Dakwah Jalan Hidup, Redha Allah Maksud Hidup
Closed channel
Silakan save dan share segala ilmu dan video yang di post dalam telegram ini . Semoga bermanfaat .
Show more711
Subscribers
-124 hours
-27 days
-1230 days
Data loading in progress...
Similar Channels
Tags Cloud
No data
Any problems? Please refresh the page or contact our support manager.
Incoming and Outgoing Mentions
---
---
---
---
---
---
Attracting Subscribers
September '26
September '260
in 0 channels
August '260
in 0 channels
Get PRO
July '26
+1
in 0 channels
Get PRO
June '260
in 0 channels
Get PRO
May '260
in 0 channels
Get PRO
April '260
in 0 channels
Get PRO
March '260
in 0 channels
Get PRO
February '260
in 0 channels
Get PRO
January '260
in 0 channels
Get PRO
December '250
in 0 channels
Get PRO
November '250
in 0 channels
Get PRO
October '25
+10
in 0 channels
Get PRO
September '25
+15
in 0 channels
Get PRO
August '25
+13
in 0 channels
Get PRO
July '25
+33
in 0 channels
Get PRO
June '25
+14
in 0 channels
Get PRO
May '25
+16
in 0 channels
Get PRO
April '25
+3
in 0 channels
Get PRO
March '25
+16
in 0 channels
Get PRO
February '25
+22
in 1 channels
Get PRO
January '25
+26
in 0 channels
Get PRO
December '24
+12
in 1 channels
Get PRO
November '24
+36
in 0 channels
Get PRO
October '24
+44
in 0 channels
Get PRO
September '24
+43
in 0 channels
Get PRO
August '24
+23
in 0 channels
Get PRO
July '24
+13
in 0 channels
Get PRO
June '24
+12
in 0 channels
Get PRO
May '24
+29
in 0 channels
Get PRO
April '24
+24
in 0 channels
Get PRO
March '24
+19
in 0 channels
Get PRO
February '24
+17
in 0 channels
Get PRO
January '24
+33
in 0 channels
Get PRO
December '23
+55
in 0 channels
Get PRO
November '23
+17
in 0 channels
Get PRO
October '23
+15
in 0 channels
Get PRO
September '23
+5
in 0 channels
Get PRO
August '23
+6
in 0 channels
Get PRO
July '23
+6
in 0 channels
Get PRO
June '23
+14
in 0 channels
Get PRO
May '23
+2
in 0 channels
Get PRO
April '23
+6
in 0 channels
Get PRO
March '23
+15
in 0 channels
Get PRO
February '23
+8
in 0 channels
Get PRO
January '23
+11
in 0 channels
Get PRO
December '22
+12
in 0 channels
Get PRO
November '22
+29
in 0 channels
Get PRO
October '22
+19
in 0 channels
Get PRO
September '22
+21
in 0 channels
Get PRO
August '22
+15
in 0 channels
Get PRO
July '22
+13
in 0 channels
Get PRO
June '22
+7
in 0 channels
Get PRO
May '22
+11
in 0 channels
Get PRO
April '22
+9
in 0 channels
Get PRO
March '22
+11
in 0 channels
Get PRO
February '22
+15
in 0 channels
Get PRO
January '22
+25
in 0 channels
Get PRO
December '21
+14
in 0 channels
Get PRO
November '21
+35
in 0 channels
Get PRO
October '21
+543
in 0 channels
| Date | Subscriber Growth | Mentions | Channels | |
| 08 September | 0 | |||
| 07 September | 0 | |||
| 06 September | 0 | |||
| 05 September | 0 | |||
| 04 September | 0 | |||
| 03 September | 0 | |||
| 02 September | 0 | |||
| 01 September | 0 |
Channel Posts
📖 RAHASIA YASIN DAHSYAT UNTUK SEGALA HAJAT
Amalan ini merupakan ijazah mulia dari Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad. Beliau mengajarkan faedah khusus membaca Surat Yasin untuk mengetuk pintu arsy. Cukup dibaca satu kali, namun insyaAllah memberikan pahala dan fadhilah yang setara dengan 41 kali pembacaan.
🔹 1. Tetapkan Niat Khusus
Sebelum memulai, bersuci dan mantapkan satu niat spesifik di dalam hati.
Contoh: Pelunasan utang, kelancaran rezeki/dagang, kesembuhan penyakit, kemudahan jodoh, atau keturunan yang sholeh.
Fokus: Semakin spesifik niat Anda, semakin kuat energi doa yang dipanjatkan.
🔹 2. Ayat 1 (Pengulangan Huruf Muqatta'ah)
Bacalah Bismillah, lalu mulai Surat Yasin.
Saat membaca ayat pertama: يس (Yaa Siin), ulangi sebanyak 7 kali secara perlahan dan penuh penghayatan.
🔹 3. Ayat 38 (Ketentuan Allah yang Mutlak)
Saat tiba pada potongan ayat:
ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ
(Dzaalika taqdiirul 'aziizil 'aliim)
Ulangi potongan ayat ini sebanyak 14 kali.
🔹 4. Ayat 58 (Salam Kedamaian dari Sang Pencipta)
Saat tiba pada ayat:
سَلَامٌ قَوْلًا مِّن رَّبٍّ رَّحِيمٍ
(Salaamun qoulam mir Rabbir rahiim)
Ulangi ayat ini sebanyak 16 kali.Rasakan kedamaian masuk ke dalam hati Anda.
🔹 5. Ayat 81 (Kunci Pengabul Doa)
Saat sampai pada potongan ayat:
أَوَلَيْسَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِقَادِرٍ عَلَىٰ أَن يَخْلُقَ mِثْلَهُمْ ۚ بَلَىٰ
(Awalaisalladzi kholaqos-samaawaati wal ardho bi qoodirin 'alaa ay-yakhluqo mitslahum, balaa...)
Ulangi 3 kali, lalu berhenti sejenak.
Panjatkan hajat Anda dengan bahasa sendiri secara tulus dan penuh harap.
Sambung dalam hati: "Wa anta Qoodirun" (Dan Engkau Maha Kuasa atas segalanya), tanamkan husnudzon bahwa Allah telah mengabulkannya.
ulangi satu kali lagi secara lengkap(ayat 81) dan Lanjutkan sisa ayat tersebut, dan selesaikan Surat Yasin hingga ayat terakhir (tamat).
🌙 Kunci Keberhasilan Amalan:
Waktu Mustajab: Amalkan di sepertiga malam terakhir atau sesaat sebelum Subuh, saat pintu-pintu langit terbuka lebar.
Modal Utama: Wajib yakin tanpa ragu, khusyuk, dan pasrah sepenuhnya kepada ketetapan Allah.
