en
Feedback
Bisnishack Community

Bisnishack Community

Open in Telegram

Bisnishack channel

Show more
1 339
Subscribers
No data24 hours
-27 days
-630 days
Posts Archive
“Jenderal Perang” Bisnis Lokal VS Asing Satu pagi, sebelum workshop Bisnishack dimulai. Saya sedang hikmat nyeruput kopi, saat tiba-tiba dikejutkan oleh seseorang. "Halo Mas! Gimana kabarnya? Sehat?" Kantuk saya hilang, seluruh kesadaran saya terkumpul otomatis saat tahu yang menyapa ternyata Group CEO perusahaan kosmetik terbesar se-Asia Tenggara. Sambil bawa secangkir teh, beliau duduk dan memulai percakapan dengan seru. Di saat seperti itu, saya tentu lebih banyak diam, mendengarkan, dan tanya sesekali. Pikir saya, ini momen mahal, berharga, nggak boleh disia-siakan! Tepat di puncak obrolan, lagi seru-serunya dan saya tertawa terbahak-bahak. Tiba-tiba dengan raut wajah serius, beliau diam. Fokus mengamati peserta workshop. Saya yang ketawa sendirian, jadi garing. Saya tunggu semenit, dua menit, masih hening. Makin lama diam, saya mulai kepikiran. Beliau kenapa? Apa jangan-jangan ada yang salah dengan obrolan kami tadi? Saya diam, tapi jujur sangat panik. Diam-diam saya nyium aroma nafas sendiri. Ah nggak bau, kok. Aman! Akhirnya, sambil nyeruput tehnya, beliau mendekat dan berbisik ke saya… "Mas, dari sekian banyak peserta, yang murni berasal dari lokal, ada berapa persen ya?" "Ada sekitar 90-an%, Pak.. Alumni Bisnishack kebanyakan perusahaan lokal," jawab saya masih menebak-nebak ke arah mana obrolan kami akan berlanjut. "Wah bagus Mas, pertahankan! Perusahaan lokal Indonesia harus paling terdepan untuk masalah edukasi. ➡️ Jangan mau kalah sama perusahaan Asing. Kalau perusahaan lokal kuat, pasti Indonesia bisa menjadi negara maju yang diperhitungkan negara-negara lain" Suaranya pelan tapi tegas. Seketika, rasa hormat saya meningkat. Seperti dapat perintah dari jenderal perang. "Selama ini Wardah sangat concern mengedukasi para entrepreneur lokal Indonesia, Mas. Jadi kalau ada kesempatan saya untuk berbagi di kelas Bisnishack, boleh kabari ya Mas. Semoga pas cocok waktunya." Meski bermuka datar, saya aslinya kaget dan apa yaa.. respek sekali. 👍 Di balik gelar besar sebagai Group CEO Wardah Cosmetics, Pak Harman Subakat, sosok yang sepagian itu ngobrol dengan saya, ternyata sepeduli itu dengan bisnis lokal. Beliau bukanlah orang yang pelit ilmu. Malah sebaliknya, sangat terbuka untuk berbagi. Tapi sayangnya, beliau ini sangat sibuk. 🍀 Jadi ketika beliau mengabari bisa hadir, dan mengisi sesi yang cukup dalam dan panjang di SEKOLAH COO tanggal 25-27 Agustus nanti. Saya putuskan langsung mengabari Bapak/Ibu semua. Ini kesempatan langka! Jadi siap-siap diajak beliau ‘melihat’ dapuran Wardah. Mumpung ada PROMO KHUSUS ALUMNI BISNISHACK. Yukk miliki tiket Anda sekarang! Hubungi Reny: 0813 9207 7733

