en
Feedback
Ask The Experts

Ask The Experts

Open in Telegram

Channel ini merupakan pengembangan dari Grup nasional ATE khusus Internal BPJS kesehatan yang membernya lebih dari 6.000 Orang Duta BPJS Kesehatan Selindo 🇲🇨 https://www.instagram.com/commit_asktheexperts?igsh=ZmpmN2xqbWFjZjBn

Show more
1 812
Subscribers
+124 hours
+67 days
+2030 days
Posts Archive
Kalau generasi sebelumnya kejar-kejaran buat cepat nikah, Gen Z justru banyak yang belum relate. Bahkan, nggak sedikit yang m
Kalau generasi sebelumnya kejar-kejaran buat cepat nikah, Gen Z justru banyak yang belum relate. Bahkan, nggak sedikit yang mikir kalau menikah itu optional, bukan keharusan. Buat sebagian Gen Z, pernikahan dianggap investasi yang high risk. Takut realita pernikahan nggak sesuai ekspektasi, takut ribet sama problem yang datang belakangan. Daripada overthinking, banyak yang memilih fokus ke diri sendiri dulu, heal, jalanin hidup, dan enjoy their own life. Kenapa pola pikir ini makin kuat di kalangan Gen Z? 👉 Baca selengkapnya di: https://nasional.kompas.com/read/2025/12/16/18450031/gen-z--in-this-situation-bukan-takut-jomblo-tapi-takut-menikaH?source=telegram&medium=social

Patuh karena paham, bukan karena takut 🤝 Di balik setiap kunjungan pemeriksaan, selalu ada cerita, tantangan, dan proses bel
+7
Patuh karena paham, bukan karena takut 🤝 Di balik setiap kunjungan pemeriksaan, selalu ada cerita, tantangan, dan proses belajar. Petugas pemeriksa bukan cuma soal cek data dan penagihan iuran, tapi tentang membangun komunikasi, membaca situasi, dan menjaga kepercayaan. Punya pengalaman bareng Petugas Pemeriksa BPJS Kesehatan? Tulis ceritamu di kolom komentar 👇 https://www.instagram.com/p/DSmuvlCiWYp/?igsh=MWIxNGJ5bHhhdDZhZg==

Oleh: Dedi Priadi Kita semua diajarkan untuk mandiri. Bagi sebagian besar orang, 𝘴𝘦𝘭𝘧-𝘳𝘦𝘭𝘪𝘢𝘯𝘤𝘦 adalah harga diri.
Oleh: Dedi Priadi Kita semua diajarkan untuk mandiri. Bagi sebagian besar orang, 𝘴𝘦𝘭𝘧-𝘳𝘦𝘭𝘪𝘢𝘯𝘤𝘦 adalah harga diri. Namun, semangat yang baik ini sering membawa jebakan tak terlihat: keengganan untuk meminta bantuan. Kita merasa harus menanggung semua beban sendiri, menganggap uluran tangan orang lain sebagai tanda kelemahan pribadi yang memalukan. Dorongan untuk selalu kuat ini membuat kita menunggu hingga kita benar-benar kehabisan daya—sampai baterai emosi kita merah pekat. Kita menutup diri, menolak dukungan, dan secara efektif menjauhkan diri dari orang-orang yang peduli. Padahal, isolasi ini adalah awal dari masalah yang jauh lebih besar. Di Jepang, dampak paling tragis dari penolakan dukungan sosial ini terlihat dalam fenomena 𝘬𝘰𝘥𝘰𝘬𝘶𝘴𝘩𝘪 atau "kematian kesepian." Kasus di mana seseorang meninggal sendirian dan jenazahnya ditemukan terlambat berhari-hari atau bahkan bermingu-minggu kemudian. Budaya yang terlalu menghargai kemandirian, ditambah keengganan merepotkan orang lain, menciptakan jurang kesendirian. Statistik menggarisbawahi kegentingan ini: pada tahun 2024, lebih dari 76.000 orang di Jepang mengalami kodokushi, mayoritas adalah lansia. Angka ini bukan sekadar data, tetapi pengingat pahit bahwa isolasi sosial membunuh, bahkan di negara yang paling maju sekalipun. Kemandirian diri berlebihan telah berubah menjadi bencana sosial. Maka, pelajaran utama dari fenomena kodokushi bukanlah tentang menjadi lebih kuat, tetapi tentang menjadi lebih bijak. 𝘚𝘦𝘭𝘧-𝘳𝘦𝘭𝘪𝘢𝘯𝘤𝘦 yang sejati bukanlah tentang berpura-pura baik-baik saja hingga Anda jatuh, melainkan tentang mengetahui batas Anda dan proaktif mencari bantuan. Tindakan berani yang sesungguhnya adalah meminta bantuan saat masalah Anda masih di "level kuning." Meminta bantuan di level kuning adalah langkah pencegahan, menunjukkan bahwa Anda menghargai energi dan kesehatan Anda, daripada menunggu hingga krisis tak tertolong terjadi. Anda tidak sendirian dalam kesulitan. Kita diciptakan untuk saling menyokong. Ketika Anda mengizinkan diri Anda dibantu, Anda tidak hanya menyelamatkan diri sendiri, tetapi Anda juga memberikan orang lain kesempatan untuk menyayangi Anda. Dengan mengizinkan diri Anda dibantu, Anda justru memberi orang lain kesempatan untuk merasa berguna dan dicintai. #INISIATIF

