Ask The Experts
رفتن به کانال در Telegram
Channel ini merupakan pengembangan dari Grup nasional ATE khusus Internal BPJS kesehatan yang membernya lebih dari 6.000 Orang Duta BPJS Kesehatan Selindo 🇲🇨 https://www.instagram.com/commit_asktheexperts?igsh=ZmpmN2xqbWFjZjBn
نمایش بیشتر1 856
مشترکین
اطلاعاتی وجود ندارد24 ساعت
اطلاعاتی وجود ندارد7 روز
+2730 روز
آرشیو پست ها
1 856
Terpengaruh 🤝
Oleh: Hasanudin Abdurakhman
Orang zaman dulu punya pepatah,”Berteman dengan tukang minyak wangi, kita akan ketularan wanginya.” Saya ledekin,”Itu artinya kamu ndak sanggup beli minyak wangi, jadi cuma ketularan.”
Itu adalah ajaran tentang keterpengaruhan. Tepatnya, sekelumit ajaran. Di sisi lain juga ada peribahasa,”Ikan hidup di laut, tak membuat dagingnya asin.” Paham kan maknanya?
Manusia dipengaruhi lingkungan. Itu sebuah kepastian. Tapi pengaruh tidak sama dengan mengikuti. Pengaruh itu adalah perangsang, atau stimulan. Reaksi orang terhadap perangsang bisa berbeda-beda. Ada yang mengikut, ada yang menolak. Keduanya tetap bisa disebut terpengaruh. Artinya tidak hanya yang mengikut saja yang disebut terpengaruh.
Artinya, manusia sebenarnya punya pilihan. Pilihan apa yang ia buat, tergantung pada prinsip yang dia anut. Ia akan memilih sesuatu yang sesuai dengan prinsip dia, dan menolak sesuatu yang melanggar prinsip. Jadi, kita tidak perlu khawatir soal pengaruh, selama kita punya prinsip.
Waktu SMA saya berteman dengan anak-anak nakal. Banyak teman saya yang suka mabuk. Saya berprinsip untuk tidak minum. Saya tidak ikut terpengaruh. Di Jepang semua teman Jepang saya minum. Saya juga tidak ikut.
Demikian pula, bergaul dengan orang yang berbeda agama dengan kita tidak akan membuat kita pindah agama, kalau kita punya prinsip.
Orang yang gampang terpengaruh adalah orang yang tidak punya prinsip. Itulah yang saya gambarkan dengan orang yang tidak sanggup membeli parfum tadi. Kita berteman dengan penjual parfum. Kalau kita anggap parfum itu baik, kita beli dan kita pakai, dong. Tanggung amat kalau cuma tertular baunya. Faktanya, bau parfum itu tidak menular, kecuali kalau Anda berpelukan dengan tukang parfum.
Maksudnya, kalau mau mencari hal positif dari orang lain, jangan tanggung hanya dengan tertular atau terpengaruh. Ambil dan anutlah prinsipnya. Jadilah, bukan tertularlah. Menjadi itu hal yang sangat berbeda dengan terpengaruh. Terpengaruh itu reaktif, menjadi itu proaktif.
Proaktif adalah 1 dari 7 kebiasaan orang efektif yang diajarkan oleh Stephen Covey.
Intinya, anutlah prinsip-prinsip, hiduplah dengan prinsip itu. Setiap tindakan Anda diambil atas dasar prinsip itu, bukan sebagai reaksi atas apa yang Anda hadapi, atau reaksi atas sikap orang lain.
#INISIATIF #TGIF
1 856
Oleh: Fahmi Hasan Nugroho
Untuk memberikan motifashit kepada mahasiswa, saya sering menjelaskan bahwa kita punya empat modal dalam hidup yang menjadi pintu kesuksesan kita ke depan:
1) Ilmu (dan ijazah), ini adalah sumber paling mahal karena dibayar dengan UKT dan waktu perkuliahan (termasuk mesantren) yang tidak sebentar. Jika kita kuasai benar materi yang kita dapatkan selama masa belajar, kemudian kita bisa bertanggung jawab dengan ilmu itu, kita pede dengan itu, maka itu bisa kita jual.
