ar
Feedback
Ask The Experts

Ask The Experts

الذهاب إلى القناة على Telegram

Channel ini merupakan pengembangan dari Grup nasional ATE khusus Internal BPJS kesehatan yang membernya lebih dari 6.000 Orang Duta BPJS Kesehatan Selindo 🇲🇨 https://www.instagram.com/commit_asktheexperts?igsh=ZmpmN2xqbWFjZjBn

إظهار المزيد
1 811
المشتركون
+124 ساعات
+77 أيام
+2130 أيام
أرشيف المشاركات
ANDAI IBU TIDAK MENIKAH DENGAN AYAH 💔😭 oleh: Agung Prasetyo Utomo Saya tidak suka film-film horor, hantu hantuan yang menur
ANDAI IBU TIDAK MENIKAH DENGAN AYAH 💔😭 oleh: Agung Prasetyo Utomo Saya tidak suka film-film horor, hantu hantuan yang menurut saya terlalu jorok meracuni otak saya hahahaha.. Ada beberapa film yang sarat hikmah yang saya tonton akhir akhir ini.. SORE, Istri Dari Masa Depan terus lanjut Andai Ibu Tidak Menikah Dengan Ayah Saran saya yang belum menikah tontolah film ini karena SEUMUR HIDUP ITU LAMA Setelah bulan lalu nonton Sore, Istri dari Masa depan... wanita bernama Sore yang datang dari masa depan untuk menemui suaminya di masa lalu yaitu sekarang. Ia memiliki misi untuk mengubah gaya hidup suaminya agar terhindar dari takdir buruk saat menikah dengannya beberapa tahun kemudian sakit dan meninggal di masa depannya. Sore: Istri Dari Masa Depan bukan sekadar kisah cinta biasa, melainkan refleksi tentang bagaimana seseorang bisa berubah demi cinta dan masa depan yang lebih baik.
Sore : Istri Dari Masa Depan memberikan Hikmah Utama, seorang anak manusia tidak akan bisa berubah menjadi versi terbaik dirinya kalau dari dalam dirinya tidak ada kemauan dan tekad untuk berubah lebih baik.
Hidup adalah konsekwensi atas kebiasaan yang kita lakukan. Janganlah ketika sakit misal diabetes kemudian malah menyalahkan Sang Pencipta bahwa itu adalah ujian, padahal yang memasukkan makanan tinggi gula daan karbohidrat berlebihan adalah tangan kita sendiri... Masak tiba tiba menyalahkan Tuhan. Film ini menyentuh hati, memperlihatkan bahwa kadang cinta tidak hanya datang dari masa lalu, tetapi juga dari masa depan yang belum kita ketahui untuk merubah kita lebih baik. Film minggu ini yang menurut saya syarat dengan inspirasi adalah Andai Ibu Tidak Menikah Dengan Ayah... Sebelum beli tiket jangan lupa bawa Tissue karena plotnya akan mengaduk aduk hati dan sayapun juga berlinang air mata selama film berlangsung... Film tentang keluarga yang bisa jadi banyak kejadian di Jaman Sekarang... Bagaimana seorang ayah yang gagal berbisnis kemudian putus asa dan merasa dengan Judi Online bisa memperbaiki nasib keluarganya dan putus asa tidak mau lagi bekerja, terpuruk, jadi pengangguran, keluarga anak istri tidak di urusin. Bagaimana seorang ibu yang mendapatkan suami blangsak kemudian harus berjuang sendiri sampai akhirnya meninggal kena Kanker Pankreas yang bahkan semua keluarganya tidak dia kasih tahu sampai akhirnya pada tahu setelah fatal dan akhirnya meninggal dunia. Bagaimana 3 orang anaknya harus berjuang untuk Sekolah, Kuliah, agar bisa memperbaiki ekonomi keluarganya dan bisa menjadi mandiri. Saya merekomendasikan anak-anak muda nonton film ini agar paham bahwa Seumur Hidup itu LAMA... Jangan salah pilih Suami atau Istri Kalau cara saya: Lanjut Part 2 👇

STORYTELLING DALAM SEBUAH LOGO 🙂 oleh: Budiman Hakim Pernah gak ngeliat sebuah logo dan sekian lama kita menganggap logo itu
STORYTELLING DALAM SEBUAH LOGO 🙂 oleh: Budiman Hakim Pernah gak ngeliat sebuah logo dan sekian lama kita menganggap logo itu biasa aja (istilah halus untuk mengatakan jelek). Misalnya logo Hyunday. Cuma huruf H doang. Huruf H miring, desain yang aman, tapi dingin. Sampai suatu saat kita menyadari: itu bukan sekadar huruf, tapi gambar dua orang yang sedang salaman. Simbol perwakilan antara perusahaan dan pelanggannya. Dan ini anehnya: logo itu sekonyong2 jadi bagus. Padahal logonya gak berubah. Itu desain yang sama saat kita bilang dia jelek. Kesimpulannya, logo itu bukan sekedar desain. Ada filosofi, ada rasa sekaligus makna di dalamnya. Logo sederhana itu berubah jadi adegan pertemuan. Ada rasa hangat, ada kepercayaan, ada janji yang terselip di situ. Logo yang tadinya hambar jadi punya hati. Hal yang sama juga kita temui pada logo F1. Cuma tulisan F diikuti garis merah yang kayak efek kecepatan. Biasa aja. Tapi begitu ada yang nunjukin “coba lihat ruang kosongnya, ada angka satu di situ,” Sekali lagi kita terpana. Ada rahasia kecil yang tersembunyi di depan mata selama ini. Dan momen ketika rahasia itu kebuka, rasanya kayak nemu harta karun. Desain gak berubah namun pendapat kita berganti 180 derajat. Why? Ilmu otak menjelaskan kenapa kita bisa tiba-tiba jatuh cinta pada hal yang sama sekali nggak berubah. Visual cortex kita awalnya cuma membaca pola standar: huruf, garis, bentuk. Netral. Tapi begitu makna baru terbuka, prefrontal cortex melakukan reframe. Ada klik di kepala, aha moment, yang memicu dopamin, bikin kita senyum tanpa sadar. Otak suka kejutan kecil semacam ini, karena setiap penemuan bikin kita merasa lebih hidup, lebih pintar, lebih terhubung. Logo yang tadinya datar mendadak punya jiwa. Karena otak nggak cuma lihat bentuk, tapi juga cerita di balik bentuk itu. Dan cerita selalu lebih kuat daripada garis. Endingnya sederhana tapi dalam: dunia nggak berubah, hanya cara kita melihat yang berubah. Sesuatu yang tadinya biasa bisa jadi luar biasa, asal kita mau menemukan makna di baliknya. Menemukan story di dalamnya.
Dan bukankah hidup juga begitu? Yang kita butuhkan kadang bukan hal baru, tapi cara baru melihat yang lama.
#INISIATIF

