Terapi Penyakit Hati (الدَّاءُ وَالدَّوَاءُ)
Open in Telegram
Arsip Rekaman | Kitab : Ad-Daa' Wad Dawaa' | Al-Ustadz Teuku Abdurrahman Abu Nabil At-Tuwasza حفظه الله | Kajian Rabu malam ba'da magrib di Masjid As-Sakinah Nogosari Boyolali
Show moreThe country is not specifiedThe category is not specified
1 412
Subscribers
+324 hours
+567 days
+40730 days
Posts Archive
🌿 التَّذْكِيرُ مِنْ كِتَابِ «الدَّاءِ وَالدَّوَاءِ» 🌿
059 | Azab Itu Nyata [10]
(Saat Rahmat Jadi Alasan Tuk Bermaksiat)
Jangan tertipu oleh sesuatu yang terasa nikmat ketika diteguk.
Tidak semua yang menghangatkan tenggorokan akan menghangatkan kehidupan,
sebagian justru menjadi awal dari dahaga yang tak berkesudahan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
كُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ، إِنَّ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ عَهْدًا لِمَن يَشْرَبُ المُسْكِرَ أَنْ يَسْقِيَهُ مِن طِينَةِ الخَبَالِ
“Setiap yang memabukkan itu haram. Sesungguhnya Allah menjanjikan bagi orang yang meminum sesuatu yang memabukkan, bahwa Dia akan memberinya minum dari Thīnatul Khabāl.”
Para sahabat bertanya, “Apakah Thīnatul Khabāl itu?”
Beliau ﷺ menjawab:
عَرَقُ أَهْلِ النَّارِ، أَوْ عُصَارَةُ أَهْلِ النَّارِ
“Keringat penghuni neraka, atau perasan penghuni neraka.” (HR. Muslim no. 2002)
Bayangkan…
di dunia ia memilih minuman yang memabukkan,
sedangkan di akhirat ia dipaksa meneguk sesuatu yang menjijikkan.
Di dunia, ia meneguk karena ingin lupa.
Di akhirat, ia meneguk karena ingin bertahan.
Namun saat itu, tidak ada lagi kenikmatan yang dicari, hanya azab yang dijalani.
Maka sebelum tangan mengangkat gelas,
sebelum bibir menyentuh tegukan,
dan sebelum hawa nafsu berkata, “hanya sedikit…”
ingatlah:
Seteguk yang haram mungkin selesai dalam beberapa detik,
tetapi akibatnya bisa menyeret seseorang kepada dahaga yang tidak pernah selesai.
Jangan tukarkan nikmat sesaat dengan penyesalan yang tak berujung.
https://t.me/Terapi_PenyakitHati
📢 📖 Siaran Langsung:
Kajian Kitab Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa'
"Kita tertipu oleh yang segera, lalu melupakan yang kekal.
Dunia datang membawa kenikmatan, sementara akhirat menanti membawa keabadian."
✨ Pembahasan:
Ketika Sang Fana Menggoda
👤 Bersama:
Al-Ustadz Teuku Abdurrahman Abu Nabil At-Tuwasza حفظه الله
InsyaAllahu ta'ala :
🗓 Rabu, malam ini
🕕 18.15 WIB
📡 Live t.me/taklimnogosari
📲 Rekaman t.me/Terapi_PenyakitHati
"Jangan tukar yang kekal hanya karena ia belum tiba, dengan yang fana hanya karena ia kini di depan mata.
Sebab yang hari ini terasa panjang, kelak akan tampak tak lebih dari sekejap."
🌿 التَّذْكِيرُ مِنْ كِتَابِ «الدَّاءِ وَالدَّوَاءِ» 🌿
058 | Azab Itu Nyata [9]
(Saat Rahmat Jadi Alasan Tuk Bermaksiat)
Rasulullah ﷺ pernah menyeru manusia dengan suara peringatan:
أَيُّهَا النَّاسُ أُتِيتُمْ، أَيُّهَا النَّاسُ أُتِيتُمْ
“Wahai manusia, kalian telah didatangi! Wahai manusia, kalian telah didatangi!” (HR. Ahmad)
Bukan ancaman yang masih jauh.
