uk
Feedback
Ask The Experts

Ask The Experts

Відкрити в Telegram

Channel ini merupakan pengembangan dari Grup nasional ATE khusus Internal BPJS kesehatan yang membernya lebih dari 6.000 Orang Duta BPJS Kesehatan Selindo 🇲🇨 https://www.instagram.com/commit_asktheexperts?igsh=ZmpmN2xqbWFjZjBn

Показати більше
1 812
Підписники
Немає даних24 години
+77 днів
+2230 день
Архів дописів
INFO PODIUM 🏆 Selamat kepada bro @dayatpasau yang berhasil keluar sebagai Juara 2 (beregu) dalam Turnamen Tenis Meja GNR Gra
INFO PODIUM 🏆 Selamat kepada bro @dayatpasau yang berhasil keluar sebagai Juara 2 (beregu) dalam Turnamen Tenis Meja GNR Grand Master Cup 2025 🔥 #INISIATIF

Sepasang suami istri muda pindah ke rumah baru. Keesokan paginya, saat mereka sedang sarapan, wanita muda itu melihat tetangg
Sepasang suami istri muda pindah ke rumah baru. Keesokan paginya, saat mereka sedang sarapan, wanita muda itu melihat tetangganya menjemur cucian di luar. "Cucian itu tidak terlalu bersih; dia tidak tahu cara mencuci dengan benar. Mungkin dia butuh sabun bubuk yang lebih bagus." Suaminya memperhatikan, tetap diam. Setiap kali tetangganya menjemur cuciannya, wanita muda itu berkomentar sama. Sebulan kemudian, wanita itu terkejut melihat cucian bersih di jemuran dan berkata kepada suaminya, "Lihat, dia akhirnya belajar cara mencuci dengan benar. Aku heran siapa yang mengajarinya ini?" Suaminya menjawab, "Aku bangun pagi hari ini dan membersihkan jendela kita." Begitu pula dengan kehidupan... Apa yang kita lihat saat mengamati orang lain bergantung pada kejernihan jendela tempat kita memandang. Jadi, jangan terlalu cepat menghakimi orang lain, terutama jika perspektif hidup kita dikaburkan oleh kemarahan, kecemburuan, kenegatifan, atau keinginan yang tidak terpenuhi. "Menilai seseorang tidak menentukan siapa mereka. Itu mendefinisikan siapa kita." A J Raharjo #INISIATIF

GANBATTE > GOOD LUCK ✊ Oleh: Iwan Kusworo Selamat pagi, Sahabat! Semalem saya dibikin penasaran sama salah seorang teman tent
GANBATTE > GOOD LUCKOleh: Iwan Kusworo Selamat pagi, Sahabat! Semalem saya dibikin penasaran sama salah seorang teman tentang buku yang satu ini, "Ganbatte!: The Japanese Art of Always Moving Forward" yang ditulis oleh Albert Lieberman. Kata pengantar dari buku ini disampaikan oleh Héctor Garcia, co-author dari buku "Ikigai: The Japanese Secret to a Long and Happy Life." Kalau di budaya barat orang sering menggunakan kalimat "Goodluck!" untuk memberi semangat kepada teman atau rekan kerja yang akan berjuang. Namun "goodluck" terkesan maknanya bergantung pada faktor eksternal (luck/keberuntungan) di mana orang tersebut tidak memiliki kontrol terhadapnya. Sementara di budaya Jepang, mereka menggunakan kalimat "Ganbatte!" yang bisa diartikan sebagai "Lakukan yang terbaik, jangan menyerah, terus maju," adalah panggilan pada kekuatan dan kemampuan orang tersebut, sehingga hasil yang didapatkan nanti adalah hasil maksimal yang telah diusahakan. Sepertinya menarik membaca buku ini. Buku apa yang sedang Anda baca pagi ini? #INISIATIF #TGIF

🔤🔤🔤🔤🔤🔤🔤 📣 STORYTELLING CHALLENGE: CONNECT THE DOTS 💯 “Anda tidak dapat menghubungkan titik-titik di masa depan, Anda
🔤🔤🔤🔤🔤🔤🔤 📣 STORYTELLING CHALLENGE: CONNECT THE DOTS 💯 “Anda tidak dapat menghubungkan titik-titik di masa depan, Anda hanya dapat menghubungkannya dengan melihat ke belakang. Jadi, Anda harus percaya bahwa segala titik-titik yang telah berlalu dan saat ini itu kelak akan terhubung di masa depan Anda” ~ Steve Jobs 🗓 Deadline: Jum'at 14 Februari 2025 (Hari ini maks 23.59 WIB)
Yuk Join Storytelling Challenge: Baca juknis di sini 📝 Join COMMIT Ask The Experts (Grup terbatas hanya untuk internal BPJS Kesehatan)📱 https://t.me/+K3eK0MkLG2MyYTk1
#INISIATIF #GrowthMindset