Sayangnya tidak selalu apa yang kita pelajari ternyata membawa kita pada kesuksesan, karena tidak sedikit orang yang bekerja di luar dari bidang yang ia pelajari sebelumnya, maka modal kedua adalah:
2) Skill, ini adalah sumber yang sebenarnya bisa dicari dengan mudah. Menulis, mengetik cepat, mengetik Arab, menerjemahkan, public speaking, mempengaruhi orang, mediasi, negosiasi, storytelling, memasak, barista, dan banyak skill lain yang bisa dipelajari baik secara gratis ataupun dengan mengikuti pelatihan dan sertifikasi.
Terkait dengan ini saya teringat dawuh alm. KH. Imam Badri yang mengutip satu ayat dari Surat Yusuf, "Jangan kalian cuma masuk dari satu pintu saja, tapi masuklah dari banyak pintu", maksudnya adalah jika kita punya banyak skill maka kita kita punya banyak alternatif skill yang bisa dijual.
3) Reputasi, nama baik, attitude, bagaimana kita menjaga kepercayaan orang, menjaga amanah orang, menjaga uang orang, komitmen dengan setiap keputusan. Ini penting karena sering kali kesempatan datang melalui rekomendasi dari orang lain.
4) Relasi, dan ini harus disimpan paling akhir agar fokus utama membangun 3 poin pertama dulu. Jika tiga modal sudah kita miliki, ketika kita masuk ke suatu tempat melalui relasi, kita bisa mempertanggungjawabkan bahwa kita memang pantas untuk mendapatkan itu.
Nah, masalahnya, banyak orang yang menjadikan relasi sebagai modal utama, padahal dia ga punya ilmu dan skill yang menjual, attitude-nya juga buruk, orang seperti ini hanya akan mempermalukan orang yang mengajaknya masuk. Orang masuk, bekerja, menempati posisi penting hanya karena bapaknya berpengaruh, tapi ternyata ilmunya kosong, skillnya kosong, yang terjadi malah malu-maluin. Dan ketika ini sudah menjadi budaya, "orang dalam" membawa masuk orang-orang karena kedekatan dan bukan karena kompetensinya, maka kebobrokan itu menjadi massif terlihat di setiap lini.
#INISIATIF
1 856
Clash Of Champions (COC) BPJS Kesehatan 2025 udah masuk fase paling panas dan 10 champions kita siap banget unjuk kemampuan terbaiknya. Sebelum kita masuk ke arena paling bergengsi, kenalan dulu yuk sama mereka biar makin bangga sama talenta-talenta terbaik di BPJS Kesehatan 🇮🇩
Sekarang saatnya kamu ikutan meramaikan: - Dukung jagoanmu - Sekalian tebak siapa yang bakal ngisi Top 3 (Juara 1, 2, 3) di kolom komentar - Prediksi paling akurat berpeluang dapetin gift kece (YES, cuma buat 3 orang paling jago nebak) 🎁https://www.instagram.com/p/DRhLdmaCeis/?igsh=MWxoMTZuc2c0bnpieg==
1 856
Oleh: Sucipto Hadi Saputro
Sekarang ini banyak orang yang sibuk bersenang-senang dan menikmati hidup bersama pasangannya, tapi tanpa sadar orang tua mulai terabaikan. Ada juga yang membenci mertuanya seolah-olah mertua itu musuh. Padahal, tanpa mertua, tidak akan ada pasangan yang kini kita sayangi dan banggakan.
Sebagai menantu, kita tidak selalu dituntut untuk sepenuhnya cocok dengan mertua. Karakter setiap orang jelas berbeda, dan sikap mertua tidak selalu ideal di mata kita. Tapi membalas ketidakbaikan mereka dengan kebencian hanya akan menambah masalah. Sementara bersabar, berakhlak baik, dan menjaga hubungan adalah bagian dari menjaga rumah tangga kita sendiri.
