es
Feedback
Ask The Experts

Ask The Experts

Ir al canal en Telegram

Channel ini merupakan pengembangan dari Grup nasional ATE khusus Internal BPJS kesehatan yang membernya lebih dari 6.000 Orang Duta BPJS Kesehatan Selindo 🇲🇨 https://www.instagram.com/commit_asktheexperts?igsh=ZmpmN2xqbWFjZjBn

Mostrar más
1 823
Suscriptores
+224 horas
+107 días
+1930 días
Archivo de publicaciones
BAHAYA POSITIVE THINKING Penulis: Yusran Darmawan Dalam banyak aktivitas, kita selalu mendapat nasihat untuk selalu berpikir positif. Kita diajarkan untuk positive thinking ketika sedang melakukan satu pekerjaan besar. Bagi yang pernah membaca buku The Secret, pasti paham kuatnya mantra tentang berpikir positif. Dalam buku Filosofi Teras, saya temukan pendapat para psikolog yang justru mengkritik positive thinking. Malah, positive thinking mulai dilihat sebagai masalah. Dalam beberapa eksperimen, seseorang yang menerapkan positive thinking seringkali mendapatkan hasil yang lebih buruk dibandingkan mereka yang tidak menerapkannya. Positive thinking dianggap menipu pikiran kita, beranggapan seolah-olah kita sudah mencapai yang diinginkan, sehingga melemahkan ketekunan dan keuletan kita untuk berusaha. Kita kehilangan daya juang karena dicekoki mantra positive thinking sehingga kita merasa cepat puas. Beberapa psikolog merekomendasikan “mental contrasting” yaitu menggabungkan positive thinking (membayangkan hasil positif) dengan memikirkan hambatan apa saja yang bisa ditemui. Penelitian menunjukkan bahwa mereka yang melakukan “mental contrasting” memiliki capaian yang lebih hebat ketimbang mereka yang memikirkan hal positif, atau mereka yang hanya membayangkan hal negatif saja. Di buku ini, saya temukan artikel menarik di Newsweek berjudul The Tyranny of Positive Thinking Can Threaten Your Health and Happiness. Positive thinking bisa menyebabkan perasaan gagal, juga perasaan depresi. Anda merasa sedih ketika gagal, tiba-tiba Anda didera lagi rasa bersalah karena tidak bisa berpikir positif. Misalnya, Anda tidak lulus ujian, sehingga merasa terpuruk. Tiba-tiba Anda merasa bersalah lagi karena tidak bisa bahagia. Kata psikolog, ini sama dengan dua kali dihantam palu godam yang bisa membuat Anda depresi. Seorang psikolog mengatakan, beberapa orang justru memberi respon lebih baik pada hal negatif, sikap yang disebutnya “pesimisme defensif.” Maksudnya, dengan memikirkan sesuatu akan berjalan tidak sesuai rencana, maka seseorang bisa mengurangi kekhawatiran dan sering kali sanggup mengantisipasi semua tantangan. Saya tak selalu sepakat dengan para psikolog ini. Seringkali perasaan cemas atas sesuatu yang belum terjadi bisa menjadi masalah baru. Kita sering kali berhalusinasi tentang sesuatu yang buruk, padahal hal itu sendiri belum terjadi. Kita depresi untuk sesuatu yang masih mengawang-awang. Saya teringat seorang kawan yang positive thinking- nya sudah sampai level akut. Ketika ada cewek yang tersenyum, dia langsung meyakini cewek itu naksir padanya. Dia akan kembangkan semua analisis betapa dia digilai oleh cewek. Tapi ketika penolakan datang, dia seperti dihantam palu godam.Dia terpuruk. Saya datang menghiburnya, dengan satu kalimat sakti: “Beruntung kamu tidak jadian dengannya. Cewek itu bodoh. Dia hanya mau sama pangeran bodoh di istana pasir. Dia tidak siap menjadi kekasih pendekar. Dia tidak siap mengikuti jalan pedang.” Niat saya sekadar menghibur. Ternyata dia bisa bangkit berkat kalimat itu. Dia mengiyakan kata-kata saya. Selanjutnya, dia kembali jadi figur yang percaya diri. Buku Filosofi teras ini tidak menawarkan satu solusi final. Buku ini menggali kearifan Yunani dan Romawi kuno untuk diterapkan di masa kini. Yang ditawarkan adalah upaya untuk mengendalikan semua hal negatif dengan cara mengubah cara pandang kita, yakni melihat hal negatif itu sebagai sesuatu yang normal dan kita berdamai dengannya. Artinya, kita mengakui bahwa sesuatu itu negatif, tapi kita tidak lantas tenggelam di situ. Kita punya kemampuan untuk mengubah hal negatif itu menjadi kekuatan positif sehingga ke depannya kita akan lebih tangguh dan kuat. Pandangan ini mirip dengan ajaran Buddha yang mengatakan: “Diri adalah apa yang kita pikirkan.” Jika kita menganggap diri kita positif dan bernilai, maka semesta pun akan berkonspirasi untuk membantu kita menggapai pandangan itu. Terkait positive thinking, saya teringat satu lirik dalam lagu soundtrack Asian Games di Jakarta lalu, yang kalau tak salah dinyanyikan Via Vallen.

