Best analytics service

Add your telegram channel for

  • get advanced analytics
  • get more advertisers
  • find out the gender of subscriber
CategoryNot specified
Channel location and language

audience statistics Seputar Sholat & Wudhu

383-1
~21
~4
5.48%
Telegram general rating
Globally
3 915 358place
of 7 308 251
62 375place
of 142 927

Subscribers gender

Find out how many male and female subscibers you have on the channel.
?%
?%

Audience language

Find out the distribution of channel subscribers by language
Russian?%English?%Arabic?%
Subscribers count
ChartTable
D
W
M
Y
help

Data loading is in progress

User lifetime on the channel

Find out how long subscribers stay on the channel.
Up to a week?%Old Timers?%Up to a month?%
Subscribers gain
ChartTable
D
W
M
Y
help

Data loading is in progress

Since the beginning of the war, more than 2000 civilians have been killed by Russian missiles, according to official data. Help us protect Ukrainians from missiles - provide max military assisstance to Ukraine #Ukraine. #StandWithUkraine
SUNNAHNYA SHALAT TARAWIH BERSAMA IMAM LANGSUNG SETELAH SHALAT ISYA Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah ● Apa hukumnya shalat Tarawih dan shalat Tahajjud? ● Kapankah waktu shalat Tahajjud ? Dan berapakah jumlah raka'atnya? ● Dan apakah boleh bagi siapa yang sudah shalat Witir setelah selesai dari Tarawihnya, untuk ia shalat Tahajjud, ataukah tidak boleh? ● Dan apakah shalat Tarawih diharuskan bersambung dengan shalat Isya, yaitu dilakukan setelahnya secara langsung, ataukah boleh seandainya ada suatu jama'ah yang bersepakat untuk mengakhirkannya setelah shalat Isya, lalu mereka berpisah dan berkumpul lagi di lain kesempatan untuk mengerjakan shalat Tarawih? Ataukah yang demikian itu tidak boleh? Jawab: ● Adapun shalat Tarawih, maka hukumnya sunnah muakkadah, dan pelaksanaannya adalah setelah shalat Isya dan sunnah rawatibnya (ba'diyyah) secara langsung. Inilah yang menjadi amalan kaum muslimin semenjak dahulu. ● Adapun mengakhirkannya sebagaimana ditanyakan oleh penanya, sehingga mereka mendatangi masjid dan mengerjakan Tarawih tersebut; maka ini menyelisihi apa yang telah menjadi amalan (muslimin) terdahulu. Para ulama ahli fiqih menyebutkan bahwasanya Tarawih itu dikerjakan segera setelah shalat Isya dan sunnah rawatibnya. Namun seandainya mereka mengakhirkannya, maka tidak kami katakan bahwa ini haram, akan tetapi yang demikian itu menyelisihi apa yang telah menjadi amalan semenjak dulu. ● Adapun Tahajjud; maka hukumnya juga sunnah, dan padanya terdapat keutamaan yang besar. Dan Tahajjud adalah shalat malam (yang dikerjakan) setelah bangun tidur. Lebih-lebih pada sepertiga malam terakhir, atau setelah pertengahan malam. Padanya terdapat keutamaan besar dan pahala yang banyak. Bahkan termasuk seutama-utama shalat Tathawwu' (tambahan) yaitu Tahajjud di malam hari. Allah Ta'ala berfirman: إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئاً وَأَقْوَمُ قِيلاً "Sesungguhnya bangun (shalat) malam itu lebih kuat pengaruhnya dan lebih tepat bacaannya." (Al-Muzamil 6) dan termasuk bentuk meneladani Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. ● Dan seandainya seseorang shalat Tarawih, dan ia ikut Witir bersama imamnya, kemudian ia bangun lagi waktu malam dan melakukan Tahajjud; maka tidak ada larangan dari hal tersebut, dan tidak perlu ia mengulangi Witirnya, telah cukup baginya Witir bersama imamnya (tadi), dan ia bertahajjud dari sebagian waktu malam sepanjang apa yang Allah mudahkan. Dan jika ia mengakhirkan Witirnya hingga akhir shalat malam, maka tidak mengapa, tetapi ia kehilangan (keutamaan) mengikuti imam. Maka yang lebih utama agar ia mengikuti imam untuk Witir bersamanya, berdasarkan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam:  من قام مع الإمام حتى ينصرف ؛ كتب له قيام ليلة  "Barangsiapa shalat bersama imam sampai selesai, niscaya dituliskan (pahala) baginya shalat semalam suntuk." (H.R Abu Daud, Tirmidzi, Ab-Nasai, Ibnu Majah) Maka ia ikuti imamnya, ia ikut Witir bersamanya, dan yang demikian ini tidak menghalanginya untuk bangun lagi di akhir malam guna bertahajjud semampunya." Al-Muntaqa min Fatawa al-Fawzan jilid, 3/76, fatwa no.116 ↘ Join telegram ⬇ 🌐 Sumber : 📡 Publikasi: 📚 WA Fadhlul Islam
Show more ...
FADHLUL ISLAM
SUNNAHNYA SHALAT TARAWIH BERSAMA IMAM LANGSUNG SETELAH SHALAT ISYA Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah ● Apa hukumnya shalat Tarawih dan shalat Tahajjud? ● Kapankah waktu shalat Tahajjud ? Dan berapakah jumlah raka'atnya? ● Dan apakah boleh bagi siapa yang sudah shalat Witir setelah selesai dari Tarawihnya, untuk ia shalat Tahajjud, ataukah tidak boleh? ● Dan apakah shalat Tarawih diharuskan bersambung dengan shalat Isya, yaitu dilakukan setelahnya secara langsung, ataukah boleh seandainya ada suatu jama'ah yang bersepakat untuk mengakhirkannya setelah shalat Isya, lalu mereka berpisah dan berkumpul lagi di lain kesempatan untuk mengerjakan shalat Tarawih? Ataukah yang demikian itu tidak boleh? Jawab: ● Adapun shalat Tarawih, maka hukumnya sunnah muakkadah, dan pelaksanaannya adalah setelah shalat Isya dan sunnah rawatibnya (ba'diyyah) secara langsung. Inilah yang menjadi amalan kaum muslimin semenjak dahulu. ● Adapun mengakhirkannya sebagaimana ditanyakan oleh penanya, sehingga mereka mendatangi…
20
0
Lanjutan ... ⤴️ ⏩ BAB TAYAMMUM 🔘 ❓Apakah yang Membatalkan Tayammum ☑️ Jawab: Pembatal tayammum adalah: 📌. Segala hadats besar ataupun kecil. Semua pembatal wudhu’ adalah pembatal tayammum. 📌. Jika sebab tayammum adalah karena tidak ditemukan air, tayammum menjadi batal ketika ditemukan air sebelum dilaksanakan sholat. Para Ulama’ bersepakat (ijma’) bahwa barangsiapa yang bertayammum setelah berupaya mencari air namun tidak ditemukan, kemudian sebelum sholat ternyata ia menemukan air, maka tayammumnya batal dan ia harus berwudhu’ (al-Imam Ibnu Abdil Bar menukilkan ijma’ dalamal-Istidzkar (3/167)). 📌. Jika sebab tayammum adalah karena tidak mampu menggunakan air misalkan karena sakit, tayammum menjadi batal ketika seorang itu ternyata kemudian mampu menggunakan air sebelum dilaksanakan sholat.  ❓Seseorang Bertayammum Setelah Berusaha Mencari Air dan Tidak Mendapatkannya, Kemudian Dia Sholat. Setelah Sholat Ia Mendapatkan Air. Apakah Ia Wajib Mengulangi Sholatnya? ☑️ Jawab: Jika ternyata setelah sholat ia mendapatkan air, ia tidak perlu mengulangi sholat. Sholat sebelumnya tetap sah. عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ خَرَجَ رَجُلَانِ فِي سَفَرٍ فَحَضَرَتْ الصَّلَاةُ وَلَيْسَ مَعَهُمَا مَاءٌ فَتَيَمَّمَا صَعِيدًا طَيِّبًا فَصَلَّيَا ثُمَّ وَجَدَا الْمَاءَ فِي الْوَقْتِ فَأَعَادَ أَحَدُهُمَا الصَّلَاةَ وَالْوُضُوءَ وَلَمْ يُعِدْ الْآخَرُ ثُمَّ أَتَيَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَا ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ لِلَّذِي لَمْ يُعِدْ أَصَبْتَ السُّنَّةَ وَأَجْزَأَتْكَ صَلَاتُكَ وَقَالَ لِلَّذِي تَوَضَّأَ وَأَعَادَ لَكَ الْأَجْرُ مَرَّتَيْنِ Dari Abu Said al-Khudry –radhiyallahu anhu- beliau berkata: Dua orang (Sahabat Nabi) safar kemudian datanglah waktu sholat sedangkan mereka berdua tidak mendapatkan air. Kemudian keduanya bertayammum dengan tanah yang baik (suci). Keduanya kemudian sholat. Kemudian (setelah sholat) mereka menemukan air pada saat masih ada waktu sholat. Salah seorang dari mereka kemudian mengulangi sholat dengan berwudhu, sedangkan satu orang lagi tidak mengulang sholatnya. Kemudian mereka mendatangi Rasulullah shollallahu alaihi wasallam dan memberitahukan hal itu. Maka Nabi bersabda kepada Sahabat yang tidak mengulangi sholat: “Engkau telah sesuai dengan Sunnah, dan sholatmu telah mencukupi”. Kemudian Nabi bersabda kepada yang mengulangi sholat: “Engkau mendapat pahala dua kali”(H.R Abu Dawud, dishahihkan al-Hakim disepakati adz-Dzahaby dan al-Albany)  ▶️ Sahabat yang mengulangi sholat mendapatkan dua pahala adalah karena ijtihadnya. Satu pahala untuk sholat yang diulangi, meski salah, namun karena berdasar ijtihad, maka mendapat satu  pahala. Sedangkan satu pahala lagi adalah untuk sholatnya ketika dilakukan dengan tayammum. Karena itu, tidak disyariatkan untuk mengulangi lagi sholat karena tayammum jika setelah sholat ditemukan air. Karena Nabi telah menjelaskan hal yang sesuai dengan Sunnahnya, yaitu tidak mengulangi lagi sholat. Hal ini dijelaskan Syaikh Ibnu Utsaimin dalamsyarh Bulughil Maram dan Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad dalam syarh Sunan Abi Dawud.  Bersambung ,In syaa Alloh ... ⤵️ 📚 Sumber : dari Buku " Fiqh Bersuci dan Sholat sesuai tuntunan Nabi " ▶️ Al Ustadz Abu Utsman Kharisman Hafidzahullah 📡 Turut Menyebarkan : ⏩
Show more ...
Sifat_Sholat_Nabi
"Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat sholatKu" (H.R. Bukhari) صلّوْ ا كما ر أيْتموْ نى أصلّي
15
0
Lanjutan ... ⤴️ ⏩ BAB TAYAMMUM 🔘 ❓Bagaimana Jika Di Pertengahan Sholat Air Baru Ditemukan? ☑️ Jawab: Ia batalkan sholatnya dan mengulangi dari awal. Ini adalah pendapat Imam Abu Hanifah dan Ahmad, dikuatkan oleh Ibnu Utsaimin dan Abdul Muhsin al-Abbad.  ❓Jika Ada Air yang Hanya Cukup untuk Berwudhu Sebagian Anggota Tubuh. Apa yang Dilakukan? ☑️ Jawab: Jika dipastikan bahwa air tersebut tidak akan cukup untuk berwudhu’ karena sangat sedikit, maka langsung bertayammum. Namun, jika sebelumnya dicoba untuk berwudhu’ dengan harapan bisa tercukupi, namun ternyata airnya kurang tidak bisa memenuhi semua anggota wudhu’, maka sisanya menggunakan tayammum. Contoh: pada saat mencoba menggunakan air, bisa digunakan berwudhu’ hingga mencuci tangan saja. Maka selebihnya harus bertayammum. Namun, perlu dipahami bahwa tata cara mandi dan berwudhu yang dilakukan Nabi adalah dengan menggunakan air yang sedikit. Air yang sedikit sudah cukup bagi Nabi untuk menyempurnakan mandi dan wudhu’ beliau. 👉 Sebagaimana diriwayatkan oleh Anas bin Malik bahwa mandi Nabi menggunakan 4-5 mud (sekitar 3 hingga 3,75 liter). Sedangkan untuk berwudhu’ beliau hanya menggunakan 1 mud (sekitar 0,75 liter)(H.R al-Bukhari dan Muslim). Bahkan, Nabi pernah berwudhu secara sempurna hanya dengan 2/3 mud (sekitar setengah liter) air (H.R Ahmad, dishahihkan Ibnu Khuzaimah, al-Hakim, Ibnu Hibban)  ❓Bagaimana Jika Tidak Ditemukan Air dan Juga Tidak Ada Sesuatu untuk Tayammum? ☑️ Jawab: Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya. Ia sholat sesuai dengan keadaannya tersebut, meski tanpa berwudhu atau tayammum. Ini adalah pendapat dari al-Imam asy-Syafi’i dan al-Imam Ahmad.  ❓Jenazah yang Tidak Bisa Dimandikan Karena Tidak Ada Air Atau Karena Kondisinya Tidak Memungkinkan Dimandikan, Apakah Ditayammumkan? ☑️ Jawab: Ya, ditayammumkan. Sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Ibnu Utsaimin dalam asy-Syarhul Mumti’ (5/297) dan Fatwa al-Lajnah ad-Daaimah. 📚 Sumber : dari Buku " Fiqh Bersuci dan Sholat sesuai tuntunan Nabi " ▶️ Al Ustadz Abu Utsman Kharisman Hafidzahullah 📡 Turut Menyebarkan : ⏩
Show more ...
