uk
Feedback
Ask The Experts

Ask The Experts

Відкрити в Telegram

Channel ini merupakan pengembangan dari Grup nasional ATE khusus Internal BPJS kesehatan yang membernya lebih dari 6.000 Orang Duta BPJS Kesehatan Selindo 🇲🇨 https://www.instagram.com/commit_asktheexperts?igsh=ZmpmN2xqbWFjZjBn

Показати більше
1 812
Підписники
Немає даних24 години
+77 днів
+2230 день
Архів дописів
KOMITMEN 🤝 oleh: Muhammad Farid Maricar
Definisi 'komitmen' ini menarik. Menurut the American Heritage Dictionary, komitmen adalah 'The state of being emotionally or intellectually devoted, as to a belief, a course of action, or another person' yang artinya kondisi di mana seseorang secara emosional maupun intelektual menyerahkan diri, apakah itu untuk sebuah agama atau kepercayaan, serangkaian tindakan, atau seseorang.
Berdasarkan definisi tersebut, maka bisa disimpulkan bahwa komitmen tidak akan bisa dibangun tanpa adanya kesiapan baik dari sisi akal maupun perasaan, yang tentunya ada beberapa komponen yang perlu dipenuhi untuk diperkuat untuk mendapatkan kesiapan tersebut: 1. Niat ✅ Kita butuh niat yang kuat, untuk meyakinkan diri melakukan sesuatu. 2. Tindakan ✅ Kita butuh tindakan sebagai bukti bahwa kita memang benar-benar menginginkannya. 3. Perhitungan ✅ Perhitungan kita lakukan agar kita tidak buta atas apa yang kita lakukan, jangan sampai kita melakukannya tanpa arah yang jelas. 4. Kesabaran ✅ Yang kita butuhkan dalam proses yang naik turun (pasang surut). Dalam menjalani komitmen ini, banyak hal yang terkadang terjadi di luar keinginan kita, banyak terjadi perbedaan yang mungkin tidak bisa ditoleransi. Tapi, di balik semua itu, Alhamdulillah atas izin dari Allah, kita bisa bertahan, dan masih senantiasa berharap untuk menjadi lebih kuat ke depannya dan berharap Allah berikan petunjuk untuk itu. 💪 Tentu niat yang senantiasa diperbaiki, menjaga interaksi satu sama lain, dengan perencanaan yang matang, perhitungan yang jelas, dan sabar yang terus dipoles sangat diperlukan untuk menjaga semua itu.
Selamat bersiap mengawali aktifitas perdana kantor di Tahun 2025
🇮🇩
#INISIATIF

Tahun baru datang menyapa, Mari bersyukur, langkah kita tercipta. Semangat baru, harapan tak henti, Mari wujudkan layanan terbaik untuk negeri. Selamat Tahun Baru 2025 Siruaya Utamawan (Anggota Dewan Pengawas)

Kalau kamu rela mati demi mereka yang kamu sayangi.. Relakah kamu hidup lebih sehat untuk menjaga, menemani, menyayangi, meng
+1
Kalau kamu rela mati demi mereka yang kamu sayangi.. Relakah kamu hidup lebih sehat untuk menjaga, menemani, menyayangi, mengajari dan mendukung mereka? DALEMMMMM... Christina Lie
Sobat ATE udah ada resolusi apa aja nih buat jadi lebih baik di Tahun 2025? Sekarang adalah waktu yang tepat untuk kita mulai bangun kebiasaan itu
#INISIATIF #Fitlife #Komitmen

YOU ARE NOT WHAT YOU FEEL 🥰 oleh: Prasetya M Brata Iman naik-turun. Namanya membangun rutinitas baru, pasti akan berurusan dengan sang homeostatis. Suatu kali saya ingin merutinkan sholat Dhuha. Sang perasaan di alam bawah sadar bernama "Sang Berat" mendadak muncul. Sang Berat menarik saya dari beranjak berwudhu. Katanya, tanggung pekerjaan belum selesai. Enakan begini saja. Dulu, Sang Berat saya bentak dan lawan. Istilahnya, melawan rasa malas. Saya mem-bully perasaan sendiri. Hasilnya saya jadi otoriter kepada diri saya sendiri. Pola serupa saya lakukan saat sang takut, sang malas, sang cemas, sang sedih, sang kecewa hadir. Otoriter ke dalam, tidak menimbulkan kedamaian ke luar. Semua proses inside-out. Alih-alih demikian, kali itu saya ajak Sang Berat berdialog. Saya dengarkan maksud-maksud baik Sang Berat muncul. Saya ucapkan terimakasih kepadanya. Saya jelaskan mengapa saya ingin Sholat Dhuha. Lalu saya peluk ia -- accept and embrace -- sambil berjalan menuju tempat wudhu ditemani Sang Ikhlas yang saya minta hadir menemani. Kali itu Sang Berat masih merengek-rengek. Saya rayu ia, kita sholat 2 rakaat dulu. Ia setuju. Selesai sholat dua rakaat, Sang Berat masih hadir. Sambil masih saya rangkul, saya ajak ia untuk shalat dua raka'at lagi. Selesai empat rakaat, tiba-tiba Sang Berat sudah kembali ke peraduannya, digantikan oleh Sang Nikmat yang hadir. Rupanya Sang Berat telah menyelesaikan tugasnya, memastikan saya berada pada arah dan jalan yang sesuai, appropriate. Kehadiran Sang Nikmat malah menggenapkan rakaat menjadi delapan.
Perasaan seperti alarm yang berbunyi. Ketika ia diterima dan pesannya telah diperhatikan, ia 'diam' lagi. Perasaan adalah instrumen hidup yang bertujuan membantu kehidupan kita. Namanya instrumen, kita yang kendalikan. Saat instrumen bekerja sesuai dengan tujuan kita, maka kita boleh biarkan ia mengendalikan perbuatan kita, bukan kemauan kita. Perasaan bukanlah kita. Perasaan juga adalah informasi untuk kita, bukan instruksi untuk melakukan sesuatu.
Karena perasaan kita bukanlah kita, maka keliru jika saya melihat anda malas lalu saya katakan anda pemalas; ketika melihat anda marah saya katakan anda pemarah. Kalau anda takut, bukan berarti anda penakut. Kalau anda marah, bukan berarti anda pemarah. Maka hati-hati ketika mendapati anak malas sekolah lantas anda mengatakan, "Nak, sekarang kamu jadi pemalas!". Anda telah menafikan seluruh kebaikan dan kekuatan si anak, dan menciptakan realitas baru bahwa si anak hanya sebesar label 'pemalas'. Jika sampai identitas ini ter-imprint di bawah sadarnya, anda ikut bertanggungjawab menulis 'kertas putih' sang anak. Anda dapat saja mengatakan, "Nak, kamu ini anak baik dan rajin yang kali ini sedang malas sekolah. Ada apa sayang?". Sang Anak lebih besar dari Sang Malas. Sang Malas siap memberi pesan penting untuk dirinya dan anda, jika ia dan anda bertanya kepadanya dengan penuh kedamaian. #INISIATIF