ATE Edisi 383 kembali ke mode webinar dengan tema Tips Mengelola Dana Darurat di Tahun 2023. Stay tuned 🇮🇩🇮🇩🇮🇩

Saat seorang pemimpin bilang sesuatu, kita ikut membenarkannya. Kita tidak berbicara kritis sebab takut dia marah lalu menyingkirkan kita dari pusaran kekuasaan. . Kita sering kali lebih khawatir penilaian orang lain ketimbang berbicara apa adanya. Kita tahu bahwa kebenaran itu kadang kala pahit. Kita tak siap dengan kepahitan itu, dan lebih suka sesuatu yang manis, padahal yang manis itu bisa membahayakan. . Saat seorang pemimpin bertanya mana yang bagus antara sirup manis dan jamu pahit, kita sering merasa lebih nyaman menyebut sirup manis. Sebab jamu rasanya pahit dan bisa membuat seseorang marah. Padahal, sirup manis itu bisa menjadi penyakit, sedangkan jamu pahit justru bisa menyembuhkan. . Seorang bijak berkata, jika kita dalam posisi pemimpin, maka kita harus peka terhadap berbagai suara-suara yang masuk. Jangan biarkan emosi yang mengendalikan nalar. Tetap kritis dan rendah hati. Percayalah, keputusan hebat selalu lahir dari pikiran yang jernih, serta dari masukan yang juga jernih. . Jika tetap emosi, kita hanya akan menjadi tertawaan. Iya kan? . www.timur-angin.com

