es
Feedback
Gerai Fathimah

Gerai Fathimah

Ir al canal en Telegram

Catatan ringan Abu Zakariyya Thobroni. Lelaki biasa, seorang jurnalis di masanya (1994-2014). Bisa dihubungi di 0817307670

Mostrar más
2 726
Suscriptores
Sin datos24 horas
-57 días
+2730 días
Archivo de publicaciones
DAUROH KALBAR Parenting di Era Digital Para orang tua sepertinya kudu menyimak rangkaian kajian di Dauroh Kalbar yang dimulai Kamis malam ini bakda Isya (30 Juli - 1 Agustus). Sebuah kajian intensif 3 hari di Ponpes Al Islamiyah, Jl. Parit Gurah RT04/RW01 Dusun Kaum Desa Dalam Kaum Kecamatan Sambas Kabupaten Sambas Kalimantan Barat. "Parenting di Era Digital: Antara Tuntutan dan Keteladanan yang Dibutuhkan". Adalah judul dauroh yang akan dilangsungkan di ponpes tersebut. Kajian bakal berlangsung di 6 sesi yang terbagi di 3 hari. Kajian diawali pada Kamis bakda Isya, dan sesi penutup di Sabtu pagi. Sabtu petang hingga malam hari, gurunda dijadwalkan mengisi kajian 2 sesi di Masjid Jami' Istana Sambas. Kajian ini terbuka untuk umum dengan judul pembahasan "Berkah Orang Tua Mukmin dan Sholeh bagi Anak-anaknya". Judul tersebut merupakan penjelasan dari surat Al Kahfi ayat 80-82. Parenting -pola asuh atau pengasuhan anak- kudu diketahui oleh para orang tua. Parenting tidak hanya mencakup pemenuhan kebutuhan fisik anak, seperti makanan, pakaian, dan kesehatan. Tetapi juga meliputi menanamkan akhlak, adab, dan nilai-nilai agama. Parenting di era digital menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua. Era di mana kemajuan teknologi bak pisau bermata dua. Karena kemajuan zaman dan tuntutan hidup, kebutuhan teknologi tak terelakkan lagi. Dalam sebuah dauroh di Ma'had Miftah Daaris Sa'adah, Sukabumi Jawa Barat, gurunda pernah menggambarkan kemajuan teknologi bak banjir bandang. Jika melawan akan hanyut terbawa arus. Orang tua harus mengajari anaknya berenang agar tidak terseret air bandang. Sungguh patut bersyukur ikhwah di Kalimantan Barat yang bisa hadir dia Dauroh Kalbar. Dari panitia diperoleh sudah sekitar 200 peserta yang mendaftar untuk hadir. "Peserta berasal dari Pontianak, Sintang, Sekadau, Kayong, dan Sambas," ujar Abu Furaihan Jamal, panitia Dauroh Kalbar. Untuk yang di luar Kalbar dan berminat mengikuti kajian bisa mengikuti secara live streaming. Silakan simak di https://t.me/taqriibussunnahptk?livestream (Abu Zakariyya Thobroni, Kamis 15 Safar 1448/30 Juli 2026) https://t.me/geraifathimah

Foto dari Abu Zakariyya Thobroni
Foto dari Abu Zakariyya Thobroni

Foto dari Abu Zakariyya Thobroni
Foto dari Abu Zakariyya Thobroni

DAUROH AL-IMAM ABU UTSMAN ASH-SHABUNI (NGAPAK KE-6) Amanah Ilmiah Kajian di akhir bulan yang layak dinantikan. Kajian intensif selama 3 hari dengan judul "Urgensi Jarh wa Ta’dil dalam Menjaga Kemurnian Dakwah Salafiyah". Kajian tersebut bernama Dauroh Al-Imam Abu Utsman Ash-Shabuni. Dauroh direncanakan dilangsungkan menjelang akhir bulan Agustus 2026. Dauroh diagendakan pada Jumat-Ahad, 21–23 Agustus 2026. Dauroh bertempat di Masjid An Nur kompleks Ponpes Al Faruq As Salafy Kalibagor Banyumas Jawa Tengah. InsyaAllah. "Tema 'Urgensi Jarh wa Ta'dil dalam Menjaga Kemurnian Dakwah Salafiyah' dipilih karena ilmu Jarh wa Ta'dil pada hakikatnya mengajarkan pentingnya amanah ilmiah. Membedakan antara kebenaran dan kekeliruan berdasarkan dalil serta kaidah para ulama. Bukan berdasarkan hawa nafsu atau fanatisme. Apalagi sudah jarangnya pembahasan seperti ini," ujar Abu Fahmi Kohir, Panitia Kajian Islam Ilmiyah Ponpes Al Faruq As Salafy Li Tahfizhil Qur’an Purwokerto. Enam asatidzah dijadwalkan sebagai pemateri dauroh nanti. Mereka adalah al Ustadz Muhammad Umar As-Sewed (Ponpes Dhiyaussunnah Cirebon – Jawa Barat); al Ustadz Usamah Faishal Mahri, Lc. (Ponpes As Sunnah Batu – Jawa Timur); al Ustadz Muhammad Afifuddin As-Sidawiy (Ponpes Al Bayinah Gresik – Jawa Timur); al Ustadz Qomar Suaidi, Lc. (Ponpes Daarul Atsar Temanggung – Jawa Tengah); al Ustadz Abu Hamzah Yusuf, S.Pd (Ponpes Daarul Atsar Tasikmalaya – Jawa Barat); al Ustadz Muhammad Rijal, Lc. (Ponpes Al Faruq As Salafy Purwokerto – Jawa Tengah). Hafidzahumullah. Dauroh Al-Imam Abu Utsman Ash-Shabuni sebelumnya dikenali sebagai Dauroh Ngapak ke-6. Berdasarkan penjelasan dari panitia, perubahan nama dauroh sebagai bentuk penghormatan kepada Al-Imam Abu Utsman Ash-Shabuni rahimahullah. Beliau salah seorang ulama besar ahlussunnah yang memiliki kontribusi besar dalam menjaga aqidah salaf. Terkhusus melalui karya beliau berjudul "Aqidatus Salaf wa Ashabul Hadits". "Kami berharap semangat beliau dalam menjaga kemurnian aqidah dapat menjadi inspirasi bagi peserta dauroh," kata Abu Fahmi Kohir. Semoga. (Abu Zakariyya Thobroni, Selasa 13 Safar 1448/28 Juli 2026) https://t.me/geraifathimah

