uz
Feedback
𝐊†

𝐊†

Kanalga Telegram’da o‘tish

✞ Grow In Faith ✞︎ Grow In Faith yaitu Komunitas rohani Kristen yang menjadi tempat untuk bertumbuh dalam Iman Kristus Yesus. — Bot : @GrowInFaith_bot — Follow Akun Instagram @.GrowIn_Faithh — Follow Akun tiktok @.GrowInFaith — all account allowed

Ko'proq ko'rsatish
3 522
Obunachilar
-524 soatlar
-167 kun
-7430 kun
Postlar arxiv
𝐊†
3 522
“Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung,” “tetapi orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.” Yesaya 40:30-31 TB #AYAT

𝐊†
3 522
“Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya.” Yesaya 40:29 TB Happy Sunday 🕊️ #AYAT

𝐊†
3 522
“Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu. ” Yohanes 14:27 TB #AYAT

𝐊†
3 522
“Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus menyertai rohmu!” Filipi 4:23 TB #AYAT

𝐊†
3 522
“Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku.” Mazmur 62:2 TB Happy Sunday 🕊️ #AYAT

𝐊†
3 522
“Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya. ” Efesus 6:10 TB #AYAT

𝐊†
3 522
Mazmur 112:1-3 (TB) 1 Haleluya! Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya. 2 Anak cucunya akan perkasa di bumi; angkatan orang benar akan diberkati. 3 Harta dan kekayaan ada dalam rumahnya, kebajikannya tetap untuk selamanya. #AYAT

𝐊†
3 522
1 Yohanes 5:4 TB [4] sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita. Happy Sunday 🤩 #AYAT

𝐊†
3 522
Karena itulah Tuhan dan Gereja mengingatkan kita untuk tidak membiarkan api kemarahan menyala hingga berlarut-larut. Rasul Paulus berkata:
“Janganlah matahari terbenam sebelum padam amarahmu.”
Jangan membawa kemarahan sepanjang hari hingga malam tiba. Jangan sampai ketika kita berbaring di tempat tidur, kita masih memeluk erat kemarahan yang terjadi sejak pagi. Sebab ketika kita terus mengulang-ulang kejadian yang menyakitkan dalam pikiran, mengingat kembali perkataan orang lain, membayangkan apa yang seharusnya kita katakan, dan menyusun berbagai jawaban dalam hati, api kecil itu perlahan-lahan dapat berubah menjadi bara dendam. Iblis tidak perlu menciptakan luka baru apabila kita sendiri terus membuka kembali luka yang lama. Lalu, bagaimana kita memadamkan api amarah yang liar itu agar kita tidak terus-menerus jatuh? Santo Yohanes Klimakus mengajarkan bahwa sebagaimana air yang dituangkan perlahan-lahan dapat memadamkan api yang berkobar, demikian pula air mata pertobatan dan penyesalan yang tulus di hadapan Tuhan mampu memadamkan nyala kemarahan dan kejengkelan di dalam batin. Kita juga dipanggil untuk melawan kemarahan dengan kesabaran. Orang yang panjang sabar tidak mudah terluka oleh hinaan. Perkataan yang menyakitkan mungkin diarahkan kepadanya, tetapi tidak dibiarkannya menancap dan berakar di dalam jiwa. Hinaan itu meleset seperti anak panah yang dilepaskan ke udara tanpa menemukan sasaran untuk dilukai. Maka, lain kali ketika seseorang mengkritik pekerjaanmu dengan pedas, memancing emosimu, atau menulis sesuatu yang membuat darahmu naik di dalam grup WhatsApp pelayanan gereja, berhentilah sejenak. Tarik napas dalam-dalam. Ingatlah Tuhan. Berdoalah. Kemudian, tersenyumlah. Jika kita sering dan bangga menyanyikan lagu bahwa kita adalah “laskar Kristus”, masa iya seorang laskar rohani langsung kalah telak dan kehilangan damai sejahtera hanya karena tersinggung oleh pesan dengan huruf kapital dari sesama anggota jemaat? Jangan biarkan perkara kecil merampas damai yang besar. Jangan biarkan satu perkataan menghancurkan kasih yang telah kita bangun bertahun-tahun. Jangan biarkan kemarahan menjadi tuan atas hati kita. Mari kita belajar meredam amarah, mengendalikan lidah, memperpanjang kesabaran, dan mengenakan kelemahlembutan. Berikanlah ruang bagi kasih Tuhan untuk menyembuhkan setiap luka dan meredakan setiap gesekan di antara kita. Sebab kemenangan terbesar seorang manusia bukanlah ketika ia berhasil mengalahkan orang lain, melainkan ketika ia berhasil menaklukkan dirinya sendiri. Dan kiranya, dengan pertolongan rahmat Tuhan, kita tidak kehilangan mahkota kemenangan yang telah dipersiapkan bagi mereka yang setia berjuang melawan dosa, menguasai diri, dan tetap tinggal dalam kasih Kristus. Tuhan, ajarlah kami untuk tidak menjadi hamba kemarahan, tetapi menjadi hamba damai sejahtera-Mu. Amin.