Bukan bahaya yang sekadar mungkin datang.
Ada sesuatu yang sedang menanti.
Namun kita masih tertawa,
masih larut dalam dosa,
seakan kematian tak pernah mengetuk pintu.
Saudaraku…
Azab itu nyata.
Neraka itu nyata.
Dan kesempatan untuk menyelamatkan diri kita hari ini juga nyata.
Jangan tunggu azab itu terlihat
baru kita percaya.
Sebab ketika Azab telah terlihat, yang tersisa bukan lagi kesempatan untuk bertaubat,
melainkan penyesalan yang terlambat.
https://t.me/Terapi_PenyakitHati
🌿 التَّذْكِيرُ مِنْ كِتَابِ «الدَّاءِ وَالدَّوَاءِ» 🌿
057 | Azab Itu Nyata [8]
(Saat Rahmat Jadi Alasan Tuk Bermaksiat)
Rasulullah ﷺ pernah melihat
sebuah liang kubur sedang digali.
Beliau mendekat, berlutut, lalu menangis…
hingga tanah di hadapannya basah oleh air mata.
Kemudian Beliau ﷺ bersabda:
أَيُّ إِخْوَانِي، لِمِثْلِ هَذَا الْيَوْمِ فَأَعِدُّوا
__“Wahai saudara-saudaraku,
untuk menghadapi hari seperti inilah, maka persiapkanlah diri kalian.” (HR. Ahmad)__
Beliau melihat sebuah kubur,
namun yang beliau ingatkan adalah kehidupan di baliknya.
Di sana ada kenikmatan…
dan ada pula azab.
Azab itu nyata.
Hanya saja, mata kita belum mampu melihatnya.
Hari ini kita masih di atas tanah,
masih bisa bertaubat dan memperbaiki diri.
Namun akan datang saatnya
kita berada di bawah tanah,
sendirian, tanpa harta, tanpa kedudukan, tanpa kesempatan kembali.
Saat itu,
kita tidak lagi takut karena mendengar tentang azab.
Kita takut karena mulai merasakannya.
Maka sebelum hari itu tiba,
jangan hanya menangisi kematian,
tangisilah dosa yang kelak mungkin di alam kubur menjadi sebab penderitaan.
https://t.me/Terapi_PenyakitHati
🌿 التَّذْكِيرُ مِنْ كِتَابِ «الدَّاءِ وَالدَّوَاءِ» 🌿
056 | Azab Itu Nyata [7]
(Saat Rahmat Jadi Alasan Tuk Bermaksiat)
Azab itu bahkan sudah dimulai sejak sakaratul maut..
Sahabat Al-Bara' bin 'Azib menceritakan sabda Rasulullah ﷺ berikut ini:
“Sesungguhnya seorang hamba yang kafir, ketika ia berada di penghujung kehidupan dunia dan mulai menghadap kehidupan akhirat, turunlah kepadanya para malaikat dari langit yang wajah mereka hitam. Mereka membawa kain-kain kasar. Mereka duduk di sekelilingnya sejauh mata memandang.
Kemudian datanglah Malaikat Maut hingga duduk di sisi kepalanya. Ia berkata:
‘Wahai jiwa yang buruk! Keluarlah menuju kemurkaan dan kemarahan Allah.’
Maka ruhnya pun tercerai-berai di dalam jasadnya. Lalu Malaikat Maut mencabutnya sebagaimana sebuah besi pengait yang bercabang-cabang dicabut dari wol yang basah. Setelah ia mengambil ruh itu, para malaikat tidak membiarkannya berada di tangannya walau sekejap mata, hingga mereka segera meletakkannya ke dalam kain-kain kasar tersebut.
