en
Feedback
Islam Mulia

Islam Mulia

Open in Telegram

Menjaga Kemuliaan Islam

Show more
938
Subscribers
No data24 hours
No data7 days
No data30 days

Data loading in progress...

Similar Channels
No data
Any problems? Please refresh the page or contact our support manager.
Tags Cloud
No data
Any problems? Please refresh the page or contact our support manager.
Incoming and Outgoing Mentions
---
---
---
---
---
---
Attracting Subscribers
February '24
February '240
in 0 channels
January '24
+5
in 0 channels
Get PRO
December '23
+4
in 0 channels
Get PRO
November '23
+16
in 0 channels
Get PRO
October '230
in 0 channels
Get PRO
September '230
in 0 channels
Get PRO
August '230
in 0 channels
Get PRO
July '230
in 0 channels
Get PRO
June '230
in 0 channels
Get PRO
May '230
in 0 channels
Get PRO
April '230
in 0 channels
Get PRO
March '230
in 0 channels
Get PRO
February '230
in 0 channels
Get PRO
January '230
in 0 channels
Get PRO
December '220
in 0 channels
Get PRO
November '220
in 0 channels
Get PRO
October '220
in 0 channels
Get PRO
September '22
+2
in 0 channels
Get PRO
August '22
+2
in 0 channels
Get PRO
July '22
+2
in 0 channels
Get PRO
June '22
+2
in 0 channels
Get PRO
May '22
+5
in 0 channels
Get PRO
April '22
+125
in 0 channels
Get PRO
March '220
in 0 channels
Get PRO
February '220
in 0 channels
Get PRO
January '220
in 0 channels
Get PRO
December '210
in 0 channels
Get PRO
November '210
in 0 channels
Get PRO
October '210
in 0 channels
Get PRO
September '210
in 0 channels
Get PRO
August '210
in 0 channels
Get PRO
July '210
in 0 channels
Get PRO
June '210
in 0 channels
Get PRO
May '21
+1
in 0 channels
Get PRO
April '21
+2
in 0 channels
Get PRO
March '21
+6
in 0 channels
Get PRO
February '21
+3
in 0 channels
Get PRO
January '21
+3
in 0 channels
Get PRO
December '20
+1 131
in 0 channels
Channel Posts
Ayat ini mengandung makna, jika mereka tak bisa tunduk secara sukarela kepada penguasa tertinggi jagat raya melalui pintu iman (Islam), maka tundukkan mereka secara paksa, agar dengan itu tangan mereka terbelenggu tidak bisa lagi menebar horor kepada umat manusia. Perintah menundukkan mereka dengan perang tertuju kepada para hamba Allah yang loyal kepada-Nya seperti para pejuang Gaza itu. Jika ini berhasil, maka itu bermakna seluruh ketundukan manusia di muka bumi terhimpun pada Allah Raja Langit dan Bumi, melalui perantaraan khalifah-Nya. Bagi yang memilih iman, mereka tunduk kepada Allah secara sukarela. Sementara bagi yang kafir, mereka tunduk kepada Allah secara terpaksa. Lengkap. Jika kondisi ini tercapai, barulah Islam benar-benar menjadi rahmat bagi seluruh penghuni bumi (Islam rahmatan lil alamin). Semuanya mendapat kucuran kebaikan dari para penguasa yang tangannya dikendalikan iman (Islam). Bukan seperti sekarang, dunia dipimpin orang-orang kafir, maka seluruh penghuni bumi jadi rusak, jiwa menderita dan penuh dengan horor. Semoga periode kufur ini segera berganti menjadi periode iman. Wallahul-musta’an. والله أعلم بالصواب @elhakimi – 28122023

2
Seorang wartawati Inggris bernama Yvone Ridley pernah tertangkap oleh pejuang Taliban. Ia menyangka akan habis diperkosa dan disiksa. Tapi faktanya justru diperlakukan baik. Karenanya setelah keluar ia masuk Islam dan menjadi pembela Islam yang terkenal di Inggris. Padahal jika mau, pejuang Taliban bisa saja menyiksa dan melampiaskan dendam karena Inggris – negara asalnya – ikut dalam koalisi AS melawan Afghan. Pejuang Taliban saat itu jelas punya dua pilihan, yaitu menyiksa atau memperlakukannya dengan baik. Ketika mereka memilih untuk memperlakukannya dengan baik, itu merupakan kendali iman yang ada di hati mereka. Mereka tahu menyiksa tawanan itu dilarang dalam Islam. Berarti, iman berhasil mengendalikan tangan (kekuasaan) mereka. Ketika Taliban merebut kekuasaan dan AS pulang dengan hina, Taliban langsung mengumumkan pengampunan umum. Berlaku untuk siapapun penduduk Afghan yang sebelumnya menjadi boneka dan kaki tangan AS dalam menjajah Afghan. Padahal jika dipikir, itulah kesempatan emas untuk mengeksekusi mereka sebagai bentuk pelampiasan dendam. Taliban memilih itu karena mencontoh apa yang dahulu dilakukan Nabi saw terhadap penduduk Makkah ketika Nabi saw menaklukkannya. Inilah akhlaq Islam dan kendali iman yang membuat orang yang sedang punya kesempatan mengurungkan niat jahatnya karena adanya kendali iman. Demikian pula yang dicontohkan Hamas. Mereka dikendalikan iman dan akhlaq Islam sehingga memperlakukan tawanan Israel dengan manusiawi. Hamas orang Palestina, Taliban orang Afghan mengapa bisa menampilkan kebaikan yang sama? Jawabannya, karena sama-sama dikendalikan iman dan akhlaq Islam. Kalau ISIS bagaimana? Mereka beriman tapi tidak meniru Nabi saw. Sehingga patokan dalam menilai bukan dengan ISIS tapi dengan perilaku Nabi saw dan penerusnya yang mencontoh Nabi saw. Karena itu, benarlah pernyataan ayat bahwa orang-orang beriman (yang imannya benar bukan seperti ISIS) dan beramal shalih itu manusia terbaik atau sebaik-baik makhluk. Narasi ayat dibuktikan dengan realita lapangan. Solusi Menurut Allah dan Logis Lalu bagaimana cara membuat dunia damai, aman dan bahagia ketika dunia dikuasai oleh koalisi Ahlulkitab dan musyrikin? Membiarkan mereka berkuasa lebih lama niscaya akan membuat umat manusia di dunia terus dihantui horor. Mereka terbukti tak punya kasih sayang saat berkuasa, apalagi terhadap kaum beriman. Solusi pertama, mengekang tangan penguasa dunia dengan sejumlah konvensi dan pengadilan internasional. Terbukti itu tak berguna. Mereka mengabaikan Konvensi Jenewa dan menolak yurisdiksi ICC. Solusi ini bisa disimpulkan impossible. Solusi kedua, memasukkan iman ke dalam hati mereka agar dengan iman itu mereka terkendali tangannya. Masalahnya, iman itu hanya masuk ke hati jika si hati menerima dengan sukarela. Iman tak bisa dipaksakan. Kekuasaan yang ada di tangan akan membuat mereka tinggi hati, karenanya sulit untuk menerima konsep iman. Meski ada beberapa tokoh yang sedang berkuasa tapi mau menerima iman. Berarti solusi ini bisa dipraktekkan melalui dakwah, tapi hasilnya sangat sulit dikalkulasi. Meski peluangnya kecil tapi tidak sampai impossible. Sebab menerima iman sama artinya menerima Islam. Fanatisme terhadap aqidah mereka membuat mereka sangat berat menerima Islam. Solusi ketiga, mengengekang tangan penguasa dengan kekuasaan yang lebih tinggi. Mereka dipaksa tunduk kepada kekuatan yang mengalahkan mereka, sehingga tak bisa lagi leluasa menebar horor kepada umat manusia. Inilah makna firman Allah: وَقَٰتِلُوهُمۡ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتۡنَةٞ وَيَكُونَ ٱلدِّينُ ‌كُلُّهُۥ ‌لِلَّهِۚ فَإِنِ ٱنتَهَوۡاْ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِمَا يَعۡمَلُونَ بَصِيرٞ ٣٩ – الأنفال Dan perangilah mereka sampai hilang fitnah dan semua ketundukan manusia hanya untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari berbuat fitnahnya) maka sesungguhnya Allah Maha Melihat atas apa yang mereka kerjakan. (QS. Al-Anfal: 39)
193
3
Konvensi Jenewa adalah aturan internasional tentang penegakan sisi kemanusiaan dalam perang. Sudah 196 negara yang meratifikasinya, sehingga mengikat tindak-tanduk mereka dalam perang agar tidak brutal tanpa batas. Konvensi ini ditegaskan pada tahun 1949 setelah perang dunia kedua, meski bibit gagasan soal ini sudah lama muncul. Isinya mirip dengan konsep Islam tentang akhlaq dalam perang. Ada larangan menyiksa tawanan. Relawan kemanusia dilarang dijadikan sasaran. Wanita dan anak-anak harus dilindungi. Tempat ibadah, sekolah dan rumah sakit dilindungi, tak boleh dihancurkan. Tawanan tak boleh dihalangi ibadahnya, ekspresi adat budayanya atau diperlakukan secara hina. Wartawan yang meliput perang juga harus dilindungi. Dan banyak lagi detail aturannya. Israel meratifikasi Konvensi Jenewa pada 6 Juli 1951, tapi fakta di lapangan sama sekali tak mengindahkan isinya. Apalagi Israel sengaja tidak mengakui yurisdiksi pengadilan kriminal internasional (ICC – International Criminal Court) yang bermarkas di Den Haag sehingga pengadilan tersebut tak bisa menjangkau Israel. Selain Israel, AS dan Rusia adalah diantara negara yang tidak mengakui yurisdiksi ICC. Bisa ditebak, negara yang merasa kuat tidak mau tindakannya diadili karena cara untuk mempertahankan kekuasaan mereka adalah dengan menebar horor yang melanggar Konvensi Jenewa. Kekuasaan merupakan ruang gelap yang tak mampu ditembus undang-undang. Apalagi jika penguasanya yang menciptakan undang-undang itu. Tak ada gunanya Konvensi Jenewa diperbaiki dan ditambahkan muatannya dari waktu ke waktu agar lebih rinci mengatur soal sisi kemanusiaan dalam perang jika ada kelompok yang karena kekuasaannya merasa berada di atas undang-undang. Israel mengadopsi Konvensi Jenewa hanya mengikuti kepantasan diplomatik. Bukan dengan niat tulus ingin menerapkannya di lapangan. Karena itu tak heran jika kejahatan kemanusiaan dipertontonkan di Gaza dengan tanpa malu kepada publik dunia, seolah mengatakan: Gue maunya begini, loe mau apa ! Sebelumnya AS juga menganggap Konvensi Jenewa hanya ada dalam dokumen tapi tak ada di lapangan. Kebrutalan perang yang ia pertontonkan tak terhitung, sejak bom atom terhadap Jepang, perang Vietnam, perang Iraq, perang Afghanistan dan lain-lain. Demikian pula dengan Rusia, apalagi dulu saat masih bernama Uni Sovyet. Juga China, India dan semuanya. Ketika mereka terhadap aturan Allah saja melanggar, apalagi terhadap aturan buatan mereka sendiri. Bukan hanya melanggar, bahkan merubah aturan Allah agar sesuai dengan nafsu mereka. Sejarah Bani Israel penuh dengan intrik semacam itu, sehingga Taurat dan Injil menjadi rusak karenanya. Kekufuran mereka yang membuat mereka hidup tanpa kendali apapun. Apalagi saat di tangan mereka ada senjata canggih, dana berlimpah dan kekuasaan absolut. Mereka berubah menjadi drakula yang haus darah, barbar tak kenal kemanusiaan. Dengan demikian penyebutan Ahlulkitab dan musyrik sebagai manusia terburuk menemukan buktinya. Yaitu saat mereka bisa memilih karena posisi berkuasa, apakah akan bertindak horor atau mengekang tangannya dengan kendali kemanusiaan, tapi justru memilih jalan horor. Jika kendali syariat Allah mereka tolak, bahkan mereka rusak, lalu kendali hukum internasional juga mereka abaikan, bukanlah mereka lebih sadis dari binatang? Mereka adalah seburuk-buruk makhluk bahkan dibanding binatang. Iman Mengendalikan Kekuasaan Berbeda sekali dengan orang beriman – dengan catatan imannya benar mengikuti Rasulullah dan kaum salaf yang shalih. Kelompok Taliban yang sangat menjunjung tinggi syariat Islam menunjukkan bahwa mereka berperang dengan kendali iman dan akhlak Islam. Padahal mereka bisa saja berbuat angkara murka ketika berhadapan dengan pihak yang lemah.
