en
Feedback
Islam Mulia

Islam Mulia

Open in Telegram

Menjaga Kemuliaan Islam

Show more
938
Subscribers
No data24 hours
No data7 days
No data30 days
Posts Archive
14. Perangilah mereka, agar Allah azab mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu, Allah hinakan mereka, Allah menolong kamu terhadap mereka, dan melegakan hati orang-orang yang beriman. 15. Dan menghilangkan panas hati (dendam) orang-orang mukmin. Dan Allah menerima taubat orang yang dikehendaki-Nya. Allah maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. At-Taubah: 14-15) Ayat tersebut merinci, perang yang Allah perintahkan kepada orang beriman itu memiliki 6 khasiat: Pertama, sebagai sarana bagi Allah untuk mengazab musuh-Nya. Ini semacam “uang muka” sebelum Allah azab mereka dengan rasa sakit maksimal di akhirat nanti. Allah seolah meminjam tangan para tentara-Nya untuk mengazab mereka dengan rasa takut, rasa lelah, rasa sakit, depresi, hingga luka dan kematian. Khasiat ini bisa dikategorikan sebagai agenda Allah. Kedua, sebagai sarana bagi Allah untuk menghinakan musuh-Nya yang sombong tak mau tunduk kepada Allah. Ketika mereka dikalahkan oleh tentara-Nya, kekalahan itu merubah mereka dari jumawa menjadi lesu tak berdaya. Mirip petinju yang naik ring dengan pongah, lalu dipukul KO maka akan terhina di hadapan penonton. Khasiat ini bisa dikategorikan dalam agenda Allah. Ketiga, sebagai sarana bagi Allah untuk memenangkan tentara-Nya terhadap musuh-Nya. Kalau tidak ada perang, tak ada media untuk turunnya pertolongan Allah lalu tercapai kemenangan. Mike Tyson jika tak bertinju maka tak bisa disebut menang terhadap lawannya. Ketika tentara-Nya berperang di medan laga, Allah kemudian turunkan malaikat untuk membantu. Misalnya pada perang Badar, ada 1.000 malaikat yang diterjunkan. Bantuan pasukan (malaikat) ini sifatnya menemani tentara-Nya (manusia) sehingga tampak berbaur menjadi satu. Bukan diturunkan secara mandiri tanpa ada tentara-Nya dari kalangan manusia. Maknanya, orang beriman harus turun dulu ke medan laga, baru setelah itu Allah terjunkan pasukan malaikat untuk membantu. Tidak bisa orang beriman hanya duduk manis lalu berdoa minta dimenangkan lalu secara ajaib tank-tank Israel meledak dan semua tentaranya tewas. Kemenangan orang beriman juga bermakna kemenangan Allah. Karena itu, khasiat ini bisa dimasukkan dalam kategori agenda bersama; agenda Allah sekaligus agenda orang beriman. Keempat, sebagai obat sakit hati yang telah lama bersarang di dada orang beriman. Bagaimana tidak, gambar dan video muslim Palestina yang dipukuli, disiksa, ditembak dan dihinakan oleh Israel benar-benar menyisakan rasa perih di hati orang beriman sebagai saudara. Seperti perihnya hati seorang ayah yang melihat anaknya disiksa orang tapi tak bisa menyelamatkannya. Perang akan memberi kesempatan gambar dan video yang sama terjadi pada musuh. Ini akan menjadi obat untuk sakit hati yang selama ini dirasakan orang beriman. Terobatinya sakit hati kadang dilambangkan dengan kata “rasain loe, makanya jangan zalim dan sok jago”. Khasiat ini bisa dimasukkan dalam kategori agenda orang beriman bukan agenda Allah. Sebab tak ada istilah “sakit hati” bagi Allah sehingga perlu disembuhkan. Allah memiliki salah satu sifat yaitu marah. Tentu saja Allah marah dengan kelakuan Israel yang menyakiti hamba-hamba-Nya yang beriman itu. Tapi Allah menyiapkan sendiri siksa untuk mereka kelak di akhirat untuk menghukum, dan itu lebih pedih. Kelima, sebagai obat menghilangkan dendam kesumat yang mengendap di hati orang beriman. Dendam kesumat karena melihat saudaranya dizalimi. Seperti dendamnya seorang anak melihat ibunya diperkosa dan tidak mampu menyelamatkan. Ia pasti akan menyimpan dendam itu. Cepat atau lambat ia akan balaskan, hanya soal momentum yang tepat. Perang ibarat momentum pembalasan itu, karenanya akan menghilangkan dendam di hati orang beriman. Khasiat ini bisa dimasukkan dalam agenda orang beriman. Agar hati orang beriman bisa tenang, bahagia, sakinah dan mutmainnah. Sebab hati yang terbakar dendam itu menyiksa.

PANDUAN MEMBACA GAZA (4) PERANG, OBAT MULTI KHASIAT Perang itu ibarat obat atau jamu. Rasanya pahit getir, berkli lipat dari pahitnya Sambiloto atau Brotowali – jamu legendaris Jawa yang kondang sebagai raja pahit. Tapi khasiatnya sangat banyak. Kita mengenal hukum qishas dalam syariat Islam. Siapa yang membunuh akan di-qishas dengan dibunuh. Rasanya pahit dan sakit. Tapi khasiatnya banyak. Pertama, menegakkan keadilan. Kedua, membuat takut orang lain yang terpikir untuk membunuh. Ketiga, penghilang rasa sakit hati dan dendam dari keluarga korban pembunuhan. Keempat, menyelamatkan banyak nyawa karena para calon pembunuh mengurungkan niatnya. Perang lebih pahit dari qishas, sebab berpotensi menimbulkan korban yang lebih besar. Tapi sepadan, khasiatnya juga lebih mujarab. Bukan hanya satu khasiat, banyak. Membunuh itu kejahatan individu. Obatnya juga buat individu, dengan memberikan qishas kepada pelaku seorang, tanpa mengusik keluarganya. Sedangkan perang – seperti yang dilakukan Israel terhadap Gaza – adalah kejahatan terorganisir dengan melibatkan ratusan bahkan ribuan orang. Mengobatinya dengan qishah jelas tak memadai dan sangat sulit. Bisa jadi petugas yang akan melakukan qishas malah ditangkap oleh pihak yang mau diqishas. Dua Wajah Perang Perang punya dua wajah. Wajah baik dan wajah buruk. Sebab sejatinya perang itu netral, tujuan dan cara lah yang akan membuat perang itu berwajah baik atau buruk. Perang yang dipraktekkan Israel terhadap Palestina mewakili wajah buruk. Seperti halnya perang yang dipraktekkan Belanda terhadap Indonesia, Jepang terhadap Indonesia, dan negara-negara penjajah lain. Secara tujuan, perang dijadikan alat untuk menjajah, merampas tanah, mengusir penduduk dari kampung halamannya, dan melakukan pembunuhan kejam demi menciptakan efek horor sehingga mudah ditaklukkan. Tujuan seperti itu merupakan tujuan yang salah. Sementara pada sisi cara, juga salah. Perang yang dilakukan mengabaikan etika. Orang sipil yang bukan kombatan juga dijadikan sasaran pembunuhan. Tempat ibadah dihancurkan. Rumah sakit dihajar. Sekolahan dihantam. Israel merupakan salah satu pionir dalam perang tanpa adab dan etika. Sementara perang yang dilakukan Mujahidin Gaza mewakili wajah baik. Secara tujuan dan cara baik. Sisi tujuan, mujahidin memakai perang untuk mengambil hak yang dirampas, menuntut balas atas kekejaman dan melumpuhkan kekuatan jahat agar tak lagi menebar kezaliman. Tanpa perang semua tujuan itu tak tercapai, justru semakin dihinakan oleh Israel. Sisi cara juga baik. Menggunakan etika. Bukan seperti Israel yang brutal tanpa perikemanusiaan. Inilah warisan Islam yang tercatat indah dalam sejarah. Ini sesuai dengan misi Islam untuk memandu kehidupan manusia agar berjalan di atas jalan Allah. Bukan hanya memandu soal ibadah, pernikahan, ekonomi tapi juga soal perang karena perang melekat dalam peradaban manusia. Khasiat Perang Menurut Allah Allah memerintahkan orang beriman untuk menggunakan perang sebagai alat untuk mencapai banyak tujuan. Allah punya musuh, yaitu para penguasa jahat yang menolak tunduk kepada Allah. Padahal kekuasaan Allah meliputi kekuasaan mereka, tapi mereka tak mau menjadi sub-ordinat kekuasaan Allah. Sebagaimana orang beriman juga punya musuh, yaitu penguasa yang menghalangi orang beriman untuk tunduk kepada Allah, merampas tanah mereka, menyiksa dan menzalimi mereka. Sementara para penguasa selalu menggunakan sarana bernama perang sebagai alat pukul dan alat bertahan. Allah dan orang beriman dipersatukan oleh kesamaan musuh. Musuh Allah juga musuh orang beriman. Maka perang yang Allah perintahkan akan memberi hasil ganda, hasil sesuai agenda Allah dan hasil sesuai agenda orang beriman. Khasiat perang yang Allah sebutkan dalam firman-Nya merupakan rangkuman dari dua agenda ini. Berikut ayatnya: قَٰتِلُوهُمۡ يُعَذِّبۡهُمُ ٱللَّهُ بِأَيۡدِيكُمۡ وَيُخۡزِهِمۡ وَيَنصُرۡكُمۡ عَلَيۡهِمۡ وَيَشۡفِ صُدُورَ قَوۡمٖ مُّؤۡمِنِينَ ١٤ وَيُذۡهِبۡ غَيۡظَ قُلُوبِهِمۡۗ وَيَتُوبُ ٱللَّهُ عَلَىٰ مَن يَشَآءُۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ ١٥– التوبة