Dari ruh itu keluar bau yang paling busuk seperti bau bangkai yang pernah tercium di muka bumi. Kemudian mereka membawanya naik. Tidaklah mereka melewati sekelompok malaikat kecuali mereka berkata:
‘Ruh buruk siapakah ini?’
Mereka menjawab:
‘Fulan bin Fulan,’ dengan menyebut nama yang paling buruk yang dahulu ia dipanggil dengannya di dunia.
Hingga mereka sampai di langit dunia. Mereka meminta agar pintu langit dibukakan untuknya, tetapi pintu itu tidak dibukakan.
Kemudian Rasulullah ﷺ membaca firman Allah:
“Tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan mereka tidak akan masuk surga sampai unta masuk ke lubang jarum.” (QS. Al-A‘raf: 40)
Lalu Allah Ta'ala berfirman:
‘Tulislah catatannya di dalam Sijjin, di bumi yang paling rendah.’
Maka ruhnya dilemparkan dengan keras ke bumi.
Kemudian Rasulullah ﷺ membaca:
“Barang siapa mempersekutukan Allah, maka seakan-akan ia jatuh dari langit, lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” (QS. Al-Hajj: 31)
Kemudian ruhnya dikembalikan ke jasadnya. Lalu datang kepadanya dua malaikat dan mendudukkannya. Keduanya bertanya:
‘Siapa Rabbmu?’
Ia menjawab, ‘Hah... hah... aku tidak tahu.’
Keduanya bertanya, ‘Apa agamamu?’
Ia menjawab, ‘Hah... hah... aku tidak tahu.’
Keduanya bertanya, ‘Siapakah orang yang diutus kepada kalian ini?’
Ia menjawab, ‘Hah... hah... aku tidak tahu.’
Lalu terdengarlah seruan dari langit:
‘Ia telah berdusta! Bentangkan untuknya hamparan dari neraka dan bukakan baginya sebuah pintu menuju neraka.’
Maka datanglah kepadanya panas dan hembusan api neraka. Kuburnya pun disempitkan hingga tulang-tulang rusuknya saling bersilangan.
Kemudian datang kepadanya seorang laki-laki yang buruk wajahnya, buruk pakaiannya, dan sangat busuk baunya. Ia berkata:
‘Bergembiralah dengan sesuatu yang akan menyusahkanmu. Inilah hari yang dahulu dijanjikan kepadamu.’
Ia bertanya:
‘Siapakah engkau? Wajahmu adalah wajah yang membawa keburukan.’
Orang itu menjawab:
‘Aku adalah amalmu yang buruk.’
Maka ia berkata:
‘Wahai Rabbku, janganlah Engkau tegakkan Kiamat.’”
[Hadis panjang al-Bara’ bin ‘Azib, diriwayatkan oleh Abu Dawud (4753) dan Ahmad, dengan beberapa perbedaan lafaz dalam riwayat-riwayatnya.]
https://t.me/Terapi_PenyakitHati
🌿 التَّذْكِيرُ مِنْ كِتَابِ «الدَّاءِ وَالدَّوَاءِ» 🌿
055 | Azab Itu Nyata [6]
(Saat Rahmat Jadi Alasan Tuk Bermaksiat)
Rasulullah ﷺ bersabda:
يُؤتى بأنعَمِ أهلِ الدُّنيا مِن أهلِ النَّارِ يَومَ القيامةِ، فيُصبَغُ في النَّارِ صَبغةً، ثُمَّ يُقالُ: يا ابنَ آدَمَ، هل رَأيتَ خَيرًا قَطُّ؟ هل مَرَّ بك نَعيمٌ قَطُّ؟ فيَقولُ: لا واللهِ يا رَبِّ
“Didatangkan orang yang paling nikmat hidupnya di dunia dari penghuni neraka. Lalu ia dicelupkan sekali ke dalam neraka. Kemudian ditanya: ‘Wahai anak Adam, pernahkah engkau melihat kenikmatan?’ Ia menjawab: ‘Tidak, demi Allah, wahai Rabbku.’” (HR. Muslim)
Satu celupan.