Oleh: Meidiana Nuranti Aku pernah mikir, “Kenapa ada orang yang hidupnya terus berkembang dan makin tenang, sementara ada juga yang tiap hari rasanya stuck, capek, dan penuh keluhan?” Ternyata, jawabannya bukan sekadar soal nasib baik atau rezeki orang tua. Ada hal yang jauh lebih dalam dari itu. Memilih bertumbuh atau mengeluh Dari buku Mindset Shift yang pernah aku baca: “Yang membedakan bukan peluang yang datang, tapi cara berpikir saat peluang itu datang.” Aku langsung berhenti lama di kalimat itu. Karena sadar, selama ini… aku pun sering lebih cepat mengeluh ketimbang belajar memahami. Orang dengan mindset bertumbuh akan berkata: “Gagal ya? Oke, aku belajar sesuatu hari ini.” Tapi orang dengan mindset mengeluh akan berkata: “Ya ampun, kenapa hidup aku susah banget sih?” Padahal, sama-sama gagal. Yang beda cuma: satu fokus ke pelajaran, satu lagi fokus ke perasaan. Dulu aku juga sering gitu. Kalau sesuatu gak sesuai rencana, aku langsung mikir “kayaknya bukan jodohku deh”, atau “aku emang gak bisa”. Tapi ternyata bukan takdir yang salah. Yang salah tuh cara pikirku yang belum siap tumbuh. Mindset bertumbuh itu kayak otot. Dia gak muncul dari baca teori, tapi dari kebiasaan kecil tiap hari: ✨ Belajar bersyukur terus ✨ berusaha mencari hikmah di tiap kejadian ✨ Gak cepat nyerah ✨ Dan yang paling penting: sadar kalau proses juga bagian dari rezeki Sementara mindset mengeluh itu kayak racun halus. Awalnya cuma satu kalimat kecil: “Capek banget, kok gak ada hasilnya sih…” Tapi lama-lama, dia tumbuh jadi keyakinan bahwa “aku gak akan bisa.” Dan di titik itu, bukan takdir yang berhenti. Kita sendiri yang menutup pintu pertumbuhan itu pelan-pelan. Lalu aku tanya ke diriku sendiri, “Kalau aku terus mengeluh, bukannya aku sedang melatih otakku untuk pesimis?” Dan ya… itu yang terjadi. Otak kita gak bisa bedain antara kenyataan dan ucapan yang kita ulang tiap hari. Kalau terus bilang “hidupku susah”, ya lama-lama kita akan benar-benar merasa begitu. Rasa tenang dan berkembang itu gak muncul dari luar. Dia lahir dari dalam — dari hati yang siap belajar, bukan hanya bereaksi. Makanya, sekarang tiap kali mau ngeluh, aku berhenti sebentar dan ganti kalimatnya jadi: “Lagi diuji nih, biar levelku naik.” Dan anehnya, sejak itu, hidup memang mulai naik sedikit demi sedikit. Dari situ aku ngerti, Mindset bertumbuh bukan berarti selalu kuat. Tapi sadar kalau setiap kesulitan datang untuk mengajarkan sesuatu Dan mindset mengeluh bukan berarti manusiawi, tapi tanda kita belum berdamai dengan cara Allah mendidik kita Jadi sekarang, kalau aku lagi ngerasa stuck, aku gak nanya “kenapa hidupku begini?” lagi. Tapi aku tanya: “Pelajaran apa yang Allah lagi kasih hari ini?” Dan pelan-pelan, hidupku berubah. Bukan karena dunia jadi lebih mudah, tapi karena aku jadi lebih siap Dari sinilah aku sadar, perubahan hidup gak dimulai dari rezeki besar, tapi dari mindset yang mau bertumbuh. Kalau hati dan pikirannya beres, semua langkah berikutnya insyaAllah ikut ringan. #INISIATIF