KISAH SEORANG RAJA YANG TELANJANG . Oleh: Yusran Darmawan . Lelaki tua itu datang menemui raja yang sedang bersama menteri dan pejabat. Dia bilang siap membuatkan satu baju terindah dunia yang penuh dengan perhiasan dan permata. Raja tertarik. Apalagi, dua minggu lagi akan ada karnaval. . Tapi, lelaki itu bilang ada syaratnya. Apakah gerangan? Hanya orang baik dan berhati tulus yang bisa melihat baju itu. Hanya orang jahat yang tidak melihat baju itu. . Raja menyanggupi. Dia menyerahkan dana awal berupa permata dan perhiasan mahal. Di satu ruangan istana, lelaki itu mulai bekerja. Sepekan pertama, Raja berkunjung. Dia melihat lelaki itu seolah-olah sedang menyulam. . Tapi, Raja tidak melihat bahan di situ. Dalam hati, Raja menggumam, “Apakah saya bukan orang baik sampai-sampai tidak melihatnya” . Lelaki itu berpura-pura memegang kain, kemudian bertanya pada Raja, “Bagaimana Yang Mulia. Indah kan?” Raja sesaat kebingungan. Raja ingin dianggap baik. Dia pun menjawab, “Wah, itu baju yang keren. Hebat.” . Hari karnaval tiba. Lelaki tua itu datang menemui Raja. Dia membawa nampan kosong. Kepada Raja dia berkata: “Yang Mulia, lihat mahakarya ini. Baju hebat ini akan membuat dirimu terlihat berkharisma di hadapan rakyat.” . Raja tidak melihat satu potong baju di nampan itu. Tapi dia takut dianggap bukan orang baik. Dia berpura-pura lihat dan menjawab, “Karya yang hebat. Saya suka sekali.” . Para menteri dan hulubalang juga tak melihat baju. Sebagaimana Raja, mereka takut dianggap jahat sehingga bisa diturunkan dari posisinya. Semuanya juga berpura-pura melihat. “Indah sekali Yang Mulia. Ini baju terhebat yang pernah saya lihat,” kata seorang menteri. Semua di ruangan itu berdecak kagum. . Raja dan lelaki itu masuk ke ruangan khusus. Raja membuka bajunya dan hanya memakai celana pendek. Dia bertelanjang dada. Lelaki itu seolah-olah memakaikan mahakarya itu ke Raja. Semua abdi istana yang melihatnya sontak berdecak kagum. Semuanya bilang itu baju hebat. . Ketika Raja ikut karnaval keliling kotaraja, semua rakyat melihatnya. Semua heran melihat Raja yang tak berbaju. Hingga akhirnya, seorang anak kecil berteriak: “Hei, lihat. Raja tidak memakai baju.” Anak itu tertawa keras. Semua orang ikut tertawa dan membenarkan suara anak kecil itu. . Raja pun merasa malu. Dia murka dan memerintahkan agar lelaki pembuat baju itu ditangkap. Rupanya, lelaki itu sudah lama kabur dan membawa perhiasan dari istana. Kisah ini menjadi desas-desus dan dibahas semua orang, meskipun pihak istana selalu menyangkalnya. . *** . Kisah ini pernah saya temukan dalam Arabian Night atau Kisah 1001 malam. Banyak versi pada kisah ini. Inti ceritanya masih sama yakni ada seorang pemimpin yang selalu ingin dicap baik. Dia dikelilingi orang-orang yang serupa beo selalu membenarkan kalimat pemimpin itu. . Dalam hidup, kita sering bertemu karakter serupa. Kita sering bertemu pemimpin yang selalu ingin dianggap hebat oleh semua orang. . Mereka selalu ingin menjadi pusat perhatian semua orang. Mereka tidak mau terlihat bodoh. Mereka selalu ingin jadi titik pembicaraan, yang namanya selalu dibahas semua orang. . Kita sering menemui orang yang mengira dirinya hebat hanya karena semua orang di sekelilingnya mengatakan hebat. Kita pernah ketemu orang yang bangga sekali saat semua kalimatnya disambut tepuk tangan dan sorak banyak orang. . Sosok ini ini dikepung semacam kesadaran palsu bahwa dirinya akan selalu jadi pusat perhatian. Padahal, orang sekitarnya sengaja memujinya hanya karena mengincar sesuatu. Saat satu kenyataan menguak topeng seseorang yang merasa hebat ini, para pendukungnya akan kabur dan membiarkannya sendirian. . Kisah ini mengajarkan kita bahwa demi untuk tampil luar biasa, seseorang yang merasa dirinya hebat bisa melakukan apa pun, bahkan hal bodoh sekali pun. . Orang ini tidak paham bahwa di luaran sana, malah orang-orang sibuk bergunjing dan menertawakan dirinya. Apa daya, dia dikelilingi orang oportunis yang selalu membenarkan tindakannya. . Di sisi lain, kita pun harus berani mengakui betapa kita ikut andil dalam orkestra kebodohan ini.

Pentingnya memberikan pemahaman dan pembelajaran sedari dini kepada anak apabila ditinggal sendiri di rumah untuk tidak percaya kepada siapapun apalagi orang yang tidak dikenalnya. 🙏🏻🙏🏻

