Pendidikan Merdeka Belajar
前往频道在 Telegram
2 729
订阅者
-124 小时
-87 天
-4230 天
帖子存档
Ketika Bayi Tiga Bulan Mengajari Saya Cara Belajar
Bayi tiga bulan mengajari saya bagaimana cara belajar lebih utuh dibandingkan pelatihan yang pernah saya ikuti.
Mengurus bayi baru lahir adalah pekerjaan penuh waktu — dan itu terutama pekerjaan isteri saya. Ia yang mengurus Andala dari pagi hingga malam: menyusui, memandikan, mengganti pakaian, menenangkan tangisan. Saya membantu dengan cara yang paling sederhana — menggendong.
Saya menggendong Andala — tiga bulan tiga minggu usianya — pada petang dan malam, ketika saya tidak di luar kota. Tubuhnya di dada saya, kepalanya di bahu, napasnya yang pendek-pendek menenangkan sesuatu di kepala saya yang masih penuh urusan kantor.
Di saat itulah celotehan itu muncul. Suara-suara kecil — campuran vokal dan desisan — keluar dari mulut mungilnya tanpa pola yang bisa saya kenali. Saya mendengarnya. Tapi seperti mendengar hujan: tahu ada bunyi, tidak perlu memahami artinya.
Dengar tapi tidak memahami. Begitulah saya memperlakukan ocehan Andala selama berminggu-minggu.
Hingga suatu sore, Andala berbaring di kasur, saya duduk di depannya, menatap matanya. Situasinya santai — ia segar, pakaiannya bersih, tidak ada tangisan yang perlu diselesaikan. Saya iseng mengenalkan kata-kata pendek berirama: kiki kaka, koko keke, anda andi, Andala Pantha.
Andala merespons dengan senyum. Bukan senyum kecil — senyum penuh sampai muncul lesung pipi di pipi kirinya. Dan celotehan.
Saya ulangi. Ia respons lagi. Tiga kali bolak-balik. Esok harinya saya coba lagi. Hasilnya sama.
Di titik itu saya mulai curiga: ini bukan kebetulan.
Baca lengkapnya di https://medium.com/p/cb64d2dc4a21
*Survei Kepala Sekolah tentang Praktik Pembelajaran*
Bapak/Ibu Kepala Sekolah yang kami hormati,
Program INOVASI sedang menguji instrumen survei tentang peran kepala sekolah dalam mendukung pembelajaran — dan kami membutuhkan bantuan Bapak/Ibu.
Survei ini berisi pertanyaan tentang kegiatan Bapak/Ibu sehari-hari sebagai pemimpin sekolah. Tidak ada jawaban benar atau salah. Cukup gambarkan apa yang Bapak/Ibu lakukan.
⏱️ Waktu pengisian: sekitar 30 menit
📅 Batas waktu: Selasa, 26 Mei
⚡️ Lebih cepat lebih baik — survei akan ditutup begitu jumlah responden mencukupi
👉 Survei Kepala Sekolah https://forms.gle/LJdz4TB8CzX6F5ya6
Terima kasih atas waktu dan kontribusi Bapak/Ibu. 🙏
*Survei Guru tentang Praktik Pembelajaran*
Bapak/Ibu Guru yang kami hormati,
Program INOVASI sedang menguji instrumen survei tentang praktik pembelajaran di kelas — dan kami membutuhkan bantuan Bapak/Ibu.
Survei ini berisi pertanyaan tentang kegiatan mengajar sehari-hari. Tidak ada jawaban benar atau salah. Cukup gambarkan apa yang Bapak/Ibu lakukan di kelas.
⏱️ Waktu pengisian: sekitar 30 menit
📅 Batas waktu: Selasa, 26 Mei
⚡️ Lebih cepat lebih baik — survei akan ditutup begitu jumlah responden mencukupi
👉 Survei Guru https://forms.gle/qzACcAtET1nEKDht9
Terima kasih atas waktu dan kontribusi Bapak/Ibu. 🙏
Ocehan Bayi yang Memimpin
Bayi tiga bulan mengajari saya bagaimana cara belajar lebih utuh dibandingkan pelatihan yang pernah saya ikuti.
https://medium.com/@bukik/ocehan-bayi-yang-memimpin-cb64d2dc4a21
AI tidak akan menggantikan guru. Tapi AI bisa membantu guru keluar dari rutinitas yang melelahkan dan kembali fokus pada pembelajaran yang bermakna.