Sifat_Sholat_Nabi
"Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat sholatKu" (H.R. Bukhari) صلّوْ ا كما ر أيْتموْ نى أصلّي
22
0
Lanjutan ... ⤴️ ⏩ BAB TAYAMMUM 🔘 ❓Bagaimana Tata Cara Bertayammum? ☑️ Jawab: Tata cara bertayammum adalah: berniat, kemudian menepukkan kedua telapak tangan ke tanah, kemudian meniup kedua telapak tangan, dan selanjutnya mengusap wajah dan kedua telapak tangan (seluruh bagian telapak tangan termasuk punggungnya).  Sebagaimana dalam hadits bimbingan Nabi kepada Ammar bin Yasir: إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيكَ هَكَذَا فَضَرَبَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَفَّيْهِ الْأَرْضَ وَنَفَخَ فِيهِمَا ثُمَّ مَسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ وَكَفَّيْهِ Sesungguhnya cukup bagimu melakukan begini: beliau menepukkan kedua telapak tangan beliau ke tanah, kemudian meniup pada kedua telapak tangan itu kemudian mengusap pada wajah dan kedua telapak tangan beliau (H.R al-Bukhari dan Muslim)  👉 Dalam hadits tersebut tayammum cukup dengan satu kali tepukan ke tanah dan yang diusap pada tangan hanyalah kedua telapak tangan. Al-Imam al-Bukhari dalam kitab Shahihnya memberi judul bab :atTayammum lil wajh walkaffain (tayammum dengan wajah dan 2 telapak tangan). Pemberian judul dari alBukhari ini adalah menunjukkan pemilihan pendapat fiqh beliau bahwa dalam tayammum yang diusap adalah wajah dan telapak tangan saja (tidak sampai siku).  Sedangkan hadits tentang tayammum dua kali tepukan dan usapan hingga siku tangan adalah lemah. Hadits yang menyatakan bahwa tayammum adalah 2 kali tepukan: 1 untuk wajah dan 1 untuk tangan hingga siku : التَّيَمُّمُ ضَرْبَتَانِ ضَرْبَةٌ لِلْوَجْهِ وَضَرْبَةٌ لِلْيَدَيْنِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ Tayammum itu adalah 2 tepukan. Satu tepukan untuk wajah dan satu tepukan untuk kedua tangan sampai siku (H.R alHakim, adDaruquthny dan alBaihaqy) 👉 Hadits ini dinyatakan mauquf (hanya sampai perbuatan atau ucapan Sahabat Ibnu Umar, bukan sampai kepada Nabi) oleh ad-Daruquthny dan alBaihaqy. Demikian juga alHafidz Ibnu Hajar al-Asqolaany cenderung pada pendapat bahwa hadits ini mauquf bukan marfu’ (sebagaimana dijelaskan dalam kitab Bulughul Maram).  ℹ️ Hadits ini juga mengandung kelemahan, karena di dalam sanadnya terdapat perawi yang bernama Ali bin Dzhobyaan yang dilemahkan oleh adz-Dzahaby dan alHafidz Ibnu Hajar al-‘Asqolaany dan Ulama’ yang lain(Lihat Miizaanul I’tidal fii Naqdir Rijaal karya adz-Dzahaby (3/134) danadDarory alMudhiyyah karya asy-Syaukany (1/64)).  ❓Bolehkah Tidak Berurutan dalam Mengusap: Tangan dulu kemudian Wajah? ☑️ Jawab: Sebagian Ulama’ di antaranya Ibnu Daqiiqil ‘Ied (dalam kitab Ihkaamul Ahkaam Syarh Umdatil Ahkaam juz 1 halaman 80) berpendapat bolehnya tidak urut dalam mengusap ketika tayammum, yaitu telapak tangan dahulu kemudian wajah, karena di dalam beberapa lafadz hadits riwayat alBukhari dalam Shahihnya disebutkan tangan dulu baru kemudian wajah. إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيكَ أَنْ تَصْنَعَ هَكَذَا فَضَرَبَ بِكَفِّهِ ضَرْبَةً عَلَى الْأَرْضِ ثُمَّ نَفَضَهَا ثُمَّ مَسَحَ بِهِمَا ظَهْرَ كَفِّهِ بِشِمَالِهِ أَوْ ظَهْرَ شِمَالِهِ بِكَفِّهِ ثُمَّ مَسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ  Sesungguhnya cukup bagimu untuk melakukan seperti ini (kemudian Nabi mencontohkan) menepukkan satu kali tepukan pada tanah dengan telapak tangannya kemudian mengibaskannya kemudian mengusap punggung telapak tangannya dengan tangan kiri atau punggung telapak tangan kiri dengan telapak tangan (kanan)nya kemudian mengusap wajah dengan kedua telapak tangan (H.R alBukhari no 334 Bab atTayammum Dhorbatan juz 2 halaman 76 dari Abu Musa al-Asy’ariy)  👉 Namun, yang lebih utama adalah mendahulukan mengusap wajah kemudian kedua telapak tangan, karena demikianlah yang banyak disebutkan dalam lafadz-lafadz hadits yang shahih, dan juga sesuai dengan yang disebutkan dalam ayat alQur’an yang mendahulukan wajah kemudian telapak tangan: ...فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ… …Maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (suci), usaplah wajah dan tangan kalian… (Q.S anNisaa’:43)  Bersambung , In syaa Alloh ... ⤵️ 📚 Sumber : dari Buku " Fiqh Bersuci dan Sholat sesuai tuntunan Nabi " ▶️ Al Ustadz Abu Utsman Kharisman Hafidzahullah 📡 Turut Menyebarkan : ⏩
Show more ...
Sifat_Sholat_Nabi
"Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat sholatKu" (H.R. Bukhari) صلّوْ ا كما ر أيْتموْ نى أصلّي
10
0
Lanjutan ... ⤵️ 📚 MENGUSAP KHUF DALAM WUDHU' ✔️ ❓ Bagaimana Tatacara Mengusap Khuf? ☑️ Jawab: Telapak tangan yang masih basah diletakkan di atas khuf, dimulai dari bagian jari kaki diperjalankan hingga bagian pangkal telapak kaki. Telapak tangan kanan di atas punggung kaki kanan, sedangkan telapak kaki kiri di atas punggung kaki kiri. Keduanya diperjalankan bersamaan. Dilakukan hanya sekali tidak perlu diulang (al-Mulakhkhash al-Fiqhiykarya Syaikh Sholih al-Fauzan (1/43)).  ❓ Apakah Hukum Mengusap Khuf Saat Wudhu’ Adalah Wajib? ☑️ Jawab: Tidak wajib. Itu hanyalah keringanan. Kalaupun seseorang melepas khuf­nya dan mencuci kedua kakinya, tidak mengapa. Hanya saja ia melakukan sesuatu yang menyelisihi keutamaan.   ❓ Apakah Kalau Seseorang Junub Ia Masih Bisa Mengusap Di Atas Khuf Saat Berwudhu’? ☑️ Jawab: Mengusap di atas khuf ketika berwudhu’ hanya bisa dilakukan jika masih terpenuhi syaratnya dan hanya sekedar berhadats kecil, seperti kencing, buang air besar, atau tidur nyenyak. Namun, kalau hadats besar (junub), ia harus melepas khufnya dan mencuci kakinya. عَنْ صَفْوَانَ بْنِ عَسَّالٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُنَا أَنْ لَا نَنْزِعَ خِفَافَنَا ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ وَلَيَالِيهِنَّ إِلَّا مِنْ جَنَابَةٍ لَكِنْ مِنْ غَائِطٍ وَبَوْلٍ وَنَوْمٍ Dari Shofwan bin Assaal –radhiyallahu anhu- beliau berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam memerintahkan kepada kami untuk tidak melepas khuf kami dalam waktu 3 hari 3  malam (untuk musafir, pent) kecuali jika mengalami janabah (junub). Tapi, (masih bisa berlaku) jika buang air besar, kencing, dan tidur (H.R atTirmidzi, anNasaai, Ibnu Majah) InsyaAllah akan ada pembahasan tentang junub pada bab-bab tersendiri berikutnya (Bab Mandi dan Hukum Junub).  ❓ Apa Saja yang Membatalkan Keadaan Menguasap Khuf? ☑️ Jawab: Masa mengusap khuf menjadi batal karena 3 hal: 📌. Telah habis masa mengusap: sehari semalam untuk mukim dan 3 hari 3 malam untuk musafir. 📌. Mengalami junub. 📌. Melepas khuf. Karena jika ia telah mengusap khuf, bisa berlaku lagi periode pengusapan jika ia memakai khuf sudah dalam keadaan suci. 📚 Sumber : dari Buku " Fiqh Bersuci dan Sholat sesuai tuntunan Nabi " ▶️ Al Ustadz Abu Utsman Kharisman Hafidzahullah 📡 Turut Menyebarkan : ⏩
Show more ...
Sifat_Sholat_Nabi
"Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat sholatKu" (H.R. Bukhari) صلّوْ ا كما ر أيْتموْ نى أصلّي
4
0
Lanjutan ... ⤴️ ⏩ BAB TAYAMMUM 🔘 ❓Jika Seseorang Tidak Mendapatkan Air Kecuali Harus Beli Sedangkan Ia Memiliki Kecukupan Uang Untuk Membelinya, Bolehkah Ia Tayammum? ☑️ Jawab: Tidak boleh. Dia harus membeli air itu untuk bersuci. Karena ia tergolong bisa mendapatkan air (disarikan dari penjelasan Syaikh Ibnu Utsaimin dalam asy-Syarhul Mumti’ (1/378))  ❓Media Apa yang Bisa Digunakan untuk Bertayammum? ☑️ Jawab:  Para Ulama berbeda pendapat tentang makna as-Sha’iid yang disebut dalam ayat al-Quran tentang Tayammum. Perbedaan ini menyebabkan perbedaan pendapat dalam hal media apa yang bisa digunakan dalam tayammum.  ▶️ Namun secara ringkas, pendapat yang rajih adalah as-shaiid adalah tanah di permukaan bumi, baik berupa tanah yang berdebu, berpasir, atau basah terkena air, seperti tanah liat, atau tanah keras. dan semisalnya. Sedangkan debu adalah termasuk partikel tanah. Kalau sesuatu itu berupa tanah yang berada di permukaan bumi langsung, tidak harus mengandung debu. Jika bagian permukaan bumi itu berpasir atau keras, maka tidak mengapa meski tidak mengandung debu. Atau benda yang terbuat dari tanah dan tidak dilapisi dengan zat lain selain tanah. Maka yang demikian tidak mengapa meski benda itu tidak berdebu digunakan untuk tayammum, karena pada dasarnya benda itu adalah tanah.  📌 Tapi kalau seseorang itu sakit berada di dalam kamar dan tidak bisa menggunakan air, maka ia bisa menggunakan benda di sekitarnya yang mengandung debu, baik pada tembok, seprei, korden, dan semisalnya. Benda-benda yang dipakai bertayammum itu haruslah mengandung debu.  ✅ Nabi shollallahu alaihi wasallam juga pernah bertayammum dengan tembok. أَقْبَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ نَحْوِ بِئْرِ جَمَلٍ فَلَقِيَهُ رَجُلٌ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى أَقْبَلَ عَلَى الْجِدَارِ فَمَسَحَ بِوَجْهِهِ وَيَدَيْهِ ثُمَّ رَدَّ عَلَيْهِ السَّلَامَ Nabi shollallahu alaihi wasallam menghadap ke arah sumur Jamal kemudian datang seorang laki-laki mengucapkan salam kepada beliau tapi beliau tidak menjawab salam. Hingga beliau menghadap ke tembok kemudian beliau mengusap wajah dan kedua tangannya (bertayammum) kemudian menjawab salam (H.R al-Bukhari dan Muslim dari Abul Juhaim)  Bersambung , In syaa Alloh ... ⤵️ 📚 Sumber : dari Buku " Fiqh Bersuci dan Sholat sesuai tuntunan Nabi " ▶️ Al Ustadz Abu Utsman Kharisman Hafidzahullah 📡 Turut Menyebarkan : ⏩
Show more ...
