Ask The Experts
رفتن به کانال در Telegram
Channel ini merupakan pengembangan dari Grup nasional ATE khusus Internal BPJS kesehatan yang membernya lebih dari 6.000 Orang Duta BPJS Kesehatan Selindo 🇲🇨 https://www.instagram.com/commit_asktheexperts?igsh=ZmpmN2xqbWFjZjBn
نمایش بیشتر1 866
مشترکین
اطلاعاتی وجود ندارد24 ساعت
+97 روز
+1530 روز
آرشیو پست ها
1 866
Rincian Peserta Perjabatan:
Senior Manager: 2 Orang
Manager: 10 Orang
Asmen: 22 Orang
Staf Pelaksana: 56 Orang
PTT: 14 Orang
1 866
Rincian Peserta per wilayah:
KP : 8 Orang
KW 1: 4 Orang
KW 2: 11 Orang 🔥
KW 3: 8 Orang
KW 4: 6 Orang
KW 5: 2 Orang
KW 6: 4 Orang
KW 7: 4 Orang
KW 8: 3 Orang
KW 9: 4 Orang
KW 10: 5 Orang
KW 11: 9 Orang
KW 12: 20 Orang 🔥
KW 13: 16 Orang 🔥
1 866
MILLENIALS KILL EVERYTHING
Buku yang ditulis Yuswohady ini terbit dua tahun lalu, sebelum masa pandemi. Tapi isinya tetap relevan, malah sangat relevan. Buku ini membahas apa saja benda, produk, ataupun kebiasaan yang kini hilang sejak kehadiran kaum milenial.
Kita ambil satu contoh tentang waktu kerja. Sejak era kapitalisme dimulai, manusia mengenal jam kerja, mulai pagi hingga sore, from 9 to 5. Tapi lihatlah hari ini.
Publikasi terbaru yang saya baca, banyak generasi muda di luar negeri yang memilih berhenti bekerja di satu kantor yang menerapkan jam kerja ketat. Bukan soal salary. Bukan pula soal pandemi. Mereka menginginkan fleksibilitas.
Di sini pun situasinya tak jauh beda.
Di masa sebelum pandemi, buku ini sudah melihat kalau work from home akan segera menjadi kenyataan. Banyak orang lebih suka jalan-jalan atau bekerja dari rumah, sembari mengerjakan tugas kantor.
Banyak orang siap menghadapi tantangan, namun tidak harus rutin datang bekerja di satu lokasi selama bertahun-tahun. Apalagi jika tempat yang didatangi itu terletak di jantung kota Jakarta, yang setiap saat disergap kemacetan. Orang lebih suka berkantor di warung kopi, rumah, dekat pantai, puncak bukit, lembah, atau di mana saja yang bisa bikin nyaman.
Hal lain yang juga menarik adalah definisi tentang ruang kerja. Dulu, kita beranggapan ruang kerja itu adalah ruang dengan banyak meja biro, kertas-kertas, serta pakaian formal. Sekarang ada trend ruang kerja yang serupa ruang bermain.
Lihat saja kantor-kantor di banyak gedung tinggi Jakarta. Suasananya dibikin kayak kafe atau ruang bermain. Ada tempat ngopi, makan gratis, serta meja bilyar. Anda bisa baring-baring di banyak sofa, sepanjang target hari itu terpenuhi, sepanjang pekerjaan beres.
Pakaian yang dikenakan pun santai. Orang hanya berpakaian formal pada momen tertentu saja. Malah, berpakaian mahal sudah mulai ditinggalkan. Orang-orang meniru Mark Zuckenberg dan Steve Jobs yang hanya pakai kaos sederhana ke mana-mana. Padahal duit mereka unlimitted. Tak terhitung.
Hal lain yang saya temukan relevan di buku ini adalah musik rock. Kemarin, seorang kawan di kantor memperlihatkan video editannya tentang musik rock. Saya lihat personilnya sudah tua. Musiknya pun tua. Serasa mendengar band Malaysia tahun 1980-an.