Setelah kalimat “provokatif” di atas, disusul kalimat berikutnya yang tak kalah menohok: “padahal Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti, jika kamu benar-benar orang beriman.”. Ya benar, bagi mukmin Allah lebih berhak ditakuti ketimbang musuh sehebat apapun. Artinya, jika dibalik alur kalimatnya maka akan menjadi begini: “Mukmin itu hanya takut kepada Allah, tak takut kepada musuh – kaum kafir. Karena tidak takut kepada musuh, maka berani memerangi musuh. Karena berani memerangi musuh, maka tidak mau memakai jalan diplomasi untuk memberi jera musuh”. Ketika hajat yang dibutuhkan adalah perang bukan diplomasi. Ujung dari rangkaian kalimat ini, jalan orang beriman yang benar imannya dengan dibuktikan hanya takut kepada Allah pasti mengambil metode perang sebagai cara melawan musuh. Diplomasi adalah cara yang diambil orang yang tidak terbukti imannya, karena lebih takut kepada musuh dibanding kepada Allah. Maksudnya, saatnya memakai cara perang tapi justru mengabaikannya dan menggunakan cara yang lebih nyaman yaitu diplomasi. ISLAM TIDAK MELARANG DIPLOMASI Diplomasi – yang biasanya tertuang dalam pasal-pasal perjanjian – tidak dilarang oleh Islam. Tapi Islam memberi arahan, kapan boleh berdiplomasi dan kapan harus menyikapi musuh dengan perang. Nabi saw pernah memakai diplomasi, yaitu perjanjian Hudaibiyah di atas. Juga Piagam Madinah, yang berisi pasal-pasal yang mengikat suku-suku Yahudi yang tinggal di sekitar Madinah untuk bersekutu satu ikatan dalam konteks jika ada musuh dari luar yang hendak menyerang Madinah. Piagam Madinah ini dilakukan Nabi saw sebagai strategi untuk meredam Yahudi agar tidak membuka front permusuhan kepada Nabi saw. Sebab jika itu terjadi, konsentrasi Nabi saw akan pecah, di satu sisi menghadapi Makkah yang jauh, tapi juga harus menghadapi Yahudi yang dekat. Maknanya, diplomasi dan perang sama-sama dibutuhkan. Kapan saatnya lebih efektif dan efisien meraih hasil dengan diplomasi, maka diplomasi adalah pilihan yang lebih bijak. Kapan saatnya lebih efektif dan efisien menggunakan perang, maka perang adalah pilihan yang lebih bijak. Bukan kaku, maunya hanya perang, anti diplomasi. Atau hanya mau diplomasi, anti perang. Terhadap Israel yang punya tiga sebab untuk diperangi, maka lebih bijak menghadapinya dengan perang. Bukan dengan diplomasi dari satu meja perundingan ke meja lain. Atau dari satu hotel ke hotel lain. Bisa dikatakan, “diplomasi adalah perang dalam bentuk yang santun”. Sebaliknya, “perang adalah diplomasi dalam bentuk yang keras”. Itu saja bedanya. Diplomasi akan diremehkan jika umat Islam tidak punya kekuatan perang yang ditakuti musuh. Sebab diplomasi itu tak lebih “ungkapan kalimat di atas kertas” atas “realita kekuatan di lapangan”. Untuk lebih memahami teori ini, anggaplah terjadi perundingan antara Indonesia lawan Amerika. Pasti Indonesia dalam posisi lemah, karena tidak punya fakta lapangan yeng membuat Amerika takut lalu tercermin dalam pasal-pasal. Beda misalnya yang melakukan perundingan adalah Rusia melawan Amerika. Klausul yang disepakati akan cenderung imbang karena keduanya punya kekuatan seimbang. Presiden Palestina sebagai pimpinan Palestina berulang kali melakukan perjanjian melawan Israel. Tapi isi perjanjian itu selalu dalam posisi kalah, karena sang Presiden tak punya kekuatan yang bisa membuat kepalanya tegak di hadapan Israel. Ketika dilanggar Israel, solusinya hanya duduk lagi dalam perjanjian baru. Begitu seterusnya, hingga datang Hamas yang mengambil solusi lain, yaitu perang. Perang adalah obat yang pas untuk Israel saat ini dibanding diplomasi. Jika pun Mujahidin belum ditaqdirkan oleh Allah untuk mengalahkan Israel pada babak perang kali ini, generasi sesudahnya wajib melanjutkannya. Pilihan obat ini sudah benar, jangan lagi ragu. Obat ini harus diracik dengan lebih mujarab oleh generasi penerus hingga Israel binasa dan kezalimannya bisa dihentikan. Wallahul-must’an. والله أعلم بالصواب @elhakimi – 14112023

Pertama, karena Makkah melanggar perjanjian gencatan senjata dengan membantu mitranya – Bani Bakar dalam melawan Bani Khuza’ah – mitra Madinah dalam konflik bersenjata. Jika Makkah menghormati perjanjian, seharusnya diam saja tak ikut campur. Poin ini mirip dengan Israel. Sudah tak terhitung perjanjian damai atau gencatan senjata antara Israel dengan Palestina. Tapi bagi Israel, itu hanya tulisan di atsa kertas yang tidak ada makna dan konseksensi apa-apa. Tetap saja Israel dengan pongah membuldoser kampung warga Palestina, mengusir penduduknya lalu membangun perumahan baru untuk tempat tinggal warga Israel. Tanah itu kemudian masuk dalam peta baru Israel. Sejak tahun 1948 pola ini terus terulang. Bukan hanya itu, Israel juga dengan tanpa beban menembak, menangkap dan melakukan berbagai bentuk kekerasan tanpa merasa terikat perjanjian. Bahkan tanpa merasa malu kepada publik dunia ketika yang menjadi korban orang-orang lemah seperti anak-anak dan wanita. Kedua, Makkah selalu berupaya mengusir Rasul saw, baik ketika masih di Makkah maupun setelah hijrah ke Madinah. Ketika mereka melakukan perang Uhud yang tak jauh dari Madinah, dan Ahzab yang malah di dalam kota Madinah, tentu ini bermakna upaya serius untuk mencerabut Nabi saw dari jazirah Arab. Dalam kasus Israel, mereka terus menerus berupaya mengusir umat Islam Palestina dari kampung halamannya, atau dari Palestina. Poinnya adalah pengusiran. Zaman Makkah yang diusir Nabi saw, kini yang diusir adalah orang beriman. Sama saja. Ketiga, Makkah lebih dulu memulai dalam menyiksa, membunuh, mengusir dan memerangi. Termasuk dalam membantu Bani Bakar. Sementara Madinah tak ada rencana untuk membantu mitranya – Bani Khuza’ah. Karena mereka duluan yang memulai, maka berlaku quote Betawi: Loe jual gue beli ! Artinya, ketika datang musuh menantang, maka kewajiban Madinah meladeni. Mereka memancing perang, maka dijawab dengan perang. Pada kasus Israel, jelas terang benderang Israel yang memulai. Tahun 1948 mereka datang dari Eropa untuk menjajah Palestina. Dan setelah berulang kali dilakukan perjanjian, selalu Israel yang duluan melanggar perjanjian itu. Sudah cukup bagi umat Islam untuk berdiplomasi. Sudah tiba waktunya untuk menghadapinya dengan jantan – perang. Paparan ini menghasilkan kesimpulan, Israel telah mengumpulkan semua sebab untuk diperangi, sebagaimana sebab yang dikumpulkan oleh Makkah. Persis. Bahkan Israel lebih parah dibanding Makkah. Lebih lama pula. Makkah hanya berbuat durjana sekitar 13 tahun, sementara Israel sudah 75 tahun. Karenanya, sudah tidak bisa lagi ditunda untuk diberi pelajaran keras bernama perang. JALAN PERANG, JALAN MUKMIN Setelah ayat mengutarakan tiga sebab yang membuat Makkah dan kini Israel memenuhi syarat untuk diperangi, ayat memberikan semacam agitasi atau “provokasi” agar kaum beriman mau mengambil jalan perang. “Apakah kamu takut kepada mereka?”. Kalimat ini seperti kalimat yang digunakan untuk memancing keberanian anak kecil untuk memegang telinga temannya, lalu menjewernya, lalu dua anak kecil itu saling baku hantam. Selain bermakna, rasa takut tidak boleh menjadi pertimbangan untuk menunda perang. Namun yang tak kalah penting, kalimat tersebut bisa juga dimaknai sebagai pesan tersirat. “Lakukan usaha semaksimal yang kamu bisa berupa persiapan fisik, dana dan senjata agar kamu bisa mengimbangi merekan lalu hilang rasa takutmu kepada mereka”. Setelah hilang rasa takut, kamu akan dengan percaya diri memerangi mereka. Agaknya Mujahidin Gaza benar-benar melaksanakan pesan tersirat ayat ini. Mereka mempersiapkan terowongan, memproduksi senjata – makin hari makin canggih – lalu menimbun makanan dan minuman, sebagai persiapan untuk perang panjang melawan Israel. Agar rasa takut bisa dihilangkan. Tak ketinggalan melatih para pemuda yang shalih untuk siap perang. Lalu tibalah hari H itu, tanggal 7 Oktober, yang bertajuk Thufanul Aqsha.

PANDUAN MEMBACA GAZA (3) PERANG, OBAT YANG COCOK UNTUK ISRAEL Mujahidin Hamas di Gaza memilih jalan perang dalam melakukan perlawanan terhadap Israel. Beda dengan sikap resmi pemerintahan Palestina yang memilih mazhab diplomasi. Apapun ulah Israel selalu dihadapi dengan diplomasi. Tulisan ini akan menunjukkan bukti bahwa pilihan Hamas lebih sesuai dengan arahan Al-Qur’an. Al-Qur’an tidak melarang jalan diplomasi. Nabi Muhammad saw pernah menggunakan diplomasi yaitu saat melakukan perjanjian Hudaibiyah pada tahun 6 H. Isinya, gencatan senjata selama 10 tahun antara Nabi Muhammad saw dan sekutunya (blok Madinah) melawan Quraisy dan sekutunya (blok Makkah), yang seharusnya baru akan berakhir pada tahun 16 H. Suku Bani Bakar bergabung dengan blok Makkah, sementara suku Bani Khuza’ah bergabung dengan blok Madinah, yang secara otomatis ikut terikat dengan klausul perjanjian. Pada tahun 8 H Bani Bakar terlibat konflik bersenjata melawan Bani Khuza’ah padahal keduanya terikat perjanjian damai. Dalam kasus ini, Quraisy ternyata ikut turun membantu Bani Bakar. Itu artinya Quraisy melanggar perjanjian damai, meski tidak secara langsung menyerang Madinah, tapi sekutunya. Merespon ulah Makkah tersebut, Al-Qur’an turun dengan perintah tegas untuk menghadapi mereka dengan perang. Bukan diplomasi. Sebab kelompok yang sengaja melanggar perjanjian tidak bisa ditagih untuk perjanjian baru. Pasti akan mempermainkan perjanian. Obat yang cocok adalah perang. Solusi Al-Qur’an juga bersesuaian dengan logika. Quraisy adalah pihak yang sejak awal melakukan kezaliman, pengusiran dan peperangan melawan kubu Madinah. Kurang apa data kezaliman mereka semasa Nabi saw masih di Makkah. Lalu ketika Nabi saw hijrah ke Madinah, disusul perang Badar pada tahun 2 H. Berikutnya perang Uhud dan perang Ahzab. Maknanya, hubungan antara Makkah dan Madinah adalah “sedang dalam situasi perang”. Karena itu, perjanjian Hudaibiyah tahun 6 H merupakan jeda perang untuk 10 tahun ke depan. Nah, jika salah satu pihak melanggar perjanjian, artinya hubungan perang kembali terjadi. Kembali ke situasi awal. Dengan demikian perintah Al-Qur’an agar Madinah mengobarkan perang sebagai tanggapan atas pelanggaran perjanjian gencatan senjata oleh Makkah bukan karena Islam suka perang. Tapi sebagai upaya menjaga harga diri sambil memberikan jera kepada musuh. Jika Makkah justru diundang lagi dalam perjanjian baru, mereka akan menganggap Madinah lemah dan mudah dipermainkan. Dengan tanggapan tegas berupa perang, Makkah akan paham bahwa Madinah tidak bisa diremehkan. Makkah akan ciut nyali. Berikut ayat yang turun saat itu yang memerintahkan perang terhadap Makkah: أَلَا تُقَٰتِلُونَ قَوۡمٗا نَّكَثُوٓاْ أَيۡمَٰنَهُمۡ وَهَمُّواْ بِإِخۡرَاجِ ٱلرَّسُولِ وَهُم بَدَءُوكُمۡ أَوَّلَ مَرَّةٍۚ أَتَخۡشَوۡنَهُمۡۚ فَٱللَّهُ أَحَقُّ أَن تَخۡشَوۡهُ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ١٣ قَٰتِلُوهُمۡ يُعَذِّبۡهُمُ ٱللَّهُ بِأَيۡدِيكُمۡ وَيُخۡزِهِمۡ وَيَنصُرۡكُمۡ عَلَيۡهِمۡ وَيَشۡفِ صُدُورَ قَوۡمٖ مُّؤۡمِنِينَ ١٤ وَيُذۡهِبۡ غَيۡظَ قُلُوبِهِمۡۗ وَيَتُوبُ ٱللَّهُ عَلَىٰ مَن يَشَآءُۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ ١٥– التوبة 13. Mengapa kamu tidak memerangi orang-orang yang merusak sumpah (perjanjiannya), bersikeras mengusir Rasul dan yang duluan memerangi kamu? Apakah kamu takut kepada mereka padahal Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti, jika kamu benar-benar orang beriman. 14. Perangilah mereka, agar Allah azab mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu, Allah hinakan mereka, Allah menolong kamu terhadap mereka, dan melegakan hati orang-orang yang beriman. 15. Dan menghilangkan panas hati (dendam) orang-orang mukmin. Dan Allah menerima taubat orang yang dikehendaki-Nya. Allah maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. At-Taubah: 13-15) KEMIRIPAN ISRAEL DENGAN MAKKAH Ayat di atas menjelaskan bahwa alasan Allah memerintahkan Madinah untuk melancarkan perang kembali kepada Makkah ada tiga:

Itulah jawaban yang benar untuk pertanyaan di atas, mengapa sekian lama Israel seolah dibiarkan oleh Allah melakukan berbagai angkara murka dan kezaliman tak terkira. Jutaan tangisan dan jeritan muslim Palestina seolah tak didengar oleh Allah. Hal ini terjadi karena Allah konsisten dengan pilihan mekanisme yang berlaku resmi pada era Nabi Muhammad saw. Allah tidak mencla-mencle, seperti pemimpin Konoha. Sekali menetapkan SOP, Allah akan konsisten melaksanakannya. Allah tidak “tergoda” untuk kasihan dengan jeritan dan tangisan muslim Palestina, lalu merubah lagi SOP, kembali ke yang lama, lalu Allah kirimkan burung Ababil lagi. Mujahidin Gaza, The New Ababil Kini harapan itu hadir. Bersamaan dengan isyarat alam, Allah kirimkan burung untuk mencabik bendera Israel hingga jatuh, Allah mantapkah hati para mujahidin Gaza untuk “memiinjamkan” tangan mereka agar digunakan oleh Allah untuk mengazab dan menghancurkan Israel. Pilihan jalan mereka benar. Tepat sekali. Meski berat, keras dan pahit. Jalan yang akan mematahkan punggung. Jalan yang terjal yang hanya para lelaki ksatria yang berani menapakinya. Kita semua menjadi saksi, hingga sebulan perang brutal terjadi mereka membuktikn diri sebagai para lelaki tangguh. Ketika generasi muda muslim di tempat lain asyik dengan haha hihi main tiktok dan instagram dengan gayanya yang genit dan bencong, generasi muda Gaza memilih menjadi lelaki serius yang gagah, menjadi singa tangguh, bukan bintang tiktok yang gemulai dan kemayu. Seperti dua dunia yang bertolak belakang. Mereka telah mengajarkan kepada kita bagaimana seharusnya menjadi lelaki harapan umat. Mereka tidak menyibukkan diri dengan hanya menyalahkan saudara seiman di luar Gaza yang melupakan mereka. Mereka tidak cengeng meski segala sesuatunya serba sulit dan ancaman Israel siap menerkam setiap saat. Mereka tak pernah meminta Allah turunkan burung Ababil untuk menghancurkan Israel, meski kondisi mereka rasanya dibenarkan meminta itu. Tapi mereka hanya minta diberi karunia sabar, berani, tangguh dan pantang menyerah. Lalu ketika hari H pertempuran dimulai, mereka minta ditolong dan dibantu agar bisa mengalahkan Israel. Mereka dengan sukarela telah meminjamkan tangan, kaki, mata, telinga dan seluruh tubuh mereka demi digunakan oleh Allah sebagai alat untuk mengazab dan mengalahkan Isreal yang kafir dan zalim itu. Kita angkat topi untuk mereka, hormat setinggi-tingginya. Karena itu, sikap yang benar dari kita adalah mendukung mereka, belajar dari mereka dan iri dengan prestasi mereka. Bukan malah menggembosi, menyalahkan dan menjauhkan umat dari mereka. Wallahul-musta’an. والله أعلم بالصواب @elhakimi – 10112023

Inilah momen terakhir Allah gunakan mekanisme lama dalam menghancurkan kaum kafir yang memusuhi Allah. Dan tahun itu menjadi momen penanda akan berakhirnya era lama dan hadirnya era baru, ketika Allah taqdirkan lahir cucunya yang kelak diangkat menjadi Rasul. Begitu dramatisnya peristiwa itu, hingga orang-orang mengingatnya sebagai tahun gajah. Maka sejarah kemudian mencatat, Nabi Muhammas saw lahir pada tahun gajah, tatkala Allah hancurkan pasukan Abrahah dengan “meminjam” paruh dan cakar burung Ababil untuk “menembaki” mereka dengan kerikil api. Semantara pada era Nabi Muhammad saw, mekanismenya sudah berubah. Tidak lagi “meminjam” tangan tentara-Nya berupa air, angin, suara, tanah dan burung, tapi “meminjam” tangan kaum beriman. Karenanya, jangan bermimpi Allah akan kirimkan burung Ababil lagi dalam rangka membinasakan Israel meski Israel melakukan kezaliman lebih parah dan lebih lama sehinggaa lebih layak dibinasakan. Tidak, bahkan meski kita semua berdoa meminta itu dengan tangisan yang mengiba. Allah tidak mau melihat tangan hamba-Nya yang beriman menganggur, tubuhnya rebahan dan yang aktif hanya mulutnya dengan untaian doa dan matanya yang bercucuran air mata. Lalu mereka hanya asyik merekam burung Ababil itu datang dan menjatuhkan batu api. Hasil rekamannya lalu diviralkan dengan bangga. Membanggakan sang pahlawan yaitu burung, sementara dirinya sendiri rebahan. Umat Nabi Muhammad bukan generasi rebahan. Kalaupun Allah kirimkan burung, itu bukan Ababil yang membawa kerikil untuk menembak, tapi hanya burung yang mematuk bendera Israel hingga robek dan jatuh ke tanah, sebagai isyarat alam bahwa hari kehancuran Israel sudah tiba. Tapi pelaku yang akan menghancurkan Israel adalah tangan-tangan orang beriman, yang kegiatan itu disebut jihad fie sabilillah. Belakangan kitaa baru tahu, ternyata Allah “meminjam” tangan Mujahidin Gaza untuk mencapai misi-Nya itu. Resmi Berlaku Mekanisme Baru Simak ayat di bawah ini, yang menjelaskan perubahan mekanisme penghancuran kaum kafir dan kaum zalim yang berlaku pada era Nabi Muhammad saw hingga akhir zaman. قَٰتِلُوهُمۡ يُعَذِّبۡهُمُ ٱللَّهُ بِأَيۡدِيكُمۡ وَيُخۡزِهِمۡ وَيَنصُرۡكُمۡ عَلَيۡهِمۡ وَيَشۡفِ صُدُورَ قَوۡمٖ مُّؤۡمِنِينَ ١٤ وَيُذۡهِبۡ غَيۡظَ قُلُوبِهِمۡۗ وَيَتُوبُ ٱللَّهُ عَلَىٰ مَن يَشَآءُۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ ١٥– التوبة 14. Perangilah mereka, agar Allah azab mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu, Allah hinakan mereka, Allah tolong kamu terhadap mereka, dan melegakan hati orang-orang yang beriman. 15. Dan menghilangkan panas hati (dendam) orang-orang mukmin. Dan Allah menerima taubat orang yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. At-Taubah: 14-15) Ayat ini dengan jelas menerangkan bahwa perang adalah media (saluran) yang Allah tetapkan untuk menyalurkan apa yang Allah inginkan, yaitu mengazab orang-orang kafir yang memusuhi Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman. Allah tidak lagi menjadikan burung Ababil sebagai media (saluran) dalam mengazab kaum kafir. Karena kita tidak hidup di zaman Abrahah. Perang menggunakan tangan manusia. Tangan memagang senapan, menarik pelatuknya, mengendalikan pesawat tempur untuk mengebom dan seterusnya. Jadi, yang sebelumnya paruh burung Ababil dan cakarnya, kini berganti menjadi tangan orang beriman. Dalam kasus terbaru, tangan Mujahidin Gaza Masalahnya, tangan menempel pada tubuh manusia. Tidak bisa tangan dilepas dari tubuh, lalu di-remote dari jauh untuk menembak musuh atau mengebom. Agar dengan itu tubuh tidak ikut terkena tembakan musuh. Tubuh tidak luka sehingga tidak sakit. Tatkala Allah membinasakan musuh-Nya dengan perantaraan tangan kita, tubuh kita ikut merasakan sakit, luka bahkan mati karenanya. Karenanya diperlukan keberanian, ketangguhan, pengorbanan dan rela mati karena Allah. Sebab itu, Allah memberi ganjaran tertinggi bagi siapapun hamba-Nya yang rela mensedekahkan tubuh dan nyawanya demi digunakan untuk kepentingan Allah tersebut.