Capek ya, Bu… 😩😩😩😭😭😭 Sudah berusaha jadi istri yang baik, ibu yang sabar, mengurus rumah, tapi kadang hati tetap lelah, rezeki terasa sempit, dan doa seolah belum juga berjawab. Padahal bukan karena Ibu kurang usaha. Seringkali yang perlu dibenahi adalah cara membuka pintu pertolongan Allah. Spesial untukmu, para wanita dan bunda yang sabar & kuat. ✨ Free Webinar : “ Menjadi Ibu Rumah Tangga yang Selalu Ditolong Allah” Pola membuka pintu kemudahan, keberkahan, dan rezeki dengan hati yang damai & dada yang lapang. 📅 Minggu, 21 Desember 2025 | 19.30 WIB 🎁 GRATIS & KUOTA TERBATAS Daftar sekarang KLIK 👉 https://s.id/webinarirt KHUSUS WANITA/AKHWAT Karena saat seorang ibu ditolong Allah, satu rumah ikut kuat, dan satu keluarga dipenuhi berkah. Terima kasih ya bu Sudah bertahan💪🏻 Sudah berjuang🫰 Sudah Ibu sekuat ini🫶🏻 ❤️🫰❤️🫰❤️

Oleh: Shofia Ishar Barusan nonton podcast Mel Robbins tentang planning 2026. Bagus insights-nya. Aku rangkum buat kalian ya.. Supaya kita bisa planning dengan baik, ada baiknya kita bertanya kepada diri kita tentang hal-hal ini: 1. Apa saja low moments kalian selama 2025? Kenapa pertanyaan ini penting? Karena seringkali kita dituntut untuk cepet-cepet move on dari hal-hal yang bikin kita sedih. Padahal gimana mau move on, klo mencerna aja belum sempat. Akui momen2 ini, tuliskan, proses, dan afirmasi kalo kalian tidak lebay dan lemah. Tapi kalian sedang aware sama diri sendiri. 2. Apa saja high moments kalian di tahun 2025? Tidak perlu yang wow juga high moments-nya. Bisa aja misal berhasil menurunkan berat badan. Atau berhasil mengubah pola hidup ke arah lebih sehat. In my case, di tahun ini aku tepatnya sejak lulus PhD, aku jadi lebih banyak bisa menemani anak-anak belajar. 3. Apa saja yang kamu ingin berhenti lakukan? Mungkin ada hal-hal yang gak sesuai value lagi. Atau hal-hal yang sebenernya udah gak penting lagi, ya gpp tinggalin aja. Misal, I wanna stop worrying what other people think of me. Atau stop chasing something yang bikin frustrasi. 4. Apa saja yang kamu tetap ingin lakukan? Ini bisa refleksi dari high moments tadi. Kalo kamu senang, boleh banget dicoba lakukan. Atau, oh tahun 2025 nyoba jenis olah raga baru dan ternyata ngasih benefit di badan. Atau nyoba style fashion baru. Atau apa aja yang bikin kamu feel good, and you decide to keep doing it. 5. Yang terakhir: Apa yang mau kamu mulai lakukan di tahun depan? Ini yang biasanya orang tuh cenderung langsung skip ke pertanyaan ini. Pdhl untuk menjawab bertanyaan ini, 4 pertanyaan sebelumnya sebaiknya terjawab dulu. Nah baru deh kita jawab. Misal, okedeh tahun depan start nulis lagi. Atau oke, tahun depan harus mulai traveling lagi karena banyak tertunda. Atau, tahun depan mau coba kontak calon supervisor untuk studi PhD. Begitu kira-kira. Moga2 bermanfaat 🙂 #INISIATIF #TGIF