Sifat_Sholat_Nabi
"Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat sholatKu" (H.R. Bukhari) صلّوْ ا كما ر أيْتموْ نى أصلّي
5
0
BAB PEMBATAL-PEMBATAL WUDHU' ✔️ ❓Apakah Setiap Kali Akan Sholat Harus Berwudhu lagi Meski Wudhu Sebelumnya Belum Batal? ☑️ Jawab: Tidak harus. Namun, jika seseorang meski belum batal wudhu’nya tetap memperbaharui wudhu, ia akan mendapatkan keutamaan-keutamaan wudhu yang banyak seperti yang akan dijelaskan pada bab berikutnya, insyaAllah.   📝 Rasulullah shollallahu alaihi wasallam dulunya selalu berwudhu setiap kali akan sholat meski masih belum batal wudhunya, namun kemudian setelah tahun Fathu Makkah, beliau melakukan beberapa sholat dengan satu wudhu (selama belum batal) untuk menunjukkan bolehnya hal itu dilakukan. عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَوَضَّأُ لِكُلِّ صَلَاةٍ فَلَمَّا كَانَ عَامُ الْفَتْحِ صَلَّى الصَّلَوَاتِ كُلَّهَا بِوُضُوءٍ وَاحِدٍ Dari Sulaiman bin Buraidah dari ayahnya beliau berkata: Nabi shollallahu alaihi wasallam dulu berwudhu pada setiap sholat. Ketika tahun Fathu Makkah beliau (pernah) melakukan seluruh sholat (5 waktu) dengan satu wudhu (H.R atTirmidzi, anNasaai, dinyatakan hasan shahih oleh atTirmidzi dan dishahihkan al-Albany) عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنَ حَنْظَلَةَ بْنِ أَبِي عَامِرِ ابْنَ الْغَّسِيلِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ أُمِرَ بِالْوُضُوءِ لِكُلِّ صَلَاةٍ طَاهِرًا كَانَ أَوْ غَيْرَ طَاهِرٍ فَلَمَّا شَقَّ ذَلِكَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُمِرَ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلَاةٍ وَوُضِعَ عَنْهُ الْوُضُوءُ إِلَّا مِنْ حَدَثٍ Dari Abdullah bin Handzholah bin Abi Amir bin al-Ghosiil bahwa Rasulullah shollallahu alaihi wasallam dulu diperintah untuk berwudhu pada setiap sholat baik dalam keadaan masih suci (belum batal wudhu) ataupun tidak suci. Ketika hal itu berat dirasakan Rasulullah shollallahu alaihi wasallam beliau (kemudian) diperintah untuk bersiwak setiap sholat dan dihapus kewajiban berwudhu kecuali bagi orang yang berhadats (yang akan sholat, pent)(H.R Ahmad, dishahihkan al-Hakim disepakati adz-Dzahaby dan dinyatakan sesuai syarat Shahih Muslim) 📚 Sumber : dari Buku " Fiqh Bersuci dan Sholat sesuai tuntunan Nabi " ▶️ Al Ustadz Abu Utsman Kharisman Hafidzahullah 📡 Turut Menyebarkan : ⏩
Show more ...
Sifat_Sholat_Nabi
"Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat sholatKu" (H.R. Bukhari) صلّوْ ا كما ر أيْتموْ نى أصلّي
3
0
Lanjutan ... ⤴️ 📚 MENGUSAP KHUF DALAM WUDHU' ✔️ ❓Apa Saja yang Hukumnya Masuk Kategori Khuf ? ☑️ Jawab: Bisa berupa sepatu, sandal, atau kaos kaki. Namun, ada syarat-syaratnya: 📌. Suci, bebas dari najis. 📌. Menutup telapak kaki secara sempurna dari bawah hingga minimal mata kaki. Boleh juga jika ada yang sobek/celah kalau sedikit. 📌. Berasal dari sesuatu yang mubah. Sebagai contoh, tidak boleh memakai kaos kaki dari sutera. 📌. Ketika memakainya, si pemakai dalam keadaan suci dari hadats besar maupun kecil. 📌. Tidak bisa dilepaskan kecuali dengan bantuan tangan atau kaki lain. Karena itu, kebanyakan sepatu sandal atau sandal jepit tidak masuk kategori khuf ini. Secara bahasa, khuf artinya adalah sepatu. Sedangkan sandal (yang tidak bisa dilepas kecuali dengan bantuan tangan atau kaki lain) dalam bahasa Arab disebut an-Na’l. Sedangkan kaos kaki adalah jaurab atautasakhiin.   Terdapat dalil-dalil yang menunjukkan bolehnya mengusap khuf, na’l,maupun jaurab dan tasakhin. Lafadz-lafadz hadits dengan khuf sangat banyak. Sedangkan untuk na’l dan jaurab juga ada, bahkan banyak atsar perbuatan Sahabat Nabi. Di antara lafadz-lafadz dalil yang menunjukkan bahwa tidak khusus untuk sepatu saja, namun juga sandal dan kaos kaki adalah: عَنِ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَسَحَ عَلَى الْجَوْرَبَيْنِ وَالنَّعْلَيْنِ Dari al-Mughirah bin Syu’bah bahwa Rasulullah shollallahu alaihi wasallam mengusap di atas kedua kaos kaki dan kedua sandal (H.R anNasaai) عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ بَعَثَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَرِيَّةً فَأَصَابَهُمْ الْبَرْدُ فَلَمَّا قَدِمُوا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَهُمْ أَنْ يَمْسَحُوا عَلَى الْعَصَائِبِ وَالتَّسَاخِينِ Dari Tsauban -radhiyallahu anhu- beliau berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam mengutus pasukan perang, kemudian mereka ditimpa cuaca digin. Ketika mereka tiba bertemu dengan Rasulullah shollallahu alaihi wasallam, beliau memerintahkan untuk mengusap pada surban dan sepatu/kaos kaki penghangat (H.R Abu Dawud)  🚫 Namun, sekali lagi tidak semua sepatu, sandal, dan kaos kaki memenuhi syarat sehingga termasuk dalam hukum khuf. Lihat syarat-syaratnya di atas.  Bersambung , In syaa Alloh ... ⤵️ 📚 Sumber : dari Buku " Fiqh Bersuci dan Sholat sesuai tuntunan Nabi " ▶️ Al Ustadz Abu Utsman Kharisman Hafidzahullah 📡 Turut Menyebarkan : ⏩
Show more ...
Sifat_Sholat_Nabi
"Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat sholatKu" (H.R. Bukhari) صلّوْ ا كما ر أيْتموْ نى أصلّي
3
0
📚 MENGUSAP KHUF DALAM WUDHU’ ✔️ ❓Apa Manfaat Seseorang Mempelajari Syariat Mengusap Khuf dalam Wudhu’? ☑️ Jawab: Sangat banyak manfaat yang bisa diambil seseorang yang mempelajari bab ini. Ia bisa mengambil keringanan syariat dalam berwudhu’. Pada saat berwudhu’ sudah sampai akan mencuci kaki, ia tidak perlu melepas sepatu, sandal, atau kaos kakinya. Cukup ia usap saja bagian atas sepatu, sandal, atau kaos kakinya tersebut, asalkan terpenuhi syarat dan ketentuannya sesuai dalil yang ada. Hal itu sangat mempermudah seseorang yang : 📌. Dalam kondisi sakit, sehingga selalu memakai kaos kaki. 📌. Dalam cuaca sangat dingin, sehingga selalu memakai kaos kaki. 📌. Dalam safar atau keadaan yang tertentu yang mengharuskan sering menggunakan sepatu dan jarang dilepas. ✅ Kalaulah tidak ada manfaat lain selain meneladani (mencontoh perbuatan) Nabi shollallahu alaihi wasallam, maka sungguh itu adalah suatu manfaat yang sangat besar dan tak tergantikan. Meneladani beliau adalah bukti kecintaan kepada Allah, akan dicintai Allah, dan akan mendapat ampunanNya (Q.S Ali Imran:31).  Bersambung, In syaa Alloh ...⤵️ 📚 Sumber : dari Buku " Fiqh Bersuci dan Sholat sesuai tuntunan Nabi " ▶️ Al Ustadz Abu Utsman Kharisman Hafidzahullah 📡 Turut Menyebarkan : ⏩
Show more ...
Sifat_Sholat_Nabi
"Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat sholatKu" (H.R. Bukhari) صلّوْ ا كما ر أيْتموْ نى أصلّي
3
0
📚 KEUTAMAAN-KEUTAMAAN BERWUDHU ✔️ ✅ Berwudhu dengan niat ikhlas karena Allah dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah shollallahu alaihi wasallam memiliki banyak keutamaan, di antaranya: 1⃣. Keluar dosa (kecil) bersamaan dengan mengalirnya air tetesan bekas wudhu pada anggota tubuh. إِذَا تَوَضَّأَ الْعَبْدُ الْمُسْلِمُ أَوْ الْمُؤْمِنُ فَغَسَلَ وَجْهَهُ خَرَجَ مِنْ وَجْهِهِ كُلُّ خَطِيئَةٍ نَظَرَ إِلَيْهَا بِعَيْنَيْهِ مَعَ الْمَاءِ أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ فَإِذَا غَسَلَ يَدَيْهِ خَرَجَ مِنْ يَدَيْهِ كُلُّ خَطِيئَةٍ كَانَ بَطَشَتْهَا يَدَاهُ مَعَ الْمَاءِ أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ فَإِذَا غَسَلَ رِجْلَيْهِ خَرَجَتْ كُلُّ خَطِيئَةٍ مَشَتْهَا رِجْلَاهُ مَعَ الْمَاءِ أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ حَتَّى يَخْرُجَ نَقِيًّا مِنْ الذُّنُوبِ Jika seorang hamba muslim atau mukmin berwudhu kemudian ia mencuci wajahnya, keluarlah dari wajahnya seluruh dosa karena penglihatan kedua matanya bersamaan dengan air atau akhir tetesan air. Jika ia mencuci kedua tangannya, keluarlah dari kedua tangannya setiap dosa yang dilakukan tangannya bersamaan dengan air atau tetesan air terakhir. Jika ia mencuci kedua tangannya keluarlah semua dosa yang dilakukan langkah kakinya bersamaan dengan air atau tetesan air terakhir, hingga ia keluar (dari berwudhu) dalam keadaan bersih dari dosa (H.R Muslim dari Abu Hurairah) 2⃣. Senantiasa menjaga wudhu salah satu tanda kesempurnaan iman. وَلاَ يُحَافِظُ عَلَى الْوُضُوءِ إِلاَّ مُؤْمِنٌ Dan tidaklah menjaga wudhu kecuali seorang mukmin (H.R Ahmad, Ibnu Majah, dishahihkan Ibnu Hibban dan al-Albany) 3⃣. Menyempurnakan wudhu di saat kondisi menyulitkan bisa menghapus dosa dan meningkatkan derajat seseorang. أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ فَذَلِكُمْ الرِّبَاطُ Maukah kalian aku tunjukkan pada hal-hal yang dengannya Allah hapus dosa-dosa dan mengangkat derajat. Para Sahabat berkata: Ya, wahai Rasulullah. Rasul bersabda: menyempurnakan wudhu pada saat kesulitan, memperbanyak jalan menuju masjid, menunggu sholat setelah sholat. Itu adalah ar-Ribaath (bagaikan berjaga di perbatasan dalam perang di jalan Allah)(H.R Muslim dari Abu Hurairah) 4⃣. Bekas air wudhu pada anggota tubuh akan menjadi tanda yang bercahaya pada hari kiamat sebagai tanda umat Muhammad shollallahu alaihi wasallam. فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ تَعْرِفُ مَنْ يَأْتِي بَعْدَكَ مِنْ أُمَّتِكَ قَالَ أَرَأَيْتَ لَوْ كَانَ لِرَجُلٍ خَيْلٌ غُرٌّ مُحَجَّلَةٌ فِي خَيْلٍ دُهْمٍ بُهْمٍ أَلَا يَعْرِفُ خَيْلَهُ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَإِنَّهُمْ يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنْ الْوُضُوءِ Para Sahabat bertanya: Wahai Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bagaimana engkau mengetahui orang yang datang setelahmu bahwa ia adalah umatmu? Rasul menyatakan: Bagaimana pendapatmu jika seseorang memiliki kuda yang putih pada bagian depan kepala dan kaki-kakinya berada di sekumpulan kuda yang hitam legam, tidakkah ia bisa mengenali kudanya? Para Sahabat berkata: Ya, wahai Rasulullah. Beliau bersabda: Sesungguhnya mereka (umatku) akan datang pada hari kiamat dalam keadaan putih (bersinar) pada bagian wajah, tangan dan kakinya karena wudhu’ (H.R Malik, anNasaai dari Abu Hurairah dishahihkan Ibnu Hibban dan al-Albany) ⤵️ Bersambung , In syaa Alloh ... 📚 Sumber : dari Buku " Fiqh Bersuci dan Sholat sesuai tuntunan Nabi " ▶️ Al Ustadz Abu Utsman Kharisman Hafidzahullah 📡 Turut Menyebarkan : ⏩
Show more ...