Panduan Membaca Gaza (2) PAHAMI S.O.P BARU ! By : elhakimi Data, gambar dan video kekejaman Israel terhadap penduduk Palestina tak bisa lagi disembunyikan. Kesombongan dan kezalimannya tak ada bandingannya. Nyawa warga Palestina benar-benar tak ada harganya di mata mereka. Baik orang dewasa, wanita maupun anak-anak semuanya dijadikan sasaran. Tak ada rasa malu sedikitpun kepada publik dunia. Bukan hanya kepada manusia, kepada Allah pun mereka berani bersikap pongah, arogan dan tengil. Leluhur mereka pernah mengatakan Allah itu faqir, sedangkan mereka kaya, sebagaimana direkam dalam surat Ali Imran ayat 181. Mereka menolak dengan keras risalah Nabi Muhammad saw justru setelah tahu bukti bahwa Nabi Muhammad saw benar sebagai nabi. Kejahatan mereka kepada manusia, penolakan mereka terhadap kebenaran yang dibawa Nabi Muhammad saw, dan sikap tengil mereka kepada Allah, rasanya sudah cukup menjadi alasan bagi Allah untuk membinasakan mereka dengan taqdir-Nya. Tapi mengapa mereka tak juga dihancurkan oleh Allah dengan gempa, atau banjir atau petir atau burung Ababil atau cara yang lain sebagaimana pada kaum-kaum terdahulu yang ingkar kepada Allah ? Jika dihitung secara waktu, mereka sudah menebar teror dan berbagai praktek kezaliman kepada penduduk Palestina selama 75 tahun, sejak 1948. Bukan waktu yang sebentar. Jutaan orang terusir dari kampung halamannya. Ratusan ribu nyawa terbunuh. Jutaan orang terluka. Kok Allah belum turunkan azab-Nya juga ? Nunggu berapa lama lagi? Padahal tanah Palestina tiap hari dicaplok sedikit demi sedikit. Tinggal tersisa Tepi Barat dan Jalur Gaza. Apakah Allah menunggu seluruh penduduk Palestina terusir baru kemudian Allah datangkan azab-Nya ? Jika dihitung dengan angka, sudah berapa juta atau bahkan berapa milyar jeritan mengiba disuarakan oleh para korban, sejak 1948 yang lalu. Sudah berapa ribu kali pintu langit diketuk untuk minta tolong kepada Allah? Mengapa sampai kini seolah Allah tidak dengar? Dua Mekanisme Penghancuran Ada dua mekanisme yang Allah gunakan dalam mengazab musuh-Nya dan musuh orang beriman. Pertama, pada era pra Nabi Muhammad saw. Dan kedua, pada era Nabi Muhammad saw hingga akhir zaman. Pada era pra Nabi Muhammad saw, Allah “meminjam” tangan non manusia untuk menghancurkan kaum yang membangkang dan memusuhi para utusan-Nya. Misalnya Allah gunakan air (banjir) untuk melenyapkan kaum yang memusuhi Nabi Nuh as. Kaum Ad dibinasakan dengan angin badai. Kaum Tsamud yang menentang dakwah Nabi Shalih dihancurkan dengan suara keras yang mematikan. Kaum Sodom yang memusuhi Nabi Luth as dibinasakan dengan gempa dahsyat. Fir’aun dan bala tentaranya ditenggelamkan di laut. Dan terakhir, pasukan Abrahah yang datang menyerbu Kabah dihancurkan dengan memakai batu yang “ditembakkan” oleh burung Ababil. Intinya, pada masa pra Nabi Muhammad saw, mekanisme penghancuran itu bukan dengan tangan manusia (para Nabi dan pengikutnya). Kisah yang paling heroik adalah penghancuran pasukan Fir’aun, tapi tangan Nabi Musa as hanya memukulkan tongkat untuk membelah laut, bukan menggunakannya untuk memukul pasukan Fir’aun. Penyebab kematian mereka bukan dipukul menggunakan tangan (tongkat), tapi karena air yang masuk ke paru-paru mereka sehingga tidak bisa bernapas lalu mati. Demikian pula dengan Abdul Muthalib kakek Nabi Muhammad saw. Ketika tahu tentara Abrahah yang diperkuat pasukan gajah sudah mendekat Makkah dan akan menghancurkan Kabah, dia justru menyingkir ke bukit karena merasa tak akan sanggup menghadang. Ia ajak penduduk Makkah ikut menyingkir dengannya, hanya nonton dari kejauhan. Ia kembalikan penjagaan Kabah kepada Allah. Lalu Allah datangkan burung Ababil untuk menghancurkan mereka. Tangan Abdul Muthalib tidak capek dan tubuhnya tak ada luka sama sekali. Hatinya lega melihat adegan itu, tapi bukan karena jasa tangannya, tapi burung Ababil. Pahlawan yang sesungguhnya adalah burung Ababil, bukan Abdul Muthalib.

Orang yang hanya paham detail peristiwa tapi tidak paham seluk beluk ayat, review-nya akan bias. Sebaliknya, orang yang paham detail ayat tapi buta peristiwa, review-nya juga akan bias. Ada yang perlu ditambahkan selain paham ayat dan paham peristiwa, yaitu paham visi dan misi Allah. Apa yang Allah inginkan setelah Israel berhasil dikalahkan, misalnya. Merdeka itu untuk apa dalam pandangan Allah? Kekeliruan memahami visi dan misi Allah juga ikut menyumbang bias dalam me-review peristiwa. Perang Gaza memiliki kemiripan dengan perang Ahzab. Umat Islam Gaza dikepung dari segala penjuru, di wilayah kecil, yang secara logika mudah dimusnahkan. Mirip dengan Madinah saat dikepung pasukan Ahzab dari arah depan, sedangkan dari belakang siap ditikam Yahudi yang berkhianat. Perang Gaza juga mirip dengan kisah Nabi Musa as saat membawa pengikutnya menyelamatkan diri tapi mentok di laut sedangkan dari belakang pasukan Fir’aun yang mengejar sudah kelihatan. Secara logika tak mungkin selamat. Maka perang Gaza bisa di-review dengan ayat-ayat yang membahas perang Ahzab dan kisah Nabi Musa as. Dengan begitu, pelajaran bisa dipetik dan perjalanan ke depan bisa dipandu. Pilihan Hamas untuk melawan Israel dengan perang, ternyata juga ada review-nya dalam surat At-Taubah. Pilihan itu berat tapi tidak salah. Sebab jalan kemuliaan bukan dengan mencium kaki musuh tapi dengan perlawanan. Dengan membaca peristiwa menggunakan kacamata Al-Qur’an, kita akan mendapat pelajaran yang otentik dari “sang sutradara”, bukan hasil analisa pengamat politik atau pengamat militer yang hanya mengandalkan akal dan data. Jika pelajaran yang diambil benar, sikap dan amal akan benar. Dan itu akan menjadi pemandu perjalanan umat ke depan. Jalan menuju “kalimat Allah tertinggi” dan “kalimat kafir terpuruk”. Perang Gaza bersifat multi dimensi atau multi layer. Sangat banyak ayat yang bisa disodorkan sebagai panduan dalam me-review, pada setiap dimensinya. Lebih dari 10.000 muslim Gaza gugur sebagai syuhada, terlalu mahal harganya jika review-nya keliru sehingga pelajaran yang ditarik keliru lalu sikap yang diambil oleh saudara-dausara seiman di luar Gaza juga keliru. Akhirnya mereka akan tetap dalam kesendirian dan terkucil dalam berjibaku jiwa raga melawan musuh yang brutal dan buas. Serial tulisan ini akan mencoba menghadirkan ayat-ayat Al-Qur’an dan sejarah Nabi saw sebagai alat untuk membaca Gaza - biidznillah. Sayang jika peristiwa semahal ini umat hanya dipandu oleh para pengamat yang tanpa menghadirkan ayat yang relate, hanya jago analisa dan narasi. Wallahul-muta’an ! Wallahu a’lam bis-shawab. @elhakimi – 09112023

Pengambilan pelajaran seperti ini bias. Campuran dari kalimat yang benar dengan kalimat yang salah. Kalimat yang benar (1): Menjaga darah muslim adalah pokok ajaran Islam yang tidak boleh dijadikan permainan. Kalimat yang benar (2): Allah hanya membebani hamba-Nya pada perkara yang mampu dilakukan hamba. La yukallifullahu nafsan illa wus’aha. Kalimat yang salah : Umat Islam tidak boleh melawan musuh yang lebih kuat, jika tetap melawan maka mereka layak disalahkan. Akibat pengambilan kesimpulan bias seperti ini, maka ujungnya melahirkan kesimpulan lain yang menyakitkan: Umat Islam di luar Gaza tidak perlu membela para mujahidin karena mereka dalam posisi salah dan sebagai biang masalah. Para mujahidin dan umat Islam Gaza akhirnya terkucil sendirian menghadapi musuh yang buas. Letak biasnya, lupa dengan fakta bahwa Israel tidak akan berhenti menjarah tanah umat Islam jika tidak dicegah dengan perlawanan. Jika semua penduduk Gaza dan Palestina secara umum hanya pasrah dengan kekalahan, sudah lama tanah Palestina dikuasai Israel dan para penghuninya terpaksa hijrah ke wilayah lain. Israel dalam membunuh, tidak pilih-pilih sasaran, baik melawan atau menyerah semuanya dibunuh. Baik orang dewasa atau anak-anak, baik pria atau wanita semuanya bisa menjadi target pembunuhan. Intinya, siapapun yang bersikeras mempertahankan tanahnya, baik dengan senjata, tangisan atau cara damai tetap akan dilibas. Peristiwa Mengiringi Ayat Dalam sejarah Nabi saw, jika terjadi suatu peristiwa maka sesudahnya akan turun ayat yang mengulas peristiwa tersebut. Pertama, membaca peristiwa dengan sudut pandang Allah sebagai “sutradara”. Kedua, menghakimi siapa yang salah dan siapa yang benar. Ketiga, menarik pelajaran dari peristiwa dengan cara yang benar. Keempat, memandu arah perjalanan kaum beriman agar tetap di jalan Allah, tak tergoda untuk menunggangi peristiwa demi ambisi pribadi tapi semuanya demi kepentingan misi Allah. Misalnya perang Uhud. Sejak awal perencanaan sudah terjadi perbedaan pendapat, apakah akan menghadapi musuh di dalam kota Madinah atau di luar. Dengan musyawarah, perbedaan pandangan bisa disatukan, yaitu di luar, di sekitar gunung Uhud. Sebelum sampai lokasi muncul intrik dari kaum munafiq, dengan menggembosi pasukan sehingga 700-an orang kembali pulang ke Madinah, batal ikut sampai Uhud. Lalu selama perang berlangsung, awalnya umat Islam di atas angin tapi tiba-tiba berbalik tertekan dan hampir kalah. Aneh, dalam perang Badar sebelumnya umat Islam menang dengan gemilang, tapi di Uhud nyaris kalah. Rangkaian ayat kemudian turun kepada Nabi saw. Me-review peristiwa ini. Lihat surat Ali Imran ayat 152 hingga 173. Dibahas sebab kekalahan, bukan karena pilihan lokasi yang salah tapi karena pasukan yang tidak taat komandan. Dibahas intrik munafiq. Dibahas soal musyawarah dan lain-lain. Sehingga para Sahabat ra dapat memahami ayat dengan gamblang karena relate dengan peristiwa yang aktual. Mereka ikut menjadi pelaku dan menyaksikan berbagai intrik yang terjadi. Beginilah cara Allah agar ayat-ayat Al-Qur’an dipahami dengan benar dan menjadi pemandu perjalanan. Peristiwa lain juga demikian. Seperti gosip perselingkuhan Aisyah ra yang dihembuskan kaum munafiq, yang sempat membuat Madinah suram dan mencekam lebih dari sebulan. Ayat kemudian turun me-review. Kedok munafiq dibongkar dan umat Islam dipandu dalam menghadapi intrik yang sama baik saat ini maupun nanti. Kini pola itu terbalik. Ayatnya sudah duluan ada sejak 1.500 tahun lalu, baru peristiwa yang relate dengan ayat terjadi. Karena itu, yang harus kita lakukan – dengan bimbingan para Ulama dan Dai – adalah mencari ayat yang relate untuk mereview peristiwa, bukan menunggu ayat turun sebagaimana zaman Nabi saw. Karena itu peran ulama sangat vital karena mereka lebih menguasai seluk beluk ayat dan bisa memilihkan ayat-ayat yang relate untuk me-review peristiwa. Oleh sebab itu, ulama harus memiliki keseimbangan yaitu paham ayat dan paham peristiwa.