Buku ini memfatwakan musik rock kian dijauhi anak muda. Musik ini sudah dianggap jadul, kurang inovatif, hanya menekankan teriak-teriak. Anak muda lebih suka hip hop, lebih suka electronic digital music, lebih suka dance ala Korea.
Buku ini menyajikan daftar apa saja yang hilang. Mulai dari album foto, hingga sabun batang, SMS, agen perjalanan, hingga dapur. Bahkan banyak kebiasaan-kebiasaan yang hilang. Di antaranya adalah mabuk. Dulu, mabuk adalah gaya hidup bagi anak muda.
Ada semacam rasa gagah dan keren kala menjadi pemabuk. Mabuk identik dengan keberanian.
Sekarang, kita jarang menemukan anak muda mabuk. Sebab gaya hidup mabuk bisa merusak tubuh. Ada risiko kena liver, diabetes, hingga jantung. Anak muda mulai menghindari mabuk. Demikian pula minuman bersoda.
Sebagai peta jalan, banyak hal yang perlu mendapat perhatian bersama. Di antaranya, menikah bukan lagi pilihan mendesak bagi anak muda. Mereka lebih suka berkarier, berkarya, dan bertualang.
Saya yakin, buku serupa akan makin banyak muncul. Kita menjalani hari demi hari, tanpa menyadari ada banyak hal yang perlahan punah. Kita tak bisa menampik perubahan. Jika ingin survive, maka yang perlu kita lakukan adalah berselancar di atas ombak perubahan.
Dulu, Nokia pernah berjaya. Namun Nokia tidak melakukan inovasi hingga perlahan tergusur. Saat mengumumkan bangkrut, CEO Nokia, Stephen Elop, mengucapkan kalimat epik: "Kami tak melakukan kesalahan apa-apa. Tapi bagaimana kami bisa kalah?"
Saya ingat kalimat Charles Darwin, dalam evolusi, siapa yang kuat, maka akan bertahan. Hari ini, kalimat itu seyogyanya direvisi. Yang bisa bertahan bukan yang paling kuat, melainkan yang paling kreatif.
Itulah hukum rimba “jaman now.”
http://www.timur-angin.com
Yusran Darmawan
1 866
Are you Ready ??
Yes, We're Ready and Excited For ICE 2K22!!
#KCPontianak #ICE #INISIATIF
@bpjskesehatan_ri
@livin_inisiatif
@bpjskesehatan_asktheexperts
@ropik_patriana
@sandipaskirab
https://www.instagram.com/reel/CcZZHdSDVRn/?igshid=MDJmNzVkMjY=
1 866
Ask The Experts Edisi Pengembangan Diri #edisi365
Salam Inisiatif ✅
Ada ungkapan yang mengatakan, berbusanalah untuk mendapatkan pekerjaan yang Anda inginkan, bukan untuk pekerjaan yang Anda punya sekarang. Sebab, di dunia kerja zaman sekarang, penampilan yang sempurna dan kinerja maksimal adalah dua hal pendukung yang wajib dimiliki oleh masing-masing pegawai.
Berpenampilan layak ke kantor dapat meningkatkan kepercayaan diri saat bekerja, juga bisa menyebarkan aura positif pada lingkungan sekitar. Cara ini merefleksikan sikap penghargaan pada diri sendiri dan sifat profesionalisme pekerja modern.
Tapi mengaplikasikan makeup memang memakan waktu. Sehingga dibutuhkan trik makeup yang tepat agar para perempuan kantoran bisa menghemat waktu. Gimana caranya?
Yuk mari update ilmu kita dalam suasana fun and meaningful terkait "Do and Don't “Daily Makeup Untuk Ngantor" bersama pakar di bidangnya dalam kegiatan ATE Edisi ke 365 yang diselenggarakan oleh Community of Interest (COMMIT) Ask The Experts (ATE) BPJS Kesehatan 🔥🔥🔥
Mari terhubung bersama ATE untuk akses pengembangan diri tanpa batas (FREE 💯):
https://bit.ly/33EaKPs
1 866
Tidak lama setelah Masayoshi menemui Jokowi, datang pula Perdana Menteri Malaysia Ismail Sabri yang meminta agar kontraktor negaranya dilibatkan dalam proyek mega raksasa di Kalimantan. Kehadiran Softbank menjadi pembicaraan di negeri jiran, yang tiba-tiba ingin dapat remah-remah dari ekonomi Indonesia yang kian menjadi gergasi.
