Gerai Fathimah
رفتن به کانال در Telegram
Catatan ringan Abu Zakariyya Thobroni. Lelaki biasa, seorang jurnalis di masanya (1994-2014). Bisa dihubungi di 0817307670
نمایش بیشتر2 804
مشترکین
+124 ساعت
-27 روز
+7130 روز
آرشیو پست ها
2 804
DAUROH CIMAHI
Menebar Kebaikan, Menghadirkan Manfaat
Setelah 8 tahun berlalu, yang perdana memberikan warna baru. Demikian gambaran dari Dauroh Cimahi di Masjid Agung Cimahi di Sabtu (26/9) lalu.
Dauroh Cimahi menghadirkan dua asatidzah sebagai pemateri. Mereka adalah al Ustadz Abu Hamzah Yusuf, S.Pd (Pengasuh Ma'had Daarul Atsar Tasikmalaya) dan al Ustadz Ayip Syafruddin, S.Psi (Pengasuh Ponpes Al Ausath Kartasura Sukoharjo). Hafidzahumallah.
"Dakwah Rasulullah ﷺ Menjaga Perilkau Menyimpang" adalah tema dauroh tersebut. Dauroh Cimahi diselenggarakan oleh Yayasan AJABA (Amal Jariyah Banu Adam) Cimahi.
Alhamdulillah dauroh berlangsung meriah. Peserta tidak hanya berasal dari Bandung Raya, ada juga dari Yogya, Bekasi, Bogor, Garut, Sukabumi, dan Tasikmalaya. Sejumlah 43 siswa SAIS School Soreang juga ikutan datang.
Beberapa asatidzah dari seputaran Jawa Barat juga hadir. Mereka adalah al Ustadz Dzulkarnain (Ma'had Riyadhul Jannah Cileungsi), al Ustadz Abu Dzar al Falimbany (Rumbel Imam Asy Syafi'i Soreang), al Ustadz Abu Umar Yunus (Ma'had At Tashfiyah Garut), dan al Ustadz Abu Yahya Mu'adz (Ma'had Dzunnurain Parung). Hafidzahumullah.
Pembagian brosur dan stiker kepada setiap peserta merupakan warna baru di Dauroh Cimahi. Brosur plus stiker diberikan kepada peserta yang mengisi buku tamu. Selain itu peserta juga mendapatkan snack dan minuman mineral.
"Ada 300 lembar brosur yang dicetak," ujar Abu Qonitah Fuad, Ketua Yayasan AJABA.
Brosur bukan melulu memperkenalkan Yayasan AJABA melainkan juga ajakan berbuat kebaikan. "Apa Kebaikan yang Ingin Kita Tinggalkan?", kalimat yang tertulis di brosur tersebut.
Di bawahnya ada tulisan: "Harta mungkin akan habis. Usia akan berakhir. Namun manfaat dari sebuah kebaikan dapat terus hidup. AJABA hadir sebagai wadah untuk menebar kebaikan dan menghadirkan manfaat."
Upaya untuk melakukan amal jariyah merupakan alasan utama pendirian Yayasan AJABA. Makanya di brosur tersebut dipaparkan program-program kebaikan yang bisa diikuti. Semisal AJABA Peduli Bencana (APB), AJABA Peduli UMKM (APU), dan AJABA Peduli Lingkungan (APL).
Abu Qonitah Fuad menjelaskan, APL menjadi program yang sekarang lagi diseriusi. AJABA bisa memberikan sumbangsih yang nyata kepada masyarakat dan negara dalam pengelolaan sampah secara mandiri.
Beberapa waktu sebelum Dauroh Cimahi, AJABA sudah menyumbangkan tempat sampah khusus botol plastik untuk Masjid Agung Cimahi. Abu Qonitah Fuad berharap keberadaan tempat sampah tersebut bisa mengurangi sampah -khususnya botol plastik- yang berceceran.
Jika ada yang berminat berkontribusi melakukan kebaikan bersama AJABA, silakan kontak di 08882020008.
(Abu Zakariyya Thobroni, Senin 16 Rabiulakhir 1448/28 September 2026)
https://t.me/geraifathimah
2 804
Selebaran Kaleng Berisi Kedustaan
Konon, seseorang menempelkan selebaran di pagar/tembok rumah warga di sebuah kawasan permukiman. Isi selebaran berupa fitnah keji pada sekelompok orang.
Tidak dicantumkan siapa pihak yang bertanggung jawab membuat/menempelkan selebaran itu. Tidak dicantumkan nama, nomor telepon, dan alamat.
Jika memang seseorang itu merasa sedang menyiarkan kebenaran, kenapa tidak dicantumkan namanya agar bisa dilakukan konfirmasi kebenarannya? Mengapa seseorang itu menyembunyikan identitasnya?
Bila ada surat kaleng, selebaran tersebut pantas disebut selebaran kaleng. Merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia, surat kaleng adalah "surat yang tidak dibubuhi nama dan alamat pengirim (biasanya dengan maksud mencela, mengkritik, dan sebagainya)".
Kalau penempelan selebaran kaleng itu sungguh terjadi, sebuah perilaku yang melanggar batas norma agama, kesusilaan, dan hukum. Begitu kejinya seseorang itu menyebarkan kedustaan dan fitnah dengan "mengumumkannya" ke masyarakat dengan cara menempelkan selebaran di rumah-rumah warga tanpa izin. Secara hukum hal tersebut juga tidak dibenarkan. Melanggar hukum.
KUHP baru (UU No. 1 Tahun 2023) secara tegas mengatur pencemaran nama baik, dan ketentuannya terdapat dalam Bab XVII Tindak Pidana Penghinaan. UU ini mulai berlaku 2 Januari 2026.
Entah si pembuat/penempel selebaran kaleng itu mengerti hukum di negeri ini atau tidak. Tapi, bukankah dia seseorang yang beragama? Masak sih seseorang yang mengaku beragama melakukan tindakan senista itu? Tidakkah dia takut akan hukuman-NYA?
(Abu Zakariyya Thobroni, Rabu 11 Rabiulakhir 1448/23 September 2026)
https://t.me/geraifathimah
2 804
DAUROH CIMAHI
Perdana setelah Sekian Lama
Alhamdulillahilladzi bini'matihi tatimmush-shalihaat. Segala puji bagi Allah 'azza wa jalla yang dengan nikmat-nikmat-Nya kebaikan-kebaikan menjadi sempurna.
Setelah sekian tahun lamanya, akhirnya digelar juga Dauroh Cimahi. Dauroh akan dilangsungkan di Masjid Agung Cimahi pada Sabtu 26 September 2026.
Dua asatidzah akan dihadirkan sebagai pemateri. Mereka adalah al Ustadz Abu Hamzah Yusuf, S.Pd (Pengasuh Ma'had Daarul Atsar Tasikmalaya) dan al Ustadz Ayip Syafruddin, S.Pi (Pengasuh Ponpes Al Ausath Kartasura Sukoharjo). Hafidzahumallah.
Dari rekam jejak dakwah ahlussunnah di Bandung Raya, Cimahi pernah punya andil dalam menyemarakkan dakwah ahlussunnah. Di Masjid Agung Cimahi, ada kajian rutin ahlussunnah setiap akhir pekannya.