Tandingan Kata "tandingan" dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti: "yang seimbang (sebanding, sama) dengan yang lain; imbangan; lawan yang seimbang." KBBI memberikan contoh kalimat: "Dia bukanlah tandingan pemain baru itu." Artinya, dia bukanlah lawan yang seimbang bagi pemain baru itu. Dengan demikian, kata "tandingan" umumnya digunakan untuk menyebut lawan atau pesaing yang sepadan. Baik dalam pertandingan, perlombaan, maupun persaingan. Misalnya, Seminar N menghadirkan narasumber dari dalam negeri. Sedangkan Seminar M mendatangkan narasumber dari luar negeri. Kemudian ada yang menyatakan bahwa Seminar N adalah tandingan Seminar M. Dalam konteks ini, pernyataan tersebut berarti Seminar N diposisikan sebagai pesaing atau alternatif yang dianggap sepadan dengan Seminar M. Dengan kata lain, Seminar N dinilai memiliki bobot atau kualitas yang sebanding sehingga layak disandingkan dengan Seminar M. Bagaimana apabila penilaian itu didasarkan pada kualitas narasumber? Maka pernyataan tersebut juga dapat dipahami sebagai sebuah anggapan. Bahwa, narasumber Seminar N memiliki kapasitas keilmuan yang dipandang sebanding dengan narasumber Seminar M. Demikian. (Abu Zakariyya Thobroni, Sabtu 10 Safar 1448/25 Juli 2026) https://t.me/geraifathimah

Setiap Pekan, Lebih dari 700 Juta Pengguna Memanfaatkan ChatGPT Tahu nggak, ChatGPT -salah satu platform AI- punya ratusan juta pengguna aktif mingguan. Sebagian besar penggunaan adalah untuk mencari penjelasan atau informasi, pemrograman, dan tugas lainnya. Survei dari berbagai lembaga sepanjang 2024–2026, ada 3 penggunaan AI generatif yang paling umum. Yakni: mencari informasi, belajar, dan menjawab pertanyaan. Di kalangan pekerja dan pelajar, persentase yang menggunakan AI untuk mencari informasi atau menjelaskan suatu topik umumnya berada di kisaran 60–80%. Berdasarkan data OpenAI, ChatGPT digunakan oleh lebih dari 700 juta pengguna aktif setiap pekan (data pertengahan 2025). Artinya, setiap minggu ada lebih dari 700 juta pengguna yang memanfaatkan ChatGPT untuk berbagai keperluan. Termasuk mencari informasi, meminta penjelasan, menulis, dan menyelesaikan berbagai tugas. Penelitian OpenAI menganalisis 1,5 juta percakapan untuk mengetahui bagaimana orang menggunakan ChatGPT. Dari seluruh percakapan tersebut: 49% pertanyaan (asking), yaitu meminta penjelasan, saran, atau informasi. Sejumlah 40% permintaan mengerjakan sesuatu (doing), misalnya menulis atau membuat kode. Sedangkan 11% berupa ekspresi atau hiburan (expressing). Tidak mengherankan di zaman sekarang jika butuh informasi, AI menjadi pilihan. Bila ada pertanyaan, segera bertanya ke AI. Nggak googling lagi. Seperti pertanyaan tentang suatu hal yang lagi ramai diperbincangkan sebagian orang. Yakni, soal ulama lokal. Penasaran, hal tersebut coba ditanyakan ke ChatGPT. "Apa itu ulama lokal?" ChatGPT: "Ulama lokal adalah ulama yang dikenal, mengajar, berdakwah, atau menjadi rujukan utama di suatu daerah atau wilayah tertentu, seperti kota, kabupaten, provinsi, atau negara. Contohnya, seorang kiai atau ustaz yang menjadi rujukan masyarakat di Bandung, Cirebon, atau Makassar dapat disebut sebagai ulama lokal dalam konteks wilayah tersebut. Beberapa hal yang perlu dipahami: • "Lokal" menunjukkan cakupan dakwah atau pengaruh geografis, bukan kualitas keilmuan. • Seorang ulama lokal bisa saja memiliki ilmu yang sangat mendalam, tetapi tidak banyak dikenal di luar daerahnya. • Sebaliknya, ada ulama yang dikenal secara internasional karena karya tulis, murid, atau media dakwahnya, tetapi itu tidak otomatis berarti ilmunya lebih tinggi daripada setiap ulama lokal. Dalam tradisi Islam, yang menjadi ukuran utama adalah ilmu, ketakwaan, dan amanah dalam menyampaikan agama, bukan luas atau sempitnya popularitas. Karena itu, jika seseorang mengatakan, "Tanyakan kepada ulama lokal," biasanya maksudnya adalah bertanyalah kepada ulama yang ada di daerahmu, yang memahami kondisi masyarakat setempat dan mudah dihubungi, bukan membatasi bahwa ilmu hanya boleh diambil dari ulama di daerah sendiri atau merendahkan ulama yang dikenal lebih luas." "Terima kasih." ChatGPT: "Sama-sama. Semoga bermanfaat." (Abu Zakariyya Thobroni, Rabu 7 Safar 1448/22 Juli 2026) https://t.me/geraifathimah