Repost from N/a
♟ CHECKMATE MOMENT ♟ Olahraga sejatinya mengajarkan sportifitas bukan rivalitas. Rivalitas itu hanya di atas papan catur saja
+3
CHECKMATE MOMENT ♟ Olahraga sejatinya mengajarkan sportifitas bukan rivalitas. Rivalitas itu hanya di atas papan catur saja, karena setelah itu, persaudaraan & kolaborasi tetep jalan sepenuh hati 🤝 Selamat kepada para Juara JKN Inter-Agency Chess League 👏 🏆 Juara 1, 2, & 3 👩‍🦰 Best Woman Player 🎁 Pemenang Doorprize Kalian bukan hanya pemenang di papan catur, tapi juga bagian dari semangat kolaborasi lintas Instansi (K/L) untuk pelayanan publik yang inklusif dan berkelanjutan 🇲🇨 Sampai jumpa di langkah kolaborasi berikutnya ♜ #INISIATIF #BerpikirSebelumBertindak

Sobat ATE udah pada dengar lagu baru Pak Dirut BPJS Kesehatan gak? 🎤 Jangan lupa like, share serta tinggalkan komentarnya yah https://youtu.be/91QLwJlM6dY?si=kszhVBVjtnZiSL7o

DARI SAKIT JADI SAKTI 👏 Oleh: Budiman Hakim Semua orang pasti pernah mengalami saat hidup terasa sangat rapuh. Misalnya saat putus sama pacar. Kena PHK di kantor. Temen2 menjauh. Kelibet utang yang rasanya mustahil bisa kita lunasi. Lalu kita duduk di balkon rumah sambil merokok dan merenung lama. Tanpa terasa bibir kita bergumam. “Kenapa nasib gue begini?” Setelah momen berat itu berhasil kita lalui, cobalah tengok kembali masa itu, dan kita akan memahami sebuah rahasia hidup. Ternyata momen menyedihkan itulah yang justru membuat kita mampu memulai perjalanan baru. Luka itu, yang dulu terasa seperti akhir, ternyata menjadi pintu menuju versi diri yang sama sekali tidak kita duga. Luka selalu hadir tanpa permisi, tapi rasa perihnya menjadi pecut yang memaksa kita berhenti, menoleh ke dalam, menatap jujur hal-hal yang selama ini kita tutupi dengan tawa, kesibukan, dan pura-pura kuat. Saat itulah perubahan bekerja, pelan, nyaris tak terlihat, seperti akar kecil yang merayap mencari tanahnya sendiri. Kita mulai bertanya ulang siapa diri kita, apa yang penting, apa yang harus ditinggalkan, dan apa yang layak diperjuangkan. Kita mulai menemukan sesuatu yang selama ini tertimbun: keteguhan, keberanian, ketajaman. Kualitas yang hanya muncul ketika pelindung kita runtuh. Banyak karya terbaik manusia lahir dari ruang luka ini. Musisi menulis nada terindah ketika hati remuk. Penulis memanfaatkan penderitaan itu menjadi energi saat dunia terasa paling gelap. Bukan karena mereka kuat sejak awal, tapi karena mereka memilih untuk tidak kabur dari rasa sakit itu. Inilah perjalanan manusia dari sakit menjadi sakti. Ini bukan tentang menghapus luka atau memaksakan diri sembuh lebih cepat. Perjalanan itu terjadi ketika kita menerima bahwa rasa sakit bukan musuh, tapi guru yang tidak pandai bicara. Ia mengajar kita dengan cara yang keras namun jujur. Dan di titik itu kita baru paham: Ternyata luka itu tidak datang untuk menghabisi kita. Ia datang untuk membangunkan bagian diri yang selama ini tertidur. Bagian diri yang sakti. Pada akhirnya, kita akan berdiri lagi. Mungkin dengan bekas luka, mungkin dengan sedikit gemetar, tapi berdiri sebagai seseorang yang berbeda. Seseorang yang lebih matang, lebih mengerti hidup, lebih kuat dari yang dulu ia kira. Carl Gustav Jung, psikolog dan psikoanalis asal Swiss juga pernah mengatakan "No tree, it is said, can grow to heaven unless its roots reach down to hell." atau dalam bahasa Indonesianya Pucuk pohon tidak akan pernah mencapai surga kalo akarnya belum menyentuh neraka. #INISIATIF