NOKTAH MERAH PERKAWINAN Penulis : Yusran Darmawan Bersama istri dan beberapa kawan, saya menonton film Noktah Merah Perkawinan yang tengah trending di satu platform film berbayar. Kisahnya tentang cinta segitiga, tentang perselingkuhan, tentang bagaimana mempertahankan pernikahan. Bagi saya, konfliknya tak seberapa. Lebih banyak soal ego dan tengkar penuh emosi. Ada campur tangan orang tua. Si lelaki merasa tidak bahagia di rumah. Dia lebih nyaman di tempat kerja. Kebetulan, di situ ada perempuan manis yang bikin hatinya mekar. Hingga separuh film, saya merasa apa yang terjadi normal-normal saja. Hubungan lelaki dan perempuan itu di tempat kerja hanya sebatas sering ngobrol, sering antar pulang, sering kirim pesan, dan sering jalan bersama. Keduanya saling menjaga batasan. Namun saat lelaki itu pulang ke rumah, dia akan bertengkar hebat dengan istrinya, sampai-sampai wajah memerah dan tubuh bergetar karena emosi. “Ah, itu sih cemen,” kata seorang kawan. Dia tak habis pikir mengapa hal sesederhana itu bisa jadi bahan pertengkaran hebat dalam film itu. Dia sering melihat perselingkuhan yang lebih parah dari itu. Temannya diam-diam membelikan apartemen untuk pacar gelapnya, lalu datang bobo di akhir pekan. Ada pula pria yang menguras hartanya demi selingkuhan. Ada juga yang nikah siri di kampung sebelah lalu punya anak. Ada juga kawan yang selingkuh tipis-tipis. Ada yang pakai jasa Open BO. Ada pula yang melakukannya gratis. Dia gunakan aplikasi M..t, berwarna hijau, untuk janjian dengan seseorang di hotel. Perselingkuhan bukan hanya dilakukan laki-laki. Malah, ada pula perempuan yang melakukannya. Seorang kawan di kantor yang sangar dan bertato akan meneteskan air mata saat ditanya tentang kenapa bercerai. Rupanya istrinya memilih selingkuh dengan pria kaya-raya. Di kota sebesar Jakarta, ada banyak celah dan ruang bagi seseorang untuk selingkuh. Terlambat pulang kantor adalah hal biasa. Bilang saja macet. Banyak yang menyapa keluarga hanya melalui aplikasi karena mengaku sibuk dan tidak bisa pulang tepat waktu. “Yang penting main cantik,” kata kawan itu. Dia mengklaim ada 1001 cara untuk selingkuh, dan tidak ketahuan. Ada pula yang memakai dalil agama untuk menutupi tindakan tindakan nikah diam-diam, tanpa sepengetahuan istrinya. Hingga kini, saya belum ada pikiran selingkuh. Padahal, saya sih setuju-setuju saja, sepanjang saya yang dibiayai oleh perempuan. Ini jelas gak mungkin. Perempuan hanya mau membiayai jika ada dua syarat. Pertama, punya wajah seganteng Nicholas Saputra. Kedua, punya daya tempur yang dahsyat. Nah, saya jelas tidak punya dua hal itu. Ini bukan bohong yaa. Ini beneran.

photo content

Sebaliknya, bila ketiga hal di bawah ini yang justru terasa kuat di organisasi, atmosfer negatif pun akan menjadi semakin kuat. 1. Tekanan emosional: rasa khawatir, perundungan dari atasan ataupun teman sejawat, dan rasa tidak aman merupakan tekanan eksternal yang membuat individu tidak bersemangat. Kreativitas dan inovasi yang membutuhkan keberanian individu untuk melihat dari sisi yang berbeda dan melakukan perbaikan akan sulit untuk ditumbuhkan dalam suasana kerja seperti ini. 2. Tekanan ekonomi: sebagian besar orang bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun, bila tekanan ekonomi sedemikian besar sehingga membuat individu takut kehilangan pekerjaan, akan membuat individu melihat pekerjaannya sebagai sebuah beban yang harus ia jaga baik-baik. Mereka cenderung akan patuh pada penugasan dan atasan saja, berusaha tidak menimbulkan masalah dalam pekerjaannya. 3. Inertia atau kelesuan: rasa lesu ini bisa dirasakan dari awal atau baru mulai muncul ketika ia semakin berjarak dengan pekerjaannya. Ia tidak lagi melihat daya tarik dari pekerjaannya sama sekali. Semakin lama kontribusinya pun akan semakin berkurang, sebatas pada kewajiban yang harus dilakukannya semata. Tekanan-tekanan di atas pasti menghambat kelancaran tumbuhnya passion terhadap pekerjaan individu. Alih-alih berfokus pada pekerjaan, energinya lebih banyak tersedot pada kekecewaan dalam bekerja, baik dari sisi upah maupun beratnya pekerjaan. Ia tidak lagi peduli pada kualitas kerjanya. ToMo: total motivation Kultur adalah kumpulan praktik-praktik dalam organisasi yang berdampak pada motivasi total karyawan. Motivasi karyawan yang tinggi berkorelasi dengan kepuasan pelanggan. Bahkan, dari hasil penelitian, perbedaan angka penjualan antara organisasi ber-ToMo (total motivation) rendah dan tinggi bisa mencapai 30 persen. Selain dari enam hal di atas, kultur juga dipengaruhi oleh bagaimana proses bisnis dijalankan di sebuah perusahaan. Apakah ada kejelasan peran individu dalam organisasinya? Bagaimana sistem penilaian kinerja dilakukan dan berdampak pada kejelasan karier individu? Semakin jelas individu akan perannya di organisasi dan bagaimana kontribusinya diapresiasi, semakin tinggi motivasinya untuk berprestasi. Kejelasan peran ini juga membuat proses pengambilan keputusan berjalan lebih lancar sehingga tindak lanjut proses bisnis pun dapat segera dilaksanakan. Identitas perusahaan juga berpengaruh pada ToMo. Kultur lembaga seperti KPK pada awal pembentukannya yang berusaha memegang teguh integritas sampai ke level pribadi, benar-benar berpengaruh pada motivasi karyawannya. Mereka teguh berpegang pada integritas, bangga, dan tidak pernah kenal waktu dalam bekerja. Mau tidak mau, setiap pemimpin perlu membedah organisasinya dan selangkah demi selangkah meningkatkan ToMo di perusahaannya. Kultur yang memotivasi ini akan menjadi daya saing luar biasa yang tidak terkalahkan.