146
4
Panduan Membaca Gaza (9) Iman dan Konvensi Jenewa Mencermati agresi yang dilakukan Israel terhadap Gaza yang brutal tanpa batas mengingatkan kita pada firman Allah ini: إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ وَٱلۡمُشۡرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَٰلِدِينَ فِيهَآۚ أُوْلَٰٓئِكَ هُمۡ شَرُّ ٱلۡبَرِيَّةِ ٦ إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أُوْلَٰٓئِكَ هُمۡ خَيۡرُ ٱلۡبَرِيَّةِ ٧ جَزَآؤُهُمۡ عِندَ رَبِّهِمۡ جَنَّٰتُ عَدۡنٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۖ رَّضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُۚ ذَٰلِكَ لِمَنۡ خَشِيَ رَبَّهُۥ ٨ 6. Sesungguhnya orang-orang kafir dari golongan Ahlulkitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) neraka Jahanam. Mereka kekal di dalamnya. Mereka itulah seburuk-buruk makhluk. 7. Sesungguhnya orang-orang beriman dan mengerjakan kebajikan (keshalihan), mereka itulah sebaik-baik makhluk. 8. Balasan mereka di sisi Tuhannya adalah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya. (Al-Bayyinah/98:6-8) Ayat ini menegaskan bahwa orang-orang kafir baik dari golongan Ahlulkitab (Yahudi dan Nasrani) maupun musyrik (Hindu, Budha, Komunis, Majusi dll) adalah seburuk-buruk makhluk. Atau dengan kata lain, manusia terburuk. Sebaliknya, orang-orang yang beriman (Islam) dan beramal shalih adalah sebaik-baik makhluk. Atau dengan kata lain, manusia terbaik. Kita sudah lama tahu ungkapan ayat ini. Tapi kita menerimanya sambil lalu tidak tergelitik lebih jauh untuk mencari bukti konkrit dalam kehidupan aktual manusia, baik yang tercatat dalam sejarah maupun yang terpampang sebagai berita saat ini. Apa buktinya bahwa orang-orang kafir itu (Yahudi, Kristen, Hindu, Budha dll) memang layak disebut manusia terburuk. Bukan dalam pandangan Allah – karena teks ayat sudah mewakili pandangan Allah – tapi dalam pandangan manusia. Sebaliknya, apa buktinya orang-orang beriman (Islam) itu layak disebut sebagai manusia terbaik dalam pandangan manusia pula. Mencari Tolok Ukur Iman Istilah iman mengandung makna rasa percaya, pasrah, tunduk, loyal dan trust. Iman kepada Allah bermakna rasa diawasi Allah, percaya, trust, tunduk, pasrah dan loyal kepada Allah. Iman itu wujud atau tidak pada diri manusia tolok ukurnya pada saat manusia memiliki pilihan terbuka untuk berbuat sesuai iman atau mengabaikan iman. Bukan pada saat manusia tak punya pilihan lain kecuali berbuat yang sesuai dengan iman. Contoh kasus, seseorang terkurung jeruji besi. Ia tak punya pilihan untuk mencuri atau berzina atau menenggak miras. Ia dipaksa keadaan untuk tidak mencuri, berzina atau mabuk. Sedangkan tidak mencuri, tidak berzina dan tidak mabuk “kebetulan” sesuai dengan aturan iman. Dalam kondisi demikian tidak bisa orang itu disebut sebagai mukmin yang baik. Sebab, ketidak-mencuriannya itu bukan karena kendali iman yang sedang bekerja, tapi kendali jeruji besi yang bekerja. Contoh kasus kebalikannya, seseorang berada di rumah yang sepi bersama seorang wanita yang bukan istrinya. Ia berkesempatan untuk berzina tanpa ada orang yang melihat. Tapi ia menahan nafsunya sehingga tidak berzina. Berarti imannya yang menjadi pembeda. Saat itulah ia sah disebut sebagai mukmin yang baik. Orang beriman yang benar imannya bukan klaim semata, adalah manusia terbaik. Sebab ia bisa menjadi manusia dewasa, bijaksana dan adil meski tanpa paksaan dari orang lain, tapi hanya menggunakan kendali batinnya. Sebaliknya, orang yang tidak punya iman (kafir) adalah manusia terburuk, sebab ia harus dipaksa oleh keadaan untuk mengendalikan dirinya. Karena itu, ia layak disamakan dengan hewan, yang harus dikurung atau diikat tali untuk bisa terkendali. Konvensi Jenewa
141
5
Fase pertama, 1948 – 1986 : Palestina didominasi pikiran nasionalisme (bukan wala lil mukmin) dan jalan perlawanannya diplomasi (bukan perang atau jihad). Pemain utamanya PLO yang dipimpin Yasser Arafat, meski warna itu tetap ada hingga kini yang berganti nama menjadi Fattah pimpinnan Mahmud Abbas. Fase kedua, 1987 – 2023 dst : Palestina (terutama Gaza) mengadopsi Islamisme dengan lahirnya HAMAS (harakah muqawamah islamiyah) yang mengoreksi paham nasionalisme. Penggunaan jargon Islam menegaskan wala’ lil mukmin. Dibarengi dengan meletusnya Intifadha tahun 1987 yang berawal dengan perlawanan pakai batu. Semakin hari semakin berkembang hingga kini mampu memproduksi senjata sendiri. Intinya, jalan perlawanan yang ditempuh bukan diplomasi, tapi perang. Diplomasi tetap dipakai, tapi hanya untuk mencatat hasil perang, bukan sebagai alat mandiri. Maknanya, fase pertama tidak memenuhi syarat untuk ditolong. Sebab para aktivisnya beraqidah nasionalisme dan jalan perjuangannya hanya diplomasi. Karena itu Allah ganti dengan generasi baru yang memenuhi syarat, yaitu aqidahnya Islamisme dan jalan perjuangannya perang. Dan hasilnya bisa kita lihat, pertolongan Allah tampak dengan gaamblang. Meskipun belum menang mutlak pada babak peperangan ini – Thufan Aqsha – tapi sudah pasti memberi pukulan telak buat Israel. Orang mengatakan, ini menjadi awal keruntuhan Israel. Lihatlah, sunnatullah ini berlaku di Palestina. Ayat hadir dengan narasi, sementara realita kehidupan hadir dengan bukti. Karena itu fa’tabiru ya ulil abshar – ambillah pelajaran wahai Anda yang memiliki mata batin dan mata kepala. Jika negerimu mengalami ujian seperti Palestina, cepat-cepatlah berhimpun untuk membentuk kelompok yang memenuhi dua kriteria; berjihad di jalan Allah dan menegakkan loyalitas atas dasar Allah, Rasul-Nya dan orang beriman. Hanya dengan cara ini kita bisa mengundang pertolongan Allah, seperti yang hari ini kita saksikan pada HAMAS dan para pejuangnya. Dan yang dulu kita baca sejarahnya pada gerakan perlawanan Pangeran Diponegoro yang kita kagumi itu. Wallahul-musta’an. والله أعلم بالصواب @elhakimi – 27122023
172
6
Allah tidak mungkin menurunkan pertolongan kepada penduduk Palestina begitu saja, meski Israel sudah layak dihukum. Sebab penduduk Palestina heterogen, tidak semuanya muslim. Sementara yang muslim juga belum tentu memenuhi syarat untuk menerima pertolongan. Ada sejumlah kriteria yang harus dipenuhi. Karena itu, berlaku hukum Allah, seperti yang ditengkan ayat di bawah ini: يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَن ‌يَرۡتَدَّ مِنكُمۡ عَن دِينِهِۦ فَسَوۡفَ يَأۡتِي ٱللَّهُ بِقَوۡمٖ يُحِبُّهُمۡ وَيُحِبُّونَهُۥٓ أَذِلَّةٍ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى ٱلۡكَٰفِرِينَ يُجَٰهِدُونَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوۡمَةَ لَآئِمٖۚ ذَٰلِكَ فَضۡلُ ٱللَّهِ يُؤۡتِيهِ مَن يَشَآءُۚ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ ٥٤ – المائدة 54. Wahai orang-orang yang beriman, siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin dan bersikap tegas terhadap orang-orang kafir. Mereka berjihad di jalan Allah dan tidak takut pada celaan orang yang mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Al-Ma'idah/5:54) Substansi ayat ini hendak mengatakan bahwa jika umat Islam tidak memenuhi kriteria yang diinginkan Allah, pasti akan Allah ganti dengan generasi baru yang memenuhinya. Kriteria tersebut adalah: 1. Allah cinta kepada mereka, dan mereka cinta kepada Allah. Mengandung makna iman, taqwa dan keshalihannya bagus meski tak mungkin bersih total seperti malaikat. 2. Penyayang kepada kaum beriman dan keras kepada kaum kafir. Mengandung makna loyalitasnya hanya untuk orang beriman, pantang loyal kepada kafir. 3. Berjihad di jalan Allah. Mengandung makna terlibat dalam kerja serius dan melelahkan dalam upaya melawan kaum kafir (seperti Israel). 