𝐊†
3 522
Renungan harian GIF Judul: Menaklukkan Api Kemarahan Pernahkah kamu merasa begitu rohani setelah menyanyikan lagu pujian di gereja dengan penuh penjiwaan, merasa seolah-olah seperti malaikat yang siap terbang ke surga, tetapi lima menit kemudian sudah mengomel panjang lebar sambil membunyikan klakson bertalu-talu hanya karena ada mobil yang memotong jalurmu di tempat parkir gereja? Tiba-tiba saja, sayap malaikat imajiner itu rontok seketika dan kita kembali menjadi manusia biasa yang mudah naik darah. Memang, kemarahan adalah salah satu emosi yang paling cepat membuat kita jatuh dari “langit rohani” dan menghantam bumi dengan keras. Dalam tradisi Gereja dan ajaran para Bapa Suci, kemarahan yang tidak pada tempatnya bukanlah sekadar luapan emosi sesaat atau sesuatu yang dapat dianggap sebagai kewajaran manusiawi, melainkan sebuah penyakit jiwa yang sangat merusak dan berbahaya. Kemarahan bagaikan api ganas yang melahap segala sesuatu. Ia bukan hanya membahayakan tubuh dan merusak jiwa, tetapi juga dapat mengubah raut wajah seseorang hingga tampak buruk dan tidak sedap dipandang. Coba saja diam-diam perhatikan wajahmu di cermin ketika sedang marah besar. Tidak ada filter kamera atau perawatan wajah semahal apa pun yang mampu menyembunyikan betapa tidak eloknya wajah ketika dikuasai amarah! Santo Yohanes Krisostomus dengan tegas menggambarkan kemarahan yang meluap-luap sebagai semacam kegilaan sementara, bahkan keadaan yang lebih buruk daripada orang yang sedang kehilangan kendali atas dirinya. Ketika kita membiarkan amarah meledak dan menguasai akal sehat, kita sebenarnya sedang merendahkan martabat diri sendiri. Kita yang dianugerahi akal budi dan kehendak bebas berubah menjadi seperti binatang buas yang mengamuk, menyerang tanpa mempertimbangkan akibat dari tindakannya. Itulah sebabnya Rasul Paulus memberikan peringatan yang sangat tegas:
“Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu.”
Kemarahan yang tidak terkendali membutakan mata rohani dan mengaburkan kejernihan akal budi kita. Ia seperti asap tebal dari api yang membuat pandangan menjadi gelap sehingga seseorang tidak lagi mampu melihat dengan jernih. Kitab Suci bahkan mengingatkan bahwa amarah dapat menghancurkan orang yang bijaksana sekalipun. Ketika dipenuhi amarah, kita juga sering kehilangan kendali atas lidah. Lidah yang beberapa saat sebelumnya digunakan di dalam gereja untuk memuji Tuhan dengan indah, tiba-tiba berubah menjadi senjata untuk mencaci, mengutuk, dan melukai sesama. Padahal, lidah kita seharusnya dijaga dengan penuh kewaspadaan. Ia bagaikan kendaraan yang membawa perkataan kita, dan seharusnya menjadi sarana untuk menyatakan kasih, kebenaran, dan pujian kepada Allah—bukan alat untuk menghancurkan martabat orang lain. Santo Yohanes Klimakus memberikan gambaran rohani yang sangat tajam mengenai dampak kemarahan. Jika Roh Kudus adalah damai sejahtera bagi jiwa, maka tidak ada sesuatu yang begitu cepat mengusir kedamaian itu selain kemarahan dan dendam. Orang yang terus memelihara amarah di dalam hatinya pada hakikatnya sedang menyingkirkan damai yang diberikan oleh Roh Kudus dari dalam dirinya. Karena itu, perkataan Tuhan Yesus dalam Injil Matius harus kita renungkan dengan sungguh-sungguh:
“Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum.”
Tuhan tidak sedang mengajarkan bahwa setiap perasaan tersinggung secara spontan sama dengan dosa yang telah matang. Yang diperingatkan adalah ketika kemarahan itu kita pelihara, kita benarkan, dan kita biarkan berkembang hingga mendorong kita untuk merendahkan atau menyakiti sesama. Hinaan yang dilontarkan dalam kemarahan—seperti menyebut saudara kita “kafir”, “jahil”, bodoh, atau dengan berbagai sebutan lain yang merendahkan—dapat merampas martabat dan harga diri orang yang menjadi sasaran kita. Perkataan yang keluar dari mulut mungkin hanya membutuhkan beberapa detik untuk diucapkan, tetapi luka yang ditinggalkannya dapat bertahan jauh lebih lama.