BUDAYA MEMOTIVASI Sumber : Experd.com Dalam sebuah wawancara kepada pimpinan-pimpinan perusahaan Fortune 500 mengenai sumber kekuatan motivasi karyawannya, lebih dari 20 kali kata kultur disebutkan oleh para CEO. Hal ini berarti para pimpinan ini meyakini bahwa kultur organisasi memiliki pengaruh kuat pada motivasi karyawan yang pada akhirnya tentu pada suksesnya organisasi. Kultur memang tidak terlihat, tetapi dapat dirasakan dengan sangat kuat oleh individu yang berada di dalamnya. Berapa banyak karyawan yang merasa begitu bersemangat untuk berkontribusi kepada organisasinya ketika baru bergabung kemudian lambat laun merasa apatis karena lelah menghadapi penolakan terhadap ide-ide barunya? Sementara di tempat lain, karyawan yang tadinya hanya berpikir untuk dirinya sendiri, perlahan-lahan mulai berubah ketika ia melihat bagaimana rekan-rekan kerjanya bekerja dengan semangat demi kemajuan organisasi. Kombinasi misi, manajemen, dan kultur Banyak pimpinan yang tidak sadar bagaimana perilakunya akan menciptakan kultur dari organisasi yang dipimpinnya. Seolah-olah pembentukan kultur organisasi berjalan secara intuitif saja. Mengingat bahwa kultur organisasi dapat menjadi “magic force” yang dapat memengaruhi motivasi karyawan, penting bagi kita untuk menelaahnya lebih lanjut. Studi terhadap 2.500 pekerja menemukan bahwa upah bukanlah hal yang dianggap paling penting untuk memotivasi mereka dalam bekerja. Edward Deci dan Richard Ryan dari Universitas Rochester mengelompokkan 6 faktor yang berdampak signifikan pada motivasi karyawan ke dalam 2 golongan, yaitu good motives dan bad motives. Southwest Airlines yang sangat terkenal karena kekuatan kultur organisasinya terlihat didominasi oleh good motives ini sebagai berikut. 1. Play, bila individu begitu menikmati pekerjaannya seperti layaknya sedang bermain, ia akan mencurahkan energinya dengan optimal. Dalam menghadapi kesulitan ia justru akan semakin bersemangat karena semakin merasa tertantang. Seorang guru yang senang mengajar akan senantiasa mencari cara agar murid-muridnya menikmati pelajarannya dengan optimal. Antusiasme sang guru akan mengalir juga kepada murid-muridnya. 2. Purpose, bila sasaran jangka panjang pekerjaan sesuai dengan identitas para individu dalam organisasi, pencapaian target organisasi pun akan menjadi lebih mudah. Guru yang menyadari bahwa ia memiliki kontribusi dalam mencerdaskan bangsa, akan lebih bersemangat dalam melakukan tugasnya. 3. Potential, bila hasil pekerjaan dapat meningkatkan rasa percaya diri sendiri, kita akan merasa lebih berkembang. Sense of growth yang kita rasakan ini dapat menyemangati diri kita. Bila ketiga motif itu dapat dimunculkan di organisasi, individu yang berada di dalamnya niscaya akan terdorong untuk berkontribusi lebih banyak dan berprestasi lebih baik.

