fa
Feedback
𝐊†

𝐊†

رفتن به کانال در Telegram

✞ Grow In Faith ✞︎ Grow In Faith yaitu Komunitas rohani Kristen yang menjadi tempat untuk bertumbuh dalam Iman Kristus Yesus. — Bot : @GrowInFaith_bot — Follow Akun Instagram @.GrowIn_Faithh — Follow Akun tiktok @.GrowInFaith — all account allowed

نمایش بیشتر
3 563
مشترکین
-324 ساعت
-287 روز
-9130 روز
آرشیو پست ها
𝐊†
3 563
1 Yohanes 5:4 TB [4] sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita. Happy Sunday 🤩 #AYAT

𝐊†
3 563
Karena itulah Tuhan dan Gereja mengingatkan kita untuk tidak membiarkan api kemarahan menyala hingga berlarut-larut. Rasul Paulus berkata:
“Janganlah matahari terbenam sebelum padam amarahmu.”
Jangan membawa kemarahan sepanjang hari hingga malam tiba. Jangan sampai ketika kita berbaring di tempat tidur, kita masih memeluk erat kemarahan yang terjadi sejak pagi. Sebab ketika kita terus mengulang-ulang kejadian yang menyakitkan dalam pikiran, mengingat kembali perkataan orang lain, membayangkan apa yang seharusnya kita katakan, dan menyusun berbagai jawaban dalam hati, api kecil itu perlahan-lahan dapat berubah menjadi bara dendam. Iblis tidak perlu menciptakan luka baru apabila kita sendiri terus membuka kembali luka yang lama. Lalu, bagaimana kita memadamkan api amarah yang liar itu agar kita tidak terus-menerus jatuh? Santo Yohanes Klimakus mengajarkan bahwa sebagaimana air yang dituangkan perlahan-lahan dapat memadamkan api yang berkobar, demikian pula air mata pertobatan dan penyesalan yang tulus di hadapan Tuhan mampu memadamkan nyala kemarahan dan kejengkelan di dalam batin. Kita juga dipanggil untuk melawan kemarahan dengan kesabaran. Orang yang panjang sabar tidak mudah terluka oleh hinaan. Perkataan yang menyakitkan mungkin diarahkan kepadanya, tetapi tidak dibiarkannya menancap dan berakar di dalam jiwa. Hinaan itu meleset seperti anak panah yang dilepaskan ke udara tanpa menemukan sasaran untuk dilukai. Maka, lain kali ketika seseorang mengkritik pekerjaanmu dengan pedas, memancing emosimu, atau menulis sesuatu yang membuat darahmu naik di dalam grup WhatsApp pelayanan gereja, berhentilah sejenak. Tarik napas dalam-dalam. Ingatlah Tuhan. Berdoalah. Kemudian, tersenyumlah. Jika kita sering dan bangga menyanyikan lagu bahwa kita adalah “laskar Kristus”, masa iya seorang laskar rohani langsung kalah telak dan kehilangan damai sejahtera hanya karena tersinggung oleh pesan dengan huruf kapital dari sesama anggota jemaat? Jangan biarkan perkara kecil merampas damai yang besar. Jangan biarkan satu perkataan menghancurkan kasih yang telah kita bangun bertahun-tahun. Jangan biarkan kemarahan menjadi tuan atas hati kita. Mari kita belajar meredam amarah, mengendalikan lidah, memperpanjang kesabaran, dan mengenakan kelemahlembutan. Berikanlah ruang bagi kasih Tuhan untuk menyembuhkan setiap luka dan meredakan setiap gesekan di antara kita. Sebab kemenangan terbesar seorang manusia bukanlah ketika ia berhasil mengalahkan orang lain, melainkan ketika ia berhasil menaklukkan dirinya sendiri. Dan kiranya, dengan pertolongan rahmat Tuhan, kita tidak kehilangan mahkota kemenangan yang telah dipersiapkan bagi mereka yang setia berjuang melawan dosa, menguasai diri, dan tetap tinggal dalam kasih Kristus. Tuhan, ajarlah kami untuk tidak menjadi hamba kemarahan, tetapi menjadi hamba damai sejahtera-Mu. Amin.