Hati-hati, setiap perbuatan itu ada balasannya. Suatu hari nanti, kita bisa saja mendapatkan menantu yang sifatnya mirip seperti cara kita bersikap hari ini, yakni malas menghormati, mudah merasa muak, dan hanya peduli pada kenyamanan diri sendiri. Saat itu tiba, barulah kita mengerti pahitnya diabaikan. Mungkin anak tetap memberi uang, tapi hatinya sudah jauh.
Dan ketika usia makin lanjut, tenaga berkurang, dan tubuh tidak sekuat dulu, barulah terasa bahwa yang benar-benar kita rindukan adalah kehadiran dan perhatian anak-anak kita. Bukan liburan, bukan kesenangan sesaat, dan bukan pembelaan egonya.
Maka jadilah anak dan menantu yang berbakti. Dukung pasangan agar semakin dekat dengan orang tuanya. Jangan justru menambah permusuhan dan memperlebar jarak. Karena rumah tangga yang baik bukan hanya tentang dua orang yang saling mencintai, tapi juga tentang bagaimana mereka menjaga hubungan dengan orang yang dulu mendidik dan membesarkan mereka.
#INISIATIF
1 856
Oleh: Ibrahim Vatih
Banyak orang berpikir bahwa untuk berubah, yang paling utama adalah niat.
Padahal, sekuat-kuatnya niat, dia bisa habis jika berada di tempat yang salah.
Coba lihat satu contoh:
Orang yang punya semangat untuk disiplin, tapi setiap hari berada di lingkungan yang santai, ngga ada target, ngga ada evaluasi, lama-lama semangat itu ikut melempem.
Sebaliknya, orang yang awalnya biasa-biasa aja, ketika masuk ke lingkungan yang penuh energi, standar tinggi, dan orang-orang yang serius dengan hidupnya, perlahan ikut berubah.
Kenapa bisa begitu?
Karena ekosistem membentuk karakter dan mindset seseorang.
Lingkungan itu punya kekuatan untuk:
1. Menularkan semangat.
2. Menaikkan standar.
3. Membentuk cara pikir.
4. Bahkan mengubah kebiasaan tanpa sadar.
Apa yang awalnya terasa berat, jadi ringan. Yang awalnya asing, jadi biasa.
Semua karena lingkungan sekitar ikut mengarahkan.
Kita ini makhluk yang adaptif. Kita menyesuaikan diri baik dalam hal positif, maupun negatif.
Maka penting untuk berhenti sejenak dan bertanya:
Ekosistem seperti apa yang sedang saya jalani sekarang? Apakah ia membawa saya lebih dekat ke cita-cita dan nilai-nilai ideal? Atau malah menjauhkan saya pelan-pelan?
Jika ingin berubah, jangan hanya ubah cara pikir.
Ubah juga tempat berpijak.
Karena tempat itu bisa menentukan arah dan kecepatan pertumbuhanmu.
Kadang, kamu nggak butuh lebih banyak motivasi. Kamu hanya butuh pindah ekosistem.
#INISIATIF
1 856
Oleh: Fahmi Hasan Nugroho
Pernah dengar cerita orang yang marah-marah ketika ditagih utang? Atau jangan-jangan anda pernah mengalaminya sendiri? Sebenernya, harusnya kan dia sadar bahwa yang nagih itu sedang meminta haknya yang ditahan oleh si peminjam, tapi kenapa dia malah ga mau bayar? Jawabannya sederhana sih, karena manusia lebih sering mengambil keputusan keuangan dengan menggunakan emosi ketimbang rasio. Apalagi kalo dia ga punya literasi finansial yang baik.
Ada dua bagian otak manusia yang saling berperan dalam pengambilan keputusan. Pertama adalah Amigdala, dia punya respon cepat, mengaktifkan survival mode, fight or run, dia mengatur emosi manusia, inilah otak purba manusia yang telah terlatih ribuan tahun ketika manusia masih hidup "bersama" dengan hewan lain. Kedua adalah Lobus Frontal, responnya lambat karena memang fungsinya untuk berpikir logis dan mendalam.