Saat ditanya kenapa menemui Jokowi, Masayoshi hanya menjawab singkat, “Saya tidak melihat sekarang. Tapi saya melihat masa yang akan datang.”
Sumber FB: Yusran Darmawan
1 866
MASAYOSHI
Pria Jepang itu bernama Masayoshi Son. Di tahun 2000, CEO Softbank itu mendarat di Beijing, Cina. Sebagai investor paling terkemuka di bidang DotCom, dia berencana untuk bertemu beberapa orang yang akan mempresentasikan bisnis.
Dia bertemu lelaki Cina yang kurus, pendek, dan kepalanya agak kebesaran. Lelaki Cina itu sedang mencari investor untuk mendanai perusahaan e-commerce yang rencananya akan menghubungkan pabrik di pedalaman Cina ke seluruh dunia.
Masayoshi memperhatikan pria yang memperkenalkan diri sebagai Jack Ma itu. Lelaki Cina itu tak membawa bussines plan. Dia hanya bercerita dengan penuh antusias tentang apa yang sedang dilakukannya.
Biasanya, investor akan sangat teliti membaca bussines plan. Tapi entah kenapa, hari itu Masayoshi lebih mengandalkan intuisinya ketimbang rasionya. Keesokan harinya, setiba di Jepang, dia mengirimkan email kepada Jack Ma untuk menawar saham Alibaba sebesar 40 juta dollar.
Orang-orang menyebut Masayoshi sudah gila. Perusahaan Alibaba, milik Jack Ma, saat itu tidak punya aset. Usianya baru setahun dan nilanya kecil. Tapi Masayoshi berani menawar dengan harga gila-gilaan.
Seminggu kemudian, Jack Ma membalas email itu. Dia tidak bisa melepas saham sedemikian besar. Dia ingin tetap memegang saham mayoritas. Softbank hanya boleh berinvestasi sebesar 20 juta dollar untuk 30% saham Masayoshi membalas dengan dua kata: “Keep going.”
Tidak lama setelah transaksi itu, pasar DotCom hancur. Kekayaan Softbank senilai 77 miliar dollar AS lenyap. Kekayaan Masayoshi hilang sampai 90 persen. Namun dia tetap konsisten untuk berinvestasi di Alibaba.
Dia percaya, Alibaba akan jadi the next big thing. Walaupun orang mengatainya bodoh, dia tetap yakin dengan langkahnya. Saat itu, di kalangan orang Jepang, Cina dianggap negerinya para penipu. Banyak perusahaan merugi karena korupsi dan tata kelola yang buruk.
Setelah 14 tahun berlalu, Alibaba go public. Jumlah 20 juta dollar yang ditanam Masayoshi telah bernilai 558 miliar dollar. Dalam semalam, Masayoshi menjadi orang terkaya di Jepang.
Empat belas tahun lalu, Masayoshi melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain. Dia melihat api pada diri Jack Ma. Dia melihat antusiasme, serta gairah, dan kerja keras yang tak mungkin ditampilkan dalam presentasi.
Dia bercerita, beberapa menit setelah melihat Jack Ma, dia melihat prospek bernilai miliaran dolar. "Aku bisa mencium baunya. Kami berdua sedikit gila," katanya.
Masayoshi melihat langkah-langkah taktis dan kecerdasan melihat peluang, sesuatu yang tak bisa dilihat dengan kasat mata. Dia punya intuisi dan bakat rahasia untuk masuk ke investasi berisiko tinggi menurut ukuran rumus investasi kuno.
Dalam satu kesempatan, Masayoshi pernah membocorkan rahasianya: “Orang lain melihat 10 tahun ke depan. Saya melihat 300 tahun ke depan.”
