fa
Feedback
(DISBANDED) Abyss Of The Horizon.

(DISBANDED) Abyss Of The Horizon.

رفتن به کانال در Telegram

𝟭𝟭𝟭𝟳 : Wandering multiple horizons to pursue vis dreams and holy grail, th' eighth juvenile cherish each other amidst the equivalent courage. Will thou affix xyr jaunt 'nd decisively perceive vis trueselves? ✶

نمایش بیشتر
3 669
مشترکین
اطلاعاتی وجود ندارد24 ساعت
-587 روز
-35230 روز
آرشیو پست ها
"Sialan, masa gua beneran harus bunuh temen gua sendiri." Gumam Hogan setelah membaca kertas itu. "Persetan gua juga mau keluar dari sini, sorry banget Dy." Ia remat kertas itu dan mengambil palu sebagai senjata tuk menghabiskan nyawa temannya. Baru saja ia berdiri berniat keluar dari gudang kecil itu, Hogan terkejut dengan keberadaan Woody yang tiba-tiba disana dengan wajah tanpa ekspresi.

JIAKH PADA PENASARAN YAK?

Abang lanjut ya dik adik

Anciss keren keren bat dah bener coyyy, nanti di wink sama bg windah kata ilham

Siapa yang bener jawab 'a death' ?

Mereka akhirnya memutuskan untuk berpencar lagi. Woody, orang pertama yang meninggalkan dapur, ia sangat takut jika akan dibunuh oleh sahabatnya itu. Dia tidak mau mati konyol ditempat ini, ia berusaha mencari jawaban untuk keluar dari tempat ini. Sedangkan Hogan hanya menghela nafasnya melihat tingkah sahabatnya yang seperti itu, lalu dia memilih mencari petunjuk dari teka-teki itu dilantai dua. Sejam berlalu akhirnya Hogan menemukan titik terang dari teka-teki tersebut. Dia menuruni tangga hendak menebak jawaban yang ia miliki. Dari petunjuk yang ia dapat, komputer itu berada di gudang kecil dibawah anak tangga. Ia segera membuka ruangan itu dan benar saja ada sebuah komputer dan brangkas disana. Hogan langsung memasukkan jawaban dari teka-teki itu 'a death'. Sebuah lemari otomatis terbuka dan disana terdapat banyak perkakas dan secarik kertas dengan tulisan yang ia yakini adalah perintah dari si pembunuh seperti yang dibicarakan Simon.

PLIS 😭😭😭😭

Kosyak etmin sudah mulai error apa lanjut besok? 😱😱😱

Jawabnya 1 aja ya gusy, jangan dua agar mengurangi kecuarangan 😋

What am i?
Anonymous voting

Iya lanjut iyaa

Lanjut besok yh 😋

Woody dan Hogan berjalan menyusuri lorong yang menuntun mereka memasuki sebuah dapur. Disana ada mayat pria berpakaian koki dengan pisau menusuk dadanya tepat di jantung hingga menembus mengenai papan kayu yang selalu ia gunakan untuk mencecang daging, hal itu membuat bulu kuduk mereka berdiri, dan diatas tubuh mayat itu terdapat secarik kertas. "Aduh duluan coba, gua takut cil." ujar Woody kepada Hogan agar ia berjalan lebih dulu mendekati mayat tersebut. Hogan menyadari bahwa sahabatnya itu mulai takut dan tidak percaya dengannya. Namun dia memilih diam dan berjalan mendekati mayat itu, untuk membaca isi dari kertas. "Teka-teki selanjutnya nih, sini deh, Dy." Mendengar itu Woody berjalan menghampirinya.

Kitchen.
Kitchen.

"Hogan? Lu ngapain sama siapa?" Tidak lama setelah Hogan memukul Simon dengan patung batu Woody datang dari arah kanan. Raut Woody langsung berubah menjadi terkejut melihat kekacauan disana. "What the fuck." Woody menatap kearah tiga pria yang tergeletak dilantai, beralih menatap horror sahabatnya itu dan melihat patung batu ditangannya dengan bercak darah disekitar. "Lu ngebunuh mereka?" Dengan cepat Hogan menggelengkan kepala dan melepaskan patung batu dari genggamannya. "Sumpah, Dy. Bukan gua yang ngelakuin." Woody langsung teringat dengan isi kertas di ruangan sebelumnya 'they can betrayed you.' Rasa trust issue itu mulai mengambil alih perlahan. "Please percaya sama gua, Simon bilang katanya mereka disuruh dari sebuah kertas gitu, gua juga ngga paham." jelas Hogan agar sahabatnya tetap percaya padanya. Dengan perasaan ragu akhirnya Woody mengangguk. "Y-yaudah deh yuk lanjut aja, kayaknya pertanyaan emang udah kejawab." ajak Woody yang jalan lebih dulu, jujur ia mulai takut dengan sahabatnya sekarang.