Sifat_Sholat_Nabi
"Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat sholatKu" (H.R. Bukhari) صلّوْ ا كما ر أيْتموْ نى أصلّي
3
0
TAYAMMUM 🔘 ❓Apa yang Dimaksud dengan Tayammum? ☑️ Jawab: Tayammum adalah bersuci dengan tanah/ debu jika tidak didapati atau tidak mampu menggunakan air sebagai pengganti wudhu’ dan mandi wajib.   ❓Dalam Kondisi Apa Saja Seseorang Bisa Bertayammum? ☑️ Jawab: 1⃣. Tidak didapati adanya air. فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا …kalian tidak menemukan air, maka bertayammumlah…(Q.S anNisaa’:43 dan al-Maidah:6) إِنَّ الصَّعِيدَ الطَّيِّبَ طَهُورُ الْمُسْلِمِ وَإِنْ لَمْ يَجِدِ الْمَاءَ عَشْرَ سِنِينَ فَإِذَا وَجَدَ الْمَاءَ فَلْيُمِسَّهُ بَشَرَتَهُ فَإِنَّ ذَلِكَ خَيْرٌ Sesungguhnya tanah yang baik (suci) adalah alat bersuci bagi seorang muslim jika ia tidak mendapatkan air (meski) sepuluh tahun. Jika ia mendapatkan air, maka sentuhlah kulitnya (dengan air) karena yang demikian itu lebih baik (H.R atTirmidzi dari Abu Dzar, dishahihkan al-Hakim, adz-Dzahaby, Ibnu Hibban, adDaraquthny, dan al-Albany) 2⃣. Jika ada air, namun air itu hanya cukup digunakan untuk keperluan minum atau memasak. Jika air digunakan, bisa menyebabkan mudharat seperti kehausan atau kelaparan bagi manusia atau hewan yang berharga (seperti hewan tunggangan). 3⃣. Jika menggunakan air menyebabkan seseorang bertambah sakit atau semakin lama kesembuhannya 4⃣. Jika seseorang sakit, tidak bisa bergerak untuk menuju air, dan tidak ada orang yang bisa mewudhu’kannya, serta khawatir waktu sholat akan habis. 5⃣. Jika takut kedinginan (bisa menimbulkan mudharat) untuk mandi junub dan tidak memungkinkan untuk memasak air (menghangatkannya).   Sebagaimana yang dilakukan oleh Sahabat Nabi Amr bin al-Ash di malam yang sangat dingin beliau junub kemudian beliau bertayammum. Hal itu tidak diingkari oleh Nabi. عَنْ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ احْتَلَمْتُ فِي لَيْلَةٍ بَارِدَةٍ فِي غَزْوَةِ ذَاتِ السُّلَاسِلِ فَأَشْفَقْتُ إِنْ اغْتَسَلْتُ أَنْ أَهْلِكَ فَتَيَمَّمْتُ ثُمَّ صَلَّيْتُ بِأَصْحَابِي الصُّبْحَ فَذَكَرُوا ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا عَمْرُو صَلَّيْتَ بِأَصْحَابِكَ وَأَنْتَ جُنُبٌ فَأَخْبَرْتُهُ بِالَّذِي مَنَعَنِي مِنْ الِاغْتِسَالِ وَقُلْتُ إِنِّي سَمِعْتُ اللَّهَ يَقُولُ { وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا } فَضَحِكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَمْ يَقُلْ شَيْئًا Dari Amr bin al-Ash beliau berkata: Aku mimpi basah pada suatu malam yang dingin pada (perjalanan) pertempuran Dzatu Sulaasil. Aku takut jika mandi bisa binasa. Maka aku bertayammum dan sholat Subuh bersama para Sahabatku. Kemudian aku menceritakan hal itu kepada Nabi shollallahu alaihi wasallam. Nabi berkata: Wahai Amr, engkau sholat dengan sahabat-sahabatmu dalam keadaan junub? Kemudian aku menceritakan hal yang menghalangiku untuk mandi. Aku berkata: Sesungguhnya aku mendengar Allah berfirman (yang artinya): <
Show more ...
Sifat_Sholat_Nabi
"Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat sholatKu" (H.R. Bukhari) صلّوْ ا كما ر أيْتموْ نى أصلّي
5
0
Lanjutan ... ⤴️ 📚 KEUTAMAN-KEUTAMAAN BERWUDHU' ✔️ 8⃣. Berwudhu secara sempurna kemudian berdoa setelahnya: “Asy-hadu an laa ilaaha illallaah wa anna muhammadan abdullahi wa rosuuluh”menyebabkan akan dibukakan pintu surga yang delapan (H.R Muslim – telah disebut haditsnya dalam pembahasan tentang sunnah dalam wudhu) 9⃣. Tidur malam dalam keadaan suci (setelah berwudhu) dan berdzikir sebelumnya memiliki beberapa keutamaan, di antaranya : 📌. Disertai Malaikat dalam tidurnya. 📌. Didoakan ampunan oleh para Malaikat. 📌. Jika bangun, dan berdoa kepada Allah, doanya mustajabah. 📌. Jika sebelumnya diiringi dengan doa khusus dari Nabi, dengan tidur miring pada sisi kanan, kemudian meninggal dalam keadaan itu, maka ia meninggal dalam keadaan fitrah.  لَيْسَ مِنْ عَبْدِ يَبِيْتُ طَاهِرًا إِلاَّ بَاتَ مَعَهُ فِي شِعَارِهِ مَلَكٌ لاَ يَنْقَلِبُ سَاعَةً مِنَ اللَّيْلِ إِلاَّ قَالَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعَبْدِكَ فَإِنَّهُ بَاتَ طَاهِرًا Tidaklah seorang hamba tidur malam dalam keadaan suci kecuali akan bermalam pada bajunya satu Malaikat, sehingga tidaklah ia membalikkan tubuhnya di waktu malam kecuali Malaikat itu berdoa: Ya Allah ampunilah hambaMu ini karena sesungguhnya ia tidur malam dalam keadaan suci (H.R atThobarony dari Ibnu Abbas dinyatakan sanadnya jayyid oleh al-Mundziri, dinyatakan hasan li ghoirihi oleh al-Albany)  مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَبِيتُ عَلَى ذِكْرٍ طَاهِرًا فَيَتَعَارُّ مِنَ اللَّيْلِ فَيَسْأَلُ اللَّهَ خَيْرًا مِنَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ Tidaklah seorang muslim tidur malam dalam keadaan berdzikir dan suci kemudian bangun di waktu malam kemudian meminta kepada Allah kebaikan di dunia dan akhirat kecuali Allah berikan kepadanya (H.R Abu Dawud, anNasaai dari Muadz bin Jabal, dishahihkan al-Albany. Abu Dzhobyah dinyatakan oleh al-Hafidz sebagai maqbuul, namun hal ini perlu dikaji lagi karena Ibnu Ma’in dan al-Mundziri mentsiqohkannya sedangkan tidak ada Ulama lain yang men-jarh dirinya, sebagaimana penjelasan Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad). إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلَاةِ ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الْأَيْمَنِ ثُمَّ قُلْ اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ اللَّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ فَإِنْ مُتَّ مِنْ لَيْلَتِكَ فَأَنْتَ عَلَى الْفِطْرَةِ وَاجْعَلْهُنَّ آخِرَ مَا تَتَكَلَّمُ بِهِ Jika engkau mendatangi tempat tidurmu kemudian berwudhu sebagaimana wudhu dalam sholat kemudian berbaring pada sisi kanan kemudian berdoa: Allaahumma aslamtu wajhii ilaik wa fawwadltu amrii ilayk, wa alja’tu dzhohrii ilayk raghbatan wa rahbatan ilaik laa malja-a wa laa manjaa minka illaa ilayk. Allaahumma aamantu bi kitaabikalladzii anzalta wa bi nabiyyikalladzii arsalta. Jika engkau meninggal di malam itu, maka engkau mati dalam keadaan fitrah. Jadikanlah itu sebagai bacaan terakhir sebelum tidur (H.R al-Bukhari dan Muslim dari al-Bara’ bin Azib) 📚 Sumber : dari Buku " Fiqh Bersuci dan Sholat sesuai tuntunan Nabi " ▶️ Al Ustadz Abu Utsman Kharisman Hafidzahullah 📡 Turut Menyebarkan : ⏩
Show more ...
Sifat_Sholat_Nabi
"Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat sholatKu" (H.R. Bukhari) صلّوْ ا كما ر أيْتموْ نى أصلّي
3
0
Lanjutan ... ⤵️ 📚 MENGUSAP KHUF DALAM WUDHU' ✔️ ❓ Apakah Ada Batasan Waktu Bolehnya Mengusap Khuf tersebut? ☑️ Jawab: Ya, ada batasan waktunya. Untuk orang yang tidak safar (mukim) waktunya sehari semalam. Sedangkan untuk yang safar, waktunya adalah 3 hari 3 malam. عَنْ شُرَيْحِ بْنِ هَانِئٍ قَالَ أَتَيْتُ عَائِشَةَ أَسْأَلُهَا عَنِ الْمَسْحِ عَلَى الْخُفَّيْنِ فَقَالَتْ عَلَيْكَ بِابْنِ أَبِي طَالِبٍ فَسَلْهُ فَإِنَّهُ كَانَ يُسَافِرُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلْنَاهُ فَقَالَ جَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ وَلَيَالِيَهُنَّ لِلْمُسَافِرِ وَيَوْمًا وَلَيْلَةً لِلْمُقِيمِ Dari Syuraih bin Hani’ beliau berkata: Aku mendatangi Aisyah –radhiyallahu ‘anha- bertanya kepada beliau tentang mengusap dua khuf. Beliau berkata: Datangilah Ali bin Abi Thalib dan bertanyalah kepadanya karena ia pernah safar bersama Rasulullah shollallahu alaihi wasallam. Kemudian kamipun bertanya kepada beliau. Ali berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam menjadikan (batas waktunya) adalah 3 hari 3 malam untuk musafir dan sehari semalam untuk orang yang mukim (tidak safar)(H.R Muslim)  Hitungannya adalah sejak mulai mengusap pertama kali, sebagaimana dijelaskan oleh anNawawy dalam al-Majmu’ Syarhul Muhadzdab dan dikuatkan juga oleh Syaikh Ibn Utsaimin.   Setelah lewat waktunya, pada saat berwudhu’ khuf harus dilepas dan kaki dicuci. Kemudian setelah itu khuf kembali boleh dipakai saat kondisi suci, pada saat akan berwudhu’ berikutnya selama khuf belum dilepas, bisa mengusap di atas khuf lagi.  ❓ Apakah Ketika Akan Mengusap Khuf tersebut Kita Mengambil Air Tersendiri? ☑️ Jawab: Tidak perlu. Dinamakan mengusap, cukup menggunakan sisa air yang masih ada pada telapak tangan. Tidak perlu mengambil/ menciduk air baru. Kecuali jika tangan sudah benar-benar kering, cukup dibasahi sedikit.   ❓ Apa Dalil yang Menunjukkan Syarat Harus Dalam Kondisi Suci pada Saat Akan Memakainya? ☑️ Jawab: عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الْمُغِيرَةِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كُنْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ فَأَهْوَيْتُ لِأَنْزِعَ خُفَّيْهِ فَقَالَ دَعْهُمَا فَإِنِّي أَدْخَلْتُهُمَا طَاهِرَتَيْنِ فَمَسَحَ عَلَيْهِمَا Dari Urwah bin al-Mughiroh dari ayahnya beliau berkata: Saya bersama Nabi shollallahu alaihi wasallam dalam salah satu safar. Kemudian (ketika berwudhu’ dan tiba waktu akan mencuci kaki), aku condongkan tubuhku untuk membantu melepaskan sepatu beliau, namun beliau berkata: Biarkanlah (jangan dilepas), karena aku mengenakan keduanya dalam keadaan suci. Kemudian beliau mengusap di atas keduanya (H.R al-Bukhari dan Muslim)  ✔️ Artinya, seseorang yang akan memakai khuf, dan ingin mengusap khufitu saat berwudhu’ berikutnya, harus sudah berwudhu’ dulu dengan wudhu’ sempurna (termasuk mencuci kaki), kemudian barulah ia kenakan khuf itu pada saat sudah suci dari hadats. Nantinya, selama ia memakai khuf tersebut, dan berhadats, pada saat berwudhu’ tidak perlu lagi melepasnya. Cukup mengusap di atas kedua khuf itu jika berwudhu’. Tidak harus mencuci kedua kakinya.  Bersambung , In syaa Alloh ... ⤵️ 📚 Sumber : dari Buku " Fiqh Bersuci dan Sholat sesuai tuntunan Nabi " ▶️ Al Ustadz Abu Utsman Kharisman Hafidzahullah 📡 Turut Menyebarkan : ⏩
Show more ...
