak beredar, tidak menggambarkan ukuran negara-negara bumi sebenarnya. Sini GenSa bongkar... Jadi beberapa hari lalu, pada sidang majelis umum PBB, sebuah resolusi bersejarah bertajuk "Correct the Map" resmi disahkan. Diinisiasi oleh negara Togo dan didukung penuh oleh Uni Afrika, resolusi ini melahirkan kesepakatan besar: PBB resmi mengadopsi dan mendorong penggunaan proyeksi peta dunia baru bernama Equal Earth. Dan ini sangat berhubungan dengan sejarah penjajahan di masa lalu. Sebanyak 164 negara mendukung langkah ini, sementara hanya Amerika Serikat yang memberikan suara menolak. Mengapa sebuah peta sampai harus diperdebatkan di forum diplomasi tertinggi dunia? Jawabannya adalah: karena peta lama kita membawa bias geopolitik dan distorsi visual yang parah. Negara Eropa terasa besar, sementara kawasan Asia-Afrika terasa berukuran kecil. Peta dunia yang telah banyak kita kenal dirancang oleh kartografer bernama Gerardus Mercator, pada tahun 1569. Tujuan awalnya baik, yaitu membantu para pelaut Eropa bernavigasi melintasi samudra karena proyeksi ini sangat akurat dalam mempertahankan arah kompas. Namun masalahnya: proyeksi Mercator adalah: Semakin jauh suatu wilayah dari garis khatulistiwa (mendekati kutub), maka ukurannya akan terlihat semakin melar dan membesar secara ekstrem. Sebaliknya, wilayah yang berada di garis khatulistiwa akan tampak menyusut. Yang paling sering jadi contoh, adalah Greenland! Di peta dunia, dia terlihat besar sekali... Di peta lama, Greenland tampak seukuran dengan benua Afrika. Padahal kenyataannya, Benua Afrika 14 kali lebih besar daripada Greenland! Luas Afrika bahkan bisa menampung gabungan wilayah AS, China, India, Jepang, dan sebagian besar Eropa sekaligus. Bagi sebagian orang, ini mungkin terdengar sepele... Perwakilan Amerika Serikat bahkan sempat mengkritik perdebatan ini sebagai hal yang membuang waktu. Namun bagi negara-negara di belahan bumi selatan, ini adalah masalah keadilan narasi dan persepsi. Termasuk bagi Umat Islam yang hadir di bumi Asia dan Afrika. Menteri Luar Negeri Togo, Robert Dussey, menegaskan, "Dunia yang adil dimulai dengan peta yang adil." Sebab peta bukan sekadar gambar; ia membentuk imajinasi kolektif, memandu pendidikan anak-anak, dan memengaruhi kebijakan ekonomi. Ketika ukuran Afrika, Amerika Latin, dan Asia Tenggara dikerdilkan secara visual selama berabad-abad, hal itu secara tidak sadar ikut mengerdilkan persepsi global terhadap potensi pembangunan, kemakmuran, dan pentingnya geopolitik wilayah-wilayah tersebut. Bagaimana hasil peta yang baru? Peta Equal Earth (Bumi Setara) dikembangkan oleh tim kartografer internasional pada tahun 2018 dengan pendekatan equal-area. Dan ini hasilnya: Benua Afrika dan Amerika Latin terlihat jauh lebih megah dan luas. Negara Arab tampil jauh lebih proporsional dan gagah dengan hamparan yang luas. Eropa dan Amerika Utara menyusut ke ukuran aslinya yang sebenarnya tidak seraksasa di peta lama. Meskipun PBB mengakui tidak ada peta datar yang 100% sempurna tanpa cacat, langkah ini menjadi babak baru untuk mengoreksi cara pandang manusia terhadap bumi dan segala kekuatan di hamparannya. Sudah saatnya kita berhenti melihat dunia lewat kacamata penjajahan Eropa abad ke-16, dan mulai melihat bumi dengan lebih adil apa adanya. Referensi: 1. Laporan Resmi PBB: General Assembly Adopts Text to 'Correct the Map'. 2. Liputan BBC News: UN votes to adopt new world map to reflect Africa's true size. 3. Liputan Al Jazeera: UN votes to adopt new world map that reflects Africa's true size.

photo content
+9

photo content

Maka bersabarlah engkau (Muhammad), sungguh, janji Allah itu benar dan sekali-kali jangan sampai orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan engkau. QS Ar Rum 60

photo content

photo content
+3

Bismillah. Stay safe teman-teman semua. Bismillah tawakkalnaa alallah... Laa Haula wa laa quwwata illaa billah... Zikir pagi jangan terlupa 🎯😎