Beberapa nama pernah mengisi taklim rutin di Masjid Agung Cimahi. Semisal al Ustadz Abu Hamzah Yusuf, al Ustadz Abdurrahman Mubarak (Pengasuh Ma'had Riyadhul Jannah Cileungsi Bogor), al Ustadz Abu Muhammad Rosyid (Pengasuh Ma'had Mu'adz bin Jabal Ciwaru Bandung). Hafidzahumullah. Bahkan pernah juga menyelenggarakan muhadharah salah seorang syaikh di sana.
"Kajian Masjid Agung Cimahi dulu sempat cukup ramai dan rutin pekanan untuk kajian Bandung Raya. Setelah Covid kajian off, dan juga setelah Covid usai, dari pihak DKM belum mengizinkan. Makanya, bisa dibilang dauroh ini perdana setelah sekian lama. Lebih dari 50 purnama tidak menggelar kajian di sana," ujar Abu Qonitah Fuad, Ketua Yayasan AJABA, penyelenggara Dauroh Cimahi.
Sebagai yang perdana setelah sekian lama, panitia juga mengundang ma'had-ma'had seputaran Jawa Barat. "Agar lebih semarak, serta sebagai media menjalin ukhuwah lagi di antara kita. Dengan undangan khusus, bukan sekadar pengumuman, sifatnya lebih mengakrabkan," ujar Abu Qonitah Fuad.
Agar lebih menghangatkan ukhuwah, Dauroh Cimahi bakal membuka stan KopWah Gratis. Stan yang membagikan kopi gratis untuk peserta dauroh nanti. InsyaAllah.
(Abu Zakariyya Thobroni, Selasa 10 Rabiulakhir 1448/22 September 2026)
https://t.me/geraifathimah
2 804
Larutnya malam lah yang memaksa obrolan seru malam itu harus diakhiri. Jam saat itu menunjukkan angka 22:30 WIB, waktunya untuk beristirahat.
"Perjalanan takdir," komentar Abu Salim -salah seorang anggota rombongan gurunda- atas kisah perjalanan gurunda menuntut ilmu di Yaman yang didengarnya di malam itu.
(Abu Zakariyya Thobroni, Ahad 8 Rabiulakhir 1448/20 September 2026)
https://t.me/geraifathimah
2 804
Perjalanan Takdir
"Mulai besok tidak boleh ada lagi yang mengeluh," kata Gus Miftah -ikhwan Wonosobo- di Sabtu malam di penghujung akhir Agustus lalu.
Malam itu di kantor Ponpes Ta'dhimus Sunnah Wonosobo, Gus Miftah bersama ikhwah dan asatidzah ponpes berbincang-bincang santai dengan al Ustadz Abu Hamzah Yusuf, S.Pd hafidzahullah. Gurunda Pengasuh Ma'had Daarul Atsar Tasikmalaya (Madasta) itu diundang sebagai pemateri di kajian Islam ilmiah di Sabtu - Ahad (29-30/8) di ponpes tersebut.
Obrolan semakin gayeng ketika ada yang meminta gurunda bercerita tentang masa belajarnya di Darul Hadits Syaikh Muqbil di Dammaj dulu. Seperti diketahui gurunda pernah mondok di Dammaj Yaman pada tahun 1996 hingga 2000.
Gurunda bercerita tentang pondok Dammaj dengan segala keterbatasannya saat itu. Air belum mengalir ke kamar-kamar santri seperti sekarang. Pun begitu listrik hanya ada di masjid dan maktabah. Itu juga hanya menyala hingga jam 10 malam.
"Berangkat bawa kitab dan 2 jeriken. Setelah selesai belajar, pulang bawa jeriken yang sudah terisi air," kenang gurunda.
Belajar di malam hari di kamar hanya mengandalkan api dari lampu minyak tanah. Api lampu yang berasap hitam, meninggalkan jelaga di wajah di keesokan hari ketika terbangun.
Makan nasi jatah dari pondok hanya di siang hari. Selebihnya roti kering yang keras. "Nasi lauknya tomat yang diblender kadang ditambahi cabe hijau," ujar gurunda yang menceritakan jika terlambat datang nggak akan kebagian jatah makan karena jam pelayanan selesai.
Untuk minumnya? Tinggal buka kran yang ada di masjid. Softdrink Miranda dingin adalah sebuah kemewahan.
Gurunda bercerita, sisa roti kering disimpan, untuk dibawa ke pertemuan santri Indonesia di setiap malam Jumat. Roti dipatah-patahin direbus dengan air ditambah susu pisang. Jadilan bubur pisang yang bisa dibilang kudapan spesial kala itu.
Sangat beralasan jika Gus Miftah berkata seperti itu. Tidak boleh mengeluh dalam menuntut ilmu bila melihat perjuangan gurunda di Dammaj.
Bahkan Gus Miftah berkomentar jika dirinya di posisi gurunda, dia tak akan mampu. Apalagi setelah mendengar cerita gurunda pertama kali datang ke Yaman.
Gurunda ketika itu masih berusia 19 tahun selepas lulus SMA. Sebenarnya ada rencana untuk melanjutkan pendidikan berkuliah di Bandung.
Biidznillah, pertemuan dengan seorang dokter kenalan ayahanda gurunda menjadi awal cerita. Sang dokter ketika mengetahui keinginan gurunda pengin kuliah, beliau menawarkan pilihan.
"Kenapa tidak ke Yaman? Di sana ada universitas, ada pula non formal (Dammaj). Saudara saya ada yang sekolah di Dammaj juga," kata sang dokter.
Gurunda mengakui kata "Dammaj" selalu terngiang dan memenuhi benaknya setelah mendengar ucapan sang dokter. Gurunda sampai tidak bisa tidur. Entah kenapa senantiasa terbayang akan Dammaj. Gurunda pun akhirnya memutuskan menerima tawaran ke Dammaj.
Atas bantuan saudara sang dokter juga gurunda dijemput ketika mendarat di Sana'a. Saudara sang dokter itu selama 4 hari menemani gurunda di Sana'a. Karena tidak bisa mengantar, gurunda dititipkan ke orang Somalia yang juga hendak belajar ke Darul Hadits Dammaj.
Perjalanan yang panjang dan menegangkan. Selama perjalanan ada 5-6 pos pemeriksaan yang terbilang ketat oleh aparat keamanan. Selama perjalanan gurunda senantiasa tak lepas dari doa agar lolos dari pemeriksaan dan bisa belajar di Dammaj.
Klimaksnya, menjelang memasuki Sa'dah ada pemeriksaan terakhir, ikhwan Somalia yang menemani gurunda diturunkan paksa dari kendaraan. Tidak boleh melanjutkan perjalanan.
Gurunda pun sendirian dan dibuat kebingungan. Selama hampir setengah jam gurunda berdiri di pemberhentian terakhir di Sa'dah. Bengong. Tidak tahu harus berbuat apa.
Tetiba seorang ikhwan yang membawa kitab dan menjinjing belanjaan menghampiri gurunda. Begitu keduanya berhadapan ia bertanya ke gurunda: "Dammaj, Dammaj? Syaikh Muqbil?"
Spontan gurunda spontan membenarkan pertanyaan tersebut. Alhamdulillah. Gurunda akhirnya ditemani hingga menginjakkan kaki di Daarul Hadits Dammaj.