𝐊†
3 563
Renungan harian GIF Judul: Menaklukkan Api Kemarahan Pernahkah kamu merasa begitu rohani setelah menyanyikan lagu pujian di gereja dengan penuh penjiwaan, merasa seolah-olah seperti malaikat yang siap terbang ke surga, tetapi lima menit kemudian sudah mengomel panjang lebar sambil membunyikan klakson bertalu-talu hanya karena ada mobil yang memotong jalurmu di tempat parkir gereja? Tiba-tiba saja, sayap malaikat imajiner itu rontok seketika dan kita kembali menjadi manusia biasa yang mudah naik darah. Memang, kemarahan adalah salah satu emosi yang paling cepat membuat kita jatuh dari “langit rohani” dan menghantam bumi dengan keras. Dalam tradisi Gereja dan ajaran para Bapa Suci, kemarahan yang tidak pada tempatnya bukanlah sekadar luapan emosi sesaat atau sesuatu yang dapat dianggap sebagai kewajaran manusiawi, melainkan sebuah penyakit jiwa yang sangat merusak dan berbahaya. Kemarahan bagaikan api ganas yang melahap segala sesuatu. Ia bukan hanya membahayakan tubuh dan merusak jiwa, tetapi juga dapat mengubah raut wajah seseorang hingga tampak buruk dan tidak sedap dipandang. Coba saja diam-diam perhatikan wajahmu di cermin ketika sedang marah besar. Tidak ada filter kamera atau perawatan wajah semahal apa pun yang mampu menyembunyikan betapa tidak eloknya wajah ketika dikuasai amarah! Santo Yohanes Krisostomus dengan tegas menggambarkan kemarahan yang meluap-luap sebagai semacam kegilaan sementara, bahkan keadaan yang lebih buruk daripada orang yang sedang kehilangan kendali atas dirinya. Ketika kita membiarkan amarah meledak dan menguasai akal sehat, kita sebenarnya sedang merendahkan martabat diri sendiri. Kita yang dianugerahi akal budi dan kehendak bebas berubah menjadi seperti binatang buas yang mengamuk, menyerang tanpa mempertimbangkan akibat dari tindakannya. Itulah sebabnya Rasul Paulus memberikan peringatan yang sangat tegas:
“Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu.”
Kemarahan yang tidak terkendali membutakan mata rohani dan mengaburkan kejernihan akal budi kita. Ia seperti asap tebal dari api yang membuat pandangan menjadi gelap sehingga seseorang tidak lagi mampu melihat dengan jernih. Kitab Suci bahkan mengingatkan bahwa amarah dapat menghancurkan orang yang bijaksana sekalipun. Ketika dipenuhi amarah, kita juga sering kehilangan kendali atas lidah. Lidah yang beberapa saat sebelumnya digunakan di dalam gereja untuk memuji Tuhan dengan indah, tiba-tiba berubah menjadi senjata untuk mencaci, mengutuk, dan melukai sesama. Padahal, lidah kita seharusnya dijaga dengan penuh kewaspadaan. Ia bagaikan kendaraan yang membawa perkataan kita, dan seharusnya menjadi sarana untuk menyatakan kasih, kebenaran, dan pujian kepada Allah—bukan alat untuk menghancurkan martabat orang lain. Santo Yohanes Klimakus memberikan gambaran rohani yang sangat tajam mengenai dampak kemarahan. Jika Roh Kudus adalah damai sejahtera bagi jiwa, maka tidak ada sesuatu yang begitu cepat mengusir kedamaian itu selain kemarahan dan dendam. Orang yang terus memelihara amarah di dalam hatinya pada hakikatnya sedang menyingkirkan damai yang diberikan oleh Roh Kudus dari dalam dirinya. Karena itu, perkataan Tuhan Yesus dalam Injil Matius harus kita renungkan dengan sungguh-sungguh:
“Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum.”
Tuhan tidak sedang mengajarkan bahwa setiap perasaan tersinggung secara spontan sama dengan dosa yang telah matang. Yang diperingatkan adalah ketika kemarahan itu kita pelihara, kita benarkan, dan kita biarkan berkembang hingga mendorong kita untuk merendahkan atau menyakiti sesama. Hinaan yang dilontarkan dalam kemarahan—seperti menyebut saudara kita “kafir”, “jahil”, bodoh, atau dengan berbagai sebutan lain yang merendahkan—dapat merampas martabat dan harga diri orang yang menjadi sasaran kita. Perkataan yang keluar dari mulut mungkin hanya membutuhkan beberapa detik untuk diucapkan, tetapi luka yang ditinggalkannya dapat bertahan jauh lebih lama.