Terkait dengan uang, manusia paling ga suka jika ia kehilangan uang, akan lebih ga suka lagi kalo dia kehilangan kesempatan keuntungan. Dalam dua hal ini sering kali kita mengaktifkan survival mode (yang ga logis itu), dengan tujuan agar kita tetap bisa survive dan sebisa mungkin tidak mengalami kehilangan. Orang yang marah ketika ditagih itu karena dia merasa bahwa dia akan kehilangan uang karena harus menyerahkan sebagian harta yang ada di tangannya kepada orang lain. Orang terjerat juday online itu karena dia melihat ada kesempatan keuntungan dan ga mau kehilangan kesempatan itu, maka dia akan top up meski menghabiskan sebagian besar pendapatannya dengan berharap dia akan mendapatkan keuntungan itu. Dalam dua kasus itu, amigdala akan membanjiri otaknya dengan adrenalin sebagai bentuk pertahanan diri, jantungnya berdebar, otaknya buntu, dia dikendalikan oleh emosi hingga keputusan yang ia ambil jauh dari kata logis.
Nah, belajar finansial itu melatih lobus frontal agar bisa digunakan dalam mengambil keputusan keuangan dengan terencana, logis dan teratur. Kita berlatih merencanakan keuangan dengan melihat kepada kondisi riil, kemampuan dan potensi yang bisa terjadi di masa yang akan datang. Kita belajar bahwa di setiap potensi keuntungan itu ada potensi kerugian yang sama besarnya. Kita belajar bahwa tidak ada keuntungan dan kekayaan yang instan. Kita juga belajar bahwa setiap pilihan yang kita ambil itu memiliki konsekuensi, maka kita akan selalu memikirkan konsekuensi dari setiap pilihan sebelum kita menentukan pilihan tersebut.
Ini bukanlah hal yang mudah karena ini dibentuk oleh kebiasaan. Banyak orang yang sudah mengerti investasi lalu tergiur dengan potensi keuntungan yang cepat, dia FOMO dan masuk ke satu instrumen tanpa pertimbangan matang, dan sering kali mendatangkan kerugian. Banyak juga yang tidak berani mengambil keputusan karena takut akan kehilangan uang hingga ia tidak jadi berkembang.
Maka teman-teman, belajar finansial itu penting, setidaknya untuk melatih otak kita agar terbiasa mengambil keputusan finansial dengan logika, bukan dengan emosi.
#INISIATIF
1 856
Siapa bilang healing di kantor cuma bisa lewat kopi? 😎
Kalau kamu lagi cari “olahraga anti ribet tapi manfaatnya maksimal”, ya disinilah tempatnya. Let’s smash the day together 🏓
https://www.instagram.com/p/DRb79H0ibfz/?igsh=eHFyYWZhdjRuZTU5
1 856
Oleh: Ibrahim Vatih
Ada dua cara pandang yang subsconcious (alam bawah sadar) membentuk seluruh arah hidup kita:
1. Pola pikir kekurangan (scarcity)
2. Pola pikir kelimpahan (abundance).
Pola pikir scarcity percaya bahwa dunia ini sempit, sumber daya terbatas, dan peluang hanya datang satu kali.
Kalau orang lain sukses, berarti kesempatan dia berkurang. Kalau orang lain dapat proyek, berarti dia sudah kalah saing. Kalau teman dapat promosi, berarti posisi dia terancam.
Pola pikir ini penuh kecemasan, minim rasa syukur, dan akhirnya membuat mereka sulit berkembang, karena selalu hidup dalam mode "defensif".
***
Sebaliknya, pola pikir abundance percaya bahwa dunia ini luas, rezeki itu datang dari banyak arah. Kesuksesan orang lain bukan ancaman, tapi inspirasi. Kebaikan yang dia sebarkan bukan mengurangi, tapi justru membuka lebih banyak peluang.
Orang dengan pola pikir abundance lebih tenang, lebih mudah berbagi, lebih mampu fokus pada proses, bukan hanya hasil.