Lewat perspektif Bukik Setiawan yang merupakan Praktisi Pendidikan Kontekstual sekaligus pengantar pakar dalam buku Brave New Words, kita diingatkan bahwa AI baru benar-benar berguna di tangan guru yang terus belajar: menemukan, merefleksikan, dan menularkan praktik baik
Karena di era sekarang, memahami teknologi saja tidak cukup. Kita juga perlu memahami bagaimana kita mengambil peran dalam proses belajar dan mengajar.
Baca lengkapnya di https://www.instagram.com/p/DYebQbikfFJ/?igsh=aHQ4MmR3bHRrN3My
Dua Kekhawatiran Guru
Kedua kekhawatiran itu muncul hampir setiap hari, tapi hanya satu yang menentukan: kita guru untuk siapa?
https://medium.com/@bukik/dua-kekhawatiran-guru-0dd68969ea1b
Diskusi Pendidikan Indonesia
https://youtu.be/hN-V0YYDSak?si=kbz2Sm3D3drU54cJ
Topic: Pra-KPI Sesi 2: Membangun Daerah dari Pendidikan: Menguatkan SPM melalui Data dan Kolaborasi
Date: 12 May 2026
Time: 14:00 - 23:59 (WIB)
Join URL: https://us06web.zoom.us/j/84301042000?pwd=kbNn3qaB8AV0Felxk7eteTAQOuutHQ.1
Meeting ID: 84301042000
Passcode: PraKPI2
Belajarkah Kita dari Kasus Little Aresha?
Kasus Little Aresha mengejutkan banyak orang. Tapi bukan karena pelakunya — melainkan karena korbannya.
Bukan hanya anak-anak yang diikat tangan dan kakinya di dalam ruangan tertutup itu. Tapi juga orang tua mereka — yang setiap hari mengantar dengan penuh harap, menjemput dengan lega, dan tidak tahu apa yang terjadi di antaranya. Selama berbulan-bulan. Ada yang bertahun-tahun.
Bagaimana bisa?
Pertanyaan itu mudah diajukan dari luar. Tapi jawabannya hanya bisa ditemukan dari dalam — dari dalam pengalaman orang tua yang menitipkan anaknya, memilih tempatnya, merasakan sinyal-sinyal yang ada, dan tetap tidak bergerak cukup cepat.
Tulisan ini mencoba masuk ke sana. Bukan untuk menghakimi. Tapi untuk belajar.
Dari sekian banyak kesaksian orang tua korban Little Aresha, kita akan mengikuti satu perjalanan — perjalanan seorang ibu yang kita namai Ibu Pertiwi. Ia bukan satu orang. Ia adalah akumulasi dari banyak suara, banyak momen, banyak keputusan yang terasa masuk akal — sampai semuanya tidak lagi masuk akal.
https://medium.com/@bukik/belajarkah-kita-dari-kasus-little-aresha-0f4cefc83a3a
Andai saya Walikota Yogya
Andai saya Walikota Yogya, saya sangat merasa bersalah ketika mengetahui ada 53 anak pulang dari daycare dengan tubuh yang layu dan jiwa yang terluka.
Saya tahu apa yang akan saya lakukan. Saya akan mengumumkan bahwa Little Aresha beroperasi tanpa izin. Saya akan menyegel pintunya. Saya akan menyiapkan 15 daycare pengganti dan menanggung biayanya sampai akhir semester. Saya akan berdiri di depan kamera dengan wajah prihatin dan berkata bahwa ini tidak boleh terjadi lagi.
Dan semua itu benar. Semua itu perlu dilakukan. Tapi semua itu tidak menjawab satu pertanyaan yang lebih menyakitkan: *mengapa saya baru tahu sekarang?*
Bukan hanya tentang Little Aresha. Tapi tentang seluruh ekosistem pengasuhan anak yang dibiarkan tumbuh tanpa pengawasan, tanpa pembinaan, tanpa anggaran — selama bertahun-tahun, persis di depan mata pemerintah kota yang mengaku peduli pada pendidikan.