4. Tidak takut celaan orang yang mencela. Mengandung makna tegar, sabar dan yakin di jalan Allah, tak peduli apa kata orang. Jika kita zoom penduduk Palestina, tentu tidak semua muslimnya memenuhi kriteria itu. Kriteria nomor 2 agaknya cukup serius, banyak terdapat kaum nasionalis yang loyalitasnya untuk bangsa apapun agamanya, bukan untuk orang beriman. Sementara nomor 1, 3 dan 4 juga menjadi problem, meski tidak seserius no 2. Ayat yang lain menjelaskan hukum Allah ini dengan cara berbeda: أَمۡ حَسِبۡتُمۡ أَن تُتۡرَكُواْ وَلَمَّا يَعۡلَمِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ جَٰهَدُواْ مِنكُمۡ وَلَمۡ يَتَّخِذُواْ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَلَا رَسُولِهِۦ وَلَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ‌وَلِيجَةٗۚ وَٱللَّهُ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ ١٦ – التوبة Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan (apa adanya), sedangkan Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak menjadikan selain Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin sebagai teman setia. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (At-Taubah/9:16) Ayat ini jika kita terapkan pada konteks Palestina, kurang lebih akan berbunyi begini: “Apakah kamu mengira wahai umat Islam Palestina bahwa Allah akan membiarkanmu dalam keadaanmu apa adanya, lalu tiba-tiba Allah menolongmu dan mengalahkan Israel ? Tidak. Allah ingin lihat dulu pembuktian darimu, yaitu dalam dua hal: 1. kamu mau berpayah-payah berjihad menyiapkan peperangan melawan Israel. 2. kamu menghimpun diri dalam lingkaran saling percaya dan saling setia sesama loyalis Allah, Rasul-Nya dan kaum beriman. “ Ayat pertama merinci dalam 4 kriteria, sementara ayat kedua merinci dalam 2 kriteria saja. Karenanya bisa disimpulkan, kriteria globalnya hanya dua, yaitu jihad dan wala’ lil mukmin. Realita Sejarah Palestina Sejarah Palestina membenarkan berlakunya hukum Allah ini. Terdapat dua fase sejarah Palestina pasca penjajahan yang dumulai tahun 1948 itu.
158
7
PANDUAN MEMBACA GAZA (8) KRITERIA UNTUK PERTOLONGAN ALLAH Secara sunnah kauniyah, pertolongan dari satu pihak ke pihak lain pasti disertai sejumlah syarat. Tidak mungkin setiap orang yang minta tolong akan otomatis diberi pertolongan. Sebagai contoh, jika ada pria muda yang gagah lalu minta tolong (minta uang), tentu orang akan enggan memberikan pertolongan. Berbeda jika yang meminta tolong adalah lelaki tunanetra yang sulit memenuhi kebutuhannya sendiri, tentu orang akan mudah tergerak untuk menolong. Contoh lain, jika ada lelaki yang suka judi, mabok dan maksiyat lain, lalu ia minta tolong (minta uang), maka orang yang tahu kehidupannya pasti enggan menolongnya. Sebab uang yang diberikan tidak bermanfaat baginya, tapi justru memperparah hobinya itu. Demikian pula dengan pertolongan Allah. Tidak mungkin diberikan gratis tanpa syarat, dan kepada siapapun yang meminta. Allah pasti akan lihat terlebih dahulu apakah sudah memenuhi syarat, dan memang waktunya tepat. Tugas kita hanya meminta tolong dan memenuhi persyaratan untuk ditolong. Soal kapan dan bagaimana pertolongannya hanya Allah yang tahu dan berkehendak. Identifikasi Masalah Umat Islam Palestina berada dalam situasi yang sangat layak untuk ditolong oleh Allah. Mereka dijajah oleh Yahudi Zionis yang sangat memusuhi umat Islam sejak tahun 1948 – sudah 75 tahun lamanya. Pengusiran, penagkapan, perampasan hak, penyiksaan, penjara dan pembunuhan menjadi menu harian sehingga hidup mereka berasa pahit dan pedih. ‌لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ ٱلنَّاسِ عَدَٰوَةٗ لِّلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱلۡيَهُودَ وَٱلَّذِينَ أَشۡرَكُواْۖ Pasti akan engkau dapati orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. (Al-Ma'idah/5:82) Penjajahnya juga berstatus musuh Allah sehingga Allah juga punya kepentingan menghukumnya. Jika Allah sudah berkehendak menghukum, tak akan ada yang bisa lolos. Kesimpulannya, dari berbagai sisi apa yang dialami umat Islam Palestina sudah lebih dari cukup untuk mendapatkan pertolongan Allah. Rinciannya sebagai berikut: 1. Mereka dalam posisi terzalimi. Allah pasti menolong hambanya yang terzalimi. 2. Bentuk kezalimannya pada level tertinggi, melewati batas-batas kemanusiaan, sehingga sangat layak ditolong oleh Allah. 3. Mereka sudah melantunkan doa, menengadahkan tangan ke langit dan bermunajat minta tolong kepada Allah hingga pada kondisi paling mengiba dan penuh tangisan haru. Rasanya tak ada orang yang bisa mengalahkan keseriusan dan penghayatan doa mereka. Setiap doa yang dipanjatkan kepada Allah pasti akan diijabah oleh Allah. 4. Musuh yang menzalimi statusnya jelas, tak ada syubhatnya sama sekali. Mereka kafir, arogan, tengil, hobi menumpahkan darah, tak pernah mengindahkan tata aturan internasional, dan semua sifat jahat terkumpul pada mereka. Mereka mengumpulkan seluruh syarat untuk dikalahkan dan dihancurkan oleh Allah. 5. Sebaliknya, mayoritas penduduk Palestina beragama Islam, hamba-hamba Allah yang pasti akan dibela Allah jika berhadapan dengan musuh-Nya. 6. Terdapat Masjidil Aqsha, salah satu syiar yang Allah cintai. Dulu Allah menghancurkan pasukan Abrahah saat datang hendak menghancurkan Masjidil Haram di Makkah pada tahun Gajah – tahun lahirnya Nabi Muhammad saw. Jika dulu Allah jaga Masjidil Haram dari tangan-tangan jahat, tentu Allah akan jaga juga Masjidil Aqsha dari tangan-tangan jahat. 7. Umat Islam di luar Palestina juga ikut mendoakan pertolongan kepada Allah, yang juga berpotensi dikabulkan oleh Allah. 8. Waktu terjadinya kezaliman juga sudah sangat lama – 75 tahun – rasa-rasanya sudah tiba waktunya untuk diakhiri oleh Allah dengan turunnya pertolongan. Bukankah ini semua sudah cukup untuk membuat Allah berpihak kepada umat Islam Palestina lalu menurunkan pertolongan-Nya dan Israel dihancurkan oleh Allah ? Tapi mengapa Allah belum juga bertindak dengan menghancurkan Israel dan memenangkan umat Islam Palestina ? Kriteria Kelompok yang Dinginkan Allah
170
8
Sebaliknya bagi Israel, meski komandannya meminta dilakukan jurus pencitraan dalam memperlakukan tahanan, itu tak akan terjadi. Hati yang busuk akan selalu tergoda untuk menyiksa dan membunuh sebagai obat kecanduan. Kekafiran hanya akan menebar teror dan horor. Kemenangan Perang Moral Dalam perang moralitas, Israel dan orang-orang kafir dengan merek apapun – Yahudi, Nasrani, Hindu, Budha, Komunis dll – tak akan bisa mengalahkan generasi Islam dari bangsa manapun – Palestina, Arab, Afghan, Turki, Afrika dan Indonesia. Akhlaq perang hanya ada dalam ajaran Islam dan secara fakta dipraktekkan umat Islam sepanjang sejarah. Kecuali jika Islamnya dirusak, seperti Islam versi Syiah dan Islam versi tiran meski mereknya masih Ahlussunnah. Mereka bukan generasi yang orisinil tercelup oleh Islam yang murni. Bagi mereka, Islam hanya identitas. Tapi saat terjadi perang dan memperlakukan tawanan, sifat aslinya akan keluar. Mereka menjadi manusia buas, sadis dan bengis dalam memperlakukan tahanan seperti manusia yang tak kenal Islam. Perang akan membuka tabir manusia. Akan nampak siapa orang yang tercelup dengan Islam, siapa yang hanya mengambil Islam sebagai identitas dan siapa yang sama sekali tak kenal Islam – seperti hewan buas. Pada akhirnya, perang hanya akan menghadapkan dua kubu: Satu kubu yang tercelup Islam (mukminun), melawan kubu lain gabungan orang yang tak mengenal Islam (kafirun) dan orang yang hanya mengambil Islam hanya sebagai identitas (munafiqun). Dunia tidak akan bahagia jika dipimpin oleh kubu kafirun atau munafiqun. Tapi akan bahagia jika dipimpin oleh mukminun, sebab hanya mereka yang terbukti paling mampu mengendalikan diri dengan akhlaq, kasih sayang dan kemanusiaan saat melakoni perang atau saat memegang kekuasaan. Jika dalam situasi perang saja mampu mengendalikan diri, apalagi di masa damai. Inilah terjemahan rahmat Islam untuk seluruh manusia – Islam rahmatan lil ‘alamin. Yaitu ketika Islam berkuasa dan mampu menebar teror dan horor tapi justru menebar kasih sayang dan kemanusiaan. Berbeda dengan ideologi kafir, jika memegang senjata dan kekuasaan, pasti digunakan untuk menebar teror dan horor kepada umat manusia. Amerika, Israel, Rusia, China, India, Inggris, Belanda, Jepang dan yang serupa menjadi bukti. Pejuang Gaza memberi bantahan telak kepada dunia bahwa sejatinya yang teroris adalah Israel, Amerika dan teman-temannya. Bagi Islam, menang secara militer itu baru menang bagi orangnya. Tapi jika menang secara akhlaq itu menang Islamnya. Padahal perang untuk disebut fie sabilillah – di jalan Allah – itu harus membawa misi: litakuna kalimatallahi hiyal ulya (menjadikan kalimat Allah tertinggi). Kalimat (narasi) Allah adalah Islam secara umum. Intinya, kalimat la ilaha illa Allah. Kalimat turunannya adalah akhlaq – salah satunya. Kemenangan akhlaq Islam dalam perang merupakan kemenangan Islam, kalimat Allah menjadi tertinggi. Berarti sudah benar para pejuang Gaza menjunjung tinggi akhlaq Islam dalam berperang, meski kondisi mereka sangat sulit dan memprihatinkan. Semoga Allah beri kemenangan. والله أعلم بالصواب @elhakimi – 29112023