Ketik "Qobiltu Ijazah" di kolom komentar untuk menerima amalan ini. Semoga menjadi wasilah pembuka jalan keluar dari segala kesulitan Anda. 🤲✨
Catatan penting : silahkan share dan amalkan (tapi jangan di post ulang di akun pribadi, kecuali dapat izin khusus dari akun Zawiyah Alhusna Ma'had Alhusna )
| 2 | Makna yang lebih tepat adalah: “Sebelum engkau membanggakan banyaknya ilmu, didiklah dahulu hatimu agar mampu menerima dan mengamalkan ilmu dengan benar.” Karena ilmu menunjukkan jalan. Amal membuat kita berjalan. Adab menjaga kita agar tidak tersesat dalam perjalanan. Ikhlas membersihkan tujuan perjalanan. Sedangkan tujuan tertinggi seorang salik adalah memperoleh ridha Allah سبحانه وتعالى. Maka jangan hanya bertanya: “Seberapa banyak ilmu yang telah aku pelajari?” Tetapi bertanyalah kepada diri sendiri: “Seberapa banyak ilmu itu telah mengubah akhlakku?” “Apakah ilmuku membuatku semakin tawadhu'?” “Apakah dzikirku membuat lisanku semakin terjaga?” “Apakah ibadahku membuat hatiku semakin lembut?” Dan yang paling penting: “Apakah semuanya membuatku semakin taat dan semakin merasa sebagai hamba di hadapan Allah?” Penutup اَللّٰهُمَّ أَدِّبْنَا بِأَدَبِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ ﷺ، وَزَيِّنَّا بِحُسْنِ الْأَخْلَاقِ، وَطَهِّرْ قُلُوْبَنَا مِنَ الْكِبْرِ وَالْعُجْبِ وَالرِّيَاءِ، وَارْزُقْنَا عِلْمًا نَافِعًا وَعَمَلًا صَالِحًا وَقَلْبًا خَاشِعًا. “Ya Allah, didiklah kami dengan adab Nabi-Mu Muhammad ﷺ. Hiasilah kami dengan akhlak yang baik. Bersihkanlah hati kami dari kesombongan, ujub dan riya. Karuniakanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat, amal yang saleh, dan hati yang khusyuk.” آمِيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. والله أعلم بالصواب | 17 |
| 3 | Rasulullah ﷺ bersabda: إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ Artinya: “Sesungguhnya ketaatan itu hanyalah dalam perkara yang baik.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim) Karena itu, menghormati mursyid bukan berarti menganggap mursyid sebagai Tuhan, tidak pernah mungkin keliru, atau boleh menghalalkan yang diharamkan Allah. Mursyid dihormati karena ia menjadi pembimbing perjalanan ruhani, sedangkan tujuan akhirnya tetap: ALLAH سبحانه وتعالى.
XII. CONTOH-CONTOH ADAB DALAM THARIQAT Contoh 1 — Ketika guru sedang berbicara Seorang murid mendengarkan dengan tenang dan tidak sibuk menunjukkan bahwa dirinya sudah mengetahui pembahasan tersebut. Dalam hatinya: “Mungkin Allah sedang memberikan pelajaran kepadaku melalui perkataan ini.”
Contoh 2 — Ketika tidak memahami perkataan guru,.maka jangan langsung membantah dengan kasar. Bertanyalah: “Mohon izin, Guru. Bagaimana maksud dari penjelasan tersebut...?” Inilah ilmu yang dibungkus dengan adab.
Contoh 3 — Ketika mengetahui kesalahan saudara Orang yang kurang adab berkata: “Kamu salah!” Orang yang beradab memilih kata yang menjaga kehormatan saudaranya: “Menurut yang saya pelajari, mungkin ada penjelasan lain mengenai masalah ini.” Kebenaran tetap disampaikan, tetapi kehormatan manusia tetap dijaga.
Contoh 4 — Ketika mempunyai ilmu lebih banyak Jangan merasa lebih tinggi. Sebab kita tidak mengetahui siapa yang lebih mulia di sisi Allah. Allah berfirman: إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ Artinya: Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat ayat : 13)
Contoh 5 — Ketika berdzikir Jangan merasa: “Aku sudah ahli dzikir.” Tetapi hadirkan kehambaan: “Ya Allah, tanpa pertolongan-Mu aku tidak mampu mengingat-Mu.”
Contoh 6 — Ketika mendapat pengalaman ruhani Seorang salik mungkin mengalami ketenangan, mimpi, lintasan batin, atau pengalaman spiritual tertentu. Adabnya adalah tidak segera menganggap dirinya wali atau telah mencapai maqam tinggi. Semua pengalaman tersebut harus ditimbang dengan Al-Qur'an dan Sunnah.
Xlll. HUBUNGAN ADAB, ILMU, AMAL, DAN MA'RIFAT.
Perjalanan seorang salik dapat digambarkan: ADAB → ILMU → AMAL → TAZKIYAH → ISTIQOMAH → IHSAN → MA'RIFATULLAH Namun tahapan ini tidak selalu terpisah secara kaku. Semuanya saling menguatkan. Adab tanpa ilmu dapat kehilangan petunjuk. Ilmu tanpa amal dapat menjadi hujjah atas diri sendiri. Amal tanpa ikhlas kehilangan ruhnya. Dzikir tanpa adab mudah menjadi kebiasaan lisan semata. Tasawuf tanpa syariat kehilangan ukuran. Syariat yang diamalkan dengan ihsan akan menghiasi kehidupan lahir dan batin seorang hamba.
XlV. TANDA ILMU SUDAH MEMBUAHKAN ADAB Semakin bertambah ilmu, seseorang seharusnya semakin: tawadhu', lembut, sabar, takut kepada Allah, menjaga lisan, menghormati orang lain, sedikit membicarakan aib manusia, banyak mengoreksi dirinya sendiri, serta semakin kuat berpegang kepada Al-Qur'an dan Sunnah. Apabila semakin banyak ilmu tetapi semakin suka merendahkan orang lain, maka yang perlu diperiksa bukan hanya ilmunya, tetapi keadaan hatinya.
XV. PESAN UNTUK PARA SALIK Wahai para penempuh jalan menuju Allah... Janganlah engkau merasa tinggi karena banyaknya ilmu. Jangan merasa dekat kepada Allah karena banyaknya dzikir. Jangan merasa mulia karena dekat dengan seorang mursyid. Jangan merasa suci karena telah mengikuti suluk. Jangan merasa telah mencapai maqam tertentu karena pengalaman ruhani. Sebab semakin dekat seorang hamba kepada Allah, seharusnya semakin jelas baginya betapa fakir dan lemahnya dirinya di hadapan Allah. Allah berfirman: يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ “Wahai manusia! Kamulah yang membutuhkan Allah, sedangkan Allah Dialah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Fathir: 15)
XVI KESIMPULAN Ungkapan “Belajar adab dahulu, baru belajar ilmu” bukan berarti meninggalkan ilmu. Justru seorang salik wajib mempelajari ilmu agama agar ibadah dan perjalanan ruhaninya tidak menyimpang. | 11 |
| 4 | Pertanyaan yang disampaikan dengan tawadhu' berbeda dengan pertanyaan yang bertujuan menguji, mempermalukan, atau menunjukkan bahwa dirinya lebih mengetahui.
V. RASULULLAH ﷺ DIUTUS UNTUK MENYEMPURNAKAN AKHLAK. Rasulullah ﷺ bersabda: إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ Artinya: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” HR ( Imam Ahmad) Ini menunjukkan bahwa tujuan agama bukan hanya menjadikan manusia banyak mengetahui, tetapi menjadikan manusia baik di hadapan Allah dan baik terhadap makhluk-Nya.