Dan yang menarik, mereka cenderung lebih dipercaya oleh orang-orang di (lingkungan) sekitarnya, karena energi mereka positif dan konstruktif.
***
Saya pernah ada di fase scarcity.
Tapi perlahan, ketika mulai belajar membuka perspektif, saya sadar bahwa banyak sekali peluang yang justru datang ketika kita tenang, sabar, dan ngga serakah.
Saya pernah membaca satu pemikiran menarik,
“Bangunlah bisnis saat kamu tidak sedang butuh-butuh amat.”
Saat kita membangun sesuatu dalam kondisi tenang, tanpa tekanan, dan tidak sedang tergesa-gesa mencari uang, pikiran kita bisa lebih jernih.
Kita bisa membuat keputusan jangka panjang, bukan keputusan darurat yang seringkali berbiaya mahal.
Kita bisa merancang strategi, bukan cuma bertahan hidup.
Inilah kekuatan dari pola pikir abundance.
Kita bergerak bukan karena panik, tapi karena sadar.
Seringkali, yang bikin kita sulit bukan kondisi, tapi cara pandang kita sendiri.
Kalau kamu sering merasa sempit, kalah duluan, atau iri dengan pencapaian orang lain, mungkin ini saatnya refleksi,
"Apakah saya sedang menjalani hidup dengan pola pikir scarcity?"
Latih pola pikir abundance.
Bukan untuk jadi naif, tapi agar hidup terasa lebih lapang, damai, dan penuh peluang.
Dunia ini luas.
Tapi cara pandang kitalah yang bisa mempersempit atau meluaskannya.
Dan kabar baiknya, cara pandang itu bisa kita pilih.
#INISIATIF
1 856
Untuk Laki-laki: Bekerjalah, Cukupi Nafkah Keluargamu 💪
Oleh: Hasanudin Abdurakhman
Cukup sering saya mendapat pesan di FB messenger dari para perempuan. Mereka mengeluh karena suami mereka tidak bekerja, dengan penghasilan yang cukup untuk menghidupi keluarganya. Maksudnya, ada yang bekerja tapi hasilnya tidak cukup. Ada pula yang memang tidak bekerja sama sekali.
Ada cukup banyak cerita tentang orang yang tadinya bekerja dengan penghasilan lumayan, tapi kemudian berhenti, lalu tidak punya penghasilan. Alasan berhenti itu sungguh sepele, atau tidak jelas sama sekali. Ada yang misalnya berhenti kerja dengan alasan situasi kantor tidak kondusif. Ada yang berhenti karena ingin tinggal dekat dengan orang tua.
Kenapa itu semua saya anggap sepele? Di hadapan kewajiban untuk menafkahi keluarga, itu semua sepele. Prinsip saya, kerja memang tidak semuanya nyaman dan menyenangkan. Kalau suatu kerja mendatangkan hasil yang cukup untuk menafkahi keluarga, ada ketidaknyamanan akan saya hadapi. Suasana tidak nyaman itu tidak seberapa dibandingkan dengan rasa tidak nyaman karena nafkah keluarga tidak terpenuhi. Sebagai kepala keluarga saya menempatkan kenyamanan saya di posisi nomor sekian, bukan hal utama. Ada kalanya kita harus mengorbankan kenyamanan kita demi keluarga.
Tidak jarang alasannya hanya mengada-ada. Ada sedikit ketidaknyamanan sudah menyerah. Saya harus katakan, kerja memang begitu. Ada banyak ketidaknyamanan. Tapi ingat, kerja itu tumpukan tanggung jawab. Ini tidak melulu soal bahwa kita dibayar dan uangnya bisa dipakai untuk menafkahi keluarga. Di luar soal itu, kita memang dituntut untuk bisa mengatasi berbagai persoalan dalam bekerja. Termasuk mengatasi ketidaknyamanan itu. Jadi, kalau ada ketidaknyamanan, atasi. Bukan malah berhenti.