Hanya satu.
Namun cukup untuk membuat seluruh kemewahan dunia,
harta yang pernah dikumpulkan,
rumah yang pernah dibanggakan,
makanan yang pernah dinikmati,
tawa yang pernah memenuhi hari-hari,
terasa seolah tidak pernah ada.
Begitulah akhirat.
Ia akan mengubah cara kita memandang dunia.
Apa yang hari ini terasa begitu berat untuk ditinggalkan,
mungkin kelak akan tampak begitu kecil
di hadapan satu kenikmatan surga.
Dan apa yang hari ini kita korbankan demi maksiat,
mungkin kelak menjadi penyesalan
yang tidak lagi memiliki jalan pulang.
Jangan sampai kita begitu takut kehilangan dunia,
namun tidak takut kehilangan akhirat.
Sebab dunia akan berakhir tanpa meminta izin,
sedangkan akhirat akan datang tanpa bisa ditolak.
Dan ketika seorang hamba telah berdiri di hadapan Rabb-nya,
barulah ia mengerti:
"ternyata yang paling mahal bukanlah apa yang berhasil ia miliki, tetapi apa yang ia korbankan untuk mendapatkannya."
Maka sebelum satu celupan itu menjadi nyata,
sebelum penyesalan tidak lagi berguna,
pulanglah kepada-Nya.
Karena hari ini kita masih bisa menangis karena takut kepada-Nya.
Jangan tunggu sampai kelak kita menangis
karena azab-Nya.
https://t.me/Terapi_PenyakitHati
❀ من القلب إلى القلب ❀
Dari Hati ke Hati
┈┉┅━❀━┅┉┈
Nasehat Tak Bercermin
“Anakmu apa tidak diajari?”
Berulang kali pertanyaan itu terdengar.
Dan seorang ayah menjawab,
“Sudah… saya selalu mengingatkannya.”
Mungkin benar.
Tetapi ada satu pertanyaan yang lebih berat daripada sekadar,
“Sudahkah engkau menasihatinya?”
Yaitu:
“Sudahkah engkau menjadi apa yang engkau nasihatkan kepadanya?”
Sebab anak mungkin lupa seribu nasihat yang keluar dari lisan ayahnya,
tetapi sulit melupakan apa yang setiap hari ia saksikan dari ayahnya.
Kita menyuruhnya menjaga shalat,
tetapi ia melihat kita menunda-nundanya.
Kita menyuruhnya meninggalkan maksiat,
tetapi ia melihat kita tidak sungguh-sungguh meninggalkannya.
Kita menuntutnya berakhlak baik,
sementara di rumah ia belajar dari amarah kita.
Allah Ta'ala mengingatkan:
﴿كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ﴾
“Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan.” (QS. Ash-Shaff: 3)
Maka mungkin masalahnya bukan karena ayah kurang menasihati anak,
tetapi karena anak terlalu sering melihat ayah melakukan kebalikan dari nasihatnya.
Anak tidak hanya membutuhkan ayah yang pandai berkata,
ia membutuhkan ayah yang bisa menjadi bukti dari apa yang ia katakan.
Sebelum kecewa melihat anak yang tidak menjadi baik,
barangkali sudah waktunya kita bercermin:
“Jangan-jangan ia sedang meniru kita.”
┉┅━❀━┅┉
046. Dari Hati Ke Hati
https://t.me/Terapi_PenyakitHati
❀ من القلب إلى القلب ❀
Dari Hati ke Hati
┈┉┅━❀━┅┉┈
Cinta Di Balik Luka
Mungkin amalmu belum banyak,
shalatmu belum sempurna,
sedekahmu masih sedikit.
Namun Allah memiliki derajat yang ingin Dia berikan kepadamu,
sementara amalmu belum mampu mengantarkanmu ke sana.