Panduan Membaca Gaza (1) By: Elhakimi Panggung dunia tiba-tiba diambil alih oleh Mujahidin Gaza. Pertunjukan lain menjadi kehilangan pamor, seperti perang Rusia vs Ukraina, Cina vs Amerika dan semua lakon lain yang sebetulnya juga seru. Semua mata penduduk dunia tersedot untuk menonton adegan baru dan lebih mendebarkan. Seluruh media utama dunia ramai-ramai meliput, bahkan TV Al-Jazeera nyaris tanpa henti menyiarkannya. Hari Sabtu, 7 Oktober 2023 drama itu dimulai. Untuk pertama kali dalam sejarah perlawanan Gaza mereka melakukan serangan terhadap musuh di luar kandangnya. Tembok tinggi yang mengelilingi seluruh garis perbatasan Gaza dengan wilayah Israel dijebol. Para mujahidin melakukan serangan kejutan di wilayah Israel sekitar Gaza, yang biasa disebut Ghilaf Gaza atau lapis luar Gaza. Pada hari Sabat atau Sabtu yang dianggap keramat dalam keyakinan Yahudi. Ratusan warga Israel tewas, dan ratusan lain dibawa masuk ke wilayah Gaza sebagai tawanan. Para mujahidin melakukannya dengan heroik dan merekamnya lalu menyiarkannya kepada dunia. Sebuah ledakan peristiwa dramatis yang diproduksi dengan apik dan dengan pendekatan zaman milenial yang serba visual sehingga cepat viral. Penonton spontan terbelah dua. Bagi yang punya ikatan iman dengan mujahidin Gaza, aura bungah membuncah. Tak berhenti bertakbir dan bertahmid sambil mendoakan keteguhan dan kemenangan. Gambar dan video yang tersaji benar-benar mengobati rasa geram yang selama ini terpendam. Tapi bagi yang punya hubungan hati dengan Israel, wajahnya bermuram durja, hatinya hancur berkeping karena apa yang selama ini dibanggakan telah runtuh. Gaza, Ayat Kauni yang Wajib Dibaca (dengan benar) Ayat yang pertama turun kepada Nabi Muhammad saw adalah perintah baca. Iqra ! Apa yang dibaca ketika ayat firman yang lain belum turun? Tentu saja ayat-ayat kauni alias fenomena kehidupan yang tersaji di depan mata. Sampai ketika ayat-ayat firman menyusul turun, ayat yang wajib dibaca bertambah. Gaza adalah ayat kauni yang harus dibaca oleh umat Islam dunia. Setelah membaca, berlanjut memahami, mengambil pelajaran dan menentukan sikap dengan tepat. Terlalu mahal jika ribuan korban yang terbunuh tak menghasilkan pelajaran apa-apa bagi umat, hanya dilewatkan begitu segabaimana tontonan lain yang sifatnya hanya hiburan. Masalahnya, tidak selalu orang yang bisa membaca bisa mengambil pelajaran. Kalaupun bisa mengambil pelajaran, kadang pelajaran yang diambil bukan hal yang pokok atau substansi, tapi bagian kulit yang tidak terlalu penting. Atau pelajaran yang diambil tidak terbingkai oleh nilai syariat Islam, tapi mengikuti selera dan jalan pikiran yang subyektif. Akhirnya malah tersesat dan menyalahkan saudara seiman. Karena itu, diperlukan panduan dalam mengambil pelajaran agar tidak bias. Panduannya yang dimaksud adalah nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, sunnah kauniyah kehidupan, rekaman sejarah, dan akal sehat obyektif yang dimiliki setiap orang. Salah satu contoh pengambilan pelajaran yang keliru adalah narasi sebagai berikut: “Mujahidin Hamas adalah biang kerok musibah yang menyebabkan ribuan umat Islam Gaza terbunuh. Sudah tahu kekuatan Israel jauh di atas Hamas dan berpotensi membalas dengan brutal, tapi masih juga dipancing oleh Hamas dengan penyerangan. Seperti membangunkan macan tidur. Seharusnya, duduk manis saja menerima nasib, menunggu Israel melemah, barulah melakukan perlawanan. Toh Allah tidak membebani kita dengan hal yang kita tidak mampu melaksanakannya. Darah umat Islam harus dijaga, jangan dijadikan tumbal. Jika memang secara kalkulasi akan kalah, jangan memancing keributan yang akan menyebabkan banyak darah muslim tertumpah”.

Allah menyematkan gelar terhadap diri-Nya sendiri sebagai Raja Langit dan Bumi. Konsekwensi gelar ini, penduduk langit selalu tunduk patuh tanpa kecuali kepada Allah SWT. Sebagaimana penduduk bumi tunduk patuh kepada Allah, tak ada satupun yang membangkang. أَلَمۡ تَعۡلَمۡ أَنَّ ٱللَّهَ لَهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ‌يُعَذِّبُ ‌مَن يَشَآءُ وَيَغۡفِرُ لِمَن يَشَآءُۗ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ Tidakkah kamu tahu, bahwa Allah itu pemilik kerajaan langit dan bumi, yang akan mengazab siapa yang Dia kehendaki dan memberi pengampunan kepada siapa yang Dia kehendai. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Al-Maidah: 40) Mengacu pada ayat ini, Allah bukan hanya Raja Langit dan Bumi. Tapi bahkan pemilik kerajaan itu. Raja belum tentu memiliki, sedangkan pemilik sudah pasti merajai. Jika Allah memakai gelar itu, tapi penduduk langit semuanya membangkang kepada Allah, berarti gelar itu hanya gelar kosong tak terbukti di langit. Demikian pula jika penduduk bumi semuanya membangkang kepada Allah, gelar itu juga hanya gelar kosong di bumi. Masih ingat dengan Rangga, yang mendapuk dirinya sendiri sebagai kaisar Sunda Empire? Orang mentertawakan gelar itu, karena dia tidak punya wilayah, tidak punya tentara dan tak punya rakyat yang tunduk kepadanya. Gelar kosong. Hanya gagah-gagahan dan lawakan. Jika gelar Allah sebagai Raja Langit dan Bumi hanya ditaati oleh makhluk langit sementara makhluk bumi enggan taat kepada-Nya, gelar Allah di bumi menjadi gelar kosong meski di langit sah dan terbukti. Ketika Allah sebagai Raja Bumi memerintahkan manusia untuk shalat Subuh pada waktu fajar – misalnya – ternyata tidak ada satupun yang melaksanakan, bukankah status Allah sebagai Raja Bumi tak terbukti? Karena itu, orang-orang beriman yang selalu tunduk taat (taqwa) kepada Allah pada hakekatnya “membantu” mengembalikan gelar Allah tersebut. Bukan karena Allah tak mampu menegakkan kerajaan-Nya. Andaikan Allah mau, teramat mudah bagi Allah untuk mencabut nyawa orang-orang yang membangkang kepada Allah. Tapi memang Allah tidak memilih cara itu. Allah hanya memberi ancaman tunda, yang akan dilaksanakan kelak di Akhirat. Pilihan terpulang kepada kita sebagai hamba-hamba beriman, bukan kepada Allah. Apakah berniat mengembalikan gelar Allah sehingga Allah suka dan ridha, ataukah memilih masa bodoh dengan gelar Allah itu dan kita akan diabaikan Allah. Pilihan apapun yang kita ambil, sejatinya tak merubah fakta bahwa Allah Maha Kuasa. والله أعلم بالصواب @elhakimi – 07042022 telegram.me/islamulia