Dalam bekerja kita tidak hanya dituntut untuk bertahan, tapi juga meningkat. Kebutuhan keluarga meningkat seiring pertumbuhan anak-anak. Inflasi juga membuat nilai uang kita mengecil. Kalau tidak meningkat, penghasilan yang tadinya cukup jadi tidak cukup. Tidak sekadar bekerja, seorang penanggung jawab nafkah keluarga wajib membuat program pengembangan diri, sekaligus rencana peningkatan penghasilan. Sering saya harus menghela nafas kalau menemukan orang yang sudah mau 50 tahun usianya, tapi penghasilannya belum beranjak jauh dari nilai UMK.
Sudah bekerja pun belum cukup bagus kalau tidak ada peningkatan. Apalagi tidak bekerja.
Di sisi lain, banyak perempuan yang cuma mengeluh dan merengek saat suaminya tidak bekerja atau berpenghasilan cukup. Hanya sedikit yang berani keluar dari zona nyaman nyonya rumah, lalu bertarung untuk mengambil tanggung jawab yang diabaikan suaminya. Yang bertarung ini ada yang sukses, tapi itu tidak mengubah suaminya.
Ada perempuan yang mengeluh soal kekurangan nafkah, tapi saya lihat penampilannya di media sosial seperti sosialita.
#INISIATIF #TGIF
1 856
+2
INFO PODIUM 🏆
Selamat kepada team mini soccer BPJS Kesehatan KC Kebumen yang keluar sebagai Juara 3 dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Nasional ke-61 yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Kebumen 19-20 Nopemeber 2025 🇲🇨
#INISIATIF
1 856
+2
INFO PODIUM 🏆
Selamat kepada team Bulutangkis beregu BPJS Kesehatan KC Kebumen yang keluar sebagai Juara 3 dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Nasional ke-61 yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Kebumen 18 Nopemeber 2025 🇲🇨
#INISIATIF
1 856
Selamat kepada para pemenang 🏆
https://www.instagram.com/lifeatbpjskesehatan?igsh=MWtwYWo4NXA3YjY1
1 856
ILMU HOKI BERNAMA KONSISTENSI 🤝
Oleh: Ibrahim Vatih
Orang sering ngira keberuntungan itu turun dari langit, acak, misterius, dan ngga bisa dikendalikan.
Tapi kalau diperhatikan, keberuntungan cenderung muncul di sekitar orang yang konsisten.
Orang yang tetap hadir saat orang lain memilih untuk berhenti. Orang yang mengerjakan hal yang sama dan terkesan membosankan.
Orang lain akan anggap dia beruntung (hoki). Padahal ngga, itu efek samping dari konsistensi.
Psikologi udah lama mengenali pola ini. Fenomena mere-exposure effect yang ditemukan oleh Robert Zajonc menunjukkan bahwa hal yang sering muncul akan lebih mudah dipercaya, dipilih, dan diingat.
Jadi ketika kamu konsisten berkarya, muncul, dan membangun jejak, kamu sebenarnya sedang memperbesar peluang untuk ditemukan.
Di buku Outliers-nya Malcolm Gladwell menjelaskan bagaimana jam terbang menciptakan momen-momen kebetulan yang sebenarnya bukan kebetulan.
The Beatles dianggap “beruntung” mendapatkan kesempatan tampil di panggung besar. Tapi sebelum itu, mereka udah ribuan jam tampil di event-event kecil di Hamburg. Kesempatan itu datang karena mereka udah siap secara skill dan momentum. Lagi-lagi hasil dari konsistensi.
Penelitian dari University of London tentang compound practice juga menunjukkan bahwa latihan kecil yang dilakukan terus-menerus jauh lebih signifikan dampaknya dibanding latihan besar tapi jarang.
Kemampuan untuk tumbuh secara perlahan sering membuat seseorang tampak lebih beruntung, padahal dia emang lebih siap daripada kebanyakan orang.
Secara matematis pun keberuntungan bisa dijelaskan. Konsep law of large numbers dalam statistik menjelaskan bahwa semakin banyak percobaan, semakin besar peluang mendapatkan hasil yang baik.
Satu percobaan peluangnya kecil. Seratus percobaan peluangnya akan berbeda.