Seperti apa yang dikatakan Amr bin Ubaid, seseorang yang berpemahaman mu'tazilah. Dia mengatakan: 'Ilmu mereka (ulama as sunnah) tentang darah di kain." Maksudnya, hanya membahas haid dan nifas. Wal 'iyadzu billah. Dan kita memohon perlindungan kepada Allah. Demikian ringkasan penjelasan terkait judul kajian Islam Cilacap tentang salafi bukan sururi. Untuk mendengarkan isi pembahasan secara utuh, silakan unduh di https://t.me/AlmanshurohCilacap/11853 (Abu Zakariyya Thobroni, Senin 5 Safar 1448/20 Juli 2026) https://t.me/geraifathimah

KAJIAN ISLAM CILACAP Salafi Bukanlah Sururi Bukan tanpa alasan kajian bakda Shubuh di Ahad (19/7) itu berjudul "Salafi Bukanlah Sururi". Kajian Islam ilmiah ahlussunnah yang digelar di Masjid Batu Taman Hati, Tritih Kulon Cilacap Utara. Sebagai pemateri adalah al Ustadz Abu Hamzah Yusuf, S.Pd (Pengasuh Ma'had Daarul Atsar Tasikmalaya) hafidzahullah. Pemilihan judul tersebut atas permintaan pihak takmir Masjid Batu Taman Hati. Pihak takmir mengaku banyak yang bertanya tentang kelompok-kelompok lain yang berpenampilan layaknya salafiyun. Salah satu yang ditanyakan adalah kelompok sururi. Apa bedanya salafi dengan sururi? Akhirnya dipilih judul "Salafi Bukanlah Sururi". Judul -terus terang- yang sangat menggelitik untuk mendengarkannya. Tidak mengherankan jika Masjid Batu Taman Hati dipenuhi peserta kajian pagi itu. Pun begitu pendengar via live streaming. Tercatat 357 peserta yang mendengarkan siaran live streaming di radio digital Al-Manshuroh Cilacap 2. "Sebenarnya tema (judul) ini sudah mewakili isi itu sendiri. Artinya salafi memang bukan sururi. Selesai," ujar al Ustadz Abu Hamzah Yusuf, S.Pd di awal kajian. Hanya saja untuk memperoleh pemahaman yang benar masih perlu penjelasan lebih lanjut. Seperti asal usul penanaman salafi dan sururi, kepada siapa penisbatan tersebut. Termasuk bukan sesuatu yang tercela ketika ada yang menampakkan dirinya bermazhab salaf. Seperti yang dikatakan Ibnu Taimiyah rahimahullah: "Tidak ada celaan bagi orang yang menampakkan mazhab (manhaj) salaf, menisbatkan diri kepadanya, dan berbangga dengannya. Bahkan, wajib menerima hal itu darinya berdasarkan kesepakatan, karena mazhab salaf itu tidak lain adalah kebenaran." Gurunda mengingatkan, bahwa salafi menisbatkan dirinya kepada salafushsholih. Sedangkan sururi menisbatkan dirinya kepada kelompok. Kelompok yang dibikin oleh Muhammad Surur bin Zainal Abidin berlatar belakang Ikhwanul Muslimin. "Jadi, salafi bukan hizbi. Beda dengan sururi. Sururi itu nisbat kepada kelompok yang dibuat, dibikin," kata gurunda. Gurunda kemudian menceritakan secara ringkas biigrafi Muhammad Surur bin Zainal Abidin. Dilanjutkan kronologi kemunculan kelompok sururi dan komentar atas kelompok tersebut. Salafi gaya baru, demikian penyebutan Yusuf al Qordowi untuk kelompok sururi. Sedangkan Syaikh Muhammad Nasiruddin al-Alban rahimahullah menyebut sururi adalah khawarij gaya baru. "Salafi gaya baru adalah sururi. Sururi adalah khawarij gaya baru," ujar gurunda. Gurunda juga menjelaskan bagaimana ciri-ciri sururi. Jika salafi mendengar dan patuh kepada pemerintah, tidak demikian dengan sururi. Sururi menganggap tidak wajib untuk mendengar dan taat kepada pemerintah muslimin. Mereka juga berlebihan dalam menyikapi pemerintahan yang tidak menerapkan hukum dari Allah 'azza wa jalla. Mereka memiliki pemahaman bolehnya melakukan pemberontakan. "Ciri lain dari sururi adalah loyalitasnya kepada ahlu bidah. Sebenarnya (bukan berarti) mereka tidak mengkritik pemikiran-pemikiran yang menyimpang. Mereka getol, mereka gencar dalam mengkritik, mentahdzir pemikiran-pemikiran yang menyimpang, kebidahan, kesesatan. Tetapi mereka tidak memusuhi pelakunya. Tetap memberikan loyalitas, berteman, bahkan sampai pada tingkatan memberikan pujian. Ini kan sebuah kesalahan besar, ini sama sekali bukan bagian dari manhaj salaf," papar gurunda. Ciri lainnya dari sururi adalah tidak senang, membenci ulama-ulama sunnah. Semisal Muhammad Surur bin Zainal Abidin secara terang-terangan mengatakan para ulama adalah budaknya budak seseorang. Mengapa kelompok sururi membenci ulama sunnah? Karena para ulama sunnah mengkritisi kelompok sururi. Para ulama yang mendakwahkan salafiyah menyelisihi mereka. Para ulama yang mendakwahkan salafiyah menjadi benteng kokoh ahlussunnah wal jamaah. Mereka lah yang menjelaskan kesesatan-kesesatan Muhammad Surur bin Zainal Abidin dan kelompok-kelompok yang berafiliasi dengannya. "Memang begitulah ahlu bidah sepanjang sejarah, mereka terus menerus mencela, mencaci maki para ulama as sunnah," kata gurunda.