Fun Fact jadi Pegawai BPJS Kesehatan 💯 Di balik seragam, ada cerita pengabdian yang nggak semua orang tahu… Baca selengkapny
Fun Fact jadi Pegawai BPJS Kesehatan 💯 Di balik seragam, ada cerita pengabdian yang nggak semua orang tahu… Baca selengkapnya #LifeatBPJSKesehatan #PejuangJKN

AROGANSI 😬 oleh: Arisdiansah Kenapa pembicaraan pewaris vs perintis jadi masalah? Karena diucapkan dengan arogansi. Kenapa s
AROGANSI 😬 oleh: Arisdiansah Kenapa pembicaraan pewaris vs perintis jadi masalah? Karena diucapkan dengan arogansi. Kenapa statement orang orang nge-gym bodoh jadi masalah? Sama karena diucapkan dengan arogansi. Kenapa hidup seseorang terus menerus bermasalah? Bisa jadi juga karena arogansi. Arogansi dalam berbagai bentuknya, selalu menjadikan masalah dalam kehidupan seseorang. Karena arogansi cenderung melukai. Saya sendiri pernah mengalami ketika disebuah momen, keluar dari mulut saya kata2 yang arogan. Kata2 yang merendahkan pihak lain. Untuk beberapa hari hal itu menghantui perasaan saya, dan Alhamdulillah menjadi tenang ketika saya menyampaikan permohonan maaf atas perkataan yang saya sampaikan. Kenapa orang bisa arogan? Banyak faktor yang membuat orang menjadi arogan. Diantaranya adalah kekayaan, popularitas, jebakan sok spiritualitas, dan seringnya mendapatkan pujian. Dalam perspektif kesadaran, orang yang arogan itu berada di level kesadaran pride. Reaksionalnya selalu ingin menunjukkan dan menuntut apresiasi, validasi, dan pujian orang lain. Fatalnya adalah orang seperti ini memiliki emosional yang "scorn". Cenderung merendahkan orang lain (belittler) bahkan sampai toxic controler. Suka mengatur dan si paling. Beruntunglah orang yang punya sensor kesadaran itu. Ketika dia sudah mulai offside, ada sinyal dari nalar untuk memberikan peringatan akan kehadiran sikap arogansinya. Saya membaca sebuah literasi tentang hubungan arogansi dan Konten creator, artis, pejabat, dan tokoh publik. Ternyata banyak mereka yang terjebak dalam arogansi karena begitu mencintai exposure, viralitas, like, pujian dan "tepuk tangan". Tentu tidak semua orang seperti itu. Saya pernah iseng komen di salah satu influencer dan konten creator muda yang begitu arogan membuat sebuah kesimpulan prematur tentang leadership. Tapi ya gitulah, egonya nampak meronta2. Lawan sifat arogansi itu tentu adalah kerendahan hati. Hal ini ditandai dengan kemampuan seseorang untuk mendengarkan dan memberikan empathy. Ketika diatas saya cerita bahwa saya terjebak arogansi, ternyata dikarenakan kurang mau lebih sabar mendengar dan langsung terburu2 membuat sebuah pernyataan yang merendahkan. Kita bersyukur jika kita tidak terjebak kedalam sikap arogansi. kita bersyukur jika terus menerus berusaha memperbaiki diri dan hati. Guru saya pernah mengatakan, "Jika kamu terus menerus menjadi orang paling hebat disebuah ruangan, berarti kamu salah masuk ruangan." Beliau mengajarkan tentang "whitebelt" mentality. Tentang stay hungry and stay foolish kalau istilahnya Steve job. Dengan terus menerus belajar memperbaiki mentalitas, karakter, Behaviour, kita akan terus menerus menemukan titik-titik bahwa kita tidak harus selalu tampil superior. Apalagi selalu tampil arogan. Karena jembatan paling singkat yang menghubungkan antara kesuksesan dan ketidak-relevan-an itu adalah arogansi. #INISIATIF