Disisi lain, Hogan yang masih sibuk mencari petunjuk mendengar suara erangan kesakitan dari tempatnya. "Woody? Lu dimana?" Hogan berjalan mendekati sumber suara, ia mencari barang untuk dijadikan senjata. Akhirnya Hogan mengambil patung batu sebagai senjata dan berjalan hati-hati menuju sumber suara dengan perasaan was-was. "Woody? Lu dimana?" panggil Hogan lagi. Suara erangan itu sudah hilang namun ia tetap berjalan untuk mengeceknya, alangkah terkejutnya ia melihat Naraya sudah tergeletak tak bernyawa dengan kuping yang sudah tidak ditempatnya lagi, tubuhnya juga sudah terbedah. Yang membuatnya lebih terkejut adalah ia melihat Simon melakukan hal tersebut, bisa dia sedang mengambil hati milik korbannya. Bahkan disana ia juga melihat Khale yang sudah tak bernyawa dengan keadaan sama mengenaskan. "Orang gila lu, Mon, ngga ada otak ya?!" ucapnya saat melihat adegan sangat keji didepannya. "Ini semua lu yang lakuin? Bejat lo!" lanjutnya. Simon yang terkejut setelah berhasil memotong hati korbannya, mendongak untuk melihat orang di depannya. "Sumpah gua dapet perintah buat kayak gini, ada kertas yang merintah gua buat ngelakuin ini, gua ga bunuh Khale. N-Naraya yang bunuh Khale gua cuma mau ngasih hal yang setimpal atas perbuatannya." jelas Simon, berusaha membela dirinya agar Hogan percaya. "Bullshit." Tanpa pikir panjang ia berjalan mendekat dan memukul kepala Simon dengan patung batu itu, membuatnya terjatuh ke lantai. Karena pukulan yang diberi Hogan sangat kencang membuatnya tidak sadarkan diri dengan darah mengalir dari kepalanya.

"udah gila." umpat Simon. Ia langsung meremat kertas itu dan membuangnya sembarang, batinnya berkonflik dengan sebuah pilihan yang harus ia ambil. Dengan berat hati, ia mengambil pisau dan pergi mencari Naraya. Setibanya di sana, Simon mendapati Naraya baru saja selesai memotong jantung milik Khale dan menaruh jantung itu diatas lantai. Dapat Simon lihat kondisi Khale sangat mengenaskan, mata yang telepas, tubuh yang dibelah dengan asal bahkan organnya terburai keluar, itu sangat membuat Simon mual melihatnya. Simon diam mematung saat Naraya membalikkan tubuhnya, mereka terkejut satu sama lain. Naraya maju menghampiri Simon dengan tubuh yang penuh darah. "Simon please percaya sama aku, aku disuruh melakukan hal ini." "Lu udah gila kak, lu psycho." ucap Simon yang tidak percaya perkataan Naraya. "Please percaya sama aku, aku ngga begitu, jangan bunuh aku." pinta Naraya. Simon dengan konflik batin dan trust issue kepada pria yang didepannya. "Ngga, lu harus dapet yang setimpal." ujar Simon yang juga mengeluarkan pisau yang ia ambil sebelumnya. Naraya panik dan berdiri untuk melarikan diri, namun Simon cepat menyelengkat kakinya, membuatnya terjatuh. Kepala Naraya membentur meja lampu, dan matanya terkena serpihan kaca akibat lampu yang jatuh, sang empu mengerang kesakitan. Simon jalan mendekat "Maaf kak, kalau emang lu diperintah untuk melakukan itu, gua juga diperintah buat ngelakuin ini ke lu." Simon berlutut dan mulai memotong telinga milik Naraya. Membuat Naraya mengerang kesakitan meminta ampun, rasa sakitnya bertambah saat ia merasakan pisau itu memotong telinganya.