Alhamdulillah, Anak-anak di Pondok Pesantren Bersyukurlah orang tua yang menyekolahkan anak-anaknya di pondok pesantren. Sebuah lembaga pendidikan yang mengajarkan dan mengamalkan ajaran agama Islam untuk para siswanya. Seperti pemisahan kelas dan asrama antara santri putra dan santriwati untuk menghindari ikhtilat. Pembatasan interaksi yang sangat ketat antara santri putra dan santriwati. Menanamkan pemahaman bahwa pacaran adalah hal yang tidak diperbolehkan dalam agama. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman: "Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan keji dan jalan yang buruk." (QS. Al-Isra': 32) Terkesan konservatif alias kolot? Bukankah pacaran adalah "tahapan" normal yang harus dilalui remaja? Adalah aneh jika remaja tidak berpacaran. Normalisasi pacaran. Harga yang teramat mahal untuk sebuah pemahaman bahwa pacaran adalah hal normal. Qodarullah wa maa sya'a fa'al. Kasus-kasus remaja berpacaran hingga melampaui batas kesusilaan belakangan banyak jadi berita di media massa. Dalam sebuah operasi cipta kondisi selama Ramadan 2026, Satpol PP Kabupaten Kebumen menjaring 3 pasangan remaja yang sedang berada di kamar penginapan. Yang menghebohkan publik karena pelakunya masih berusia muda. Nunukan, Kalimantan Utara pada Desember 2025, Satpol PP menggelar Operasi Pekat. Mereka menemukan 6 pasangan tidak sah di penginapan serta 6 remaja SMP berada di tempat karaoke pada malam hari. Kasus ini menjadi perhatian karena melibatkan anak usia sekolah. Tidak heran jika dispensasi perkawinan banyak dipicu kehamilan di luar nikah. Mahkamah Agung melalui Badan Peradilan Agama (Badilag) menunjukkan bahwa tahun 2024, sekitar 31% permohonan dispensasi pernikahan diajukan karena kehamilan. Tahun 2025, angkanya meningkat menjadi sekitar 34%. Pengadilan Agama Kabupaten Bojonegoro di tahun 2025 mencatat 78 permohonan dispensasi pernikahan karena hamil di luar nikah. Naik dari 72 kasus pada 2024. Permohonan dispensasi karena faktor zina juga naik dari 26 menjadi 63 kasus. Kota Blitar hingga Juli 2025 terdapat lebih dari 15 permohonan dispensasi nikah akibat kehamilan di luar nikah pada anak di bawah 18 tahun. Paparan seksualitas di medsos dan internet diperparah dengan rekaman video sejoli tertangkap kamera berpacaran tidak senonoh di ruang publik. Rekaman tersebut seliweran muncul sebagai FYP di medsos. Sepertinya mereka sudah tidak mengenal rasa malu lagi. Naudzubillahi min dzalik. Para peneliti dan psikolog menyebutkan ada beberapa faktor penyebab meningkatnya perilaku pacaran yang melewati batas norma susila dan agama. Di antaranya paparan konten seksual dan romantisasi hubungan melalui media sosial dan internet. Banyak pasangan yang pacaran mengumbar kemesraan, direkam dan diunggah ke medsos. Saking banyaknya, hal-hal dulunya tabu dianggap sebagai kekinian. Dianggap sebagai perilaku normal karena lumrah ditemui di kehidupan sehari-hari atau medsos. Faktor penyebab lainnya adalah pengaruh teman sebaya (peer pressure) dan kurangnya pengawasan dan komunikasi dari orang tua. Selain itu lemahnya pemahaman tentang batasan moral, agama, dan konsekuensi dari perilaku seksual. Bersyukurlah orang tua yang memilih menyekolahkan anak-anaknya di pondok pesantren. Santri sangat dibatasi berinteraksi dengan HP selama mondok. Setiap hari mereka mempelajari ilmu-ilmu agama. Mereka dipahamkan perkara-perkara yang dilarang dalam agama. Bagaimanapun anak adalah tanggung jawab orang tuanya. Allah 'azza wa jalla berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka..." (QS. At-Tahrim: 6) Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini memerintahkan seorang ayah dan ibu untuk mengajari, mendidik, dan memerintahkan keluarganya agar taat kepada Allah. Rasulullah ﷺ bersabda: "Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka..." (HR. Bukhari - Muslim) (Abu Zakariyya Thobroni, Sabtu 3 Safar 1448/18 Juli 2026)