Bukan berarti kamu jadi orang yang hoki, kamu cuma memerintahkan angka-angka untuk memihak padamu.
Juga dalam studi tentang serendipity, seperti yang ditulis oleh Christian Busch dalam bukunya The Serendipity Mindset, dijelaskan bahwa kebetulan yang baik sering lahir dari rangkaian tindakan kecil yang konsisten sehingga membuka pintu-pintu opportunity.
Orang yang ngga konsisten hanya membuka sedikit pintu. Orang yang konsisten akan membuka banyak pintu, sehingga peluang menemukan opportunity jadi berkali-kali lipat lebih tinggi.
Keberuntungan akhirnya bukan soal nasib, bukan soal bakat, bukan soal momentum kosmik. Keberuntungan lebih sering merupakan konsekuensi dari orang yang ngga hilang. Orang yang menaruh lebih banyak jejak di dunia, sehingga kemungkinan untuk disapa oleh peluang, meningkat secara drastis.
Jadi kalau kamu ingin terlihat lebih "beruntung", sebenernya jawabannya sederhana; konsisten aja.
Bekerja lebih stabil. Hidup lebih teratur. Dominasi hari-hari dengan hal positif. Tetap berbagi. Tetap beribadah. Tetap berjalan dan tetap bertahan.
Konsistensi, pada akhirnya, adalah cara paling rasional untuk menciptakan keberuntungan.
#INISIATIF
1 856
GRAND FINAL BPJS IDOL SEASON II 2025 🇲🇨
Saksikan behind the scenenya
https://www.instagram.com/lifeatbpjskesehatan?igsh=MWtwYWo4NXA3YjY1
1 856
oleh: Dedi Priadi
Dalam benak seorang pencemas, kecemasan bukan sekadar masalah pikiran, melainkan monster raksasa yang mendominasi seluruh layar mental. Seperti tampak dalam ilustrasi, pencemas membesar-besarkan bayangan masalah, sehingga pikirannya terisi penuh oleh spekulasi negatif mengenai masa depan yang belum terwujud.
Pola pikir ini sering menjebak seseorang dalam 𝘤𝘢𝘵𝘢𝘴𝘵𝘳𝘰𝘱𝘩𝘪𝘻𝘪𝘯𝘨. Seorang pencemas terus membayangkan hal terburuk, seolah skenario negatif adalah kepastian yang pasti terjadi. Imbasnya, nasihat atau masukan dari luar menjadi sulit dicerna; otaknya sudah dipenuhi "sinyal ancaman."
Dari sisi neurologis, saat kita cemas, "alarm" di otak kita, yang disebut 𝘢𝘮𝘺𝘨𝘥𝘢𝘭𝘢, berbunyi terlalu keras. Pemicu ini segera mengaktifkan respons "lawan atau lari," membanjiri sistem kita dengan stres dan ketegangan fisik secara instan.
Akibatnya, 𝘱𝘳𝘦𝘧𝘳𝘰𝘯𝘵𝘢𝘭 𝘤𝘰𝘳𝘵𝘦𝘹, bagian otak yang seharusnya berpikir logis dan membuat keputusan, menjadi lumpuh. Otak kita secara keliru mempercayai bahwa apa yang kita bayangkan adalah ancaman yang benar-benar nyata, meskipun itu murni sebuah proyeksi semata.
Namun, di tengah kondisi kelumpuhan mental ini, ada satu titik balik penting yang sering terlewatkan: kekuatan 𝘵𝘪𝘯𝘥𝘢𝘬𝘢𝘯. Begitu kita mulai berani bergerak menuju sumber kecemasan, perubahan fundamental dan dramatis akan segera terjadi.
Misalkan, seorang yang sangat cemas sebelum sebuah presentasi penting. Kekhawatiran membayangkan kegagalan dan ditertawakan saat presentasi akan segera menciut drastis begitu ia memberanikan diri melangkah ke panggung dan memulai kata-kata pertamanya.