Konten Receh Bikin Otakmu Membusuk 😨😰 Oleh: Wicaksono Pernah mendengar istilah "brain rot"? Fenomena "brain rot" kini menja
+1
Konten Receh Bikin Otakmu Membusuk 😨😰 Oleh: Wicaksono Pernah mendengar istilah "brain rot"? Fenomena "brain rot" kini menjadi perhatian serius di era digital, terutama di kalangan generasi muda. Istilah ini merujuk pada kondisi di mana kemampuan kognitif seseorang mengalami penurunan akibat konsumsi berlebihan konten digital yang tidak menantang atau berkualitas rendah.
Jika diartikan secara harfiah, "brain rot" berarti "pembusukan otak". Kamus Oxford mendefinisikan istilah ini sebagai degradasi mental atau intelektual yang disebabkan oleh paparan berlebihan terhadap materi yang remeh, terutama konten daring.
Istilah pembusukan otak sebenarnya memiliki sejarah panjang. Salah satu referensi awalnya ditemukan dalam karya klasik "Walden" oleh Henry David Thoreau, yang menggambarkan bagaimana masyarakat cenderung memilih ide-ide sederhana daripada berpikir lebih mendalam. Baca ulasan tentang buku "Walden" di https://www.facebook.com/share/p/18w54ZM8t3/. Dalam konteks modern, "brain rot" menjadi semakin relevan karena kebiasaan kita yang sering terjebak dalam siklus tanpa akhir menggulir media sosial.
Di Indonesia, fenomena ini tampak nyata.
Seorang mahasiswa di Jakarta, misalnya, pernah mengaku kehilangan kemampuan fokus dan motivasi belajar
akibat terlalu sering menghabiskan waktu berjam-jam di media sosial.
Awalnya ia adalah mahasiswa yang aktif dan berprestasi,
tetapi kebiasaan mengakses konten digital yang berlebihan perlahan-lahan menggerus kualitas hidupnya, bahkan memengaruhi kesehatannya secara keseluruhan.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Di Amerika Serikat, para ahli mencatat lonjakan kecanduan media sosial di kalangan remaja, yang mengakibatkan penurunan kemampuan berpikir kritis. Di Norwegia, penelitian menunjukkan bahwa remaja secara sengaja mencari konten "brain rot" di TikTok untuk mengalihkan perhatian mereka dari stres. Hal ini menunjukkan bahwa fenomena ini bersifat global, meskipun dampaknya dapat bervariasi tergantung pada lingkungan dan budaya. Penyebab utama brain rot terletak pada konsumsi media sosial yang berlebihan dan kecenderungan untuk memilih konten yang tidak memberikan nilai edukatif. Konten seperti meme, video pendek, atau cerita viral biasanya dikonsumsi bukan untuk menambah wawasan, tetapi semata-mata untuk hiburan. Akibatnya, otak kita terbiasa dengan informasi yang dangkal dan kehilangan kemampuan untuk memproses informasi yang lebih kompleks.
Gaya hidup yang kurang aktif dan minim tantangan intelektual juga memperparah masalah ini.
Dampak dari brain rot tidak bisa dianggap sepele. Kemampuan kognitif yang menurun adalah salah satu efek yang paling nyata, di mana otak menjadi lebih pasif dan kesulitan dalam berpikir kritis atau analitis. Kecanduan media sosial dapat memicu stres, kecemasan, dan bahkan depresi. Tidak sedikit yang akhirnya kehilangan produktivitas karena waktu yang seharusnya digunakan untuk belajar atau bekerja terbuang percuma untuk menggulir konten digital. Gangguan akibat konten receh di media sosial ini bukan tanpa solusi. Salah satu langkah awal yang bisa diambil adalah membatasi waktu penggunaan media sosial, dengan menetapkan batas harian yang tegas. Memilih konten berkualitas yang memberikan manfaat intelektual juga merupakan langkah penting. Aktivitas fisik dan interaksi sosial di dunia nyata juga dapat membantu menjaga keseimbangan antara kehidupan digital dan kehidupan nyata, sehingga mengurangi dampak negatif dari konsumsi media yang berlebihan. Fenomena "brain rot" mengingatkan kita akan pentingnya menjaga kesehatan mental dan intelektual di tengah derasnya arus digitalisasi. Dengan kesadaran dan upaya kolektif, kita dapat menghadapi tantangan ini dan memastikan bahwa teknologi tetap menjadi alat yang mendukung, bukan justru melemahkan, kemampuan berpikir kita. #INISIATIF

Repost from N/a
1️⃣0️⃣8️⃣ 🟰 1️⃣7️⃣9️⃣ 🤝 Hidup itu seperti permainan catur, ada perjuangan, ada kompetisi, ada kejadian baik dan pasti akan
1️⃣0️⃣8️⃣ 🟰 1️⃣7️⃣9️⃣ 🤝
Hidup itu seperti permainan catur, ada perjuangan, ada kompetisi, ada kejadian baik dan pasti akan ada juga kejadian yang tidak diharapkan 🙏
Selamat kepada Master Aseng Santoso yang keluar sebagai peserta terbaik dalam INISIATIF Chess Arena Collaboration antara BPJS Kesehatan Chess Club Vs Mandiri Club Chess. Sampai bertemu pada arena turnamen selanjutnya 🇲🇨 #INISIATIF #BerpikirSebelumBertindak

Repost from N/a
Susunan Line up Tim Catur Mandiri Club Chess 🥇🤝
Susunan Line up Tim Catur Mandiri Club Chess 🥇🤝

