fa
Feedback

فریب کلاهبرداران را نخورید! تل‌متریو این کانال‌ها را شناسایی و برچسب‌گذاری می‌کند 👉 برای مشاهده برچسب، اشتراک تهیه کنید

Studi Islam & Bahasa Arab

Studi Islam & Bahasa Arab

رفتن به کانال در Telegram

Majelis yg telah berkiprah sejak 2016: - Kuliah Bahasa Arab Online - Kajian Kitab Online Ilmu KeIslaman - Akademi Fiqih Siyasah - Kursus Terjemah Arab-Indonesia https://wa.me/6289526856480 Jika ada iklan diluar admin, mohon abaikan, itu bukan dari admin

نمایش بیشتر
8 653
مشترکین
-324 ساعت
-187 روز
-10130 روز
آرشیو پست ها
مَن مثلُك يا ابنَ آدم: خُلِّي بينَك وبينَ المحراب والماء، كلّما شئتَ دخلتَ على اللهِ - عز وجل -، ليس بينَكَ وبينَه ترجُمان. Wahai keturunan Adam, siapakah yg hidupnya lebih nikmat darimu?! Engkau bisa berkhalwat di dalam mihrab bermodalkan air untuk berwudhu, sehingga setiap kali ingin bertemu dengan Allah 'Azza wajalla, engkau tinggal masuk ke dalam mihrab dan mengerjakan sholat, yg mana engkau bisa berkomunikasi dengan-Nya tanpa perantara. (Bakr al-Muzani rh)

Menyambut Hari Bahasa Arab Sedunia Bulan Desember Dibuka Program Kuliah Bahasa Arab (KBA) Online Bagi Pemula Angkatan 2027 Fokus belajar akselerasi kemampuan membaca kitab bagi pemula, dengan dibantu modul belajar yg telah teruji selama 12 tahun. Kuliah ini bersifat non formal, dengan desain fleksibilitas tinggi bagi siapapun yg mau ikut, bahkan bagi anda yg super sibuk sekalipun bisa ikut serta. Termasuk bg pemula yg belum punya dasar sekalipun bisa ikut juga. Karena itu, mari bagi yg mau ikut kelas bahasa Arab online gelombang akhir tahun ini, bisa registrasi segera dgn format: (1) BA_nama + no hp, (2) nama kota tinggal anda, kirim ke admin melalui no wa/tlgrm 085950697212 atau klik @staffadmincs (tlgrm). احرصوا على تعلم اللغة العربية فإنها جزء من دينكم Seriuslah mempelajari bahasa Arab, karena bahasa Arab itu merupakan bagian dari agama kalian. (Umar bin Khattab ra) تعلموا العربية كما تعلمون حفظ القرآن. Pelajarilah Bahasa Arab, sebagaimana kalian belajar menghafal Alquran (Ubayy bin Ka’b ra) Jangan nunggu waktu luang dan kesempatan, namun ciptakan waktu dan kesempatan, belajar b. Arab investasi akhirat.

photo content

لا يكون الرجل من العلم بمكان حتى لا يحسد من فوقه ولا يحقر من دونه ولا يبتغي بالعلم ثمنا Seseorang belum pantas disebut memiliki kedudukan dalam ilmu, hingga ia mampu menjaga hatinya dari tiga penyakit: tidak dengki kepada orang yg lebih berilmu darinya, tidak merendahkan orang yg berada di bawahnya, dan tidak menjadikan ilmunya sebagai alat untuk meraih keuntungan dunia. (Abdullah bin Umar ra).

قال رسول الله ﷺ: «مَن كانتِ الآخرةُ هَمَّهُ جعلَ اللَّهُ غِناهُ في قلبِهِ وجمعَ لَه شملَهُ وأتَتْهُ الدُّنيا وَهيَ راغمةٌ، ومَن كانتِ الدُّنيا هَمَّهُ جعلَ اللَّهُ فقرَهُ بينَ عينَيْهِ وفرَّقَ عليهِ شملَهُ، ولم يأتِهِ منَ الدُّنيا إلَّا ما قُدِّرَ لَهُ Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang menjadikan akhirat sebagai tujuan utamanya, Allah akan menanamkan kekayaannya di dalam hati, menyatukan urusannya, dan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan hina. Barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai tujuan utamanya, Allah akan menanamkan kefakirannya di depan matanya, mencerai-beraikan urusannya, dan ia tidak akan memperoleh dari dunia kecuali apa yang telah ditetapkan baginya." (HR. At-Tirmidzi)