"Saya tidak tahu" bukanlah pengakuan atas kebodohan, melainkan ekspresi dari kerendahan hati dalam belajar. Mengakui bahwa ki
"Saya tidak tahu" bukanlah pengakuan atas kebodohan, melainkan ekspresi dari kerendahan hati dalam belajar. Mengakui bahwa kita tidak mengetahui sesuatu menunjukkan kesediaan untuk belajar dan menerima bahwa pengetahuan kita memiliki batas. "Saya salah" bukanlah pengakuan kegagalan, melainkan bukti integritas dalam proses apapun. Mengakui kesalahan adalah tanda seseorang yang menghargai kebenaran lebih dari egonya. Hal ini juga menunjukkan rasa rendah hati untuk tumbuh dengan belajar dari kesalahan. "Saya tidak mengerti" bukanlah tanda tidak mampu, melainkan alasan untuk menambah rasa ingin tahu. Mengakui ketidakpahaman membuka pintu untuk eksplorasi lebih lanjut dan pencarian pemahaman yang lebih dalam pada suatu hal tertentu. Ketiga pernyataan ini menggambarkan bahwa sikap rendah hati, jujur, dan penasaran adalah fondasi penting dalam perjalanan intelektual. Mengakui keterbatasan bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan yang memungkinkan kita untuk terus berkembang. oleh: Muhammad Farid Maricar #INISIATIF

Objective, Strategy, Tactics 🥊 Oleh: Iwan Kusworo Pertarungan legendaris antara Muhammad Ali dan George Foreman pada tahun 1
Objective, Strategy, Tactics 🥊 Oleh: Iwan Kusworo Pertarungan legendaris antara Muhammad Ali dan George Foreman pada tahun 1974, yang dikenal sebagai “Rumble in the Jungle”, lebih dari sekadar pertandingan tinju. Ali, yang lebih tua dan dianggap kurang unggul secara fisik, berhasil mengalahkan Foreman dengan strategi yang cerdik. Memahami bahwa Foreman adalah petinju yang kuat namun mudah terpancing emosi, Ali merancang sebuah strategi yang akan menguras tenaga lawannya. Ali sengaja memancing Foreman untuk terus menyerang, sementara ia sendiri bertahan dan menghemat energi. Setelah berhasil membuat Foreman kelelahan, Ali melancarkan serangan balik yang mematikan. Kemenangan Ali ini mengajarkan kita pentingnya memiliki tujuan yang jelas, strategi yang matang, dan taktik yang tepat dalam menghadapi tantangan. Seperti kata Sun Tzu, “Strategy without tactics is the slowest route to victory. Tactics without strategy is the noise before defeat.” (Strategi tanpa taktik adalah jalan paling lambat menuju kemenangan. Taktik tanpa strategi adalah kebisingan sebelum kekalahan) 😵‍💫 Ali membuktikan bahwa dengan memahami lawan dan merencanakan langkah dengan cermat, kita dapat mengatasi rintangan yang tampak mustahil. #INISIATIF

JIKA BUKAN SEKARANG, KAPAN LAGI? 🔥 📸 Perubahan berawal dari kamu untuk membantu Bumi yang sedang menjerit minta tolong 🇮🇩
JIKA BUKAN SEKARANG, KAPAN LAGI? 🔥 📸 Perubahan berawal dari kamu untuk membantu Bumi yang sedang menjerit minta tolong 🇮🇩 More Info 🔗 #INISIATIF #EcoOffice

BERSIAP NAIK LEVEL 🔥 Yakinlah, Tuhan memberikan pertempuran sulit hanya kepada Prajurit yang Terkuat dan Terhebat 💪 📸 Meng
BERSIAP NAIK LEVEL 🔥
Yakinlah, Tuhan memberikan pertempuran sulit hanya kepada Prajurit yang Terkuat dan Terhebat 💪
📸 Mengutip arahan Pak Dirum saat arahan Awal Tahun 2025, untuk menjadi pribadi yang dipercaya kita belum cukup hanya memiliki knowledge dan skills saja, kita perlu perkuat diri dengan mindset positif dan Atittude yang baik 🇮🇩 More Info 🔗 #INISIATIF #GrowthMindset

Rilis souvenir kaos dan tote untuk setiap challenge fun and meaningful dari COMMIT ATE sepanjang Tahun 2025. Kedua souvenir ini membawa filosofi perubahan positif masing-masing dan telah siap membersamai Tahun 2025 Sobat ATE hingga jadi makin produktif 🇮🇩