GAK MAU TURUN DARI MOBIL GARA-GARA LAGU 🎼🎤 Oleh: Budiman Hakim “OmBud jangan dimatiin dulu radionya. Lagunya enak nih!” ter
GAK MAU TURUN DARI MOBIL GARA-GARA LAGU 🎼🎤 Oleh: Budiman Hakim “OmBud jangan dimatiin dulu radionya. Lagunya enak nih!” teriak Si Bungsu. Mobil kami baru saja berhenti di parkiran PI Mall. Mesin sudah saya matikan, tangan siap membuka pintu. Tapi anak saya masih terpaku, seakan kursi penumpang berubah menjadi singgasana kecil yang tak boleh diganggu. Jujur… saya paham betul kenapa dia begitu. Saya pun sering menjalani pengalaman yang sama, duduk di parkiran, tidak bergerak, hanya menunggu satu bagian lagu yang paling saya suka lewat dulu sebelum kembali menjadi manusia dewasa yang harus menghadapi dunia. Ada sesuatu yang ganjil sekaligus indah tentang parkiran mobil, semacam ruang liminal yang tidak benar-benar termasuk dalam dunia mana pun. Di mal orang-orang berseliweran, di rumah ada daftar tugas yang menagih, di kantor bahkan napas pun kadang harus dijadwalkan. Tapi begitu mobil berhenti dan radio masih menyala, terciptalah ruang kecil yang seakan memisahkan kita dari semua tekanan itu. Parkiran berubah menjadi tempat paling aman untuk menjadi manusia paling jujur. Tempat di mana kita boleh nyanyi fals sesuka hati, boleh teriak kecil untuk melepaskan sisa stres, boleh memejamkan mata sambil meresapi lirik tanpa ada yang meminta kita bergerak lebih cepat. Tidak ada ruang lain yang memberikan jeda seintim itu. Tubuh kita memang dirancang untuk mencintai momen transisi seperti ini. Ketika mesin dimatikan dan perjalanan berakhir, tubuh masih membawa gema ritme jalan raya, sebuah inersia emosional yang membuat kita ingin tetap berada di dalam suasana itu sebentar lebih lama. Musik memperkuat semuanya. Ada bagian kecil di otak, nucleus accumbens, yang sangat peka terhadap sensasi “menunggu bagian favorit dari lagu”, dan justru di momen itulah dopamin mengalir paling kuat. Bukan ketika reff-nya tiba, tapi saat kita menunggu reff itu datang. Maka ketika lagu sedang enak-enaknya, kita enggan membuka pintu dan membiarkan dunia masuk kembali. Tubuh dan pikiran sedang bernegosiasi antara realitas yang menunggu dan kebahagiaan kecil yang masih ingin dipertahankan. Parkiran bukan rumah, bukan mal, bukan jalan, tapi tempat tubuh dan pikiran menemukan ritmenya kembali. Tempat yang memungkinkan seseorang seperti saya dan Si Bungsu menunda dulu peran-peran yang harus kami pakai begitu pintu terbuka. Begitu kaki menyentuh lantai parkiran, peran sebagai pekerja, orang tua, atau manusia dewasa langsung kembali aktif. Maka wajar kalau kita diam sebentar, karena sedang memperpanjang momen menjadi manusia paling sederhana tanpa tuntutan apa pun. Detik-detik kecil itulah yang membuat hidup berat ini terasa tetap bisa dijalani. Kekuatan kita sering lahir bukan dari kemenangan besar, tapi dari momen kecil yang kita curi diam-diam, sebelum dunia menagih lebih dari yang sanggup kita beri. Mobil yang berhenti memberi kesempatan untuk bernapas tanpa perlu alasan, menikmati satu lagu tanpa tergesa, dan mengingat bahwa menjadi manusia tidak selalu harus cepat. Kalian pasti pernah mengalami hal yang sama, kan? #INISIATIF

Masih ada waktu sd besok hari untuk ikut meramaikn tebak sang juaranya. Semoga beruntung 🇲🇨 https://www.instagram.com/p/DRh
Masih ada waktu sd besok hari untuk ikut meramaikn tebak sang juaranya. Semoga beruntung 🇲🇨 https://www.instagram.com/p/DRhLdmaCeis/?igsh=MW85djZxdDd6OGR6aQ==

Produktif di kantor, kreatif di komunitas 🎧 BPJS Kesehatan Music Community hadir sebagai ruang kolaborasi bagi pegawai yang
Produktif di kantor, kreatif di komunitas 🎧 BPJS Kesehatan Music Community hadir sebagai ruang kolaborasi bagi pegawai yang menjadikan musik sebagai medium ekspresi dan koneksi 🤝🇲🇨 Yuk kenalan lebih dekat lewat carousel ini https://www.instagram.com/p/DSUJgRxCV1n/?igsh=MWZxd3I1OW0yM3kyZQ==