‏يظل الإنسان في هذه الحياة مثل قلم الرصاص تبريه العثرات ليكتب بخط أجمل ويكون هكذا حتى يفنى القلم وﻻ يبقى له إلا جميل ما كتب Manusia di dalam kehidupan ini laksana ujung pena yg diraut hingga berjatuhan agar pena bisa menulis catatan yg paling indah, hal ini terus berlangsung hingga pena itu habis tidak tersisa kecuali tulisan indah itu sendiri.

نتمنى أن نعيش لنرى اليوم الذي يجتمع فيه المسلمون على عدوهم لا على أنفسهم Semoga kita masih diberi umur untuk menyaksikan hari di mana umat Islam bersatu melawan musuh mereka, bukan justru saling memerangi sesamanya sendiri. (Syaikh al-Azhar Ahmad ath-Thayyib)

*Ketenangan Mata yang Tak Ternilai Harganya* Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullah pernah berujar dengan kalimat yang menembus hingga ke relung jiwa: أن يُري الله العبد المسلم من زوجته، ومن أخيه، ومن حميمه طاعة الله. لا والله ما شيء أقر لعين المسلم من أن يرى ولدا، أو ولد ولد، أو أخا، أو حميما مطيعا لله عز وجل. "Yang ingin dilihat Allah pada hamba muslim dari istri, saudara, dan sahabat karibnya adalah mereka semua taat pada Allah. Wallahi, demi Allah, tidak ada sesuatu yg lebih menyenangkan pandangan mata seorang muslim melebihi ketaatan pada Allah yg ia lihat pada anak, cucu, saudara dan sahabat karibnya." Perkataan ini bukan sekadar nasihat. Ia adalah cermin bagi setiap kita yang mengaku mencinta. Kita hidup di zaman yang salah kaprah dalam memaknai “kebahagiaan keluarga”. Rumah megah, pendidikan mahal, tabungan tebal, dan nama besar kerap kita jadikan tolok ukur keberhasilan membina orang-orang terdekat. Kita bangga ketika anak lulus cumlaude, ketika usaha saudara berkembang, ketika sahabat naik jabatan. Semua itu baik. Namun al-Hasan al-Bashri mengingatkan kita pada tolok ukur yang lebih tinggi dan lebih kekal: ketaatan. Mengapa? Karena dunia bisa hilang. Jabatan bisa dicopot. Harta bisa ludes dalam semalam. Tetapi satu sujud yang ia lakukan, satu ayat yang ia hafal, satu akhlak yang ia jaga karena Allah — itu yang akan menemaninya di alam kubur dan memberatkan timbangan amal di akhirat. Dan itu pula yang akan menjadi penyejuk mata kita kelak di hadapan Allah. Coba renungkan. Apa gunanya kita memiliki anak yang cerdas tapi meninggalkan shalat? Apa artinya memiliki saudara yang kaya tapi durhaka kepada Allah? Apa manfaatnya memiliki sahabat yang setia menemani di dunia, namun di akhirat justru menjadi sebab kita saling menyalahkan? Ketenangan sejati seorang muslim bukanlah saat melihat anaknya memakai toga wisuda. Ketenangan sejati adalah saat melihat anak itu menunduk khusyuk dalam sujud. Bukan saat melihat cucu pandai berbahasa asing, tetapi saat mendengarnya melantunkan Al-Fatihah. Bukan saat melihat saudara membeli mobil baru, tetapi saat melihatnya menahan lisan dari ghibah. Bukan saat melihat sahabat viral di media sosial, tetapi saat melihatnya menangis dalam doa malam. Itulah “qurratu ‘ain” — penyejuk mata yang disebut Allah dalam doa para hamba-Nya: _“Rabbanā hab lanā min azwājinā wa dzurriyyātinā qurrata a’yun”_. Ya Tuhan kami, jadikanlah istri dan keturunan kami sebagai penyejuk hati kami. Imam al-Hasan ingin menggugah kita: cinta itu tanggung jawab. Mencintai keluarga dan sahabat berarti mengajaknya taat. Menegur dengan hikmah, mencontohkan dengan amal, mendoakan dalam sujud. Karena kelak di hari kiamat, hubungan yang tidak dibangun di atas ketaatan akan menjadi permusuhan. _“Al-akhillā’u yaumaidzin ba‘dhuhum liba‘dhin ‘aduwwun illal muttaqīn”_ — Para sahabat karib pada hari itu akan saling bermusuhan, kecuali orang-orang yang bertakwa. Maka mari kita bertanya jujur pada diri: Sudahkah kita menjadi sebab orang-orang terdekat kita semakin dekat kepada Allah? Atau justru kita menjadi penghalang? Demi Allah, tidak ada warisan paling mahal yang bisa kita tinggalkan selain anak yang shalih, saudara yang bertakwa, dan sahabat yang saling mengingatkan pada kebenaran. Karena ketika mata kita terpejam untuk terakhir kali, satu-satunya pemandangan yang akan terus mengalirkan pahala adalah melihat mereka tetap berjalan di jalan Allah tanpa kita. Itulah kebahagiaan yang tidak bisa dibeli. Itulah investasi yang tidak akan pernah rugi. Itulah penyejuk mata yang paling hakiki.