190
9
Apa yang ditunjukkan pejuang Gaza merupakan risalah Islam yang sedang dikirimkan kepada dunia. Risalah tentang adab perang, khusunya memperlakukan tawanan. Hal ini mengingatkan episode perang yang baru saja berakhir – perang Afghanistan vs Amerika – saat para pejuang Afghan berhasil mengusir Amerika. Begitu istana berhasil direbut, para pejuang Afghan mengumumkan pengampunan umum bagi siapa saja yang sebelumnya menjadi antek penjajah. Padahal kesempatan untuk melampiaskan dendam terbuka lebar. Para pejuang Afghan telah menunjukkan risalah Islam yang agung, dalam bab perlakuan terhadap orang-orang yang pernah menyakiti, meniru apa yang dilakukan Nabi saw setelah berhasil menaklukkan Makkah. Dalam pandanagan Islam, tawanan itu tak ada hubungannya dengan menghancurkan kekuatan musuh. Mereka sudah dilucuti, tangannya sudah diborgol, sudah tidak punya kesempatan memegang senjata. Dalam kondisi begini, menyiksa mereka hanyalah melampiaskan dendam. Padahal perang bukan untuk melampiaskan hobi menyiksa dan membunuh, tapi menghancurkan kekuatan yang ada di tangan musuh, bukan nyawa atau fisiknya. Doktrin perang versi Islam yang dibingkai adab dan etika yang tinggi itu alhamdulillah dipraktekkan dengan sangat baik oleh dua komunitas yang mewakili umat Islam hari ini. Pertama, oleh pejuang Afghan yang saat ini sudah menikmati kemenangan setelah 40 tahun berperang. Kedua, oleh pejuang Gaza yang saat ini masih dalam perjalanan perang yang mungkin masih panjang melawan Israel. Andai saja Allah belum taqdirkan Gaza menang, bahkan semua pejuangnya diwafatkan oleh Allah dan seluruh bangunannya dihancurkan oleh Israel, risalah Islam tentang perlakuan terhadap tawanan perang telah dikirim ke seluruh dunia. Sebuah investasi mahal untuk meraih dukungan opini dunia. Dan pada gilirannya, akan membuat banyak hati condong kepada Islam. Maksudnya, mungkin saja Gaza kalah secara militer, tapi telah memenangkan perang moralitas di panggung opini dunia. Bukan Kekhasan Bangsa Ketangguhan, keberanian, kesabaran, dan keteguhan pejuang Gaza yang dikombinasi dengan kelembutan hati, kasih sayang dan etika yang tinggi, bukan merupakan kekhasan genetik – karena mereka orang Palestina, bumi para Nabi. Sama halnya dengan pejuang Afghan, bukan karena mereka bangsa Afghanistan yang terkenal tangguh. Tapi ini semua merupakan hasil didikan (tarbiyah) ajaran Islam. Mereka dibentuk oleh nilai-nilai spiritual Islam. Ini yang membuat output generasinya sama. Sikap yang keluar dari mereka sama. Perang Diponegoro melawan penjajah Belanda menjadi bukti. Mereka orang Jawa, tapi dipoles oleh tarbiyah Islam menjadi pemberani, sabar, tangguh sekaligus berakhlaq mulia sehingga berhasil membuat Belanda kalang kabut selama lima tahun. Dalam hal melahirkan generasi militan Komunisme juga bisa. Komunisme bisa menghasilkan generasi tangguh dan pemberani. Tapi yang membedakan dengan Islam, Komunisme tak akan melahirkan generasi yang berakhlaq dan berperikemanusiaan. Lihat horor yang mereka ciptakan selama pemberontakan PKI di Indonesia. Lihat horor yang diciptakan Uni Sovyet dalam meraih misinya. Lihat horor yang dibuat China kepada rakyatnya sendiri. Lihat horor yang dibuat Korea Utara. Para pejuang Gaza diasuh oleh pergerakan bernama Hamas – Harakah Muqawamah Islamiyah. Sebuah gerakan perlawanan dengan mengadopsi ideologi Islam dan nafas Islam, sebagai koreksi atas PLO – Palestinian Liberation Organization yang berideologi nasionalisme dan bernafas kebangsaan. Mereka dididik menjadi muslim yang utuh. Aqidahnya Islam. Jalan hidupnya Islam. Akhlaqnya Islam. Dan ketika berperang, menggunakan spirit Islam – hidup mulia atau mati syahid. Karena itu, celupan warna Islam pada diri mereka tercermin dalam perang yang mereka lakoni. Mereka tak perlu memakai jurus pencitraan dalam memperlakukan tawanan, sebab ia akan keluar secara otomatis.
136
10
Berbeda dengan perang yang dilakukan oleh kaum kafir atau kaum zalim. Mereka sengaja melakukan teror kepada siapapun tanpa pandang bulu, demi terciptanya suasana horor pada musuh sehingga takut untuk melawan. Mereka menjadikan penyiksaan fisik sebagai salah satu faktor untuk melemahkan mental musuh. Atau sebagai pelampiasan dendam seperti yang ditampilkan Israel. Atau mungkin malah menyalurkan hobi menyiksa. Islam sudah menetapkan aturan yang humanis soal perang sejak 1.500 tahun yang lalu. Zaman ketika hukum rimba masih menjadi aturan main tunggal dalam perang. Kini aturan yang humanis itu menemukan relevansinya ketika umat manusia sudah mengenal HAM dan hukum internasional soal perang. Tatanan modern mengenal istilah penjahat perang, yaitu siapa yang berperang secara barbar tanpa mengindahkan kemanusiaan, seperti yang Israel lakukan saat ini, akan diseret ke pengadilan internasional. Sementara Barat yang dengan manis menawarkan pendekatan kemanusiaan dalam perang, ternyata hanya retorika. Faktanya nol besar. Kebrutalan penjara Guantanamo, perlakukan terhadap tahanan Iraq, dan kekejian Amerika di Afghanistan menjadi bukti Barat hanya pandai retorika. Ketika kekuatan dan kekuasaan di tangan, semua yang melawan akan dibabat dengan segala cara, bodo amat dengan etika dan kemanusiaan. Kini watak itu dipraktekkan oleh Israel dengan sempurna kepada penduduk Gaza. Sebelumnya dipraktekkan China kepada penduduk Uighur yang muslim. Lalu dipraktekkan juga oleh India kepada komunitas muslim di sana. Benar sabda Rasul, bahwa kekafiran itu watak yang tunggal, meski merek berbeda-beda. Perang membuka watak asli manusia dan tabir ideologinya. Pertukaran Tawanan Menyingkap Tabir Perang menghasilkan kisah keberanian dan kepahlawanan itu sudah biasa. Jepang terkenal dengan keberanian tentaranya saat perang Dunia Kedua karena melakukan aksi kamikaze ke kapal Amerika. Dan pejuang Gaza juga banyak menyuguhkan kisah-kisah heroik itu yang menjadi buah bibir dunia. Tapi rupanya ada yang lebih menarik dari itu. Yaitu saat gencatan senjata dan pertukaran tahanan. Para pejuang Gaza yang memperlakukan tawanan dengan humanis menjadi kekaguman dunia. Padahal Gaza dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Jika mengikuti dendam hati, pejuang Gaza punya kesempatan melampiaskan dendam itu kepada para tahanan. Mereka bisa puas menyiksa dan mempermalukan orang-orang Israel yang ada di tangan mereka. Tapi justru mereka memperlakukan para tahanan dengan humanis. Dan itu bukan retorika. Tapi suatu fakta yang dirasakan oleh para tawanan itu. Bahkan muncul testimoni tertulis dalam bahasa Ibrani dari seorang ibu Israel yang merasa berterima-kasih kepada para pejuang Gaza yang telah memperlakukan dirinya dan anaknya dengan sangat baik. Juga bisa dilihat saat mereka dilepas oleh para pejuang yang mengenakan ikat kepala hijau dan penutup wajah ala Ninja itu. Mereka tersenyum dan melambaikan tangan kepada para penawannya. Ada ikatan emosional dan respek, bukan trauma dan kebencian. Berbanding terbalik dengan Israel. Mereka memperlakukan tahanan dengan brutal. Seperti mendapat kepuasan batin dengan itu. Tahanan yang dilepas Israel menyiratkan wajah dendam dan kebencian. Bahkan setelah melepaskan sejumlah tahanan sebagai imbal balik pertukaran tahanan, Israel sengaja menangkap lebih banyak orang Palestina untuk dimasukkan penjara dan mungkin akan disiksa dengan lebih brutal dari sebelumnya.