Manfaat Taqwa Bagi Allah SWT Allah menginginkan taqwa pada hamba-hamba-Nya. Upaya itu dilakukan dengan dua pendekatan: Pertama, dengan perintah naratif. يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ ‌وَلَا ‌تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ Wahai orang-orang beriman, taqwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa, dan janganlah kamu mati kecuali dalam Islam. (QS. Ali Imran: 63) Ayat ini memerintahkan taqwa, tanpa merinci bagaimana teknis pelaksanaannya dan apa sarananya. Initinya Allah ingin seluruh hamba-Nya bertaqwa yaitu melaksanakan seluruh perintah-Nya dan meninggalkan seluruh larangan-Nya. Kedua, dengan pelaksanaan perbuatan. يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ‌كُتِبَ ‌عَلَيۡكُمُ ‌ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ Wahai orang-orang beriman, diwajibkan kepadamu untuk berpuasa sebagaimana diwajibkan kepada orang-rang sebelummu agar kamu bertaqwa. (QS. Al-Baqarah: 183) Puasa Ramadhan diwajibkan sebagai bentuk tarbiyah agar mereka bertaqwa. Orang harus melaksanakan puasa baru kemudian akan mendapat hasilnya yaitu taqwa. Maknanya, bukan hanya perintah naratif agar bertaqwa, tapi ada beban perbuatan yang harus dilakukan demi menghasilkan taqwa. Taqwa bisa diibaratkan kemampuan berenang. Tak cukup hanya dengan narasi lalu kemudian orang bisa berenang. Tapi perlu praktek dan latihan sampai orang bisa berenang. Kemampuan berenang dihasilkan lebih karena latihan, bukan karena membaca teori berenang. Manfaat Taqwa Taqwa memiliki tiga lapis manfaat, sebagai berikut: Pertama, manfaat bagi pelaku. Orang taqwa akan mendapat manfaat duniawi seperti diberi jalan keluar dari berbagai kesulitan hidup, dan diberi rizki yang tak disangka-sangka. Ini hanya sebagai contoh, bukan hanya itu tapi masih banyak manfaat duniawi yang lain. Sebagaimana firman Allah: ‌وَمَن ‌يَتَّقِ ‌ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مَخۡرَجٗا ٢ وَيَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُۚ Siapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya ia akan diberi (oleh Allah) jalan keluar (atas masalah hidupnya), dan diberi oleh Allah rizki yang tak disangka-sangka. (QS. At-Thalaq: 2-3) Sementara untuk Akhiratnya, yang pasti akan menyelamatkannya dari azab Neraka dan memasukkannya ke Surga. إِنَّ ٱلۡمُتَّقِينَ فِي جَنَّٰتٖ ‌وَعُيُونٍ Orang-orang taqwa akan ditempatkan di taman-taman (Surga) dan mata air (Surga). (QS. Al-Hijr: 45) Kedua, manfaat bagi orang lain atau makhluk lain. Orang taqwa akan memberi manfaat buat orang lain secara tidak langsung. Misalnya, seorang istri yang punya suami taqwa, maka sang istri hidupnya lebih mudah dan nyaman. Ia tak perlu khawatir suaminya akan selingkuh dengan wanita lain atau mencari rizki dengan cara haram atau menkonsumsi narkoba atau perbuatan buruk lain. Sebab si istri yakin suaminya tak akan melakukan itu sebab suaminya orang yang taqwa. Demikian pula dalam perang. Jika muslim yang menjadi penakluk, orang-orang yang kalah akan aman, tidak akan dibantai sebagaimana jika yang menjadi penakluk adalah kaum kafir yang tak punya taqwa. Orang yang ibadah di masjid akan merasa aman memarkir motornya di luar masjid sebab ia tahu lingkungan masjid berisi orang-orang taqwa. Mereka tak akan mencuri motor tersebut. Demikianlah, ketaqwaan akan mengurai sebagian besar masalah yang mungkin timbul jika dibandingkan tak punya taqwa. Dalam hal apapun. Kehidupan menjadi irit biaya dan tenaga. Orang tak perlu repot beli CCTV untuk mengawasi. Seorang suami tak perlu menyadap nomor HP istrinya, dan sebaliknya. Rasa diawasi Allah akan membuat kehidupan sosial menjadi nyaman dan mudah. Hati tidak selalu berisi kekhawatiran dari ancaman orang lain. Ada kerugian besar yang diderita umat manusia dengan hilangnya taqwa. Banyak kerugian meteriil akibat hilangnya taqwa, Banyak korban jiwa akibat hilangnya taqwa. Banyak kelahiran tak diinginkan akibat hilangnya taqwa. Ada perseteruan tak perlu akibat hilangnya taqwa. Dampak hilangnya taqwa meluas tanpa batas. Ketiga, manfaat taqwa bagi Allah

Kesimpulannya, sejak Rusia masuk ke wilayah Ukraina dan melakukan invasi di sana, era stigma Terorisme sudah berakhir. Berarti, era stigma Terorisme terjadi sejak 1991 hingga 2022. Kini berganti era baru, entah apa nanti narasinya. Mungkin masih digodog oleh AS atau Rusia. Ketika AS lawan Uni Sovyet, umat Islam bermitra dengan AS, maka gelar yang muncul adalah mujahidin, pejuang dan pahlawan. Ketika AS lawan umat Islam, gelar yang muncul adalah Teroris. Ketika kini AS kembali melawan blok Timur, bisa jadi akan lahir kembali gelar mujahidin, pejuang dan pahlawan. Tapi kali ini yang akan pertama memberi gelar tersebut adalah Rusia terhadap tentara muslim Cechnya karena mereka loyal membantu Putin. Dan boleh jadi AS juga akan memberi gelar serupa, terhadap umat Islam yang mau berperang melawan Rusia. Anomali Indonesia Saat di luar sana stigma Terorisme sudah berakhir, agaknya tidak dengan Indonesia. Justru hari-hari ini sedang panen teroris. Penangkapan terus terjadi. Bahkan tak lagi menyasar pelaku terorisme, tapi siapapun yang punya kaitan dengan teroris sekecil apapun akan ikut digaruk. Istilah yang sumbernya dari AS sebagai cara untuk memburukkan citra kelompok yang memusuhi AS, diadopsi oleh Indonesia sebagai upaya memburukkan citra siapapun yang memusuhi penguasa. Tak cukup dengan stigma Terorisme, kini melebar kepada stigma radikal. Benar-benar sapu jagat. Semua suara sumbang dibabat. Jika ini yang terjadi, stigma Terorisme di Indonesia agaknya akan terus dipelihara. Sebagai pasal karet yang akan menjaring umat Islam yang berani kritis kepada penguasa. Jika tak masuk jaring Terorisme, toh masih bisa dijaring dengan istilah Radikal. Gampang. Nasib negara pengekor memang begitu. Ketika di luar sana sudah diterapkan suatu teknologi yang canggih misalnya, di Indonesia baru akan terjadi sepuluh tahun kemudian. Stigma Terorisme boleh jadi akan bernasib sama. Saat di luar sana sudah berganti, mungkin memerlukan 10 tahun kemudian untuk membuang stigma Terorisme dari pundak umat Islam di negeri ini. Nasib ! Semoga para penguasa dan aparat penegak hukum segera sadar, bahwa stigma Terorisme tak lebih permainan AS yang dipaksakan kepada seluruh dunia. Buktinya, pada saat melawan Uni Sovyet, Osama bin Ladin dan para petempur Afghan diberi gelar mujahidin, pejuang dan pahlawan oleh AS. Giliran orang yang sama melawan AS, gelarnya berubah menjadi Teroris. Kata Cak Lontong: Mikir ! Afala ta’qilun? Perang Dunia 1 : 1914 – 1918 Perang Dunia 2 : 1939 – 1945 Perang Dingin : 1947 – 1991 Perang Stigma Terorisme : 1992 – 2021 Perang Dunia 3 ? : 2022 – ? والله أعلم بالصواب @elhakimi – 17032022 Gabung channel telegram.me/islamulia

Era Stigma Terorisme Perang Afghanistan melawan Uni Sovyet pada 1979 – 1989 agaknya menjadi ajang konsolidasi umat Islam global tanpa direncanakan. Ikhwanul Muslimin di Mesir pada era 40-an hingga 60-an dianggap sebagai bentuk konsolidasi awal umat Islam – dalam bab persaudaraan Islam – setelah runtuhnya Khilafah pada 1924. Sementara perang Afghan 1979-1989 merupakan konsolidasi kedua – dalam bab perlawanan – terhadap musuh Islam. Mereka sebelumnya buta tentang ilmu jihad. Hanya mengerti samar-samar, itupun dalam hal hukum fiqhnya, bukan prakteknya. Rupanya Allah bermaksud mentarbiyah umat Islam dengan ilmu jihad secara praktek. Didatangkanlah musuh yang terang benderang kekafirannya, yakni Komunis Uni Sovyet. Tentara Komunis didapuk sebagai “murabbi” dalam training jihad ini. Pada sisi lain, Allah taqdirkan AS sebagai pemilik singgasana kerajaan dunia, membiarkan tarbiyah itu terjadi. Seperti Firaun membiarkan Musa as tinggal di istana dan melanjutkan hidup. Setelah jihad Afghan berakhir, para mujahidin merasa punya kemampuan untuk melawan hegemoni AS. Palestina dijajah Israel, dan itu terjadi atas restu AS. Bagi mereka, biang keroknya adalah AS. Mereka juga mulai berani bermimpi mengembalikan Khilafah yang dahulu menjadi payung pelindung umat Islam. Bagi mereka, jika kepala ular (maksudnya AS) tidak dipukul, belitan terhadap umat Islam tak akan bisa longgar. Dimulailah era baru. Mengalihkan moncong senapan yang sebelumnya diarahkan untuk Komunis Uni Sovyet, karena bubar, kini diarahkan ke AS – sang kepala ular. Motornya Osama bin Laden dengan organisasi Al-Qaeda-nya. Isinya, para alumni jihad Afghan dari berbagai negara. Sejak saat itu lahir era baru, era stigma Terorisme. Persisnya sejak 1991 setelah bubarnya Uni Sovyet dan berakhirnya Perang Dingin. AS menjadikan mantan mitranya sebagai musuhnya. Karena mereka tidak berwujud tentara reguler dari sebuah negara adidaya, tapi hanya gerombolan kombatan yang tak tampak wujudnya, maka sebutan yang paling pas menurut AS adalah teroris. Stigmanya menjadi terorisme. Puncak era stigma Terorisme terjadi pada peristiwa 11 September 2001. AS menjadi target serangan sporadis di empat titik. Lokasi yang paling parah di gedung WTC New York. Dua gedung kembar runtuh. Gambarnya dengan dramatis ditonton mata manusia sejagat. AS merespon dengan cepat. Afghanistan dibombardir dan diduduki hanya dalam beberapa pekan berikutnya. Persis mengulang apa yang sebelumnya dilakukan Uni Sovyet pada 1979. AS terlibat perang panjang di sana, sejak 2001 hingga 2021. Genap 20 tahun. Dua kali lebih lama dibanding Uni Sovyet yang hanya 10 tahun. Biaya perang di Afghanistan menguras energi AS. Persis seperti dulu menguras ekonomi Uni Sovyet. Pada sisi lain, Rusia – pewaris Uni Sovyet – berkonsolidasi menjadi lebih kuat. China juga berubah cepat menjadi lebih kuat. Pada tahun 2022 pecah konflik Ukraina, yang sejatinya mengulang perseteruan AS lawan Uni Sovyet. AS sudah berdamai dengan Afghanistan, yang juga berarti dengan umat Islam. AS kini fokus berseteru dengan Rusia dan China. Karena itu, stigma Terorisme yang selama ini disematkan terhadap umat Islam sudah kehilangan relevansi. Dahulu disematkan kepada umat Islam karena mereka melawan AS dan dijadikan lawan oleh AS. Saat itu rivalnya yaitu blok Timur masih lemah. Kini saat blok Timur sudah berani berulah, kedua kubu membutuhkan kemitraan dengan umat Islam. Jika stigma Terorisme masih dipertahankan, umat Islam tak tertarik bermitra. Dan itu kerugian strategis, baik bagi AS maupun Rusia. Pada sisi lain, jika kita cermati, Al-Qaeda sebagai motor perlawanan terhadap AS juga agaknya sudah melemah. Setidaknya jika dilihat dari sepinya unggahan-unggahannya di media sosial dan kemunculannya di media massa dunia . Sudah lama sekali tak ada rilis tentang operasi yang dilakukan Al-Qaeda. Tapi bisa jadi sebaliknya, masih solid. Hanya saja tak lagi aktif bermain media. Wallahua’lam. Fakta ini membuat “jualan” Terorisme tak lagi menarik, karena yang menyandang gelar itu tak lagi garang seperti dulu.