Duit Berputar 2 Miliaran di 2 Hari di Dauroh Pantura 2 Sekitar 17.000 orang hadir sebagai peserta Dauroh Pantura 2 di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) Semarang (4-5/7). Sebuah ceruk pasar yang potensial mendatangkan cuan, biidznillah. Bukankah mereka butuh makan dan minum di dua hari itu? Peluang tersebut sepertinya ditangkap oleh panitia Dauroh Pantura 2. Eksekusi yang diambil panitia, sungguh layak diacungi 2 jempol. Mereka bukannya memonopoli memenuhi kebutuhan makan minum peserta, justru menyerahkan potensi cuan ke UMKM setempat. Yakni, ke PKL di sekitar MAJT. Panitia memberikan nomor koordinator PKL MAJT yang bernama Pak Gito Istami kepada peserta. Panitia Dauroh Pantura 2 sekadar memberikan informasi kepada peserta jika hendak memesan nasi bungkus. Urusan transaksi dan teknis penyerahan di luar tanggung jawab panitia dauroh. Bahkan panitia juga menganjurkan kepada peserta untuk membeli makanan di pedagang sekitar MAJT. Ini tentu menjadi dampak ekonomi yang positif, menggerakkan roda perekonomian UMKM setempat. Hal tersebut mendapatkan respon positif dari para pedagang di sekitar MAJT. "Karena menguntungkan pihak pujasera yang jualan makanan," kata Pak Gito Istami. Taruhlah dari keseluruhan jumlah peserta Dauroh Pantura 2 lalu, sekitar 10.000 orang yang memilih makan di PKL sekitar masjid. Jika diasumsikan sekali makan plus minum Rp 15.000, di satu sesi ishoma terjadi transaksi sebesar Rp 150 juta. Diasumsikan juga di 2 hari Dauroh Pantura 2, peserta minimal makan 4 kali. Seseorang harus menganggarkan biaya makanan sebesar Rp 60 ribu. Jika peserta yang jajan makanan sejumlah 10.000 orang, itu artinya telah berputar duit sebanyak Rp 600 juta di Dauroh Pantura 2. Itu belum menghitung perputaran uang dari transportasi semisal sewa bus. Di Dauroh Pantura 2 lalu tercatat 168 unit bus. Andai kata 1 unit dipukul rata ongkos sewanya Rp 5 juta muncul angka Rp 840 juta. Dari urusan makan dan bus saja, Dauroh Pantura 2 sudah menggerakkan roda perekonomian sebesar lebih dari Rp 1,4 miliar. Itu belum menghitung konsumsi BBM bus, tol, penginapan peserta serta belanja oleh-oleh khas Semarang. Bisa tembus 2 miliar. MasyaAllah.... (Abu Zakariyya Thobroni, Rabu 30 Muharam 1448/15 Juli 2026) https://t.me/geraifathimah