117
11
PANDUAN MEMBACA GAZA (7) BEGINILAH PERANGNYA ORANG BERIMAN By: elhakimi Pada serial sebelumnya sudah kita bahas tentang sang lakon yang menjadi center of grafity dari seluruh drama seru di Gaza ini. Sang lakon itu adalah si obat pahit yang multi khasiat bernama perang. Suatu adegan saling terkam antara dua komunitas dengan peralatan paling mematikan, dan itu riil bukan settingan. Perang adalah alat tertinggi yang dikenal umat manusia sepanjang sejarah dalam upaya mengalahkan lawannya. Jika alat di bawahnya masih mengenal aturan main dan wasit, perang dilakukan tanpa aturan main dan wasit. Pemenang akan berhak mendapatkan semua yang dimiliki lawannya, sebaliknya pihak yang kalah akan kehilangan semua yang dimiliki, termasuk nyawa dan kehormatan. Aturan main yang berlaku dalam perang adalah hukum rimba. Pada zaman dahulu, pihak yang kalah boleh dibunuh semuanya tanpa kecuali. Atau dijadikan budak bagi para pemenang. Wilayahnya menjadi milik pemenang. Etika atau adab sama sekali tak dikenal dalam perang. Doktrinnya simpel; hancurkan dan kuasai. Kini ternyata hukum rimba masih menjadi aturan main dalam perang. Terbukti Amerika dalam perang dunia ke-2 masih menggunakan hukum rimba, ketika menjatuhkan bom atom ke kota Hiroshima dan Nagasaki. Semua nyawa manusia dibabat habis, tak perlu dibedakan mana wanita dan anak-anak. Pada perang Iraq dan Afghanistan yang belum lama terjadi, Amerika menjatukanh bom merata ke seluruh sasaran. Kebrutalan hukum rimba masih terjadi. Israel dalam melakukan perang di Gaza juga membabat semua bangunan dan makhluk hidup. Kota menjadi rata dengan tanah. Meski dunia sudah mengenal HAM, tetap saja hukum rimba yang menjadi aturan mainnya. Perang tetaplah perang, zaman dahulu maupun zaman mutakhir aturan mainnya tetap sama – hukum rimba. Etika hanya aktual di lisan para pengamat. HAM hanya ramai di atas kertas. Humanisme hanya manis dalam retorika. Pelaku perang persetan dengan itu semua. Fokus targetnya adalah menang dan menaklukkan. Perang Versi Islam Islam mengizinkan umatnya untuk menggunakan alat bernama perang dalam rangka menaklukkan kekuatan yang mengahalangi pelaksanaan Islam atau zalim terhadap umat Islam. Tapi Islam tidak tunduk kepada hukum rimba sebagai aturan mainnya. Islam menetapkan aturan sendiri yang harus dipatuhi oleh umatnya jika ingin memakai alat bernama perang. Perang yang diizinkan oleh Islam sama sekali tak ada hubungannya dengan kepuasan membunuh atau menyiksa lawan, seperti yang kini dipertontonkan Israel. Perang versi Islam berfokus pada menghancurkan kekuatan yang ada di tangan lawan, bukan nyawanya. Wanita, orang sepuh dan anak-anak yang tak ada hubungannya dengan kekuatan lawan, sama sekali tak boleh diganggu sebisa mungkin. Bangunan tempat ibadah juga tak ada hubungannya dengan kekuatan lawan, tak boleh dihancurkan. Pria dewasa yang asyik beribadah di tenpat ibadahnya, juga tak boleh diganggu karena tak ada hubungannya dengan kekuatan lawan. Pohon dan tanaman yang menjadi sumber makanan kelak ketika perang usai, juga tak boleh asal dibabat, karena tak ada hubungannya dengan kekuatan lawan. Paling yang boleh dilakukan adalah memblokade dari sumber makanan, agar melemah dan menyerah. Islam melarang berzina apalagi memperkosa. Hukum ini berlaku baik saat damai maupun saat perang. Sehingga wanita musuh akan diperlakukan terhormat. Bahkan auratnya sengaja ditutup demi menghindarkan pandangan para pejuang muslim yang berpotensi menyulut syahwatnya. Karena itu, tak mungkin ada wanita musuh yang ditawan muslim mendapat pelecehan seksual dalam bentuk apapun. Kombatan musuh yang tertawan tak boleh disiksa demi kepuasan dendam. Kecuali dalam rangka mendapatkan informasi penting sementara yang bersangkutan sengaja bungkam. Salah satu cara agar dia bicara adalah memaksanya bicara. Tapi jika ia lancar memberikan informasi yang diperlukan, Islam melarang untuk menyiksanya. Ia diperlakukan normal sebagai manusia, hanya saja dijaga ketat agar tidak melarikan diri.
122
12
Keharusan memakai perang sebagai alat mengalahkan musuh yang berlaku pada era Nabi Muhammad saw membuat mereka tertarbiyah menjadi generasi tangguh. Berdikari. Bukan generasi yang selalu mengiba agar pihak lain menolong sementara dirinya sendiri hanya akan jadi penonton. Perang Gaza semoga menjadi tarbiyah baru, bukan hanya untuk para pelaku tapi juga buat semua generasi muda muslim di seluruh dunia. Amien. والله أعلم بالصواب @elhakimi – 21112023
167
13
Setelah di Madinah, perseteruan terus berlanjut. Perang pertama meletus, di Badar. Lalu Uhud yang tak jauh dari Madinah. Puncaknya perang Ahzab, ketika Quraisy dengan melibatkan sekutunya ingin menghabisi Nabi saw dari Madinah agar Islam punah. Momen kekalahan total Quraisy adalah pada peristiwa Fathu Makkah – penaklukan Makkah tahun 8 H. Kota yang dulu menjadi basis syirik bisa dirubah 100% menjadi basis Tauhid. Sebuah kemenangan gemilang dan heroik, tak kalah heroiknya dengan kemenangan Bani Israel dari Fir’aun. Kemenangan generasi Sahabat terhadap kaum Musyrik didapat melalui perang. Menggunakan tangan manusia, bukan burung Ababil atau air laut. Tangan itu memegang pedang, tombak, panah tameng dan segala rupa peralatan perang. Tubuh mereka merasakan luka, bahkan ada yang mati karenanya. Lelah, haus, lapar, rasa takut, situasi genting dan semuanya. Para Sahabat harus berpayah-payah. Berkeringat. Serius penuh konsentrasi. Sebab jika tidak, bukannya mengalahkan musuh, malah musuh yang akan mengalahkannya. Karena itu dalam Islam disebut dengan jihad, yang secara etimologi berarti mengerahkan segenap kemampuan dan sumber daya (dalam rangka mengalahkan musuh). Para Sahabat bukan duduk manis di luar gelanggang perang lalu menonton drama bertumbangannya musuh dengan hati puas. Tidak. Mereka berada di gelanggang itu. Mereka pemerannya, tidak memakai pemeran pengganti. Kadang berhasil membunuh atau melukai musuh, tapi kadang musuh yang berhasil melukai atau membunuh. Mereka benar-benar ada di dalam gemuruh perang itu, sebagai pelaku bukan penonton. Inilah yang membuat generasi Sahabat berbeda dengan generasi Bani Israel pada zaman Musa as. Bani Israel ditarbiyah sebagai penonton bukan pelaku, meski sebelumnya merasakan intimidasi juga. Sementara generasi Sahabat ditarbiyah sebagai pelaku bukan penonton. Hasilnya berbeda. Bani Israel menjadi generasi manja, maunya ditolong, tak mau usaha sendiri. Sementara generasi Sahabat menjadi generasi tangguh yang siap usaha sendiri sampai maksimal, barulah Allah akan menolong. Apalagi jika kita melihat pertolongan Allah kepada generasi Sahabat. Tidak ada yang terlalu ajaib mirip sulap, seperti pada Bani Israel. Misalnya, kemenangan dalam perang Badar. Jumlah pasukan Nabi saw 313 orang, sementara musuh 1.000 orang lebih. Memang tidak imbang, tapi tidak terlalu dramatis dan ajaib. Masih satu berbanding tiga. Bukan satu berbanding 1.000. Mengundang pertolongan Allah itu sangat sulit dan berat. Ada sedikit saja syarat pertolongan dilanggar, Allah tidak menolong. Misalnya dalam perang Uhud. Ada beberapa orang yang melanggar perintah Nabi saw karena tergoda melihat ghanimah, maka kontan pertolongan ditarik. Mereka berubah menjadi bulan-bulanan musuh. Generasi Sahabat akan dengan serius mempersiapkan diri seolah tak ada pertolongan Allah. Mereka juga memenuhi seluruh syarat pertolongan dengan ketat, utamanya sabar dan taqwa. Setelah semuanya siap, bismillah menghadapi musuh. Mereka tidak bisa memastikan pertolongan Allah, tapi hanya meminta pertolongan Allah. Akan diturunkan pertolongan itu atau ditunda semuanya terserah kepada Allah, karena Allah Yang Maha Tahu dan Maha Bijaksana. Kesimpulannya, faktor kunci yang menjadi pembeda adalah perang. Bani Israel tidak ditarbiyah dengan perang, tapi pertolongan ajaib tanpa perang. Sementara generasi umat Muhammad saw ditarbiyah dengan perang. Kalau tidak mau perang, sampai kapanpun tidak akan ditolong oleh Allah denagn cara ajaib. Mau gak mau harus bangkit melawan, gak bisa mengandalkan doa sambil rebahan. Generasi yang datang kemudian semuanya menjadikan generasi Sahabat sebagai role model. Generasi tangguh yang pantang berjiwa lemah dan cengeng. Kini copy-an generasi Sahabat itu kita temukan pada generasi Mujahidin Gaza. Tanah mereka kecil, dibelenggu dari segala penjuru, saudara seiman terdekat tidak serius membantu, musuh begitu kuat dan kejam, tapi mereka tidak mengeluh, mengumpat saudara atau menyerah lunglai tak bertenaga. Tidak. Mereka justru bangkit melawan, menegakkan kepala dan mengobarkan perang melawan raksasa.