Dalam hidup, kita sering mengabaikan intuisi. Kadang kita terjebak hanya melihat penampilan luar seseorang. Saat melihat seseorang yang tampak lusuh, biasa, dan berantakan, kita mudah mengabaikannya. Kita lebih mudah berpaling pada seseorang yang tampak necis, perlete, dan harum.
Padahal ide-ide besar selalu muncul dari mereka yang melihat dunia dengan cara berbeda. Keajaiban datang pada mereka yang berani berpikir berbeda, tahu ke mana harus bergerak, dan punya banyak langkah kecil untuk menggapainya.
Kini, Masayoshi dan Jack Ma tetap menjalin keakraban. Sebelum tidur, sering kali Jack Ma menggambar sesuatu dan mengirimkannya ke Masayoshi. Kolaborasi dua sosok penting dalam teknologi ini telah menjadi legenda yang akan diajarkan di berbagai sekolah bisnis.
Di tahun 2020, Masayoshi mendatangi Presiden Joko Widodo di Istana Negara. Media-media di Singapura dan Malaysia sontak heboh. Masayoshi menemui Jokowi dan mengaku siap menggelontorkan dana hingga 1.400 triliun rupiah untuk pembangunan ibukota baru.
Masayoshi bersaing dengan pihak Uni Emirat Arab yang juga menawarkan rencana yang sama.
1 866
Coming Soon Babak Penyisihan ATE Family 100 Periode 18 sd 22 April 2022. 🆓
Daftarkan diri anda pada link berikut:
https://docs.google.com/forms/d/e/1FAIpQLScs4Ia7kmoeV3GotdKm9e0gJKJJa_tg6MAZGcubeoaSsA6lOA/viewform
1 866
Napasnya tersengal. Keringat menetes di sekujur tubuhnya. Anak muda itu mendaki bukit demi mendatangi satu rumah reyot. Konon, di situ, ada seorang guru yang bijaksana dan sering jadi tempat bertanya.
Di belakang rumah, di tengah padang berisi bunga-bunga, dia melihat sosok tua dengan wajah welas asih. Anak muda itu, langsung melempar tanya: “Guru, jika aku hendak masuk lingkar kuasa, apa yang harus aku lakukan?”
Seulas senyum tersungging di wajah keriput lelaki itu. Dia menjawab singkat, “Jangan jadi ronin. Jadilah samurai.”
Anak muda itu membatin. Ronin adalah sebutan untuk pendekar pedang tak bertuan. Para ronin berkelana seorang diri, tanpa terikat pada seorang tuan. Ronin bisa melesat cepat ke tangga kuasa, tapi dengan cepat pula bisa terpental. Dia jadi incaran banyak pendekar. Sekali dia terantuk, semua pedang segera menebas.
Sejurus kemudian, anak muda itu mengenang para samurai. Mereka yang disebut samurai adalah mereka yang punya tuan. Samurai melindungi satu sosok penting. Samurai rela menyabung nyawa untuk tuannya.
Jika samurai bersalah, maka sang tuan akan membela. Sang tuan akan menyediakan tangga demi tangga agar seorang samurai bisa melejit. Jika samurai terantuk, sang tuan akan memasang badan untuk melindunginya dari seliweran pedang.
Hubungan mereka serupa mentor dan murid. Keduanya saling menopang, hingga kelak sang mentor undur diri dari hiruk-pikuk dunia, lalu membiarkan samurai menjadi tuan baru. Samurai tak pernah menjadi “kacang yang lupa akan kulitnya.”
Hidup sebagai Samurai tidaklah mudah. Ada kesetiaan dan loyalitas yang terus diuji oleh waktu. Sering kali seorang mencapai puncak lalu jumawa kemudian meninggalkan tuannya. Dia lepas. Saat ada pedang menebas, sang tuan hanya akan menyaksikan dari jauh. Tanpa memasang badan,
“Terima kasih Guru. Apa syarat yang lain?” kembali anak muda itu bertanya.
“Jadilah sakura.”