𝐊†
3 563
"Kekuatan cinta ada pada pengharapan, karena melaluinya kita menantikan upah cinta. Pengharapan adalah kekayaan dari harta yang tersembunyi. Harapan adalah harta jaminan atas harta yang menanti kita. Ia adalah peristirahatan dari jerih payah; ia adalah pintu menuju kasih; ia adalah kematian dari keputusasaan." — Santo Yohanes Klimakus #REMINDER@GrowInFaithh

𝐊†
3 563
RENUNGAN Bacaan Epistel: Galatia 3:23–4:5
“Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus. Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus. Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.” (Galatia 3:26–28)
Hukum Taurat adalah penuntun bagi kita ketika kita masih berada di bawahnya. Ia bukanlah musuh, melainkan rekan-sekerja dari kasih karunia. Namun, apabila rahmat kasih karunia itu sendiri telah datang, sementara hukum masih terus menahan kita, maka ia tidak dapat lagi disebut sebagai rekan-sekerja. Sebab, apabila hukum itu justru mengekang kita untuk maju menuju rahmat kasih karunia, maka ia tidak lagi menuntun kepada keselamatan, melainkan justru dapat menjadi penghalang bagi keselamatan kita. Hal ini dapat diibaratkan seperti lilin yang memberi terang pada malam hari. Selama malam masih gelap, cahaya lilin sangat berguna. Tetapi ketika terang matahari telah terbit, jika lilin itu tetap dipertahankan sebagai satu-satunya sumber terang dan menghalangi kita untuk melihat terang matahari, maka ia tidak lagi berguna, bahkan dapat merugikan kita. Demikianlah St. Paulus mengatakan:
“Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, ... Sekarang iman itu telah datang, karena itu kita tidak berada lagi di bawah pengawasan penuntun.” (Galatia 3:23–25)
Kemudian, ketika St. Paulus mengatakan:
“Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus...”
ia melanjutkan:
“...telah mengenakan Kristus.” (Galatia 3:27)
Mengapa Rasul Paulus tidak mengatakan, “telah lahir dari Allah”, melainkan “telah mengenakan Kristus”? Hal ini menunjukkan bahwa mereka sungguh-sungguh telah menjadi anak-anak Allah. Sebab, jika Kristus adalah Anak-Nya dan kita telah “mengenakan” Kristus, maka kita yang memiliki Sang Putra di dalam diri kita, yang telah dihiasi dengan rupa dan pola-Nya, telah dibawa masuk menjadi satu keluarga dan mengambil bagian dalam kehidupan bersama dengan-Nya. Karena itu, Rasul Paulus melanjutkan:
“Tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.” (Galatia 3:28)
Dengan demikian, di dalam Kristus, segala perbedaan yang dahulu memisahkan manusia tidak lagi menjadi dasar untuk membedakan martabat mereka di hadapan Allah. Kita semua telah mengenakan Kristus; kita semua dipanggil untuk menjadi satu dalam Dia. Kita semua mengambil bagian dalam satu rupa dan satu bentuk, yaitu rupa Kristus yang kita kenakan melalui iman dan Baptisan. Sebagaimana Kristus adalah Anak, demikian pula mereka yang mengenakan Kristus dipersatukan dengan-Nya dan diangkat menjadi anak-anak Allah. Maka, hidup sebagai orang yang telah dibaptis bukan sekadar menerima sebuah tanda lahiriah, melainkan mengenakan Kristus: membiarkan rupa-Nya semakin nyata dalam hidup kita, sehingga melalui diri kita orang lain dapat melihat kehidupan Sang Kristus. “Kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.” [Referensi: St. John Chrysostom, Homily 3]

𝐊†
3 563
2 Petrus 3:18 TB [18] Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya. #AYAT

𝐊†
3 563
Ibrani 13:5 TB [5] Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: ”Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” #AYAT

𝐊†
3 563
1 Petrus 5:7 TB [7] Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu. #AYAT