Absenteeism mengakibatkan alienasi Survei pada 2015 terhadap 1.000 karyawan menunjukkan bahwa 8 keluhan terbesar para karyawan adalah tingkah laku pemimpin yang absen. Bukan pemimpin yang bullying atau menekan, melainkan justru yang tidak hadir bersama dengan anggota timnya. Persentase 8 keluhan itu yakni sebagai berikut: - 63 persen mengatakan pemimpin tidak tahu dan tidak bisa mengakui apa yang telah dicapai bawahan. - 57 persen pemimpin yang tidak memberi arahan yang jelas. - 52 persen pemimpin yang tidak mempunyai waktu bertemu ataupun bertukar pikiran dengan bawahan. - 51 persen pemimpin yang enggan berbicara dengan bawahan. - 47 persen pemimpin yang mengambil ide bawahan dan mengaku bahwa itu idenya. - 39 persen pemimpin yang tidak pernah memberi kritik membangun. - 36 persen pemimpin yang tidak mengingat nama bawahan. - 23 persen pemimpin yang tidak pernah menanyakan kehidupan lain di luar pekerjaan. Ternyata rasa tidak bahagia dari bawahan dengan pemimpin seperti ini lebih besar dibandingkan dengan atasan yang diktator, keras, dan otoriter. Mereka merasa teralienasi dan kondisi ini dapat menurunkan motivasi para karyawan. Tingkat stres pun cenderung meningkat dalam kondisi sikut-menyikut antar-bawahan akibat tidak adanya komando yang nyata.  Sulitnya, pemimpin yang absen seperti ini jarang merasa bahwa kepemimpinannya harus diperbaiki. Apalagi mengingat mereka biasanya adalah bintang dalam keterampilan teknis. Untuk itu, langkah pertama yang perlu dibangun adalah menumbuhkan self awareness mereka meskipun tidak mudah. Organisasi juga perlu menyadari bagaimana “kerusakan” yang timbul akibat kepemimpinan yang seperti ini lebih besar daripada kontribusi yang dapat mereka berikan. “Sebelum jadi pemimpin, kesuksesan adalah tentang mendewasakan dan mengembangkan diri. Ketika Anda sudah jadi pemimpin, kesuksesan adalah tentang mendewasakan dan mengembangkan orang lain.” Jack Welch

KEPEMIMPINAN AUTOPILOT sumber : Experd.com Dalam berbagai curhatan di media sosial, kita kadang melihat keluhan-keluhan mengenai atasan yang control freak, yang tidak percaya kepada anggota timnya, sehingga segala sesuatu harus ditanganinya sendiri. Orang menyebutnya micro management. Bawahan bisa jadi merasa tidak dapat berkembang meskipun ada juga yang menyerah dan membiarkan atasannya yang berpikir, memutuskan, dan mengemban tanggung jawab penuh, tanpa menyadari hal tersebut merugikan diri sendiri karena membuatnya tidak berkembang. Ini berarti suksesi tidak berjalan mulus, organisasi kesulitan untuk menumbuhkan pemimpin-pemimpin baru pada masa mendatang. Sebaliknya, kita mungkin melihat adanya pemimpin yang berada di posisinya, tetapi secara praktis tidak banyak terlibat dengan timnya. Bisa saja mereka hadir di setiap rapat, mempertanyakan beberapa laporan, data, atau tindakan tetapi arah, keputusan, maupun perbaikan kinerja tidak digalakkan sehingga kurang berdampak positif pada direktorat yang dipimpinnya. Bila beruntung, divisinya bisa berjalan terus tanpa kendala. Namun, motivasi, pengembangan dan perbaikan tidak signifikan. Akibatnya, banyak anak buah yang merasa bahwa atasan tidak memahami apa yang mereka kerjakan. Di samping, ada juga atasan yang tidak segan-segan mengakui bahwa prestasi anak buahnya adalah hasil dari pengarahan dan bimbingannya. Ketika pemimpin tidak memahami dengan baik sasaran kinerja dari masing-masing individu maupun antarbagian di bawahnya, mereka akan kesulitan menggarap kolaborasi dalam tim kerjanya. Padahal, kolaborasi bukanlah sekadar sumtotal kinerja para individu di dalamnya. Dalam kepemimpinan autopilot seperti itu, koordinasi sangatlah minim, keputusan yang ada mengambang tanpa tujuan yang jelas. Di sinilah biasanya muncul kesempatan untuk “berpolitik”, seperti upaya mencari muka atau penyebaran gosip yang tidak jelas. Mungkinkah bawahan bisa memiliki motivasi tinggi untuk bekerja dalam kondisi seperti itu? Dalam beberapa survei mengenai kepuasan kerja, ditemukan bahwa gaji yang tinggi ternyata bukan prioritas utama seseorang dalam meningkatkan motivasinya walaupun sering dijadikan alasan untuk berpindah pekerjaan. Sikap pemimpinlah yang sebenarnya sering menjadi faktor terbesar seseorang untuk meninggalkan sebuah organisasi. “People leaves managers, not companies,” kata Marcus Buckingham, penulis buku-buku manajemen. Pemimpin yang vakum Pada banyak kasus, pemimpin yang vakum seperti ini terbiasa bekerja sendiri. Mereka berfokus pada dirinya sendiri, dengan keterampilan teknis yang dikuasainya. Keterampilan teknis yang dimilikinya bisa jadi jauh di atas anak buahnya sehingga ia menjadi sulit untuk mengembangkan rasa percaya pada bawahannya. Pemimpin ini berfokus pada tugas dan targetnya sendiri dan membiarkan bawahan mengerjakan tugas-tugas lebih mudah, tanpa berpikir untuk mengembangkan keterampilan bawahannya. Tak jarang pemimpin seperti ini berpikir bahwa tugas mengembangkan keterampilan individu merupakan tanggung jawab masing-masing individu. Mereka tidak sadar bahwa tuntutan peran seorang pemimpin tidak sekadar penguasaan keterampilan teknis. Organisasi pun sering tidak menyadari akibat dari pemimpin disfungsional seperti ini karena umumnya pemimpin-pemimpin ini memiliki prestasi yang baik sebagai kontributor individual, sehingga mereka pun biasanya akan disegani organisasi. Namun, kondisi dengan pemimpin-pemimpin disfungsional ini dapat berakibat fatal bagi organisasi karena menjadi semacam silent killer dalam organisasi. Apa bahaya dari kepemimpinan vakum ini untuk jangka panjang? Bayangkan, sebuah orkestra yang terdiri atas pemain-pemain musik terbaik yang bermain musik dengan egonya masing-masing, sementara konduktornya pun sibuk dengan musiknya sendiri. Tidakkah para pemain itu tidak merasa bahagia dan bangga dengan musik yang mereka hasilkan? Pemain-pemain berbakat tentunya akan segera pergi mencari orkestra lain yang dapat membantu mereka menghasilkan simfoni terbaik.