رَحِمَ اللهُ عَبْدًا مَسَحَ دَمْعَ الْمُبْتَلَى، وَخَفَّفَ هَمَّ الْمَكْرُوْبِ، وَكَانَ مِفْتَاحًا لِلْخَيْرِ. Semoga Allah merahmati hamba yang mengusap air mata orang yang tertimpa musibah, meringankan beban orang yang dirundung kesedihan, dan menjadi pembuka bagi pintu-pintu kebaikan.

ان في دوام الذكر في الطريق والبيت والحضر والسفر والبقاع، تكثيرا لشهود العبد يوم القيامة، فان البقعة والدار والجبل والارض، تشهد للذاكر يوم القيامة Sesungguhnya membiasakan dzikir di jalan, di rumah, ketika menetap maupun bepergian, dan di berbagai tempat, akan memperbanyak saksi bagi seorang hamba pada hari kiamat. Sebab, tempat, rumah, gunung, dan bumi akan menjadi saksi bagi orang yang berdzikir pada hari kiamat. (Ibnul Qayyim rh)

أخاف عليكم اثنين: اتِّباع الهوى، وطول الأمل؛ فإنَّ اتِّباع الهوى يصدُّ عن الحقِّ، وطول الأمل ينسي الآخرة» Aku mengkhawatirkan atas kalian dua hal: Mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan. Sesungguhnya mengikuti hawa nafsu akan menghalangi kebenaran, dan panjang angan-angan akan melupakan akhirat. (Ali bin Abi Thalib ra)

Kembali Dibuka Pendaftaran Bulan Rabi‘ul Akhir 1448 H Berantas Buta Kitab Gundul Angkatan ke 27 Tahun 2026 Berhubung banyaknya peminat yg ingin belajar bahasa Arab. Team KBA Online kembali membuka pendaftaran bagi calon peserta Kuliah Bahasa Arab Online. Kuliah ini bersifat non formal, dengan desain fleksibilitas tinggi bagi siapapun yg mau ikut, bahkan bagi anda yg super sibuk sekalipun bisa ikut serta. Termasuk bg pemula yg belum punya dasar sekalipun bisa ikut juga. Karena itu, mari bagi yg mau ikut kelas bahasa Arab online gelombang tahun 2026 ini, bisa registrasi segera  melalui no wa/tlgrm 085950697212 احرصوا على تعلم اللغة العربية فإنها جزء من دينكم Seriuslah mempelajari bahasa Arab, karena bahasa Arab itu merupakan bagian dari agama kalian. (Umar bin Khattab ra) تعلموا العربية كما تعلمون حفظ القرآن. Pelajarilah Bahasa Arab, sebagaimana kalian belajar menghafal Alquran (Ubayy bin Ka’b ra) Jangan nunggu waktu luang dan kesempatan, namun ciptakan waktu dan kesempatan, belajar b. Arab investasi akhirat. لا تمض يومك في غير منفعة، و لا تضع مالك في غير صنعة Jangan kaulewatkan harimu untuk sesuatu yang tidak bermanfaat, dan jangan kau sia-siakan hartamu untuk sesuatu yang tidak produktif.