Repost from N/a
GOOD POSITIONS DON'T WIN GAMES, GOOD MOVES DO🔥 Berikut rilis susunan line up Tim Catur BPJS Kesehatan Chess Club yang akan m
GOOD POSITIONS DON'T WIN GAMES, GOOD MOVES DO🔥 Berikut rilis susunan line up Tim Catur BPJS Kesehatan Chess Club yang akan menghadapi Tim Catur Bank Mandiri Club Chess dalam ajang pertandingan persahabatan INISIATIF CHESS ARENA COLLABORATION pada 28 Desember 2024. Semoga kemitraan dan kerja sama yang baik bisa terus terjaga 💯🥇🤝
1. Join ke COMMIT BPJS Kesehatan Chess Club (BKC) https://t.me/+Hw_pX1nGsDAwNmM1 2. Saksikan live pertandingan BPJS Kes Vs Bank Mandiri: https://lichess.org/tournament/KaM9ANo3
#INISIATIF #BerpikirSebelumBertindak

Tidak seperti striker yang mendapatkan tepuk tangan dan selebrasi ketika memasukan gol, bek jarang melakukan selebrasi semacam itu. Karena kayaknya ada anggapan umum bahwa itu sudah tugasnya bek. Padahal sama juga dengan striker, bukankah tugas striker memasukan gol? Perbedaannya ada di anggapan "kemenangan". Kalau bek menggagalkan goal, itu tidak lantas bikin klubnya memiliki peluang untuk menang--sekalipun tidak bikin klub itu kemasukan goal sebenarnya juga adalah sebuah peluang untuk menang? Di sinilah benarnya ungkapan, posisi menentukan selebrasi.
Apa itu kemenangan? Naik panggung, dapat tepuk tangan. Jadi sorotan semua orang. Di puji, di puja. Apa itu yang disebut kemenangan? Nampaknya jika itu arti sebuah kemenangan ada beberapa orang yang seumur hidupnya hanya jadi orang kalah. Menjalani hidupnya sebagai pecundang. Nyatanya, tidak semua orang seperti itu. Ada orang yang rela sakit agar ada seseorang yang jadi pemenang. Ada orang yang rela diberi kartu merah dikeluarkan dari lapang agar teamnya tidak menjadi pecundang. Ada beberapa orang yang berani merelakan mimpinya agar mimpi orang lain bisa terwujud. Jika orang haus akan panggung, dahaga akan tepuk tangan, sorak sorai keramaian, orang itu gak cocok berada di posisi bek. Bagusnya di gelandang atau pasnya memang striker. Bek cocok bagi orang yang mudah dilupakan dan tidak memiliki keinginan mendapat lampu sorot. Posisi ini hanya cocok bagi orang yang datang, do the job whatever it takes, and going home spent time with family. No party. No celebration.
Jadi, apa itu kemenangan? Setiap orang memiliki definisi yang unik dalam mengartikan kemenangan. Dalam pertandingan sepakbola yang mendapatkan piala itu adalah pemenang, mau sebagus apapun anda bercerita, kalau klub anda gak dapat piala, itu artinya klub anda kalah. Pada pemasaran, jika produk anda tidak laku, berarti anda kalah. Jika produk kompetitor terjual lebih banyak tapi anda mendapatkan pengakuan sebagai merk Top Of Mind berarti anda menang dalam satu hal tapi kalah dalam hal lain. Lho, kok bisa? Bisa, karena itu bukan pertandingan sepabola. Memasarkan produk adalah pertandingan jangka panjang yang bertahan itu yang menang. Dan tidak seperti sepakbola, pertandingannya tanpa batas waktu. Infinite game. Tahun ini kalah, tahun depan bisa menang. Lebih jauhnya lagi dalam hidup, apa arti kemenangan? Punya mobil tiga, rumah lantai empat tiap tahun bisa liburan ke luar negeri, apa itu artinya kemenangan? Yah, jika bagi anda itu tolok ukurnya, anda menang. Berarti yang cuma punya motor, hidupnya mengandalkan dari gaji ke gaji, dan belum pernah ke luar negeri, hidupnya mirip cecunguk yang selalu ketakutan, mereka pecundang. Apa pasangan yang tidak bisa mempertahankan biduk pernikahannya adalah orang yang gagal? Belum tentu. Apa mereka yang menjalani hidup sebagai pengusaha, hidup bebas dari telunjuk orang lain adalah orang-orang yang menang? Ya, mungkin saja, tapi.. Ukuran kemenangan dalam pemasaran produk saja sudah sedemikian kompleks, apalagi dalam hidup. Jadi, apa arti kemenangan menurut anda? oleh: Taufiqrahman Tedi #INISIATIF #TGIF