Kompetisi tiada pemenang 😭 Si Agus, bangga banget dapat gaji 3 juta per bulan, "Gue dong gajinya tinggi, kamu cuma dapat 500
Kompetisi tiada pemenang 😭 Si Agus, bangga banget dapat gaji 3 juta per bulan, "Gue dong gajinya tinggi, kamu cuma dapat 500.000 sebulan kan?". Si Agus dengan PD-nya posting di akun medsos. Nyombong. Nasib. Temannya si Budi reply komen. "Agus agus.... Elu 3 juta per bulan sudah nyombong? Lah gue, gajinya dua digit, sebulan dapat 40 juta. Gaji elu setahun cuma kerja gw sebulan. Hahaha." Hanya bertahan 5 menit kesombongan Budi, netizen lain, Si Bambang tidak mau kalah. Dia ikutan posting, "Gaji saya itu di LN sebulan 500 juta, gaes. Itu bahkan termasuk kecil sebenarnya." Gaya dong si Bambang pamer, sambil sok merendah. Daaan takjub netizen followernya, like like like, wuih keren 500 juta sebulan. Setahun berarti 6 milyar. Masalahnya, saat postingan itu lewat di depan Si Tono yg pengusaha. Si Tono langsung tertawa. Bambang oh Bambang, kasihan banget deh elu. Gue itu jualan basreng di marketplace untungnya 6 milyar per bulan. Elu kerja setahun, gw cukup ongkang2 kaki sebulan. Tapi oh tapi, Si Tono ternyata hanya bisa sombong 1-2 menit saja. Karena sejatinya di luar sana, buanyak yg penghasilannya 72 milyar sebulan (setara setahun Tono kerja). Wah wah puluhan ribu orang yg begini. Atlet2 top, penyanyi2 terkenal, pengusaha2, investor, dll dsbgnya. Lantas apakah yg 72 milyar sebulan bisa sombong? Duh Rabbi, di luar sana, juga ada yg penghasilannya 1 trilyun sebulan. Juga ada yg setahun 12 trilyun. Teruuus saja angkanya naik. Dan apakah orang2 ini juga bisa sombong? Nggaaak! Di luar sana ada yg penghasilannya 100 trilyun sebulan, dan seterusnya, dan seterusnya. Inilah kompetisi tiada pemenang. Karena bahkan saat seseorang itu penghasilannya 1000 trilyun sebulan. Saat dia mati, serupiah pun tdk akan dia bawa. Jangankan piala, penghargaan, award, sekantong ciki pun TIDAK dia bawa. Lantas kita masih mau sibuk pamer gaji, juga harta benda receh kita? Duh Rabbi. Pikirkanlah. Tere Liye #INISIATIF

Rasa Iri, Muncul dari Kompetisi 👀 oleh: Muhammad Farid Maricar Kebanyakan orang mungkin tidak sadar, tapi pada umumnya rasa
+1
Rasa Iri, Muncul dari Kompetisi 👀 oleh: Muhammad Farid Maricar Kebanyakan orang mungkin tidak sadar, tapi pada umumnya rasa iri itu datang justru karena kita memiliki kesamaan dengan orang lain. Jarang ada ceritanya pengemis yang iri pada triliuner, yang ada adalah pengemis yang iri pada pengemis yang dapat lebih banyak. Fenomena ini menunjukkan bahwa rasa iri sering kali lebih dipengaruhi oleh kedekatan sosial daripada jarak yang jauh. Kita cenderung membandingkan diri dengan orang-orang yang berada dalam lingkaran yang sama, misalnya dalam profesi, lingkungan, atau bahkan teman sebaya. Seorang dosen cemburu kepada sesama dosen, guru cemburu kepada sesama guru, selebritis cemburu kepada selebritis lain, dll. Mengapa demikian? Karena kesamaan menciptakan standar pembanding yang lebih relevan. Jika kita melihat seseorang yang "mirip" dengan kita berhasil lebih jauh, kita merasa bahwa kesuksesan mereka adalah sesuatu yang juga seharusnya bisa kita capai. Budaya kompetisi yang ada dalam struktur sosial sering kali memperkuat pola ini. Sistem yang mendorong individu untuk terus bersaing demi pencapaian dan pengakuan, tanpa sadar menumbuhkan benih rasa iri. Dalam lingkup kerja, misalnya, keberhasilan seorang rekan bisa dirasa mengancam posisi kita sendiri, alih-alih memotivasi. Dalam komunitas yang lebih kecil, seperti lingkungan akademik, rasa iri terhadap kolega dapat menciptakan atmosfer yang kurang mendukung, bahkan merusak. Jika dibiarkan tanpa pengelolaan, rasa iri dapat berujung pada berbagai dampak negatif, semisal hubungan sosial yang terganggu, fokus kepada orang lain dibanding diri sendiri, dan tentunya lingkungan yang penuh dengan tekanan dan tidak harmonis. Saya pribadi, berusaha senantiasa belajar agar menghilangkan rasa iri dengan pencapaian orang lain, karena saya senantiasa menanamkan pencegahan untuk berkompetisi dengan orang lain. Misalnya dengan cara memberikan pujian bagi orang lain saat ada hal tertentu yang didapatkannya. Orang lain mau dapat apa, saya nggak pusing, kecuali kalau mereka dapat dengan cara yang jelek dan zalim semisal korupsi, menjilat, dan semisalnya, semoga Allah balas dengan kejelekan yang setimpal dunia akhirat. Alih-alih berkompetisi dengan orang lain, saya lebih senang untuk belajar bagaimana caranya untuk mendapatkan apa yang mereka miliki, selama mereka dapat dengan cara yang baik tentunya. Karena bagaimana pun juga tiap orang punya rezekinya masing-masing yang tentunya itu semua adalah pembagian dari Allah. Sumber foto : Buku The Conquest of Happiness by Bertrand Russell #INISIATIF