2 804
KOPWAH GRATIS DI DAUROH KOTA MANADO
Melelahkan tapi Menyenangkan
KopWah semakin berukhuwah. Biidznillah, keberadaan stan KopWah Gratis di Dauroh Kota Manado (12-13/9) adalah hasil ukhuwah. Sisa saldo KopWah Gratis di Dauroh Karang Makmur (4-6/9) sebesar Rp 678.153 didonasikan kepada Tim KopWah di Dauroh Kota Manado.
Sudah menjadi kesepakatan jika ada sisa saldo dari pelaksanaan stan KopWah Gratis akan didonasikan untuk stan KopWah Gratis berikutnya. Seperti halnya stan KopWah Gratis di Dauroh Pantura 2, ada taawun dari sisa saldo KopWah Gratis di Dauroh Akbar Surabaya 2025 sebesar Rp 301.000. Di Dauroh Pantura 2 ada sisa saldo Rp 337.653 yang didonasikan untuk taawun KopWah Gratis di Dauroh Karang Makmur di awal September lalu.
Indahnya ukhuwah. Sekaligus bukti bahwa ukhuwah ahlussunnah di negeri ini kokoh tak sedikit pun goyah.
Alhamdulillah, stan KopWah Gratis bisa eksis di Dauroh Kota Manado lalu. Posisi stan KopWah Gratis berada di lorong antarkelas di Ma'had As-Sunnah Manado, tempat dauroh berlangsung.
"Alhamdulillah, saya lihat ikhwah senang banget (dengan adanya stan KopWah Gratis). Bahkan ada ikhwan sampai 3-4 kali bolak-balik minta dibuatkan kopi," ujar Abu Muhammad, barista di stan KopWah Gratis di Manado yang dibantu oleh Abu Ubaidillah Lombok dan beberapa panitia lainnya.
Abu Muhammad tidak sempat menghitung berapa jumlah cup yang dibagikan. Di 3 hari dauroh itu dia telah menghabiskan 2 kg kopi, 20 kotak susu UHT, 25 kaleng SKM, 2 toples krimer ukuran 1 kg.
"Di sini karena masih perdana ada yang mau bayar lho. Saya sampaikan ini KopWah Gratis," cerita Abu Muhammad.
Abu Muhammad mengakui mesti melelahkan tapi ada kepuasan tersendiri. "Ada rasa senang pas lihat ekspresi ikhwan seruput kopinya sambil angkat jempol terus bilang: 'Zein..'," ujarnya.
Lelah pun seketika sirna. Alhamdulillah...
(Abu Zakariyya Thobroni, Kamis 5 Rabiulakhir 1448/17 September 2026)
https://t.me/geraifathimah
2 804
Sembilan Belas Jam di Metro Lampung
Ini kali kedua saya datang ke Ma'had Ittibaussalaf Metro Lampung. Kali pertama saya ke ma'had ini terjadi pada bulan Januari 2024. Ketika itu saya bersama Abu Faqih Ginanjar menemani al Ustadz Abu Hamzah Yusuf hafidzahullah saat safari dakwah ke Metro Lampung, Bandar Lampung, dan Kalianda.
Kali ini saya sendirian. Tak ada tujuan khusus, hanya memenuhi tawaran ikhwan Metro Lampung untuk mampir sebelum saya pulang ke Tasikmalaya (Jumat 11/9). Seusai mendatangi Dauroh Karang Makmur 2026 (4-6/9), saya memutuskan singgah dulu ke Lampung Utara. Memenuhi janji saya kepada Abu Zhidan, ikhwan yang tinggal di Bunga Mayang.
Semula saya hendak pulang dari Bunga Mayang. Mendadak Pak Tri -ikhwan Metro Lampung- mengajak saya mampir ke Metro Lampung. Dia malah bela-belain jemput saya di Kotabumi, naik kereta menuju Metro Lampung. Kami tiba di Ma'had Ittibaussalaf pada Kamis (10/9) malam pukul 7. Pak Joko dan Ahmad menyambut dan sejenak menemani kami malam itu.
Alhamdulillah, di Metro Lampung saya kembali berjumpa dengan Abu Hamzah Edo setelah pertemuan terakhir di Dauroh Pantura 2. Kembali bertemu dengan Abdurrahman Ade yang sebelumnya kita ketemuan di Dauroh Karang Makmur 2026.
"Mau Americano arabika ijen?" ujar Abu Hamzah Edo saat menemui saya di penginapan di Jumat (11/9) pagi itu.
Tawaran yang jelas tak akan saya tolak sebagai kopi pembuka pagi di sini. Rebusan umbi-umbian ikut disertakan sebagai teman kopi terhitung jadi menu sarapan bagi saya. MasyaAllah.
Setelah itu Pak Tri mengajak saya berkeliling ke kompleks permukiman ikhwah Ma'had Ittibaussalaf Metro Lampung. Menuju jembatan gantung dan bekas wisata Capit Urang.
Dari Pak Tri diperoleh informasi jika lahan kompleks ma'had asuhan al Ustadz Adi hafidzahullah itu memiliki luas area kurleb 5 hektar. Jumlah penghuninya sekitar 250 KK.
Sepulang dari Capit Urang, kami mampir ke rumah Nanang salah satu warga permukiman Ma'had Ittibaussalaf Metro Lampung. Semangkok bakso dan kelapa muda disajikan. Sarapan kedua saya di pagi itu.
Alhamdulillah, usai sholat Jumat ada walimahan. Saya diminta datang memenuhi undangan walimahan. Resepsi pernikahan Abdul Aziz bin Oji Fauzi dan Asy Syifaa binti Bambang.
(Bārakallāhu laka, wa bāraka ‘alaika, wa jama‘a bainakumā fī khair. Semoga Allah memberkahimu, melimpahkan keberkahan kepadamu, dan menyatukan kalian berdua dalam kebaikan.)
Selepas walimahan, Pak Budi -ikhwan Bandar Lampung- berkenan mengantarkan saya dan Pak Tri ke Itera. Kami berangkat dari ma'had sekitar pukul 2 siang. Itera titik pemberangkatan bus saya ke Tasikmalaya.
Di Itera itulah titik akhir perjalanan saya ke Sumatra di 3-11 September 2026. Selama sembilan hari itu berkesempatan menemui saudara-saudara sesama ahlussunnah saya di Muara Enim, Bunga Mayang, Kotabumi, dan Metro Lampung.
Dari empat tempat itu ada satu garis merah yang bisa ditarik. Yakni pemuliaan mereka kepada tamunya. Sambutan hangat penuh kasih. Saya kadang dibuat tercekat memeroleh penyambutan yang sedemikian hangat. Di Sumatra, I'm nobody who became somebody.
Jazaahumullahu khoiron katsiron. Semoga Allah 'azza wa jalla membalas mereka dengan kebaikan yang banyak.
(Abu Zakariyya Thobroni, Senin 2 Rabiulakhir 1448/14 September 2026)
https://t.me/geraifathimah
2 804
Bersyukur di Bunga Mayang
Rumah itu terletak di Desa Iso Rejo Kecamatan Bunga Mayang, Lampung Utara. Halaman sebelah kiri dibangun semacam saung yang digunakan sebagai warung makan.
Warung Mbak Suci. Begitu nama yang terpampang di warung makan yang menjual mie ayam, bakso, dan sate itu. Warung milik Cak Noer, atau saya mengenalinya sebagai Abu Zhidan. Dia seorang ikhwan ahlussunnah yang tinggal di sana.
