Ask The Experts
رفتن به کانال در Telegram
Channel ini merupakan pengembangan dari Grup nasional ATE khusus Internal BPJS kesehatan yang membernya lebih dari 6.000 Orang Duta BPJS Kesehatan Selindo 🇲🇨 https://www.instagram.com/commit_asktheexperts?igsh=ZmpmN2xqbWFjZjBn
نمایش بیشتر1 866
مشترکین
اطلاعاتی وجود ندارد24 ساعت
+97 روز
+1530 روز
آرشیو پست ها
1 866
Coming Soon Babak Penyisihan ATE Family 100 Periode 18 sd 22 April 2022. 🆓
Daftarkan diri anda pada link berikut:
https://docs.google.com/forms/d/e/1FAIpQLScs4Ia7kmoeV3GotdKm9e0gJKJJa_tg6MAZGcubeoaSsA6lOA/viewform
1 866
Napasnya tersengal. Keringat menetes di sekujur tubuhnya. Anak muda itu mendaki bukit demi mendatangi satu rumah reyot. Konon, di situ, ada seorang guru yang bijaksana dan sering jadi tempat bertanya.
Di belakang rumah, di tengah padang berisi bunga-bunga, dia melihat sosok tua dengan wajah welas asih. Anak muda itu, langsung melempar tanya: “Guru, jika aku hendak masuk lingkar kuasa, apa yang harus aku lakukan?”
Seulas senyum tersungging di wajah keriput lelaki itu. Dia menjawab singkat, “Jangan jadi ronin. Jadilah samurai.”
Anak muda itu membatin. Ronin adalah sebutan untuk pendekar pedang tak bertuan. Para ronin berkelana seorang diri, tanpa terikat pada seorang tuan. Ronin bisa melesat cepat ke tangga kuasa, tapi dengan cepat pula bisa terpental. Dia jadi incaran banyak pendekar. Sekali dia terantuk, semua pedang segera menebas.
Sejurus kemudian, anak muda itu mengenang para samurai. Mereka yang disebut samurai adalah mereka yang punya tuan. Samurai melindungi satu sosok penting. Samurai rela menyabung nyawa untuk tuannya.
Jika samurai bersalah, maka sang tuan akan membela. Sang tuan akan menyediakan tangga demi tangga agar seorang samurai bisa melejit. Jika samurai terantuk, sang tuan akan memasang badan untuk melindunginya dari seliweran pedang.
Hubungan mereka serupa mentor dan murid. Keduanya saling menopang, hingga kelak sang mentor undur diri dari hiruk-pikuk dunia, lalu membiarkan samurai menjadi tuan baru. Samurai tak pernah menjadi “kacang yang lupa akan kulitnya.”
Hidup sebagai Samurai tidaklah mudah. Ada kesetiaan dan loyalitas yang terus diuji oleh waktu. Sering kali seorang mencapai puncak lalu jumawa kemudian meninggalkan tuannya. Dia lepas. Saat ada pedang menebas, sang tuan hanya akan menyaksikan dari jauh. Tanpa memasang badan,
“Terima kasih Guru. Apa syarat yang lain?” kembali anak muda itu bertanya.
“Jadilah sakura.”
Anak muda itu menatap sekeliling. Dilihatnya pohon sakura dengan bunga-bunga yang mekar. Bunga-bunga itu tak mekar bersamaan. Ada yang mekar dan ada yang masih kuncup. Mereka tak saling cemburu. “Bunga sakura selalu tahu kapan saat mekar. Dia sabar. Dia menunggu,” kata sang guru.
Anak muda itu terkenang dengan satu bunga yang tak mekar-mekar saat bunga lain sudah lama mekar dan berguguran. Hingga suatu waktu, bunga itu mekar dan menjadi bunga terindah di bukit itu. Bunga itu bersabar hingga waktu yang tepat. Bunga itu jadi yang terindah karena kesabarannya dalam menyerap energi semesta.
“Apa lagi?”
“Jadilah seperti pohon ek”
Anak muda itu mengingat-ngingat pohon ek. Pohon itu bisa lurus tinggi bukan karena daya dan kekuatan pada diri pohon itu. Melainkan pada keikhlasan tupai untuk membersihkan kotoran di sekitarnya, keikhlasan tanah yang memberi kesuburan, dan kebaikan sungai yang menyediakan air.
Pohon ek tahu kalau ketinggiannya didapatkan dari kebaikan banyak makhluk di hutan. Dia tak jumawa. Dia tak lelah merentangkan cabang dan dedaunan untuk melindungi yang lain. Dia mengingat semua kebaikan demi kebaikan yang diterimanya.
“Apa lagi Guru?”