VI. ILMU YANG BENAR AKAN MELAHIRKAN RASA TAKUT KEPADA ALLAH. Allah berfirman: إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ Artinya: Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” (QS. Fathir ayat : 28) Maka ukuran keberhasilan ilmu bukan sekadar banyaknya hafalan. Pertanyaannya adalah: Apakah setelah bertambah ilmu, bertambah pula rasa takut kepada Allah...? Apakah semakin tawadhu'...? Apakah semakin menjaga lisan...? Apakah semakin mudah memaafkan...? Apakah semakin rajin beribadah...? Apakah semakin sedikit merasa dirinya lebih baik daripada orang lain....? Jika iya, ilmu tersebut sedang membuahkan adab.
VII. BAHAYA ILMU TANPA ADAB. Allah menceritakan perumpamaan seseorang yang diberi ayat-ayat-Nya tetapi kemudian melepaskan diri darinya: وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا Artinya: “Dan bacakanlah kepada mereka berita tentang orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami, kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu...” (QS. Al-A'raf ayat : 175) Ini memberikan pelajaran bahwa mengetahui kebenaran tidak otomatis membuat seseorang menjadi baik apabila pengetahuan tersebut tidak diikuti ketundukan kepada Allah. Karena itu dalam tasawuf, ilmu harus disertai: ilmu → amal → ikhlas → adab → tazkiyatun nafs.
VIII. PENYAKIT BESAR ORANG BERILMU ADALAH KESOMBONGAN. Rasulullah ﷺ bersabda: لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ Artinya: “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.”(HR. Muslim) Kesombongan sangat berbahaya bagi seorang penuntut ilmu. Seseorang mungkin mengetahui banyak kitab, dalil, istilah fiqh maupun tasawuf, tetapi kemudian muncul perasaan: “Aku lebih alim.” “Aku lebih tinggi maqamnya.” “Aku lebih dekat kepada Allah.” “Orang lain belum sampai.” Pada saat itulah ilmu yang seharusnya menjadi jalan mendekat kepada Allah justru dapat menjadi makanan bagi nafsu.
IX. CONTOH IBLIS: BER ILMU TAPI TAK BERADAB. Iblis mengetahui keberadaan Allah. Ia bahkan berbicara kepada Allah. Tetapi ketika diperintahkan bersujud kepada Adam, ia menolak karena kesombongan. Allah berfirman: أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ Artinya: “Ia enggan dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah ayat : 34) Masalah Iblis bukan semata-mata tidak mengetahui. Masalahnya adalah: tidak tunduk. Ia membanggakan asal penciptaannya: أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ “Aku lebih baik daripadanya.” (QS. Al-A'raf ayat : 12) Kalimat “aku lebih baik” merupakan penyakit yang harus sangat diwaspadai oleh seorang salik.
X. MENGAPA THORIQAT SANGAT MENEKANKAN ADAB...? Karena perjalanan thoriqat pada hakikatnya bukan sekadar perjalanan menambah informasi, melainkan perjalanan mendidik jiwa dan membersihkan hati. Allah berfirman: قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا Artinya: “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams ayat 9–10) Karena itu pendidikan seorang salik diarahkan kepada tazkiyatun nafs. Bukan sekadar: “Apa yang sudah aku ketahui...?” Tetapi: “Sudah berubahkah diriku setelah mengetahui?”
XI. ADAB KEPADA GURU MURSYID. Dalam ajaran thoriqat, seorang murid diajarkan menghormati mursyid atau guru yang membimbingnya. Namun perlu diberi batas yang jelas: ketaatan kepada guru tidak boleh mengalahkan ketaatan kepada Allah dan Rasulullah ﷺ. | 9 |
| 5 | BELAJAR ADAB DAHULU, BARU BELAJAR ILMU
Pendahuluan بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. Dalam perjalanan menuju Allah سبحانه وتعالى, seorang salik tidak cukup hanya mengumpulkan pengetahuan. Ilmu harus melahirkan adab, tawadhu', ketaatan, kebersihan hati, dan akhlak yang mulia. Karena itulah dalam tradisi pendidikan Islam dan tasawuf sangat ditekankan prinsip: “Belajar adab sebelum memperbanyak ilmu.” Maksudnya bukanlah seseorang dilarang mempelajari ilmu sebelum sempurna akhlaknya. Sebab untuk mengetahui adab pun manusia membutuhkan ilmu. Maksudnya adalah pendidikan adab harus berjalan sejak awal dan menjadi dasar dalam menerima, mengamalkan, serta menyampaikan ilmu. Ilmu tanpa adab dapat melahirkan kesombongan. Sebaliknya, ilmu yang disertai adab akan membawa seseorang semakin mengenal kehambaannya di hadapan Allah.
I. APA YANG DIMAKSUD DENGAN ADAB...? Adab bukan sekadar berbicara sopan atau menghormati orang yang lebih tua. Dalam jalan tasawuf, adab meliputi:
Adab kepada Allah.
Adab kepada Rasulullah ﷺ.
Adab terhadap Al-Qur'an dan syariat.
Adab kepada guru dan ulama.
Adab kepada kedua orang tua.
Adab kepada sesama manusia.
Adab kepada sesama salik.
Adab terhadap diri sendiri.
Adab dalam berdzikir dan beribadah.
Adab terhadap makhluk Allah secara keseluruhan. Dengan demikian, adab merupakan buah dari kesadaran bahwa seorang hamba senantiasa berada di bawah pengawasan Allah.
II. DASAR DASAR ADAB DALAM AL-QUR'AN
Adab kepada Allah dan Rasul-Nya Allah berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Hujurat ayat : 1) Ayat ini mengajarkan bahwa seorang mukmin tidak boleh menempatkan kehendak, pendapat, dan hawa nafsunya di atas ketentuan Allah dan Rasul-Nya. Inilah adab pertama seorang salik: kehendak dirinya ditundukkan kepada kehendak syariat.
Adab berbicara di hadapan Rasulullah ﷺ Allah berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi.” (QS. Al-Hujurat ayat : 2) Perhatikan bahwa Allah mendidik para sahabat bukan hanya tentang halal dan haram, tetapi juga bagaimana bersikap di hadapan Rasulullah ﷺ. Ini menunjukkan betapa tinggi kedudukan adab dalam Islam.
III. ADAB SEORANG MURID KEPADA GURU (KISAH NABI MUSA DAN KHIDIR) Salah satu dalil Al-Qur'an yang sangat indah mengenai adab penuntut ilmu terdapat dalam kisah Nabi Musa عليه السلام dan Khaidir. Nabi Musa berkata: هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰ أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا Artinya: “Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku sebagian ilmu yang benar yang telah diajarkan kepadamu..?” (QS. Al-Kahfi ayat : 66) Perhatikan bahasanya. Nabi Musa tidak berkata: “Ajarkan aku...!” Tetapi beliau meminta izin: هَلْ أَتَّبِعُكَ — “Bolehkah aku mengikutimu...?” Padahal Musa adalah seorang Nabi dan Rasul yang mulia. Ini adalah pelajaran besar bagi seorang salik: semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin tinggi pula adab dan kerendahan hatinya.