AROGANSI 🤬 oleh: Arisdiansah Kenapa pembicaraan pewaris vs perintis jadi masalah? Karena diucapkan dengan arogansi. Kenapa s
AROGANSI 🤬 oleh: Arisdiansah Kenapa pembicaraan pewaris vs perintis jadi masalah? Karena diucapkan dengan arogansi. Kenapa statement orang orang nge-gym bodoh jadi masalah? Sama karena diucapkan dengan arogansi. Kenapa hidup seseorang terus menerus bermasalah? Bisa jadi juga karena arogansi. Arogansi dalam berbagai bentuknya, selalu menjadikan masalah dalam kehidupan seseorang. Karena arogansi cenderung melukai. Saya sendiri pernah mengalami ketika disebuah momen, keluar dari mulut saya kata2 yang arogan. Kata2 yang merendahkan pihak lain. Untuk beberapa hari hal itu menghantui perasaan saya, dan Alhamdulillah menjadi tenang ketika saya menyampaikan permohonan maaf atas perkataan yang saya sampaikan. Kenapa orang bisa arogan? Banyak faktor yang membuat orang menjadi arogan. Diantaranya adalah kekayaan, popularitas, jebakan sok spiritualitas, dan seringnya mendapatkan pujian. Dalam perspektif kesadaran, orang yang arogan itu berada di level kesadaran pride. Reaksionalnya selalu ingin menunjukkan dan menuntut apresiasi, validasi, dan pujian orang lain. Fatalnya adalah orang seperti ini memiliki emosional yang "scorn". Cenderung merendahkan orang lain (belittler) bahkan sampai toxic controler. Suka mengatur dan si paling. Beruntunglah orang yang punya sensor kesadaran itu. Ketika dia sudah mulai offside, ada sinyal dari nalar untuk memberikan peringatan akan kehadiran sikap arogansinya. Saya membaca sebuah literasi tentang hubungan arogansi dan Konten creator, artis, pejabat, dan tokoh publik. Ternyata banyak mereka yang terjebak dalam arogansi karena begitu mencintai exposure, viralitas, like, pujian dan "tepuk tangan". Tentu tidak semua orang seperti itu. Saya pernah iseng komen di salah satu influencer dan konten creator muda yang begitu arogan membuat sebuah kesimpulan prematur tentang leadership. Tapi ya gitulah, egonya nampak meronta2. Lawan sifat arogansi itu tentu adalah kerendahan hati. Hal ini ditandai dengan kemampuan seseorang untuk mendengarkan dan memberikan empathy. Ketika diatas saya cerita bahwa saya terjebak arogansi, ternyata dikarenakan kurang mau lebih sabar mendengar dan langsung terburu2 membuat sebuah pernyataan yang merendahkan. Kita bersyukur jika kita tidak terjebak kedalam sikap arogansi. kita bersyukur jika terus menerus berusaha memperbaiki diri dan hati. Guru saya pernah mengatakan, "Jika kamu terus menerus menjadi orang paling hebat disebuah ruangan, berarti kamu salah masuk ruangan." Beliau mengajarkan tentang "whitebelt" mentality. Tentang stay hungry and stay foolish kalau istilahnya Steve job. Dengan terus menerus belajar memperbaiki mentalitas, karakter, Behaviour, kita akan terus menerus menemukan titik-titik bahwa kita tidak harus selalu tampil superior. Apalagi selalu tampil arogan. Karena jembatan paling singkat yang menghubungkan antara kesuksesan dan ketidak-relevan-an itu adalah arogansi. #INISIATIF

Ketika berhadapan dengan orang lain, ingatlah bahwa Anda tidak berhadapan dengan makhluk yang menggunakan logika, tapi makhlu
Ketika berhadapan dengan orang lain, ingatlah bahwa Anda tidak berhadapan dengan makhluk yang menggunakan logika, tapi makhluk yang menggunakan emosi 🥰🤝
Banyak bersyukur atas capaian/progres hari ini 😇
#LangkahPulang

🔤🔤🔤🔤🔤🔤 🔤🔤🔤🔤 Jangan lupa yaa Sob… Stay tuned untuk pelaksanaan Grand Final pada tanggal 23 September 2025. Karena selain pengumuman juara lomba neraca saldo, bakal ada juga ragam kegiatan seru dan menarik lainnya, seperti: - Lomba yel-yel - Kuis interaktif - Tebak pemenang saat sesi live Nah, sambil menantikan hari H itu tiba, sebagai bentuk apresiasi kepada para finalis serta para pendukung setia Lomba Neraca Saldo 2025, COMMIT ATE dengan dukungan Kepbid Akuntansi akan membuka polling tebak juara yang akan berhadiah 3 souvenir menarik untuk 3 (tiga) orang Sobat ATE beruntung (yang berhasil menebak Juara 1, 2, dan 3 saat Babak Grand Final nanti) 🤔 Periode partisipasinya dimulai saat ini dan akan ditutup pada Selasa, 23 September 2025 pukul 13.00 WIB 🇲🇨
Syarat klaim : Memilih maksimal 3 nama aja di polling yang tersedia dan sudah join di grup COMMIT ATE (Khusus Internal Duta BPJS Kesehatan) https://t.me/+K3eK0MkLG2MyYTk1
#LombaNeracaSaldo