10 Rules...
+4
10 Rules...

MEMBANGUN HABIT sumber: FB Iim Fahima Jachja Sejak kecil saya biasa tidur jam 9 malam, sampai sekarang umur 40+, kebiasaan itu terus berlanjut. Sejak SMA saya punya kebiasaan tahajud, sampai sekarang kebiasaan itu masih terus berlanjut. Sejak SMP saya punya kebiasaan hidup rapih, bersih; kamar ga pernah berantakan, begitupun meja belajar. Sampai sekarang masih sama; rumah selalu bersih, meja kerja selalu rapih, even desktop komputer pun semua rapih tertata dengan folders. Belakangan saya sering posting nge gym, lalu ada yang komen: “Wah sekarang rajin olahraga” Ini ngga tepat, karena sejak remaja saya rutin olahraga dari mulai ikut beladiri, renang, sampai lari. Saat WFO, saya biasa datang ke kantor jam 7.00 pagi, lari 5K, mandi lalu lanjut kerja. Bahkan 40 hari setelah operasi cesar kelahiran anak ke 2 dan jahitan dinyatakan aman oleh dokter, saya merayakannya dengan lari 10K. Habit atau kebiasaan adalah perilaku/aktivitas yang dilakukan secara terus menerus yang pada titik tertentu menjadi identitas dan sikap yang otomatis. Habit tidak dibangun dalam jangka pendek hitungan bulan, melainkan bertahun-tahun -- dan juga tidak berupa garis lurus alias konsisten sempurna terus, tapi dipenuhi dengan jatoh bangun tapi ujungnya ya bangun lagi. Bagaimana cara membangun kebiasaan baik? Kalo saya ditanya begitu, akan menjawab bahwa semua dilakukan secara natural, ngga ada metode khusus karena I am naturally a driven person. Tapi ternyata yang natural buat saya, bisa dijabarkan secara metodologis dan scientific di buku "Atomic Habits" karya James Clear sehingga bisa diikuti khalayak umum. Beberapa diantaranya: Pertama, mulai dengan mindset “Sedikit tapi rutin”. Misal: Mulai besok pagi setelah sholat subuh, saya akan olahraga 15 menit. Lakukan olahraga 15 menit ini seminggu 3x dulu. Setelah 3 bulan, tingkatkan menjadi seminggu 5x. Pertahankan rutinitas ini selama 3 atau 6 bulan, lalu ditingkatkan durasinya perlahan. Kedua, kombinasikan dengan aktivitas rutin yang biasa kamu jalani. Perhatikan kalimat “Setelah sholat subuh, saya akan olahraga 15 menit”. Sholat subuh adalah rutinitas lama, olahraga adalah rutinitas baru. Dengan strategi ini, kamu ngga perlu dedikasi waktu khusus olahraga, instead, “numpang’ sama waktu sholat subuh Ketiga, make it easy, bikin aktivitas yang eksekusinya mudah. Kebanyakan orang salah strategi dalam membangun kebiasaan dengan setting goal yang eksekusinya susah. Misal: Aku akan lari di GBK seminggu 3x. Padahal buat jalan ke GBK harus menerabas macet, harus pulang kantor tepat waktu dll. Itu perjuangan berat yang bikin kita males duluan. Instead of menjalankan hal yang eksekusinya ribet, pilih yang eksekusinya gampang, contohnya ya olahraga 15 menit habis subuhan kayak di atas. Salah satu strategi supaya lebih mudah membangun kebiasaan baru adalah dengan membuatnya visible/keliatan di depan mata. Contoh: Mau membiasakan makan sehat, ya taro semua jenis makanan sehat di rumah. Taro buah di meja makan, jangan nyempil ga kliatan di dalam kulkas. Mau rajin baca buku, ya taro bukunya di meja kerja ato di lokasi yang sering kamu duduk santai. On my case, buku yang saya target selesaikan buat dibaca, saya taro di meja kerja, karena itu meja yang paling sering saya kunjungi. Selamat mencoba ya!