Di rumah itulah saya menginap 2 malam 3 hari (8-10/9). Seusai Dauroh Karang Makmur 2026 (4-6/9) saya tidak langsung balik ke Tasikmalaya, melainkan mampir dulu ke Bunga Mayang. Memenuhi janji saya ke Abu Zhidan, jika saya ada rezeki ke Sumatra saya akan mampir ke rumahnya.
"Biasanya kalau ada tamu, ikhwah pada ngumpul di sini. Ngopi-ngopi," ujar Abu Zhidan yang menyebutkan rumahnya sering disambangi ikhwah ahlussunnah dari Lampung dan sekitarnya.
Rabu selepas Maghrib (9/9), 2 orang ikhwan Bunga Mayang datang bertamu menemui saya. Namanya Abu Musa dan Mbah Dani, warga Desa Mulyorejo sekitar 4 km dari rumah Abu Zhidan.
Kami ngobrol banyak tentang pribadi masing-masing untuk saling mengenal lebih jauh. Abu Musa lelaki kelahiran tahun 1973 yang sudah memiliki 7 anak. Mbah Dani, lelaki yang sudah berusia 70 tahunan, yang hadir di Dauroh Pantura 2 dan Karang Makmur 2026 lalu.
Obrolan menarik ketika membahas kajian atau taklim di Bunga Mayang. Kajian rutin pekanan setiap Ahad berlangsung di Masjid Al Fajar di Karang Jawa. Sebuah desa yang terletak di Kecamatan Anak Ratu Aji, Kabupaten Lampung Tengah. Dari Bunga Mayang berjarak kurleb 40 km yang ditempuh dengan sepeda motor selama 2 jam.
Bagi Abu Musa, jarak yang terbilang lumayan juga. Namun dia dan ikhwah Bunga Mayang lainnya tak ada pilihan lain. Jika tidak berangkat tidak akan mendapatkan majelis ilmu.
Taklim rutin setiap Ahad itu biasanya berlangsung mulai pukul 11:00. Taklim berakhir menjelang waktu sholat Dhuhur. Ya, sekitar 1 jam lah taklimnya.
"Ustadz (pemateri) berasal dari Metro Lampung. Jaraknya dari Metro ke Karang Jawa kurang lebih sama dengan Bunga Mayang ke Karang Jawa. Jadi di tengah-tengah," papar Abu Musa.
Ustadz dari Metro yang dimaksud berasal dari asatidzah Ma'had Ittibaussalaf Metro Lampung. Dalam sebulan mereka bergantian mendatangi Karang Jawa.
Pekan 1 jadwalnya al Ustadz Abu Zakariyya Ahmad. Pekan 2 giliran al Ustadz Zaki, pekan 3 ada al Ustadz Abdul Aziz, pekan 4 al Ustadz Fathur, dan pekan 5 al Ustadz Adi. Hafidzahumullah.
Ada dua nama ustadz lain yakni al Ustadz Musa dan al Ustadz Abu Ikmal hafidzahumallah. Mereka ustadz pengganti jika al Ustadz Fathur berhalangan.
"Jumlah peserta kajian biasanya sekitar dua puluhan orang," ujar Abu Musa.
Peserta berasal dari daerah Bunga Mayang, Abung Pekurun, Abung Semuli, Padang Ratu, Kembang Gading. Jaraknya mirip sama, 40-50 km untuk menuju Karang Jawa.
Bagi Abu Zhidan, berangkat taklim ke Karang Jawa terbilang butuh perjuangan berat. Berkendara dengan istrinya selama 2 jam, begitu sampai harus fokus mendengarkan kajian dalam kondisi badan letih.
Dalam hati saya bersyukur bisa tinggal di kompleks ma'had. Mendatangi majelis ilmu tinggal melangkahkan kaki saja. Kecuali sakit atau safar, tak ada lagi alasan untuk tidak hadir di majelis ilmu.
Ikhwan di Bunga Mayang butuh perjuangan untuk bisa duduk di sebuah majelis ilmu. Empat jam perjalanan (pergi-pulang) hanya untuk mendengarkan kajian selama 1 jam.
(Abu Zakariyya Thobroni, Sabtu 30 Rabiulawal 1448/12 September 2026)
https://t.me/geraifathimah
2 804
MEMORI KARANG MAKMUR (4-Habis)
Sawit 16 Hektar Milik Pondok
Dauroh Karang Makmur (4-6/9) memang layak disebut Darnas. Dauroh Akbar Sumatra.
Dauroh selama 3 hari, peserta dari luar Karang Makmur dipersiapkan penjemputan/pengantaran dari/ke stasiun kereta api. Pun begitu untuk penginapan dan akomodasi mereka selama dauroh berlangsung ditanggung panitia.
Yang mengagumkan, urusan pembiayaan dauroh, Ma'had Dhiyaa'us Salaf mengandalkan kemampuan finansial internal. Tidak membuka donasi penggalangan dana secara terbuka apalagi nasional.
Penggalangan dana hanya melibatkan internal warga kompleks ma'had yang sudah berpenghuni 726 KK itu. Atau, mengirimkan proposal ke orang-orang yang memiliki kedekatan emosional dan kepedulian dengan ma'had asuhan al Ustadz Imam Bukhori hafidzahullah itu.
Apalagi kompleks ma'had yang menempati area seluas 34 hektar itu sudah memiliki beberapa unit usaha sendiri. Seperti perkebunan sawit, jeruk, karet dan babe jamal.
Untuk usaha sawit, ma'had memiliki lahan perkebunan sawit seluas 16 hektar yang tersebar di 5 titik lokasi. Pengelolaan kebun tersebut melibatkan ikhwah mahad mulai awal tanam, perawatan, hingga pemanenan.
"Sebulan panen 2 kali," ujar Abu Fadhl Syuaib, ikhwan yang dipasrahi mengelola perkebunan sawit.
Jika panen bagus -setelah dipotong biaya operasional- ma'had bisa mendapatkan keuntungan Rp 5 juta. Jika buruk, minimal Rp 2,5 juta.
Selain itu, ma'had juga mempunyai pemasukan tetap setiap bulan hasil taawun warga. Setiap bulan setiap warga mendapatkan amplop operasional ma'had yang dikoordinir oleh keplor (kepala lorong). Lorong bisa disamakan dengan RT. Ada 41 lorong di kompleks Ma'had Dhiyaa'us Salaf.
Setiap warga mendonasikan uang dengan memasukkannya ke dalam amplop. Selanjutnya diserahkan kembali ke keplor.
Diperoleh informasi hasil amplop operasional pondok terbilang lumayan. Kadang dapat Rp 6 juta, suatu ketika pernah Rp 12 juta.
"Rata-rata di atas Rp 5 juta," kata Abu Ahmad Tasik, salah satu keplor di Ma'had Dhiyaa'us Salaf Karang Makmur.
Ada lagi penggalangan donasi sukarela lainnya, yang dinamakan dengan Gerdu. Gerdu singkatan dari Gerakan Dua Ribu.
Gerdu adalah upaya penggalangan dana untuk internal warga Ma'had Dhiyaa'us Salaf Karang Makmur. Di beberapa warung disiapkan kotak Gerdu, diharapkan yang belanja berkenan mendonasikan uang recehan kembalian belanjaan untuk Gerdu.