NGOBROL ITU PENTING 🤩 oleh: Budiman Hakim Inget gak jaman sekolah dulu. Kita udah duduk di kelas. Guru masuk, membuka buku c
NGOBROL ITU PENTING 🤩 oleh: Budiman Hakim Inget gak jaman sekolah dulu. Kita udah duduk di kelas. Guru masuk, membuka buku catatan tebalnya. Dan seperti kaset yang diputar ulang, kata pertamanya selalu: 'Diam! Jangan ngobrol!'" Lah? Padahal kita lagi ngobrolin materi pelajaran dia. Eh, malah dibilang berisik. Ya udah, kalo gitu kita ngobrolin langsung dengan gurunya pas sesi diskusi atau sesi debat nanti. Diskusi? Debat? Hahaha... Hampir gak pernah ada. Dan begitulah nasib kita dulu. Ngobrol sama teman dilarang, ngobrol sama guru pun gak ada pintunya. Bertahun-tahun kita tumbuh di kelas yang sunyi. Sunyi dari percakapan, sunyi dari kesempatan belajar mengekspresikan pikiran. Sering saya bertanya dalam hati, "Kenapa kata ngobrol dalam bahasa Indonesia konotasinya selalu negatif? Padahal gak terhitung ide2 besar muncul gara2 kita sering ngobrol." Seharusnya kita memahami bahwa ngobrol itu bukan cuma suara mulut. Di dalam neurosains dikatakan ada dua jalur penting: inner speech (bahasa batin) dan outer speech (bicara keluar). Inner speech itu kayak radio internal di kepala kita: pikiran, ide, bahkan debat batin yang kadang lebih seru dari sinetron. Outer speech itu jalur yang bikin radio internal itu bisa didengar orang lain, bukan cuma didengar organ tetangga di kepala. Masalahnya, sekolah kita sering bikin jalur ini macet. Diam yang dipaksakan? Inner speech tetap jalan, tapi outer speech mati gaya. Otak bisa penuh ide keren, tapi begitu harus ngomong, lidah kaku, kata-kata macet. Jadi ketika sekolah ngelarang ngobrol, bukan cuma mulut kita yang dibungkam, tapi otak kita juga dikasih timeout panjang. Bayangin anak-anak jadi robot hafal, tapi otaknya lemes kalau disuruh ngomong. Kalau sejak kecil kita dibiasakan ngobrol berupa diskusi, debat, atau sekadar tukar cerita, otomatis kita membangun koneksi sehingga inner speech kita bisa lancar ke outer speech. Kita jadi bukan cuma pendengar pasif, tapi pembicara aktif. Tapi sekolah? Lebih suka mencetak generasi “diam tapi hafal”, bukan “bicara dan berpikir”. Akibatnya, banyak orang dewasa punya ide cemerlang, tapi lidahnya gagap kayak modem dial-up. Dunia gak bisa membaca pikiran kita. Dunia cuma bisa dengar kata-kata kita. Dan ngobrol adalah latihan paling alami buat menghubungkan inner speech dan outer speech. Kalo kita berani ngomong, otak dilatih menerjemahkan ide jadi kata-kata. Setiap kali kita mendengarkan orang lain, kita belajar menyaring, menyambung, dan menata ulang isi kepala kita. Menurut neurosains, percakapan merangsang korteks prefrontal, area otak yang penting untuk berpikir kritis, merencanakan, dan mengambil keputusan. "Percakapan adalah makanan bagi jiwa.” Begitu kata Plato. Dan pendapat ini didukung Stephen Covey dengan mengatakan, “Komunikasi adalah keterampilan paling penting dalam hidup.” So, kalo dua tokoh besar ini menekankan pentingnya percakapan, wajar kalau ngobrol harus kita perjuangkan, bukan malah dilarang. Kalau sekolah belum memberi ruang, bukan berarti kita harus ikut bungkam. Mulailah dari hal kecil: ngobrol di kantin, tukar ide lewat grup diskusi, atau berani nanya satu pertanyaan di kelas. Dari obrolan kecil lahir keberanian besar. Sebab dunia tidak butuh manusia yang hanya penuh pikiran. Dunia butuh manusia yang bisa menyuarakan pikirannya. Dan itu hanya mungkin kalau kita berani ngobrol. Beri ruang agar suara dalam kepala bisa bertemu suara dunia luar, lalu mengubahnya. Mengubah dunia. #INISIATIF

Jejak Pengabdian di Ujung Negeri 🇮🇩 Perjalanan panjang membawa Duta BPJS Kesehatan KC Wamena ke SDN Wowarek, Kampung Eragam
Jejak Pengabdian di Ujung Negeri 🇮🇩 Perjalanan panjang membawa Duta BPJS Kesehatan KC Wamena ke SDN Wowarek, Kampung Eragama. Di tengah pegunungan Papua, kami menemukan Baca selengkapnya di sini 🫶 #LifeatBPJSKesehatan #PejuangJKN

SELF TRANSCENDENCES 😇 oleh: Arisdiansah Pernahkan kita membantu orang lain, lalu kemudian tiba2 hadir rasa kebahagiaan dalam
SELF TRANSCENDENCES 😇 oleh: Arisdiansah Pernahkan kita membantu orang lain, lalu kemudian tiba2 hadir rasa kebahagiaan dalam hati kita? Pernahkan kita menjamu tamu, melayani customer dengan tulus, lalu tiba2 hadir rasa damai dalam hati? Jika anda pernah merasakan ini, berarti anda sudah merasakan salah satu bentuk kekayaan terbesar dari hidup ini yaitu kekayaan berupa service/ pelayanan. Tidak semua orang sadar hal ini. Tidak semua orang pernah mencicipi. Saya meyakini bahwa service itu bukan "doing", tetapi service adalah "being". Kita akan mencapai titik tertinggi dalam kehidupan dunia ketika kita bisa memberikan pelayanan kepada semakin banyaknya orang. Mungkin kita ingat seorang psikolog bernama Abraham maslow. Beliau membuat sebuah Piramida kebutuhan dari yg paling bawah yaitu "physiological needs" hingga paling atas yaitu "self actualization". Dan menjelang tutup usia, Abraham maslow menambahkan satu tingkat lagi diatas aktualisasi diri yaitu "self trancendences". Dan salah satu bentuk konkritnya adalah memberikan value untuk orang lain (service). Hanya segelintir orang yang sadar nikmat melayani ini. Karena ironinya justru sikap ini dianggap sebagai kebodohan atau sikap yang dianggap sebagai kenaifan. "Jangan terlalu baik sama orang, nanti kamu akan dimanfaatkan.". "beda tipis antara terlalu baik dan bodoh". Mungkin anda pernah mendengar ungkapan2 ini? Ini adalah ungkapan2 hasil pengalaman hidup (psikoanalisis) yang kemudian menjadi pembenaran pikiran bawah sadarnya. Padahal kita harus baik, bahkan sangat baik, tetapi kita tidak boleh bodoh. Orang dimanfaatkan orang lain karena kebodohannya membiarkan orang lain memanfaatkanya. Dan sikap baik itu beda tebal dengan kebodohan. Saya bertemu dengan berbagai orang yang dianggap bodoh karena dia terlalu baik untuk kemudian melayani orang lain, tetapi justru saya merasakan bahwa orang2 ini telah hidup di atmosfir yang berbeda. Mereka telah mencapai transendensi diri. Semoga kita juga bisa setelah ini. #INISIATIF