PANUTAN 🏅 Oleh: Nadirsyah Hosen Kita sering mengidolakan seseorang sebagai panutan. Tetapi ketika satu tindakannya tidak ses
PANUTAN 🏅 Oleh: Nadirsyah Hosen Kita sering mengidolakan seseorang sebagai panutan. Tetapi ketika satu tindakannya tidak sesuai harapan, kita langsung meradang, seolah keteladanan yang kita bayangkan runtuh seketika. Padahal hidup adalah soal pilihan, termasuk memilih sisi mana yang ingin kita kenang dari seseorang: pencapaiannya yang menginspirasi, atau kekurangannya yang membuatnya tampak jatuh di mata kita. Ambil contoh Diego Maradona. Kita bisa memilih mengingatnya sebagai pencipta “Gol Tangan Tuhan”, ketika ia dengan sadar melakukan kecurangan di Piala Dunia 1986. Ia merayakan kecurangan itu, wasit mengesahkannya, dan rakyat Inggris tentu punya alasan kuat untuk mengingat sisi buruk tersebut. Gol curang Maradona membuat tim Inggris tersingkir. Namun dunia lebih memilih untuk mengingat gol keduanya pada pertandingan yang sama, gol yang sering disebut sebagai salah satu yang terbaik dalam sejarah sepak bola. Maradona menggiring bola melewati lima atau enam pemain Inggris dengan kelincahan dan kontrol yang nyaris tak masuk akal. Pada momen itu, ia tampil sebagai seorang jenius sepak bola. Satu pertandingan, dua sisi: sebuah kesalahan dan sebuah kejayaan. Lalu, yang mana yang ingin kita kenang? Mungkin yang keliru bukan Maradona, tetapi cara kita membingkai kebesaran seorang panutan. Kita kerap lupa bahwa mereka juga manusia, memiliki potensi untuk tergelincir, sekaligus kemampuan untuk bangkit dan menciptakan kebaikan. Itu sebabnya salah satu tafsir terhadap firman Allah QS Baqarah: 222 “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang terus-menerus bertaubat”—adalah bahwa Allah menyukai hamba yang pernah melakukan kesalahan, tetapi tidak berhenti kembali, yang taubatnya berulang-ulang karena ia sadar bahwa dirinya manusia yang mudah jatuh tetapi tak pernah menyerah untuk bangkit. Dengan kata lain, kebesaran itu bukan milik yang tidak pernah salah, tetapi milik mereka yang tidak berhenti memperbaiki diri. #INISIATIF

RITUAL 🏅 Oleh: TIS Media Komitmen keseharian Jason Donovan Yusuf, 18, yang dilakukan sejak SMA, sejak memutuskan renang adal
RITUAL 🏅 Oleh: TIS Media Komitmen keseharian Jason Donovan Yusuf, 18, yang dilakukan sejak SMA, sejak memutuskan renang adalah jalan hidupnya: Frekuensi dan Jenis Latihan Total Sesi Air: Tujuh sesi per minggu. Fisik: Latihan fisik (strength training) dilakukan secara terpisah. Fokus Waktu: Latihan disesuaikan dengan jadwal sekolah, dilakukan sebelum dan sesudah jam pelajaran. Jadwal Keseharian Senin Mulai jam 15.00 (setelah pulang sekolah) Selasa Pagi: Bangun pukul 04.00, latihan 04.30 selama 1 jam 15 menit. Pulang, sarapan, dan berangkat sekolah. Sore: Latihan fisik ringan mandiri di rumah Rabu Pagi: Bangun pkl 04.00, latihan pkl 04.30 selama 1 jam 15 menit. Pulang, sarapan, dan berangkat sekolah. Sore: Gym (strength training). Latihan full body workout (tangan, back, core, kaki) seminggu sekali untuk meningkatkan kekuatan otot. Kamis Sore: Latihan mulai jam 15.00, sama dengan Senin. Jumat Sore: Latihan sama dengan Senin dan Kamis. Sabtu Pagi: Latihan 2 jam, mulai pkl 07.30 sampai 09.30 Sore: Latihan fisik dan air. Latihan fisik 1 jam (mulai 15.00) dilanjutkan berenang lagi mulai pukul 16.30 sampai 17.30. Minggu Istirahat full di rumah. Tidak ada latihan. Pola Istirahat Sbg Kunci Pemulihan Jam Tidur: Maksimal tidur pkl 21.30 WIB. Durasi: Minimal 6 sampai 8 jam per hari. Bangun: Pagi pukul 04.00 (untuk jadwal latihan pagi). Pola Makan Sarapan Pertama: Oatmeal, dimakan setelah bangun atau setelah latihan pagi. Sarapan Kedua: Makanan berat. Dimakan saat jam istirahat pertama di sekolah. Snack Sore: Telur rebus dua butir sbg asupan protein sebelum latihan sore. Setelah Latihan: Protein shake, selalu dikonsumsi segera setelah latihan selesai. Malam: Makan malam plus buah (biasanya dua butir) dikonsumsi setelah makan malam. Berat badan ideal: Dijaga pada bobot 65 kg sampai 70 kg. Pada SEA Games 2025, Jason meraih 2 emas 50m backstroke dan 100m backstroke. Pada 100m backstroke, Jason memutus dominasi Quah Zheng Wen🇸🇬 yg terus meraih emas dlm satu dekade terakhir. #INISIATIF

