Terapi Penyakit Hati (الدَّاءُ وَالدَّوَاءُ)
Open in Telegram
Arsip Rekaman | Kitab : Ad-Daa' Wad Dawaa' | Al-Ustadz Teuku Abdurrahman Abu Nabil At-Tuwasza حفظه الله | Kajian Rabu malam ba'da magrib di Masjid As-Sakinah Nogosari Boyolali
Show moreThe country is not specifiedThe category is not specified
1 412
Subscribers
+324 hours
+567 days
+40730 days
Number of Posts
Data loading in progress...
Reactions
Comments
Telegram Stars
TOP posts by
Data loading in progress...
Publication analysis
Posts | Views dynamics | |||||
🌿 التَّذْكِيرُ مِنْ كِتَابِ «الدَّاءِ وَالدَّوَاءِ» 🌿
059 | Azab Itu Nyata [10]
(Saat Rahmat Jadi Alasan Tuk Bermaksiat)
Jangan tertipu oleh sesuatu yang terasa nikmat ketika diteguk.
Tidak semua yang menghangatkan tenggorokan akan menghangatkan kehidupan,
sebagian justru menjadi awal dari dahaga yang tak berkesudahan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
كُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ، إِنَّ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ عَهْدًا لِمَن يَشْرَبُ المُسْكِرَ أَنْ يَسْقِيَهُ مِن طِينَةِ الخَبَالِ
“Setiap yang memabukkan itu haram. Sesungguhnya Allah menjanjikan bagi orang yang meminum sesuatu yang memabukkan, bahwa Dia akan memberinya minum dari Thīnatul Khabāl.”
Para sahabat bertanya, “Apakah Thīnatul Khabāl itu?”
Beliau ﷺ menjawab:
عَرَقُ أَهْلِ النَّارِ، أَوْ عُصَارَةُ أَهْلِ النَّارِ
“Keringat penghuni neraka, atau perasan penghuni neraka.” (HR. Muslim no. 2002)
Bayangkan…
di dunia ia memilih minuman yang memabukkan,
sedangkan di akhirat ia dipaksa meneguk sesuatu yang menjijikkan.
Di dunia, ia meneguk karena ingin lupa.
Di akhirat, ia meneguk karena ingin bertahan.
Namun saat itu, tidak ada lagi kenikmatan yang dicari, hanya azab yang dijalani.
Maka sebelum tangan mengangkat gelas,
sebelum bibir menyentuh tegukan,
dan sebelum hawa nafsu berkata, “hanya sedikit…”
ingatlah:
Seteguk yang haram mungkin selesai dalam beberapa detik,
tetapi akibatnya bisa menyeret seseorang kepada dahaga yang tidak pernah selesai.
Jangan tukarkan nikmat sesaat dengan penyesalan yang tak berujung.
https://t.me/Terapi_PenyakitHati | 195 | 2 | 0 | 0 | Loading... | |
📢 📖 Siaran Langsung:
Kajian Kitab Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa'
"Kita tertipu oleh yang segera, lalu melupakan yang kekal.
Dunia datang membawa kenikmatan, sementara akhirat menanti membawa keabadian."
✨ Pembahasan:
Ketika Sang Fana Menggoda
👤 Bersama:
Al-Ustadz Teuku Abdurrahman Abu Nabil At-Tuwasza حفظه الله
InsyaAllahu ta'ala :
🗓 Rabu, malam ini
🕕 18.15 WIB
📡 Live t.me/taklimnogosari
📲 Rekaman t.me/Terapi_PenyakitHati
"Jangan tukar yang kekal hanya karena ia belum tiba, dengan yang fana hanya karena ia kini di depan mata.