IV. ADAB MENDAHULUI PERTANYAAN Khaidir kemudian berkata: فَإِنِ اتَّبَعْتَنِي فَلَا تَسْأَلْنِي عَنْ شَيْءٍ حَتَّىٰ أُحْدِثَ لَكَ مِنْهُ ذِكْرًا Artinya: “Jika engkau mengikutiku, janganlah engkau menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu.” (QS. Al-Kahfi ayat : 70) Pelajarannya bukan bahwa murid tidak boleh bertanya. Bertanya justru merupakan jalan memperoleh ilmu. Namun seorang murid harus mengetahui: kapan bertanya, bagaimana bertanya, kepada siapa bertanya, dan dengan bahasa bagaimana ia bertanya. | 12 |
| 6 | 🟢Untuk selamat di dunia , perlukan 4 perkara:
1- Memaafkan kejahilan seseorang 2-Tidak memperbodohkan orang lain 3-Tidak mengharapkan kepada makhluk 4-Suka memberi
🟢 4 sifat wali Abdal:
1-Tidak banyak bercakap (perkara yang tidak berfaedah)
2-Mengasingkan diri (uzlah)
3-Selalu berlapar
4- Bangun malam
🟢 Orang alim dapat memberi syafaat
يُجاء بالعالمِ والعابدِ، فيقالُ للعابدِ: ادخل الجنةَ، ويقال للعالِم: قِفْ حتى تَشْفَعَ للناسِ
((Didatangkan orang alim dan orang abid: Lalu dikatakan kepada abid: Masuklah ke dalam Syurga , dan dikatakan pula kepada orang alim
"Berhentilah, sehingga engkau memberi syafaat kepada orang lain"))
🟢 Ubat hati
Saidina Ibrahim al-Khawwas رحمه الله berkata:
“Ubat hati ada lima perkara:
-Membaca al-Quran dengan tadabbur (menghayati dan merenungi maknanya). -Mengosongkan perut (tidak terlalu kenyang). -Mendirikan solat pada waktu malam. -Berdoa dan merendahkan diri kepada Allah pada waktu sahur. -Bersahabat dan duduk bersama orang-orang soleh.”
1️⃣ Adapun membaca al-Quran dengan tadabbur, maka Saidina Uthman bin Affan رضي الله عنه berkata:
“Demi Allah, sekiranya hati-hati kita benar-benar bersih, nescaya ia tidak akan pernah merasa kenyang daripada Kalam Tuhan kita.”
2️⃣Adapun mengosongkan perut, kerana apabila nafsu telah kenyang, anggota badan akan mudah terjerumus ke dalam maksiat.
3️⃣Adapun qiamullail, kerana ia merupakan kebiasaan orang-orang soleh dan sunnah penghulu para rasul ﷺ.
Selain itu, waktu malam merupakan waktu kebanyakan manusia sedang lalai, maka ia adalah waktu yang baik untuk penerimaan doa dan dikabulkan permohonan.
4️⃣ Adapun berdoa dengan penuh kerendahan diri pada waktu sahur, maka Allah Taala telah berfirman:
“Dan orang-orang yang memohon keampunan pada waktu sahur.” (Surah Ali ‘Imran: 17)
التضرع (at-taḍarru‘) bermaksud berdoa dan merendahkan diri dengan penuh pengharapan kepada Allah.
5️⃣ Adapun duduk bersama orang-orang soleh, kerana melihat mereka memberi kesan kepada hati. Pandangan terhadap mereka mengingatkan seseorang kepada Allah dan membawa kepada mengingati-Nya.
🟢Syair tentang lima ubat hati
Ubat hatimu ada lima ketika ia menjadi keras,
Maka tekunilah semuanya, nescaya engkau memperoleh kebaikan dan kejayaan.
Mengosongkan perut dan membaca al-Quran dengan tadabbur,
Demikian juga berdoa kepada-Mu pada waktu sahur.
Begitu juga qiamullail pada pertengahan malam,
Dan hendaklah engkau duduk bersama ahli kebaikan dan orang-orang yang baik.
Sedikit catatan faedah bersama Al-Allamah Syeikh Abdul Aziz Shahawi Al-Husaini hafizhohullah
Abu Abbas Muhammad Shahir | 33 |
| 7 | Bila Huruf Arab Ada Nilai Angka
Pernah dengar أَبْجَدْ هَوَّزْ حُطِّي كَلَمُنْ?
Ini bukan jampi atau bahasa rahsia. Ia merupakan susunan huruf Arab lama yang turut digunakan dalam sistem yang dikenali sebagai حِسَابُ الْجُمَّل (Hisab al-Jummal).
Dalam kaedah ini, setiap huruf mempunyai nilai angka tertentu:
ا = 1
ب = 2
ج = 3
د = 4
ه = 5
و = 6
... sehinggalah غ = 1000.
Sebab itu apabila dihitung:
الله = 66
ا (1) + ل (30) + ل (30) + ه (5)
Manakala:
محمد = 92
م (40) + ح (8) + م (40) + د (4)
Menariknya, kaedah sebegini pernah digunakan dalam tradisi keilmuan Arab, antaranya untuk penomboran dan kronogram, iaitu menyusun perkataan atau bait tertentu supaya jumlah nilai hurufnya menunjukkan tahun sesuatu peristiwa.
Cuma satu perkara perlu dibezakan. Hisab al-Jummal sebagai kaedah pengiraan huruf adalah satu perkara; menggunakannya untuk mendakwa mengetahui nasib, perkara ghaib atau masa depan adalah perkara yang lain. Jangan dicampurkan antara sejarah ilmu dengan dakwaan mistik.
Khazanah ilmu Islam dan Arab memang luas. Ada perkara yang apabila kita kenali sejarah dan kaedahnya, barulah kita faham mengapa nombor tertentu sering muncul dalam manuskrip, seni khat dan karya ulama terdahulu.
Wallahu a‘lam.
Ustaz Mohd Hazri al-Bindany
#HisabAlJummal #AbjadHawwaz #KhazanahIslam #BahasaArab #TurathIslam #SantaiIlmiah #UstazMohdHazriAlBindany | 38 |
| 8 | No text... | 30 |
| 9 | Al-Allamah Al-Muhaddith Dr. Usamah Sayyid al-Azhari pernah mengatakan bahawa tasawwur (gambaran) umum bagi agama Islam terdiri dari 3 perkara :
1] 'Ibadatullah.
2] 'Imaratul Ardh (mengimarahkan bumi spt pembangunan dan kerja dunia).
3] Tazkiyah an-Nafs (mendidik dan menyucikan jiwa).
3 perkara ini sebenarnya diistinbat dan dikeluarkan dari 1 ayat saja dalam surah al-Jumu'ah ayat 10 :
[Ibadah]
فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلاةُ
"Kemudian setelah selesai sembahyang,
[Imaratul Ardh]
فَانْتَشِرُوا فِي الأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ
maka bertebaranlah kamu di muka bumi (untuk menjalankan urusan masing-masing), dan carilah apa yang kamu hajati dari limpah kurnia Allah,
[Tazkiyah]
وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
serta ingatlah akan Allah banyak-banyak (dalam segala keadaan), supaya kamu berjaya (di dunia dan di akhirat)."