Maka, karena cinta-Nya,
Dia bukakan jalan yang lain:
Musibah.
Datang silih berganti,
membawa sesuatu yang tidak kau sukai,
hingga tak ada yang tersisa selain kesabaran
dan keyakinan kepada-Nya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ الرَّجُلَ لَيَكُونُ لَهُ الْمَنْزِلَةُ عِنْدَ اللهِ، فَمَا يَبْلُغُهَا بِعَمَلٍ، فَلَا يَزَالُ اللهُ يَبْتَلِيهِ بِمَا يَكْرَهُ حَتَّى يُبَلِّغَهُ إِيَّاهَا
“Sesungguhnya seseorang memiliki suatu kedudukan di sisi Allah yang tidak mampu ia capai dengan amalannya. Maka Allah senantiasa mengujinya dengan sesuatu yang tidak disukainya, hingga Dia menyampaikannya kepada kedudukan tersebut.” (HR. Ibnu Hibban)
Maka jangan buru-buru mengira musibah sebagai tanda Allah menjauh.
Bisa jadi, di balik air matamu,
Allah sedang mengangkat derajatmu.
Sebab terkadang,
jalan menuju kemuliaan memang tidak selalu ditaburi bunga..
ada kalanya ia ditaburi air mata.
┉┅━❀━┅┉
045. Dari Hati Ke Hati
https://t.me/Terapi_PenyakitHati
❀ من القلب إلى القلب ❀
Dari Hati ke Hati
┈┉┅━❀━┅┉┈
Menang Tanpa Setetes Darah
Jangan kira perang selalu dimenangkan dengan senjata.
Dan jangan kira perlawanan selalu harus dengan boikot yang boleh jadi membuat saudara sendiri kehilangan pekerjaannya.
Ada senjata yang lebih ringan.
Lebih mudah.
Bahkan bernilai pahala.
Shalat.
Ketika masjid-masjid dipenuhi kaum Muslimin,
shaf-shaf dirapatkan,
dan setelah imam membaca:
وَلَا الضَّالِّينَ
ribuan lisan serentak menjawab:
آمِيْن.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا حَسَدَتْكُمُ الْيَهُودُ عَلَى شَيْءٍ، مَا حَسَدَتْكُمْ عَلَى السَّلَامِ وَالتَّأْمِينِ
“Tidaklah orang-orang Yahudi mendengki kalian terhadap sesuatu sebagaimana mereka mendengki kalian karena salam dan Amin.” (HR. Ibnu Majah)
Maka jangan remehkan Amin.
Sebab yang paling menakutkan bagi musuh bukan selalu senjata yang kita genggam,
tetapi hati yang kembali hidup,
masjid yang kembali penuh,
dan umat yang kembali tunduk kepada Rabb-nya.
Karena terkadang,
sebuah kaum tidak kalah ketika tubuhnya terluka,
tetapi ketika hatinya tersiksa.
Dan sebaliknya,
Kekuatan umat bukan semata-mata pada senjatanya, tetapi pada iman yang kembali menyala.
┉┅━❀━┅┉
044. Dari Hati Ke Hati
https://t.me/Terapi_PenyakitHati
❀ من القلب إلى القلب ❀
Dari Hati ke Hati
┈┉┅━❀━┅┉┈
Cermin Di Balik Musibah
Jangan-jangan kesulitan yang kita keluhkan hari ini, korupsi, kezhaliman, dan kebijakan yang tak kita sukai, bukan hanya tentang buruknya mereka, tetapi juga tentang buruknya kita.
Sebab boleh jadi, pemimpin yang kita keluhkan adalah cermin dari keadaan rakyatnya.
Allah Ta'ala berfirman:
وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ
“Musibah apa pun yang menimpa kalian adalah karena perbuatan tangan kalian sendiri.” (QS. Asy-Syura: 30)
Maka sebelum jari sibuk menunjuk ke atas,
biarkan hati menunjuk ke dalam.