Sifat_Sholat_Nabi
"Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat sholatKu" (H.R. Bukhari) صلّوْ ا كما ر أيْتموْ نى أصلّي
3
0
Lanjutan .... ⤴️ 📚 KEUTAMAAN-KEUTAMAAN BERWUDHU' ✔️ 5⃣. Berwudhu dengan menghirup air dan mengeluarkannya 3 kali setelah bangun tidur bisa mengusir syaithan yang mendekam dalam rongga hidung إِذَا اسْتَيْقَظَ أُرَاهُ أَحَدُكُمْ مِنْ مَنَامِهِ فَتَوَضَّأَ فَلْيَسْتَنْثِرْ ثَلَاثًا فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَبِيتُ عَلَى خَيْشُومِهِ Jika salah seorang dari kalian bangun dari tidurnya kemudian berwudhu, hendaknya mengeluarkan air dari hidung sebanyak 3 kali karena syaithan bermalam di rongga hidungnya (H.R al-Bukhari dari Abu Hurairah) 6⃣. Barangsiapa yang berwudhu secara sempurna kemudian sholat dua rokaat secara khusyu’ maka diampuni dosanya dan baginya surga. عَنْ حُمْرَانَ مَوْلَى عُثْمَانَ أَخْبَرَهُ أَنَّ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ دَعَا بِوَضُوءٍ فَتَوَضَّأَ فَغَسَلَ كَفَّيْهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ مَضْمَضَ وَاسْتَنْثَرَ ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ الْيُمْنَى إِلَى الْمِرْفَقِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ الْيُسْرَى مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ مَسَحَ رَأْسَهُ ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَهُ الْيُمْنَى إِلَى الْكَعْبَيْنِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ غَسَلَ الْيُسْرَى مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا ثُمَّ قَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ لَا يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ dari Humran maula Utsman bahwasanya Utsman bin Affan radhiyallahu anhu meminta diambilkan air wudhu kemudian beliau berwudhu mencuci kedua telapak tangannya 3 kali kemudian berkumur-kumur dan (menghirup serta) mengeluarkan air dari hidung kemudian mencuci wajahnya 3 kali kemudian mencuci tangan kanan hingga siku 3 kali kemudian mencuci tangan kiri hingga siku 3 kali seperti itu kemudian mengusap kepala kemudian mencuci (telapak) kaki kanan hingga matakaki 3 kali kemudian mencuci (telapak) kaki kiri seperti itu 3 kali. Kemudian Utsman berkata: Saya melihat Rasulullah shollallahu alaihi wasallam berwudhu seperti wudhu saya ini kemudian beliau bersabda: Barangsiapa yang berwudhu seperti wudhuku ini kemudian bangkit sholat dua rokaat dengan khusyu maka akan diampuni dosanya yang telah lalu (H.R al-Bukhari dan Muslim)  مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَتَوَضَّأُ فَيُحْسِنُ وُضُوءَهُ ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ مُقْبِلٌ عَلَيْهِمَا بِقَلْبِهِ وَوَجْهِهِ إِلَّا وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ Tidaklah seorang muslim berwudhu kemudian menyempurnakan wudhunya kemudian bangkit melakukan sholat dua rokaat menghadapkan wajah dan hatinya (kepada Allah) kecuali wajib baginya surga (H.R Muslim dari Uqbah bin Amir)  7⃣. Berwudhu dan membiasakan sholat sunnah setelahnya adalah amalan penduduk surga (Bilal bin Rabah)  عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِبِلَالٍ عِنْدَ صَلَاةِ الْفَجْرِ يَا بِلَالُ حَدِّثْنِي بِأَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ فِي الْإِسْلَامِ فَإِنِّي سَمِعْتُ دَفَّ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ فِي الْجَنَّةِ قَالَ مَا عَمِلْتُ عَمَلًا أَرْجَى عِنْدِي أَنِّي لَمْ أَتَطَهَّرْ طَهُورًا فِي سَاعَةِ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ إِلَّا صَلَّيْتُ بِذَلِكَ الطُّهُورِ مَا كُتِبَ لِي أَنْ أُصَلِّيَ Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Nabi shollallahu alaihi wasallam berkata kepada Bilal pada saat sholat Subuh: Wahai Bilal sampaikan kepadaku amalan yang paling kau harapkan dalam Islam yang kau lakukan karena aku mendengar suara sandalmu di depanku di surga. Bilal berkata: Tidaklah aku melakukan suatu amalan yang paling aku harapkan, (kecuali) saat aku berwudhu pada siang atau malam kecuali aku sholat sesuai dengan yang mampu aku lakukan dengan wudhu itu (H.R al-Bukhari dan Muslim) Bersambung , In syaa Alloh ... ⤵️ 📚 Sumber : dari Buku " Fiqh Bersuci dan Sholat sesuai tuntunan Nabi " ▶️ Al Ustadz Abu Utsman Kharisman Hafidzahullah 📡 Turut Menyebarkan : ⏩
Show more ...
Sifat_Sholat_Nabi
"Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat sholatKu" (H.R. Bukhari) صلّوْ ا كما ر أيْتموْ نى أصلّي
3
0
PEMBATAL-PEMBATAL WUDHU' ✔️ Apa saja perbuatan (amalan ibadah) yang menyebabkan seseorang diharuskan berwudhu’? ☑️ Jawab: Amalan ibadah yang harus dilaksanakan dalam kondisi seseorang suci dari hadats (besar atau kecil) adalah: 1⃣. Sholat لَا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلَاةَ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ Allah tidak menerima sholat seseorang jika berhadats sampai dia berwudhu’ (H.R alBukhari no 6440 dari Abu Hurairah) 2⃣. Thowaf di Baitullah الطَّوَافُ بِالْبَيْتِ بِمَنْزِلَةِ الصَّلَاةِ، إِلَّا أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَلَّ فِيهِ الْمِنْطَقَ، فَمَنْ نَطَقَ فَلَا يَنْطِقْ إِلَّا بِخَيْرٍ Thowaf di Baitullah (al-Ka’bah) adalah seperti sholat. Kecuali sesungguhnya Allah menghalalkan berbicara di dalamnya. Barangsiapa berbicara, janganlah berbicara kecuali kebaikan (H.R al-Hakim dalam Shahihnya dari Ibnu Abbas, dinyatakan oleh al-Hakim bahwa hadits ini shahih dan sesuai syarat Muslim, disepakati adz-Dzahaby) 3⃣. Memegang/ menyentuh mushaf al-Quran لَا تَمَسَّ الْقُرْآنَ إِلَّا وَأَنْتَ طَاهِرٌ Janganlah menyentuh al-Quran kecuali engkau dalam keadaan suci (H.R al-Hakim, dishahihkannya dan disepakati oleh adz-Dzahaby, Ibnul Mulaqqin, al-Munawy).   ℹ️ Larangan menyentuh mushaf al-Quran bagi orang yang berhadats (baik kecil ataupun besar) adalah pendapat dari Jumhur (mayoritas) Ulama’ dan didukung oleh Syaikh Bin Baz (Majmu’ Fataawa Bin Baaz (4/384-384)).  📚 Sumber : dari Buku " Fiqh Bersuci dan Sholat sesuai tuntunan Nabi " ▶️ Al Ustadz Abu Utsman Kharisman Hafidzahullah 📡 Turut Menyebarkan : ⏩
Show more ...
Sifat_Sholat_Nabi
"Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat sholatKu" (H.R. Bukhari) صلّوْ ا كما ر أيْتموْ نى أصلّي
2
0
BAB PEMBATAL-PEMBATAL WUDHU' ✔️ ❓Apa yang harus dilakukan seseorang yang berhadats terus menerus? ☑️ Jawab: Jika seseorang berhadats terus menerus karena penyakit, seperti selalu mengeluarkan air kencing, atau selalu buang angin, maka hukumnya sama seperti wanita yang istihadhah. Hendaknya ia berwudhu’ setiap masuk waktu sholat, kemudian silakan sholat wajib dan sunnah yang mampu dikerjakan dengan wudhu’ itu, jangan pedulikan hadats yang menimpanya karena hal itu adalah penyakit. Jika masuk waktu sholat berikutnya, ia harus berwudhu’ lagi.   Jika hadats itu adalah sesuatu hal yang najis, seperti kencing, hendaknya ia gunakan suatu penghalang semacam pembalut atau semisalnya sehingga tidak mengenai pakaiannya, dan hendaknya ia berusaha untuk mencari pengobatan yang tidak bertentangan dengan syar’i untuk berusaha menyembuhkan penyakitnya tersebut. Demikian dijelaskan oleh para Ulama di antaranya Syaikh Ibn Utsaimin.  ❓Apakah Seseorang yang Batal Wudhu’nya Harus Beristinja’? ☑️ Jawab: Istinja’ hanya disyariatkan jika seseorang kencing (juga keluar madzi atau wadi) atau buang air besar. Adapun batal wudhu’ karena sebab yang lain tidak perlu beristinja’, sebagaimana difatwakan Syaikh Bin Baz (Fataawa Islaamiyyah (1/259)), demikian juga Fatwa al-Lajnah ad-Daimah.  📚 Sumber : dari Buku " Fiqh Bersuci dan Sholat sesuai tuntunan Nabi " ▶️ Al Ustadz Abu Utsman Kharisman Hafidzahullah 📡 Turut Menyebarkan : ⏩
Show more ...
Sifat_Sholat_Nabi
"Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat sholatKu" (H.R. Bukhari) صلّوْ ا كما ر أيْتموْ نى أصلّي
3
0
PEMBATAL-PEMBATAL WUDHU' ✔️ Apa saja perbuatan yang menyebabkan seseorang disunnahkan untuk berwudhu’? ☑️ Jawab: Seseorang yang beribadah kepada Allah sebaiknya dalam kondisi suci dari hadats besar dan kecil. Walaupun dalam ibadah-ibadah tertentu, tidak dipersyaratkan harus suci hadats besar dan kecil, namun sebaiknya seseorang yang mendekatkan diri kepada Allah sebaiknya dalam kondisi tidak berhadats.  ▶️ Contoh beberapa amal ibadah yang sebaiknya dilakukan dalam keadaan tidak berhadats: 1⃣. Setelah selesai dari ikut memanggul jenazah. مَنْ غَسَّلَ الْمَيِّتَ فَلْيَغْتَسِلْ وَمَنْ حَمَلَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ Barangsiapa yang memandikan jenazah hendaknya mandi, dan barangsiapa yang memanggulnya, maka hendaknya berwudhu’ (H.R Abu Dawud dan Ahmad dari Abu Hurairah) 2⃣. Menyentuh kemaluan. مَنْ مَسَّ ذَكَرَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ Barangsiapa yang menyentuh kemaluannya, hendaknya ia berwudhu’ (H.R Abu Dawud dan Ahmad dari Busroh bintu Shofwan)  Perintah berwudhu’ ketika menyentuh kemaluan ini adalah sunnah, bukan kewajiban. Karena dalam hadits lain, Nabi ditanya apakah seseorang yang menyentuh kemaluannya harus berwudhu’? Nabi menjawab bahwa itu hanyalah bagian dari anggota tubuhnya (tidak wajib berwudhu’) جَاءَ رَجُلٌ كَأَنَّهُ بَدَوِيٌّ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا تَرَى فِي رَجُلٍ مَسَّ ذَكَرَهُ فِي الصَّلَاةِ قَالَ وَهَلْ هُوَ إِلَّا مُضْغَةٌ مِنْكَ أَوْ بَضْعَةٌ مِنْكَ Datang seorang laki-laki sepertinya ia adalah dari pedalaman. Ia berkata: Wahai Rasulullah bagaimana pendapat anda tentang seorang laki-laki yang menyentuh kemaluannya dalam sholat? Nabi bersabda: Bukankah itu adalah bagian dari anggota tubuhmu? (H.R anNasaai dishahihkan Ibn Hibban) 3⃣. Mengumandangkan adzan dan iqomah. 4⃣. Sujud tilawah dan sujud syukur. 5⃣. Ketika akan tidur مَنْ بَاتَ طَاهِرًا بَاتَ فِي شِعَارِهِ مَلَكٌ ، لاَ يَسْتَيْقِظُ سَاعَةً مِنْ لَيْلٍ ، إِلاَّ قَالَ الْمَلَكُ : اللهمَّ اغْفِرْ لِعَبْدِكَ فُلاَنٍ ، فَإِنَّهُ بَاتَ طَاهِرًا Barangsiapa yang tidur (malam) dalam keadaan suci, satu Malaikat akan bermalam pada rambutnya. Tidaklah ia bangun pada waktu malam kecuali Malaikat itu berdoa: Ya Allah ampunilah Fulaan, karena ia tidur (malam) dalam keadaan suci (H.R Ibnu Hibban dari Ibnu Umar, dishahihkan al-Albany dalam as-Shahihah)  Segala bentuk ibadah sebaiknya dalam kondisi suci dari hadats jika mampu. Sikap tersebut bagian dari memulyakan syiar Allah, dan merupakan tanda ketakwaan. ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ Yang demikian itu, barangsiapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah maka itu termasuk ketakwaan dalam hati (Q.S al-Hajj:32)  📚 Sumber : dari Buku " Fiqh Bersuci dan Sholat sesuai tuntunan Nabi " ▶️ Al Ustadz Abu Utsman Kharisman Hafidzahullah 📡 Turut Menyebarkan : ⏩
Show more ...
Sifat_Sholat_Nabi
"Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat sholatKu" (H.R. Bukhari) صلّوْ ا كما ر أيْتموْ نى أصلّي
2
0
BAB PEMBATAL-PEMBATAL WUDHU' ✔️ ❓Apakah Semua Bentuk Tidur Membatalkan Wudhu’? ☑️ Jawab: Tidak semua tidur membatalkan wudhu’. Tidur yang membatalkan wudhu’ adalah tidur nyenyak sehingga menghilangkan kesadaran penuh. Sehingga apabila mereka berhadats dalam kondisi tidur seperti itu mereka tidak bisa merasakan. Tidur semacam ini membatalkan wudhu’.   💡Sedangkan tidur yang ringan tidaklah membatalkan wudhu’. Para Sahabat Nabi pernah tertidur saat menunggu datangnya Nabi untuk menjadi Imam dalam sholat Isya’, namun mereka kemudian langsung sholat tanpa berwudhu’ lagi. عَنْ أَنَسٍ قَالَ كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْتَظِرُونَ الْعِشَاءَ الْآخِرَةَ حَتَّى تَخْفِقَ رُءُوسُهُمْ ثُمَّ يُصَلُّونَ وَلَا يَتَوَضَّئُونَ Dari Anas -radhiyallahu anhu- beliau berkata: Para Sahabat Rasulullah shollallahu alaihi wasallam menunggu sholat Isya’ akhir sampai terangguk-angguk kepala mereka kemudian mereka sholat dan tidak berwudhu’ (H.R Abu Dawud dan ad-Daraquthny, dishahihkan oleh ad-Daraquthny)  ℹ️ Pendapat yang merinci jenis tidur tersebut adalah pendapat al-Imam Malik dan salah satu riwayat pendapat al-Imam Ahmad. Pendapat ini juga didukung oleh Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah, Syaikh Bin Baz dan Syaikh Ibnu Utsaimin.  👉 Intinya, tidur yang menghilangkan kesadaran sehingga jika berhadats dalam tidur tidak terasa, menyebabkan batal wudhu’. Tidak peduli apakah posisi tidurnya berdiri, berbaring, atau duduk.  Tidur sendiri bukanlah sesuatu yang membatalkan wudhu’, namun tidur adalah kondisi yang tidak bisa dijaga seseorang mengalami hadats. Sebagaimana dinyatakan dalam hadits: الْعَيْنُ وِكَاءُ السَّهِ فَمَنْ نَامَ فَلْيَتَوَضَّأْ Mata adalah pengikat dubur, barangsiapa yang tidur hendaknya berwudhu’ (H.R Abu Dawud, Ibnu Majah, dihasankan oleh anNawawy, al-Mundziri, Ibnus Sholah, al-Albany dan Ibn Baz)  📚 Sumber : dari Buku " Fiqh Bersuci dan Sholat sesuai tuntunan Nabi " ▶️ Al Ustadz Abu Utsman Kharisman Hafidzahullah 📡 Turut Menyebarkan : ⏩
Show more ...