Ini Alasan Mengapa Pembebasan Damaskus di Era Umar bin Khattab Jauh Lebih Penting dari yang Kamu Kira Gen Saladin β€’ @gen.saladin Aku ingin menjelaskan peristiwa penting ini dari kacamata seorang sahabat Nabi bernama Abu Sufyan. Kamu pernah mendengar nama itu? Ia adalah mantan jenderal tertinggi musyrikin Quraisy yang pernah menyerang Nabi ο·Ί di Uhud dan mengepung Madinah hingga kelaparan. Alhamdulilah, Allah berikan hidayah pada Abu Sufyan, dan ia termasuk yang melihat sendiri terjadinya pembebasan Syam... "Inilah Damaskus, kota yang dulu kita datangi sebagai pedagang yang rendah, dan lihatlah kita hari ini, sekarang kita adalah pemimpinnya", itulah kata Abu Sufyan. Lelaki itu mulai menua. Usianya sekitar 75 tahun, mengenang betapa dulu saat masih musyrik ia datang bersama kafilah dagang ke kota ini dengan rasa takut karena tekanan Romawi. Satu matanya telah buta, karena terkena panah saat mengepung kota Thaif 6 tahun lalu. Ia tersenyum, kemudian tertunduk lalu menitikkan air mata. Mengingat lagi jahatnya ia pada Rasulullah ο·Ί. Mengenang lagi mengapa ia begitu terlambat masuk Islam. Lalu bersyukur; karena Allah memberinya kesempatan bertaubat dan melihat sendiri dakwah Islam telah membentang di Damaskus, kota yang bukan sembarangan: benteng terkuat Romawi di Syam! Bagi Romawi, Syam adalah hati mereka. Bertahun-tahun lamanya mereka merebut Syam dari kekaisaran Persia. Mereka merayakan kemenangan itu. Mereka agungkan pencapaian itu. Namun mereka sama sekali tidak mengira bahwa kelak mereka akan kedatangan "pemain baru" yang membuat mereka pergi dari Syam. Pemain baru itu, adalah sahabat-sahabat Muhammad ο·Ί... Abu Sufyan dan ribuan sahabat lainnya datang ke Damaskus, di era kekhalifahan Umar bin Khattab, dan di bawah komando 2 panglima besar Abu Ubaidah bin Jarrah serta Khalid bin Walid. Generasi sahabat memahami bahwa Rasul ο·Ί pernah bersabda, "Markas Muslimin pada hari Malhamah adalah di Al-Ghouta, di dekat kota yang dikenal sebagai Damaskus; salah satu kota terbaik di wilayah Syam." (HR Abu Daud) Semua ini membuat kau dan aku sadar bahwa pembebasan Damaskus tidak sesederhana yang kita kira. Sahabat-sahabat Rasulullah ο·Ί melihat sendiri kota yang selama ini terasa "jauh" dan "garang" itu, kini malah menjadi benteng kaum muslimin. Vibesnya seperti warga dari desa yang hidup bersahaja di rumah kayu, lalu masuk dan menguasai kota metropolitan yang penuh dengan gedung megah dan teknologi canggih yang belum pernah mereka lihat di kampung halaman. Allahumma shalli ala Nabiyyina Muhammad ο·Ί. Nabi kita telah membentuk sebuah generasi dengan mentalitas pemenang. Nabi kita telah membangun peradaban besar yang beliau mulai dari Masjid Nabawi. Orang-orang padang gersang Arabia itu, telah menjadi pembesar di ibukota metropolitan Damaskus. Dan hebatnya, mereka tetap zuhud, dan tidak silau dengan hiasan dunia itu.

photo content
+7

sejarah Islam bergerak di atas realitas yang logis, namun selalu dipayungi oleh berkah yang istimewa.

Setelah Nabi Muhammad ο·Ί kembali dari Thaif, setelah mereka menyakitinya, melemparinya dengan batu, dan mendustakannya, beliau ο·Ί berkata kepada Zaid dengan kalimat yang penuh keyakinan dan kepercayaan kepada Allah Ta’ala: "Wahai Zaid, sesungguhnya Allah pasti akan menjadikan dari apa yang engkau lihat ini sebuah jalan keluar dan kelapangan. Dan sesungguhnya Allah akan menolong agama-Nya serta memenangkan Nabi-Nya." Begitulah seharusnya keyakinan kita terhadap janji Allah: bahwa semua rasa sakit dan penderitaan yang terjadi sekarang hanyalah pendahuluan bagi kebangkitan umat, kejayaannya, dan keberhasilannya. β€”Syaikh Ahmad An Nufais

