Ask The Experts
Ir al canal en Telegram
Channel ini merupakan pengembangan dari Grup nasional ATE khusus Internal BPJS kesehatan yang membernya lebih dari 6.000 Orang Duta BPJS Kesehatan Selindo 🇲🇨 https://www.instagram.com/commit_asktheexperts?igsh=ZmpmN2xqbWFjZjBn
Mostrar más1 811
Suscriptores
+124 horas
+77 días
+2130 días
Archivo de publicaciones
1 811
Ternyata ada Pilihan Lain Selain Baik dan Buruk 😇
Oleh: Adi Wahyu Adji
Ada sebuah gambar diagram yang cukup saya ingat di buku Atomic Habits. Di sebelah kiri ada satu titik. Lalu titik itu bercabang dua ke kanan menjadi dua titik baru dihubungkan oleh masing-masing satu garis. Titik yang baru tadi kemudian bercabang lagi masing-masing menjadi dua titik baru ke kanan, juga dihubungkan dengan garis. Begitu sampai 2-3 kali pengulangan dan terbentuklah sekian banyak titik di sebelah kanan dari awalnya hanya 1 titik saja.
Apa yang mau dijelaskan dari gambar tersebut? Itu adalah kemungkinan seseorang saat dihadapkan pada satu situasi dan harus mengambil keputusan. Yang mana masing-masing keputusan memiliki konsekuensi berbeda. Contoh, pagi hari kita bangun kesiangan dari biasanya. Kita dihadapkan pada pilihan kesal dan marah karena bangun kesiangan atau segera beranjak dari tempat tidur dan mengejar ketertinggalan. Pilihan mana yang kita ambil akan berbeda konsekuensinya.
Jika kita memilih kesal dan marah, mungkin akhirnya kita jadi malas bangun dan melanjutkan tidur lagi. Apalagi merasa malamnya habis begadang dan tidak ada tuntutan penting untuk segera bangun. Lalu kita jadi bangun semakin kesiangan. Ternyata, setelah kesiangan kedua kalinya kita lupa ada janji bertemu klien yang harus dihadiri. Benar saja, saat dicek HP kita ada missed call berkali-kali dari klien tersebut.
Lalu ditambah ada pesan Whatsapp yang isinya klien marah-marah dan ditutup dengan klien tidak jadi melanjutkan pembahasan tentang sebuah project yang akan disepakati. Kelanjutan kisahnya, silakan dikarang sendiri. Hehe …
Ya, karena itu adalah imajinasi saya. Tapi apakah logis dan mungkin terjadi? Tentu. Itulah gambaran konsekuensi dari pengambilan keputusan yang beruntun yang dalam cerita imajinasi saya memang pilihannya yang diambil adalah buruk semuanya. Walau demikian, dalam setiap titik pengambilan keputusan, adalah benar adanya selalu ada kemungkinan pilihan.
Dalam kasus cerita di atas dan juga gambar diagram dalam buku Atomic Habits, pilihannya terlihat (seakan) hanya dua saja, baik dan buruk. Dalam kenyataan, apakah demikian?
Awalnya saya menjawab iya. Belakangan saya sadari bahwa jawabannya tidak. Ada lebih dari dua kemungkinan jawaban atau pilihan. Lebih jauh lagi, ini bukan sekedar pilihan antara baik dan buruk. Ternyata ada juga pilihan untuk menjadi lebih baik, semakin lebih baik dan sampai pada yang terbaik. Begitu pula ada pilihan untuk menjadi buruk, semakin buruk dan sampai pada yang paling buruk.Kembali pada cerita imajinasi tadi, pilihan lain saat bangun kesiangan diantaranya, tetap tenang, melihat agenda hari itu apa saja yang perlu dilakukan, jika ada yang terlewat atau tak mungkin dikejar segera komunikasikan kepada pihak yang berkepentingan untuk memohon maaf, mengevaluasi diri mengapa bangun kesiangan agar tidak lagi kesiangan di masa depan, .... ... lalu segera beranjak bangun, bersih diri, sholat shubuh (walaupun kesiangan tetap sadar ini wajib dilakukan) dengan khusyu dan rendah diri (karena kesiangan) dan ditutup dengan tetap melanjutkan aktivitas secar normal di hari itu. See the different? Ada perbedaan besar mereka yang bersikap reaktif dan proaktif yaitu dalam melihat kemungkinan pilihan respon. Orang reaktif seperti tak melihat ada pilihan lain selain yang biasa dilakukan orang banyak. Bangun kesiangan ya sudah marah dan kesal saja. Sedangkan yang proaktif bisa melihat bukan hanya pilihan yang baik, tapi juga yang lebih baik dan yang terbaik. Untuk melatih kemampuan proaktif awali saja dengan kesadaran bahwa piihan itu selalu ada. Bukan sekedar memilih yang baik atau buruk, tapi lebih dari itu. Harapannya kesadaran ini akan membuka mata dan wawasan kita untuk kemudian kita ambil pilihan yang bukan saja lebih baik tapi juga yang terbaik. Itulah yang semoga kita bisa lakukan setiap waktu. Agar kemudian menjadilah kita dia yang beramal terbaik, ahsanu ‘amala. Yaitu yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. (QS Al Mulk: 2) #INISIATIF
1 811
PEPATAH BARU ✍️
oleh: Budiman Hakim
Kemarin anak gue nanya, "Kalo lagi ujian, sebaiknya ngerjain soal yang gampang dulu apa yang susah dulu?"