𝐊†
3 563
Keep your tongue from evil and your lips from telling lies. #REMINDER

𝐊†
3 563
Tidak apa-apa untuk kehilangan diri sesaat, tidak apa-apa untuk sekadar mengatakan bahwa kamu lelah, tidak apa-apa untuk mengatakan bahwa kamu capek. Yang tidak boleh itu adalah kita terus membiarkan diri kita berlarut dalam keterpurukan, dan menyalahkan keadaan. Apalagi sampai meragukan Tuhan dan menyalakan Tuhan. #REMINDER

𝐊†
3 563
Jesus is always listening. Then you will call on me and come and pray to me, and you I Will listen to you. -Jeremiah 29:12 #AYAT

𝐊†
3 563
Yohanes 8:36 TB [36] Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka.” #AYAT

𝐊†
3 563
"Dari Abraham kita belajar bahwa Allah memanggil kita karena inisiatif Allah, bukan karena kepantasan kita" #REMINDER

𝐊†
3 563
Yosua 24:13-14 (TB) 13 Demikianlah Kuberikan kepadamu negeri yang kamu peroleh tanpa bersusah-susah dan kota-kota yang tidak kamu dirikan, tetapi kamulah yang diam di dalamnya; juga kebun-kebun anggur dan kebun-kebun zaitun yang tidak kamu tanami, kamulah yang makan hasilnya. 14 Oleh sebab itu, takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia. Jauhkanlah allah yang kepadanya nenek moyangmu telah beribadah di seberang sungai Efrat dan di Mesir, dan beribadahlah kepada TUHAN. #AYAT

𝐊†
3 563
Anugerah Keselamatan dan Rintangan Harta Duniawi 1 Korintus 15:1-11 Matius 19:16-26 Bacaan Kitab Suci pada hari Minggu ini membawa kita pada perenungan yang mendalam tentang esensi Injil, anugerah Allah, serta hambatan terbesar manusia dalam mencapai kesempurnaan rohani dan Kerajaan Surga. Dalam suratnya kepada jemaat di Korintus, Rasul Paulus mengingatkan kembali tentang inti dari Injil yang telah ia beritakan dan yang menjadi jalan keselamatan, yaitu bahwa Kristus telah mati untuk dosa-dosa kita, dikuburkan, dan dibangkitkan pada hari yang ketiga. Ajaran mengenai keselamatan ini berawal dari peristiwa Allah yang menjadi manusia, disalibkan, dan bangkit kembali. Di samping penegasan dogma ini, Paulus memberikan kesaksian pribadi yang sangat menyentuh. Ia menyebut dirinya sebagai anak yang "lahir sebelum waktunya" dan merasa tidak layak disebut sebagai rasul karena masa lalunya yang menganiaya jemaat Allah. Sikap ini bukanlah sekadar merendahkan diri tanpa makna, melainkan ungkapan tulus dari hati yang sungguh-sungguh hancur dan bertobat. Namun, justru di dalam ketidaklayakannya itulah anugerah Allah bekerja dengan sangat luar biasa. Ia menyadari bahwa pencapaiannya—di mana ia bekerja lebih keras dari rasul-rasul yang lain—bukanlah hasil dari kekuatan pribadinya, melainkan semata-mata karena anugerah Allah yang menyertainya. Hal ini mengajarkan kita bahwa segala pencapaian rohani tidak boleh membuat kita sombong, melainkan harus senantiasa dikembalikan kepada Allah sebagai sumber kekuatan. Sebaliknya, bacaan Injil menampilkan seorang pemuda kaya yang datang kepada Yesus dengan pertanyaan, "Guru yang baik, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" Pemuda ini datang dengan antusiasme yang tulus, bukan untuk berpura-pura, melainkan ia benar-benar berlari dan bertelut di hadapan Kristus. Kristus kemudian membimbing pemuda itu secara perlahan untuk menjauh dari sanjungan duniawi dan mengarahkan hatinya hanya kepada Allah sebagai sumber segala yang baik. Ketika Kristus memberikan syarat untuk sebuah kesempurnaan rohani, yaitu, "Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku," pemuda itu pergi dengan sedih. Kesedihannya muncul karena ia sangat dikuasai dan diperbudak oleh harta kekayaannya. Melalui peristiwa ini, Kristus memberikan peringatan keras bahwa "lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Sorga." Para Bapa Gereja menjelaskan bahwa Kristus di sini tidak sedang menyalahkan kekayaan itu sendiri, melainkan menyalahkan orang-orang yang diperbudak dan tunduk pada kekayaan tersebut. Kecintaan akan uang disebut sebagai benteng dan akar dari segala kejahatan, yang membuat jiwa manusia menjadi gelap, sunyi, kotor, dan penuh dengan debu. Seseorang yang hidup dalam kemewahan berlebih namun mengabaikan sesamanya yang hidup dalam kemiskinan, pada hakikatnya tidak bisa sungguh-sungguh mengasihi sesamanya. Meskipun tampak sangat sulit atau bahkan mustahil bagi manusia yang mencintai dunia untuk melepaskan kekayaannya, Kristus memberikan pengharapan: "Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin." Melalui rahmat dan bantuan Allah, apa yang tampaknya mustahil untuk diatasi oleh tabiat manusia dapat menjadi mungkin. Kedua bacaan ini mengundang kita untuk meneladani Rasul Paulus dan hamba-hamba Allah yang rela melepaskan ikatan dunia demi Kristus, serta memandang harta benda surgawi jauh lebih berharga daripada bangunan mewah atau kekayaan di bumi. Mari kita berjuang menanggalkan penyakit keserakahan yang membutakan jiwa. Dengan demikian, kita tidak akan pergi meninggalkan Kristus dengan duka seperti pemuda yang kaya itu, melainkan dapat bersandar penuh pada anugerah Allah yang akan memampukan kita untuk hidup dalam kerendahan hati demi mewarisi hidup yang kekal.