Baca lengkapnya di https://medium.com/@bukik/andai-saya-walikota-yogya-6e0230f5552c
Halo Guru Belajar!
Mari hadir dan meriahkan *Belajaraya Jakarta 2026*
✨ Merayakan #KerjaBarengan Untuk Ekosistem Pendidikan ✨
Belajaraya adalah ruang bertemunya para pendidik, komunitas, dan berbagai pemangku kepentingan untuk merayakan praktik baik serta menguatkan kolaborasi bagi pendidikan Indonesia.
📅 Sabtu, 2 Mei 2026
⏰ 09.00 – 22.00 WIB
📍 Taman Ismail Marzuki - Jakarta Pusat
📝 Pendaftaran: 27 April – 1 Mei 2026
🔗 Daftar di: Bit.ly/daftarbelajaraya
Hanya untuk domisili Jabodetabek
Ajak rekan-rekan guru lainnya dan jadilah bagian dari semangat #KerjaBarengan untuk ekosistem pendidikan yang lebih baik! 🌱
Bahasa Bayi yang Meruntuhkan Gengsi
Butuh tangisan bayi tiga bulan untuk mengajarkan saya apa yang tidak pernah diajarkan di bangku kuliah magister psikologi.
https://medium.com/@bukik/bahasa-bayi-yang-meruntuhkan-gengsi-0d53ba11e761
Kekerasan seksual sulit hilang karena pendidikan kita masih terlalu sering melindungi yang kuat, dan belum sungguh-sungguh berpihak pada yang rentan," tegas Bukik
https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-8445955/mengapa-kekerasan-seksual-sulit-hilang-dari-ruang-ruang-pendidikan-di-indonesia
✨ *PENJELAJAH KECIL* ✨
Saatnya anak-anak belajar langsung dari dunia nyata! 🌍
Ayo ikut kegiatan seru:
📮 Eksplorasi ke Kantor Pos Besar
📚 & Perpustakaan Bank Indonesia
Di sini, anak-anak akan:
🌟 Belajar sambil bermain
🌟 Mengenal layanan pos & dunia literasi
🌟 Mengembangkan rasa ingin tahu dan percaya diri
🌟 Mendapat pengalaman berharga yang tak terlupakan
🗓 Selasa, 31 Maret 2026
⏰ 08.30 WIB – selesai
💰 20K / anak
🍱 Sudah termasuk makan siang & kenangan berharga
📍 Terbuka untuk umum!
Yuk, ajak si kecil jadi penjelajah yang kreatif! 🚶♂️✨
Tempat terbatas, segera daftar ya!
📞 Narahubung: 0897-1747-788
Mengasuh Anak
Ini perkara 25 tahun ke depan, bukan sekadar soal punya atau tidak punya anak.
Berhenti
Orang sering kehilangan kontrol bukan karena niat buruk, melainkan karena terlalu lama hidup dalam kebiasaan yang berjalan otomatis.
https://medium.com/@bukik/berhenti-de0da831a9d4
Pendidikan untuk masyarakat rentan di Solo Raya
https://www.youtube.com/live/yb6B5tB-kYg?si=FFJkVwnhnISPBRlX
Pengamat pendidikan Bukik Setiawan menilai siswa rentan memandang informasi yang disampaikan di ruang kelas sebagai kebenaran tunggal. Menurut Bukik, pilihan diksi dan perspektif dalam buku sejarah sangat menentukan cara pandang siswa.
Dalam konteks Buku Sejarah Indonesia yang menuai polemik itu, Bukik berpandangan sebaiknya buku tersebut tidak dijadikan sebagai rujukan utama dalam menyusun materi pembelajaran. Alasannya, menurut dia, sejarah yang ditulis dengan perspektif positif semacam itu dikhawatirkan menimbulkan bias fakta sejarah pada siswa.
Bukik mengusulkan kalau pun nantinya Kementerian Pendidikan setuju untuk menjadikan buku ini sebagai rujukan materi sejarah di sekolah, guru harus tetap menyediakan buku-buku lain sebagai referensi. “Agar murid bisa belajar membandingkan sudut pandang,” kata dia pada Selasa, 16 Desember 2025.
https://www.tempo.co/politik/apa-fungsi-buku-sejarah-kementerian-kebudayaan-bagi-pendidikan-2099612