149
14
Allah tidak salah dalam memberi pembelaan dan pertolongan kepada kaum yang tertindas sekaligus mengusung kebenaran (tauhid), yaitu Bani Israel. Tapi yang salah Bani Israel yang keliru menangkap pesan. Orang Indonesia menyebutnya GR alias gede rasa. Hal paling dramatis yang akan membekas kuat di benak Bani Israel adalah saat mereka diselamatkan melalui laut yang terbelah itu, sambil bisa menyaksikan dengan puas musuh yang selama ini menzalimi mereka megap-megap di laut lalu mati. Mereka tak perlu berlumuran darah menghancurkan musuh. Tak perlu terkena luka atau mati. Semuanya dilakukan oleh Allah dengan taqdirnya, menggunakan tentara Allah bernama air laut. Bukan dengan menggunakan tangan Bani Israel sendiri. Dengan kata lain, tidak ditarbiyah dengan perang. Agaknya peristiwa ini yang memicu mereka untuk menolak berperang menaklukkan penguasa Yerussalem saat mereka diperintah oleh Allah untuk memasukinya. Mereka terlanjur manja, tidak mau berdarah, kena luka apalagi sampai mati. Mereka maunya ditolong dengan ajaib, mengulang peristiwa di laut itu. Jawaban mereka sangat jelas menggambarkan psikologi mereka yang manja: قَالُواْ يَٰمُوسَىٰٓ إِنَّا لَن نَّدۡخُلَهَآ أَبَدٗا مَّا دَامُواْ فِيهَا فَٱذۡهَبۡ ‌أَنتَ ‌وَرَبُّكَ فَقَٰتِلَآ إِنَّا هَٰهُنَا قَٰعِدُونَ ٢٤ Mereka berkata: "Hai Musa, kami sama sekali tidak akan memasukinya selamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti disini saja". (QS. Al-Maidah: 24) Mereka tidak pernah mendapat tarbiyah perang. Mereka ditarbiyah dengan “melihat hasil secara ajaib sambil rebahan”. Atau pilihan diksi ayat di atas – duduk-duduk santai – : “kami hanya duduk sambil menanti (berita kemenangan itu)”. Duduk dan rebahan sama saja substansinya. Kalau di negeri kita, duduk sambil ngupi dan makan gorengan ! Mereka maunya yang turun berperang adalah pahlawan mereka yaitu Musa as dengan dibantu Allah SWT. Mereka menganggap Musa as seorang superman yang pasti mampu menaklukkan musuh sendirian dengan mukjizatnya, tanpa perlu dibantu banyak orang. Cukup berdua saja, Nabi Musa as dan Tuhannya. Apalagi mungkin saat itu tongkat Nabi Musa as masih ada, mereka merasa cukup mengandalkan tongkat ajaib itu. “Ngapain capek-capek berperang, tongkat diayunkan saja musuh bisa kalah”, batin mereka – mungkin. Sifat manja, dan selalu minta dibela dan dilayani oleh Allah ini membekas kuat pada kebatinan Bani Israel sejak era Nabi Musa as. Diwariskan sifat itu kepada generasi penerus. Kisah-kisah heroik itu diceritakan kepada anak keturunannya sebagai kisah “anak emas” Allah yang pasti akan selalu dibela Allah jika berkonflik dengan bangsa lain, baik dalam posisi terzalimi atau menzalimi. Tentu saja suatu kaum dengan kebatinan yang sudah rusak parah seperti ini tidak bisa lagi diandalkan untuk membawa agama tauhid untuk menerangi dunia. Generasi manja tak bisa dibebani dengan tanggungjawab yang berat dan penuh resiko ini. Harus ada generasi baru yang ditarbiyah dengan cara berbeda. Itulah umatnya Nabi Muhammad saw. Tarbiyah Pada Umat Muhammad saw. Generasi baru dengan lokasi baru yang Allah pilih untuk membawa amanat Tauhid adalah generasi Sahabat radhiyallahu anhum yang menemani Nabi Muhammad saw. Mereka hidup di jazirah Arab yang keras. Lalu ditarbiyah dengan perang yang juga keras. Mereka terbiasa berjuang untuk menang, bukan manja hanya mendalkan bantuan pihak lain. Generasi ini mengawali kisahnya dengan mendakwahkan tauhid kepada kaum Quraisy yang berpaham syirik. Tentu saja mendapat perlawanan keras. Tokoh-tokoh Quraisy menggunakan berbagai macam intimidasi untuk membendung pertumbuhan pemeluk Tauhid. Puncak dari intimidasi itu ketika mereka menutup rapat ruang gerak Nabi dan para Sahabat di Makkah. Kaum Quraisy bahkan mengepung rumah Nabi saw untuk membunuhnya. Inilah yang menjadi pemicu hijrahnya Nabi saw ke Madinah.
114
15
Intimidasi makin menjadi. Bani Israel mengeluhkan hal ini. Kata mereka, sebelum Musa asa datang mereka sudah diintimidasi, dan sesudah Musa as datang sama saja, bahkan menjadi-jadi. Musa menjawab, biang masalah berarti bukan saya, tapi musuh kalian yaitu Fir’aun, semoga Allah hancurkan musuh kalian itu. (lihat surat Al-A’raf: 129). Musa as membawa pengikutnya lari dari Mesir. Mentok di laut. Fir’aun dan pasukannya sudah kelihatan di belakang. Pengikut Musa as panik. Tapi Musa as menenangkan, “Allah bersamaku, dan pasti akan memberi jalan keluar”. Allah perintahkan Musa as memukulkan tongkat mukjizat itu ke laut. Terbelah jadi 12 jalan. Semuanya segera lari meintasinya hingga mencapai daratan seberang dengan aman. Fir’aun dan pasukannya menyusul, ikut menyeberang dengan percaya diri. Sampai di tengah air laut kembali menutup, semuanya tenggelam dan mati. Tamat riwayat si Tiran dan Musa as menang dengan gemilang, dielu-elukan pengikutnya. Setelah di seberang, mereka haus dan minta air kepada Musa as. Tongkat mukjizat dipukulkan ke batu, keluarlah 12 mata air, masing-masing untuk satu kelompok suku. Lapar minta makan, turunlah untuk mereka Manna dan Salwa – makanan lezat yang berasal dari langit. Mereka bosan dengan itu, minta makanan lain. Mereka diperintah memasuki Yerusalem – tentu dengan menaklukkan penduduknya. Mereka menolak. Malah minta Musa as dengan Allah untuk menaklukkannya berdua. Jika sudah ditaklukkan, barulah mereka mau memasukinya. Sifat manja, egois dan tengil mulai keluar. Mereka selalu minta dimanjakan oleh Allah dan diperlakukan istimewa. Mereka terus-menerus merasa sebagai kelompok pilihan. Bebas mekakukan apa saja, toh Allah akan selalu bela. Ini yang ada pada kebatinan mereka. Sebetulnya jika kita renungkan, Allah memperlakukan mereka sedemikian istimewa ada alasannya: Pertama, mereka terbukti setia dan teguh mewarisi keyakinan dan millah yang diajarkan leluhur mereka yaitu Ibrahim as. Meski mereka mendapat intimidasi dari bangsa Mesir, tapi mereka teguh memegang prinsip, tidak menukarnya menjadi syirik seperti yang dipeluk bangsa Mesir kala itu. Karenanya Bani Israel layak mendapat apresiasi istimewa dari Allah. Kedua, mereka sekian lama mendapat perlakuan kejam tapi tetap sabar. Ini juga membuat mereka layak mendapat imbalan yang layak dari Allah untuk kesabaran mereka itu. Ketiga, kebenaran perlu mendapat pembelaan ajaib agar menjadi bukti di mata manusia lalu mereka akan berpihak kepada kebenaran bahkan mengikutinya. Seperti pada zaman Nuh as, kebenaran diselamatkan dengan ajaib dan kebatilan dihancurkan dengan dramatis, sehingga menjadi dalil yang hidup bagi manusia pada zamannya dan zaman sesudahnya. Keempat, menjadi pesan yang sangat kuat bagi para Tiran sesudah Fir’aun bahwa di atas mereka ada Allah yang tak segan akan menghancurkan mereka jika tetap dalam kezalimannya. Dan jika datang peringatan dari utusan Allah tapi malah ditentang keras, pasti akan Allah hancurkan singgasananya. Kelima, pemegang kebenaran yaitu Bani Israel perlu diberi bukti ajaib dan dramatis untuk makin menguatkan pelukan mereka terhadap agama tauhid ini. Allah tunjukkan bahwa mereka benar-benar dibela, tak pernah ditinggalkan, meski terlebih dahulu diuji dengan intimidasi yang panjang. Begitu banyak dan istimewa dukungan itu, hingga seolah memanjakan. Maksudnya, pilihan Allah untuk menyelamatkan Bani Israel secara dramatis dan menghancurkan Fir’aun, lalu memberikan berbagai kenikmatan dan kemudahan yang sungguh ajaib itu, adalah pilihan yang tepat sesuai kebutuhan zaman pada saat itu, sebagaimana penjelasan poin-poin di atas. Tapi kemudian Bani Israel keliru memahami pesan itu. Mereka menganggapnya sebagai keberpihakan istimewa atau memanjakan. Mereka merasa sebagai “anak tersayang” Allah yang akan selalu dimanja dan dibela, sementara bangsa lain harus mengabdi untuk mereka.