Info Podium Very Late Post 🥹 Kebanggaan kita bersama kakak @desisantikas yang berhasil keluar sebagai 1st Winner 21K Women O
Info Podium Very Late Post 🥹 Kebanggaan kita bersama kakak @desisantikas yang berhasil keluar sebagai 1st Winner 21K Women Open dalam Tahura Trail Running Race 2025🥇🏆

FLUID INTELLIGENCE VS CRYSTALLIZED INTELLIGENCE 🧠 Oleh: Iwan Kusworo Seorang psikolog asal Inggris bernama Raymond Cattel, p
FLUID INTELLIGENCE VS CRYSTALLIZED INTELLIGENCE 🧠 Oleh: Iwan Kusworo Seorang psikolog asal Inggris bernama Raymond Cattel, pada tahun 1971 pernah menulis buku berjudul Abilities: Their Structure, Growth, and Action.
Di bukunya dia membahas tentang dua tipe kecerdasan (intelligence), yaitu: 1. Fluid intelligence (kecerdasan cair) 2. ⁠Crystallized intelligence (kecerdasan padat/kristal)
Fluid intelligence adalah kemampuan untuk menganalisa, berpikir secara fleksibel, dan memecahkan masalah yang sulit. Seringkali dihubungkan dengan keahlian membaca dan ilmu matematika. Seorang inovator biasanya memiliki fluid Intelligence yang tinggi. Kecerdasan tipe ini akan mencapai puncaknya di usia 20-an dan akan menurun dengan cepat dimulai di usia pertengahan 30-an atau 40-an. Sedangkan crystallized intelligence adalah kemampuan dalam menggunakan pengetahuan yang dimiliki di masa lalu. Ibaratnya seorang petugas perpustakaan di sebuah perpustakaan tua yang tahu di mana letak buku-buku yang ingin dicarinya. Berbeda dengan fluid Intelligence yang bisa muncul sejak seseorang masih kecil, crystallized intelligence terbentuk belakangan, dan akan terus meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Akan ada penurunan memang, namun biasanya itu lebih karena kondisi fisik yang mulai menurun. Seorang filsuf Romawi, Marcus Tullius Cicero, dalam surat terbuka kepada putranya, dia menyampaikan tiga hal tentang “usia tua": Yang pertama, usia tua seharusnya didedikasikan untuk pelayanan, bukan untuk bermalas-malasan. Kedua, berkah terbesar di usia tua adalah memiliki kearifan (wisdom), di mana hasil pembelajaran dan pemikiran seseorang bisa digunakan untuk memperkaya wawasan orang lain. Dan ketiga, kemampuan alamiah seseorang di titik ini adalah memberikan nasihat dan petuah. Aktifitas coaching, mentoring, dan mengajarkan sesuatu ke orang lain adalah beberapa contoh nyatanya. Dari sini mungkin bisa dijadikan perenungan buat kita semua jika topik ini dihubungkan dengan diversity (keberagaman), terutama yang terkait “usia.” Apakah "senior employee" di sekitar kita selama ini sudah ditempatkan pada tugas-tugas yang sesuai dengan tahapan tipe kecerdasan yang saat ini mereka miliki? #INISIATIF #TGIF

Lanjut part 2 Kunci Sukses DeepSeek Ada tiga hal utama yang membuat DeepSeek begitu luar biasa: 1. Efisiensi Teknologi: Mereka berhasil menciptakan model AI yang hemat energi dan tetap sangat canggih. Analogi sederhananya, jika model AI lain adalah mobil sport yang boros bahan bakar, DeepSeek adalah sepeda listrik yang bisa melaju jauh hanya dengan sedikit daya. 2. Keberanian Liang Wenfeng: Keputusan untuk membuat DeepSeek open-source membuka pintu kolaborasi global. Ini seperti membuka perpustakaan gratis bagi siapa saja yang ingin belajar dan berinovasi, sehingga DeepSeek berkembang lebih cepat. 3. Ketekunan Tim: Para insinyur muda di DeepSeek, meskipun bekerja dengan keterbatasan, memiliki semangat dan rasa kebanggaan nasional yang mendorong mereka untuk terus maju. Kompetisi AI Dunia: Masa Depan yang Baru Fenomena DeepSeek telah mengubah cara dunia memandang AI. Selama ini, perlombaan AI didominasi oleh dua “tim besar”: Barat, yang diwakili Amerika Serikat dan Eropa, dan Timur, yang diwakili Tiongkok. DeepSeek menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu datang dari pemain besar dengan sumber daya melimpah. Justru dalam keterbatasan, lahir solusi-solusi baru yang bisa mengguncang dunia. Dampak dari peluncuran DeepSeek tidak hanya terasa di dunia bisnis, tetapi juga dalam hal sosial. Dengan biaya yang murah dan akses terbuka, DeepSeek memungkinkan lebih banyak negara, komunitas, dan individu untuk menggunakan teknologi AI dalam kehidupan sehari-hari. Inspirasi dari DeepSeek Cerita DeepSeek adalah pengingat bahwa dalam dunia teknologi, siapa saja bisa menjadi inovator besar, asalkan mereka memiliki visi, keberanian, dan kemauan untuk bekerja keras. Liang Wenfeng dan timnya menunjukkan bahwa tantangan bukanlah penghalang, tetapi justru peluang untuk menciptakan sesuatu yang lebih baik. Kini, dunia menantikan langkah DeepSeek berikutnya. Apakah mereka akan terus memimpin, ataukah para raksasa teknologi lainnya akan menemukan cara untuk kembali ke puncak? Hanya waktu yang bisa menjawab. Tapi satu hal pasti: DeepSeek telah membuka babak baru dalam sejarah kecerdasan buatan dunia. (*) #INISIATIF