photo content

24 JAM TERAKHIR BAGI PENGUSAHA Ada kejadian menarik ketika saya mengikuti seminar yang pesertanya ribuan orang. Di situ salah satu pembicaranya adalah teman saya. Seorang CEO perusahaan kosmetik terbesar se-Asia Tenggara. Omzetnya jangan ditanya lagi, sudah trilyunan. Beberapa kali ngobrol dengan beliau. Saya sangat senang karena bisa meng-copy paste wisdom-wisdom, ilmu-ilmu entrepreneurship yang beliau lakukan. Lalu saya mencoba iseng, saya bertanya: "Pak, walaupun kita sudah sering ngobrol. Tapi saya penasaran dengan jawaban bapak. Apabila bapak hanya punya waktu tersisa 24 jam lagi untuk hidup. Apa hal yang akan bapak lakukan di sisa waktu tersebut?" Seketika, audiens di sana langsung heboh. Karena mungkin mereka berpikir, berani banget saya tanya begitu ke CEO perusahaan raksasa ini. Menariknya, beliau diam sebentar. Lalu dengan raut wajah yang cukup serius, sambil merenung beliau menjawab: "Wah! Makasih Mas atas pertanyaannya." Singkat cerita beliau menjawab yang intinya: "Saya mungkin akan menggunakan 23 jam terakhir, bahkan 24 jam terakhir saya, Mas. Akan saya habiskan untuk bersama-sama dengan keluarga. Karena keluarga adalah hal terpenting melebihi apapun." Jawaban itu diakhiri dengan tepuk tangan yang meriah dari para audiens. —————— Di situ saya mendapat bahan renungan. Apakah dalam berbinsis, kita justru melupakan hal yang terpenting, yaitu keluarga? Atau kita sudah punya cukup waktu untuk bersama dengan keluarga kita?

photo content

DETIK-DETIK PENUTUPAN PENDAFTARAN SEKOLAH CEO #33! Bapak Ibu... Izin menginfokan, pendaftaran workshop Sekolah CEO #33 sudah
DETIK-DETIK PENUTUPAN PENDAFTARAN SEKOLAH CEO #33! Bapak Ibu... Izin menginfokan, pendaftaran workshop Sekolah CEO #33 sudah hampir penuh. 🙏🏻 Terimakasih untuk 100+ CEO, Owner, dan Pengusaha yang sudah terdaftar🙏🏻 Bagi Bapak/Ibu yang belum sempat konfirmasi, ingin menambah seat offline maupun online. Atau belum masuk grup. Segera hubungi: Mba Reny di 0813 92077733

Yukk join live ny bisnishack 🥳🥳🥳

Menjadi Bagian Dari Pahlawan Ekonomi Bagi teman-teman alumni, barangkali sudah tau. Lima tahun terakhir, Bisnishack diminta tolong oleh salah satu universitas negeri terbesar Indonesia, untuk menggarap program entrepreneurship mereka. Hal ini mereka lakukan karena bertahun-tahun mencoba program entrepreneurship, tapi hasilnya belum maksimal. Akhirnya mereka berkesimpulan bahwa butuh profesional untuk memaksimalkan proses belajar sebagai entrepreneur. ————— Belum lama ini, kami juga diminta oleh salah satu universitas swasta terbesar di Jakarta untuk membantu program entrepreneurship mereka. Di sini, tentu Bisnishack dengan tangan terbuka sangat ingin membantu teman-teman dari universitas. Karena seperti yang kita tau, program entrepreneurship di institusi pendidikan kita saat ini belum berjalan dengan baik. ✅ Faktor kuncinya adalah karena sang pengajar, bukan seorang entrepreneur. Sedangkan proses belajar akan berhasil, jika pengajar adalah orang berpengalaman. —————— ➡️ Untuk itu Bisnishack mengundang teman-teman, para entrepreneur untuk menjadi bagian dari Pahlawan Ekonomi Bangsa. ✅ Menjadi mentor maupun fasilitator, dan berpartisipasi membangun kemajuan pendidikan generasi entrepreneur Indonesia. Bagi yang tertarik, bisa langsung kontak Mas Hugo di 0823 2895 1912 —————— Salam Ceria Ceria Ceria! Kaizen Kaizen Kaizen! Dealdone Dealdone Dealdone!

photo content

Akhirnya! Akhirnya! Akhirnya!!! Setelah kewalahan diserbu puluhan CEO dan Owner. SEKOLAH CEO #33 AKHIRNYA BUKA VIRTUAL SEAT!
Akhirnya! Akhirnya! Akhirnya!!! Setelah kewalahan diserbu puluhan CEO dan Owner. SEKOLAH CEO #33 AKHIRNYA BUKA VIRTUAL SEAT! Khusus untuk Anda yang ingin join tapi tidak bisa ke Jakarta. Atau ingin belajar bisnis tapi budget masih terbatas. Sekarang Anda bisa 'ketemu' dan belajar scale up bisnis bersama Pak Dahlan, Pak Hasnul, Best CEO 3 Tahun berturut-turut. Dan belajar cara membangun tim andalan dan bisnis bersama Mas Satia Pradana. Demi menjaga kenyamanan dan efektivitas belajar, maka: ➡️VIRTUAL SEAT HANYA DIBUKA UNTUK 50 PESERTA SAJA⬅️ Daftar sekarang sebelum kehabisan! Klik link di bawah ini👇👇👇 http://sekolahceo.id/blast/ http://sekolahceo.id/blast/ http://sekolahceo.id/blast/