INFO PODIUM 🏆 Selamat dan Sukses untuk Kontingen BPJS Kesehatan atas kemenangan di Turnamen Tenis Kemitraan 2025 🇮🇩 Susuna
INFO PODIUM 🏆 Selamat dan Sukses untuk Kontingen BPJS Kesehatan atas kemenangan di Turnamen Tenis Kemitraan 2025 🇮🇩 Susunan Tim: 1. Pak Dirut dan Partner = Juara 3 Ganda Veteran 2. Wahyu Amru @bang_way10 (Kepwil V) - Ilham Akbar @ilhamakbarw (Sesdewas) = Juara 2 Ganda Muda 3. Heri Susilo W @heripamjaka (KC Yogyakarta) - Deky Ofras @dekyop (SPPTI) = Juara 3 Bersama Ganda Muda 4. Muh Candra Ikhda @uripikuurup2 (MKU) - Andhika Muchlis @andhikamchls (Miur) = Juara 3 Bersama Ganda Muda #INISIATIF

Akhir pekan adalah waktu terbaik untuk tenggelam dalam cerita. Buku apa yang jadi teman santai Sobat ATE hari ini? ❣️ Btw, Pa
Akhir pekan adalah waktu terbaik untuk tenggelam dalam cerita. Buku apa yang jadi teman santai Sobat ATE hari ini? ❣️ Btw, Pak Dirum lagi ngadain giveaway Buku buat rekan-rekan semua. Cek disini

Eittts, kayaknya ada yang baru lahir nih 🎉 Yuk terus kepoin IG Life at BPJS Kesehatan krn infonya akan ada ragam banyak ceri
Eittts, kayaknya ada yang baru lahir nih 🎉 Yuk terus kepoin IG Life at BPJS Kesehatan krn infonya akan ada ragam banyak cerita seru dan penuh inspirasi dari perjuangan dan pengabdian seluruh Duta selindo dalam mengawal Program JKN 🇮🇩 https://www.instagram.com/p/DOfaAfsCU7V/?igsh=dXE3NTlnOGg0MHFx #PejuangJKN #LifeatBPJSKesehatan

SELF TALK YANG MERUSAK 💔 oleh: Aat Indrawati Selamat pagi teman2 Bukan orang lain yang paling sering menyakiti kamu, tapi su
SELF TALK YANG MERUSAK 💔 oleh: Aat Indrawati Selamat pagi teman2
Bukan orang lain yang paling sering menyakiti kamu, tapi suara di dalam kepala sendiri. 😱
Studi dari National Science Foundation menyebut bahwa manusia punya sekitar 60 ribu pikiran setiap hari. Lebih dari 80 persen di antaranya adalah pikiran negatif, dan 95 persen adalah pikiran berulang. Artinya, jika kamu sering bicara buruk pada diri sendiri hari ini, kemungkinan besar kamu akan melakukannya lagi besok, lusa, dan seterusnya. Seorang mahasiswa bangun kesiangan, langsung merasa gagal. Ia berkata dalam hati, “Kamu selalu begini. Malas banget. Nggak akan sukses kalau terus begini.” Di siang hari, ia berusaha mengejar ketertinggalan, tapi satu kesalahan kecil membuatnya berhenti. Ia berkata, “Kamu emang nggak bisa apa-apa.” Malamnya, ia gelisah, tidak bisa tidur. Dihantui oleh suara yang sama. Contoh ini bukan soal jadwal atau produktivitas. Ini soal bagaimana manusia menjadi musuh terdekat bagi dirinya sendiri melalui self-talk yang merusak.
Padahal, seperti kata Dr. Shad Helmstetter,
“Kata-kata yang kamu ucapkan pada dirimu akan menjadi fondasi dari kehidupanmu.”
1. Aku sedang belajar, bukan gagal ✅ Kalimat ini sangat sederhana, tapi mengubah posisi kita dari korban menjadi pembelajar. Kristin Neff menyebut ini sebagai dasar self-compassion: menerima bahwa proses manusiawi itu tidak selalu lurus. Setiap kali kamu merasa gagal, ucapkan ini. Bukan untuk membela diri, tapi untuk memberi ruang belajar. 2. Wajar merasa begini ✅ Emosi negatif bukan musuh. Mereka penanda bahwa sesuatu penting sedang terjadi. Dalam Self-Compassion, Neff menjelaskan bahwa menolak emosi hanya akan membuat kita terjebak. Saat kamu gelisah, marah, cemas, katakan pada dirimu sendiri, “Wajar aku merasa seperti ini.” Itu membuatmu hadir, bukan lari. 3. Aku nggak harus sempurna untuk dihargai ✅ Sering kali kita percaya bahwa nilai diri datang dari pencapaian. Padahal, keyakinan ini rentan bikin kita cemas. Dalam bukunya, Helmstetter menyebut “belief scripting” sebagai kunci perubahan pola pikir. Ucapkan kalimat ini setiap hari. Biarkan otakmu membentuk ulang keyakinan dasarnya. 4. Aku tetap utuh meskipun sedang tidak baik-baik saja ✅ Kalimat ini bisa jadi jangkar emosional saat kamu merasa hancur. Ini bukan penyangkalan, tapi pengakuan bahwa identitasmu lebih besar dari perasaan sesaat. Otak kita suka menyamaratakan: kalau hari ini kacau, berarti hidupku rusak. Kalimat ini memutus ilusi itu. 5. Aku cukup untuk hari ini ✅ Dr. Neff menekankan pentingnya menciptakan batas harapan dalam sehari. Ketika kita terus mengejar standar yang tak realistis, ketenangan jadi hal langka. Mengatakan “aku cukup” bukan berarti berhenti berkembang. Tapi artinya kamu berhenti menyiksa diri. 6. Pelan-pelan itu juga gerak ✅ Kalimat ini menenangkan ketika semua orang di sekitarmu terlihat cepat dan produktif. Helmstetter dalam risetnya menunjukkan bahwa bahasa menentukan energi. Ucapan yang menenangkan membuat otak mengirim sinyal bahwa kamu masih punya kendali. Kamu bergerak. Dan itu cukup. 7. Aku memilih berdamai, bukan terus berperang ✅ Dalam banyak kasus, kita tidak tenang bukan karena masalah terlalu besar, tapi karena kita terlalu keras pada diri sendiri. Kalimat ini mengingatkan bahwa kamu bisa memilih. Kamu bisa memilih untuk berhenti menyalahkan, mengutuk, dan mulai menerima kenyataan dengan lebih lembut. Self-talk bukan mantra ajaib, tapi ia adalah peta bawah sadar yang kita ikuti setiap hari. Kamu bisa terus mengulang suara yang menghancurkan atau mulai menulis ulang narasi yang menyembuhkan.
Btw Sobat ATE paling sering bicara apa nih ke dirinya sendiri terutama saat sedang terjatuh?
❤️‍🩹
#INISIATIF #TGIF