Jason Donovan Yusuf 🏅 Oleh: Koko Herii Usia 18 Tahun, Sang Pemutus Dominasi dari Kolam Renang Nama Jason Donovan Yusuf menda
Jason Donovan Yusuf 🏅 Oleh: Koko Herii Usia 18 Tahun, Sang Pemutus Dominasi dari Kolam Renang Nama Jason Donovan Yusuf mendadak menjadi sorotan di SEA Games 2025. Di usia yang baru menginjak 18 tahun, perenang asal Jakarta ini tampil sebagai simbol kebangkitan renang Indonesia, sekaligus sosok yang menghentikan dominasi panjang Singapura di nomor 100 meter gaya punggung putra. Pada Rabu malam, 10 Desember 2025, Jason melesat paling cepat menuju dinding finis dengan catatan waktu 55,08 detik. Sebuah torehan emas yang bukan sekadar angka, tetapi juga sejarah. Selama satu dekade terakhir, nomor ini nyaris menjadi “milik pribadi” Quah Zheng Wen dari Singapura. Lima edisi SEA Games beruntun dikuasai, hingga akhirnya Jason datang dan mengubah peta persaingan. Menariknya, SEA Games 2025 adalah debut Jason di ajang ini. Namun status pendatang baru sama sekali tak mencerminkan performanya. Ia telah mencuri perhatian sejak PON 2024 Aceh–Sumut, ketika masih duduk di bangku SMA. Di ajang nasional tersebut, Jason mengoleksi dua emas, dua perak, dan dua perunggu—sebuah sinyal jelas bahwa Indonesia memiliki talenta besar di lintasan air. Rekor demi rekor pun ia pecahkan. Di nomor 50 meter gaya punggung dan 50 meter gaya bebas kategori KU-1, namanya kini tercatat sebagai pemegang rekor nasional. Konsistensi dan progres waktu yang stabil membuat Jason bukan hanya sekadar “kejutan SEA Games”, melainkan investasi jangka panjang bagi renang Indonesia. Gaya renangnya efisien, start-nya tajam, dan penempatan tubuhnya nyaris presisi. Jason bukan tipe atlet yang mengandalkan ledakan emosional, melainkan ketenangan dan disiplin—karakter yang jarang dimiliki atlet seusianya. SEA Games 2025 mungkin baru permulaan. Jason masih akan turun di nomor 50 meter gaya punggung dan 50 meter gaya bebas, membuka peluang emas tambahan. Namun lebih dari itu, kehadirannya memberi harapan: bahwa regenerasi renang Indonesia tidak hanya berjalan, tetapi juga siap bersaing di level tertinggi Asia Tenggara. Di kolam renang, Jason Donovan Yusuf bukan sekadar berenang. Ia sedang menulis bab baru sejarah. #INISIATIF

INNALILLAHI WAINNA ILAIHI ROJIUN 😭 Turut Berduka Cita atas berpulangnya salah satu sobat ATE kakak @YudinaSaputri. Semoga se
INNALILLAHI WAINNA ILAIHI ROJIUN 😭 Turut Berduka Cita atas berpulangnya salah satu sobat ATE kakak @YudinaSaputri. Semoga segala pengabdian dan dedikasi almarhumah kepada Organisasi, Nusa dan Bangsa dapat diterima oleh Tuhan YME menjadi amal jariyah dan mendapat tempat terbaik di Sisi-Nya, aamiin 🤲 Selamat jalan, Pahlawan JKN 🥀