سأل رجل الحسن البصري: أمؤمن أنت؟ فقال: إن كنت تريد قول الله عز وجل "آمنا بالله وما أنزل إلينا"، فنعم، به نتناكح ونتوارث ونحقن الدماء؛ وإن كنت تريد قول الله تعالى "إنما المؤمنون الذين إذا ذكر الله وجلت قلوبهم"، فنسأل الله أن نكون منهم Seseorang bertanya kpd al-Hasan al-Bashri: “Apakah anda orang yg beriman?” Beliau menjawab: “Jika yg kau maksud beriman dlm firman Allah ‘azza wa jalla: “Kami beriman kpd Allah dan apa yg diturunkan kpd kami,” maka iya jelas beriman. Sesuai firman tsb, kami menikah, mewariskan dan melindungi jiwa. Tapi jika yg kau maksud beriman dlm firman Allah ta’ala: “Sesungguhnya orang-orang beriman adlh mereka yg bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka,” maka kami memohon kpd Allah agar termasuk di antara mereka."

من حسن خلق الرجل أن يحدث صاحبه وهو يتبسم Termasuk akhlak baik seseorang, ia berbicara kepada temannya dalam keadaan tersenyum. (Habib Ibnu Abi Tsabit rh)

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا فِيْهَا وَخَيْرَ مَا أُرْسِلْتَ بِهِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا فِيْهَا وَشَرِّ مَا أُرْسِلْتَ بِهِ "Ya Allah, sungguh aku mohon kepadaMu kebaikan angin ini, kebaikan apa yg ada padanya, dan kebaikan pada tujuan angin ini dihembuskan. Aku berlindung kepadaMu dari keburukan angin ini, keburukan apa yg ada padanya, dan keburukan tujuan angin ini dihembuskan." (HR. Muslim)

بلغني أن الله إذا أراد بقوم شرا ألزمهم الجدل ومنعهم العمل Telah sampai keterangan kepadaku, apabila Allah menghendaki keburukan bagi suatu masyarakat, maka mereka akan disibukkan dgn perdebatan dan terhalang berbuat kebaikan. (Imam al-Auzai' rh)

Lihatlah. Negeri ini tidak diminta langsung meminta air hujan. Negeri ini diminta lebih dulu memperbaiki kondisinya sesuai syariat Islam. Abu vulkanik adalah ujian. Tapi bisa jadi ia juga teguran. Teguran agar kita berhenti menunda taubat, berhenti menumpuk kezaliman, berhenti membiarkan perpecahan. Berhenti menolak syariah. Pemerintah bisa mengerahkan alat dan menyemprot jalan. Itu ikhtiar wajib. Masyarakat bisa memakai masker dan membantu sesama. Itu kewajiban. Namun hujan yang benar-benar menyejukkan, yang melunturkan abu sekaligus melapangkan dada, hanya akan turun jika langit melihat kita sudah berbenah. Karena memang hujan itu bukan semata fenomena alam, namun salah satu tanda kekuasaan Allah. Maka sebelum kita minta hujan untuk membersihkan jalanan, mari kita bersihkan dulu negeri ini dari maksiat, kezhaliman, dan permusuhan. Karena hujan yang paling kita butuhkan hari ini bukan hanya tetesan air. Ia adalah hujan rahmat, yang turun setelah kita kembali menjadi bangsa yang taat. *YSP*