96
16
PANDUAN MEMBACA GAZA (6) PERANG ITU TARBIYAH Perang itu media tarbiyah – pendidikan. Terutama pendidikan batin alias psikologis. Agar batin orang beriman umat Nabi Muhammad saw baik dan dekat dengan Allah. Bukan batin yang manja, tengil dan arogan, seperti yang kini kita temukan pada Israel. Sebetulnya semua perintah Allah itu mengandung efek tarbiyah. Shalat adalah tarbiyah, agar terhindar dari fahsya’ (kemesuman) dan munkar. Puasa adalah tarbiyah, agar hidup rasa diawasi oleh Allah (muraqabatullah). Lapar, miskin dan kekurangan adalah tarbiyah, agar terasah sifat sabar. Intimidasi dan penyiksaan dari kaum kafir adalah tarbiyah, agar orang beriman tangguh imannya dan kuat tawakkalnya kepada Allah. Baca Al-Qur’an juga tarbiyah. Dzikir juga tarbiyah. Doa juga tarbiyah. Semuanya adalah tarbiyah. Menjadi muslim ibarat sedang sekolah. Semua perintah yang ada di dalamnya adalah media pendidikan. Sebagaimana semua larangan adalah media pendidikan. Muslim yang tak mau melaksanakan perintah dan tak mau meninggalkan larangan, ia tak mendapat efek tarbiyahnya. Ia hanya akan begitu-begitu saja, seperti sebelum mengenal Islam. Perbedaan Dua Sistem Tarbiyah Kita bisa menyaksikan perbedaan dua sistem tarbiyah yang pernah Allah terapkan. Hasilnya juga bisa kita bandingkan. Pertama, sistem tarbiyah pada bani Israel terutama zaman Nabi Musa as. Kedua, sistem tarbiyah pada umat Nabi Muhammad saw yang berlaku hingga kini. Dua umat ini layak dibandingkan karena memiliki kemiripan yang amat dekat. Umat Nabi Musa as – bani Israel – mengalami penindasan keras dari penguasa kuat pada zamannya – Fir’aun. Keadaan mereka sangat miris. Penyiksaan dan pembunuhan mereka hadapi selama bertahun-tahun. Lalu mereka ditolong oleh Allah dengan diberi jalan untuk melintas dengan aman di laut, lalu musuh mereka binasa. Umat Nabi Muhammad saw juga demikian. Pada awal dakwah Nabi saw di Makkah, mereka mendapat banyak intimidasi bahkan pembunuhan. Lalu mereka hijrah ke Madinah. Lalu terjadi perang Badar dan perang-perang berikutnya. Dengan itu Allah tolong mereka, dan musuh berhasil dikalahkan. Hasil akhirnya sama, kemenangan. Tapi efek tarbiyahnya beda. Kebatinan para pelakunya beda. Bani Israel menjadi kaum yang manja, cengeng, egois, arogan dan bengis. Mirip seperti anak yang mendapat perlakuan manja di masa kecil, besarnya menjadi pribadi egois dan cengeng. Sementara generasi Sahabat menjadi sosok yang mandiri, tangguh, tegar, tapi tetap tawadhu dan respek kepada orang. Mirip anak yang dibesarkan dengan tempaan kerasnya hidup, kelak besar menjadi remaja mandiri dan tangguh. Tarbiyah Pada Bani Israel. Bani Israel sudah lama diperbudak oleh bangsa Mesir. Mereka terpinggirkan. Keyakinan yang mereka pegang turun temurun mendapat penentangan dari masyarakat Mesir, tentu saja dengan dukungan penguasa – Fir’aun. Dalam situasi seperti itu, Fir’aun bermimpi kerajaannya akan ditumbangkan oleh salah seorang anak dari Bani Israel. Tentu saja hal ini membuat kebencian dan dendamnya kepada Bani Israel kian membara. Dia putuskan semua anak laki-laki bani Israel harus dibunuh, yang perempuan boleh hidup. Secara umum mereka mendapat perlakukan makin represif. Lahir Musa as. Allah taqdirkan lolos dari pembunuhan, dan justru diasuh oleh Fir’aun sendiri. Tumbuh dewasa menjadi lelaki kuat. Memang secara fisik lebih gagah dan besar dibanding orang lain. Karenanya, pernah memukul orang sampai tewas, dan yang dipukul orang pribumi Mesir. Tentu saja membuat posisi Musa as tidak aman. Musa as lari ke Madyan. Sekitar 10 tahun di sana. Lalu diangkat menjadi Nabi. Lalu diperintah untuk kembali ke Mesir, untuk melaksanakan misi Allah yaitu menyelamatkan bani Israel dari kekejaman Fir’aun sekaligus menumbangkannya. Allah bekali Musa as dengan dua mukjizat yang sungguh ajaib. Tongkat yang multi fungsi dan cahaya yang keluar dari tangannya. Tongkat kelak dilempar menjadi ular, dan kalahlah tim ahli sihir yang dikerahkan Fir’aun.
106
17
Beda dengan pembunuhan. Sejak berangkat niatnya mencabut nyawa. Orang zaman sekarang menyebutnya dengan kejahatan kemanusiaan. Sedangkan perang, asal dilakukan dengan adab dan akhlaq Islam, tidak bisa digolongkan dalam kejahatan terhadap kemanusiaan. Sebaliknya perang yang berakhlaq justru akan didukung dan diapresiasi oleh manusia sedunia. Sebab perang dikobarkan untuk menghentikan kezaliman dan memotong kaki tangannya, bukan untuk mengalahkan kezaliman demi membangun kezaliman lebih besar. Perang yang Allah perintahkan adalah perang yang bijaksana, sebab dipandu akhlaq Islam. Kita menjadi saksi, perang yang dipraktekkan oleh Mujahidin Gaza dipandu oleh akhlaq Islam. Jika ada kekurangan sana sini, itu wajar, karena bagaimanapun mereka manusia biasa yang tak terpelihara dari sifat emosi, kesalahan dan dosa. Sebaliknya perang yang dipraktekkan oleh Israel adalah perang yang durjana. Tempat ibadah yang tak bersalah sengaja dihancurkan. Rumah sakit sengaja dirusak. Warga sipil sengaja dibunuh sebagai pelampiasan nafsu angkara murka. Karena itu, publik dunia mulai tahu perbedaannya, siapa yang layak dibela dan siapa yang layak dimusuhi. Karena itu, jangan terkecoh narasi Israel dan teman-temannya, yang mengajak kita untuk melihat perang dari segi gambar-gambar kengerian yang dihasilkan. Lalu perang secara otomatis adalah terorisme. Lalu terorisme otomatis adalah kejahatan terhadap kemanusiaan. Maka Mujahidin Gaza adalah teroris yang jahat. Tapi mari kita alihkan pandangan kita pada hasil dan caranya. Perang akan memberi hasil yang efektif dalam memotong tangan-tangan zalim, dibanding diplomasi. Caranya juga harus dibedakan, jika dilakukan dengan akhlaq Islam maka perang adalah baik, tapi jika dilakukan dengan pembantaian keji dan perusakan apa saja, maka perang adalah kejahatan. Sebagai sebuah alat, perang itu netral, seperti halnya pedang atau senapan. Tak ada hukum fiqh yang melekat pada pedang atau senapan. Tergantung bagaimana alat itu digunakan. Jika digunakan untuk membasmi kejahatan, pedang dan senapan itu menjadi alat yang baik. Tapi jika digunakan untuk membunuh orang beriman atau orang yang tak berdosa, maka pedang dan senapan itu menjadi alat yang buruk. Allah perintahkan orang beriman untuk memakai alat bernama perang bukan karena Allah cinta pada perangnya itu sendiri. Bukan berarti Allah suka melihat pertumpahan darah. Tapi Allah suka melihat hasilnya. Allah suka dengan kebatinan orang beriman ketika berada dalam kegentingan perang, karena membuat mereka sangat dekat dengan Allah. Allah suka dengan caranya yang dipandu dengan akhlaq Islam, karenanya bisa menjadi teladan yang bisa dicontoh oleh umat manusia sejagat. Apalagi di era sekarang, narasi dan gambarnya dengan mudah hadir di depan layar setiap orang. Karena itu, jalan perang yang ditempuh orang beriman adalah jalan bijaksana, bukan jalan orang yang haus darah. Wallahul-musta’an. والله أعلم بالصواب @elhakimi – 15112023
141
18
Pilihan perang memang pilihan yang akurat dan bijaksana. Bisa kita analisa sisi bijaksana perang sebagai berikut: Pertama, sisi sumber perintah. Bahwa yang memerintah adalah Allah yang memang Maha Tahu dan Maha Bijaksana. Allah yang ciptakan manusia pasti tahu dengan akurat apa titik kelemahan dan kelebihan manusia. Allah juga Maha Tahu tentang analisa untung rugi penggunaan perang. Jika memang merugikan, tak mungkin Allah perintahkan. Allah tahu hasil yang diinginkan baik oleh Allah maupun hamba-Nya tak akan bisa diraih tanpa perang. Misalnya, perang akan membuka jalan bagi Allah untuk mengazab kaum kafir dan zalim, suatu hasil yang tak bisa dicapai dengan diplomasi. Perang juga membuka jalan bagi Allah untuk menghinakan kaum kafir dan zalim dalam kehidupan dunia, suatu hasil yang tak akan tercapai dengan diplomasi. Sebagaiamana perang juga menjadi alat bagi Allah untuk menurunkan pertolongan-Nya agar kaum beriman menang dan kaum kafir kalah. Diplomasi tak bisa memastikan hasil itu. Kedua, sisi pelaku. Bahwa yang akan melaksanakan perang adalah hamba-hamba yang beriman kepada Allah. Perang memberi dampak positif bagi pelaku karena berada dalam situasi genting sehingga hatinya akan dengan tulus memohon pertolongan kepada Allah, bertawakkal kepada-Nya, lisannya selalu berdzikir, dan yakin dengan janji Allah. Allah menilai manusia lebih pada sisi batinnya dibanding lahirnya. Allah suka apabila hamba-Nya memiliki batin yang sangat dekat dengan-Nya. Apalagi jika ia terkena luka, ia justru beristighfar minta ampun kepada Allah, hatinya ridha dengan taqdir tersebut, dan selalu husnu dhan kepada Allah. Dengan perang, Allah bisa memilah mana hamba-Nya yang loyal dan berani bertaruh nyawa demi Allah dan mana hamba yang hanya bermain pencitraan. Ketiga, sisi obyek. Pihak yang diperangi adalah kaum kafir dan zalim. Biasanya mereka akan mengandalkan kekuatan untuk menjaga bangunan kekafiran dan menebar kezaliman. Kekuatan memicu kesombongan, penindasan, keserakahan, kebrutalan dan segala tindakan seenak jidatnya sendiri. Diplomasi dengan orang-orang yang sudah mabok kekuatan dan kekuasaan hanya melahirkan pasal-pasal yang menghinakan. Mereka terbiasa tak menghargai perjanjian selagi masih merasa kuat dan berkuasa. Mau ratusan kali diplomasi sekalipun, hasilnya seperti lingkaran setan yang tak berujung. Namun jika mereka dihadapi dengan perang hasilnya akan beda. Memang perang tak menjamin kemenangan 100%. Peluang menang dan kalah sama. Tapi setidaknya, lebih baik dibanding diplomasi, yang tak punya sama sekali peluang menang. Hasilnya selalu 100% kalah. Pihak kuat akan mendikte bunyi pasal-pasal. Perang akan memberi perimbangan; kita luka mereka juga luka, kita ada yang mati mereka juga ada yang mati. Ketika mereka sampai pada titik lelah berperang, diplomasi akan bisa ditulis bersama secara lebih berimbang. Sebab diplomasi hanyalah NARASI DI ATAS KERTAS untuk REALITA DI LAPANGAN. Seperti rangkaian kata yang disusun wartawan lalu dituangkan di lembaran berita untuk menggambarkan kejadian nyata yang ia lihat di lapangan. Oleh sebab itu, cara yang bijak dalam mencapai hasil adalah ciptakan dulu realita sesuai yang kita inginkan, barulah dituangkan dalam lembar diplomasi. Dengan kata lain, perang dulu, baru diplomasi menyusul. Jangan diplomasi berulang sampai bosan tapi tak pernah perang. Sebab diplomasi hanyalah alat untuk mengikat hasil yang menjadi realita di lapangan. Kesimpulannya, perang adalah alat yang efektif untuk menghentikan kaum kafir dan zalim, seperti Israel itu. Mereka tak pernah mau mengindahkan diplomasi. Dengan demikian, rekomendasi Allah agar orang beriman memakai perang sebagai cara meraih hasil, merupakan rekomendasi yang bijaksana dan melalui perhitungan matang. Keempat, sisi cara. Perang itu cara yang bijaksana, jika dibanding membunuh. Perang itu bukan untuk mencabut nyawa manusia, tapi sekedar mencerabut kekuatan yang ada di tangannya. Jika tangannya bersikeras tak mau melepaskan kekuatan itu, terpaksa dibunuh.