Era Stigma Terorisme Telah Berakhir ? Banyak orang yang tidak sadar bahwa era terorisme sebetulnya telah berakhir dengan meletusnya konflik Ukraina vs Rusia. Publik dunia paham, konflik ini meski hanya berkutat di wilayah Ukraina, tapi sejatinya melibatkan banyak negara. Ukraina didukung negara-negara Barat, terutama yang tergabung dalam NATO. Sementara NATO dipimpin AS dan Inggris. Karenanya, negara-negara yang tunduk pada AS dan Inggris, seperti Jepang, Kores Selatan, Singapura, Australia dan Kanada otomatis berpihak bersama Ukraina. Semua negara ini membentuk satu blok, sebut saja blok Barat. Rusia didukung oleh Cina, Korea Utara dan negara-negara pro Komunis. Suriah dan Iran juga cenderung memihak Rusia. Blok ini sebut saja blok Timur. Konflik diperkirakan akan berlangsung panjang. Makin lama makin meningkat eskalasinya. Bahkan banyak pengamat memprediksi, konflik ini berpotensi untuk merkembang menjadi perang Dunia Ketiga. Pengulangan Sejarah Perseteruan blok Barat melawan blok Timur hanyalah pengulangan sejarah. Dahulu namanya perang Dingin. Dimulai sejak 1947 dan berakhir pada 1991. Blok Timur diwakili negara-negara berpaham Komunis, dipimpin Uni Sovyet. Blok Barat diwakili negara-negara berpaham Kapitalisme yang dipimpin AS. Ketika tahun 1991 Uni Sovyet bubar, selesailah era Perang Dingin. NATO dibentuk sebagai pakta pertahanan negara-negara blok Barat. Sementara blok Timur punya pakta pertahanan juga, namanya Pakta Warsawa. Pada tahun 1979, Uni Sovyet menginvasi Afghanistan, sebagai upaya memperluas paham Komunisme. Harapannya, Afghanistan sepenuhnya menjadi negara Komunis dan bergabung dalam Uni Sovyet. AS sebagai rival tentu gusar. AS berkepentingan menahan gerak maju Uni Sovyet agak tidak makin meluas. Sebab, jika Afghanistan jatuh, akan merembet ke wilayah-wilayah berikutnya. Ada Pakistan. Ada India. Ada Iran. Dan seterusnya. Artinya, hegemoni AS akan menyempit jika Uni Sovyet terus merangsek. Penduduk Afghanistan mayoritas muslim. Mereka tidak mau tunduk begitu saja terhadap Uni Sovyet. Mereka melawan. Berawal dari modal beberapa pucuk senapan, para pejuang awal melakukan gerilya. Sedikit demi sedikit mereka mendapat kemajuan. Perang berlangsung selama 10 tahun. Pada tahun 1989, Uni Sovyet menyerah dan pulang kampung. Biaya perang yang mahal membuat ekonomi Uni Sovyet limbung. Perpecahan internal meruncing. Akhirnya pada 1991 Uni Sovyet sebagai sebuah imperium bubar. Wajah barunya bernama Rusia yang lebih sempit wilayahnya dan lemah. Pada saat itu, AS membonceng perjuangan umat Islam Afghanistan. Dengan kata lain, meminjam tangan untuk melawan musuhnya. Karena itu, AS mendukung dengan mensuplai berbagai senjata dan amunisi. Secara lahir yang berperang adalah umat Islam melawan Uni Sovyet yang komunis, tapi di belakang layar sejatinya terjadi perang Dingin antara AS melawan Uni Sovyet. Bukan hanya dukungan logistik. AS juga mendukung secara moral dan opini. Para pejuang Afghanistan dipuji dengan istilah mujahidin, sebagaimana istilah dalam Islam. Media-media di Indonesia maupun di seluruh dunia menyematkan gelar mujahidin untuk mereka. Gelar yang positif dan bernada pujian. Seperti gelar pahlawan atau pejuang. AS juga mendorong umat Islam dari luar Afghanistan untuk hadir membantu para mujahidin. Anak-anak muda heroik yang ingin melawan Komunis berdatangan ke Afghanistan. Berasal dari Arab Saudi, Mesir, Sudan. Libya, Aljazair, Turki, Iran, Iraq, Yaman, Indonesia, Malaysia dan hampir seluruh negeri muslim. AS juga membiarkan umat Islam di luar Afghan untuk menghimpun donasi dari masyarakat lalu mengirimkannya ke sana. Semuanya serba dimudahkan oleh AS sebagai pemegang hegemoni dunia. AS saat itu bermesraan dengan umat Islam, karena punya kepentingan “meminjam tangan” untuk melawan rivalnya, Uni Sovyet. Perlawanan umat Islam saat itu dengan senjata melawan Komunis tidak diberi gelar Teroris oleh AS, tapi gelar yang heroik seperti pejuang, gerilyawan, dan mujahidin. Era stigma Terorisme belum dimulai.

Meski demikian, kita tak perlu menghujat atau memvonis. Tapi justru mencari cara terbaik untuk menasehati, memberi pemahaman yang benar, atau mencarikan jalan keluar agar tak lagi menjadi boneka. Jika kita tak mampu memberi solusi, mendoakan kebaikan mereka agar kembali loyal kepada Islam menjadi pihan yang lebih baik. Toh kalaupun dianyatakan salah oleh Allah, itu menjadi tanggung-jawabnya sendiri. Sementara atas hujatan dan vonis yang kita keluarkan, kita justru akan dimintai klarifikasi oleh Allah tentang akurasinya. Sedangkan kalau kita diam, hisab kita malah jadi lebih ringan. Tunduk Kepada Pihak Kuat Belum Tentu Wala’ Secara sunnatullah, pihak lemah pasti terpaksa tunduk kepada pihak kuat. Baik dalam konteks individu maupun negara. Jika negara kita bernasib lemah, mau tidak mau pasti tunduk kepada negara kuat. Pasti ada hal yang tidak bisa kita lakukan dengan merdeka sebagai akibat ketundukan itu. Pada zaman keemasan Islam, negara kafir terpaksa membayar jizyah sebagai konsekwensi ketundukan. Mereka juga tidak bisa leluasa menghina Islam atau menampakkan syiar kekafiran sesuka hati. Ada garis-garis haluan yang harus dipatuhi. Demikian pula sebaliknya. Saat umat Islam kalah, mereka juga terpaksa tunduk terhadap aturan negara kuat, baik tertulis maupun tidak tertulis. Umat Islam terpaksa tidak bisa melaksankan hukum pidana Islam, karena dilarang oleh pihak yang kuat. Karena itu, ketundukan penguasa muslim kepada negara lain yang lebih kuat, yang memegang hegemoni, jangan lantas disimpulkan sebagai wala’. Jika sang penguasa hanya melakukan sesuai seharusnya, tak menjual agama atau menjual muslim demi mencari ridha pihak yang kuat, maka praktek ketundukan itu tidak masuk kategori wala’. Tapi jika sudah masuk kategori menjilat dan lebay demi mendapat pujian dan dukungan politik dari kaum kafir yang lebih kuat demi menyingkirkan lawan pilitiknya yang muslim, maka bisa dianggap sebagai wala’ yang dilarang. Intinya, kita mesti hati-hati, menjaga lisan, menjaga tulisan dan sikap kita agar tidak memperkeruh suasana dan melahirkan perpecahan sesama muslim. Sebab, tanpa persatuan umat Islam tak akan bisa meraih kemajuan apapun. Dan akan selalu bisa dikalahkan oleh kaum kafir. Semoga krisis Ukraina menjadi kerugian kaum kafir, dan menjadi barakah bagi umat Islam. Amin. والله أعلم بالصواب @elhakimi – 05032022 Gagung channel telegram.me/islamulia

Namun agaknya peluang itu belum tentu bisa dimanfaatkan umat Islam. Belum apa-apa sudah muncul suara sumbang, presiden Cechnya – Ramzan Kadirov – siap memperbantukan 12.000 tentaranya yang muslim kepada Rusia. Demikian pula sebaliknya, pihak Ukraina mengundang siapa saja untuk membantu – termasuk muslim – demi kemaslahatan Ukraina meski belum ada gelagat sambutan atas seruan tersebut. Meski begitu kita perlu menahan diri untuk tidak menghakimi umat Islam yang terlibat dalam konflik, baik bersama Rusia maupun bersama AS, sebagai munafiq atau kafir. Benar bahwa keterlibatan itu bermasalah secara aqidah, yaitu melanggar prinsip wala’ karena memberikan wala’ kepada kaum kafir. Tapi masalahnya umat Islam belum memiliki kekuatan pengganti untuk dijadikan tambatan wala. Secara sunnatullah pihak lemah akan tunduk dan berwala kepada pihak yang kuat. Ketika ada seorang muslim yang menghakimi bahwa presiden Cechnya dan tentaranya yang siap membela Putin sebagai munafiq juga tak terdengar oleh mereka. Ingat bahwa penetapan status kafir atau munafiq terhadap seseorang yang secara dhahir muslim harus mempertingangkan banyak hal. Kita mesti hati-hati, sebab kelak akan dimintai pertanggung-jawaban oleh Allah soal akurasi vonis kita. Menyebut secara terbuka bahwa seseorang itu munafiq akan makin memperkeruh suasana. Kebencian dan permusuhan sesama muslim akan makin tajam. Kalaupun ingin menunjukkan bahwa perilaku berwala’ kepada kafir itu bisa menyebabkan kemunafikan sebagai bentuk peringatan buat yang lain, misalnya sebagai pelajaran buat muslim Indonesia, jangan berlanjut mengeluarkan vonis terhadap orangnya secara spesifik. Toh orangnya ada di tempat yang sangat jauh di sana. Bilang saja berwala’ kepada kafir itu berpotensi jatuh dalam kemunafikan. Tampilkan dalilnya. Cukup sampai di situ. Rasulullah saw memberi contoh bagaimana menjaga keutuhan umat. Meski ada sosok munafiq, Nabi saw tidak mengeluarkan vonis di depan publik. Sebab vonis tidak menyelesaikan masalah, justru memantik masalah dan perpecahan. Ketika kaum kafir berkonflik, jangan kita umat Islam justru tertular konflik itu terhadap sesama muslim. Kita harus fokus menjaga keutuhan umat, dalam rangka menuju puncak menjadi khalifatullah. Peluang akan tiba, jangan sia-siakan. Kesempatan kerap hanya datang sekali. Wala’ dan Pakta Regional Kerjasama keamanan antara muslim dengan tetangganya yang kafir bukanlah wala’ yang dilarang. Dalilnya, pakta keamanan antara Nabi saw dengan Yahudi. Ketika Nabi saw hijrah ke Madinah, komposisi penduduk Madinah beragam. Mayoritas muslim, tapi ada beberapa suku yang beragama Yahudi. Nabi saw sadar mendapat ancaman dari Quraisy. Karena itu, membuat pakta keamanan dengan Yahudi, yang disebut Piagam Madinah. Klausul penting dalam pakta itu, jika ada musuh dari luar Madinah bermaksud menyerang Madinah, maka seluruh penduduk Madinah, baik muslim maupun Yahudi, wajib bahu-membahu menghalaunya. Dalam istilah modern, piagam seperti ini disebut pakta keamanan atau pertahanan. Misalnya, pakta keamanan sesama negara ASEAN. Atau NATO. Biasanya didasari oleh kepentingan regional dari ancaman pihak luar. Andaikan Yahudi saat itu memegang komitmen untuk bahu-membahu dengan muslim, tentu akan muncul pemandangan muslim berada dalam satu barisan dengan Yahudi. Apalagi memang kekhawatiran itu terjadi. Quraisy bersama dengan koalisinya benar-benar datang mengepung Madinah. Hanya saja saat itu Yahudi memilih berkhianat, dan main mata dengan Quraisy. Karena itu, keberadaan muslim satu barisan dengan kafir dalam melawan musuh dari luar, tidak serta merta dapat disimpulkan sebagai wala’. Syaratnya, keberadaannya itu bukan untuk membela ideologi si kafir, tapi semata menjaga teritorial bersama. Syarat yang lain, keberadaan muslim di situ bukan sebagai budak, tapi minimal berdiri sama tinggi dengan kafir, apalagi dalam posisi sebagai pemegang kendali akan lebih baik lagi. Namun jika sudah dalam posisi sebagai budak, atau penjilat, atau sebagai boneka maka sudah masuk kategori wala’ yang dilarang. Bukan lagi mitra atau pakta.