*Sebelum Minta Hujan, Mari Kita Benahi Dulu Negeri Ini* Beberapa hari ini abu vulkanik menutup langit. Jalanan mulai memutih, sebagian orang merasa napas menjadi berat, dan aktivitas penerbang dan lainnya lumpuh. Lalu para ahli sepakat: kita butuh hujan guna menetralisir dampak abu vulkanik. Sebagian tokoh agama, mulai menganjurkan dilaksanakan shalat Istiaqa yakni halat minta hujan. Tapi sebelum menengadah ke langit memohon hujan, para ulama terdahulu mengajarkan kita untuk menunduk dulu ke dalam diri. Al-Khatib asy-Syirbini rahimahullah menuliskan adab para pendahulu ketika hendak shalat istisqa: وإذا أرادوا الخروج للصلاة (فيأمرهم الامام) الاعظم أو نائبه قبل الخروج إليها (بالتوبة) من جميع المعاصي الفعلية والقولية المتعلقة بحقوق الله تعالى بشروطها الثلاثة، وهي: الندم والاقلاع والعزم على أن لا يعود (و) بالاكثار (من الصدقة) على المحاويج (و) بالتوبة من حقوق الآدميين، (و) هي المبادرة إلى (الخروج من المظالم) المتعلقة بهم من دم أو عرض أو مال مضافا ذلك إلى الشروط الثلاثة المذكورة (و) بالمبادرة إلى (مصالحة الاعداء) المتشاحنين لامر دنيوي ولحظ نفس لتحريم الهجران حينئذ فوق ثلاث (و) بالمبادرة إلى (صيام ثلاثة أيام) متتابعة ويصوم معهم، وذلك قبل ميعاد الخروج فهي به أربعة لان لكل من هذه المذكورات أثرا في إجابة الدعاء قال تعالى (ويا قوم استغفروا ربكم ثم توبوا إليه يرسل السماء عليكم مدرارا) Ketika kaum muslimin hendak shalat meminta hujan, sebelumnya al-imam al-a'zham (khalifah) atau wakilnya memerintahkan mereka bertaubat dari seluruh maksiat, baik perbuatan dan perkataan yg berkaitan dengan hak Allah, dengan tiga syarat: menyesal, meninggalkan, dan bertekad tidak mengulangi lagi, serta memperbanyak sedekah kepada yg membutuhkan. Juga bertaubat dari maksiat yg berkaitan dengan hak manusia, yakni: segera tinggalkan segala kezhaliman baik terkait harta, darah, atau kehormatan sebagai tambahan dari tiga syarat yg sudah disebutkan tadi. Begitupun segera mendamaikan permusuhan orang yg berselisih lantaran urusan dunia dan pelanggaran jiwa dengan melarang 'tidak menyapa' lebih dari tiga hari. Juga shaum tiga hari berturut-turut bersama kaum muslim, yg dilakukan sebelum waktu sholat yg dilaksanakan di hari ke empat, sebab semua yg disebut di atas memiliki pengaruh agar doa bisa dikabulkan sesuai firman Allah swt "Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Rabb kalian lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yg sangat deras atas kalian." (al-Iqna' fi Halli Alfazhi Abi Syuja') Lihatlah dari penjelasan asy-Syirbini rahimahullah, sang Imam atau pemimpin tidak langsung mengajak keluar ke lapangan melaksanakan istisqa. Ia justru harus terlebih dahulu berbenah bersama rakyatnya untuk memperbaiki negerinya segala sisi: Pertama, *bertaubat massal kepada Allah* dengan sungguh-sungguh. Menyesal, berhenti dari maksiat, dan berjanji tidak mengulangi. Karena dosa adalah penghalang turunnya rahmat. Kedua, *memperbanyak sedekah bagi orang kaya* kepada yang membutuhkan. Ringankan beban sesama, karena tangan yang memberi adalah jalan dibukanya pintu langit. Ketiga, *menyelesaikan kezaliman antar manusia*. Kembalikan hak orang. Hentikan zalim dalam urusan harta, darah, dan kehormatan. Selama kita masih saling menzalimi, bagaimana mungkin doa kita sampai? Keempat, *mendamaikan yang bermusuhan*. Putuskan pertengkaran karena urusan dunia. Jangan ada yang saling mendiamkan lebih dari tiga hari. Persatuan umat adalah syarat dikabulkannya doa. Kelima, *berpuasa tiga hari* untuk melembutkan hati, sebelum pada hari keempat seluruh penduduk negeri keluar bersama memohon kepada Allah. Baru setelah itu Allah janjikan: وَيَٰقَوْمِ ٱسْتَغْفِرُوا۟ رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوٓا۟ إِلَيْهِ يُرْسِلِ ٱلسَّمَآءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَىٰ قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا۟ مُجْرِمِينَ Dan dia berkata "Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa." (QS. Hud: 52).