124
19
PANDUAN MEMBACA GAZA (5) JANGAN SOK TAHU DAN SOK BIJAK ! By : elhakimi Terdapat tiga ayat di dalam Al-Qur’an yang isinya seragam, yaitu rekomendasi dari Allah kepada Nabi-Nya dan umat Islam agar menggunakan alat bernama perang. Menariknya, ujung dari tiga ayat ini juga seragam, bahwa Allah itu Maha Tahu dan Maha Bijaksana. Artinya, pilihan menggunakan perang itu merupakan pilihan yang bijaksana. Ayat pertama: كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلۡقِتَالُ وَهُوَ كُرۡهٞ لَّكُمۡۖ وَعَسَىٰٓ أَن ‌تَكۡرَهُواْ شَيۡـٔٗا وَهُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّواْ شَيۡـٔٗا وَهُوَ شَرّٞ لَّكُمۡۚ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia lebih baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia lebih buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 216). Ayat ini menegaskan bahwa pilihan perang dibanding diplomasi yang lebih nyaman, merupakan pilihan yang didasari ilmu Allah yang teramat luas. Allah tahu pilihan ini memang tidak disukai oleh naluri manusia karena berat, menyakitkan, dan menimbulkan luka atau kematian. Tapi Allah yang menciptakan manusia lebih tahu tentang manusia dibanding manusia sendiri. Allah Maha Penyayang. Tentu memilihkan sesuatu yang lebih bermanfaat buat hamba-Nya yang loyal kepada-Nya meski tidak disukainya. Seperti orang tua yang sayang anak, menyuruh anaknya belajar keras jangan banyak santai atau bermain, demi masa depan anaknya yang lebih baik. Anak pasti akan merasa berat, tapi orang tua lebih tahu tentang apa yang lebih baik buat anaknya kelak. Ayat kedua: وَلَا ‌تَهِنُواْ فِي ٱبۡتِغَآءِ ٱلۡقَوۡمِۖ إِن تَكُونُواْ تَأۡلَمُونَ فَإِنَّهُمۡ يَأۡلَمُونَ كَمَا تَأۡلَمُونَۖ وَتَرۡجُونَ مِنَ ٱللَّهِ مَا لَا يَرۡجُونَۗ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu punya harapan di sisi Allah sementara mereka tidak memiliki harapan itu. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. An-Nisa: 104) Ayat ini melarang orang beriman untuk lemah semangat dalam mengejar musuh disebabkan khawatir akan kena luka atau kematian. Orang beriman harus berkobar semangatnya, pemberani, teguh, pantang takut dan pantang menyerah dalam menyerang musuh. Meski akan mendapat luka atau mati, toh musuh juga akan menderita luka atau mati. Orang beriman punya harapan pahala dan surga, sedangkan musuh tak ada harapan itu, bahkan neraka menantinya. Ayat diakhiri dengan kalimat: Allah Maha Tahu lagi Maha Bijaksana. Maksudnya, rekomendasi perang itu dilandasi ilmu Allah yang tak ada batas dan dilandasi pertimbangan yang bijaksana. Bukan asal rekomendasi tanpa data dan tanpa pertimbangan matang. Semuanya sudah dihitung dengan cermat oleh Allah. Karena itu, manusia tak perlu sok tahu dan sok bijak dengan menolak apa yang Allah rekomendasikan. Ayat ketiga: قَٰتِلُوهُمۡ يُعَذِّبۡهُمُ ٱللَّهُ بِأَيۡدِيكُمۡ وَيُخۡزِهِمۡ وَيَنصُرۡكُمۡ عَلَيۡهِمۡ وَيَشۡفِ صُدُورَ قَوۡمٖ مُّؤۡمِنِينَ ١٤ وَيُذۡهِبۡ غَيۡظَ قُلُوبِهِمۡۗ وَيَتُوبُ ٱللَّهُ عَلَىٰ مَن يَشَآءُۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ ١٥ Perangilah mereka, agar Allah azab mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu, Allah hinakan mereka, Allah menolong kamu terhadap mereka, dan melegakan hati orang-orang yang beriman. Dan menghilangkan panas hati (dendam) orang-orang mukmin. Dan Allah menerima taubat orang yang dikehendaki-Nya. Allah maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. At-Taubah: 14-15) Ayat ini memerintahkan perang terhadap mereka yang kafir sekaligus zalim. Ujungnya diakhiri dengan kalimat: Allah Maha Tahu lagi Maha Bijaksana. Lagi-lagi menegaskan bahwa rekomendasi perang merupakan rekomendasi matang dilandasi berbagai pertimbangan sehingga akurat dan bijaksana. Karena itu, manusia hendaknya menerima apa yang Allah pilihkan, bukan sok tahu dan sok bijaksana. Sisi Bijaksana Perang
121
20
Keenam, sebagai cara Allah untuk membuka pintu taubat bagi orang-orang yang Allah kehendaki. Maksudnya, perang akan membuat perisai kesombongan di hati musuh-Nya bisa dihancurkan. Selama ini, penghalang dalam menerima Islam adalah perisai kesombongan itu. Setelah perisai disingkirkan paksa dengan perang, orang akan lebih jujur melihat Islam, lalu masuk Islam. Karena itu, setelah kemenangan Nabi saw dalam beberapa jilid perang melawan Quraisy, dan perisai kesombongan bisa ditanggalkan dari dada kaum Quraisy, mereka semua masuk Islam. Bukan hanya Quraisy, bahkan suku-suku Arab lain berbondong-bondong masuk Islam, seperti yang direkam dalam surat An-Nashr. Khasiat ini ini bisa masuk dalam kategori agenda Allah, karena Allah menurunkan agama-Nya agar dipeluk oleh manusia. Semakin banyak yang memeluknya semakin disukai Allah. Semakin banyak manusia yang tunduk kepada Allah, semakin sedikit yang menolak Allah. Tapi bisa juga masuk dalam kategori agenda orang beriman. Sebab teman dalam iman menjadi lebih banyak. Musuh semakin sedikit. Jika dirangkum, enam khasiat ini bisa dibagi dalam tiga kategori. Dua khasiat merupakan pemenuhan agenda Allah (pertama dan kedua). Dua khasiat merupakan pemenuhan agenda orang beriman (keempat dan kelima). Dan dua khasiat lagi merupakan pemenuhan agenda bersama (ketiga dan keenam). Melihat Khasiat Perang Gaza Betapa ajaib obat bernama perang. Satu obat memiliki multi khasiat. Memang pahit, tapi mujarab. Lihat khasiat perang Gaza yang mulai terlihat. Kita semua menjadi saksi bahwa ayat di atas benar-benar datang dari Sang Maha Tahu dan Maha Bijaksana. Pertama, warga Israel yang tinggal di bagian manapun dari teritorial Israel kini dihantui kecemasan setiap saat. Cemas akan kena rudal dari Mujahidin. Cemas akan kalah, lalu mereka terusir. Mereka tidak lagi nyaman tinggal di Israel. Kedua, karena tidak nyaman, terjadi gelombang eksodus keluar dari Israel demi mencari tempat yang lebih aman untuk hidup lebih nyaman. Ketika, jika Israel makin kosong ditinggal pergi penduduknya, maka Israel makin lemah. Penggusuran tanah Palestina menjadi tak ada gunanya, karena tak laku ditawarkan kepada pendatang. Keempat, ekonomi Israel terguncang hebat. Terkuras membiayai perang, dan perniagaan mandeg karena situasi tidak aman. Israel makin lemah. Kelima, tentara Israel banyak yang mati dan terluka. Ini menjadi pukulan telak. Apalagi testimoni horor perang di Gaza, akan membuat teman-temannya sesama tentara akan makin depresi. Keenam, dulu tentara Israel merasa superior, kini harus mengakui kehebatan dan keberanian mujahidin Gaza dengan pertolongan Allah. Keberanian Israel untuk nakal dan tengil mulai berkurang. Ketujuh, perang memberi bukti bahwa tank dan kecanggihan persenjataan Israel ternyata mudah dijinakkan dengan isin Allah. Kedelapan, Israel tidak lagi mampu mengontrol opini dunia yang berbalik mendukung mujahidin Gaza. Kesembilan, horor yang tercipta di Israel menjadi obat yang menyejukkan hati orang Palestina dan seluruh umat Islam. Kesepuluh, selama ini umat Islam seperti dalam situasi putus asa dalam menghentikan kezaliman Israel. Tapi dengan perang yang dikobarkan mujahidin Gaza, harapan itu kembali membuncah. Dan tentu saja segudang khasiat lain yang kita mungkin tak mampu menghitungnya, hanya Allah yang tahu. Intinya, laksanakan rekomendasi Allah, maka kamu akan beruntung. Jangan sok tahu dan sok bijaksana. Wallahul-musta’an. والله أعلم بالصواب @elhakimi – 16112023
203