PBB sebagai lembaga tunggal pada tingkat global benar-benar seperti raja bumi. Menandingi Allah sebagai Raja Langit dan Bumi. Apa yang disebut legal (baca; haqq) oleh PBB akan menjadi legal. Dan apa yang dinyatakan ilegal (baca; batil), akan menjadi ilegal. Tak ada opini lain yang bisa dan berani menyangkal. Nasib umat Islam Afghanistan saat ini menjadi contoh arogansi PBB wa bilkhusus arogansi AS sebagai dedengkot PBB. AS sudah angkat kaki dari Afghanistan tapi tidak ada satu negara pun yang berani mengakui kemerdekaan Afghanistan. Padahal Taliban sudah menguasai negara itu secara de facto, tak ada perang atau konflik yang bisa dijadikan alasan untuk tidak mengakui pemerintahan Taliban. Tentu di balik semua ini ada tangan PBB yang mengatur orkestrasi seluruh negara agar tidak mengakui kemerdekaan Afghanistan. PBB mengucilkan Afghanistan karena negara itu bersikukuh menerapkan sistem politik dan hukum Islam. Sementara PBB hanya mengakui sistem politik dan hukum yang sekuler. Payung legalitas Taliban adalah legalitas dari Raja langit dan Bumi – Allah SWT. Tapi dinyatakan ilegal oleh raja bumi – PBB. Karena itu konflik antara AS, Inggris dan Perancis sebagai pemegang hak veto melawan Rusia dan China yang juga punya hak veto bisa menyebabkan PBB runtuh. Dan jika itu terjadi, merupakan berkah buat umat Islam Afghanistan sebab mereka bisa diakui secara diplomatik oleh negara-negara yang berkepentingan tanpa harus mempertimbangkan restu PBB. Juga berkah bagi umat Islam yang lain. PBB merupakan sistem global yang menangkis hegemoni Allah sebagai Raja Langit dan Bumi. Kekuasaan politik Allah tidak bisa menembus area yang dipayungi PBB. Karena itu, keruntuhan PBB yang diawali dengan konflik sesama pemegang hak veto, merupakan sesuatu yang baik dalam perspektif Allah. Sebetulnya bukan PBB nya yang menjadi pokok masalah. Sebagai sebuah organisasi, ia bersifat netral. Masalahnya terletak pada ideologi 5 negara yang menguasainya. Seandainya PBB dikendalikan oleh kekuatan Islam, PBB justru menjadi organisasi terbaik dalam melaksanakan mandat Allah. Menjadi subordinat kekuasaan Allah. Dengan begitu, Allah bukan hanya bergelar Raja Langit dan Bumi sebagai gelar kosong seperti saat ini, tapi memang Allah adalah Raja yang hakiki di langit dan bumi. Inilah yang dinamakan Khilafah. Yaitu ketika bumi dikendalikan oleh kekuatan yang merupakan perpanjangan tangan kekuasaan Allah. Manusia diminta menempatkan dirinya sebagai khalifah, maksudnya menjadi perpanjangan tangan kekuasaan Allah. Sebagaimana istilah khalifah untuk Abu Bakar ra yang digelari khalifatu rasulillah (khalifahnya Rasulullah) yang bermakna melanjutkan kekuasaan yang diwariskan Rasulullah saw. Sistem politiknya hanya melanjutkan, bukan membuat baru yang berbeda. Jadi istilah khalifatullah (khalifahnya Allah) maksudnya adalah orang yang memegang kekuasaan tapi kekuasaan itu ditempatkan sebagai perpanjangan tangan kekuasaan Allah. Sedangkan orang yang membuat sistem sendiri yang bertentangan dengan kekuasaan Allah, disebut menghalangi jalan Allah. Shaddun ‘an sabilillah. PBB saat ini merupakan penghalang jalan Allah, yang harus diganti nahkodanya agar berubah menjadi khalifatullah. Jangan Ikut Berkonflik Hal yang pasti, secara sunnatullah cepat atau lambat AS akan mendapat giliran untuk turun. Hanya saja kita tidak tahu apakah turunnya AS akan terjadi pada tahun-tahun interregnum ini ataukah AS masih bisa bangkit dan melumpuhkan lawan-lawannya? Tak ada keuntungan apa-apa bagi umat Islam di balik krisis Ukraina. Kecuali harapan bahwa jika konflik ini meluas menjadi perang besar, masing-masing akan terkuras energi dan kekuatannya, baik ekonomi, politik maupun militer. Pada momen tersebut, menjadi kesempatan besar bagi umat Islam untuk menyelinap mengambil keuntungan. Sebab kondisi terlemah kaum kafir adalah saat mereka saling bertengkar sesama kafir. Apalagi yang bertengkar bukan negara kafir biasa, tapi dua kekuatan super power yang memegang hegemoni dunia.

Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada'. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim. (QS. Ali Imran: 140) Ayat ini memuat satu sunnatullah yang pasti berlaku pada kehidupan manusia. Yaitu sunnatullah pergiliran. Seperti roda kehidupan, ada kalanya di atas, ada saatnya di bawah. Demikian pula bangsa-bangsa, ada masanya berjaya, ada saatnya ditaklukkan bangsa lain. Tidak ada yang abadi pada satu posisi. Banyak faktor yang membuat AS kian lama kian melemah. Secara ekonomi AS tak lagi superior, kini ditantang oleh China yang makin hari makin kuat secara ekonomi. Hutang AS menggunung. Ekonominya terkuras untuk perang berkali-kali, terakhir perang Afghanistan meski kini sudah lepas dari sana. Bibit-bibit perpecahan di internal AS juga sudah mulai muncul, terutama setelah Donald Trump berkuasa. Jika ini terus berlanjut, AS kehilangan kemampuan untuk menjaga hegemoni dunia. Pada sisi lain blok Rusia, China dan teman-temannya berada pada grafik naik. Ekonomi China terus tumbuh. Politik stabil, karenanya solid untuk menatap masa depan. Jika tren ini terus berlanjut, dunia akan kembali memiliki dua kekuatan yang saling berhadapan. AS kian melemah, sementara Rusia dan China makin menguat. Pada posisi seimbang, pasti terjadi konflik keras antara dua blok ini untuk memperebutkan hegemoni dunia hingga satu blok kalah dan satunya lagi menang. Ketika sudah keluar pemenangnya, baru dunia akan kembali tenang. Inilah yang biasa disebut keseimbangan baru. Masa-masa ketegangan menuju keseimbangan baru itu disebut interregnum. Dan rasanya krisis Ukraina bisa dianggap sebagai awal dari reli panjang periode interregnum. Menilik abad lalu, periode interregnum dimulai sejak perang Dunia 1 lalu berlanjut dengan perang Dunia 2 dan baru menemukan keseimbangan baru setelah tahun 1945, ketika AS keluar sebagai pemenang dan mengendalikan dunia menggeser imperium sebelumnya yaitu Inggris. Apakah periode interregnum saat ini yang dimulai sejak pandemi 2020 akan terus berlanjut dan baru akan tercapai keseimbangan baru pada 2045? Wallahu a’lam. PBB dan Umat Islam Umat Islam pada periode hegemoni tunggal AS (pasca runtuhnya Uni Sovyet) dijadikan sebagai musuh utama. AS menggunakan stigma teroris untuk menjinakkan umat Islam yang berani melawan AS. Bagi yang memuji AS akan diberi gelar muslim moderat alias anak baik. Selain stigma, AS juga benar-benar menghajar umat Islam dengan senjata. Pertarungan yang terjadi sangat timpang. AS memiliki kekuatan adidaya, sementara umat Islam sangat lemah nyaris di seluruh sektor. Apalagi AS mendapat dukungan negara-negara kafir lain, maka AS bisa dengan leluasa membantai umat Islam dan menjadikannya sebagai wahana uji coba senjata baru. Kini peta itu mulai berubah. AS sudah melepaskan umat Islam dari status musuh utama. AS akan serius menghadapi China dan Rusia. Kekuatan militer AS kini lebih difokuskan untuk menghadang kebangkitan Rusia dan China. Jelas ini merupakan pertarungan gajah melawan gajah. Sama-sama pemegang hak veto. Bisa saja bila krisis ini berlanjut akan menjadi awal keruntuhan PBB. Atau PBB tetap ada tapi pemegang kendalinya berganti menjadi China atau Rusia. Atau PBB terbelah menjadi dua sebagaimana terbelahnya banyak organisasi atau partai atau ormas akibat konflik internal yang kerap terjadi di negara kita. PBB merupakan alat kaum kafir dalam menggenggam hegemoni dunia. Hukum internasional dikendalikan oleh PBB dalam segala aspek. Jika tak diakui oleh PBB, legalitasnya hilang. Demikian pula negara yang tak diakui PBB atau dimusuhi PBB maka akan terkucil seperti berada di planet lain.