Kisah DeepSeek: Sang Pemain Baru dalam Kompetisi AI Dunia 🔥 oleh: Wicaksono Bayangkan sebuah perlombaan maraton besar yang d
Kisah DeepSeek: Sang Pemain Baru dalam Kompetisi AI Dunia 🔥 oleh: Wicaksono Bayangkan sebuah perlombaan maraton besar yang diikuti oleh pelari-pelari tercepat dari seluruh dunia. Selama bertahun-tahun, pelari dari Amerika Serikat, seperti OpenAI dan Google, selalu mendominasi. Mereka memiliki sepatu teknologi canggih dan pelatih terbaik. Suatu hari, seorang pelari dari Tiongkok yang tidak banyak dikenal, DeepSeek, muncul. Ia tidak memiliki sepatu mahal atau pelatih terbaik, tetapi entah bagaimana ia berlari lebih cepat, lebih jauh, dan dengan tenaga yang lebih sedikit. DeepSeek pertama kali diperkenalkan pada awal tahun 2025 oleh Liang Wenfeng, seorang visioner dan pendiri perusahaan ini. Sebelum mendirikan DeepSeek, Liang Wenfeng adalah seorang analis keuangan yang sukses di dunia hedge fund melalui perusahaannya, High-Flyer. Namun, hatinya tertarik pada teknologi, khususnya kecerdasan buatan. Ia melihat AI bukan hanya sebagai alat untuk menghasilkan uang, tetapi sebagai solusi untuk menjawab tantangan besar dunia, seperti efisiensi energi dan akses teknologi yang lebih inklusif. Perjuangan Liang dan DeepSeek Jalan menuju sukses DeepSeek penuh liku. Liang Wenfeng dan timnya bekerja di tengah keterbatasan teknologi akibat sanksi dari Amerika Serikat yang melarang ekspor chip canggih ke Tiongkok. Bayangkan seperti membangun mesin balap hanya dengan peralatan sederhana—itulah tantangan mereka. Namun, alih-alih menyerah, Liang memimpin timnya untuk menemukan cara baru. Tim DeepSeek terdiri dari para insinyur muda berbakat dari universitas-universitas top Tiongkok. Mereka bekerja siang dan malam, bereksperimen dengan cara yang belum pernah dicoba sebelumnya. Salah satu inovasi terbesar mereka adalah menciptakan arsitektur AI yang sangat hemat energi, yang mereka sebut sebagai Multi-head Latent Attention. Teknologi ini memungkinkan DeepSeek untuk memproses data besar tanpa menghabiskan banyak sumber daya. Ibarat mobil yang bisa menempuh jarak ratusan kilometer hanya dengan satu liter bensin. Liang juga memutuskan untuk membuat DeepSeek open-source. Ini adalah langkah yang berani, karena biasanya perusahaan teknologi besar menjaga model mereka seperti harta karun. Namun, Liang percaya bahwa pengetahuan adalah milik bersama, dan dengan membagikannya, DeepSeek bisa tumbuh lebih cepat dengan bantuan komunitas global. Peluncuran DeepSeek dan Dampaknya Saat DeepSeek diluncurkan, dunia seolah berhenti sejenak. Model AI mereka, yang lebih cerdas, lebih hemat energi, dan jauh lebih murah, langsung menarik perhatian. Bagi banyak perusahaan kecil, terutama di negara berkembang, DeepSeek menjadi jalan keluar dari dominasi teknologi mahal buatan Barat. Seperti seorang anak desa yang tiba-tiba mengalahkan juara dunia, peluncuran DeepSeek mematahkan anggapan bahwa hanya perusahaan besar yang bisa menguasai AI. Di sisi lain, perusahaan-perusahaan teknologi besar di Amerika Serikat, seperti Nvidia, Google, dan Microsoft, panik. Saham mereka jatuh, dan investor mulai mempertanyakan apakah dominasi mereka dalam dunia AI bisa bertahan. Banyak yang menyebut fenomena ini sebagai “momen Sputnik” bagi AI, merujuk pada kejutan dunia ketika Uni Soviet meluncurkan satelit pertama ke luar angkasa. Bersambung part 2 👇

APA?! BPJS BUBAR?!! 😱😭 📹 Arif Muhammad Cemana gak kaya kesambar petir mak beti dengar orang ngomong gitu. Udah jelas banyak kali yang kebantu gara- gara BPJS lo nakkuu. #bpjskesehatan #bpjsmilikkita INSTAGRAM: https://www.instagram.com/reel/DFW1cZky2mg/?igsh=MXI0eWY0bzd5ZnA4cQ== TIKTOK: https://vt.tiktok.com/ZS6WGmc91