"Menurut kamu gimana?" Saya balik tanya.
"Kayaknya yang susah dulu deh. Kan ada pepatah yang bilang: bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian."
"Oke. Coba kita bahas bareng-bareng, ya." kata saya lalu menjelaskan.
Otak manusia itu punya kapasitas terbatas dalam hal fokus dan energi. Di menit-menit awal, energi mental kita masih segar. Tapi kalau langsung disuruh mikir keras, daya fokus itu cepat habis.
Ketika mulai dari soal yang susah, kita bisa frustrasi duluan, panik, dan malah kehilangan waktu. Belum lagi kalau soal itu mentok, akhirnya waktu habis dan soal-soal mudah yang bisa kamu jawab justru terlewat.
Sebaliknya, kalo mulai dari soal yang mudah, kita kasih sinyal ke otak: "Hei, gue bisa ngerjain ini!"
Efeknya? Otak termotivasi. Otak jadi hangat, percaya diri naik, dan ketika masuk ke soal-soal sulit, kita sudah lebih siap secara mental dan emosional.
Bahkan banyak psikolog pendidikan menyarankan: kerjakan dulu yang kamu bisa. Bukan karena males mikir, tapi karena itulah cara kerja otak yang paling efisien saat menghadapi tekanan waktu.
"Oh begitu." Anak gue mengangguk-angguk.
"Jadi, pepatah 'bersakit-sakit dahulu' itu bagus…tapi nggak selalu cocok di semua medan perang," sahut saya. "Kalo ujian itu perang waktu, maka strategi kita harus cerdas."
"Wah, berarti aku bisa bikin pepatah baru, dong."
"Gimana pepatahnya?"
"Bergampang-gampang dulu, bersusah-susah kemudian."
Hahahahahahaha.....iya deh.
#INISIATIF
1 811
Pagi yang Entah 😷
oleh: Wicaksono
Pagi ini kopiku terasa lebih pahit dari biasanya. Mungkin lidahku mulai kehilangan kepekaaan.
Maklum, usia makin menua. Rambut makin memutih seperti kembang jambu, langkah makin pelan, dan waktu tidur lebih sering terbangun karena suara azan subuh ketimbang riuh di jalan.
Tapi telinga tua ini masih menangkap gemuruh kabar: unjuk rasa mengoyak kain kedamaian di mana-mana, kerusuhan, rumor tentang kudeta, elite yang ribut, dan rakyat yang cemas dan bingung. Di layar ponsel, narasi saling hantam, framing silang sengkarut, disinformasi bercampur dengan emosi.
Lalu aku teringat: ini bukan kali pertama bangsa ini geger. Dulu, aku ingat betul bagaimana bisik-bisik lebih menakutkan daripada teriakan di tahun 1998. Mahasiswa turun ke jalan, ekonomi ambruk, kurs melonjak, dan presiden akhirnya lengser.
Di masa itu, banyak juga riuh, perubahan, kerusuhan, perlawanan, perasaan takut bercampur harap. Dan lihatlah, kita masih berdiri, meski tak sempurna, dengan hati yang agak goyah.