(Abu Zakariyya Thobroni, Jumat 29 Rabiulawal 1448/11 September 2026)
https://t.me/geraifathimah
2 804
MEMORI KARANG MAKMUR (3)
Tirai Terpasang untuk Wanita, Pintu Terbuka untuk Pria
Di saat sholat atau taklim, pintu utama Ma'had Dhiyaa'us Salaf Karang Makmur ditutup. Segala aktivitas perdagangan dihentikan untuk sementara waktu. Warga di luar kompleks ma'had yang hendak berbelanja dilarang masuk.
Diperoleh informasi, banyak warga yang suka berbelanja ke toko/warung ikhwan. Takaran timbangan akurat, jika ada barang yang tertinggal diantarkan untuk dikembalikan kepada pemiliknya.
Di dalam kompleks Ma'had Dhiyaa'us Salaf ada toko yang menjual barang elektronik, perkakas listrik, sembako, perabot rumah tangga, air isi ulang, sayuran. Ada juga bengkel mobil dan motor. Malah di dekat pintu utama pondok ada toko emas.
Namun jangan dibayangkan toko pada umumnya yang mendisplay barang-barang di etalase. Seperti toko barang-barang elektronik, hanya tampak boks-boks besar pembungkus kulkas di teras rumah.
"Barang-barang (yang dijual ada) di dalam rumah," kata Pak Asep, salah satu warga kompleks Ma'had Dhiyaa'us Salaf.
Yang menarik adalah pemasangan kain tirai di pintu masuk rumah yang merangkap sebagai toko/warung. Jika tirai terpasang menutupi pintu, itu artinya yang melayani transaksi adalah perempuan. Hanya wanita yang boleh berbelanja saat itu.
Jika tirai disingkap dan pintu terbuka, artinya yang melayani adalah pria. Hanya pria yang boleh berbelanja saat itu.
Hal tersebut dibenarkan oleh Abdul Muiz, salah satu warga kompleks Ma'had Dhiyaa'us Salaf yang memiliki usaha toko sembako dan kebutuhan harian rumah tangga.
"Saya juga seperti itu, mereka (pembeli) sudah paham," kata Abdul Muiz.
Unik.
(Abu Zakariyya Thobroni, Kamis 28 Rabiulawal 1448/10 September 2026)
https://t.me/geraifathimah
2 804
MEMORI KARANG MAKMUR (2)
Drone, Toilet, Amplop
Handphone diikat di ujung sebatang bambu yang panjang. Bambu diangkat menjulang tinggi untuk merekam gambar (video) parkiran di Dauroh Karang Makmur (4-6/9).
Hasilnya? Rekaman video deretan parkir kendaraan beroda empat yang tampak dari atas. Salah seorang yang melihat video tersebut berkomentar: "MasyaAllah, ada yang pakai drone."
Hehehehe....
Begitulah salah satu bentuk kreativitas panitia Dauroh Karang Makmur 2026 di Ma'had Dhiyaa'us Salaf, Muara Enim Sumatra Selatan. Dauroh yang menghadirkan al Ustadz Muhammad bin Umar As-Sewed (Pengasuh Ma'had Dhiyaus Sunnah Cirebon Jawa Barat) dan al Ustadz Muhammad Afifuddin As-Sidawiy (Pengasuh Ma'had Al Bayyinah Sedayu Gresik Jawa Timur) sebagai pemateri. Hafidzahumallah.
Kreativitas lain yang juga dilakukan di Dauroh Karang Makmur 2026 yakni pemberdayaan kamar kecil/toilet milik warga di kompleks komunitas ahlussunnah di Ma'had Dhiyaa'us Salaf. Jadi, diberikan tanda bahwa toilet milik rumah yang bersangkutan boleh dipergunakan untuk peserta dauroh. Pemberdayaan semacam ini baru sekarang dilakukan.
Beberapa rumah di kompleks Ma'had Dhiyaa'us Salaf memang sengaja membangun toilet di luar rumah. Terutama rumah-rumah di generasi awal dirintisnya kompleks permukiman ma'had tersebut.
Jaga-jaga buat yang ronda atau orang lain jika pengin ke kamar kecil tidak harus balik ke pos atau rumah dulu. Demikian salah satu alasan Abu Ahmad Tasik yang sengaja membuat toilet di luar rumahnya.
Pak Gun, warga Karang Makmur lainnya yang juga memiliki toilet di luar rumahnya. Dia juga mengizinkan toiletnya dipakai untuk peserta dauroh. Dengan begitu dia bisa bertaawun dalam pelaksanaan Dauroh Karang Makmur 2026.
MasyaAllah.
Dari Abu Ilham -panitia Dauroh Karang Makmur 2026- pemberdayaan kamar kecil milik warga pondok itu merupakan imbauan dari al Ustadz Imam Bukhori hafidzahullah. Beliau adalah Pengasuh Ma'had Dhiyaa'us Salaf. Hal tersebut dilakukan untuk mengantisipasi antrean panjang di toilet yang biasa terjadi di dauroh-dauroh berskala besar.
Alhamdulillah, di Dauroh Karang Makmur 2026 boleh dikatakan tidak terjadi antrean panjang di toilet. Abu Ilham menduga hal tersebut dikarenakan adanya toilet milik warga yang boleh digunakan oleh peserta dauroh. Mungkin ketika sedang berjalan menuju tempat dauroh dan melihatnya, memilih mampir dulu untuk BAK/BAB menghindari antrean.
Pembuatan toilet di luar rumah tak lepas dari anjuran al Ustadz Imam Bukhori. Gurunda Karang Makmur itu menyarankan warga yang hendak membangun rumah untuk membuat toilet di luar rumah.
Harapan beliau, untuk tahap awal permukiman di pondok, warga bakalan saling berkunjung untuk memperkuat persaudaraan. Jika tamu yang datang hendak ke kamar kecil, tinggal melangkahkan kaki keluar rumah.
Kreativitas lain yang terbukti memberikan manfaat yang besar adalah amplop infak. Amplop diberikan kepada peserta Dauroh Karang Makmur 2026 ketika melakukan registrasi. Saat registrasi itu peserta diberikan kupon makan disertakan amplop infak.
Amplop infak sifatnya sukarela, tidak ada pula minimal nominal yang diinfakkan. Ketika hendak pulang seusai dauroh, peserta bisa memasukkan amplop infak ke tempat-tempat yang disediakan panitia (penginapan-penginapan dan pos-pos).
Alhamdulillah, dari amplop infak di Dauroh Karang Makmur 2026 terkumpul uang sebesar Rp 23.670.000.
(Abu Zakariyya Thobroni, Rabu 27 Rabiulawal 1448/9 September 2026)
https://t.me/geraifathimah
2 804
MEMORI KARANG MAKMUR (1)
Beginilah Mereka Memuliakan Tamunya
"Aku nyumbang apa, ya?" ujar Abdurrahman, santri kelas 3 di Ma'had Dhiyaa'us Salaf Karang Makmur, Muara Enim Sumatra Selatan.
Sumbangan yang dimaksud bocah berusia 9 tahun itu adalah keinginannya bertaawun dalam penyelenggaraan Dauroh Karang Makmur (4-6/9) lalu. Abu Fathimah, ayahanda Abdurrahman, bercerita anaknya itu kemudian membongkar tabungannya. Duit tabungan digunakan untuk membeli sekantung beras kemasan 5 kg yang disumbangkan ke panitia Dauroh Karang Makmur 2026.
MasyaAllah....