Sebelum menyalahkan pemimpin,
tanyakan kepada diri:
Sudahkah kita menjadi rakyat yang Allah ridai?
Barangkali yang perlu pertama kali diganti bukan orang di kursi kekuasaan,
tetapi dosa-dosa yang masih kita pelihara dalam kehidupan.
Karena perubahan itu dimulai dari diri:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra‘d: 11)
Bercerminlah sebelum menuding.
Bertaubatlah sebelum menuntut.
┉┅━❀━┅┉
043. Dari Hati Ke Hati
https://t.me/Terapi_PenyakitHati
🌿 التَّذْكِيرُ مِنْ كِتَابِ «الدَّاءِ وَالدَّوَاءِ» 🌿
054 | Azab Itu Nyata [5]
(Saat Rahmat Jadi Alasan Tuk Bermaksiat)
Ada manusia yang berani mendekati maksiat,
lalu menenangkan dirinya dengan berkata:
“Allah Maha Pengampun. Nanti juga Allah ampuni.”
Ia mengandalkan husnuzan kepada Allah,
tetapi lupa bahwa husnuzan bukanlah alasan untuk terus bermaksiat.
Bagaimana mungkin seseorang merasa aman dari dosa,
sementara hatinya sendiri berada di antara dua jari Ar-Rahman,
yang Dia bolak-balikkan kapan saja Dia kehendaki?
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ، كَقَلْبٍ وَاحِدٍ، يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ
“Sesungguhnya hati seluruh anak Adam berada di antara dua jari Ar-Rahman, seperti satu hati. Dia membolak-balikkannya sesuai kehendak-Nya.” (HR. Muslim)
Maka jangan jadikan “Allah Maha Pengampun” sebagai keberanian untuk bermaksiat,
sementara kita belum tahu apakah Allah akan memberi kita kesempatan untuk bertaubat.
Husnuzan kepada Allah seharusnya melahirkan taubat dan rasa takut,
bukan keberanian untuk mengulang dosa.
Sebab yang paling menakutkan dari sebuah maksiat
bukan hanya dosanya…
tetapi ketika dosa itu membuat hati merasa aman,
hingga ia lupa bahwa hati yang hari ini mencintai Allah,
bisa saja esok berbalik meninggalkan-Nya.
Maka jangan merasa aman dengan hatimu.
Mintalah keteguhan sebelum meminta pengampunan:
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
“Wahai Dzat Yang Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Tirmidzi)
https://t.me/Terapi_PenyakitHati
بِسْـــــــــــــمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيـــــــــــــْم
🔵🔴⚫ Dengan mengharap ridho Allah ta'ala semata...
🚌🚲🛵 Hadirilah Kajian Rutin Islam Ilmiah...
📎 *TERAPI PENYAKIT HATI*
(Pertemuan ke 30)
Dari Kitab :
الْجَوَابُ الْكَافِي لِمَنْ سَأَلَ عَنِ الدَّوَاءِ الشَّافِي *(الدَّاءُ وَالدَّوَاءُ)* لِلْإِمَامِ الْعَلَّامَةِ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي بَكْرٍ بْنِ أَيُّوبَ ابْنُ قَيِّمِ الْجَوْزِيَّةِ _رَحِمَهُ اللَّهُ_
💺Pemateri : *Al Ustadz Teuku Abdurrahman Abu Nabil At-Tuwasza* حفظه اللــــــــه
⏰ *Sabtu malam Ahad* Ba'da magrib - Isya, 16 Rabi'ul Awwal 1448 H /29 Agustus 2026 M
🕌 Tempat
Masjid As Sakinah
https://maps.google.com/?cid=14445733975884938598
🖥️ Arsip Rekaman :
https://t.me/Terapi_PenyakitHati
🌹🌻🌴🌳🎋🌳🌴🎋
"""""""""""""""""""""""""""""""""""""""
ADAB MASUK KAMPUNG:
1.Tidak ngebut
2. Buka kaca mobil/helm Motor
3. Menyapa warga/salam
📶 Bisa Anda Simak di:
📲 Aplikasi telegram
√ https://bit.ly/TaklimNogosari
Informasi :
📱081239391462
❀ من القلب إلى القلب ❀
Dari Hati ke Hati
┈┉┅━❀━┅┉┈
Sunnah Hasanah atau Sayyi’ah?