Kado Terindah untuk Lincoln 🎁 oleh: Emil Bachtiar Pada 5 September 2025, pertandingan Major League Baseball antara Philadelphia Phillies dan Miami Marlins digelar di LoanDepot Park, Miami. Pertandingan itu berlangsung seru dengan beberapa pukulan panjang yang membuat penonton terus bersorak. Salah satunya datang dari Harrison Bader, pemain outfielder andalan Phillies yang dikenal sebagai spesialis bertahan dan pernah meraih Gold Glove Award. Pada inning ketiga, pukulannya menghasilkan sebuah home run. Bola jatuh ke tribun penonton dan ditangkap oleh Drew Feltwell, yang segera menyerahkannya kepada anak laki-lakinya. Dalam tradisi bisbol, mendapatkan bola home run adalah pengalaman yang sangat berharga. Bola itu menjadi kenang-kenangan unik dari pertandingan, karena hanya sedikit orang yang beruntung bisa mendapatkannya langsung dari lapangan. Itulah sebabnya ketika bola jatuh ke tangan Drew dan kemudian diberikan kepada putranya, sorakan penonton mengiringi momen kecil penuh kegembiraan di tengah stadion. Anak itu menerima bola dengan wajah berbinar, lalu ayahnya memeluknya erat dalam pelukan penuh kasih sayang. Terlihat jelas kebahagiaan ayah dan anak, sorak sorai penonton ikut mengiringi momen itu. Beberapa saat kemudian, seorang perempuan maju dan mengklaim bahwa bola itu seharusnya menjadi miliknya. Ia bersikeras menuntut agar bola diberikan kepadanya, meski rekaman menunjukkan bola sudah jelas berada di tangan anak tersebut. Perempuan itu bahkan sempat melakukan gestur ofensif ke arah penonton yang tidak setuju. Untuk menghindari keributan lebih lanjut, Feltwell akhirnya meminta anaknya menyerahkan bola itu. Penonton di sekitar langsung mencemooh ketika bola berpindah tangan. Rekaman insiden ini menyebar luas di media sosial. Publik pun menjuluki sosok perempuan tersebut sebagai “Phillies Karen.” Karena dalam tradisi MLB bola yang ditangkap sah menjadi milik penonton, tindakan merebut bola dari anak kecil dipandang sangat tidak lazim. Itulah yang membuat insiden ini cepat menarik perhatian dan mendorong berbagai media mewawancarai Drew Feltwell. Dari wawancara tersebut diketahui bahwa anak laki-laki itu bernama Lincoln, dan insiden itu terjadi tepat di hari ulang tahunnya yang ke-10. Saat pertama kali menerima bola dari ayahnya, Lincoln terlihat sangat gembira. Bagi seorang anak, itu adalah pengalaman tak terlupakan — seolah menjadi hadiah ulang tahun yang sempurna. Feltwell kemudian menjelaskan mengapa ia memilih mengalah. Menurutnya, lebih baik bola itu diserahkan daripada memicu keributan yang bisa memperburuk suasana. Ia ingin menunjukkan kepada anaknya bahwa menjaga ketenangan lebih penting daripada mempertahankan sesuatu dengan cara bertengkar. Ia bahkan meminta agar publik tidak melakukan perburuan terhadap perempuan tersebut. Sebagai bentuk penghargaan, pihak Miami Marlins memberikan paket cendera mata kepada Lincoln, sementara Harrison Bader secara pribadi menghadiahkan tongkat bisbol bertanda tangan untuk menebus kekecewaan anak itu. Walaupun sudah mendapat kompensasi atas kehilangan bola tersebut, kado terindah yang diterima Lincoln adalah keteladanan yang ditunjukkan oleh ayahnya. Bukan lagi soal memiliki atau kehilangan bola, melainkan pelajaran hidup yang jauh lebih berharga: bahwa mengendalikan emosi, memilih tenang, dan berani melepaskan sesuatu bisa menjadi bekal penting bagi anaknya dalam menghadapi kehidupan di kemudian hari.
Tonton videonya: https://youtu.be/c1TpEUHxzoc?si=U1h8lTJbGLVwMxw3
#INISIATIF