Lalu Syaikh Usamah berkata, jika seseorang itu hanya sibuk beribadah semata-mata, maka muncullah golongan yang tasyaddud(ekstremis), dan jika hanya sibuk dengan imaratul ardh dan membangun dunia saja, maka muncullah golongan sekular, dan jika hanya sibuk tazkiyah dan berzikir semata-mata, muncullah golongan rahbaniyah(kerahiban) dan mengasingkan diri dari masyarakat.
Manakala jika seimbangkan antara ketiga-tiganya, maka itulah yang benar dalam agama kita.
Subhanallah, lihatlah bagaimana hebat dan luasnya pemikiran ulama dan masyaikh Al-Azhar as-Syarif. Dengan satu ayat saja, boleh membina kaedah, pemikiran, dan fondasi asas Islam, berbeza dengan sesetengah yang berfikiran sempit dan tidak menggunakan akal untuk memahami wahyu, lalu menyempitkan kefahaman dan pemikiran.
Teringat kalam Syaikhuna Al-Murabbi al-Habib Umar hafizahullah :
"Wahyu(Quran Sunnah) jika tanpa akal, ibarat adanya cahaya yang terang, tetapi tetap gelap dan tidak dapat melihat kerana tidak menggunakan penglihatan untuk melihat,
dan akal tanpa wahyu ibarat adanya penglihatan, tetapi tiadanya cahaya, maka ia tetap dalam keadaan yang gelap dan tidak nampak!" | 54 |
| 10 | "..Dr.Harun Din, nie Tok Guru saya, atas belakang beliau ada PARUT, daripada bahu kanan sampai bawah,sampai sekarang ada parut,pasal apa parut nih??parut nie kerana ayah dia rotan dia,kes apa dia??sembahyang SUBUH,dia tidak pergi solat di MASJID,kes dia tidak pergi sembahyang di masjid jah,sembahyang di rumah,ayah dia balik,tanya:solat dah ker??beliau jawab:solat dah..tanya lagi:pergi masjid x??beliau senyap..pi masjid x??jawab beliau tidak,terus dirotan oleh ayah beliau..dia kuliah dengan saya,dia sebut cerita dia,nasib baik ayah dia rotan dia time dia kecil.."
(Ustaz Dato' Tuan Ibrahim Tuan Man)
Moral :
Didiklah anak2 kita dari kecil lagi dengan didikan agama, bekalkan mereka dengan agama, untuk melahirkan Manusia hebat seperti AL Marhum Tuan Guru Dato' Dr.Harun Din, didikan seperti ini perlu dipraktikkan dalam kehidupan berumahtangga. | 37 |
| 11 | "Tidak akan mencapai kesempurnaan ruhani seseorang sehingga terdapat dalam dirinya dua belas sifat:
dua sifat daripada Allah SWT, iaitu Sattar (menutup aib) dan Ghaffar (mengampuni).
dua sifat daripada Rasulullah SAW, iaitu penyayang dan lembut hati.
dua sifat daripada Abu Bakar رضي اللّٰه عنه, iaitu jujur dan dapat dipercayai.
dua sifat daripada Umar RA, iaitu amar makruf dan nahi mungkar
dua sifat daripada Uthman RA,
iaitu dermawan dan bangun malam
ketika manusia sedang tidur.
dan dua sifat daripada Ali رضي اللّٰه عنه,
iaitu berilmu dan berani."
— Qala'id al-Jawahir fi Manaqib al-Syeikh
Abdul Qadir
— Diriwayatkan daripada Syeikh Abdul Qadir al-Jilani | 23 |
| 12 | DOA KESELAMATAN NABI KHIDIR AS
Nama asli beliau Sayyidina Abul 'Abass Al Khodir adalah Balya ibni Malkan ibni Arfahsad ibni Sam bin Nuh 'alaihis - salam(guru sekumpul)
Nabi Khidir as berkeliling di sekitar lautan sambil memberi petunjuk kepada orang-orang yang tersesat di lautan. Sedangkan, Nabi Ilyas berkeliling di sekitar gunung-gunung sambil memberi petunjuk kepada orang-orang yang tersesat di gunung-gunung. Inilah kebiasaan mereka di waktu siang hari.
Sedangkan di waktu malam hari mereka berkumpul di bukit Ya’juj wa Ma’luj (يأجوج و مأجوج) sambil mereka menjaganya. Dan diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra bahwa Nabi Khidir dan Nabi Ilyas berjumpa pada tiap-tiap tahun di Mina (Saudi Arabia). Mereka saling mencukur rambutnya secara bergantian. Kemudian mereka berpisah dengan mengucapkan kalimat:
بسم الله ما شاء الله لا يسوق الخير الا الله بسم الله ما شاء الله لا يصرف السو ء الا الله بسم الله ما شاء الله ما كان من نعمة فمن الله بسم الله ما شاء الله لا حول و لا قوة الا بالله
Maka barangsiapa mengucapkan kalimat-kalimat ini pada waktu pagi dan sore hari, maka ia akan aman dari tenggelam, kebakaran, pencurian, syaitan, sultan, ular, dan kalajengking.
Dan telah dikeluarkan oleh Ibnu ‘Asakir bahwa sesungguhnya Nabi Khidir dan Nabi Ilyas itu berpuasa Ramadhan di Baitul Maqdis (Palestina) dan mereka melakukan ibadah haji pada tiap-tiap tahun. Mereka minum air zamzam dengan sekali tegukan, yang mencukupkan mereka seperti minuman dari Kabil.
#kalamhikmahulama
والله اعلم بالصواب
ﺑِﺴْــــــــــــــﻢِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﻦِ ِﺍﻟﺮَّﺣِﻴْـــــﻢ
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ، الْفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ، نَاصِرِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ، وَالْهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيْمِ وَعَلىَ آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ العَظِيْمِ . | 22 |
| 13 | Orang orang yg tidak akan dihisab di Hari Qiamat
فَائِدَةٌ) وَرَدَ فِي الأَحَادِيثِ أَنَّ مَنِ ابْتُلِيَ بِذَهَابِ بَصَرِهِ أَوْ غَيْرِهِ مِنَ البَلاَيَا فَصَبَرَ حَتَّى يَلْقَى اللهَ، وَمَنْ مَاتَ بِطَرِيقِ مَكَّةَ ذَاهِبًا أَوْ آيِبًا، وَكُلَّ رَحِيمٍ صَبُورٍ، وَطَالِبَ العِلْمِ، وَالمَرْأَةَ المُطِيعَةَ لِزَوْجِهَا، وَالبَارَّ بِوَالِدَيْهِ، وَالمَاشِي فِي حَاجَةِ أَخِيهِ المُسْلِمِ، وَمَنْ رَبَّى صَبِيًّا حَتَّى يَقُولَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَمَنْ مَاتَ لَيْلَةَ الجُمُعَةِ أَوْ يَوْمَهَا، وَمَنْ بُلِيَ بِمُصِيبَةٍ فِي بَدَنِهِ أَوْ مَالِهِ فَصَبَرَ، وَمَنْ قَرَأَ سُورَةَ القَدْرِ بَعْدَ وُضُوئِهِ ثَلاَثًا، وَمَنْ حَفَرَ بِئْرًا فَلَاةً إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا لاَ يُحَاسَبُونَ، وَوَرَدَ فِي الحَدِيثِ "حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا" أَيْ عُدُّوَا...