Semangat bertaawun warga ma'had asuhan al Ustadz Imam Bukhori hafidzahullah itu sungguh memukau. Taawun nasi bungkus buat peserta Dauroh Karang Makmur 2026 adalah bukti konkretnya. Jumlah nasi bungkus berpulang pada kemampuan individu masing-masing.
Pemuliaan terhadap tamu -peserta dauroh- sangat terasa di Karang Makmur. Panitia menyediakan layanan jemput-antar peserta dari dan ke stasiun kereta api. Gratis.
Pun begitu soal konsumsi peserta. Abu Zhidan, seorang ikhwan dari Lampung Utara mengatakan, "Tidak usah mikirin makan jika hadir di Dauroh Karang Makmur. Asalkan punya ongkos (pergi pulang), dijamin tidak akan kelaparan."
Soal penginapan, panitia telah menyiapkan baik untuk peserta pria atau wanita. Terkadang, ikhwan warga Ma'had Dhiyaa'us Salaf juga menawarkan rumahnya untuk menjadi penginapan.
Saya termasuk yang mendapatkan fasilitas penginapan di rumah ikhwan. Abdul Muiz mengizinkan rumahnya saya gunakan menginap selama di Karang Makmur. Kunci saya pegang, jadi leluasa bolak-balik rumah dan masjid.
Untuk urusan konsumsi, selain mendapatkan nasi bungkus bagi peserta dari luar Karang Makmur, terkadang ada undangan jamuan makan dari ikhwan warga Ma'had Dhiyaa'us Salaf. Ini sering terjadi dan Abu Zhidan sering mengalaminya.
"Seperti dauroh sekarang, sebelum berangkat ke Karang Makmur sudah ada yang menelepon mengundang sarapan di hari Jumat (4/9). Padahal hari itu saya baru berangkat. Akhirnya undangan sarapan diganti hari Sabtu," papar ikhwan yang tinggal di Bunga Mayang itu.
Pihak panitia juga menceritakan, adalah hal biasa warga menawarkan untuk menampung rombongan peserta sekian orang di rumahnya. Urusan makan menjadi tanggung jawab tuan rumah.
Urusan jamuan makan untuk asatidzah pemateri juga taawun warga/ikhwah Ma'had Dhiyaa'us Salaf. Ditawarkan kepada warga siapa yang hendak bertaawun menjamu.
Sehingga dalam sehari, jamuan makan asatidzah pemateri berpindah-pindah dari rumah satu ke rumah lainnya. Biasanya selain menjamu pemateri, panitia atau tetangga ikutan diundang.
Alhamdulillah. Saya sendiri termasuk yang kecipratan rezeki, diundang ikut jamuan makan bersama pemateri di hari Jumat (4/9). Sarapan di rumah Mbah Riau, makan malam di rumah Pak Mudawwam.
Di hari Sabtu (5/9), Abu Ahmad Tasikmalaya mengundang saya makan siang di rumahnya. Malam harinya, ada 2 undangan jamuan untuk saya.
Satu dari Abu Fadhli ikhwan dari Ramayana (Lampung Tengah), yang punya anak tinggal di kompleks Ma'had Dhiyaa'us Salaf. Satunya lagi dari Abu Fathimah, ayahanda Abdurrahman.
Di Ahad (6/9), Pak Asep mengundang saya dan beberapa anggota Tim KopWah Gratis makan siang di rumahnya. Di Senin (7/9) pagi, giliran Abu Asma yang mengundang untuk sarapan. Siang harinya, Abu Ilham yang mengundang untuk makan siang.
Bahkan Selasa (8/9) pagi menjelang kepulangan, Pak Gun bela-belain menjemput saya untuk diajak minum kopi di rumahnya. Menikmati kopi Pagar Alam dan anggur jupiter yang beraroma dan berasa mangga di lidah saya.
"Kita di sini bener-bener memuliakan tamu. Tahu sendiri kan keutamaannya?" kata Pak Asep.
Karang Makmur, I miss you already....
(Abu Zakariyya Thobroni, Selasa 26 Rabiulawal 1448/8 September 2026)
https://t.me/geraifathimah
2 804
DAUROH KARANG MAKMUR (4)
**Tiga Hari, 3.150 Cup Kopi"
Di mana bumi darnas dipijak, di situ KopWah (kopi ukhuwah) diseduh.
Di Dauroh Karang Makmur (4-6/9) lalu stan KopWah Gratis kembali hadir. Stan menempati sisi sebelah selatan Masjid Al-Amin di Ma'had Dhiyaa'us Salaf Muara Enim Sumatra Selatan.
Stan KopWah Gratis terlama -3 hari- dalam pelayanan pembagian kopi gratis bagi peserta di sebuah dauroh. Stan hanya dibuka ketika sesi istirahat, tidak melayani pembagian kopi selama sesi kajian berlangsung. Dalam 3 hari itu sudah dibagikan 3.150 cup kopwah.
Berapa kilo kopi yang dihabiskan?
"Kopi kurleb 24 kg, gula 27 kg, dan SKM 15 kg," ujar Abu Syauqi, salah seorang panitia Tim KopWah.
Stan KopWah adalah kopi ukhuwah sesungguhnya. Semua bahan dan perlengkapan yang dibutuhkan berasal dari taawun ikhwah ahlussunnah.
Bubuk kopi berasal dari taawun ikhwah yang memiliki usaha perkopian. Di Karang Makmur lalu terkumpul beberapa merk kopi: Kopi Tanggamus, Kopi Tukuwo, Qohwati Coffee, Kopi Gunung, Kopi Impit Bukit, dan Toobagus Kopi.
Pun begitu personel Tim KopWah, taawun dari ikhwan. Kebanyakan mereka berasal dari Karang Makmur dan Lampung.
Mereka adalah Abu Syauqi, Abu Ali, al Ustadz Abdul Wahab, Abu Fadhli, Abu Zhidan, Abu ilham RO, Pak Asep, Abu Zain, Soeprapto Abu Joko, Muhammad Ayyub Alfandi, Fayd, Ubaidah Abbas, Abdullah Amir, Abu Irbadh, Abu Ali dan Abu Zakariyya.
Dari stan KopWah Gratis di Dauroh Karang Makmur lalu juga diperoleh informasi bakalan ada dauroh di Bandar Lampung. Panitia Bandar Lampung berharap semoga dimungkinkan ada stan KopWah Gratis di sana nanti. Amin.
(Abu Zakariyya Thobroni, Senin 25 Rabiulawal 1448/7 September 2026)
https://t.me/geraifathimah
2 804
Stan KopWah Gratis kembali hadir di Dauroh Jawa Barat 2025. Dauroh yang berlasung di Ma'had Nurul Ilmi Majalengka itu dibagikan sekitar 1.200 cup kopi.
Di Dauroh Akbar Surabaya 1 pada tahun 2025, stan KopWah Gratis hadir lagi. Saat itu dibagikan sekitar 4.000 cup kopi.
Yang terakhir, stan KopWah Gratis di Dauroh Pantura 2 pada 2026. Tercatat 5.000 cup dibagikan secara gratis di 2 hari dauroh.
Dibukanya stan KopWah Gratis di Dauroh Karang Makmur lalu menjadi cerita tersendiri. Sebagai stan KopWah Gratis pertama di luar Pulau Jawa. Sekaligus, stan KopWah Gratis paling lama -3 hari- yang membuka layanan kopi gratis di sebuah dauroh. Selama 3 hari itu sudah dibagikan 3.150 cup kopwah.