Sifat_Sholat_Nabi
"Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat sholatKu" (H.R. Bukhari) صلّوْ ا كما ر أيْتموْ نى أصلّي
2
0
BAB PEMBATAL-PEMBATAL WUDHU' ✔️ ❓Apakah Menyentuh Wanita Membatalkan Wudhu? ☑️ Jawab: Sekedar menyentuh, tidaklah membatalkan wudhu’. Al-Quran menggunakan kata ‘menyentuh’ yang artinya adalah bersetubuh. ...أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا …atau kalian ‘menyentuh’ para wanita, kemudian tidak mendapati air, hendaknya bertayammum dengan tanah yang baik…(Q.S anNisaa’:43)  Makna ‘menyentuh’ dalam ayat tersebut bukan sekedar menyentuh kulit satu sama lain. Tapi, maknanya adalah bersetubuh. Sebagaimana dijelaskan oleh Sahabat Nabi Ibnu Abbas (Tafsir Ibnu Katsir (2/314)). Nabi shollallahu alaihi wasallam pernah dalam keadaan berwudhu’ mencium istrinya kemudian langsung berangkat sholat tanpa harus berwudhu’ lagi. عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبَّلَ امْرَأَةً مِنْ نِسَائِهِ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ وَلَمْ يَتَوَضَّأْ dari Aisyah radhiyallahu anha bahwasanya Nabi shollallahu alaihi wasallam mencium sebagian istrinya kemudian keluar menuju sholat tidak berwudhu’ (lagi)(H.R Abu Dawud)  👉 Meski tidak membatalkan wudhu, namun sengaja menyentuh wanita yang bukan mahram tanpa ada keperluan yang darurat adalah berdosa. لَأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ أَحَدِكُمْ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لَا تَحِلُّ لَهُ Seandainya kepala salah seorang dari kalian diusuk dengan jarum dari besi lebih baik baginya dibandingkan menyentuh wanita yang tidak halal baginya (bukan mahram)(H.R atThobarony, dinyatakan oleh al-Haiytsamy bahwa para perawinya adalah perawi-perawi yang shahih, dinyatakan sanadnya shahih oleh al-Munawy).  Termasuk juga berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahram adalah terlarang. Manusia yang paling suci hatinya, Rasulullahshollallahu alaihi wasallam tidak pernah berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahram, sekalipun untuk perbuatan yang sangat penting, yaitu baiat.  Umaimah bintu Ruqoiqoh radhiyallahu anha pernah menyatakan: جِئْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي نِسْوَةٍ نُبَايِعُهُ فَقَالَ لَنَا فِيمَا اسْتَطَعْتُنَّ وَأَطَقْتُنَّ إِنِّي لَا أُصَافِحُ النِّسَاءَ Saya mendatangi Nabi shollallahu alaihi wasallam bersama sekelompok wanita yang akan berbaiat pada beliau. Maka Nabi bersabda kepada kami: sesuai dengan kemampuan kalian. Aku tidaklah berjabat tangan dengan para wanita (H.R anNasaai, Ibnu Majah dishahihkan Ibn Hibban dan al-Albany)  📚 Sumber : dari Buku " Fiqh Bersuci dan Sholat sesuai tuntunan Nabi " ▶️ Al Ustadz Abu Utsman Kharisman Hafidzahullah 📡 Turut Menyebarkan : ⏩
Show more ...
Sifat_Sholat_Nabi
"Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat sholatKu" (H.R. Bukhari) صلّوْ ا كما ر أيْتموْ نى أصلّي
2
0
✅ BAB : 🚰 WUDHU' ☑️ ❓Apakah Hukum Tasmiyah (Mengucapkan Bismillah) pada saat Berwudhu’? ✔️Jawab : Sunnah muakkadah. Tidak sampai pada taraf wajib, karena dalam surat alMaidah ayat 6 Allah tidak menyebutkan kewajiban tasmiyah. Demikian juga, ketika Nabi ditanya oleh seorang Arab Badui tentang wudhu’, beliau mengajarkannya dan tidak menyebutkan tasmiyah di awal. أَنَّ رَجُلًا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ الطُّهُورُ فَدَعَا بِمَاءٍ فِي إِنَاءٍ فَغَسَلَ كَفَّيْهِ ثَلَاثًا ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلَاثًا ثُمَّ غَسَلَ ذِرَاعَيْهِ ثَلَاثًا ثُمَّ مَسَحَ بِرَأْسِهِ فَأَدْخَلَ إِصْبَعَيْهِ السَّبَّاحَتَيْنِ فِي أُذُنَيْهِ وَمَسَحَ بِإِبْهَامَيْهِ عَلَى ظَاهِرِ أُذُنَيْهِ وَبِالسَّبَّاحَتَيْنِ بَاطِنَ أُذُنَيْهِ ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ ثَلَاثًا ثَلَاثًا ثُمَّ قَالَ هَكَذَا الْوُضُوءُ فَمَنْ زَادَ عَلَى هَذَا فَقَدْ أَسَاءَ وَظَلَمَ Sesungguhnya seorang laki-laki datang kepada Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam dan berkata Wahai Rasulullah, bagaimana cara bersuci (wudhu’)? Kemudian Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam meminta bejana berisi air wudhu’ kemudian mencuci kedua telapak tangannya 3 kali, kemudian mencuci wajahnya 3 kali, kemudian mencuci kedua tangan hingga siku 3 kali, kemudian mengusap kepalanya, kemudian memasukkan dua jari telunjuk pada kedua telinga dan mengusap bagian luar atas telinga dengan ibu jarinya dan bagian dalam telinga dengan jari telunjuknya, kemudian mencuci kedua kaki tiga kali tiga kali. Selanjutnya beliau bersabda: Demikianlah wudhu’, barangsiapa yang menambahnya maka ia telah salah dan dzhalim (H.R Abu Dawud, anNasaai, Ibnu Majah, dishahihkan oleh Ibnul Mulaqqin) Hadits-hadits tentang mengucap bismillah dalam wudhu’ meski masing-masing jalur ada unsur kelemahan, namun bisa saling menguatkan satu sama lain karena banyaknya jalur periwayatan, sebagaimana dijelaskan oleh al-Mundziri (atTarghiib wat Tarhiib (1/100) ❓Seseorang yang berwudhu’ namun di Dalam Kamar Mandi, Apakah Tetap Mengucapkan Tasmiyah (Bismillah)? ✔️Jawab : Hendaknya mengucapkan bismillah dalam hati tidak diucapkan dengan lisan (Fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin) 📚 Dikutip dari Buku " FIQH BERSUCI DAN SHOLAT SESUAI TUNTUNAN NABI " ▶️ Al Ustadz Abu Utsman Kharisman Hafidzahullah 📡 Turut Menyebarkan : ⏩
Show more ...
Sifat_Sholat_Nabi
"Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat sholatKu" (H.R. Bukhari) صلّوْ ا كما ر أيْتموْ نى أصلّي
2
0
PEMBATAL-PEMBATAL WUDHU' ✔️ ❓Seseorang yang terkena najis pada tubuh atau pakaiannya, apakah secara otomatis wudhu’nya batal?  ☑️ Jawab : Tidak batal, karena yang membatalkan wudhu’ adalah hadats, bukan najis. Najis tetap harus dibersihkan, namun tidak membatalkan wudhu’ (sebagaimana fatwa Syaikh Sholih alFauzan). Sebagai contoh, seseorang yang telah berwudhu’ kakinya menginjak genangan cairan air kencing kucing. Maka ia cukup mencuci kakinya dan kemudian sholat, tanpa harus mengulang wudhu’.  ❓Jika seseorang yang sebelumnya telah berwudhu’ namun ia ragu apakah sudah batal atau belum. Apa yang harus dilakukan? ☑️ Jawab: Jika seseorang ragu apakah ia sudah batal atau belum, maka hendaknya mendasarkan atas sesuatu yang meyakinkan. Hal yang meyakinkan adalah ia sudah berwudhu’ sedangkan batalnya wudhu’ adalah berdasarkan sesuatu yang meragukan. Maka hendaknya ia memilih bahwa ia masih dalam kondisi suci (tidak batal).  Sebaliknya, jika ia yakin bahwa wudhu’nya batal, namun ragu apakah ia telah berwudhu’ atau belum, maka hendaknya ia memilih keyakinan bahwa ia belum berwudhu’. Karena kondisi ia berwudhu’ didasarkan atas sesuatu hal yang meragukan.  ✅ Kaidahnya adalah: hal yang meragukan tidak bisa mengalahkan sesuatu yang meyakinkan. Landasan kaidah ini adalah hadits: عَنْ سَعِيدٍ وَعَبَّادِ بْنِ تَمِيمٍ عَنْ عَمِّهِ شُكِيَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّجُلُ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهُ يَجِدُ الشَّيْءَ فِي الصَّلَاةِ قَالَ لَا يَنْصَرِفُ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيحًا Dari Said dan Abbad bin Tamim dari pamannya bahwa telah diadukan kepada Nabi shollallahu alaihi wasallam tentang seseorang yang terganggu pada pikirannya seakan-akan ia mengalami sesuatu (batal) dalam sholatnya. Nabi bersabda: Janganlah ia berpaling (menghentikan sholat) hingga ia mendengar suara atau mendapati bau (H.R al-Bukhari dan Muslim, lafadz riwayat Muslim no 540)  👉 Artinya, janganlah membatalkan sholat hingga mendapatkan sesuatu yang meyakinkan bahwa ia membatalkan sholat. Hal ini juga berlaku untuk masalah wudhu’. Tidaklah wudhu’ menjadi batal kecuali dengan sesuatu yang meyakinkan membatalkan wudhu’.  📚 Sumber : dari Buku " Fiqh Bersuci dan Sholat sesuai tuntunan Nabi " ▶️ Al Ustadz Abu Utsman Kharisman Hafidzahullah 📡 Turut Menyebarkan : ⏩
Show more ...
Sifat_Sholat_Nabi
"Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat sholatKu" (H.R. Bukhari) صلّوْ ا كما ر أيْتموْ نى أصلّي
2
0
PEMBATAL-PEMBATAL WUDHU' ✔️  ❓Apa sajakah pembatal-pembatal wudhu’? ☑️ Jawab : Seseorang yang mengalami hal-hal yang membatalkan wudhu’ disebut mengalami hadats kecil. 🔘 Pembatal-pembatal wudhu’ : 1⃣. Keluarnya sesuatu dari 2 jalan (dubur dan kemaluan) seperti: a. Kencing dan kotoran manusia ...أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ... …atau ketika kalian baru keluar dari kamar kecil (untuk buang air)…(Q.S al-Maidah:6) b. Mani. Mengeluarkan mani secara memancar berarti hadats besar dan mengharuskan mandi janabah. Para Ulama’ menjelaskan bahwa segala hal yang mengharuskan mandi adalah membatalkan wudhu’ c. Madzi Nabi memerintahkan kepada Ali yang bertanya melalui al-Miqdad bin al-Aswad untuk berwudhu’, jika mengeluarkan madzi. عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ قَالَ كُنْتُ رَجُلًا مَذَّاءً فَأَمَرْتُ الْمِقْدَادَ بْنَ الْأَسْوَدِ أَنْ يَسْأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلَهُ فَقَالَ فِيهِ الْوُضُوءُ Dari Ali bin Abi Thalib -radhiyallahu anhu- beliau berkata: Saya adalah seseorang yang sering mengeluarkan madzi. Kemudian aku perintahkan kepada al-Miqdad bin al-Aswad untuk bertanya kepada Nabi shollallahu alaihi wasallam. Ia pun bertanya kepada Nabi, dan Nabi bersabda: itu (menyebabkan harus) berwudhu’ (H.R al-Bukhari no 129) d. Wadi, hukumnya sama dengan kencing. Membatalkan wudhu’. e. Angin dari dubur  عَنْ هَمَّامِ بْنِ مُنَبِّهٍ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُقْبَلُ صَلَاةُ مَنْ أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ قَالَ رَجُلٌ مِنْ حَضْرَمَوْتَ مَا الْحَدَثُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ فُسَاءٌ أَوْ ضُرَاطٌ Dari Hammam bin Munabbih bahwasanya ia mendengar Abu Hurairah berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda: Tidaklah diterima sholat seseorang yang berhadats hingga ia berwudhu’. Kemudian seseorang laki-laki dari Hadhramaut bertanya: Apa yang dimaksud dengan hadats itu wahai Abu Hurairah? Abu Hurairah menjawab: buang angin yang tidak berbunyi ataupun berbunyi (H.R al-Bukhari no 132)  f. Darah istihadhah pada wanita Darah istihadhah adalah darah penyakit. Ciri fisik darahnya berbeda dengan ciri fisik pada darah haid. Hukumnya juga berbeda dengan hukum darah haid. Darah istihadhah mirip darah akibat luka sehingga berwarna merah segar. Wanita yang mengeluarkan darah istihadhah, ia harus berwudhu’ pada setiap waktu sholat. Misalkan, masuk waktu Dzhuhur, maka ia harus berwudhu’, kemudian sholat Dzhuhur beserta sholat-sholat sunnah lain dengan wudhu’ itu. Jika masuk waktu Ashar ia harus berwudhu’ lagi. Masuk waktu Maghrib ia berwudhu’ lagi, demikian seterusnya. Sebagaimana perintah Nabi kepada Fathimah bintu Abi Hubaisy yang mengalami istihadhah untuk berwudhu’ setiap masuk waktu sholat (H.R al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah)  📚 Sumber : dari Buku " Fiqh Bersuci dan Sholat sesuai tuntunan Nabi " ▶️ Al Ustadz Abu Utsman Kharisman Hafidzahullah ⤵️ Bersambung ..... 📡 Turut Menyebarkan : ⏩
Show more ...