Mengapa Kita Harus Waspada Terhadap "Anchoring Bias" di Media Sosial? 👩‍💻 oleh: Wicaksono Teman-teman, mari kita bayangkan
Mengapa Kita Harus Waspada Terhadap "Anchoring Bias" di Media Sosial? 👩‍💻 oleh: Wicaksono Teman-teman, mari kita bayangkan kita sedang berselancar di dunia media sosial. Semua orang di sini pasti pernah membuka ponsel, melihat berita, atau mungkin membaca postingan teman, bukan? Nah, pernahkah teman-teman merasa langsung percaya pada informasi pertama yang kalian baca, meskipun belum tahu kebenarannya? Itulah yang disebut dengan anchoring bias. Anchoring bias adalah kecenderungan seseorang untuk terlalu bergantung pada informasi awal (atau "anchor") ketika membuat keputusan atau menilai sesuatu, bahkan jika informasi awal tersebut kurang relevan atau akurat. Bias ini biasanya terjadi secara tidak sadar, memengaruhi cara seseorang memahami situasi atau membuat pilihan. Contoh Anchoring Bias Bayangkan kita sedang berjalan di pasar. Tiba-tiba seorang penjual buah menawarkan dagangannya. "Mangga ini harganya Rp100 ribu per kilo, tapi untuk Mbaknya yang cantik, saya kasih Rp80 ribu." Apa yang kalian pikirkan? Pasti merasa mendapat diskon besar, kan? Padahal, harga mangga di tempat lain mungkin cuma Rp50 ribu. Nah, di sinilah otak kita bermain dengan "anchor" atau titik acuan pertama, yaitu Rp100 ribu tadi. Di media sosial, hal yang sama terjadi. Saat kalian membaca sebuah judul berita sensasional, misalnya, "Artis A Menghina Artis B!", kalian langsung terpengaruh sebelum membaca isi beritanya. Judul itu menjadi "anchor" yang membentuk pendapat kalian. Padahal, setelah dibaca, mungkin ternyata itu hanya kesalahpahaman. Dalam kehidupan kita sehari-hari, banyak kasus lain yang memicu anchoring bias. Daniel Kahneman. Dalam bukunya "Thinking, Fast and Slow", menjelaskan bahwa otak kita punya dua cara kerja: yang cepat dan instan (System 1), serta yang pelan tapi cermat (System 2). Saat kita melihat informasi awal, otak kita yang cepat langsung menganggapnya benar, tanpa sempat berpikir panjang. Itu sebabnya anchoring bias sering muncul. Rolf Dobelli, penulis buku "The Art of Thinking Clearly", menjelaskan, bias seperti ini sering membuat kita salah mengambil keputusan. Misalnya, kita berpikir sesuatu itu mahal atau murah hanya karena melihat harga pertama yang ditawarkan, bukan karena membandingkannya dengan fakta. Nah, bayangkan jika semua orang di Indonesia terkena anchoring bias. Berita palsu jadi makin cepat menyebar. Opini yang salah jadi kebenaran di mata banyak orang. Hasilnya? Konflik yang sebenarnya tidak perlu terjadi malah meletus. Bagaimana Menghindari Bias Ini? Pertama, jangan percaya pada satu sumber saja. Pastikan berita yang kalian baca benar. Check and recheck. Jangan mudah terpancing judul click bait. Terkadang, judul berita sengaja dibuat mencolok agar kita penasaran. Jadi, baca isi berita sampai habis, ya! Sebelum menyebarkan informasi, tanyakan ke diri sendiri, "Apakah ini masuk akal?" Saring sebelum sharing. Setiap kali selesai mengonsumsi konten di media sosial, ambil waktu untuk berpikir sebelum memutuskan sesuatu. Tahan jari dan jempol. Begitulah, teman-teman, sekarang kalian tahu kenapa kita harus berhati-hati dengan informasi pertama yang kita lihat. Ingat, media sosial itu seperti samudra luas. Banyak yang indah, tapi ada juga yang berbahaya. Kalau kita bisa menggunakan otak kita dengan cermat, kita akan menjadi pelayar yang bijak di dunia digital. Siap jadi pengguna media sosial yang cerdas? #INISIATIF #TGIF