WANITA Ketika Tuhan menciptakan wanita, dia bekerja terlambat pada hari ke-6. Seorang malaikat datang dan bertanya. "Kenapa menghabiskan begitu banyak waktu dengannya?" Tuhan menjawab. "Apakah kamu sudah melihat semua spesifikasi yang harus aku temui untuk membentuknya?" "Dia harus berfungsi dalam semua jenis situasi, Dia harus bisa merangkul beberapa anak sekaligus, Memiliki pelukan yang dapat menyembuhkan apa saja dari lutut yang lebam hingga hati yang terluka, Dia harus melakukan semua ini hanya dengan dua tangan, Dia menyembuhkan dirinya sendiri ketika sakit dan bisa bekerja 18 jam sehari" Malaikat terkesan" Hanya dua tangan? Tidak mungkin! Dan ini adalah model standar" Malaikat itu mendekat dan menyentuh wanita itu" "Tapi Engkau telah membuatnya begitu lembut, Tuhan". "Dia lembut", kata Tuhan, "Tapi aku telah membuatnya kuat. Kamu tidak bisa membayangkan apa yang bisa dia tahan dan atasi" "Bisakah dia berpikir?" Malaikat bertanya... Tuhan menjawab. "Tidak hanya bisa berpikir, dia juga bisa beralasan dan berunding" Malaikat menyentuh pipi nya.... "Tuhan, tampaknya ciptaanmu ini bocor! Kamu sudah terlalu banyak memberi beban kepadanya" "Dia tidak bocor...itu adalah air mata" Tuhan mengoreksi Malaikat... "Lalu untuk apa air mata ini?" Tanya Malaikat..... Tuhan berkata. "Air mata adalah caranya untuk mengekspresikan kesedihannya, keraguannya, cintanya, kesepiannya, penderitaan dan harga dirinya. Malaikat sangat terkesan, "Tuhan, Engkau jenius. Kamu memikirkan segalanya. Seorang wanita memang luar biasa" Tuhan berkata. "Memang benar. Dia memiliki kekuatan yang membuat seorang pria takjub, Dia bisa menangani masalah dan membawa beban berat, Dia memegang kebahagiaan, cinta, dan opini. Dia tersenyum ketika dia merasa ingin berteriak, Dia bernyanyi saat dia merasa ingin menangis, menangis saat bahagia dan tertawa saat takut, Dia berjuang untuk apa yang dia yakini. Cintanya tanpa syarat. Hatinya boleh hancur ketika saudara terdekat atau teman meninggal tetapi dia masih akan menemukan kekuatan untuk melanjutkan hidup" Malaikat bertanya: Jadi dia adalah makhluk yang sempurna? Tuhan menjawab: Tidak. Dia hanya memiliki satu kekurangan. "Dia sering lupa apa yang berharga untuknya". Penulis Tidak Diketahui