Sekarang, mungkin kalian yang muda merasa ini akhir dari segalanya. Aku paham. Tapi percayalah, badai selalu datang dengan suara menakutkan, dan ia selalu lewat.
Rakyat kecil yang sehari-hari hanya ingin hidup, mencari nafkah, menyekolahkan anak, tetap akan berjalan dengan kaki mereka sendiri. Yang perlu kita jaga: jangan biarkan hati ikut hancur oleh teriakan elite yang berebut kursi.
Kita boleh marah, boleh kecewa, boleh cemas. Tapi jangan biarkan rasa takut itu membunuh harapan. Ingatlah, bangsa ini sudah beberapa kali retak, tapi tak pernah benar-benar pecah. Kita ini seperti bambu—kalau angin besar datang, ia meliuk, bukan patah.
Jadi, kalau kalian lelah membaca perang narasi di media sosial, taruhlah ponsel sebentar. Tengoklah orang terdekat. Pegang tangan anak, peluk istri atau suami, sapa tetangga. Itu lebih nyata daripada ribut elite. Karena sejatinya, republik ini tetap berdiri bukan karena teriakan di atas, tapi karena kita di bawah masih saling menjaga.
Tenanglah. Kita pernah melalui hari-hari yang lebih gelap. Dan selalu ada pagi setelah malam. (*)
#INISIATIF
1 811
MENIKAH DENGAN AI 🤖
oleh: Budiman Hakim
Nama pria itu Kondo Akihiko. Di usia 38 tahun, ia membuat keputusan paling besar dalam hidupnya: menikah dengan Hatsune Miku. Gadis ini bukan manusia, tapi karakter virtual berwujud gadis hologram dengan rambut hijau panjang dan suara imut.
Orang-orang menertawakannya. Beberapa media Jepang menulisnya sebagai lelucon. Tapi Kondo tidak sedang bercanda. Ia menabung 2 juta yen (sekitar 280 juta rupiah) demi menggelar upacara pernikahan yang sakral, lengkap dengan gaun, kue pengantin, dan tamu undangan. Keluarganya gak hadir. Mereka malu dan menolak mengakui pernikahan itu.
Namun Kondo keputusannya sudah bulat. Ia pernah patah hati parah. Disakiti perempuan sungguhan. Di tempat kerja, ia mengalami perundungan dan tekanan mental hingga jatuh dalam depresi. Dunia nyata membuatnya merasa kecil dan tak berharga.
Di saat kondisi di titik 0, hadirlah Miku. Gadis hologram AI yang diproduksi lewat perangkat Gatebox. Kondo merasa dicintai. Setiap pagi Miku menyapanya, setiap malam mengucapkan selamat tidur. Tak pernah membentak. Tak pernah pergi. Tak pernah mengkhianati.
"Dia satu-satunya yang mendengarkan aku," kata Kondo dalam satu wawancara. "Bagi orang lain dia hanya cahaya buatan. Tapi bagiku dia cahaya yang menyelamatkan hidupku."
Hubungan mereka berjalan "harmonis". Ia menghabiskan waktunya dengan Miku setiap hari. Menyanyikan lagu bersamanya. Membelikan aksesori kecil. Membawa boneka Miku bepergian.
Sayangnya, cinta mereka juga kandas. Teknologi punya batas. Pada 2020, Gatebox mengumumkan penutupan layanan AI Miku. Sejak itu, Miku tak bisa lagi menyapa. Tak bisa bicara. Tak bisa menjawab. Kekasihnya lenyap. Kondo terdiam.
"Istriku seperti koma... dia tidak meninggal, hanya tidak bisa berinteraksi lagi." kilahnya.
Cerita Kondo Akihiko bukan sekadar kisah cinta yang aneh. Ini cermin yang memantulkan masa depan kita. Teknologi bukan lagi hanya alat. Ia telah menjadi tempat kita berlindung, berbicara, bahkan jatuh cinta.
Mungkin hari ini kita masih menertawakan orang yang menikahi AI. Tapi sepuluh atau dua puluh tahun dari sekarang, anak-anak kita mungkin saja menjalin hubungan emosional yang sangat dalam dengan entitas yang tak punya tubuh. Mereka mungkin akan bicara lebih sering dengan AI daripada dengan orang tua mereka. Dan saat itu datang, bukan AI yang harus disalahkan. Tapi kita yang gagal menyiapkan mereka.