Sebab yang hari ini terasa panjang, kelak akan tampak tak lebih dari sekejap." | 177 | 0 | 0 | 3 | Loading... | |
🌿 التَّذْكِيرُ مِنْ كِتَابِ «الدَّاءِ وَالدَّوَاءِ» 🌿
058 | Azab Itu Nyata [9]
(Saat Rahmat Jadi Alasan Tuk Bermaksiat)
Rasulullah ﷺ pernah menyeru manusia dengan suara peringatan:
أَيُّهَا النَّاسُ أُتِيتُمْ، أَيُّهَا النَّاسُ أُتِيتُمْ
“Wahai manusia, kalian telah didatangi! Wahai manusia, kalian telah didatangi!” (HR. Ahmad)
Bukan ancaman yang masih jauh.
Bukan bahaya yang sekadar mungkin datang.
Ada sesuatu yang sedang menanti.
Namun kita masih tertawa,
masih larut dalam dosa,
seakan kematian tak pernah mengetuk pintu.
Saudaraku…
Azab itu nyata.
Neraka itu nyata.
Dan kesempatan untuk menyelamatkan diri kita hari ini juga nyata.
Jangan tunggu azab itu terlihat
baru kita percaya.
Sebab ketika Azab telah terlihat, yang tersisa bukan lagi kesempatan untuk bertaubat,
melainkan penyesalan yang terlambat.
https://t.me/Terapi_PenyakitHati | 271 | 3 | 0 | 1 | Loading... | |
🌿 التَّذْكِيرُ مِنْ كِتَابِ «الدَّاءِ وَالدَّوَاءِ» 🌿
057 | Azab Itu Nyata [8]
(Saat Rahmat Jadi Alasan Tuk Bermaksiat)
Rasulullah ﷺ pernah melihat
sebuah liang kubur sedang digali.
Beliau mendekat, berlutut, lalu menangis…
hingga tanah di hadapannya basah oleh air mata.
Kemudian Beliau ﷺ bersabda:
أَيُّ إِخْوَانِي، لِمِثْلِ هَذَا الْيَوْمِ فَأَعِدُّوا
__“Wahai saudara-saudaraku,
untuk menghadapi hari seperti inilah, maka persiapkanlah diri kalian.” (HR. Ahmad)__
Beliau melihat sebuah kubur,
namun yang beliau ingatkan adalah kehidupan di baliknya.
Di sana ada kenikmatan…
dan ada pula azab.
Azab itu nyata.
Hanya saja, mata kita belum mampu melihatnya.
Hari ini kita masih di atas tanah,
masih bisa bertaubat dan memperbaiki diri.
Namun akan datang saatnya
kita berada di bawah tanah,
sendirian, tanpa harta, tanpa kedudukan, tanpa kesempatan kembali.
Saat itu,
kita tidak lagi takut karena mendengar tentang azab.
Kita takut karena mulai merasakannya.
Maka sebelum hari itu tiba,
jangan hanya menangisi kematian,
tangisilah dosa yang kelak mungkin di alam kubur menjadi sebab penderitaan.
https://t.me/Terapi_PenyakitHati | 343 | 5 | 0 | 5 | Loading... | |
🌿 التَّذْكِيرُ مِنْ كِتَابِ «الدَّاءِ وَالدَّوَاءِ» 🌿
056 | Azab Itu Nyata [7]
(Saat Rahmat Jadi Alasan Tuk Bermaksiat)
Azab itu bahkan sudah dimulai sejak sakaratul maut..
Sahabat Al-Bara' bin 'Azib menceritakan sabda Rasulullah ﷺ berikut ini:
“Sesungguhnya seorang hamba yang kafir, ketika ia berada di penghujung kehidupan dunia dan mulai menghadap kehidupan akhirat, turunlah kepadanya para malaikat dari langit yang wajah mereka hitam. Mereka membawa kain-kain kasar. Mereka duduk di sekelilingnya sejauh mata memandang.
Kemudian datanglah Malaikat Maut hingga duduk di sisi kepalanya. Ia berkata:
‘Wahai jiwa yang buruk! Keluarlah menuju kemurkaan dan kemarahan Allah.’