HOW AI THINKS 😱 oleh: Yusran Darmawan Di berbagai grup WA, orang-orang memamerkan percakapan dengan Meta AI. Berbagai pertan
HOW AI THINKS 😱 oleh: Yusran Darmawan Di berbagai grup WA, orang-orang memamerkan percakapan dengan Meta AI. Berbagai pertanyaan aneh dikemukakan, misalnya kenalkan Anda dengan La Baco? Jawaban dari Meta AI akan bikin banyak orang tersenyum. Nampaknya orang-orang gembira melihat kenyataan kalau AI bukanlah “Kakek Segala Tahu” dalam kisah Wiro Sableng. Beberapa bulan lalu, ChatGPT muncul. Semua orang memamerkan jawaban aneh. Namun, saya meyakini, lebih banyak orang yang bahagia dengan ChatGPT. Para mahasiswa bodoh dan malas, mendadak hebat dalam menjawab pertanyaan. Semuamya mengandalkan ChatGPT. Saya ingat percakapan dengan Muliadi Mau, pengajar Ilmu Komunikasi Unhas pekan lalu. Katanya, mahasiswa sekarang tak bisa lepas dari ChatGPT. Saat diminta dosen untuk membuat pertanyaan ke rekannya dalam satu diskusi kelompok, mahasiswa akan minta bantuan ChatGT. Demikian pula saat menjawab pertanyaan dari rekannya (yang dibuat dengan ChatGPT), maka mahasiswa akan kembali minta bantuan ChatGPT. Di titik ini, tak ada nalar. Tak ada analisis dari hasil bacaan. Tak ada kreativitas menulis dan melahirkan ide-ide baru.
ChatGPT, Meta Ai, Copilot, hingga berbagai perangkat kecerdasan buatan lainnya menimbulkan banyak kekhawatiran. Kita membayangkan generasi yang tidak lagi membaca, tidak lagi menalar, dan hanya bisa mengetik bantuan ke ChatGPT.
Entahlah. Bisa jadi, ini adalah wujud kekhawatiran kita melihat teknologi yang menyuapi kita hingga lupa untuk membaca, menalar, dan mencari jawaban dengan menyatukan keping demi keping pengetahuan. Sepekan ini saya membaca buku How AI Thinks. Menurut penulisnya, Nigel Toon, kita lebih banyak khawatir soal teknologi ketimbang memahaminya. Kita kadang alpa dan malas untuk mempelajari satu inovasi, dan lebih memilih percaya kabar buruk terkait teknologi itu. Saya suka dengan cerita penulisnya yang dahulu menderita disleksia, yang kesulitan mengeja kalimat. Tapi dia bekerja keras untuk menyederhanakan semua hal, hingga akhirnya dia berhasil menjadi CEO perusahaan semikonduktor.
Apa arti "berpikir" dalam konteks AI? Nigel Toon menawarkan definisinya sendiri tentang kecerdasan:
"Kemampuan untuk mengumpulkan dan menggunakan informasi untuk beradaptasi dan bertahan hidup." Manusia berpikir, maka manusia ada.
Sementara komputer berbeda. Komputer menyesuaikan buku aturannya sendiri berdasarkan perubahan dalam informasi yang diterimanya, dengan cara yang sama seperti hewan beradaptasi berdasarkan perubahan lingkungan yang diamati melalui data sensorik. Cara kerja AI mengikuti tahapan: (1) masukkan sensorik mentah atau data, (2) kenali hubungan antar data kontekstual hingga jadi informasi, (3) memahami hubungan antar informasi hingga jadi pengetahuan, (4) memahami hubungan antar pengetahuan hingga menjadi kecerdasan. Sesimpel itu. Buku ini menawarkan tamasya di jagad AI. Saya cukup familiar dengan beberapa nama yang dibahas di sini. Di antaranya adalah Alan Turing, sang penemu komputer. Pernah lihat film The Imitation Game yang dibintangi Benedict Cumberbatch Saya juga baru tahu, di masa-masa awal komputer dibuat, perempuan memegang peran penting. Di masa itu, laki-laki mengerjakan perangkat keras, sedangkan perempuan menguji dan menyempurnakan perangat lunak. Inilah sebab mengapa gangguan pada komputer disebut “bug” atau serangga. Sebab pada masa itu, seorang perempuan Grace Hopper mengalami gangguan komputer saat menemukan serangga di dalam mesin. Begitulah, buku ini tidak meramalkan apa yang terjadi di masa-masa mendatang. Bagian akhir lebih banyak basa-basi, misalnya menyatakan kita harus mengontrol AI agar tidak jadi masalah di masa depan. Saya pikir, saat ini saja AI sudah jadi masalah yakni menghilangkan kreativitas semua orang, dengan cara mencari jawaban instan. "Setiap organisme hidup di planet ini, semuanya bergantung pada kita," kata Toon. AI pun bergantung pada kita. Iya, bergantung pada kita. Tapi apa yang kita lakukan agar kreativitas dan nalar tetap tumbuh di era di mana ChatGPT terus memberi jawaban final pada mahasiwa kita? #INISIATIF #TGIF

Akhirnya tiba juga 🔥🔥🔥
Akhirnya tiba juga 🔥🔥🔥

https://www.instagram.com/p/DD8edUaP6W0/?igsh=NWowa3U4a3p3eDl1 Semangaaaat pagi!! Brosis selindo 🫡 Selanjutnya Tim DPP singg
https://www.instagram.com/p/DD8edUaP6W0/?igsh=NWowa3U4a3p3eDl1 Semangaaaat pagi!! Brosis selindo 🫡 Selanjutnya Tim DPP singgah silaturahim bersama Tim DPD 7, DPD 8, DPD 9. kopi hangat secara virtualpun tak lupa disiapkan, ☕️☺️ Ke Kalimantan janganlah lupa sarapan Makan siangnya singgah di Pasuruan Semangaaat brosis DPD tujuh sampai sembilan Untuk JKN yang berkualitas dan berkesinambungan Jangan lupa join ke channel Telegram SP FOKKA BPJS Kesehatan https://t.me/+Wx-j2sNQ_GkwYzJl #SPFOKKABPJSKesehatan #bpjskesehatan #yangtidakmurniterbakarmati #funandmeaningful #serikatpekerja

Bagaimana Mengubah Kebiasaan Mengumpat? Duhigg menawarkan kerangka perubahan kebiasaan yang dapat diterapkan pada fenomena ini. The Golden Rule of Habit Change menyatakan bahwa kebiasaan buruk dapat diubah dengan mengganti rutinitas (routine) sambil mempertahankan pemicu (cue) dan imbalan (reward). Langkah Praktis: 1. Identifikasi Pemicu: Seseorang perlu menyadari kapan dan di mana mereka cenderung mengumpat. Apakah itu saat stres di jalan, saat bermain game, atau ketika berdebat? 2. Ganti Rutinitas: Alih-alih mengumpat, latih diri untuk menggunakan kata-kata netral atau humor. Contohnya, mengganti "anjing!" dengan "aduh, kocak banget sih." 3. Pertahankan Imbalan: Rasa lega atau katarsis tetap bisa diperoleh dengan cara baru. Misalnya, tarik napas dalam-dalam atau beralih ke respons humor yang tidak ofensif. Mengumpat dalam Konteks Budaya Indonesia Kebiasaan mengumpat memiliki akar budaya yang kompleks di Indonesia. Di satu sisi, kata-kata seperti "bangsat" sering digunakan dalam konteks bercanda antara teman dekat. Di sisi lain, kebiasaan ini dapat menjadi destruktif dalam situasi tertentu, terutama jika memicu konflik. Dalam lingkungan urban seperti Jakarta, di mana tekanan emosional tinggi, mengumpat menjadi mekanisme pelarian yang umum. Namun, jika tidak dikendalikan, kebiasaan ini dapat memperburuk situasi, seperti memperbesar konflik di jalan atau merusak hubungan interpersonal. Apakah Mengumpat Dapat Dikelola? Berdasarkan temuan Duhigg, kebiasaan mengumpat bukanlah sesuatu yang tidak bisa diubah. Faktanya, mengelola kebiasaan ini dapat membawa dampak positif yang luas: 1. Meningkatkan Pengendalian Diri: Dengan mengganti kebiasaan mengumpat dengan respons yang lebih positif, seseorang dapat meningkatkan kemampuan regulasi emosional. 2. Memperbaiki Hubungan Sosial: Mengurangi umpatan dapat menciptakan komunikasi yang lebih sehat dan menghindari konflik yang tidak perlu. 3. Mengurangi Stres Kolektif: Jika lebih banyak orang mengendalikan kebiasaan mengumpat, suasana sosial di lingkungan seperti jalanan Jakarta bisa menjadi lebih ramah dan kondusif. Apa yang Dapat Dipelajari dari Buku Ini? The Power of Habit memberikan wawasan mendalam tentang bagaimana kebiasaan, termasuk kebiasaan mengumpat, terbentuk dan dapat diubah. Dalam konteks Indonesia, buku ini relevan bagi individu yang ingin meningkatkan pengendalian diri atau organisasi yang ingin menciptakan budaya kerja yang lebih positif. Namun, penerapannya membutuhkan kesadaran dan kemauan individu. Apakah kebiasaan mengumpat adalah refleks sesaat atau pola yang telah mendarah daging, perubahan hanya mungkin jika seseorang mau mengamati pola cue-routine-reward dalam kehidupan sehari-hari. Buku ini mengajarkan bahwa kebiasaan hanyalah pola, bukan takdir. Mengubah kebiasaan seperti mengumpat, meskipun sulit, adalah langkah kecil menuju perubahan besar dalam kehidupan. Bagi warga Jakarta, seperti Aryo atau siapa pun, yang terjebak dalam kebiasaan yang tidak produktif, buku ini menawarkan harapan bahwa selalu ada cara untuk menjadi lebih baik. #INISIATIF