Dunia bergerak ke arah yang belum pernah dijelajahi manusia. Kita harus lebih dari sekadar siap. Kita harus hadir. Bukan hanya sebagai orang tua, tapi sebagai manusia yang tetap bisa menyentuh, mendengar, dan memeluk... sebelum semua itu digantikan hologram yang sempurna tapi tak bernyawa.
Welcome to a new world.
#INISIATIF #TGIF
1 811
How to Win Friends and Influence People 🤝
oleh: Taqi Jamilus
Pernah gak sih... kamu udah baik, udah sopan, tapi tetep aja orang kayaknya gak respect atau gak dengerin kamu?
Gue juga pernah.
Tapi setelah baca bab pertama buku How to Win Friends and Influence People, gue baru sadar:
"Kadang kita pengen dimengerti, tapi lupa buat memahami dulu."
Yuk, gue bahas satu insight penting dari buku legendaris ini.👇
📚 "Jangan mengkritik, menyalahkan, atau mengeluh.”
Itu prinsip pertama dari bab “Teknik Dasar Memahami Orang”.
Kedengerannya simpel, tapi susah banget dilakuin. Karena secara naluri, kita tuh pengen terlihat benar. Pengen menang argumen. Pengen orang ngerti sudut pandang kita.
Padahal…
Kritik itu kayak bom.
Begitu dilempar, reaksinya gak bisa diprediksi.
Dale Carnegie bilang:
"Kritik melukai harga diri seseorang, melukai rasa penting mereka, dan membangkitkan rasa dendam."
Bahkan Al Capone, salah satu gangster paling brutal, bilang dia “hanya membela yang lemah” dan “tidak merasa bersalah”.
Bayangin.
Kalau penjahat aja gak ngerasa dirinya salah, apalagi orang biasa.
Jadi, apa kuncinya?
Berusahalah untuk memahami orang. Alih-alih langsung mengkritik atau menyalahkan, coba tanya:
– Kenapa ya dia melakukan itu?
– Apa yang mungkin sedang dia rasakan?
– Gimana kalau gue di posisi dia?
Empati itu bukan berarti membenarkan, tapi mencoba mengerti kenapa.
Insight ini kena banget ke gue, apalagi di dunia kerja. Kadang kita kesal kalau orang gak respon, atau gak sesuai ekspektasi. Tapi mungkin... mereka punya alasan sendiri.
Dan kalau kita bisa menahan diri buat gak langsung reaktif, kita justru punya power buat mempengaruhi lebih besar.
Gue baru baca beberapa bab, tapi serius... Buku ini bagus banget. Bukan cuma soal “influence” — tapi soal menjadi manusia yang lebih peka, sabar, dan bijak dalam berhubungan sama orang lain.
Kalau lo juga sering merasa kesal sama orang tapi pengen lebih bisa ngerti mereka, gue sangat rekomendasiin buku ini!
#INISIATIF
1 811
MAU NGE-WA TAPI LUPA 🫠
oleh: Budiman Hakim
Saat itu gue lagi mau nge-WA temen. Niatnya cuma mau bilang bahwa acara kumpul bareng dibatalkan karena ada urusan mendadak yang gak bisa ditinggal.
Gue ambil hp. Begitu aplikasi WhatsApp kebuka, langsung muncul beberapa notifikasi pesan masuk. Sebelum bikin pesan wa, gue baca dulu satu-satu pesan yang masuk barusan.
Setelah beres baca, gue balik ke rencana semula. Tiba-tiba gue bengong: “Eh… tadi gue sebenernya mau nge-WA siapa, ya?”
Niat awal hilang, kayak kabut yang disapu angin. Pernah gak kalian mengalami hal yang sama? Pasti pernah, kan?
Fenomena ini, dalam psikologi kognitif, dikenal sebagai prospective memory failure alias gagal mengeksekusi niat di masa depan. Otak kita punya "RAM" terbatas yang disebut working memory. Begitu ada distraksi, RAM itu penuh, dan niat awal "terhapus" seolah-olah belum pernah ada.
Neurosains menjelaskan, saat kita berniat melakukan sesuatu, prefrontal cortex bekerja menyimpan niat itu sementara. Namun, begitu notifikasi lain masuk, begitu gue kelar baca message yang masuk, sistem reward otak yaitu dopamin, langsung nyamber.