Sifat_Sholat_Nabi
"Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat sholatKu" (H.R. Bukhari) صلّوْ ا كما ر أيْتموْ نى أصلّي
2
0
════════════════════ 🍂 FAIDAH ILMIYAH 🍂 ════════════════════ ✋🏻🤚🏻🕋🕌 HIKMAH SEDEKAP DALAM SHALAT 📝 Al Imam Ahmad رحمه الله pernah ditanya : ✍🏻 "Apa makna seorang meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya ketika sholat❓" 👉🏻 Maka beliau menjawab : ☝🏼️ "Sikap merendah dihadapan Yang Maha Perkasa". 📚 Sumber : [ Thobaqot al Hanabilah : 1/81 ] •••┈••••○❁🍃❁○••••┈••• ✍🏻WhatsApp Ⓚ①ⓉⒶ🌏ⓈⒶⓉⓊ Bagi-bagi faedah ilmiahnya....ayo segera bergabung 🌐📲 Join Channel Ⓚ①Ⓣ 📻📡 Dengarkan••• [ VERSI BARU❗️ ] Kajian Islam dan Murotal al-Quran setiap saat di Radio Islam Indonesia ≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈ 📡 Turut Menyebarkan : ⏩
Show more ...
KajianIslamTemanggung
📚 Penuhi dunia dengan ilmu dan amal 📧 Email: [email protected] Tim Admin KIT (dibawah bimbingan Asatidzah Temanggung) 📲 Kritik, saran atau pertanyaan, Ikhwan 085228006512 Akhwat 081252380939
2
0
════════════════════ 🕯 FAEDAH ILMIYAH 🕯 ════════════════════ 👉🏼🕌👈🏼 ADAB IMAM DAN MAKMUM YANG PERLU DIKETAHUI••• 🎙 Berkata Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, ⚠ "Semestinya bagi seorang makmum untuk TIDAK BERDIRI (setelah selesai sholat) sampai Imam berpaling, yaitu berpindah dari arah kiblat." ✋🏽 "Dan tidak semestinya seorang Imam TETAP DUDUK setelah salam dengan menghadap kiblat kecuali hanya sekadar beristighfar tiga kali dan dia ucapkan:" اللهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ، وَمِنْكَ السَّلاَمُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ. 👣 "Dan apabila Imam telah berpindah arah maka barang siapa ingin berdiri silahkan berdiri.Dan barang siapa yang masih ingin duduk berdzikir kepada Alloh maka silahkan dia melakukannya." 🗂 Sumber : Majmu' al-Fatawa 22/505 •••┈••••○❁🌻❁○••••┈••• { متى ينصرف المأموم من الصلاة الفـــــائدة: 🎙《 قال شيخ الإسلام ابن تيمية : « ينبغي للمأموم، أن لا يقوم حتى ينصرف الإمام، أي: ينتقل عن القبلة، ولا ينبغي للإمام أن يقعد بعد السلام مستقبل القبلة، إلا مقدار ما يستغفر ثلاثاً، ويقول: اللهم أنت السلام، ومنك السلام، تباركت يا ذا الإجلال والإِكرام. وإذا انتقل الإمام، فمن أراد أن يقوم قام، ومَنْ أحبّ أن يقعد يذكر الله فعل)) . 🗂 مجموع الفتاوى(٥٠٥/٢٢) •••┈••••○❁🌻❁○••••┈••• ✍🏻WhatsApp Ⓚ①ⓉⒶ🌏ⓈⒶⓉⓊ Bagi-bagi faedah ilmiahnya....ayo segera bergabung 🌐📲 Join Channel Ⓚ①Ⓣ 📻📡 Dengarkan••• [ VERSI BARU❗ ] Kajian Islam dan Murotal al-Quran setiap saat di Radio Islam Indonesia 📲. Share >> ≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈ 📡 Turut Menyebarkan : Join : ⤵️ ⏩
Show more ...
KajianIslamTemanggung
📚 Penuhi dunia dengan ilmu dan amal 📧 Email: [email protected] Tim Admin KIT (dibawah bimbingan Asatidzah Temanggung) 📲 Kritik, saran atau pertanyaan, Ikhwan 085228006512 Akhwat 081252380939
2
0
Lanjutan .... ⤴️ Pembatal-pembatal wudhu' 2⃣. Hilangnya akal atau kesadaran seperti pingsan atau tidur yang nyenyak.  Seseorang yang tidur sangat nyenyak, atau yang hilang kesadaran seperti pingsan, wudhu’nya batal. Dalam hadits Shofwan bin Assaltentang menyapu dua sepatu, Nabi menyamakan tidur dengan kencing dan buang air besar sebagai hadats kecil: وَلَكِنْ مِنْ غَائِطٍ وَبَوْلٍ وَنَوْمٍ …akan tetapi dari buang air besar, kencing, dan tidur (H.R atTirmidzi, anNasaai, dishahihkan Ibnu Khuzaimah) 3⃣. Memakan daging unta.  عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَأَتَوَضَّأُ مِنْ لُحُومِ الْغَنَمِ قَالَ إِنْ شِئْتَ فَتَوَضَّأْ وَإِنْ شِئْتَ فَلَا تَوَضَّأْ قَالَ أَتَوَضَّأُ مِنْ لُحُومِ الْإِبِلِ قَالَ نَعَمْ فَتَوَضَّأْ مِنْ لُحُومِ الْإِبِلِ Dari Jabir bin Samuroh bahwasanya seseorang bertanya kepada Rasulullah shollallahu alaihi wasallam: Apakah saya berwudhu jika makan daging kambing? Nabi bersabda: Jika engkau mau, silakan berwudhu’, jika mau silakan tidak berwudhu’. Ia bertanya lagi: Apakah saya berwudhu’ jika makan daging unta? Nabi bersabda: Ya. Berwudhu’lah jika makan daging unta (H.R Muslim no 539)  4⃣. Riddah (murtad, keluar dari Islam)  Sebagian Ulama’ menganggap orang yang murtad menjadi batal wudhu’nya, sebagaimana batalnya seluruh amalnya (Q.S az-Zumar:65). Sehingga jika ada seseorang yang berwudhu’ kemudian ia melakukan ucapan atau perbuatan yang menyebabkan dirinya keluar dari Islam, maka wudhu’nya batal. Jika kemudian ia memperbaharui keislamannya dengan mengucapkan syahadat lagi dan ia ingin sholat, maka ia harus berwudhu’ lagi.  👉 Segala hal yang membatalkan wudhu’ jika terjadi pada saat seseorang sedang sholat, maka otomatis sholatnya batal dan ia harus mengulang wudhu’.  📚 Sumber : dari Buku " Fiqh Bersuci dan Sholat sesuai tuntunan Nabi " ▶️ Al Ustadz Abu Utsman Kharisman Hafidzahullah 📡 Turut Menyebarkan : ⏩
Show more ...
Sifat_Sholat_Nabi
"Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat sholatKu" (H.R. Bukhari) صلّوْ ا كما ر أيْتموْ نى أصلّي
2
0
🍃📮 HUKUM SHOLAT TANPA MENYEMPURNAKAN TASYAHUD AKHIR 📮🍃 ⁉️ Padahal imam sudah salam. ➖➖➖➖➖ 📝 Pertanyaan: "Suatu perkara yang telah diketahui (bersama), bahwasanya tasyahud akhir termasuk salah satu rukun sholat. Pada satu kejadian sholat, Imam telah (mengucapkan) salam, dalam keadaan saya belum menyempurnakan tahiyyat (yakni tasyahhud, pen) kecuali sebagian kecilnya (di permulaan, pen). Apakah saya harus mengulangi sholat? 📡 Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz menjawab, 🔰 "Wajib bagimu untuk menyempunakan tasyahud walaupun engkau terlambat mengikuti sebagian gerakan imam. 👉 Karena tasyahhud akhir adalah rukun, berdasarkan pendapat yang paling benar dari dua pendapat para ulama. 🔻Di dalamnya juga terdapat sholawat kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam. 👉 Oleh karena itu, yang wajib engkau lakukan adalah menyempurnakannya (yakni tasyahhud akhir, pen) walaupun (dilakukan) setelah ucapan salam imam. 🔻Di antara (perkara yang harus disempurnakan, pen) adalah ta’awwudz (berlindung) kepada Allah _Ta’ala_ dari adzab Jahannam , ‘adzab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, serta dari fitnah Dajjal Al-Masih. Karena nabi shollallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan ta’awwudz (berlindung) dari empat perkara ini setelah tasyahhud akhir. 🔻Dan juga sebagian ulama berpendapat wajibnya permasalahan itu. Wallahu waliyyut taufiq 🌍 Sumber: Majmu’ Fatawa Ibn Baz (11/248) 📝 Diterjemahkan Oleh: Al Ustadz Abdul Hadi Pekalongan 〰〰➰〰〰 🍉 Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah 🍏 Channel kami 💻 Situs Resmi 📡 Turut Menyebarkan : Join : ⤵️ ... ⏩
Show more ...
WarisanSalaf.Com
Warisan Salaf Menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
2
0
✅ BAB : WUDHU' ❓Apakah Sunnah-Sunnah dalam Wudhu’ ? Jawab : Sunnah-sunnah dalam wudhu’ adalah perbuatan dalam wudhu’ yang akan semakin menyempurnakan wudhu’, menyebabkan pahala bertambah, namun tidak sampai taraf wajib. Kalaupun ditinggalkan, tidak menyebabkan wudhu’nya batal. 🔘 Sunnah –sunnah wudhu’ adalah : 1⃣. Mengucapkan Bismillah di permulaan wudhu’ 2⃣. Bersiwak (sikat gigi) sebelum atau setelah wudhu’ لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ مَعَ كُلِّ وُضُوءٍ “Kalaulah tidak memberatkan umatku, niscaya akan aku perintahkan mereka untuk bersiwak bersamaan dengan wudhu’ (H.R Malik,  Ahmad, anNasaai). 3⃣. Mencuci kedua telapak tangan 3 kali di permulaan wudhu’ 4⃣. Bersungguh-sungguh ketika memasukkan air ke dalam hidung, kecuali pada saat berpuasa وَبَالِغْ فِي الِاسْتِنْشَاقِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ صَائِمًا “dan bersungguh-sungguhlah ketika menghirup air ke hidung, kecuali jika engkau berpuasa”(H.R Abu Dawud, dishahihkan alHakim dan disepakati adz-Dzahaby) 5⃣. Menyela-nyela jari ketika mencuci tangan dan kaki serta menyela-nyela jenggot ... وَخَلِّلْ بَيْنَ الْأَصَابِعِ... “dan sela-selailah antara jari jemari...(H.R Abu Dawud) عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُخَلِّلُ لِحْيَتَهُ Dari Utsman bin Affan -radhiyallahu ‘anhu- bahwa Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam menyela-nyela jenggotnya (ketika berwudhu’)(H.R atTirmidzi) 6⃣. Mencuci anggota tubuh yang harus dicuci (wajah, tangan, dan kaki) 3 kali.  Pada dasarnya, semua rukun-rukun wudhu’ wajib dilaksanakan minimal sekali. Jika dilakukan 3 kali seperti pada hadits-hadits yang telah disebutkan, akan semakin menyempurnakan wudhu’, bertambah pahalanya. 7⃣. Mendahulukan anggota tubuh yang kanan. عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: - كَانَ اَلنَّبِيُّ - صلى الله عليه وسلم - يُعْجِبُهُ اَلتَّيَمُّنُ فِي تَنَعُّلِهِ, وَتَرَجُّلِهِ, وَطُهُورِهُ, وَفِي شَأْنِهِ كُلِّهِ Dari Aisyah -radliyallaahu ‘anha- beliau berkata : Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam menyukai mendahulukan yang kanan ketika memakai sandal, bersisir, bersuci, dan pada setiap urusan (yang baik)(Muttafaqun ‘alaih) 8⃣. Hemat dalam penggunaan air عَنْ أَنَس بْنِ مَالِكٍ :  كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - يَتَوَضَّأُ بِالْمُدِّ, وَيَغْتَسِلُ بِالصَّاعِ إِلَى خَمْسَةِ أَمْدَادٍ Dari Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu beliau berkata: Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam berwudhu’ dengan 1 mud dan mandi dengan 1 sha’ sampai 5 mud (Muttafaqun ‘alaih) Ukuran 1 mud adalah sekitar 0,5 sampai 0,75 liter. Sedangkan 1 sha’ adalah 4 mud. 9⃣. Berdoa setelahnya. مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُبْلِغُ أَوْ فَيُسْبِغُ الْوَضُوءَ ثُمَّ يَقُولُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ إِلَّا فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ Dari Umar -radliyallaahu ‘anhu- beliau berkata: Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : Tidaklah seseorang berwudhu’ dan menyempurnakan wudhu’nya, kemudian berdoa : “Asy-hadu an laa ilaaha illallaah wa anna muhammadan abdullahi wa rosuuluh “ kecuali akan dibukakan untuknya pintu surga yang delapan, dan ia bisa masuk melalui pintu mana saja yang dikehendakinya (H.R Muslim)  📚 Diutip dari Buku " FIQH BERSUCI DAN SHOLAT SESUAI TUNTUAN NABI " ▶️ Al Ustadz Abu Utsman Kharisman Hafidzahullah 📡 Turut Menyebarkan : ⏩
Show more ...