𝐊†
3 563
“Rancangan-Ku bukanlah rancanganmu…” — Yesaya 55:8–9 Mungkin masalah terbesar kita bukan karena Tuhan tidak menjelaskan rencana-Nya, tetapi karena kita terus memaksa Tuhan menjelaskan sesuatu yang memang berada di luar cara berpikir kita. Kalau pikiran Tuhan selalu bisa kita pahami, mungkin Tuhan tidak sebesar yang kita kira. Happy Sunday 🕊️ #REMINDER

𝐊†
3 563
“TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil…” — Ayub 1:21 Ayub kehilangan hampir semuanya, tetapi tidak kehilangan satu hal: siapa Tuhan baginya. Iman yang paling mahal bukan iman ketika tanganmu penuh, melainkan ketika tanganmu kosong tetapi mulutmu masih sanggup berkata, “Terpujilah nama Tuhan.” #REMINDER

𝐊†
3 563
Mari kita jadikan momen kemerdekaan ini sebagai panggilan untuk saling menanggung beban, saling melayani, dan menyingkirkan perselisihan. Gereja adalah persekutuan rohani yang mempersatukan manusia dari berbagai bangsa, bahasa, dan latar belakang ke dalam kebebasan yang didasarkan pada kasih. Jika prinsip kasih ini kita terapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, niscaya semangat gotong royong, kepedulian terhadap sesama, dan penghormatan terhadap martabat manusia akan menjadi fondasi yang tidak tergoyahkan bagi kemajuan bangsa Indonesia. Sambil kita berjuang membangun Republik Indonesia agar semakin maju, adil, damai, dan bermartabat, kita tetap menyadari bahwa kehidupan dan kemegahan di bumi ini bersifat fana. Kita memiliki pengharapan akan kewarganegaraan surgawi dan “kota yang akan datang”. Kiranya perjuangan kita dalam menghidupi kemerdekaan hari ini senantiasa diarahkan untuk memuliakan nama-Nya. Semoga Allah Yang Maha Pengasih senantiasa melindungi, memberkati, dan menuntun bangsa Indonesia menuju kedamaian, keadilan, persatuan, dan kesejahteraan yang sejati. Dirgahayu Republik Indonesia ke-81. Merdeka dalam kasih, melayani dalam iman, dan berkarya bagi sesama.