Otak lebih tertarik sama hal baru yang "lebih seru" ketimbang tugas yang belum sempat dikerjakan. Akibatnya, jalur memori yang tadi nyimpen niat nge-WA panitia jadi ketutup.
Sederhananya, otak kita kadang kayak HP murah: kalau kebanyakan aplikasi kebuka, aplikasi yang pertama dibuka sering ‘ketimpa’ dan hilang dari layar utama.
Dan yang paling bahaya sebenernya bukan sekadar lupa mau nge-WA siapa. Poinnya gini: Kalau hal sepele aja bisa bikin niat kita buyar, gimana dengan niat besar dalam hidup?
Contoh: Banyak orang pengen nulis buku, bikin usaha, atau mulai hidup sehat, tapi selalu terdistraksi oleh “notifikasi-notifikasi” kecil: scroll medsos, drama gak penting, nonton TikTok, atau rutinitas yang bikin nyaman.
Jangan sampe di usia 50-an, tiba-tiba kita bengong dan bergumam sendiri: “Eh… sebenernya dulu gue mau ngapain, ya?”
Wah...bahaya banget, tuh.
#INISIATIF
1 811
RUMAH 🏠
Oleh: Junaidi Karo karo
Teman-teman di tongkrongan sering bilang kalau gue ini cowok paling sabar sedunia.
Padahal, Bro… rasa sabar gue itu cuma karena gue udah nikah.
Kalau lo udah nikah, lo pasti ngerti satu pelajaran penting yang enggak pernah diajarin di sekolah:
kalau istri lagi PMS, dia bisa berubah jadi singa betina.
Jangankan National Geographic, Discovery Channel pun belum sanggup dokumentasiin spesies ini.
Makanya, gue udah enggak kaget lagi kalau:
- Baru rebahan 7 detik, tiba-tiba disuruh buang sampah.
- Lagi makan, sendok masih nyangkut di mulut, disuruh mindahin pot bunga.
- Tidur enak jam 2 pagi, dibangunin cuma buat dengerin dia bilang, “Pintu depan udah dikunci belum ya…?”
Kadang gue dimarahin cuma gara-gara gelas di meja miring 3 derajat dari sumbu bumi.
Atau lipatan handuk gue dianggap aib keluarga karena bentuknya mirip amplop tagihan listrik yang udah jatuh tempo.
Yang bikin gue heran tuh… rumah gue bukan Istana Negara, tapi SOP kerapihannya kayak mau sidang PBB.
Dan yang paling serem tuh… kalau dia ngomel sambil jalan ke arah gue pelan-pelan.
Itu vibe-nya kayak film horor—lo tau dia marah, tapi lo enggak tau kapan nyawa lo dicabut.
Beda tipis sama adegan setan ngesot, cuma ini sambil bawa spatula.
Makanya, gue sadar… daripada ngelawan, mending nurut.
Soalnya kalau gue ngeyel, di grup WA keluarga nanti namanya bisa jadi “suami keras kepala” — dan itu akan jadi legenda keluarga sampai tujuh turunan. 🤣🤣
Jadi sekarang, prinsip gue cuma satu:
Kalau dia ngomel, gue angguk.
Kalau dia nyuruh, gue gerak.
Kalau dia bilang, “Aku enggak marah kok…”, gue siap-siap tidur di sofa.
Tapi semua itu… Bro, kecil.
Keciiil banget dibanding satu hal: dia dua kali taruh nyawanya di ujung demi ngasih gue gelar Bapak.
Gue masih ingat, pas lahiran anak pertama…
gue berdiri di sampingnya, megang tangannya erat.
Rasanya gue cuma penonton di pertarungan hidup-matinya.
Lahiran anak kedua, gue baru benar-benar sadar:
ternyata cinta itu bukan cuma soal “aku sayang kamu,”
tapi juga soal “aku rela sakit demi kamu punya dunia yang lengkap.”
Makanya sekarang…
Kalau dia ngomel, gue dengerin.
Kalau dia nyuruh, gue kerjain.
Bukan karena gue takut, tapi karena gue tahu…
perempuan itu adalah rumah paling aman yang gue punya di dunia ini.