Anak muda itu menatap sekeliling. Dilihatnya pohon sakura dengan bunga-bunga yang mekar. Bunga-bunga itu tak mekar bersamaan. Ada yang mekar dan ada yang masih kuncup. Mereka tak saling cemburu. “Bunga sakura selalu tahu kapan saat mekar. Dia sabar. Dia menunggu,” kata sang guru.
Anak muda itu terkenang dengan satu bunga yang tak mekar-mekar saat bunga lain sudah lama mekar dan berguguran. Hingga suatu waktu, bunga itu mekar dan menjadi bunga terindah di bukit itu. Bunga itu bersabar hingga waktu yang tepat. Bunga itu jadi yang terindah karena kesabarannya dalam menyerap energi semesta.
“Apa lagi?”
“Jadilah seperti pohon ek”
Anak muda itu mengingat-ngingat pohon ek. Pohon itu bisa lurus tinggi bukan karena daya dan kekuatan pada diri pohon itu. Melainkan pada keikhlasan tupai untuk membersihkan kotoran di sekitarnya, keikhlasan tanah yang memberi kesuburan, dan kebaikan sungai yang menyediakan air.
Pohon ek tahu kalau ketinggiannya didapatkan dari kebaikan banyak makhluk di hutan. Dia tak jumawa. Dia tak lelah merentangkan cabang dan dedaunan untuk melindungi yang lain. Dia mengingat semua kebaikan demi kebaikan yang diterimanya.
“Apa lagi Guru?”
“Jadilah matahari. Dia setia membagi cahayanya tanpa memandang siapa. Dia bagi sekuntum cahaya pada gunung, pada lembah, pada pantai, pada laut. Dia adil membagi cahayanya pada siapa saja,” katanya.
Matahari adalah potret ketinggian, kekuatan, dan kehebatan. Tapi matahari tak pernah lelah untuk berbagi. Dia sebarkan cahayanya dengan adil. Sama rata. Setiap pagi dia sapa semua makhluk. Setiap sore, dia berpamitan pada semuanya melalui semburat cahaya merah di ufuk sana.
Anak muda itu terdiam. Jalan menuju lingkar kuasa tak mudah. Dia mesti menekan ego dan hasrat yang menggelegak. Dia harus menenangkan banyak ambisi dalam diri yang tak sabar untuk menjebol.
Dia ingin melejit, tapi tak sabar menunggu proses. Dia tak siap jadi kepompong yang sabar menunggu hingga tiba saatnya untuk merentang sayap sebagai kupu-kupu.
“Guru, aku tak sanggup mengikuti disiplinmu.”
“Maka bersiaplah untuk mati muda.”
http://www.timur-angin.com
Yusran Darmawan
1 866
KETIKA SEMUA MELAKUKAN HAL YANG SAMA
Pas masih awal-awal belum ada yang menjadi streamer, maka streamer yang menang banyak.
Tahu live streamer cuan banyak, maka semua berlomba menjadi streamer.
Live streaming menjadi mainstream, semua orang ingin menjadi streamer.
Saat semua berlomba menjadi streamer maka yang memiliki karakter paling kuat yang akan menjadi pilihan.
Dunia marketing memang seperti itu.
Dan terus seperti.
Setelah live streaming tidak tahu nanti akan ada apa lagi.
Pastikan posisi Anda adalah yang pertama kali mencoba.
Be Early Adopter.
Bukan follower yang menunggu yang lain berhasil baru masuk.
Paling tidak bagi porsinya 70:30.
Tujuh puluh persen aktivitas mengerjakan dan melakukan improvement di hal yang biasa kita lakukan (Business As Usual).
Sisakan 30% nya untuk mencoba hal-hal baru (Experimenting).
Jangan lelah bereksperimen dan mencoba hal-hal baru.
Bereksperimen memang capek.
Tapi lebih capek lagi keluar kerumunan saat sesuatu menjadi mainstream.
Be the leader.
Not the follower.
#inboundmarketing
#SamIpoel
instagram.com/si.samipoel/