𝐊†
3 563
REFLEKSI KEMERDEKAAN RI KE-81 Pada peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81 ini, kita diajak untuk menaikkan ucapan syukur yang mendalam atas anugerah kebebasan dan kedamaian yang telah dilimpahkan kepada bangsa kita. Dalam setiap peribadatan, Gereja senantiasa menaikkan doa secara khusus bagi negara, para pemimpin pemerintahan, serta angkatan bersenjata, memohon agar Tuhan mengaruniakan masa-masa yang aman sehingga dalam ketenteraman tersebut, kita dapat menjalani kehidupan yang tenang dan damai dalam segala kesalehan dan kekudusan. Kedamaian dan kebebasan suatu bangsa adalah berkat yang berharga, yang memungkinkan setiap warganya untuk bertumbuh, berkarya, serta mewujudkan kebaikan bagi sesama. Namun, kacamata iman Kristen mengajak kita untuk merenungkan makna kemerdekaan hingga pada tataran yang jauh lebih esensial. Kemerdekaan sejati bukanlah sekadar kebebasan dari penjajahan fisik atau sekadar kemandirian individualistis yang egois, melainkan sebuah harmoni yang utuh dengan Allah, sesama manusia, dan seluruh ciptaan. Di dunia sekuler saat ini, kebebasan sering kali disalahartikan sebagai otonomi mutlak untuk melakukan apa saja. Kebebasan yang demikian pada akhirnya justru dapat mengarah pada keterasingan, individualisme, dan hancurnya tanggung jawab sosial. Sebaliknya, Kekristenan mengajarkan bahwa kebebasan sejati pada hakikatnya tidak dapat dipisahkan dari kasih. Kebebasan sejati adalah ketika manusia keluar dari penjara dirinya sendiri dan bersatu dalam kasih persaudaraan (sobornost), ketika kita melihat setiap saudara sebagai “diri kita yang lain” dan melihat Kristus di dalam diri mereka. Gereja mengingatkan bahwa penjajahan yang paling mengerikan bagi umat manusia bukanlah penindasan politik semata, melainkan perbudakan oleh dosa, kerusakan, dan maut. Kristus berinkarnasi, menyerahkan tubuh-Nya untuk disalibkan, dan turun ke alam maut (Hades) justru untuk menghancurkan gerbang kematian, menaklukkan tirani iblis, dan memberikan kemerdekaan yang kekal bagi seluruh umat manusia. Melalui kebangkitan-Nya, manusia dibebaskan dari belenggu dosa dan diberikan kekuatan rahmat untuk meraih tujuan tertinggi hidupnya, yaitu Theosis—pendewasaan dan penyatuan dengan Allah, di mana manusia dipanggil untuk mengambil bagian dalam kehidupan dan kodrat ilahi. Sebagai warga negara Indonesia sekaligus warga Kerajaan Surga, kita tidak dipanggil untuk mengasingkan diri dari dunia, melainkan untuk mengubah dan meneranginya dari dalam. Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81 menjadi momentum bagi kita untuk mengisi ruang kebebasan ini dengan karya nyata. Tradisi Kristen menegaskan bahwa apa pun profesi kita, baik sebagai pemimpin pemerintahan, prajurit militer, petani, ilmuwan, pekerja seni, maupun berbagai profesi lainnya, semua itu bukanlah rintangan bagi pertumbuhan spiritual. Sebaliknya, setiap pekerjaan dapat menjadi wadah bagi kita untuk berpartisipasi dalam menghadirkan kebaikan dan mengubah kondisi masyarakat ke arah yang lebih baik. Segala dimensi kehidupan manusia, baik pekerjaan, kehidupan sosial, maupun tata kelola negara, dapat dan harus diarahkan kepada Kristus. Iman tidak hanya hidup di dalam ruang ibadah, tetapi juga diwujudkan melalui cara kita bekerja, memperlakukan sesama, menjaga keadilan, menjalankan tanggung jawab, serta membangun kehidupan bersama. Di tengah bangsa yang besar ini, kita dipanggil untuk menjalankan peran sebagai “imam bagi ciptaan” (priests of creation). Ini berarti kita mengelola, merawat, dan memajukan kekayaan alam Indonesia serta segala hasil karya dan ilmu pengetahuan yang dipercayakan kepada kita, lalu mempersembahkannya kembali kepada Allah Sang Pencipta dengan penuh ucapan syukur. Semangat untuk mewujudkan keadilan sosial, perdamaian, dan kesejahteraan di tanah air sesungguhnya merupakan cerminan dari kerinduan jiwa manusia untuk menghadirkan kehidupan yang memantulkan tatanan kasih Allah Tritunggal Mahakudus.

𝐊†
3 563
photo content