*Dua Gempa* ذكر لنا أن الكوفة رجفت على عهد ابن مسعود، فقال يأيها الناس إن ربكم يستعتبكم فأعتبوه Sebuah keterangan menyebutkan suatu hari kota Kufah mengalami gempa di masa Ibnu Mas’ud, lalu beliau berkata kepada penduduknya: “Wahai manusia, Rabb kalian meminta agar kalian segera bertaubat, karena itu bertaubatlah.” (Imam Qatadah rahimahullah) Ketika kota Kufah diguncang gempa di masa Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau tidak sibuk menuding lempeng bumi. Beliau juga tidak hanya menghitung korban dan kerusakan. Di tengah kepanikan, beliau berdiri dan berkata kepada manusia dengan suara yang menembus hati: “Wahai manusia, Rabb kalian meminta agar kalian segera bertaubat. Karena itu, bertaubatlah.” Satu kalimat itu lebih mengguncang daripada guncangan tanah itu sendiri, karena ia mengingatkan bahwa setiap musibah di alam adalah surat dari langit. Hari ini kita pun sedang hidup di tengah dua jenis gempa. Gempa pertama adalah gempa yang kasatmata. Tanah bergetar, rumah runtuh, jalan terbelah, air bah datang, dan api melahap. Negara mengerahkan alat, relawan turun ke lapangan, masyarakat membuka dompet untuk donasi. Kita tahu persis bagaimana cara menghadapinya: mitigasi, evakuasi, rekonstruksi. Ini urusan teknis yang harus dikerjakan dengan cepat, rapi, dan sistemik. Namun ada gempa kedua yang sering luput dari radar kita. Ia tidak memecahkan kaca, tidak merobohkan tembok. Ia terjadi di dalam dada. Ia adalah gempa spiritual. Ketika shalat lima waktu ditunda tanpa rasa bersalah. Ketika riba dianggap peluang usaha. Ketika amanah dikhianati demi keuntungan. Ketika anak durhaka dinormalkan, lisan kotor dijadikan candaan, dan hati mengeras hingga tak lagi tersentuh ayat. Gempa ini tidak membunuh satu dua orang, ia membunuh nurani satu bangsa secara perlahan. Ibnu Mas’ud ingin kita sadar bahwa guncangan di luar adalah panggilan untuk memperbaiki di dalam. Kata _yasta’tibukum_ bermakna Allah sedang meminta kita untuk kembali, untuk memperbaiki hubungan yang retak dengan-Nya. Musibah bukan selalu hukuman. Bisa jadi ia teguran kasih sayang agar kita tidak terus berjalan menuju jurang yang lebih dalam. Karena itu negara wajib membangun infrastruktur tahan gempa. Bendungan harus kuat, jembatan harus kokoh, sistem peringatan dini harus akurat. Itu bagian dari ikhtiar dan tanggung jawab. Tetapi bangsa ini juga wajib membangun fondasi iman yang tahan fitnah. Karena sehebat apapun BNPB bekerja, sekuat apapun beton dituang, jika hati masyarakat rapuh dan jauh dari Allah, maka satu musibah bisa meluluhlantakkan lebih dari sekadar bangunan. Ia bisa meruntuhkan kepercayaan, memecah persatuan, dan melahirkan keputusasaan. Maka mari kita belajar dari Kufah. Ketika sirine meraung, selain kita berlari ke titik aman, mari juga berlari dalam sujud. Ketika tim SAR menyisir puing-puing, mari kita juga menyisir dosa-dosa yang menumpuk. Ketika pemerintah menyalurkan logistik, mari masyarakat menyalurkan taubat dan perbaikan diri. Gempa musibah mengingatkan kita bahwa kita lemah dan butuh pertolongan. Gempa spiritual mengingatkan kita bahwa kita butuh Allah lebih dari butuh apa pun. Dua-duanya harus disikapi bersama. Negara menyiapkan sistem, masyarakat menyiapkan kesadaran. Karena bisa jadi, di balik setiap guncangan, Allah sedang berbisik lembut: “Hamba-Ku, pulanglah. Aku masih menantimu.” YSP

أن يُري الله العبد المسلم من زوجته، ومن أخيه، ومن حميمه طاعة الله. لا والله ما شيء أقر لعين المسلم من أن يرى ولدا، أو ولد ولد، أو أخا، أو حميما مطيعا لله عز وجل. Yang ingin dilihat Allah pada hamba muslim dari istri, saudara, dan sahabat karibnya adalah mereka semua taat pada Allah. Wallahi, demi Allah, tidak ada sesuatu yg lebih menyenangkan pandangan mata seorang muslim melebihi ketaatan pada Allah yg ia lihat pada anak, cucu, saudara dan sahabat karibnya. (Imam al-Hasan al-Bashri rh)

Studi Islam & Bahasa Arab - آمار و تحلیل کانال تلگرام @studi_arab