Bismillah, teman-teman. Malam ini pukul *19.30 WIB*, GenSa TV akan premiere episode terbaru dari serial *Behind the Book - St
Bismillah, teman-teman. Malam ini pukul *19.30 WIB*, GenSa TV akan premiere episode terbaru dari serial *Behind the Book - Stories Beyond the Pages*. *KETIKA MONGOL TERHENTI* Kisah tentang *Ain Jalut*, saat pasukan Mamluk berdiri menghadapi kekuatan Mongol yang sebelumnya terasa hampir tak terbendung. Kisah dalam episode ini diangkat dari buku *The Untold Islamic History 2*, salah satu buku terbitan *GenSa Berilmu* yang kemudian kami coba hadirkan melalui serial *Behind the Book*. Sebuah cerita tentang keberanian, strategi, dan pilihan untuk tetap berdiri ketika menyerah terlihat jauh lebih mudah. πŸ“Œ *Premiere hari ini, Pkl. 19.30 WIB* 🎬 https://youtu.be/A-DO0IYspqY InsyaAllah, semoga bukan sekadar menjadi tontonan sejarah, tetapi juga pengingat bahwa keadaan yang berat tidak selalu berarti kemenangan itu mustahil. *Learn History. Repeat Victory.* *GenSa TV*

Postingan Ini Akan Bawa Kamu ke 3 Plot Twist Tentang Perjuangan Shalahuddin yang Jarang Diketahui Orang Banyak Gen Saladin β€’ @gen.saladin Salah satu tim Gen Saladin mengirim sebuah reminder: bahwa hari ini bertepatan dengan peristiwa penting dalam sejarah hidup Shalahuddin Al Ayyubi, pahlawan pembebas Al Aqsha. Nama peristiwa itu adalah perjanjian Yafa, 2 September tahun 1192, antara Shalahuddin Al Ayyubi dan Richard Lionheart. Sini aku ceritain... Plot Twist pertama: Shalahuddin memang membebaskan Al Aqsha, tapi ternyata kemenangan itu dihadang dengan datangnya gelombang baru pasukan Eropa yang hendak kembali merebut Yerusalem! Jika kamu mengira bahwa setelah membebaskan Al Aqsha tahun 1187, Shalahuddin pulang dan istirahat serta menikmati hari-hari pensiun, maka kamu salah besar. Justru kata banyak ulama sejarah, hari-hari setelah pembebasan Al Aqsha justru menjadi amat berat bagi Shalahuddin. Mengapa? Karena pasukan Salib masih ada di Palestina, dan mereka mendapatkan bantuan pasukan yang dipimpin langsung raja Inggris; namanya Richard The Lionheart. Ia berperang 2 tahun lamanya dengan tangguh, berusaha merebut kembali Al Aqsha dari tahun 1191 sampai 1192. Plot Twist kedua: serangan Richard Lionheart dan Pasukan Salib justru berhenti karena Ia mendengar kabar kerajaannya di Inggris direbut saudaranya! Allah Mahakuasa, menakdirkan serangan Richard pada kaum muslimin tidak berlanjut karena ia mendapatkan berita bahwa kerajaannya direbut oleh saudaranya, pangeran John. Tak hanya itu. Richard juga mendapatkan kabar bahwa Raja Prancis, Philip Augustus (mantan sekutunya di awal Perang Salib), telah kembali ke Eropa dan mulai menyerang wilayah kekuasaan Richard di Prancis. Richard harus segera pulang demi menyelamatkan kerajaannya. Plot Twist ketiga: Perjanjian Yafa adalah tanda berhenti sejenak pembebasan Palestina, yang baru benar-benar bebas dari pasukan Salib 99 tahun kemudian! Setelah Richard dan Shalahuddin sama-sama merasa lelah, ada kebuntuan militer di antara dua pihak, keduanya bersepakat melakukan perjanjian di Yafa. Dalam perjanjian itu, tertulis bahwa Yerusalem tetap dalam naungan kepemimpinan muslimin. Dan peziarah kristen tetap boleh mengunjunginya. Di masa damai itulah, Shalahuddin wafat. Perjuangan membebaskan seluruh Baitul Maqdis dari pasukan Eropa baru benar-benar selesai 99 tahun kemudian di masa Al Asyraf Qalawun, tahun 1291. Di sini kita sadar, bahwa rehat sejati bagi orang beriman memang benar-benar saat kakinya melangkah di surga. Shalahuddin pulang ke Damaskus setelah perjanjian ini, dan 6 bulan kemudian beliau wafat. Setelah Shalahuddin, perjuangan tetap berlanjut. Narasi pembebasan tetap menderu lantang, hingga akhirnya kaum muslimin bisa memimpin Palestina sepenuhnya, 99 tahun setelah wafatnya Shalahuddin.

photo content

Ini lho. Kesempatan emas amal jariyah. Atau kalau teman-teman pengurus sekolah dan institusi pendidikan. Lagi ada paket menar
Ini lho. Kesempatan emas amal jariyah. Atau kalau teman-teman pengurus sekolah dan institusi pendidikan. Lagi ada paket menarik dari GenSa Berlmu. Mari cek di sini: Gensaberilmu.com