Paradoks Akhir Pekan: Antara Lepas dan Terjerat 😴 Oleh: Nadirsyah Hosen Akhir pekan seharusnya menjadi jeda—ruang untuk berh
Paradoks Akhir Pekan: Antara Lepas dan Terjerat 😴 Oleh: Nadirsyah Hosen Akhir pekan seharusnya menjadi jeda—ruang untuk berhenti dari hiruk pikuk kerja, menarik napas panjang, dan merasakan kembali denyut hidup yang sering kita abaikan. Tapi bukankah aneh, justru pada hari yang diciptakan untuk istirahat, kita sering merasa lebih lelah? Kita menanti Jumat seolah penebus dosa produktivitas, namun ketika Sabtu tiba, kita terseret arus belanja, daftar tugas rumah, atau antrean panjang menuju “liburan singkat” yang berakhir dengan stres. Di sanalah paradoks akhir pekan bersemayam: keinginan untuk merebut kembali waktu justru menjebak kita dalam bentuk baru dari keterikatan. Kita ingin bebas dari sistem, tapi malah menciptakan sistem kecil sendiri—agenda hiburan, target kebahagiaan, bahkan tekanan untuk “menikmati waktu dengan maksimal.” Kita berpikir sedang memulihkan diri, padahal hanya mengganti jenis kelelahan: dari mental ke fisik, dari kantor ke kafe, dari layar komputer ke layar ponsel yang sama menyedot perhatian. Elspeth Thompson dalam The Wonderful Weekend Book menulis bahwa yang hilang dari akhir pekan modern bukanlah waktu, melainkan makna. Kita kehilangan kemampuan menikmati hal-hal sederhana tanpa rasa bersalah. Kita lupa bahwa kebahagiaan sejati tak selalu datang dari perjalanan jauh, tapi dari kemampuan hadir utuh dalam momen yang dekat: duduk di taman, menatap langit sore, membaca tanpa buru-buru, atau berbincang tanpa tujuan. Semua kegiatan “biasa” yang justru luar biasa bila dilakukan dengan kesadaran penuh. Namun melawan logika produktivitas bukan perkara mudah. Kita hidup dalam budaya yang menilai diri dari seberapa banyak yang dilakukan, bukan dari seberapa dalam kita merasakan. Padahal yang paling kita butuhkan mungkin bukan aktivitas baru, melainkan ketiadaan aktivitas—ruang sunyi untuk sekadar menjadi manusia, bukan mesin hasil. Mungkin inilah misi tersembunyi akhir pekan: bukan sekadar dua hari libur, tapi pelajaran tentang cara hidup yang benar. Agar di antara repetisi Senin dan Jumat, kita sempat menemukan ulang diri sendiri—bukan versi yang sibuk mengejar, melainkan yang tahu kapan berhenti, tersenyum, dan merasa cukup. Tabik, #INISIATIF #TGIF

Program Tutorial dan Ujian Gelar Associate of Managed Care (AMC) Kegiatan ini ditujukan bagi para profesional, akademisi, dan
Program Tutorial dan Ujian Gelar Associate of Managed Care (AMC) Kegiatan ini ditujukan bagi para profesional, akademisi, dan praktisi kesehatan yang ingin memperdalam pengetahuan (knowledge), memperluas jaringan (networking), serta memperoleh pengakuan profesional di bidang managed care. 🗓 Jadwal Kegiatan Tutorial: Kamis–Jumat, 18 - 19 Desember 2025 Ujian Modul: Sabtu, 20 Desember 2025 📍 Lokasi Tutorial: Hotel Horison Rasuna Said, Jakarta Selatan Ujian: Online 💼 Benefit: 1. Tutorial & ujian untuk 3 modul (Asuransi Kesehatan Nasional, Managed Care A, dan Managed Care B) 2. Mendapatkan gelar Associate of Managed Care (AMC) 💰 Biaya: Rp 4.500.000/orang (tidak termasuk biaya akomodasi dan transportasi) 🔗 Pendaftaran dapat dilakukan melalui tautan berikut atau dengan memindai QR code pada poster resmi: 👉 https://lnkd.in/gURYEZiX Informasi lebih lanjut : 📞 0821 30200 212 | ✉️ sekretariat2008@gmail.com 🌐 www.pamjaki.org | IG: @pamjakians | LinkedIn : PAMJAKI Segera daftarkan diri Anda dan jadilah bagian dari tenaga ahli yang kompeten di bidang jaminan dan asuransi kesehatan melalui gelar Associate of Managed Care (AMC) bersama PAMJAKI.