“Jadilah matahari. Dia setia membagi cahayanya tanpa memandang siapa. Dia bagi sekuntum cahaya pada gunung, pada lembah, pada pantai, pada laut. Dia adil membagi cahayanya pada siapa saja,” katanya.
Matahari adalah potret ketinggian, kekuatan, dan kehebatan. Tapi matahari tak pernah lelah untuk berbagi. Dia sebarkan cahayanya dengan adil. Sama rata. Setiap pagi dia sapa semua makhluk. Setiap sore, dia berpamitan pada semuanya melalui semburat cahaya merah di ufuk sana.
Anak muda itu terdiam. Jalan menuju lingkar kuasa tak mudah. Dia mesti menekan ego dan hasrat yang menggelegak. Dia harus menenangkan banyak ambisi dalam diri yang tak sabar untuk menjebol.
Dia ingin melejit, tapi tak sabar menunggu proses. Dia tak siap jadi kepompong yang sabar menunggu hingga tiba saatnya untuk merentang sayap sebagai kupu-kupu.
“Guru, aku tak sanggup mengikuti disiplinmu.”
“Maka bersiaplah untuk mati muda.”
http://www.timur-angin.com
Yusran Darmawan
1 866
KETIKA SEMUA MELAKUKAN HAL YANG SAMA
Pas masih awal-awal belum ada yang menjadi streamer, maka streamer yang menang banyak.
Tahu live streamer cuan banyak, maka semua berlomba menjadi streamer.
Live streaming menjadi mainstream, semua orang ingin menjadi streamer.
Saat semua berlomba menjadi streamer maka yang memiliki karakter paling kuat yang akan menjadi pilihan.
Dunia marketing memang seperti itu.
Dan terus seperti.
Setelah live streaming tidak tahu nanti akan ada apa lagi.
Pastikan posisi Anda adalah yang pertama kali mencoba.
Be Early Adopter.
Bukan follower yang menunggu yang lain berhasil baru masuk.
Paling tidak bagi porsinya 70:30.
Tujuh puluh persen aktivitas mengerjakan dan melakukan improvement di hal yang biasa kita lakukan (Business As Usual).
Sisakan 30% nya untuk mencoba hal-hal baru (Experimenting).
Jangan lelah bereksperimen dan mencoba hal-hal baru.
Bereksperimen memang capek.
Tapi lebih capek lagi keluar kerumunan saat sesuatu menjadi mainstream.
Be the leader.
Not the follower.
#inboundmarketing
#SamIpoel
instagram.com/si.samipoel/
1 866
UNBOSS
Di satu kafe di sudut kota Jakarta, saya bertemu seorang teman. Dia berkeluh kesah tentang atasannya. Dia kehilangan semangat untuk bekerja. Atasannya bukan hanya memaksanya untuk “kerja keras bagai kuda”, tapi juga suka menuntut penghormatan. Dia seperti hamba yang melayani majikan.
Di negeri kita, orang melihat ada hierarki dalam pekerjaan. Seorang bos adalah titik paling penting di satu kantor. Dia jadi sentrum. Karyawan lain bertugas sebagai hamba dan menjalankan perintah. Bahkan di luar kantor, penghormatan dan rasa segan itu tetap dipelihara.
Birokrasi kita masih warisan kolonial. Di situ tidak berlaku asas profesionalitas. Yang berlaku adalah feodalisme. Masih seperti zaman kerajaan. Atasan harus ditinggikan, dijunjung tinggi, bahkan dihormati. Bos harus selalu dilayani, baik di kantor maupun di luar kantor.
Seorang karyawan menemui atasan dengan kepala menunduk. Takut salah. Kalimat bos adalah sabda. Berani membantah, maka dituduh tidak loyal. Saya ingat cerita beberapa kawan di daerah. Sering kali atasan bertindak hanya berdasar gosip. Saat ada indikasi seorang anak buah tidak loyal, langsung mutasi ke titik terjauh.
Di luar negeri, di negara-negara yang penduduknya jarang bergelar haji, kita melihat kenyataan berbeda. Seorang kawan pernah menunjukkan foto sedang makan siang bersama bosnya. Dia bekerja sebagai pencuci piring di situ. Namun saat makan siang, semua duduk di meja yang sama.
Di sana, orang melihat pekerjaan sebagai fungsi. Seorang bos dan karyawan sama-sama punya fungsi . Keduanya penting. Saat bekerja, semua punya tanggung jawab masing-masing. Tak ada hierarki.
Yang ada adalah kolaborasi. Semua punya peran. Bahkan saat istirahat, tetap tak ada hierarki. Bos dan karyawan bisa saling bercanda “lu-gua,” bisa makan siang bersama, bisa saling santai bersama, bisa dugem sama-sama.