Maka ruhnya pun tercerai-berai di dalam jasadnya. Lalu Malaikat Maut mencabutnya sebagaimana sebuah besi pengait yang bercabang-cabang dicabut dari wol yang basah. Setelah ia mengambil ruh itu, para malaikat tidak membiarkannya berada di tangannya walau sekejap mata, hingga mereka segera meletakkannya ke dalam kain-kain kasar tersebut.
Dari ruh itu keluar bau yang paling busuk seperti bau bangkai yang pernah tercium di muka bumi. Kemudian mereka membawanya naik. Tidaklah mereka melewati sekelompok malaikat kecuali mereka berkata:
‘Ruh buruk siapakah ini?’
Mereka menjawab:
‘Fulan bin Fulan,’ dengan menyebut nama yang paling buruk yang dahulu ia dipanggil dengannya di dunia.
Hingga mereka sampai di langit dunia. Mereka meminta agar pintu langit dibukakan untuknya, tetapi pintu itu tidak dibukakan.
Kemudian Rasulullah ﷺ membaca firman Allah:
“Tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan mereka tidak akan masuk surga sampai unta masuk ke lubang jarum.” (QS. Al-A‘raf: 40)
Lalu Allah Ta'ala berfirman:
‘Tulislah catatannya di dalam Sijjin, di bumi yang paling rendah.’
Maka ruhnya dilemparkan dengan keras ke bumi.
Kemudian Rasulullah ﷺ membaca:
“Barang siapa mempersekutukan Allah, maka seakan-akan ia jatuh dari langit, lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” (QS. Al-Hajj: 31)
Kemudian ruhnya dikembalikan ke jasadnya. Lalu datang kepadanya dua malaikat dan mendudukkannya. Keduanya bertanya:
‘Siapa Rabbmu?’
Ia menjawab, ‘Hah... hah... aku tidak tahu.’
Keduanya bertanya, ‘Apa agamamu?’
Ia menjawab, ‘Hah... hah... aku tidak tahu.’
Keduanya bertanya, ‘Siapakah orang yang diutus kepada kalian ini?’
Ia menjawab, ‘Hah... hah... aku tidak tahu.’
Lalu terdengarlah seruan dari langit:
‘Ia telah berdusta! Bentangkan untuknya hamparan dari neraka dan bukakan baginya sebuah pintu menuju neraka.’
Maka datanglah kepadanya panas dan hembusan api neraka. Kuburnya pun disempitkan hingga tulang-tulang rusuknya saling bersilangan.
Kemudian datang kepadanya seorang laki-laki yang buruk wajahnya, buruk pakaiannya, dan sangat busuk baunya. Ia berkata:
‘Bergembiralah dengan sesuatu yang akan menyusahkanmu. Inilah hari yang dahulu dijanjikan kepadamu.’
Ia bertanya:
‘Siapakah engkau? Wajahmu adalah wajah yang membawa keburukan.’
Orang itu menjawab:
‘Aku adalah amalmu yang buruk.’
Maka ia berkata:
‘Wahai Rabbku, janganlah Engkau tegakkan Kiamat.’”
[Hadis panjang al-Bara’ bin ‘Azib, diriwayatkan oleh Abu Dawud (4753) dan Ahmad, dengan beberapa perbedaan lafaz dalam riwayat-riwayatnya.]
https://t.me/Terapi_PenyakitHati | 391 | 4 | 0 | 3 | Loading... | |
🌿 التَّذْكِيرُ مِنْ كِتَابِ «الدَّاءِ وَالدَّوَاءِ» 🌿
055 | Azab Itu Nyata [6]
(Saat Rahmat Jadi Alasan Tuk Bermaksiat)
Rasulullah ﷺ bersabda:
يُؤتى بأنعَمِ أهلِ الدُّنيا مِن أهلِ النَّارِ يَومَ القيامةِ، فيُصبَغُ في النَّارِ صَبغةً، ثُمَّ يُقالُ: يا ابنَ آدَمَ، هل رَأيتَ خَيرًا قَطُّ؟ هل مَرَّ بك نَعيمٌ قَطُّ؟ فيَقولُ: لا واللهِ يا رَبِّ
“Didatangkan orang yang paling nikmat hidupnya di dunia dari penghuni neraka. Lalu ia dicelupkan sekali ke dalam neraka. Kemudian ditanya: ‘Wahai anak Adam, pernahkah engkau melihat kenikmatan?’ Ia menjawab: ‘Tidak, demi Allah, wahai Rabbku.’” (HR. Muslim)
Satu celupan.