Sifat_Sholat_Nabi
"Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat sholatKu" (H.R. Bukhari) صلّوْ ا كما ر أيْتموْ نى أصلّي
2
0
✅ BAB : WUDHU' ❓Apakah Rukun-rukun Wudhu’ ? ☑️ Jawab : Rukun-rukun wudhu’ adalah perbuatan dalam wudhu’ yang jika ditinggalkan dengan sengaja atau lupa, maka wudhu’nya batal. Rukun dalam wudhu’ bisa juga disebut kewajiban dalam wudhu’. Rukun wudhu’ ada 6 : 1⃣. Mencuci wajah, termasuk berkumur (al-madhmadhah) dan memasukkan air ke dalam hidung (al-istinsyaq) serta mengeluarkannya. ...فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ... “...cucilah wajah kalian...(Q.S al-Maidah: 6) إِذَا تَوَضَّأْتَ فَمَضْمِضْ “Jika kalian berwudhu’, maka berkumurlah (H.R Abu Dawud) إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَنْشِقْ بِمَنْخِرَيْهِ مِنْ الْمَاءِ ثُمَّ لِيَنْتَثِرْ “Jika salah seorang dari kalian berwudhu’, maka hiruplah air ke dalam dua rongga hidung, kemudian keluarkanlah (H.R Muslim) 2⃣. Mencuci kedua tangan termasuk siku. وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ… “…dan (cucilah) kedua tangan kalian termasuk siku…”(Q.S al-Maidah:6) 3⃣. Mengusap kepala dan telinga. ...وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ... ...”dan usaplah kepala kalian...(Q.S al-Maidah:6) الْأُذُنَانِ مِنَ الرَّأْسِ “Kedua telinga adalah termasuk kepala” (H.R Abu Dawud, atTirmidzi, Ibnu Majah, dihasankan oleh Ibnu Daqiiqil ‘Ied) 4⃣. Mencuci kedua telapak kaki termasuk mata kaki. وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ… …”dan cucilah kedua kaki kalian termasuk mata kaki…(Q.S al-Maidah:6) 5⃣. Berurutan, sebagaimana urutan penyebutan dalam al-Qur’an. إِنَّهَا لَا تَتِمُّ صَلَاةُ أَحَدِكُمْ حَتَّى يُسْبِغَ الْوُضُوءَ كَمَا أَمَرَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فَيَغْسِلَ وَجْهَهُ وَيَدَيْهِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ وَيَمْسَحَ بِرَأْسِهِ وَرِجْلَيْهِ إِلَى الْكَعْبَيْنِ “Sesungguhnya tidaklah sempurna sholat salah seorang dari kalian sampai ia menyempurnakan wudhu’nya sebagaimana Allah perintahkan ia cuci wajah dan kedua tangannya sampai siku dan mengusap kedua kaki dan (mencuci) kedua kaki sampai siku (H.R Abu Dawud, anNasaai, Ibnu Majah) 6⃣. Al-Muwaalah, yaitu tidak ada jeda yang lama antara satu rukun ke rukun berikutnya. عَنْ خَالِدٍ عَنْ بَعْضِ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى رَجُلًا يُصَلِّ وَفِي ظَهْرِ قَدَمِهِ لُمْعَةٌ قَدْرُ الدِّرْهَمِ لَمْ يُصِبْهَا الْمَاءُ فَأَمَرَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُعِيدَ الْوُضُوءَ وَالصَّلَاةَ Dari Kholid dari sebagian Sahabat Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam bahwa Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam pernah melihat seseorang sholat sedangkan pada punggung telapak kakinya terdapat (sedikit) kilauan putih seukuran dirham yang tidak terkena air. Maka kemudian Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam menyuruhnya untuk mengulangi wudhu’ dan sholat (H.R Ahmad dan Abu Dawud) 📚 Dikutip dari Buku " FIQH BERSUCI DAN SHOLAT SESUAI TUNTUNAN NABI " ▶️ Al Ustadz Abu Utsman Kharisman Hafidzahullah 📡 Turut Menyebarkan : ⏩
Show more ...
Sifat_Sholat_Nabi
"Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat sholatKu" (H.R. Bukhari) صلّوْ ا كما ر أيْتموْ نى أصلّي
2
0
✅ BAB : WUDHU' ❓Bagaimanakah cara berkumur dan istinsyaq yang benar?  ☑️ Jawab : Cara yang benar adalah berkumur dan istinsyaq dilakukan bersamaan pada tiap cidukan air. Air diciduk dengan telapak tangan kanan, kemudian air dihirup ke mulut disertai berkumur) dan dihirup ke hidung bersamaan, kemudian dikeluarkan juga bersamaan.Sebagaimana hadits Abdullah bin Zaid yang diriwayatkan oleh alBukhari dan Muslim. Sedangkan, cara berwudhu’ yang memisahkan antara berkumur dan menghirup air secara tersendiri hadits-haditsnya lemah,demikian kata al-Imam anNawawy (syarh Shahih Muslim (3/106)). ثُمَّ أَدْخَلَ - صلى الله عليه وسلم - يَدَهُ, فَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ مِنْ كَفٍّ وَاحِدَةٍ, يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلَاثًا Kemudian beliau shollallaahu ‘alaihi wasallam memasukkan tangannya ke dalam bejana (dan mengeluarkannya), kemudian berkumur dan memasukkan air ke hidung dari 1 cidukan tangan. Beliau melakukannya 3 kali (Muttafaqun alaih)  ❓Apakah perbedaan antara mencuci dan mengusap, dan anggota tubuh apa saja yang dicuci dan diusap dalam wudhu’ ? ☑️ Jawab : Mencuci adalah mengalirkan/menyiramkan air (meski sedikit) bersamaan dengan itu meratakannya. Sedangkan mengusap adalah meratakan air yang tersisa dan tidak ada air baru yang dialirkan. Pada wudhu: wajah, tangan, dan kaki wajib dicuci, sedangkan kepala dan telinga diusap. Nabi pernah menegur dengan keras Sahabat yang terlihat mengusap kedua kakinya pada saat berwudhu’ (seharusnya kaki dicuci bukan diusap), dan beliau menyatakan : وَيْلٌ لِلْأَعْقَابِ مِنَ النَّارِ Celaka bagi tumit-tumit dari neraka (H.R alBukhari dan Muslim) ❓Bagaimana cara mengusap kepala dan telinga? ☑️ Jawab : Cara mengusap kepala dan telinga adalah sebagai berikut: awalnya kedua telapak tangan diletakkan di dahi (depan kepala), kemudian digerakkan usapan kedua telapak tangan bersamaan melalui atas kepala (menyusuri rambut) hingga tengkuk, kemudian digerakkan lagi ke depan hingga ke posisi awal bermula. Setelah itu, kedua jari telunjuk dimasukkan ke dinding lubang telinga, dan masing-masing ibu jari digerakkan dari bawah ke atas mengusap bagian atas telinga. بَدَأَ بِمُقَدَّمِ رَأْسِهِ حَتَّى ذَهَبَ بِهِمَا إِلَى قَفَاهُ ثُمَّ رَدَّهُمَا إِلَى الْمَكَانِ الَّذِي بَدَأَ مِنْهُ  Beliau memulai dari depan kepala sehingga beliau memperjalankan kedua telapak tangan itu hingga tengkuk, kemudian kedua telapak tangan itu diperjalankan kembali ke tempat asal bermula (H.R alBukhari dan Muslim dari Abdullah bin Zaid) ثُمَّ مَسَحَ بِرَأْسِهِ وَأُذُنَيْهِ بَاطِنِهِمَا بِالسَّبَّاحَتَيْنِ وَظَاهِرِهِمَا بِإِبْهَامَيْهِ Kemudian Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam mengusap kepala dan kedua telinganya. Bagian dalam telinga dengan kedua jari telunjuk, sedangkan bagian dalam telinga dengan kedua ibu jari (H.R anNasaai dari Ibnu Abbas)  👉 Pada saat mengusap kepala, juga boleh mengusap dari depan (depan dahi) ke belakang (tengkuk) sekali saja tanpa harus dikembalikan dari belakang ke depan lagi. Hal itu juga pernah dilakukan Nabi (hadits riwayat Abu Dawud).   📚 Dikutip dari Buku " FIQH BERSUCI DAN SHOLAT SESUAI TUNTUNAN NABI " ▶️ Al Ustadz Abu Utsman Kharisma Hafidzahullah 📡 Turut Menyebarkan : ⏩
Show more ...
Sifat_Sholat_Nabi
"Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat sholatKu" (H.R. Bukhari) صلّوْ ا كما ر أيْتموْ نى أصلّي
2
0
✅ BAB : WUDHU' ❓ Bolehkah pada saat mengusap kepala hanya pada sedikit rambut di bagian depan (ubun-ubun)? ☑️ Jawab : Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam tidak pernah mengusap hanya sedikit rambut pada bagian depan saja pada seluruh tata cara wudhu’ yang diriwayatkan dari hadits yang shahih, kecuali pada saat beliau memakai imamah (surban). Jika beliau memakai imamah, beliau pernah mengusap ubun-ubun dan juga di atas imamah.  أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأَ فَمَسَحَ بِنَاصِيَتِهِ وَعَلَى الْعِمَامَةِ Bahwasanya Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam berwudhu’ kemudian mengusap ubun-ubun dan di atas imamah (surban)(H.R Muslim). Namun, Sahabat Nabi Ibnu Umar pada waktu berwudhu’ pernah mengusap hanya bagian depan kepalanya saja عَنْ نَافِع أَنَّ بْنَ عُمَرَ كَانَ يَدْخُلُ يَدَيْهِ فِي الْوَضُوْءِ يَمْسَحُ بِهِمَا مَسْحَةً وَاحِدَةً عَلَى الْيَافُوْخِ فَقَطْ Dari Nafi’ bahwasanya Ibnu Umar pernah memasukkan tangannya ke dalam bejana berisi air wudhu kemudian mengusap (kepala) dengan kedua tangan itu sekali usapan pada bagian ubun-ubun saja (H.R Abdurrazzaq) Tidak didapati adanya para Sahabat lain yang  mengingkari perbuatan Ibnu Umar itu.  👉 Untuk kehati-hatian, sebaiknya kita selalu mengusap kepala secara  keseluruhan sebagaimana tata cara wudhu’ Nabi yang diriwayatkan dari hadits-hadits yang shahih, namun kita tidak bisa menyatakan bahwa saudara-saudara kita yang berwudhu dan mengusap sebagian kepalanya tidak sah wudhu’nya.  ❓ Apakah wanita yang memakai jilbab dan kesulitan untuk mengusap kepalanya langsung boleh untuk mengusap di atas jilbab tanpa melepasnya? ☑️Jawab : jika jilbab yang dikenakan itu terikat di bawah leher dan menyulitkan jika melepasnya, atau karena hawa sangat dingin, atau kesulitan-kesulitan yang lain maka tidak mengapa mengusap di atas jilbab. Walaupun, jika memungkinkan dengan mengusap langsung pada kepala adalah lebih baik. Demikian dijelaskan oleh Syaikh al-Utsaimin. Kalaupun mengusap pada bagian atas jilbab, hendaknya didahului mengusap pada sedikit bagian depan kepala (ubun-ubun) seperti yang dilakukan Nabi ketika menggunakan imamah (surban).  ❓ Bolehkah ketika berwudhu’ hanya mencuci sekali-sekali atau dua kali saja (tidak 3 kali)?  ☑️ Jawab : Boleh. Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam pernah berwudhu’ dan mencuci anggota tubuh sekali-sekali, dua kali-dua kali, tiga kali-tiga kali, dan kadang berselang seling. Kadang sebagian anggota wudhu dicuci 3 kali dan sebagian lagi dicuci sekali. عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ تَوَضَّأَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّةً مَرَّةً Dari Ibnu Abbas, beliau berkata : Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam berwudhu’ sekali-sekali (H.R alBukhari) عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأَ مَرَّتَيْنِ مَرَّتَيْنِ Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu beliau berkata : Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam berwudhu’ dua kali dua kali (H.R Abu Dawud) 📚 Dikutip dari Buku " FIQH BERSUCI DAN SHOLAT SESUAI TUNTUNAN NABI " ▶️ Al Ustadz Abu Utsman Kharisman Hafidzahullah 📡 Turut Menyebarkan : ⏩
Show more ...
Sifat_Sholat_Nabi
"Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat sholatKu" (H.R. Bukhari) صلّوْ ا كما ر أيْتموْ نى أصلّي
2
0
Last updated: 10.11.22
Privacy Policy Telemetrio