Mengapa Orang Gampang Mengumpat? 🫢 oleh: Wicaksono Di sebuah perempatan macet Jakarta, seorang pengendara motor menyalip den
Mengapa Orang Gampang Mengumpat? 🫢 oleh: Wicaksono Di sebuah perempatan macet Jakarta, seorang pengendara motor menyalip dengan agresif di depan mobil seorang pria bernama Aryo. Refleks, Aryo mengumpat, "Goblok!" Hampir tanpa berpikir, umpatan itu keluar begitu saja, seolah-olah bagian dari dirinya yang otomatis. Tapi bukan hanya Aryo. Banyak di antara kita yang bereaksi seperti itu di banyak kejadian. Kata-kata seperti "anjing" atau "bangsat" biasa meluncur sebagai respons terhadap stres, frustrasi, atau situasi mendesak. Charles Duhigg, melalui The Power of Habit, memberikan lensa yang tajam untuk memahami fenomena ini. Mengumpat bukanlah sekadar respons emosional spontan; ia dapat dijelaskan sebagai kebiasaan yang terstruktur dalam Habit Loop: pemicu (cue), rutinitas (routine), dan imbalan (reward). Mengumpat sebagai Kebiasaan: Dekonstruksi Habit Loop Menurut Duhigg, kebiasaan terbentuk dari pola neurologis yang terdiri dari tiga elemen utama: 1. Pemicu (Cue): Apa yang memulai kebiasaan? Dalam kasus mengumpat, pemicunya sering kali adalah situasi yang memicu stres atau frustrasi—kemacetan, tindakan tidak sopan, atau bahkan kekalahan dalam game online. 2. Rutinitas (Routine): Mengumpat menjadi respons otomatis yang dilakukan tanpa banyak berpikir. Ini adalah kebiasaan yang terbentuk dari pengalaman sebelumnya, di mana umpatan telah menjadi cara seseorang mengekspresikan emosi. 3. Imbalan (Reward): Mengumpat memberikan pelampiasan emosional sementara. Meski singkat, imbalan ini memberikan perasaan lega atau rasa "kuasa" terhadap situasi. Seperti kebiasaan lainnya, pola ini diperkuat oleh pengulangan. Ketika seseorang mengumpat dan merasa lega, otak mereka mencatatnya sebagai respons yang "efektif," sehingga kebiasaan itu semakin terpatri. Mengapa Kebiasaan Mengumpat Begitu Kuat? Mengumpat biasanya berkaitan dengan cravings atau keinginan tersembunyi yang tak disadari. Dalam konteks ini, keinginan tersebut adalah pelepasan emosi atau rasa kontrol terhadap situasi. Mengumpat memberikan katarsis yang cepat, terutama di lingkungan seperti Jakarta yang penuh tekanan. Fenomena ini juga diperkuat oleh norma sosial. Di Indonesia, penggunaan kata seperti "goblok" atau "anjing" sering dianggap wajar dalam lingkup tertentu, terutama di lingkungan teman atau saat bermain game online. Norma ini memperkuat rutinitas dan imbalan, menjadikannya kebiasaan kolektif.