𝐊†
3 522
"Kekuatan cinta ada pada pengharapan, karena melaluinya kita menantikan upah cinta. Pengharapan adalah kekayaan dari harta yang tersembunyi. Harapan adalah harta jaminan atas harta yang menanti kita. Ia adalah peristirahatan dari jerih payah; ia adalah pintu menuju kasih; ia adalah kematian dari keputusasaan." — Santo Yohanes Klimakus #REMINDER@GrowInFaithh

𝐊†
3 522
RENUNGAN Bacaan Epistel: Galatia 3:23–4:5
“Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus. Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus. Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.” (Galatia 3:26–28)
Hukum Taurat adalah penuntun bagi kita ketika kita masih berada di bawahnya. Ia bukanlah musuh, melainkan rekan-sekerja dari kasih karunia. Namun, apabila rahmat kasih karunia itu sendiri telah datang, sementara hukum masih terus menahan kita, maka ia tidak dapat lagi disebut sebagai rekan-sekerja. Sebab, apabila hukum itu justru mengekang kita untuk maju menuju rahmat kasih karunia, maka ia tidak lagi menuntun kepada keselamatan, melainkan justru dapat menjadi penghalang bagi keselamatan kita. Hal ini dapat diibaratkan seperti lilin yang memberi terang pada malam hari. Selama malam masih gelap, cahaya lilin sangat berguna. Tetapi ketika terang matahari telah terbit, jika lilin itu tetap dipertahankan sebagai satu-satunya sumber terang dan menghalangi kita untuk melihat terang matahari, maka ia tidak lagi berguna, bahkan dapat merugikan kita. Demikianlah St. Paulus mengatakan:
“Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, ... Sekarang iman itu telah datang, karena itu kita tidak berada lagi di bawah pengawasan penuntun.” (Galatia 3:23–25)
Kemudian, ketika St. Paulus mengatakan:
“Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus...”
ia melanjutkan:
“...telah mengenakan Kristus.” (Galatia 3:27)
Mengapa Rasul Paulus tidak mengatakan, “telah lahir dari Allah”, melainkan “telah mengenakan Kristus”? Hal ini menunjukkan bahwa mereka sungguh-sungguh telah menjadi anak-anak Allah. Sebab, jika Kristus adalah Anak-Nya dan kita telah “mengenakan” Kristus, maka kita yang memiliki Sang Putra di dalam diri kita, yang telah dihiasi dengan rupa dan pola-Nya, telah dibawa masuk menjadi satu keluarga dan mengambil bagian dalam kehidupan bersama dengan-Nya. Karena itu, Rasul Paulus melanjutkan:
“Tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.” (Galatia 3:28)
Dengan demikian, di dalam Kristus, segala perbedaan yang dahulu memisahkan manusia tidak lagi menjadi dasar untuk membedakan martabat mereka di hadapan Allah. Kita semua telah mengenakan Kristus; kita semua dipanggil untuk menjadi satu dalam Dia. Kita semua mengambil bagian dalam satu rupa dan satu bentuk, yaitu rupa Kristus yang kita kenakan melalui iman dan Baptisan. Sebagaimana Kristus adalah Anak, demikian pula mereka yang mengenakan Kristus dipersatukan dengan-Nya dan diangkat menjadi anak-anak Allah. Maka, hidup sebagai orang yang telah dibaptis bukan sekadar menerima sebuah tanda lahiriah, melainkan mengenakan Kristus: membiarkan rupa-Nya semakin nyata dalam hidup kita, sehingga melalui diri kita orang lain dapat melihat kehidupan Sang Kristus. “Kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.” [Referensi: St. John Chrysostom, Homily 3]

𝐊†
3 522
2 Petrus 3:18 TB [18] Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya. #AYAT

𝐊†
3 522
Ibrani 13:5 TB [5] Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: ”Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” #AYAT

𝐊†
3 522
1 Petrus 5:7 TB [7] Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu. #AYAT

𝐊†
3 522
Keep your tongue from evil and your lips from telling lies. #REMINDER

𝐊†
3 522
Tidak apa-apa untuk kehilangan diri sesaat, tidak apa-apa untuk sekadar mengatakan bahwa kamu lelah, tidak apa-apa untuk mengatakan bahwa kamu capek. Yang tidak boleh itu adalah kita terus membiarkan diri kita berlarut dalam keterpurukan, dan menyalahkan keadaan. Apalagi sampai meragukan Tuhan dan menyalakan Tuhan. #REMINDER

𝐊†
3 522
Jesus is always listening. Then you will call on me and come and pray to me, and you I Will listen to you. -Jeremiah 29:12 #AYAT

𝐊†
3 522
Yohanes 8:36 TB [36] Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka.” #AYAT

𝐊†
3 522
"Dari Abraham kita belajar bahwa Allah memanggil kita karena inisiatif Allah, bukan karena kepantasan kita" #REMINDER