PANGGILAN TERAKHIR UNTUK PARA PEBISNIS Pendaftaran Sekolah CEO akan segera ditutup. Pastikan diri Anda sudah terdaftar bersam
PANGGILAN TERAKHIR UNTUK PARA PEBISNIS Pendaftaran Sekolah CEO akan segera ditutup. Pastikan diri Anda sudah terdaftar bersama 100++ CEO berkualitas lainnya. Networking “mahal” yang belum tentu Anda dapatkan di tempat lainn 🔥🔥 Selain itu, materi yang akan diberikan para expert juga ga kalah “mahal”. Dari Creative Marketing hingga Scale Up Bisnis Dilaksanakan secara hybrid : - Offline : Holiday Inn Kemayoran, 22-24 Agustus 2023 - Virtual : Live via Zoom Tunggu apalagi, daftar sekarang dan amankan Seat Anda, jangan sampai menyesal 💯💯 PENDAFTARAN SEGERA DITUTUP Segera Hubungi👇👇👇 Reny: 0813-9207-7733

Mending Habis Duit Training Atau Punya Tim "Bodoh" Selamanya? Ada kejadian menarik ketika Training Building Superteam Masterclass yang membahas tentang ilmu HR. Pembicaranya saat itu adalah seorang CPO perusahaan startup yang sangat besar di Indonesia. Di situ ada yang tanya, "Pak, saya itu owner. Saya ikut event ini, harusnya tim saya ngikut. Tapi saya masih ada ketakutan kalau tim saya ngikut, dan ternyata dia resign. Saya percuma dong, sia-sia ngikutin dia ini. Investasinya investasi bodong." Lalu si narasumber HRD senior itu berkata: "Oke, saya mengerti kekhawatiran Bapak. Cuma pertanyaannya gini. Lebih baik mana; karyawan tersebut ikutan training. Lalu setelah berapa bulan atau tahun resign? Atau karyawan tersebut tidak ikut training, tapi tetap bodo-kasarannya. Dan tetap diperusahaan bapak. Mending mana? Dari situ semua peserta tertawa dan mengatakan, iya juga ya. Nah, jadi... sudahkah siapkan budget untuk training tim Anda?

photo content

"Ketika Atasan Nggak Apresiatif, Tim Harus Gimana?"🤔 Satu ketika, saya mengisi training Superteam Bootcamp, ada peserta yang unik. Dia tanya begini: "Mas, tadi kan Mas bilang kita harus menciptakan ekosistem pekerjaan yang mendukung dan apresiatif. Pertanyaannya adalah kalau atasan saya nggak apresiatif. Semuanya dianggap salah, itu gimana menghadapinya?" Seperti yang Anda tahu, event Superteam Bootcamp ini adalah training yang didesain untuk para karyawan dan calon leader para alumni Bisnishack. Nah, menanggapi pertanyaan itu, saya tanya balik. "Memangnya pernah ada kejadian apa, Mas?" "Iya mas, jadi saya pernah berbuat suatu kesalahan. Padahal sebelumnya benar semua. Maksudnya itu pertama kali saya bikin kesalahan. Dan itu saya dimarahinnya minta ampun Mas. Dipermalukan di depan umum, di depan karyawan lainnya. Di situ saya lalu dihukum untuk bekerja lembur lebih malam. Dan tahu nggak Mas apa yang saya lakukan? Ya sudah, malam itu saya kerjanya malah bisa dibilang nggak kerja. Saya main game online sambil dengerin musik aja. Karena mau kerja pun hati sudah nggak enak. Sudah merasa nggak dihargai dan gak diapresiasi." Mendengar cerita itu, bukanlah suatu hal yang mengejutkan. Kejadian seperti itu terjadi juga pada beberapa perusahaan lain. ———— Dari cerita mereka, saya semakin semakin mantap dengan kesimpulan bahwa: ✅ "ekosistem apresiatif sangat diperlukan di sebuah perusahaan untuk kinerja tim yang lebih baik dan longlasting." Apalagi kalau kita menghandle yang namanya milenial dan gen Z. Cara handlingnya tentu berbeda dengan yang generasi sebelumnya. Nah, jadi sudahkah Anda menerapkan budaya apresiatif?