Strategi di Balik Wajah Tanpa Ekspresi 🤝 oleh: Wicaksono Di sebuah ruangan dingin dengan meja panjang yang dikelilingi pemim
Strategi di Balik Wajah Tanpa Ekspresi 🤝 oleh: Wicaksono Di sebuah ruangan dingin dengan meja panjang yang dikelilingi pemimpin-pemimpin dunia, negosiator Rusia duduk tegak, diam, dan tajam mengamati. Mereka berbicara sedikit, tetapi setiap kata membawa beban, setiap gerakan memiliki makna. Igor Ryzov dalam "The Kremlin School of Negotiation" tidak hanya mengajak kita memasuki ruang-ruang seperti itu, tetapi juga mengajarkan seni menguasainya. Buku ini adalah panduan praktis sekaligus filsafat tentang negosiasi, disaring dari tradisi keras dan taktis diplomasi Kremlin. Igor, seorang pelatih negosiasi yang berpengalaman, menyingkap rahasia di balik pendekatan negosiasi Rusia yang sering kali terlihat dingin, bahkan intimidatif. Namun, di balik ketenangan itu terdapat logika tajam dan strategi yang diukur dengan presisi. Ryzov membuka buku ini dengan prinsip dasar yang menggugah: "Negosiasi adalah seni mendengarkan." Ia menekankan bahwa kekuatan sebenarnya dalam negosiasi tidak terletak pada kata-kata, melainkan pada keheningan. "Ketika kita mendengarkan," tulisnya, "kita memenangkan hati lawan kita. Kita menunjukkan bahwa kita tertarik pada apa yang mereka katakan." Dalam dunia yang sibuk berbicara, kemampuan untuk mendengar menjadi senjata yang paling jarang digunakan namun paling efektif. Keteguhan dan Fleksibilitas Salah satu pelajaran penting yang diusung buku ini adalah perpaduan antara keteguhan dan fleksibilitas. Ryzov meminjam konsep dari Niccolò Machiavelli yang menyebut bahwa seorang pemimpin ideal adalah "seperti rubah dan singa." Dalam negosiasi, rubah mewakili kelicinan dan keluwesan, sementara singa adalah simbol keberanian dan kekuatan. "Kemampuan untuk menjadi seperti rubah dan singa adalah inti dari negosiasi yang efektif," tulis Ryzov. Contoh menarik adalah kisah negosiator Rusia yang menghadapi tamu dari negara lain yang mencoba mendominasi dengan argumen emosional. Alih-alih melawan, negosiator itu tetap tenang, menawarkan solusi yang tampaknya netral tetapi secara tak langsung menguntungkan pihaknya. Ini adalah demonstrasi sempurna dari bagaimana ketenangan dapat menjadi taktik yang ampuh. Psikologi di Balik Negosiasi Buku ini juga membahas psikologi negosiasi, termasuk pentingnya membaca bahasa tubuh dan memahami motivasi tersembunyi. Salah satu prinsip yang disoroti Ryzov adalah pentingnya mengidentifikasi kebutuhan inti lawan bicara.
"Negosiasi tidak dapat dimenangkan atau dikalahkan. Yang dapat Anda lakukan adalah menentukan dengan tepat di mana posisi Anda dalam proses negosiasi, dan langkah apa yang perlu diambil selanjutnya."
Strategi ini mengingatkan kita bahwa negosiasi bukan sekadar permainan kekuasaan, melainkan juga seni memahami manusia. Buku ini memberi pembaca alat untuk membaca situasi dan merumuskan langkah dengan presisi. Meski kaya wawasan, beberapa pembaca mungkin merasa pendekatan Ryzov terlalu terfokus pada taktik kekuasaan, yang kadang terkesan manipulatif. Tidak semua konteks negosiasi membutuhkan tingkat intensitas seperti yang ia gambarkan. Kekuatan buku ini terletak pada kemampuannya untuk memberikan kerangka berpikir yang dapat disesuaikan dengan berbagai situasi, baik dalam dunia bisnis, politik, maupun kehidupan sehari-hari. The Kremlin School of Negotiation adalah bacaan wajib bagi siapa pun yang ingin menguasai seni persuasi dan strategi komunikasi. Ryzov menulis dengan kejelasan dan ketajaman yang sama seperti strategi yang ia ajarkan. Buku ini lebih dari sekadar panduan; dia adalah ajakan untuk berpikir lebih dalam tentang bagaimana kita berbicara, mendengarkan, dan memengaruhi dunia di sekitar kita. Sebagai pembaca, kita akan menutup halaman terakhir buku ini dengan wawasan baru tentang bagaimana memosisikan diri dalam setiap percakapan penting.
Seperti yang ditulis Igor Ryzov, "Negosiasi adalah permainan pikiran, dan pikiran yang tenang selalu menang."
#INISIATIF

(PART 4) JADILAH GELAS KOSONG 🧐
Ini adalah (Part 4/akhir) lanjutan kisah sebelumnya tentang pelajaran berharga dari Bapak Kaya (Rich Dad). Bila kalian ketinggalan, silakan ke sini buat awal mula kisahnya: https://t.me/commit_asktheexperts/6017 (Part 1) https://t.me/commit_asktheexperts/6019 (Part 2) https://t.me/commit_asktheexperts/6020 (Part 3)
5. Be Positif ✅ Setiap orang dianugerahi kemampuan untuk memandang, namun kemampuan cara memandang setiap orang bisa berbeda-beda. Ada orang yang bisa memandang lebih jauh dan luas, namun ada juga yang hanya bisa memandang jarak dekat. Dari contoh kisah di atas, kita bisa membuat komparasi sebagai berikut : - Kami bertiga tidak mampu melihat antenna CB dan antenna parabola dari lantai 1, namun Bapak Kaya sudah mengetahui terlebih dulu bahwa perangkat-perangkat tersebut akan terlihat dari lantai 2. - Kami bertiga tidak mampu melihat pesawat terbang dari lantai 2, namun Bapak Kaya pun sudah mengetahuinya terlebih dulu dengan melihatnya dari atap gedung kantornya. Artinya bahwa seorang yang mempunyai kelebihan dalam cara memandang diantara orang-orang dalam satu kelompoknya akan diangkat menjadi pemimpin karena tentu memiliki kemampuan lebih dibanding yang lain. Seorang pemimpin diibaratkan sedang naik tower, maka akan terlihat banyak benda hingga jarak jauh dibandingkan dengan staf yang memiliki deskripsi kerja sebagai front liner. Mungkin di depan kantor hanya akan terlihat sepeda motor, mobil, pot bunga, customer dan lainnya. Untuk itu, kepada pimpinan kita di lingkungan manapun hindari prasangka buruk karena perintah atau himbauannya, arahan atau nasihatnya, koreksi atau bimbingannya sudah melalui tahapan proses. Kita tidak pernah menduga kalau akan ada “Pesawat Terbang lain” di kantor kita … So …. Be Positif ke pimpinan kita. 6. Selalu Belajar dan Upgrade Knowledge ✅ Ketika Anda diberi amanah untuk memimpin sebuah organisasi baik skala makro maupun mikro, hal yang perlu ditekankan adalah selalu belajar dan senantiasa menambah ilmu. Cerita komparasi di atas sudah cukup jelas, bahwa seorang pemimpin dituntut memiliki pandangan dan pengetahuan lebih jauh dan luas. Seorang pimpinan tidak akan pernah tahu kalau akan ada pesawat terbang lain jika tidak ada upaya untuk selalu belajar dan menambah ilmu. 7. Lihat dengan Detail dan Teliti ✅ Di sesi “Dengar dan jalankan perintah” kami tergelitik untuk menanyakan hal yang satu ini. “Apakah kita harus menjadi staf seperti robot yang hanya mendengar dan menjalankan perintah tanpa ide dan kreativitas apapun?”. Bapak Kaya menjawab, Tidak. Justru harus menjalankan perintah dengan detail dan teliti. Contoh jawaban yang detail untuk perintah "Coba Anda keluar dan lihat ada apa di depan kantor saya?”. Di depan kantor Bapak ada: - Dua buah pot bunga warna bla bla bla dan bla bla bla masing-masing ditanami bunga bla bla bla dan bla bla bla - Empat buah sepeda motor berbagai merk a.l. bla bla bla diparkir sejajar. - Satu buah Mobil merk bla bla bla warna bla bla bla diparkir di sebelah ruko. - Sebuah toko yang menjual aneka roti dengan brand bla bla bla bercorak warna bla bla bla khas menyambut acara bulan Februari, dan sebagainya. Bandingkan dengan jawaban sebelumnya Dua pot bunga, 4 Sepeda Motor, toko kue, seperti uraian di atas.
Ungkapan Martin Luther King “
Jika seorang terpanggil menjadi tukang sapu jalan, hendaklah ia menyapu jalan sebagaimana Michael Angelo melukis, atau Beethoven menciptakan musik, atau Shakespeare menulis puisi. Hendaknya ia menyapu jalan dengan sangat baik sehingga segenap isi surga dan bumi serentak menghentikan kegiatan mereka dan berkata, di sini tinggal seorang penyapu jalan yang agung yang menjalankan tugasnya dengan sangat baik
”.
#INISIATIF #Weekend