DAUROH PANTURA 2 (5 - habis) Majelis Ilmu yang Membahagiakan "Mudah-mudahan dengan acara (Dauroh Pantura 2) ini juga kita mendapatkan hikmah lain yaitu mempererat hubungan persaudaraan kita. Mempererat, memperakrab hubungan persaudaraan antara seluruh salafiyin, khususnya di sekitar Jawa Tengah umumnya pada seluruh salafiyin. Baarakallahu fiikum," ujar al Ustadz Muhammad As Sewed hafidzahullah ketika memberikan tausiyah kepada panitia Dauroh Pantura 2. Tausiyah tersebut untuk menyemangati panitia dalam menyelenggarakan kajian akbar Dauroh Pantura 2 yang berlangsung di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) Semarang pada Sabtu-Ahad, 4-5 Juli 2026. Gurunda mengingatkan, bertaawun dalam kepanitiaan adalah ibadah sehingga harus dijaga niatnya. Diniatkan hanya untuk mendapatkan rido Allah 'azza wa jalla. Ada perkataan gurunda yang sangat bagus di akhir tausiyah tersebut. Gurunda Pengasuh Pondok Pesantren Dhiya'us Sunnah Cirebon itu mengatakan: "Melihat ikhwah kaum muslimin, salafiyin, ahlussunnah berkumpul, datang berduyun-duyun, MasyaAllah. Itu adalah kebahagian yang tidak bisa dinilai dengan harta. Kebahagiaan yang ada di dalam dada. Kebahagiaan yang hanya diketahui oleh orang yang merasakannya." Sungguh, benar sekali apa yang dikatakan gurunda. Bisa hadir sebagai peserta Dauroh Pantura 2 adalah sebuah kebahagiaan. Kebahagiaan yang tak ternilai harganya. Kebahagiaan yang sulit digambarkan karena hanya mereka yang hadir di MAJT (4-5/7) yang bisa mengetahui bagaimana rasanya. Kata-kata tak kuasa lagi untuk mengatakannya. Bahagia bisa duduk bermajelis ilmu dengan puluhan ribu saudara sesama ahlussunnah yang datang dari seluruh penjuru Nusantara. Bahagia bisa bertegur sapa, mendoakan kebaikan, dan saling menguatkan untuk tetap di atas jalan kebenaran bersama-sama. Bahagia bisa berjumpa dengan kawan lama yang sudah puluhan tahun tak bersua. Bahagia karena kawan lama masih istiqomah di jalan yang sama. "Saya terakhir bertemu dengan teman dari Lampung pada tahun 2002. Baru bertemu lagi sekarang ini (di Dauroh Pantura 2)," ujar al Ustadz Abdullah Sukoharjo hafidzahullah dari Ma'had Ittiba'us Sunnah Klaten. Bahagia bisa bertemu dengan kawan baru yang selama ini hanya bertegur sapa di dunia maya. Meski baru pertama kali bertatap muka, tetapi berasa sudah berteman sekian lama. Personel Tim KopWah adalah contoh nyata. Tim yang berjumlah 20 orang itu kebanyakan sebelumnya tidak saling mengenal. Perkenalan pertama kalinya terjadi ketika mereka bertaawun di stand KopWah Gratis di Dauroh Pantura 2 lalu. Begitu berkenalan mereka langsung klik satu sama lain. Hati-hati mereka seakan jadi terkait dalam kebersamaan. Saling bercanda yang mengundang senyum dan tawa. Sungguh kenangan indah yang membahagiakan. "Saya banyak bertemu ikhwan yang baru saya jumpa, baik yang sebelumnya komunikasi lewat WA atau pun yang belum pernah komunikasi. Tapi saat bertemu dan bercengkerama kami rasanya seperti saudara yang lama tidak berjumpa," ujar Abu Aslam Apri, anggota Tim KopWah yang berasal dari Pangkalan Bun Kalimantan Tengah. Hal yang sama juga dirasakan oleh Abu Syauqi Abdul Aziz, anggota Tim KopWah dari Karang Makmur Muara Enim. Saking bahagianya, "Sulit untuk diungkapkan," kata Abu Syauqi Abdul Aziz yang datang ke Dauroh Pantura 2 dengan mengendarai sepeda motor bersama 3 ikhwan Karang Makmur lainnya. Berkumpulnya puluhan ribu ahlussunnah -jumlah peserta Dauroh Pantura 2 sekitar 17.000 orang- adalah sebuah pemandangan yang membahagiakan. Mereka berduyun-duyun datang dengan berbagai moda transportasi: darat, laut, dan udara. Bahagia melihat ukhuwah ahlussunnah masih terikat kuat. Bukan bermaksud memamerkan jumlah, tapi itu adalah fakta bahwa persaudaraan ahlussunnah di negeri ini masih terjalin erat. Ketika mereka bertemu dan berkumpul di majelis ilmu, dada-dada mereka disesaki kebahagiaan yang sangat. Tidak salah jika bertemu dan berkumpul di majelis ilmu berskala nasional adalah candu. Bikin ketagihan untuk kembali bertemu dan berkumpul di majelis ilmu. (Abu Zakariyya Thobroni, Jumat 25 Muharam 1448/10 Juli 2026)

Ada juga Pak Mahfud dan Pak Budiono. Keduanya adalah takmir Masjid Al Islah Desa Sumberwungu Blitar. Pak Mahfud bisa dibilang sesepuh karena beliau penasihat takmir Masjid Al Islah. Pak Mahfud lah yang menyiapkan wedang jahe untuk bekal perjalanan. Keikutsertaan mereka ke Dauroh Pantura 2 memang atas ajakan dari KIB. Mengikuti nasihat al Ustadz Usamah Faishol Mahri, Lc حفظه الله agar KIB senantiasa menjalin hubungan baik dengan takmir masjid tempat kajian yang dikelola KIB. KIB sangat senang dan bersyukur kepada Allah 'azza wa jalla karena takmir 2 masjid tersebut mau ikut rombongan Dauroh Pantura 2. Mau ikut mendengarkan kajian-kajian yang disampaikan gurunda. Mereka -yang sudah tidak bisa dikatakan muda lagi- juga mau menginap di MAJT bersama ribuan ahlussunnah lainnya. Alhamdulillahi bini'matihi tatimmushalihat. Segala puji bagi Allah, dengan nikmat-Nya segala amal saleh menjadi sempurna. (Abu Zakariyya Thobroni, Kamis 24 Muharam 1448/9 Juli 2026) https://t.me/geraifathimah