Terjemahan Teks
(Faedah) Tersebut dalam hadis-hadis bahwa barangsiapa yang diuji dengan kehilangan penglihatannya (kebutaan) atau cobaan lainnya lalu ia bersabar hingga berjumpa dengan Allah,
Barangsiapa yang meninggal di perjalanan menuju Makkah (pergi atau pulang),
setiap orang yang penyayang lagi penyabar, penuntut ilmu, wanita yang taat kepada suaminya,
anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya, orang yang berjalan untuk membantu kebutuhan saudara muslimnya,
orang yang mendidik anak kecil hingga mampu mengucapkan Laa ilaha illallah,
orang yang meninggal pada malam Jumat atau siang harinya, orang yang ditimpa musibah pada tubuh atau hartanya lalu bersabar,
orang yang membaca Surah Al-Qadr sebanyak tiga kali setelah berwudu,
dan orang yang menggali sumur di padang sahara (tanah gersang) karena iman dan mengharap pahala—
mereka semua tidak akan dihisab (tanpa hisab). Dan tersebut pula dalam hadis: "Introspeksilah diri kalian sebelum kalian dihisab", artinya hitunglah (amal perbuatan kalian)...
Penjelasan Singkat
. Bagian ini merangkum golongan orang-orang beruntung yang memperoleh keutamaan bebas dari hisab (perhitungan amal yang berat di hari kiamat).
Kunci utama untuk mendapatkan keutamaan ini terbagi menjadi beberapa kategori:
Ketabahan & Kesabaran: Bersabar atas ujian fisik (seperti kebutaan), musibah harta, serta memiliki sifat penyayang.
Ketaatan & Amal Sholeh: Berbakti kepada orang tua, istri yang taat pada suami, mendidik anak dengan tauhid, menuntut ilmu, dan membantu sesama (seperti mempermudah urusan orang lain atau menggali sumur di tempat gersang).
Wafat dalam Keadaan Mulia: Meninggal saat menempuh perjalanan ibadah ke Makkah atau meninggal pada hari/malam Jumat.
Dzikir Ringan Berpahala Besar:
Membaca Surah Al-Qadr 3 kali usai berwudu.
Di akhir paragraf, terdapat pengingat (muhasabah)
Agar kita senantiasa menghitung dan memperbaiki dosa-dosa kita sendiri di dunia sebelum kelak dihitung oleh Allah di akhirat.
Reff : Is'adur Rofiq juz,1 hal.32 | 37 |
| 14 | 𝗟𝗜𝗠𝗔 𝗔𝗠𝗔𝗟𝗔𝗡 𝗬𝗔𝗡𝗚 𝗠𝗘𝗡𝗗𝗔𝗧𝗔𝗡𝗚𝗞𝗔𝗡 𝗞𝗘𝗕𝗔𝗜𝗞𝗔𝗡 𝗗𝗔𝗡 𝗞𝗘𝗟𝗨𝗔𝗦𝗔𝗡 𝗥𝗘𝗭𝗘𝗞𝗜
Ada lima perkara yang apabila seseorang membiasakan diri dengannya secara istiqamah, Allah سبحانه وتعالى akan menambahkan kebaikannya sebesar gunung-gunung yang teguh dan meluaskan rezekinya.
Pertama, membiasakan diri bersedekah, sama ada sedikit ataupun banyak.
Kedua, menyambung silaturahim, sama ada dalam perkara yang kecil ataupun besar.
Ketiga, sentiasa berjihad di jalan Allah سبحانه وتعالى.
Keempat, sentiasa menjaga wuduk dan tidak berlebih-lebihan dalam menggunakan air ketika berwuduk.
Kelima, sentiasa mentaati kedua-dua ibu bapa dan istiqamah dalam berbuat baik kepada mereka.
Amalan yang besar di sisi Allah tidak semestinya bermula dengan sesuatu yang besar. Kadangkala, yang paling bernilai ialah amalan yang kecil tetapi dilakukan dengan istiqamah, ikhlas dan tidak pernah ditinggalkan.
[ Tanbih al-Ghafilin, hlm. 49.] | 58 |
| 15 | Al-Habib Ali Al-Jufri الحبيب علي الجفري bercerita bahawa beliau pernah meminta nasihat secara peribadi daripada al-Marhum al-Muhaddith Sayyid Muhammad Zaki Ibrahim dengan berkata :
"Sayyidi! Saya merasakan saya telah hampir kepada ambang kemasyhuran. Apa yang perlu saya lakukan untuk mengelakkan fitnah kemasyhuran ini?"
Al-Marhum menjawab :
"Saya berikan kamu DUA nasihat :
Pertama - tundukkan pandangan mata hati kamu daripada melihat kepada ganjaran manusia.
Kedua - luangkan masa bersama ALLAH di waktu malam walaupun sekadar lima minit dengan melakukan ketaatan sama ada bersolat dua rakaat, membaca al-Qur'an, berzikir atau berdoa.
Jika kamu lakukan perkara ini, ALLAH akan mencampakkan rasa lazat bermunajat kepada-Nya di hati kamu sehinggakan walaupun kamu sekadar meluangkan masa bersama-Nya selama lima minit, hakikatnya kamu mengecapi kelazatan itu selama berjam-jam tanpa kamu sedari."
Ya Subhanallah!!
p/s : Pesanan untuk sesiapa saja yang telah mula dihinggapi populariti dan kemasyhuran agar tidak timbul rasa 'ujub dan takbur. | 60 |
| 16 | Al-Imam Al-Ghazali (w. 505 h) menukilkan dari
Abu Sulaimān Al-Dārăni beliau berkata :
لا يفوت أحدًا صلاة جماعة إلا بذنب يذنبه
Terjemahan : Tidaklah seseorang itu terlepas solat berjemaah melainkan kerana dosa yang dia lakukan.
Rujuk Ihyā' Ulüm Al-Din, Al-Ghazăli (4/54) | 74 |
| 17 | 6 NASEHAT IMAM SYAFI'I وَقَالَ الْإِمَامُ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ عَظَمَتْ قِيمَتُهُ، وَمَنْ تَعَلَّمَ الْفِقْهَ نَبُلَ قَدْرُهُ، وَمَنْ كَتَبَ الْحَدِيثَ قَوِيَتْ حُجَّتُهُ، وَمَنْ تَعَلَّمَ الْحِسَابَ جَزُلَ رَأْيُهُ، وَمَنْ تَعَلَّمَ الْعَرَبِيَّةَ رَقَّ طَبْعُهُ، وَمَنْ لَمْ يَصُنْ نَفْسَهُ لَمْ يَنْفَعْهُ عِلْمُهُ. Dan telah berkata Imam Asy-Syafi'i Semoga Allah meridhainnya: Barang siapa mempelajari Al-Qur'an maka agunglah nilainya, barang siapa mempelajari fiqih maka mulialah kedudukannya, barang siapa mencatat hadis maka kuatlah argumennya, barang siapa mempelajari ilmu hisab (matematika) maka tajamlah pemikirannya, barang siapa mempelajari bahasa Arab maka lembutlah wataknya, dan barang siapa tidak menjaga dirinya maka ilmunya tidak akan bermanfaat baginya. (Nashoihul Ibad, Bab 4, Maqolah ke 23).