Bahan renungan bersama: 1. Jangan pernah kamu ludahi sumur tempat di mana kamu ambil airnya untuk minummu dan keluarga 2. Jan
Bahan renungan bersama: 1. Jangan pernah kamu ludahi sumur tempat di mana kamu ambil airnya untuk minummu dan keluarga 2. Jangan pernah kamu kotori rumah tempat kamu tinggal dan berlindung 3. Jangan pernah kamu jelekkan kantor/tempat kamu bekerja untuk mencari nafkah 4. Jangan pernah kamu fitnah teman atau sahabat tempat kamu curhat, berbagi kisah, meminta nasehat/pendapat bahkan meminjam sesuatu, walau apa yg kamu dapat atau terima tidak sesuai harapanmu, karena tidak ada manusia yg sempurna 5. Jangan kamu sebarkan hoax, kebencian, hasutan, juga fitnah di media sosial terkait rekan atau tempat kerjamu TETAPI... 1. Jika kamu sudah tidak butuh sumur yang lama, silakan buatlah sumur yang baru tanpa harus meludahi dan membuang sampah ke dalam sumur yang lama 2. Jika rumah tempat kamu tinggal dan berlindung sudah kotor, coba bersihkanlah jangan malah kamu tambahkan kotoran dan sampah yang baru 3. Jika tempat kamu bekerja dan mencari nafkah sudah tidak cocok dan membosankan, pindahlah dan carilah tempat kerja yang baru yang sesuai dengan harapanmu, tanpa harus menjelekan dan merendahkan tempat kerja yang lama 4. Jika teman atau sahabat tempat kamu curhat, diskusi, minta masukan dan nasehat bahkan meminjam sesuatu meskipun apa yang kamu dapat tidak pernah sesuai dengan apa yang kamu harapkan, maklumilah mereka karena tidak ada manusia yg sempurna 5. Jika grup kamu berada dan tempat kamu berbagi salam, doa, harapan, humor yang sehat, video, foto kebersamaan terasa sudah tidak nyaman/cocok/tidak betah dan tidak sefrekwensi lagi dengan passionmu, keluarlah baik-baik tanpa harus menyebar hoax, fitnah, hasutan, hujatan, kebencian dll, terlebih bila kamu masih mau stay di grup tersebut. 🙏 Have a nice Day 🥰 #INISIATIF

Drag Force (Gaya Hambat) dan Filosofi Hidup 🥰 oleh: Muhammad Farid Maricar Dalam kehidupan, kita sering menghadapi berbagai
Drag Force (Gaya Hambat) dan Filosofi Hidup 🥰 oleh: Muhammad Farid Maricar Dalam kehidupan, kita sering menghadapi berbagai bentuk hambatan, seperti angin yang menerpa pohon tinggi. Dalam ilmu mekanika fluida dan hidrolika, hambatan ini disebut sebagai drag force, yaitu gaya hambat yang dialami oleh suatu benda saat bergerak melalui fluida seperti udara atau air. Untuk rumus umumnya bisa baca di gambar ini. Hambatan adalah Bagian dari Pertumbuhan Semakin tinggi pohon, luas permukaan yang terpapar angin meningkat, sehingga drag force menjadi lebih besar. Pohon tinggi juga lebih rentan terhadap angin kencang yang dapat menekuk atau merobohkannya. Sama seperti pohon yang semakin tinggi menerima lebih banyak angin, manusia yang mencapai posisi tinggi dalam karier, ilmu pengetahuan, atau kehidupan sosial menghadapi lebih banyak hambatan. Hambatan ini bisa berupa tanggung jawab yang lebih besar, kritik dari orang lain, atau tekanan untuk terus berkembang. Hambatan-hambatan tersebut seharusnya tidak dianggap sebagai halangan, tetapi diterima sebagai bagian dari proses pertumbuhan yang menguatkan. Keseimbangan adalah Kunci Stabilitas Cara terbaik untuk menjaga pohon tetap berdiri adalah akar yang kuat dan fondasi tempat berdirinya yang kuat. Karena hal ini akan menjaga pohon tetap berdiri meskipun diterpa angin atau aliran air banjir. Semakin besar drag force, semakin penting peran akar sebagai penyeimbang. Akar dan fondasi manusia dalam hidup adalah nilai dan prinsip yang dipegang, hubungan dengan orang lain, serta dukungan moral dari keluarga dan sahabat. Akar ini memberikan fondasi yang kokoh untuk menghadapi tekanan hidup. Karenanya, penting untuk memperkuat akar kehidupan, seperti hubungan yang bermakna, prinsip yang kokoh, dan keimanan. Dengan akar yang kuat, kita dapat tetap stabil meski angin kehidupan menerpa. Fleksibilitas Dapat Mengurangi Risiko Batang pohon dan ranting pada dedaunan yang fleksibel dapat membelokkan energi angin alih-alih menahannya langsung, sehingga risiko patah atau roboh berkurang. Tentu, bentuk yang dinamis juga mempengaruhi koefisiennya. Itulah mengapa, terkadang kita perlu lebih fleksibilitas dalam pemikiran, tindakan, dan keputusan. Karena hal ini membantu seseorang menghadapi tantangan dengan cara yang adaptif, tentu tanpa mengorbankan prinsip-prinsip dasar yang kita pegang. Kekakuan, baik dalam prinsip maupun perilaku, sering kali menjadi penyebab kegagalan. Karenanya, jangan takut untuk beradaptasi dan mencari solusi kreatif. Dengan fleksibilitas, kita dapat "membelokkan" tekanan hidup tanpa harus patah secara utuh. Rendah Hati di Tengah Ketinggian Pohon yang tinggi memberikan manfaat bagi sekitarnya, seperti naungan, oksigen, dan ekosistem yang sehat. Pohon tidak pernah menonjolkan dirinya, tetapi justru berfungsi sebagai pelindung. Maka, sudah sepantasnya sebagai manusia, semakin besar pencapaian kita, semakin besar pula tanggung jawab sosial untuk berbagi manfaat kepada sesama. Keberhasilan harus disertai dengan sikap rendah hati. Karenanya, syarat menjadi pohon tinggi yang memberikan manfaat kepada banyak orang tanpa perlu berbangga diri. Karena keberhasilan yang sesungguhnya adalah bagaimana memberikan berdampak positif pada orang lain. Karenanya drag force dalam mekanika fluida, tetapi juga memberikan pelajaran filosofis yang dalam. Semakin tinggi pohon (atau manusia dalam kehidupan), semakin besar hambatan yang harus dihadapi. Namun, dengan akar yang kuat, batang yang fleksibel, dan dedaunan yang strategis, pohon (atau manusia) dapat tetap berdiri tegak. Filosofi ini mengajarkan pentingnya keseimbangan, fleksibilitas, dan rendah hati untuk menghadapi tantangan hidup. Wallahu'alam bish showab #INISIATIF