DAUROH PANTURA 2 (4) Duaarrr...!!! Allahu Akbar! Allahu Akbar!" Ahad sore itu seusai sesi terakhir dari Dauroh Pantura 2 di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) Semarang (4-5/7), peserta yang berjumlah 17.000 orang itu mulai bergerak meninggalkan masjid. Di antaranya rombongan ikhwah Blitar yang difasilitasi komunitas ahlussunnah yang tergabung di wadah Kajian Islam Blitar (KIB). Mereka menyewa 1 mobil Elf, 16 peserta rombongan tidak dipungut biaya alias gratis. Sesaat Elf mendekati gerbang pintu masuk tol Gayamsari dalam perjalanan pulang ke Blitar, terdengar teriakan dari sebelah kiri: "Mas, tolongin saya. Saldo saya kurang 8.500." Ternyata yang berteriak adalah sopir truk yang tertahan transaksinya di palang pintu masuk tol. Anwar Arifin -sopir Elf- reflek menyerahkan kartu e-money kepadanya. Begitu palang pintu tol terbuka, si sopir truk bergegas mengembalikan kartu disertai duit pecahan Rp 10.000. Elf itu pun melaju memasuki ruas jalan tol. Qodarullah beberapa waktu kemudian, tepatnya di KM 435, ban belakang kiri meletus. Duaarrr...!!! Teriakan takbir spontan terucap dari mulut para penumpang: "Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!" Laju Elf pun sempat oleng yang membuat penumpang ketakutan. Alhamdulillah, Mas Arif -begitu sopir Elf itu biasa disapa- masih bisa mengendalikan kemudinya. Mobil bisa berhenti dengan sempurna di bahu jalan tol. Mereka selamat, terhindar dari kecelakaan. Semua berucap syukur, terluput dari musibah yang mengerikan. Tidak ada yang menyalahkan satu sama lain. Mereka memilih bersabar, meyakini semua yang terjadi adalah suratan takdir. Malahan salah seorang penumpang berkomentar musibah itu justru kesempatan bagi mereka untuk mengamalkan isi salah satu kajian. Yakni sesi kajian Al Ustadz Abdurrahman Lombok حفظه الله (Pengasuh Pondok Pesantren Asy Syafi’i, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat) yang berjudul "Sabar dan Syukur Menghadapi Musibah”. Mereka pun segera mengupayakan penanganan, melepas dan mengganti ban. Mereka juga mengontak petugas jalan tol untuk meminta bantuan. Sembari menunggu kedatangan petugas tol, Pak Tekad -salah seorang penumpang Elf- nekat mencegat truk-truk yang lewat untuk meminta bantuan. Satu dua tiga truk yang lewat enggan menepi. Pada truk yang ke-8, sang sopir berkenan menepi. Ia kemudian membantu Mas Arif memasang ban hingga rampung. Sebagai bentuk ucapan terima kasih, KIB hendak memberikan si sopir truk hadiah uang sebesar Rp 100 ribu. Namun ternyata ditolak meski sebelumnya sedikit ada pemaksaan. Pak sopir truk bilang dia memang berniat membantu memberikan pertolongan. Tidak mengharapkan mendapatkan imbalan. Subhanallah. Rombongan dari Blitar itu pun bisa melanjutkan kembali perjalanan dan selamat sampai rumah masing-masing. Mereka tiba di Blitar pada hari Senin pukul 03:30 WIB. Alhamdulillah. "Benar apa kata ustadz pas pengajian tadi, ya Pak. Cuma saya lupa pengajian yang kemarin atau tadi, ya? Di balik semua musibah harus membuat kita menjadi lebih baik. Harus membuat kita menjadi lebih sabar," kata Mas Arif ketika mengantarkan penumpang ke rumah masing-masing. MasyaAllah. Siapa yang menyangka ternyata Mas Arif -yang bisa dikatakan bukan peserta- ikutan menyimak kajian-kajian di Dauroh Pantura 2. Ini bisa dikatakan dakwah sudah menyentuh hatinya. Biidznillah. "Alhamdulillah, saya dapat ilmu. Apalagi saya kan hidup di jalanan, Pak. Jalanan adalah kehidupan yang keras, mesti harus banyak bersabar," kata Mas Arif. Sungguh perjalanan yang sangat berkesan dan banyak pelajaran bagi rombongan Blitar. Bisa dikatakan sebuah perjalanan dakwah bagi KIB. Sebab di antara 16 penumpang Elf itu terdapat pengurus/takmir di 2 masjid yang selama ini dipakai KIB untuk menggelar kajian rutin malam Sabtu di setiap pekannya di Kabupaten Blitar. Mereka adalah Pak Ahmad, pemilik Masjid Abdullah Marzuqi di Desa Jiwut Blitar. Beliau berangkat bersama putranya yang bernama Faruq. Pak Ahmad membawa jadah (ketan tumbuk) bakar sebagai bekal perjalanan.