Beneran, kan? Dauroh Karang Makmur lalu berasa banget darnas. Dauroh Akbar Sumatra.
(Abu Zakariyya Thobroni, Ahad 24 Rabiulawal 1448/6 September 2026)
https://t.me/geraifathimah
2 804
DAUROH KARANG MAKMUR (3)
Darnas yang Didatangi Ribuan Orang
Darnas. Dauroh Akbar Sumatra. Dauroh -sepanjang sepengetahuan saya- yang berskala besar di Pulau Sumatra.
Sebutan yang pas untuk menggambarkan Dauroh Karang Makmur (4-6/9) lalu. Dauroh yang menghadirkan al Ustadz Muhammad bin Umar As-Sewed (Pengasuh Ma'had Dhiyaus Sunnah Cirebon Jawa Barat) dan al Ustadz Muhammad Afifuddin As-Sidawiy (Pengasuh Ma'had Al Bayyinah Sedayu Gresik Jawa Timur) sebagai pemateri. Hafidzahumallah.
Layak disebut Darnas (Dauroh Akbar Sumatra) jika melihat jumlah dan asal daerah para pesertanya. Jumlah peserta dari luar Karang Makmur yang mendaftar online mencapai 1.750.
Jumlah peserta tersebut bukan mencerminkan jumlah riil peserta karena terkadang mendaftar mewakili rombongan. Pun, kadang ada juga peserta dari luar yang tidak mendaftarkan diri/rombongan mereka.
Peserta ada yang berasal dari Bengkulu, Lampung, Lubuk Linggau, Talang Padang, Jambi, Palembang, Pekanbaru, Jambi, Aek Songsongan, Perawang, dan Padang. Bahkan ada pula yang datang dari luar Pulau Sumatra: Yogyakarta, Semarang (Jawa Tengah), Banjarbaru (Kalimantan Selatan), dan Tasikmalaya (Jawa Barat).
"Ikut dauroh, sekalian bertemu teman-teman lama. Silaturahmi," kata Abu Yunus, peserta dari Semarang.
Hal senada diutarakan oleh Abu Abdirrahman Daniel, peserta dari Banjarbaru. Berangkat ke Karang Makmur, "Ikut dauroh sekalian menemui teman yang sudah 15 tahun tak bertemu," katanya.
Beragam asal daerah peserta itulah yang membuat Dauroh Karang Makmur 2026 nuansanya berasa seperti darnas. Titik-titik dakwah dari berbagai daerah di Sumatra datang ke Karang Makmur. Demikian dikatakan oleh Abu Yusuf.
Abu Al Faruq Angga, peserta dari Curup Bengkulu sepakat jika Dauroh Karang Makmur dianggap sebagai Darnas. Darnas Akbar Sumatra.
"Tak seperti biasanya, peserta membeludak," kata Abu Al Faruq Angga yang berangkat touring bersama 12 ikhwan Curup dengan 9 motor. "Untuk konvoi motor baru kali ini."
Dari Abu Al Faruq Angga diperoleh kabar, ada 13 mobil dari Bengkulu yang berencana berangkat ke Karang Makmur. Dauroh sebelumnya, rombongan dari Bengkulu paling banyak 9 mobil.
Dari Ma'had Darul Hadits Al Ibanah Palembang berangkat kurleb 100 orang ke Karang Makmur. Rombongan ikhwah Jambi kota menggunakan 1 bus. Padahal biasanya mereka rombongan 1 atau 2 mobil saja.
Berapa jumlah peserta Dauroh Karang Makmur 2026?
"Peserta yang registrasi ada 1.750. Sedangkan warga (Karang Makmur) ada 3.000an," ujar Abu Fadhl Syuaib, koordinator keamanan dan parkiran Dauroh Karang Makmur 2026. MasyaAllah.
Peserta yang registrasi sejumlah 1.750 itu bukan mewakili jumlah orang/peserta. Bisa jadi 1 orang mewakili kelompok atau rombongan.
"Saya, yang daftar 2 orang yang berangkat 8 orang," ujar Abu Zhidan, peserta dari Lampung.
Rombongan bisa sekelompok ikhwan atau keluarga (ajak istri dan anak). Panitia memang menyediakan tempat untuk ummahat/wanita. Mereka ditempatkan di asrama putri (santriwati). "Di sana bisa menampung 1.000 orang lebih," kata Abu Fadhl Syuaib.
Angka 1.750 yang teregistrasi itu belum menghitung jumlah peserta dari luar Karang Malmur yang tidak mendaftar secara online.
"Warga sekitar ma'had juga banyak yang datang," kata Abu Fadhl Syuaib.
Jadi, berapa jumlah sebenarnya peserta Dauroh Karang Makmur 2026? Jika menjumlahkan angka-angka di atas, bisa mencapai 5.000an. Kalau mau jawaban yang pasti: ribuan orang.
Membeludaknya jumlah peserta bisa terlihat jumlah kendaraan yang datang. Dauroh kali ini ada 135 unit kendaraan pribadi dan 1 bus. Sepeda motor sudah tidak terhitung lagi.
"Dauroh-dauroh sebelumnya jumlah kendaraan peserta paling 30-35 unit," kata Abu Fadhl Syuaib.
Nuansa Darnas semakin terasa ketika dibukanya stan KopWah Gratis. Selama 3 hari dauroh, stan tersebut membagikan kopi ukhuwah gratis di sesi istirahat.
Biidznillah, stan KopWah Gratis dalam perkembangannya seakan menjadi ikon darnas ahlussunnah. Stan KopWah Gratis pertama kali muncul pada Dauroh Pantura 1 di tahun 2023. Ketika itu dibagikan kurleb 2.400 cup kopi.
2 804
DAUROH KARANG MAKMUR (2)
Hati Bergetar di Pagi Itu
"Di sini ada yang jual pulpen?" tanya salah seorang peserta Dauroh Karang Makmur (4-6/9) kepada Tim KopWah Gratis di dauroh tersebut di Jumat (4/9) sore.
Sepertinya dia butuh pulpen untuk mencatat faedah dari Dauroh Karang Makmur 2026. Di tangannya tampak memegang buku tulis. Dua kali peserta itu bolak-balik ke stand KopWah Gratis untuk menanyakan di mana dia bisa membeli pulpen.
Abu Ilham, salah seorang panitia kemudian memberikan pulpen miliknya kepadanya. Hanya saja, "Setelah kajian selesai (sesi Jumat bakda Asar), pulpennya dibalikin," kata Abu Ilham.
Cuplikan kejadian tersebut memperlihatkan bahwa betapa bersemangatnya peserta Dauroh Karang Makmur 2026. Semangat bermajelis ilmu dan mencatat faedah-faedah ilmu.
Saya yang baru pertama kalinya mengikuti dauroh di luar Pulau Jawa melihat sendiri hal tersebut. Para peserta yang memenuhi Masjid Al-Amin, tempat Dauroh Karang Makmur 2026 berlangsung, duduk menyimak kajian dari pemateri dengan khusyuk.
Tidak tampak adanya peserta yang menyimak kajian di luar bangunan masjid. Semua menghadap ke depan, mengarah ke meja pemateri. Tak ada yang bergerombol di luar bangunan masjid.