Hanya satu.
Namun cukup untuk membuat seluruh kemewahan dunia,
harta yang pernah dikumpulkan,
rumah yang pernah dibanggakan,
makanan yang pernah dinikmati,
tawa yang pernah memenuhi hari-hari,
terasa seolah tidak pernah ada.
Begitulah akhirat.
Ia akan mengubah cara kita memandang dunia.
Apa yang hari ini terasa begitu berat untuk ditinggalkan,
mungkin kelak akan tampak begitu kecil
di hadapan satu kenikmatan surga.
Dan apa yang hari ini kita korbankan demi maksiat,
mungkin kelak menjadi penyesalan
yang tidak lagi memiliki jalan pulang.
Jangan sampai kita begitu takut kehilangan dunia,
namun tidak takut kehilangan akhirat.
Sebab dunia akan berakhir tanpa meminta izin,
sedangkan akhirat akan datang tanpa bisa ditolak.
Dan ketika seorang hamba telah berdiri di hadapan Rabb-nya,
barulah ia mengerti:
"ternyata yang paling mahal bukanlah apa yang berhasil ia miliki, tetapi apa yang ia korbankan untuk mendapatkannya."
Maka sebelum satu celupan itu menjadi nyata,
sebelum penyesalan tidak lagi berguna,
pulanglah kepada-Nya.
Karena hari ini kita masih bisa menangis karena takut kepada-Nya.
Jangan tunggu sampai kelak kita menangis
karena azab-Nya.
https://t.me/Terapi_PenyakitHati | 420 | 4 | 0 | 5 | Loading... | |
❀ من القلب إلى القلب ❀
Dari Hati ke Hati
┈┉┅━❀━┅┉┈
Nasehat Tak Bercermin
“Anakmu apa tidak diajari?”
Berulang kali pertanyaan itu terdengar.
Dan seorang ayah menjawab,
“Sudah… saya selalu mengingatkannya.”
Mungkin benar.
Tetapi ada satu pertanyaan yang lebih berat daripada sekadar,
“Sudahkah engkau menasihatinya?”
Yaitu:
“Sudahkah engkau menjadi apa yang engkau nasihatkan kepadanya?”
Sebab anak mungkin lupa seribu nasihat yang keluar dari lisan ayahnya,
tetapi sulit melupakan apa yang setiap hari ia saksikan dari ayahnya.
Kita menyuruhnya menjaga shalat,
tetapi ia melihat kita menunda-nundanya.
Kita menyuruhnya meninggalkan maksiat,
tetapi ia melihat kita tidak sungguh-sungguh meninggalkannya.
Kita menuntutnya berakhlak baik,
sementara di rumah ia belajar dari amarah kita.
Allah Ta'ala mengingatkan:
﴿كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ﴾
“Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan.” (QS. Ash-Shaff: 3)
Maka mungkin masalahnya bukan karena ayah kurang menasihati anak,
tetapi karena anak terlalu sering melihat ayah melakukan kebalikan dari nasihatnya.
Anak tidak hanya membutuhkan ayah yang pandai berkata,
ia membutuhkan ayah yang bisa menjadi bukti dari apa yang ia katakan.
Sebelum kecewa melihat anak yang tidak menjadi baik,
barangkali sudah waktunya kita bercermin:
“Jangan-jangan ia sedang meniru kita.”
┉┅━❀━┅┉
046. Dari Hati Ke Hati
https://t.me/Terapi_PenyakitHati | 485 | 5 | 0 | 4 | Loading... |