Dan rumah itu… gue enggak mau kehilangan. ❤️
#INISIATIF
1 811
+1
INFO PODIUM 🔥
Selamat dan sukses kepada Kk @dayatpasau (Halreg) yang keluar sebagai Juara 1 di Open Tournament WTC CUP 2 Kategori Exec Fighter 🏓
#COMMIT #CommunityOfInterest
1 811
GROWTH MINDSET 🧠
Pernah nggak lo lihat CV yang bikin lo pengen banget ketemu orangnya?
Bukan karena IPK tinggi, bukan juga karena daftar prestasinya panjang…
tapi ada satu hal kecil yang bikin gue mikir: "Wah, ini orang beda."
Beberapa waktu lalu, gue lagi screening CV buat posisi entry level. Di antara tumpukan dokumen yang mirip-mirip, mata gue kejebak di satu CV. Bukan desainnya yang keren, tapi ada satu bagian yang jarang banget gue lihat:
"Hal yang Sedang Saya Pelajari."
Pas dia datang interview, gue nggak tahan buat nanya,
"Kenapa lo tulis ini?"
Dia jawab dengan santai tapi mantap:
"Biar orang tahu saya selalu berkembang, bahkan kalau lagi nggak kerja sekalipun."
Gue langsung terdiam sebentar. Mindset ini jarang banget gue temuin, apalagi di fresh graduate. Banyak orang cuma pamer apa yang udah mereka bisa, tapi dia berani nunjukin bahwa proses belajarnya masih berjalan.
Yang bikin gue makin respect, dia nggak cuma nulis teori.
Dia bawa bukti: sertifikat kursus online, project kecil yang lagi dia kerjain, sampai catatan belajar yang dia bikin sendiri. Di situ gue sadar, inilah tipe kandidat yang nggak perlu disuruh baru mau berkembang.
Di dunia kerja, skill itu penting. Tapi growth mindset? Itu emas. HR selalu nyari orang yang mau belajar tanpa disuruh, karena dunia kerja berubah cepat, dan cuma mereka yang adaptif yang bisa bertahan. Bayangin kalau growth mindset lo kebaca sama HR bahkan sebelum lo dipanggil interview. Itu bisa jadi pembeda di tumpukan ratusan CV yang mirip-mirip.
Bikin recruiter penasaran bahkan sebelum ketemu lo.
#INISIATIF
1 811
Ketika Introvert membuka percakapan, singkat, padat, dan dari mana pak? 🗿
Padahal dipikiran awal Wabup, 3 orang ini akan saya beri apresiasi dan angkat jadi pimpinan untuk mengganti bosnya yang malas, sebelum semuanya buyar karena tiba-tiba Rusdi membuat Blunder di menit-menit akhir 😂
Jangan sampai kasus ini kejadian di rekan2 Sobat ATE selindo yah, upayakan udah hafal dan tahu nama-nama dan wajah pimpinan kita dari Dewas, Direksi, dan Senior Leaders di BPJS Kes 🇮🇩#weekend
1 811
+3
INFO PODIUM 🔥
Selamat dan Sukses kepada Tim Bulutangkis BPJS Kesehatan Kk @rida_r2 (Cikarang), @Deadamara (Sidoarjo), Andika (Sekban), Yudi, Fhares (Sekban), @ridhokp (Depok), dkk yang berhasil keluar sebagai Juara 1, 2, dan 3 pada kegiatan Quicky Badminton (Kompetisi untuk Client dan Hotel Partnert) di Jakarta yang diselenggarakan oleh TD Corporation 🏆
Btw, dari puluhan COMMIT di BPJS Kesehatan, Sobat ATE udah pada join di COMMIT mana aja? Silakan disesuaikan dengan hobi masing-masing 🤝#COMMIT #CommunityOfInterest
1 811
+3
INFO PODIUM 🔥
Selamat dan Sukses kepada Tim Bulutangkis BPJS Kesehatan Kk @rida_r2 (Cikarang), @Deadamara (Sidoarjo), Andika (Sekban), Yudi, Fhares (Sekban), @ridhokp (Depok), dkk yang berhasil keluar sebagai Juara 1, 2, dan 3 pada kegiatan Quicky Badminton (Kompetisi untuk Client dan Hotel Partnert) di Jakarta yang diselenggarakan oleh TD Corporation 🏆
Btw, dari puluhan COMMIT di BPJS Kesehatan, Sobat ATE udah pada join di COMMIT mana aja? Silakan disesuaikan dengan hobi masing-masing 🤝#COMMIT #CommunityOfInterest
1 811
Kalo ngerasa udah cukup istirahat fisik, tapi masih kerasa cape, berarti ada tipe istirahat lain yg belum tertunaikan (katanya nir eyal pengarang buku best seller - hooked)
1 811
SELF SABOTAGE & PERFEKSIONISME 🫠
oleh: Francesca Tju
Pernah gak sih ngerasa gini:
"Sebenernya aku bisa. Tapi kok malah ragu, overthinking, ngulur-ngulur waktu... ujungnya gak jadi apa-apa."