(PART 3) JADILAH GELAS KOSONG 🧐
Ini adalah (Part 3) lanjutan kisah sebelumnya tentang pelajaran berharga dari Bapak Kaya (Rich Dad). Bila kalian ketinggalan, silakan ke sini buat awal mula kisahnya: https://t.me/commit_asktheexperts/6017 (Part 1) https://t.me/commit_asktheexperts/6019 (Part 2)
Sejenak suasana larut dalam keheningan, tiba-tiba Bapak Kaya bertanya lagi. “Apakah anda tadi melihat Antenna CB, Antenna Parabola dan Pesawat Terbang?”. Hmm, …. dalam benak kami bertiga pertanyaan ini cukup menggelitik karena di kota kecil tempat kami tinggal hanya ada sekali penerbangan ke Jakarta, itu pun hanya di pagi hari dan hampir tidak pernah terlihat pesawat terbang melintas). Jawaban kami bervariasi, ada yang menjawab “saya mungkin bisa melihat antenna CB atau Parabola tapi tidak mungkin melihat pesawat terbang. Jawaban yang lain, kami tidak melihat antenna CB atau Parabola tapi melihat gambar pesawat terbang di salah satu kios penjualan tiket pesawat …. hiikkss ... “Coba, kalian jalan ke ujung dan lihat dari jendela keluar, apakah ada yang saya sebutkan tadi?”, seru Bapak Kaya. Kami bertiga lagi-lagi harus ber-olahraga ringan (lari-lari kecil) untuk mematuhi perintah Bapak Kaya. Tiga pasang mata melihat ke arah luar jendela dan “surprise”!! Dari lantai 2 terlihat jelas sebuah antenna parabola dan antenna CB. Dan, kedua antenna ini sama sekali tidak akan terlihat dari lantai 1 karena posisinya terhalangi dan berada di atap gedung. Dalam hati kami malu, tapi mengakui kalau pernyataan kami tentang antenna telah salah. Namun, bagaimana dengan pesawatnya yah? Sejenak kami sempat berdiskusi dan akhirnya sepakat tidak melihat adanya pesawat terbang, memang seperti sebuah teka-teki, tapi apa kami harus menjawab hal yang tidak kami ketahui? … Tidak, dalam benak kami menjawab. Akhirnya kami kembali lagi ke ruangan Bapak Kaya. Masing-masing dari kami pun ditanya lagi satu per-satu. Semua sepakat melihat antenna, namun tidak melihat pesawat terbang. Bapak Kaya meneruskan bertanya dan menjawab sendiri pertanyaannya. “Coba Anda naik ke atap kantor ini dan lihat ke arah Barat. Anda akan melihat sebuah Pesawat Terbang di ujung jalan”. Kami sadar yang dimaksud ternyata sebuah “monumen Pesawat Terbang” yang berada sekitar 1 km dari tempat kami berada. Sebuah pesawat tempur yang menurut prediksi hasil lucutan tentara Jepang kala di masa penjajahan. Kami terdiam seribu bahasa, menyadari kebodohan kami bertiga yang selama ini telah dibutakan oleh banyak hal. Mungkin saja, secara teoritis kami mengetahui banyak hal sisi manajemen atau manajerial tapi belum sampai pada taraf memahami betul dalam aplikasi nyata.
Moral cerita:
5. Be Positif
Setiap orang dianugerahi kemampuan untuk memandang, namun kemampuan cara memandang setiap orang bisa berbeda-beda. Ada orang yang bisa memandang lebih jauh dan luas, namun ada juga yang hanya bisa memandang jarak dekat. Dari contoh kisah di atas, kita bisa membuat komparasi sebagai berikut : - Kami bertiga tidak mampu melihat antenna CB dan antenna parabola dari lantai 1, namun Bapak Kaya sudah mengetahui terlebih dulu bahwa perangkat-perangkat tersebut akan terlihat dari lantai 2. - Kami bertiga tidak mampu melihat pesawat terbang dari lantai 2, namun Bapak Kaya pun sudah mengetahuinya terlebih dulu dengan melihatnya dari atap gedung kantornya.
Artinya bahwa seorang yang mempunyai kelebihan dalam cara memandang di antara orang-orang dalam satu kelompoknya akan diangkat menjadi pemimpin karena tentu memiliki kemampuan lebih dibanding yang lain. Seorang pemimpin diibaratkan sedang naik tower, maka akan terlihat banyak benda hingga jarak jauh dibandingkan dengan staf yang memiliki deskripsi kerja sebagai front liner. Mungkin di depan kantor hanya akan terlihat sepeda motor, mobil, pot bunga, customer dan lainnya.
Note: Kisahnya masih ada part (4), dilanjut esok pagi lagi yah
🤝
#INISIATIF