Perkataan Imam Asy-Syafi'i tersebut dinukil dan dijelaskan oleh Syekh Nawawi Al-Bantani dalam kitabnya yang sangat terkenal, Nashoihul Ibad sebagai berikut:
مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ عَظَمَتْ قِيمَتُهُ (Barang siapa mempelajari Al-Qur'an, maka agunglah nilainya) Mempelajari Al-Qur'an—baik membaca, menghafal, maupun memahami maknanya—akan mengangkat kehormatan dan kemuliaan seorang hamba di hadapan Allah dan manusia.
وَمَنْ تَعَلَّمَ الْفِقْهَ نَبُلَ قَدْرُهُ (Barang siapa mempelajari Fiqih, maka mulialah kedudukannya) Ilmu Fiqih mengajarkan hukum syariat serta aturan ibadah dan muamalah. Penguasaan Fiqih mendudukkan seseorang pada posisi yang terhormat karena ia menjadi tempat bertanya dan pemandu bagi masyarakat.
وَمَنْ كَتَبَ الْحَدِيثَ قَوِيَتْ حُجَّتُهُ (Barang siapa mencatat/mempelajari Hadis, maka kuatlah argumennya) Hadis merupakan sumber hukum kedua dalam Islam. Orang yang mempelajari dan mengumpulkan riwayat Hadis memiliki pijakan argumen (hujjah) yang kokoh, otentik, dan tidak mudah terbantahkan.
وَمَنْ تَعَلَّمَ الْحِسَابَ جَزُلَ رَأْيُهُ (Barang siapa mempelajari ilmu Hisab/Matematika, maka tajam pemikirannya) Logika matematika melatih ketelitian, kerapian berpikir, dan ketajaman analisis. Hal ini membuat pandangan serta pertimbangan seseorang dalam menyelesaikan masalah menjadi rasional dan matang.
وَمَنْ تَعَلَّمَ الْعَرَبِيَّةَ رَقَّ طَبْعُهُ (Barang siapa mempelajari Bahasa Arab, maka lembutlah wataknya) Keindahan sastra, kehalusan tata bahasa, dan kekayaan makna dalam Bahasa Arab mampu memperhalus perasaan, melatih kepekaan rasa, serta membentuk budi pekerti yang santun.
وَمَنْ لَمْ يَصُنْ نَفْسَهُ لَمْ يَنْفَعْهُ عِلْمُهُ (Barang siapa tidak menjaga dirinya, maka ilmunya tidak akan bermanfaat baginya) Pesan ini menjadi syarat mutlak dari seluruh ilmu di atas. Sehebat apa pun seseorang menguasai ilmu agama maupun sains, ilmu tersebut akan sia-sia jika ia tidak melakukan shiyanatun nafs (menjaga kehormatan diri dari maksiat, kesombongan, dan keburukan akhlak). Akhlak adalah wadah utama dari keberkahan ilmu. Semoga bermanfaat | 73 |
| 18 | KEUTAMAAN NIAT DALAM AMAL
Segala sesuatu, sekecil apapun, jika disandarkan (idlafah) kepada Allah, maka sesuatu itu memiliki nilai keagungan karena keagungan yang disandarinya.
Segala sesuatu, sebesar apapun, jika disandarkan (idlafah) pada nafsu dan dunia, maka sesuatu itu memiliki nilai rendah karena rendahnya yang disandarinya.
Kita harus membiasakan diri untuk membungkus semua yang kita lakukan, sekecil apapun, dengan niat tulus karena Allah, untuk Allah, demi Allah dan atas nama Allah.
Ulama banyak berkata: "Begitu banyak hal kecil yang menjadi besar karena niat, sebagaimana begitu banyak hal besar yang menjadi kecil karena niat".
Kalau begitu, janganlah merasa terhina karena kita adalah orang kecil yang diamanahi Allah hal-hal kecil, jabatan kecil, dan tanggung jawab kecil. Sepanjang kita sertakan spirit keikhlasan dan semangat mempersembahkan yang terbaik karena Allah maka semuanya bernilai besar dan mulia di hadapan Allah.
Jangan sombong karena kita menjadi orang besar dengan amanah besar, pekerjaan besar dan tanggungjawab besar. Jika tak ada niat baik dan keikhlasan, semuanya bernilai kecil dan hina di hadapan Allah.
Niat dan keikhlasan itu adalah urusan rahasia Allah, maka tak perlulah kita menghakimi perbuatan orang lain. Tidak usahlah kita belajar menjadi malaikat pencatat amal yang pekerjaannya selalu membaca dan mencatat perbuatan orang lain. Lebih dari itu tak perlulah kita mengambil alih pekerjaan Allah, yakni menghakimi dan memvonis orang lain.
#kalamhikmahulama
والله اعلم بالصواب
ﺑِﺴْــــــــــــــﻢِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﻦِ ِﺍﻟﺮَّﺣِﻴْـــــﻢ
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ، الْفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ، نَاصِرِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ، وَالْهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيْمِ وَعَلىَ آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ العَظِيْمِ . | 48 |
| 19 | Dalam etika Dr ,selagi Dr tak tengok pesakit , Selagi tu siapa pun tak boleh bagi ubat hingga Dr datang.
Ini baru penyakit jasmani.Dr kena jumpa pesakit.inikan pula rohani tanpa dia jumpa.Masyaikh kita dari Nizamuddin mengatakan, Dakwah dan Taklim adalah perkara yg berbeza.
Dakwah dan taklim adalah lazim malzum.saling memerlukan antara satu sama lain.Nabi Saw sampaikan apa yg Nabi terima wahyu dari Allah SWT.
ۖوَإِن لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ ۚ
Di Haji Wida' , Nabi Saw telah bertanya, adakah aku telah Sampaikan?
Para sahabat menjawab نَشْهَدُ أَنَّكَ قَدْ بَلَّغْتَ الرِّسَالَةَ، وَأَدَّيْتَ الْأَمَانَةَ، وَنَصَحْتَ الْأُمَّةَ
Kami jadi saksi .Kamu telah sampaikan..
Ada 2 keadaan umat :
yg ada keinginan nak belajar Agama
yg langsung tiada Keninginan nak belajar Agama.yg ni peratus ramai di luar .kita lah perlu jumpa mereka.bimbing mereka.
مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ Orang kafir di tanya kenapa kamu masuk Neraka?
Mereka menjawab
قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ Kerana kami tak solat.
Bayangkan orang kafir tak solat pun di tanya . apatahlagi orang Islam yg wajib Solat.
Maka kitalah perlu jumpa Umat ini .
Kelompok Para Sahabat yg Alim nama al-Asy'ariyyun..tapi ada orang kampung yg tak jauh dari kampung al-Asy'ariyyun ada yg jahil.Nabi Saw tegur.mereka menjawab , orang kampung tu tak nak datang belajar dgn kami .Nabi Saw nasihat lagi , barulah Asya'iriyyun faham tanggungjawab mereka untuk jumpa umat.mereka minta masa tempoh dari Nabi Saw setahun untuk ajar Agama pada Umat.dari inilah dalil keluar setahun.