“Maulid itu sunnah hasanah,”
kata sebagian orang.
Mereka berdalil dengan sabda Nabi ﷺ:
مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً، فَلَهُ أَجْرُهَا، وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ...
“Barang siapa membuat suatu jalan yang baik dalam Islam, maka baginya pahala dan pahala orang yang mengikutinya…” (HR. Muslim)
Tetapi…
benarkah hadits itu sedang berbicara tentang membuat bentuk ibadah baru yang belum pernah dilakukan Rasulullah ﷺ dan para sahabat?
Tunggu sebentar…
Jika demikian, bukankah para sahabat, yang paling mencintai Nabi ﷺ, paling memahami agama, dan paling bersemangat dalam kebaikan, adalah orang pertama yang akan membuatnya?
Namun mereka tidak melakukannya.
Justru, yang disebut sunnah hasanah dalam hadits bukanlah menciptakan ibadah baru, tetapi menghidupkan kembali kebaikan yang memiliki dasar dalam syariat.
Adapun membuat sebuah bentuk ibadah yang tidak pernah dikenal Nabi ﷺ dan para sahabat sebagai ibadah, lalu menisbatkannya sebagai sunnah…
justru itulah yang harus kita takutkan menjadi sunnah sayyi’ah.
Sebab Rasulullah ﷺ juga bersabda:
وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا، وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ...
“Barang siapa membuat suatu jalan yang buruk dalam Islam, maka atasnya dosa dan dosa orang-orang yang mengikutinya setelah itu.” (HR. Muslim)
Maka sebelum mengatakan,
“Ini sunnah hasanah,”
mungkin lebih selamat bertanya:
“Hasanah menurut siapa?”
Karena dalam ibadah,
yang menentukan baik bukan perasaan kita,
bukan banyaknya manusia yang mengerjakannya,
tetapi petunjuk Rasulullah ﷺ & para Sahabatnya.
┉┅━❀━┅┉
042. Dari Hati Ke Hati
https://t.me/Terapi_PenyakitHati
🔈🔈 AUDIO REKAMAN :
TERAPI PENYAKIT HATI
📖 Kitab : الداء والدواء
::: Pertemuan ke 29 :::
💺Oleh : Al Ustadz Teuku Abdurrahman Abu Nabil At-Tuwasza حفظه اللــــــــه
🕌 Masjid As-Sakinah Gununglondo, Nogosari, Boyolali.
::: t.me/Terapi_PenyakitHati
◼️◼️◼️◼️◼️◼️◼️◼️◼️◼️◼️
🔈🔈 AUDIO REKAMAN :
TERAPI PENYAKIT HATI
📖 Kitab : الداء والدواء
::: Pertemuan ke 28 :::
💺Oleh : Al Ustadz Teuku Abdurrahman Abu Nabil At-Tuwasza حفظه اللــــــــه
🕌 Masjid As-Sakinah Gununglondo, Nogosari, Boyolali.
::: t.me/Terapi_PenyakitHati
◼️◼️◼️◼️◼️◼️◼️◼️◼️◼️◼️
🔈🔈 AUDIO REKAMAN :
TERAPI PENYAKIT HATI
📖 Kitab : الداء والدواء
::: Pertemuan ke 27 :::
💺Oleh : Al Ustadz Teuku Abdurrahman Abu Nabil At-Tuwasza حفظه اللــــــــه
🕌 Masjid As-Sakinah Gununglondo, Nogosari, Boyolali.
::: t.me/Terapi_PenyakitHati
◼️◼️◼️◼️◼️◼️◼️◼️◼️◼️◼️