photo content

H-6 Menuju Sekolah CEO #33 Jakarta. Terimakasih kepada 100+ peserta Sekolah CEO #33 yang sudah terdaftar. Masih tersisa 40+ s
H-6 Menuju Sekolah CEO #33 Jakarta. Terimakasih kepada 100+ peserta Sekolah CEO #33 yang sudah terdaftar. Masih tersisa 40+ seat terakhir. Bagi teman-teman CEO yang belum sempat daftar atau join grup. Silakan hubungi Mba Reny di 0813 92077733 Atau klik http://sekolahceo.id/blast/

Join live IG sekarang, intip kantornya Bisnishack yukkk 😁 https://instagram.com/bisnishackcom/live/17995931953928369?igshid=MzRlODBiNWFlZA==

*Makin Kaya Makin Rendah Hati* Ada satu kisah menarik saat saya bertemu CEO perusahaan fashion berskala sangat besar. Omzetnya ngga usah ditanya lagi. Sudah bukan lagi milyaran, tapi triliunan. Nah, ketika saya undang beliau ini ke salah satu event Bisnishack. Dia kan sudah punya omzet trilyunan, perusahaannya nggak main-main. Biasanya akan ada penjagaan khusus. Permintaan yang spesifik saat event, ingin service yang lebih, dan lain-lain. *Tapi menariknya, itu nggak terjadi.* Malah, ketika pertama kali ketemu. Saya melakukan kesalahan, saya salah lihat jadwal. Saat itu beliau sudah datang jam setengah sembilan. Sedangkan saya posisinya belum pegang HP. Pas beliau telfon, saya kaget dong. Ternyata janji ketemuan kami harusnya setengah sembilan! Waduh! Telat 30 menit. Saya ngerasa bersalah dong. Jadi saya siap-siap membuka obrolan dengan minta maaf. Tapiii... sebelum saya sempat minta maaf. Beliau malah bilang, “Mas, maaf ya, ganggu aktivitas Mas. Tadi aku telfon.” Lho, ga bahaya ta? Eh maksudnya, lho! Kok malah beliau yang minta maaf? ————— Lain hari, setelah beliau mengisi workshop dan pulang duluan. Posisinya, saya sedang mengurus event, Jadi nggak sempat mengantar beliau. Dan apa yang terjadi... Beliau telfon dan minta maaf, “Mas, sorry ya, aku pulang duluan. Nggak sempat pamit…” Padahal, harusnya saya yang minta maaf dong. Karena saya tidak mengantar beliau, at least sampai masuk ke mobil. *Sangat rendah hati.* Satu sifat yang saya dapati, tidak hanya dari beliau. Tapi dari rekan-rekan pengusaha dan CEO besar lainnya. Mereka humble banget! Di situ saya berpikir, apakah orang semakin besar jadi semakin rendah hati. Atau kebetulan saya ketemu dengan orang-orang besar yang rendah hati? Nah! Gimana menurut teman-teman yang sudah bertemu dengan orang-orang besar dan hebat. Apakah punya pengalaman serupa juga? ————- Yang mau Re-seat atau gantian kirim manager kepercayaannya, yukk gabung Sekolah CEO #33 Dan segera selesaikan pendaftarannya :) Klik di sini 👇👇👇 https://sekolahceo.id/event/ https://sekolahceo.id/event/ https://sekolahceo.id/event/ Sampai Jumpa di Sekolah CEO #33 ya 🤗🥳

MAU TAU TIPS N TRICK MENAIKKAN OMZET SAAT CS NGGAK PERFORM? Join Live Instagram bareng Mba Reny Violeta yukk!!!! Senin, 7 Agustus 2023 14.00-15.30 WIB @bisnishackcom DAPATKAN FREE TIKET! Webinar bersama Pak Hasnul Suhaimi UNTUK 3 ORANG BERUNTUNG!!! Klik dan join live di sini👇👇👇 https://www.instagram.com/bisnishackcom/