Khalwat Mey ibadat. Ulama ketika berseorangan sibuk dgn ibadat dan takut pada Allah SWT.
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ Ulama perlu bergilir-gilir bagi masa di Masjid untuk ajar umat.
"الدِّينُ النَّصِيحَةُ." قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: "لِلَّهِ، وَلِكِتَابِهِ، وَلِرَسُولِهِ، وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ."
Agama itu Nasihat.mengharapkan kebaikan.
Bila Ulama beri masa di Masjid , orang Awwam akan dapat belajar terus dgn Ulama dalam takmir Masjid.Negara yg sungguh-sungguh buat takmir masjid ni, maktab Quran dan masjid mereka hidup.
Masyaikh kita suruh buat madrasah di Masjid.Bentang jaga Agama zaman ini ialah Madrasah.
Zaman saya tahun 60 an susah nak jumpa Hafiz Quran.berkat orang tua² kita keluar jalan Allah pergi ipb, hari ni punya banyak Hafiz Quran.yg jadi Ulama pun ramai.yg keluar setahun pun ramai.masa saya keluar setahun , kami bertiga je dari Malaysia.sekarang seratus lebih jemaah setahun .
Bila bergerak tengok keadaan umat, Ulama yg dah keluar tengok, mereka kata kalau kena keluar 5 tahun dia sedia untuk bimbing Umat.
Di India , 300 juta orang Islam .walaupun Ulama ramai tapi ribuan murtad . Bayangkan kemurtadan di tempat lain .Parah .kita perlu beri tumpuan pada remaja.syabab.luangkan masa dgn mereka.insyAllah semua anak muda akan datang pada Agama.jika tidak ,bathil sedang usaha nak sembelih Iman mereka.
Ijtimak kita ini untuk kita keluar jalan Allah SWT.Bukan saja² kumpul di sini.maka zahirkanlah azam tuan² semua. | 44 |
| 20 | Bayan khas Ulama' Ijtimak Selatan
Hazrat Sheikhul Hadis Maulana Abdul Hamid db
Di Masjid Al-Azim Masjid Negeri Melaka tulisan oleh Us Farkhan Daie
Saya memohon keuzuran di depan tuan² ini bukanlah ceramah, tapi sekadar muzakarah buat tuan² yg tuan rumah bahkan para penceramah di sini , tuan² lebih tahu sebab tuan² adalah Tuan rumah..
Allah SWT dgn kurnia Nya telah memilih segelintir Umat yg di beri ilmu Agama dan dapat menyampaikan Agama.
Tak semua orang di pilih belajar Agama sampai habis .Ada yg sakit tak habis belajar .ada yg tak cukup duit tak habis belajar.ada yg bapa hantar ,ibu ambil dari madrasah.ada yg ibu hantar, ayah bawa balik.ada yg pandai tapi bila cuti terus tak balik madrasah.jadi madrasah pula kena pening fikir tentang dia.jadi berbagai ehwal.
Di kalangan tuan² ialah orang yg mempunyai Sanad pengajian antaranya dalam bidang hadis yg sampai terus hingga pada Rasulullah Saw..Nabi Saw umpamakan Ilmu seperti Hujan.
وَسَلَّمَ قَالَ مَثَلُ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ مِنْ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ الْغَيْثِ الْكَثِيرِ أَصَابَ أَرْضًا فَكَانَ مِنْهَا نَقِيَّةٌ قَبِلَتْ الْمَاءَ فَأَنْبَتَتْ الْكَلَأَ وَالْعُشْبَ الْكَثِيرَ وَكَانَتْ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتْ الْمَاءَ فَنَفَعَ اللَّهُ بِهَا النَّاسَ فَشَرِبُوا وَسَقَوْا وَزَرَعُوا وَأَصَابَتْ مِنْهَا طَائِفَةً أُخْرَى إِنَّمَا هِيَ قِيعَانٌ لَا تُمْسِكُ مَاءً وَلَا تُنْبِتُ كَلَأً فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِي دِينِ اللَّهِ وَنَفَعَهُ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ فَعَلِمَ وَعَلَّمَ وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللَّهِ الَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ
“Perumpamaan petunjuk hidayah dan ilmu yang Allah mengutusku dengan membawanya adalah seperti hujan lebat yang jatuh ke bumi.
Di antara tanah itu ada jenis yang dapat menyerap air sehingga dapat menumbuhkan rumput dan tumbuhan yang pelbagai. Ada pula tanah yang keras tidak menyerap air hingga bertakungnya air sehingga dapat diminum oleh manusia, haiwan ternak dan untuk menyiram tanaman.
Ada juga permukaan tanah yang berbentuk lembah yang tidak dapat menahan air dan juga tidak dapat menumbuhkan tanaman. Begitulah perumpamaan orang yang belajar Agama, memahami agama Allah dan dapat memanfaatkan apa yang aku diutus dengannya, dia mempelajarinya dan mengajarkannya.
Begitu juga perumpamaan orang yang tidak dapat mengangkat darjat untuk berfikir dan tidak mahu menerima hidayah Allah dengan apa yang aku diutus dengannya dia umpama tanah yang tidak menakung air dan tidak subur”.
Taklim ada 3 syarat:
suhbah .Para Sahabat bersuhbah dgn Baginda Saw.berdamping.Punya dahsyat kesan Suhbah hingga di himpunkan seluruh wali² qutub ke Ghaus ke tak kan dapat menandingi seorang Sahabat .walaupun dia pernah seketika duduk dgn Nabi Saw.
Inabah. ar-ruju.sentiasa kembali bertanya dan merujuk .Inabah bertaubat kepada Allah SWT dan ruju kepada para Ulama . kemudahan media yg ada pada hari ini menjauhkan umat dari Ulama.menjadi tanggungjawab Ulama' untuk usaha mghilangkan kejahilan pada Umat . perlu ada ikhtilat antara Ulama' dan Awwam.
Talaqqi ikhtilat antara Ulama' dan Awwam.
Jemaah ulama bergerak nampak kejahilan umat.sebab itu ulama bukan keluar 4 bulan tapi setahun 3 kali secara berselang seli.Bila jemaah beri karguzari balik keluar di balkan.ramai orang Islam yg tak pandai wudhu walhal ini asas anak kita yg kecik pun tahu.
Dengar karguzari kita sedih tapi ini tak sama.kerana cuma dengar khabar.kita perlu merasai . mengalami.sebab itu kena keluar jalan Allah SWT.
Nabi Musa As tinggalkan Kaumnya 40 hari , kaumnya telah sesat.Nabi Musa As dapat karguzari dari Allah SWT sendiri.tapi lebih sedih lagi bila Nabi Musa sendiri tengok depan mata setelah turun dari Tursina.Tak sama walaupun Allah SWT sampaikan pada Musa berbanding dgn turun sendiri tengok.sedangkan Nabi Musa As ialah Ulul Azmi .
Para Ulama kena keluar bergilir-gilir.supaya mereka beri peringatan pada Umat mereka .perlu wujudkan ikhtilat antara Awwam dan Ulama.usaha batil pisahkan guna alat untuk jauhkan Ulama' dan Awwam .Hingga orang rujuk dgn alat .tak rujuk ulama dah.akhirnya orang awam jadi jahil muraqab.dia tak tahu dia jahil. | 50 |