DAUROH PANTURA 2 (3) Ukhuwah di 5.000-an Cup Kopi, 1.350 Cup Jamu, 1.000-an Paket Rebusan Dauroh Pantura 2 di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) Semarang (4-5/7) lalu tak hanya membuktikan bagaimana bersemangatnya ahlussunnah dalam bermajelis ilmu. Dauroh yang dihadiri sekitar 17.000 peserta itu juga menjadi bukti ukhuwah ahlussunnah di negeri ini semakin kokoh tak mudah goyah. Biidznillah. Keberadaan stand KopWah Gratis adalah salah satu bukti nyata kokohnya ukhuwah ahlussunnah. Di 2 hari itu disiapkan 54 kg kopi, 30 kg gula pasir, 10 kg gula aren, 25 kg SKM, 5.600 cup, dan 3 bungkus besar teh. Seluruh logistik tersebut hasil taawun ikhwah ahlussunnah yang pengin mensupport stand bagi-bagi KopWah (kopi ukhuwah) gratis di Dauroh Pantura 2. Untuk keperluan pengadaan kompor, dandang, gas, air mineral galonan, Tim KopWah mendapatkan bantuan dari panitia Dauroh Pantura 2. Tim Sarpras menyediakan semua kebutuhan Tim KopWah secara gratis. Bukankah ini juga wujud ukhuwah? Ukhuwah semakin terasa ketika para ikhwah pengusaha jamu/herbal di Magelang ikut bertaawun di stand KopWah Gratis. Mereka membagikan jamu imunitas gratis untuk pegal-pegal dan mencegah masuk angin. "Kalau dihitung-hitung kita sediakan 1.350 cup jamu," kata Abu Sufyan Husain yang menghandle urusan jamu di stand KopWah Gratis di Dauroh Pantura 2 lalu. Bukti lain kokohnya ukhuwah adalah pembagian paket sarapan rebusan yang dibagikan gratis di hari Ahad (5/7) pagi di Dauroh Pantura 2. Kurang lebih 1.000 paket berisi bolu kukus, rebusan pisang-singkong-ubi dan kopi. Taawun salah seorang ikhwan Bandung yang membuka stand "Ngopi Bareng Gratis Ditemani Rebusan" di depan stand KopWah Gratis. "Sebagai wasilah untuk mempererat persaudaraan. Yang belum kenal jadi kenal, yang baru kenal tambah akrab." Begitu tulisan slogan yang tertera di spanduk stand tersebut. MasyaAllah. Slogan yang mencerminkan kenyataan yang ada di Dauroh Pantura 2. Dari yang tidak saling kenal menjadi saling kenal. Sesuatu hal yang mengesankan seperti diakui Abu Aisyah Roy, peserta Dauroh Pantura 2 dari Pangkalan Bun Kalimantan Tengah. Menurutnya, di stand KopWah Gratis seseorang yang sebelumnya tidak saling kenal menjadi saling mengenal. Hal itulah yang membuat Dauroh Pantura 2 semakin berkesan baginya. Ukhuwah pula lah yang membuat ikhwah bertaawun bertugas di stand KopWah Gratis di Dauroh Pantura 2 lalu. Mereka berasal berbagai daerah di Bumi Pertiwi. Dari Jawa, Sumatra, dan Kalimantan. Selain bermajelis ilmu, mereka -Tim KopWah- sukarela bertaawun menyiapkan kopi untuk peserta Dauroh Pantura 2. Di saat peserta istirahat di sesi jeda antarkajian, justru waktu Tim KopWah bertugas menyiapkan kopwah. Tim KopWah adalah Abdul Aziz (Karang Makmur), Abdul Muiz (Karang Makmur), Abu Zhidan (Bunga Mayang Lampung), Abu Jundi Toha (Ngawi), Abdul Aziz (Metro Lampung), Abu Salman Al Malanjy (Malang), Abu Ilyasa' (Surabaya), Abu Aslam Apri (Pangkalan Bun), Abu Rosyid Slamet (Bandung), Abu Faqih Ginanjar (Bandung), Abu Ibrahim Kusdiyanto (Purwokerto), Abu Ibrahim Javi (Bandung), Abu Zakariyya (Tasikmalaya), Abu Samhan Abdul Hafidz (Palembang), Abu Arkan Dian (Glumbang Muara Enim), Abu Abdurrauf Akhtar (Tangerang), dan Abu Muhammad (Tangerang). Alhamdulillah, di Dauroh Pantura 2 telah dibagikan sekitar 5.000-an cup KopWah, 1.350 cup jamu, dan kurleb 1.000 paket rebusan. KopWah bukan sekadar kopi yang memberikan kehangatan dan kebersamaan. Namun, KopWah juga memberikan kenangan keindahan ukhuwah ahlussunnah. Jazaakumullahu khoiron katsiron untuk ikhwah yang telah berdonasi di stand KopWah Gratis, Tim KopWah, panitia Dauroh Pantura 2, dan MAJT. Semoga taawun kalian menjadi pemberat timbangan amalan baik di akhirat kelak. Amin. (Abu Zakariyya Thobroni, Rabu 23 Muharam 1448/8 Juli 2026) https://t.me/geraifathimah

Antrean di stand KopWah Gratis di Dauroh Pantura 2

Foto dari Abu Zakariyya Thobroni
Foto dari Abu Zakariyya Thobroni

photo content

Maaf, selama kajian berlangsung stand KopWah Gratis ditutup dulu, tidak melayani pemberian kopi gratis
Maaf, selama kajian berlangsung stand KopWah Gratis ditutup dulu, tidak melayani pemberian kopi gratis