Pada saat presentasi itu dilakukan, tindakan nyata tersebut berfungsi sebagai bukti empiris bagi otak bahwa perkiraan 𝘤𝘢𝘵𝘢𝘴𝘵𝘳𝘰𝘱𝘩𝘪𝘻𝘪𝘯𝘨 itu keliru. Ia berhasil melewatinya, dan bahaya yang dibayangkan ternyata tidak terwujud sama sekali di hadapannya.
Secara bertahap, otak belajar dari pengalaman baru ini. Organ tersebut mulai membangun koneksi saraf yang lebih kuat antara logika (𝘱𝘳𝘦𝘧𝘳𝘰𝘯𝘵𝘢𝘭 𝘤𝘰𝘳𝘵𝘦𝘹) dan pusat emosi (𝘢𝘮𝘺𝘨𝘥𝘢𝘭𝘢). Melalui proses inilah, kekhawatirannya akan berangsur-angsur menurun tajam.
Jangan biarkan pikiran negatif mengendalikan realitas kehidupan kita. Bertindaklah, karena tindakan adalah obat penawar yang efektif untuk kecemasan. Dengan bertindak, kita melatih ulang respons otak kita -- mengubah “monster" menjadi bayangan yang terus mengecil.
#INISIATIF
1 856
🎥 Cikagooo lagi LIVE di TikTok nihh
https://www.tiktok.com/@cikagooo_news?_r=1&_t=ZS-91Uvh2Juomz
👉 Jangan sampai kelewatan yaa
Bantu join, tap2, like n share yaa bapak/ibu, mas/mba. Hatur nuhunn🙏🏻
1 856
Live Report 10 Tahun Festival Paduan Suara Sektor Jasa Keuangan. Mhn doanya sob semoga rekan-rekan Padus BPJS Kesehatan bisa mengeluarkan penampilan maksimalnya dan kelak mendapatkan hasil terbaik 🇲🇨
Update behind the scene nya di sini:
https://www.instagram.com/lifeatbpjskesehatan?igsh=MWtwYWo4NXA3YjY1
1 856
Oleh: Fahmi Hasan Nugroho
Mencicil berarti mengambil uang dari masa depan untuk digunakan pada hari ini.
Ga ada yang salah dari mencicil karena banyak kebutuhan kita yang memang ga bisa kita beli secara tunai, yang salah adalah jika strategi mengatur keuangannya tidak dipikirkan dengan baik.
Para finansial planner membatasi cicilan jangan sampai melebihi 30% dari pendapatan dengan tetap mewajibkan ada porsi pendapatan untuk investasi, agar hidup masih terjaga dan masa depan juga tetap terarah.
Mereka juga menyarankan agar kita menghindari mencicil suatu barang yang nilainya akan terus menurun, seperti kendaraan dan barang elektronik, karena kita akan membayar lebih mahal untuk barang yang jika kita jual kembali harganya jauh dari harga yang kita beli. Mobil 300 juta, dicicil jadi 350 juta, sekali keluar dealer harga jualnya ga akan jadi 300 juta lagi.
Ada juga sih yang menjadikan cicilan sebagai penyemangat kerja, ya hidup itu adalah pilihan. Tapi jika boleh menyarankan, cari cicilan yang ringan, murah, dan tetap berinvestasi untuk masa depan, karena menjadikan "bisa nabung lebih banyak" sebagai penyemangat kerja itu lebih baik dari pada menjadikan "cicilan" jadi penyemangat kerja.
#INISIATIF
1 856
Di garis depan pelayanan, ada para Frontliner yang bekerja dengan hati kuat dan dedikasi tanpa batas. Mereka yang setiap harinya menyapa peserta dengan senyum, mendengarkan dengan empati, dan membantu dengan penuh ketulusan.
Skill mereka terasah oleh waktu, semangat mereka tumbuh dari setiap pengalaman, dan kehadiran mereka menjadi wajah terbaik pelayanan BPJS Kesehatan 🇲🇨
Big respect untuk kalian semua 🔥
https://www.instagram.com/p/DRJt0uIiZ4T/?igsh=eWE2a3M2N2ZnZGUw