Saya ingat buku berjudul UNBOSS, yang ditulis Lars Kolind & Jacob Botter. Buku ini semacam panduan untuk organisasi di era 4.0.
Saya suka dengan cerita mengenai Alfred P West yang menjabat sebagai CEO SEI Investment Corporation. Saat ke kantornya, Anda tidak akan menemuinya di satu ruang khusus. Dia duduk di tengah karyawannya. Penampilannya sama dengan yang lain. Tak ada yang menyangka dirinya adalah bos.
Dia mendengar masukan semua orang, lalu membuat banyak keputusan penting, yang dilaksanakan semua karyawannya. Dia tidak peduli jabatan, tapi dia akan fokus pada keahlian dan potensi terbaik semua orang.
Dia tak terlihat oleh orang luar. Tapi semua karyawan adalah mitra yang akan mengenalinya. Dia bukan sosok pemberi perintah. Dia memimpin tim dengan cara menjadi bagian dari tim. Dia punya passion kuat pada kerja, sesuatu yang kemudian menjalar ke semua karyawannya.
Hal yang sama bisa disaksikan pada bos-bos perusahaan yang jadi titan teknologi. Anda yang terbiasa bekerja dengan bos yang suka pakai jas, akan terkejut berjumpa Mark Zuckerberg yang kelihatan kayak anak kemarin sore dan selalu berbaju kaos oblong.
Anda yang punya bos dengan rumah seperti istana akan kaget melihat Warren Buffets, sosok miliader yang tinggal di rumah sederhana, yang dibelinya pada tahun 1958 di Omaha, Nebraska.
Mereka memimpin dengan cara berbeda. Bukan menegakkan kuasa perintah-perintah. Tapi memperkuat visi dan passion, lalu menjadi dirigen yang menggerakkan orkestra satu organisasi.
Kata penulis buku ini, di era digital, pemimpin harus berani meng-UNBOSS dirinya. Jangan jadi bos, tapi jadilah sosok yang punya visi kuat sehingga menggerakkan semua orang. Lihatlah orang lain sebagai mitra sejajar lalu berkolaborasilah untuk menghasilkan banyak hal hebat.
Saya masih memikirkan beberapa bagian dari buku UNBOSS. Tetiba, ponsel kawan saya berdering. Ada suara membentak:
“Di mana ko? Carikan saya kapurung trus antar ke hotel, lantai 12. Kalo ko nda antar, saya nda tanda-tangani ko punya kenaikan pangkat.”
Ada rona panik di wajahnya. Dia bergegas meninggalkan saya yang masih sibuk melinting tembakau lalu mengisapnya. Di sudut sana, ada sosok manis yang sesekali melirik. Hmm Dia menarik
www.timur-angin.com
Yusran Darmawan
1 866
Ngabuburit kamis sore akan membekalimu agar kelak bisa menjadi seorang Leader yang berkarakter jelas (tidak plin plan)🔥🔥🔥
https://instagram.com/tino_salim?igshid=YmMyMTA2M2Y=
1 866
Ngabuburit Rabu sore, kita akan bincang santai terkait inseminasi dan bayi tabung bersama ahlinya. Stay tuned ❤️❤️
https://instagram.com/malvinemeraldi?igshid=YmMyMTA2M2Y=
1 866
Apa anda sudah pernah mendengar terkait WOW colour Style Branding sebelumnya? Stay tuned di ATE untuk ulasannya pada selasa pekan depan 🔥🔥🔥
https://instagram.com/oya.miranti?igshid=YmMyMTA2M2Y=
1 866
Bagi kalian yang memilih untuk gak make up ke kantor, mungkin edisi ini bisa menambah referensimu kelak. Stay tuned di sabtu pagi 🔥🔥🔥
https://instagram.com/renymakeup_beauty?igshid=YmMyMTA2M2Y=
1 866
Saya membayangkan beberapa talenta hebat yang kehilangan kesempatan saat sudah berada dalam genggaman. Pasti mereka sedih, sebagaimana kesedihan saya dahulu ketika cinta ditolak. Dulu, saya hampir minum Baygon, entah bagaimana mereka.
.
www.timur-angin.com
Sumber: FB Yusran Darmawan
1 866
JEJAK DIGITAL
.
“Kamu lahir tahun berapa?” tanyaku.
“Lahir tahun 2004” jawabnya.
“Hah?”
.
Pikiran saya menerawang. Tahun 2004, saya sudah naksir banyak perempuan, meskipun selalu ditolak. Seorang rekan sebaya saya malah sudah menghamili pasangannya. Sementara perempuan yang saya hadapi ini baru lahir. Kini, dia menemui saya via zoom untuk wawancara kerja.
.