PRIVILEGE 🤝 oleh: Satria Dharma Privilege itu merujuk pada "hak istimewa" yang dimiliki seseorang karena status atau kelebih
PRIVILEGE 🤝 oleh: Satria Dharma Privilege itu merujuk pada "hak istimewa" yang dimiliki seseorang karena status atau kelebihan tertentu, dan seringkali digunakan dalam konteks perbandingan dengan orang lain yang tidak memiliki keuntungan yang sama. Privilege ini seringkali tidak disadari oleh mereka yang memilikinya, tetapi dapat memberikan dampak signifikan bagi orang lain yang tidak memiliki hak yang sama. Kemarin dalam ngobrol-ngobrol syukuran keluarga seorang keponakan meminta agar sepupunya (alias keponakan juga) diberi hak untuk bisa naik tingkat di lembaga yang kami kelola. Ia memintakan sepupunya karena tahu bahwa sepupunya segan untuk minta sendiri pada kami. Keponakan kami ini sudah bekerja pada kami tapi sepupunya ingin agar ia bisa naik tingkat dengan bantuan kami sebagai pengelola lembaga. Jadi ia berinisiatif untuk memintakan semacam ‘privilege’ bagi sepupunya tersebut. Ini sebetulnya wajar terjadi di mana pun ketika seseorang memiliki jabatan dan kewenangan dan dimintai bantuan untuk membantu untuk memberikan privilege tertentu bagi keluarganya. Saya agak jengah jika dimintai privilege seperti itu. Memberikan privilege semacam itu kepada keluarga hanya karena saya berkuasa itu agak bertentangan dengan apa yang saya yakini dan sebisa-bisanya saya hindari. Saya percaya bahwa setiap orang harus berjuang dengan semua kapasitas pribadinya sendiri jika ingin naik jabatan, naik tingkat, dapat bonus, dll. Memberikan privilege tertentu dalam perusahaan atau lembaga yang kita kelola kepada keluarga itu namanya nepotisme. Menerima keluarga bekerja di perusahaan keluarga itu bagus saja tapi jangan terus-terus memberi mereka privilege. Itu bukan hanya tidak baik bagi perusahaan tapi juga tidak baik bagi individu itu sendiri. Mereka akan kehilangan daya juang dan motivasi untuk sukses karena mereka tahu bahwa mereka bisa mendapatkannya hanya dengan meminta dan bahkan dengan menuntut pada keluarga. Lagipula itu akan menimbulkan rasa iri hati pada semua karyawan lain yang tidak memiliki privilege sebagai keluarga dari pemilik perusahaan. Privilege semacam ini dapat menciptakan ketidaksetaraan dan kesenjangan dalam lingkungan perusahaan, karena beberapa orang memiliki keuntungan yang tidak adil dibandingkan dengan yang lain. Dengan mendapatkan pekerjaan di dalam perusahaan atau lembaga keluarga tanpa harus melalui prosedur yang dilalui oleh orang lain sebenarnya itu sudah merupakan privilege. Jadi itu harus disyukuri. Tapi itu tidak berarti kita bisa terus menerus meminta privilege. Kita harus mewujudkan rasa syukur kita dengan melakukan kinerja terbaik yang kita miliki. Kita akan mendapatkan promosi dan penghargaan berdasarkan kinerja kita pribadi nantinya. Kita harus membuktikan bahwa kita memang layak mendapatkan posisi kita saat ini karena kita memang memiliki kapasitas dan kompetensi untuk itu dan bukan sekadar karena punya hubungan kekerabatan. Sebagai manusia yang bertubuh lengkap sehat jasmani dan rohani sebenarnya sudah merupakan privilege bagi kita. Banyak manusia yang lebih tidak beruntung daripada kita baik dalam segi jasmani mau pun rohani. Segala yang ada dalam diri kita sebenarnya adalah privilege yang harus kita gunakan dan manfaatkan sebaik mungkin tanpa harus berharap dan menuntut lebih kesana dan kemari. Tapi untuk sampai pada kesadaran ini tampaknya kita harus terus berusaha untuk berintrospeksi diri. 🙏
Ada dua kata kunci yang dapat dicatat: daya juang dan kompetensi. Jika kompetensi nya ada, biarkan bersaing secara sehat
#INISIATIF

Kenapa Harus Mendengarkan? 🤫 oleh: Gatot Widayanto Listen to reply instead of to understand is the key to failure... (Menden
Kenapa Harus Mendengarkan? 🤫 oleh: Gatot Widayanto
Listen to reply instead of to understand is the key to failure... (Mendengarkan untuk menjawab bukan untuk memahami adalah kunci kegagalan)
Kunci keberhasilan dan kebahagiaan dalam hubungan apa pun adalah komunikasi yang baik dan sehat. Namun, kebanyakan dari kita tidak diajarkan seni mendengarkan arang lain. Mendengarkan untuk memahami, bukan untuk menjawab, sangat penting dalam menjaga hubungan baik dengan keluarga, pasangan, sahabat, guru atou desen, afaxan rekan kerja, dan siapa pun dalam hidup Kebanyakan arang mendengarkan, tetapi tidak benar-benar menyimak Mendengarkan untuk menjawab merupakan cara standar yang digunakan kebanyakan orang dalam berkomunikasi Artinya, sebelum benar-benar memperhatikan apa yang dikatakan orang lain, kita sudah memikirkan apa yang ingin kita katakan sebagai tanggapan. Tentu saja bagus untuk memiliki jawaban yang dipikirkan dengan matang, tetapi jika memikirkan apa yang ingin kita katakan daripada menyimak apa yang dikatakan lawan bicara, itu artinya kita tidak benar-benar mendengarkan dan berkomunikasi dengan baik. #INISIATIF

THE OLD MAN AND THE SEA 🐟 oleh: Sofia Ainurr Dari buku "The Old Man and The Sea" aku belajar bahwa hasil itu tak selalu dala
THE OLD MAN AND THE SEA 🐟 oleh: Sofia Ainurr Dari buku "The Old Man and The Sea" aku belajar bahwa hasil itu tak selalu dalam bentuk yang kita harapkan. Bisa saja dalam bentuk pengalaman, ketekunan, kekuatan mental, atau pelajaran hidup yang membuat kita lebih siap untuk kesempatan berikutnya. Coba kamu bayangkan, seorang nelayan yang berjuang selama 84 hari berlayar, tapi tak kunjung mendapatkan ikan. Lalu memutuskan berlayar sendiri ke tengah lautan yang jauh agar bisa mendapatkan ikan besar. Lelah, haus, lapar selama berhari-hari adalah harga yang harus dibayar untuk mendapatkan seekor ikan besar bernilai tinggi. Dalam perjalanan pulang, siapa sangka, ikan tangkapan hasil jerih payahnya selama berhari-hari di lautan kini tak tersisa. Dan yang tersisa hanyalah lelah, lelah, dan lelah. Bukankah ini terdengar tidak adil? Bukankah setiap perjuangan pasti berbuah manis? Bukankah Tuhan maha adil? Lalu, mengapa perjuangan pak tua itu tampaknya sia-sia? Pernahkah kamu mendengar pepatah "hidup yang tak diperjuangkan, tak akan dimenangkan"? Bukankah pak tua sudah berjuang mati-matian untuk mendapatkan ikan besar itu? Lalu, apa hasilnya? Nihil. Ia tak berhasil mendapatkan ikan besar itu.
Namun, ia berhasil menang. Menang atas keberanian, ketekunan, dan pantang menyerahnya. 🔥
Dari sini aku menyimpulkan bahwa tuhan itu adil. Selalu adil. Hanya saja, bentuknya tak selalu sesuai dengan ekspektasi kita. Yang penting kita tetap berusaha, tetap belajar dari proses, dan tidak menyerah. Justru disinilah letak kemenangannya. Menurut aku, kemenangan itu tak selalu berupa materi atau pengakuan, tapi berupa pertumbuhan diri dan kemampuan menjalani hidup lebih baik. And that's a real growth✨ #INISIATIF #GrowthMindset