Saat Uka kembali ke Indonesia, ia mengunjungi rumah Paklik Isnogud, seorang pensiunan yang terkenal bijaksana. Uka menceritakan pengalamannya di Los Angeles dengan nada penuh kebingungan. “Paklik, saya hanya ingin memberikan informasi kepada penonton saya. Kenapa mereka marah?” tanya Uka. Paklik Isnogud menghela napas panjang sambil menyesap kopi hitam. “Uka, kamu tahu apa yang salah? Saat tragedi berubah menjadi latar belakang konten, kamu sedang mengesampingkan penderitaan manusia. Itu yang disebut normalisasi eksploitasi tragedi. Kamu menjadikan duka orang lain sebagai alat untuk menghibur atau mempercantik feed media sosialmu.” “Masalahnya, Nak,” lanjut Paklik, “media sosial menciptakan dorongan hedonisme digital. Orang-orang ingin mendapatkan validasi instan dalam bentuk likes dan komentar. Tragisnya, semakin dramatis atau kontroversial sebuah konten, semakin besar peluang untuk viral. Inilah yang membuat banyak orang tergoda untuk merekam tragedi tanpa berpikir panjang.” “Jadi saya salah karena mengikuti tren?” tanya Uka dengan nada rendah. “Bukan hanya soal tren, Uka. Ini tentang hilangnya rasa empati. Kamu begitu fokus pada angka dan popularitas hingga lupa bahwa di balik layar ada manusia yang menderita,” jawab Paklik sambil menatap tajam. Paklik melanjutkan dengan nada tegas, “Kita juga punya masalah lain: normalisasi eksploitasi tragedi. Ketika orang-orang terus merekam dan mengunggah konten dari lokasi bencana, itu memberikan pesan bahwa perilaku ini bisa diterima. Padahal, ini adalah bentuk penghinaan terhadap para korban. Alih-alih membantu, kamu malah mengganggu proses pemulihan mereka.” Uka terdiam, menyadari bahwa niat baiknya untuk memberikan informasi justru berubah menjadi tindakan yang menyakitkan bagi orang lain. Paklik mengubah nada bicara menjadi lebih lembut. “Uka, ini bukan akhir dunia. Tapi kamu harus belajar literasi digital yang benar. Literasi digital bukan cuma soal tahu cara pakai kamera atau mengedit video, tapi juga soal memahami dampak dari apa yang kamu unggah. Kamu harus tahu kapan merekam dan kapan menaruh kamera.” “Bagaimana caranya, Paklik?” tanya Uka dengan nada penasaran. “Pertama, hormati privasi korban. Jangan pernah merekam tanpa izin, apalagi di tempat yang penuh duka. Kedua, kalau kamu benar-benar ingin membantu, buatlah konten yang menginspirasi aksi nyata, seperti ajakan berdonasi atau kampanye kesadaran. Dan yang paling penting, tanya dirimu sendiri: apakah konten ini akan menyakiti atau membantu?” Paklik Isnogud melanjutkan nasihatnya. "Kreator konten seperti kamu, Uka, janganlah mengejar sensasi. Pahamilah bahwa tragedi bukan panggung. Berhenti mengeksploitasi penderitaan demi popularitas. Sebelum merekam atau mengunggah, bayangkan dirimu berada di posisi korban. Bagaimana perasaanmu jika tragedimu menjadi hiburan? Lebih baik kau gunakan media sosial untuk menyebarkan informasi yang bermanfaat, bukan untuk mengeksploitasi. Fokus pada dampak positif daripada angka viral. Media sosial bisa menjadi alat untuk membantu, bukan untuk menyakiti. Jadi gunakan platform ini untuk menyebarkan empati, bukan eksploitasi.” “Empati, Uka, adalah kunci agar kita tetap menjadi manusia, meski hidup di dunia digital. Tragedi bukanlah panggung, dan manusia bukanlah alat. Di dunia di mana 'likes' lebih dihargai daripada kepedulian, kita harus ingat bahwa empati adalah nilai yang tidak boleh hilang, bahkan di era digital." #INISIATIF