Pekan silam, saya dan sejumlah orang diminta mewawancarai sejumlah talent yang akan direkrut satu perusahaan start-up. Saya tak punya pengalaman mewawancarai pencari kerja. Tapi karena puluhan posisi yang ditawarkan ada kaitannya dengan dunia menulis, kreator konten, dan tim kreatif, saya diminta memberi rekomendasi siapa kandidat yang layak.
.
Tentu saja, selagi ada honor, saya siap melakukan apapun. Hehe.
.
Berkat wawancara, saya paham banyak hal. Di antaranya, jumlah pencari kerja terus bertambah. Kata panitianya, jumlah pelamar mencapai 800 orang. Mereka bersaing ketat untuk posisi yang tak begitu banyak.
.
Selain itu, tak semua pelamar kerja adalah anak muda. Ada beberapa di antaranya yang lahir tahun 1970-an. Saya paham ekonomi kita sedang rentan. Banyak orang hebat kehilangan pekerjaan, dan bersedia digaji murah. Banyak yang harus ikhlas bersaing dengan anak muda, yang usianya pantas jadi anaknya.
.
Apa yang ada di pikiran pewawancara? Nah, saya bocorkan beberapa hal.
.
Pertama, ijazah dan transkrip nilai tidak penting. Setidaknya untuk kerja kreatif. Jadi, jika Anda masih kuliah, jangan terlalu fokus mengejar nilai setinggi-tingginya. Sebab saat melamar kerja, ijazah dan transkrip hanya dilirik sekilas. Bahkan, Anda lulus di mana, juga tak penting.
.
Barangkali, semua syarat itu akan penting jika Anda melamar dosen. Tapi jika melamar untuk kerja-kerja kreatif, hal terpenting adalah portofolio. Tunjukkan apa saja karya yang pernah Anda buat, apa saja kegiatan sosial yang pernah dijalani, perlihatkan buku atau foto yang pernah dibuat, ceritakan apa saja pengalaman yang bisa memperkuat pekerjaan.
.
Di perusahaan itu, ada beberapa lulusan SMA yang gajinya dua digit, mengalahkan lulusan sarjana yang hanya jadi admin. Lulusan SMA itu punya talenta sekelas dewa. Untuk kerja kreatif, imajinasinya membumbung tinggi, dan tak terkejar oleh yang lain. Punya leadership dan multi-tasking. Serba-bisa.
.
Kedua, pentingnya public speaking. Dalam waktu 10-15 menit, Anda harus bisa meyakinkan pewawancara bahwa Anda kandidat yang layak. Kemampuan berbicara dan meyakinkan adalah senjata terpenting. Makanya, Anda harus terbiasa bergaul. Harus berani berbicara di depan orang baru. Sesekali harus show up untuk tunjukkan kapasitas.
.
Di titik ini, mereka yang terbiasa berorganisasi akan punya nilai lebih. Selagi muda, jangan ragu ikut dalam berbagai organisasi, termasuk jadi relawan di banyak kegiatan. Semakin banyak pengalaman, maka semakin tinggi jam terbang. Peluang akan semakin besar.
.
Nah, setelah sepekan proses wawancara, saya meluluskan perempuan kelahiran tahun 2004 ini beserta beberapa kandidat lain yang paling layak. Mereka punya talenta hebat. Mereka muda dan bisa melihat banyak peluang ke depan.
.
Saya lega karena prosesnya selesai. Saya kembali ke rumah, dan mengurus kucing. Semalam, staf HRD perusahaan itu menelepon saya.
.
“Abang Ganteng, dari beberapa nama yang Abang usulkan, ada yang kami tolak untuk jadi karyawan,” katanya.
“What?”
“Kami sudah melakukan tracking profil mereka di media sosial. Rupanya, jejak digital di medsos banyak diisi kabar kebencian pada minoritas, umpatan dan makian. Bahkan mereka berucap syukur saat melihat kekerasan,”
“Kok bisa?”
“Iya bang. Perusahaan ini punya relasi dengan banyak kalangan. Dari berbagai etnik dan agama. Bahkan relasi kita banyak di luar negeri. Mempekerjakan karyawan dengan mindset seperti itu akan jadi masalah di masa depan.”
.
Saya terdiam. Bertambah lagi pengetahuan saya. Bahwa saat bersaing di dunia kerja, jejak digital sangat penting. Pihak pemberi kerja akan menelusuri siapa Anda melalui postingan, serta apa saja yang Anda pikirkan.
.
1 866
#recording ATE #edisi364 Mengenal Pendekatan Manual Therapy Physiotherapy (Bukan Asal Kretek-Kretek)
https://www.instagram.com/tv/CcSTwZ2gvGv/?igshid=YmMyMTA2M2Y=