https://youtu.be/fy_xajNp4ZA?si=WQ2drKyRzn5hW77z Jangan lupa like, comment dan share biar makin banyak yang tahu 🇮🇩 #KitaJagaBPJS #BPJSJagaKita #BPJSMilikKita

LOGO YANG BESAR MUNGKIN TERLIHAT TAPI BELUM TENTU DIINGAT 🤷 oleh: Budiman Hakim “Mas, logonya tolong dibesarin ya!” kata klien tegas. Kalimat itu dilempar ringan, tapi masuk ke kepala Damar seperti lemparan batu dari balik senyum. Dia mendesain poster itu semalaman. Mengatur keseimbangan visual antara headline, foto, white space, dan elemen-elemen kecil yang membuat mata betah melihat. Tapi ya gitu. Buat si klien, semua elemen itu cuma pemanis belaka. Yang penting logonya. Harus besar. Harus terlihat. Harus berteriak. “Ini udah proporsional, Pak,” jawab Damar, berusaha sabar. “Kalau terlalu besar nanti distraksi, ngambil perhatian dari pesan utama…” “Ya justru itu. Pesan utamanya adalah Brand kami. Kami bayar agency untuk logo.” Semua orang iklan pasti pernah mengalami hal yang sama. Jadi sebetulnya, yang bener logo itu harus besar atau kecil? Yuk kita bahas. Saat seseorang melihat sebuah iklan, otaknya tak hanya "melihat". Ada bagian-bagian tertentu yang langsung bekerja: Visual Cortex di bagian belakang otak, di lobus oksipital, bertugas menerima dan memproses sinyal visual. Tapi ia tidak bekerja sendirian. Prefrontal Cortex ikut menganalisis makna dan menentukan apa yang penting. Ia menyusun hierarki, menentukan mana yang harus dilihat lebih dulu, mana yang bisa menunggu. Amygdala, bagian emosional dari otak, merekam kesan awal, dan secara insting akan menolak atau menerima informasi yang terasa “mengganggu”. Logo yang terlalu besar bukan hanya mengganggu mata. Tapi juga menyalahi urutan alami kerja otak. Ibarat seseorang yang menyela pembicaraan, belum waktunya muncul, tapi sudah teriak-teriak. Visual yang harmonis akan membuat prefrontal cortex bekerja lancar: perhatian mengalir dari headline, ke visual utama, lalu ke logo. Tapi kalau logo kebesaran dan menguasai semua ruang, otak kebingungan. Ia kehilangan alur. Dan sesuatu yang membuat otak bingung… biasanya langsung dibuang. Itu sebabnya meskipun besar, logo kita belum tentu diingat. Damar memahami bahwa ego tidak bisa dilawan frontal. Maka dia putuskan membuat dua versi. Versi pertama: logo besar, sesuai permintaan klien. Versi kedua: logo yang diletakkan proporsional, seimbang, dengan alur visual yang tertata. Dia kirim keduanya. Tanpa menantang. Tanpa memaksa. Hanya menawarkan pilihan. Dan memberi ruang pada logika untuk berbicara. Sebuah catatan kecil dia selipkan di catatan kaki. “Logo yang terlalu besar mungkin terlihat, tapi tak selalu diingat. Logo yang diletakkan dengan tepat akan terasa hadir, dan justru tinggal lebih lama dalam kepala.” Beberapa jam setelah file dikirim, belum ada balasan. Damar duduk gelisah, menatap notifikasi email seperti menunggu vonis. Sore menjelang malam, email itu akhirnya masuk. Judulnya singkat: “RE: Revisi” "Awalnya saya tetap suka yang logo besar. Mungkin karena sudah terbiasa melihat iklan kita seperti itu. Tapi saya penasaran juga dengan penjelasan Anda soal kerja otak. Jadi saya minta semua tim marketing untuk memilih, tanpa kasih tahu mana yang sesuai brief, mana yang tidak." "Hasilnya bikin saya kaget. Semua orang, tanpa kecuali, memilih versi Anda. Bahkan yang biasanya paling cerewet soal brand visibility bilang versi itu 'lebih enak dilihat dan terasa lebih premium’.” "Saya jadi mikir... mungkin selama ini kami terlalu sibuk pengen terlihat, sampai lupa bagaimana caranya benar-benar diingat." "Terima kasih. Materi ini kami APPROVE. Tolong lanjut ke versi video, dan... saya penasaran, di video, kerja otak kayak gimana ya?" Damar tersenyum. Bukan hanya karena karena mendapat approval, tapi karena sesuatu yang lebih penting: pemahaman yang akhirnya terbuka. Dan semua itu bisa terjadi bukan karena perdebatan, tapi karena keberanian untuk memberi pilihan dan kepercayaan pada pengetahuan. Hari itu, Damar sadar, tugas orang kreatif bukan melawan klien. Tapi mengajak mereka melihat lebih jauh. Lewat data. Lewat rasa. Lewat kerja otak. PS based on true story #INISIATIF