(PART 2) JADILAH GELAS KOSONG 🧐
Ini adalah (Part 2) lanjutan kisah sebelumnya tentang pelajaran berharga dari Bapak Kaya (Rich Dad). Bila kalian ketinggalan, silakan ke sini buat awal mula kisahnya: https://t.me/commit_asktheexperts/6017
Disaat masih berupaya untuk interospeksi diri dari kesombongan, kami sudah diperintah lagi melakukan hal yang sama untuk kedua kalinya. “Coba kalian keluar lagi (turun ke bawah) dan lihat lagi ada apa di depan kantor saya?". Apa yang ada dipikiran kita kalau diperintah sama dengan jawaban yang sudah sangat jelas? Mungkin saja bathin ini akan berontak (dengan bertanya atau meminta penjelasan), tapi bisa saja itulah bentuk kesombongan berupa benih-benih halus yang hampir tidak kita sadari. Kami bertiga lantas beranjak keluar kantor lagi, mengamati obyek-obyek di depan kantor lagi, di saat itu banyak pasang mata mengamati kami. Iyaa, benar…. mungkin kata yang tepat untuk kami saat itu terlihat “GILA”, tapi tak apalah karena kami sedang belajar mengikis habis benih kesombongan. Dengan berbagai gaya dan bahasa tubuh seakan-akan tidak sedang terjadi apa-apa, kami kembali ke lantai atas dan bertemu lagi dengan Bapak Kaya (masih terlihat sombong ngga yah?). “Sekarang, apa yang kalian lihat?”, Tanya Bapak Kaya. Sambil menunggu giliran menjawab, saya berpikir teka-teki apa lagi yah? Nanti diberi jawaban betul ternyata salah, mau dikasih jawaban salah? masa iya sih diberi jawaban salah?!!. Akhirnya satu persatu kami menjawab, ada yang melengkapi jawaban OB, ada yang mengurangi jawaban namun melengkapi di sisi yang lain dan jawaban lainnya yang intinya dari ketiga orang tidak ada jawaban yang sama persis. Bapak Kaya pun tersenyum….. itulah fakta, Anda dikasih pertanyaan yang sudah jelas dengan jawaban yang juga sudah jelas, jawaban yang Anda berikan masih saja berbeda-beda. Kalian 3 orang yang berbeda, dan tidak mungkin sama.
Moral cerita:
3. Hargai Perbedaan.
Setiap manusia dilahirkan berbeda-beda bahkan untuk perintah dan jawaban yang sudah jelas pun kami bertiga tidak memberikan jawaban yang sama persis. Ituah pentingnya memahami perbedaan, terutama bagi person yang diberi amanah untuk memimpin suatu kelompok baik dalam organisasi kecil maupun besar. Tidak ada kata-kata lagi yang bisa kami ucapkan saat itu kecuali pernyataan setuju.
4. Bersedia untuk Berbagi
Dengan perbedaan kita dituntut untuk saling bisa mengisi baik ide/gagasan, pendapat maupun kritikan. Karena tidak ada manusia yang sempurna. Point ini menjadi salah satu dari kesuksesan Bapak Kaya. Ibarat tangan kita masing-masing terdiri dari jempol, telunjuk, jari tengah, jari manis dan kelingking. Kalau sudah menyatu tidak mustahil kita bisa menggenggam apapun.
Sejenak suasana larut dalam keheningan, tiba-tiba Bapak Kaya bertanya lagi. “Apakah anda tadi melihat Antenna CB, Antenna Parabola dan Pesawat Terbang?”. Hmm,…. dalam benak kami bertiga pertanyaan ini cukup menggelitik karena di kota kecil tempat kami tinggal hanya ada sekali penerbangan ke Jakarta, itu pun hanya di pagi hari dan hampir tidak pernah terlihat pesawat terbang melintas). Kira-kira gimana kelanjutannya?
Note: Kisahnya masih ada part (3), dilanjut esok pagi lagi yah
🤝
#INISIATIF

JADILAH GELAS KOSONG 🧐
Ini adalah (Part 2) lanjutan kisah sebelumnya tentang pelajaran berharga dari Bapak Kaya (Rich Dad). Bila kalian ketinggalan, silakan ke sini buat awal mula kisahnya: https://t.me/commit_asktheexperts/6017
Disaat masih berupaya untuk interospeksi diri dari kesombongan, kami sudah diperintah lagi melakukan hal yang sama untuk kedua kalinya. “Coba kalian keluar lagi (turun ke bawah) dan lihat lagi ada apa di depan kantor saya?". Apa yang ada dipikiran kita kalau diperintah sama dengan jawaban yang sudah sangat jelas? Mungkin saja bathin ini akan berontak (dengan bertanya atau meminta penjelasan), tapi bisa saja itulah bentuk kesombongan berupa benih-benih halus yang hampir tidak kita sadari. Kami bertiga lantas beranjak keluar kantor lagi, mengamati obyek-obyek di depan kantor lagi, di saat itu banyak pasang mata mengamati kami. Iyaa, benar…. mungkin kata yang tepat untuk kami saat itu terlihat “GILA”, tapi tak apalah karena kami sedang belajar mengikis habis benih kesombongan. Dengan berbagai gaya dan bahasa tubuh seakan-akan tidak sedang terjadi apa-apa, kami kembali ke lantai atas dan bertemu lagi dengan Bapak Kaya (masih terlihat sombong ngga yah?). “Sekarang, apa yang kalian lihat?”, Tanya Bapak Kaya. Sambil menunggu giliran menjawab, saya berpikir teka-teki apa lagi yah? Nanti diberi jawaban betul ternyata salah, mau dikasih jawaban salah? masa iya sih diberi jawaban salah?!!. Akhirnya satu persatu kami menjawab, ada yang melengkapi jawaban OB, ada yang mengurangi jawaban namun melengkapi di sisi yang lain dan jawaban lainnya yang intinya dari ketiga orang tidak ada jawaban yang sama persis. Bapak Kaya pun tersenyum….. itulah fakta, Anda dikasih pertanyaan yang sudah jelas dengan jawaban yang juga sudah jelas, jawaban yang Anda berikan masih saja berbeda-beda. Kalian 3 orang yang berbeda, dan tidak mungkin sama.
Moral cerita:
3. Hargai Perbedaan.
Setiap manusia dilahirkan berbeda-beda bahkan untuk perintah dan jawaban yang sudah jelas pun kami bertiga tidak memberikan jawaban yang sama persis. Ituah pentingnya memahami perbedaan, terutama bagi person yang diberi amanah untuk memimpin suatu kelompok baik dalam organisasi kecil maupun besar. Tidak ada kata-kata lagi yang bisa kami ucapkan saat itu kecuali pernyataan setuju.
4. Bersedia untuk Berbagi
Dengan perbedaan kita dituntut untuk saling bisa mengisi baik ide/gagasan, pendapat maupun kritikan. Karena tidak ada manusia yang sempurna. Point ini menjadi salah satu dari kesuksesan Bapak Kaya. Ibarat tangan kita masing-masing terdiri dari jempol, telunjuk, jari tengah, jari manis dan kelingking. Kalau sudah menyatu tidak mustahil kita bisa menggenggam apapun.
Sejenak suasana larut dalam keheningan, tiba-tiba Bapak Kaya bertanya lagi. “Apakah anda tadi melihat Antenna CB, Antenna Parabola dan Pesawat Terbang?”. Hmm,…. dalam benak kami bertiga pertanyaan ini cukup menggelitik karena di kota kecil tempat kami tinggal hanya ada sekali penerbangan ke Jakarta, itu pun hanya di pagi hari dan hampir tidak pernah terlihat pesawat terbang melintas). Kira-kira gimana kelanjutannya?
Note: Kisahnya masih ada part (3), dilanjut esok pagi lagi yah
🤝
#INISIATIF