Pun demikian di kawasan bazar yang kebanyakan menjual berbagai makanan, cemilan, dan minuman. Selama sesi kajian al Ustadz Muhammad Afifuddin As-Sidawiy hafidzahullah berlangsung di malam Sabtu (4/9) itu, para pedagang meninggalkan dagangannya. Mereka ikut duduk bermajelis ilmu di Masjid Al-Amin.
Malam itu saya mencoba melihat kondisi di sekitar masjid. Jalanan lengang, hanya tampak lapak dan gerobak yang berjejer di kanan kiri jalan tanpa ada yang menjaganya. Kalau pun ada ikhwah yang tampak mereka sedang berjaga melakukan ronda.
Dari Pak Asep, salah seorang Tim KopWah Gratis di Dauroh Karang Makmur 2026, diperoleh informasi memang begitulah regulasinya. Selama sesi kajian di dauroh berlangsung, tidak diperkenankan melakukan transaksi.
"Taklim (rutin) juga seperti itu," kata Pak Asep.
Maksudnya di saat ada taklim rutin di Masjid Al-Amin, semua pedagang/warung yang ada di kompleks Ma'had Dhiyaaus Salaf tutup dulu. Warga masyarakat yang hendak membeli sesuatu di kompleks ma'had juga tidak bisa melakukan transaksi.
"Di gerbang diportal, diberi tahu (warung tutup) karena ada taklim. Masyarakat akhirnya memakluminya," papar Pak Asep.
Pak Asep bercerita jika banyak warga masyarakat luar ma'had yang berbelanja ke warung milik ikhwan di dalam kompleks Ma'had Dhiyaaus Salaf. Mereka suka berbelanja ke ikhwan karena timbangannya akurat, jika ada barang yang tertinggal dikembalikan/diantar ke pemiliknya.
Taklim rutin di Ma'had Dhiyaa'us Salaf dilakukan setiap hari kecuali Jumat. Ada 3 kali taklim rurin setiap harinya. Taklim bakda Shubuh, bakda Asar, dan bakda Maghrib.
"Ada juga warga (masyarakat di luar ma'had) yang ikutan taklim," ucap Pak Asep.
Ronda saat taklim rutin berlangsung juga sudah menjadi kebiasaan di Ma'had Dhiyaa'us Salaf Karang Makmur. "Hanya saja untuk dauroh jumlahnya ditambah," kata Pak Asep.
Sabtu (5/9) pagi seusai sholat Shubuh jamaah tidak beranjak dari shafnya. Mereka menantikan sesi kajian al Ustadz Muhammad As Sewed hafidzahullah. Mereka hanya bergeser mendekati meja pemateri. Duduk rapat melingkar dengan badan menghadap ke pemateri.
Di sesi kajian berjudul "Bahaya Perpecahan Ummat dan Solusinya" itu peserta duduk bergeming. Diam tak bergerak. Menyimak dengan khusyuk kalimat-kalimat yang diucapkan gurunda Pengasuh Ma'had Dhiyaus Sunnah Cirebon itu.
Sungguh, sebuah pemandangan yang menggetarkan hati di pagi itu.
(Abu Zakariyya Thobroni, Sabtu malam 24 Rabiulawal 1448/5 September 2026)
https://t.me/geraifathimah
2 804
DAUROH KARANG MAKMUR (1)
Ini yang Paling Ramai
"Selama 21 tahun tinggal di sini, ini (dauroh) yang paling ramai," ujar Badri, ikhwan yang tinggal di kompleks Ma'had Dhiyaaus Salaf Karang Makmur, tempat Dauroh Karang Makmur (4-6/9).
Badri juga bagian dari kepanitiaan Dauroh Karang Makmur 2026. Dia sebagai koordinator tim penjemputan peserta yang menggunakan kereta api.
"Disiapkan 10 mobil untuk menjemput 70 peserta dari Lampung," kata Badri.
Ramainya dauroh juga diakui oleh Abu Asma, koordinator kelistrikan dan air untuk keperluan wudhu dan MCK peserta. Jika dauroh-dauroh sebelumnya, dia cukup standby setelah memastikan ketersediaan air aman.
Untuk dauroh kali ini, tak bisa seperti itu lagi. "Tiga kali lipat," ujar Abu Asma yang menggambarkan kerjanya 3 kali lipat ketimbang dauroh-dauroh sebelumnya.
Qodarullah saat ini -seperti halnya beberapa daerah di Indonesia- mengalami kekeringan air. Padahal urusan air menjadi masalah krusial di hajatan besar yang melibatkan ribuan orang.
Untuk itulah Abu Asma menyiapkan 5 titik penampungan air. Air berasal dari sumur warga ma'had. Titik penampungan semisal di atas masjid ada penampungan air sebanyak 16.000 liter. Di atas kamar mandi ada penampungan air sebanyak 6.000 liter, di sekitar kamar mandi ada penampungan air sebanyak 3.000 liter.
"Jaga-jaga, sekalian buat wudhu agar tempat wudhu terpecah (tidak terpusat di satu titik)," tutur Abu Asma yang juga mengatakan masih ada bak penampungan air berisi 3.000 liter untuk kondisi darurat.
Dimaklumi jika Abu Asma tampak sibuk. Di Jumat pagi dia mengecek kondisi air untuk asrama santriwati. "InsyaAllah aman," katanya.
Bukti lain dauroh kali ini lebih ramai dari dauroh-dauroh sebelumnya adalah pemasangan 17 unit tenda. Tenda-tenda tersebut dipasang di bagian kanan dan belakang Masjid Al Amin, tempat dauroh berlangsung.
"Sudah berapa tahun dauroh baru kali ini ada tenda tambahan," ujar Abu Syauqi, salah seorang panitia Dauroh Karang Makmur.
Hal baru lainnya adalah penggunaan kupon makan untuk peserta dari luar Karang Makmur. Di dauroh-dauroh sebelumnya tidak digunakan kupon. Yang ada adalah pengumuman dari panitia bahwa makan untuk peserta sudah tersedia dan dipersilakan mengambil di tempat yang disebutkan.
Di Dauroh Karang Makmur 2026, peserta dari luar memeroleh 7 kupon makan. Dua kupon untuk makan siang dan malam di hari Jumat; 3 kali makan di Sabtu; dan makan pagi dan siang di Ahad. Di kupon ditulis berapa jumlah orangnya, sendirian atau rombongan berapa orang.
Dauroh-dauroh sebelumnya nasi bungkus untuk peserta berasal dari taawun warga ma'had. Biasanya di kisaran 1.000 bungkus.
Untuk dauroh kali ini dibuka dapur umum untuk menambah jumlah nasi bungkus. Dapur umum juga menjadi hal baru di Dauroh Karang Makmur. Mengantisipasi kekurangan nasi bungkus untuk peserta yang diprediksi jumlahnya lebih banyak ketimbang dauroh-dauroh sebelumnya.
Di hari pertama dauroh, Jumat (4/9) peserta sudah memenuhi masjid Al-Amin. Tenda yang dipasang di belakang masjid separuhnya mulai terisi hingga setengahnya.
MasyaAllah...
(Abu Zakariyya Thobroni, Jumat malam 23 Rabiulawal 1448/4 September 2026)
https://t.me/geraifathimah
2 804
(Abu Zakariyya Thobroni, Kamis malam 22 Rabiulawal 1448/3 September 2026)
https://t.me/geraifathimah