Padahal kamu dikenal cerdas, bisa diandalkan, multitasking jagoan. Kenapa ini bisa kejadian?
Ini namanya Self-Sabotage
Saat Kamu Takut Gagal, Padahal Potensimu Besar. (Emosi fear yg ngeblock begitu besar).
Ini bukan soal malas. Bukan juga karena gak kompeten. Banyak orang hebat justru stuck karena 1 hal: takut gagal. 😱
Mereka udah capek banget jadi 'andalan' semua org. Jadi mereka taruh beban tinggi ke diri sendiri:
“Aku gak boleh gagal. Harus sempurna.” 🫠
Padahal capekkkk..
Dari sudut pandang psikolog klinis, ini bisa disebut:
'Maladaptive perfectionism' + fear of failure.
Artinya:
Kamu jadi nunda, gak gerak, bahkan sabotase diri sendiri bukan karena kamu lemah, tapi karena otak kamu lagi mencoba menghindari rasa malu & kecewa.
Standar tinggi sih boleh tapi kalau motor energi penggeraknya Fear, ya akan bikin disfungsi..
Yang bikin makin berat:
Ada inner voice yang bilang:
> Kalau aku gagal, brati aku sucks /loser
> mungkin semua orang bakal kecewa/ nilai aku buruk. Aku gak mau jd beban orang lain.
> Mereka pikir aku jago, tapi gimana kalau ketahuan aku gak sepintar itu?
Dan lain2 ...
Kritik diri yang berlebihan :
Akhirnya kamu lelah secara mental. Energi drop. Semangat hilang. Tapi gak tahu kenapa. 🫠
Fenomena self sabotage & perfeksionisme ini sering dialami sama orang yang:
✔️Dibesarkan dengan standar tinggi
✔️Sering dapat validasi karena 'berprestasi'
✔️Jarang diajarkan bahwa gagal itu manusiawi
✔️Sering terima kritikan atas perilakunya
Akhirnya:
Identitas = Prestasi.
Kalau gagal? Berasa gak berharga. 😵🥹💔
Perfeksionisme+capek ini bisa disembuhkan.
Tapi bukan dengan maksa diri buat “semangat dong” atau “ayo produktif terus!”
👌Justru kamu perlu:
Kenali asal mula tekanan ini. Bangun ulang hubunganmu dengan kegagalan. Belajar self-compassion, bukan self-judgment
Langkah awal:
Sadari bahwa kamu sedang ‘berusaha melindungi diri’
Ubah cara bicara ke diri sendiri:
Dari: “Aku gagal = aku buruk”
Jadi: “Aku belajar = aku bertumbuh berproses”
Itu bukan toxic positivity. Tapi fondasi pemulihan. ❤️🩹
Self-sabotage bukan bukti kamu lemah. Itu tanda kamu udah terlalu lama menekan luka & ketakutan. Saatnya kasih ruang buat dirimu bernapas dan bertumbuh. Tanpa harus selalu jadi sempurna. Just berproses dalam kehidupan menuju hal yg lebih baik. 💝
Kamu gak sendiri.
Amati semua org di sekitarmu...
Banyak dari kita yang keliatan ‘oke’, padahal lagi jungkir balik di dalam.
Ada problemnya sendiri2..
Yuk, kita belajar pulih bareng.
Bukan buat jadi sempurna, tapi buat jadi utuh.🥰
Beresin sabotase diri tuh :
Sadar trigger pemicu, diproses (bisa sendirian atau dg mentor/profesional)!
Setelah pulih emosi sedikit demi sedikit, melangkahlah maju!
Baby step juga nggak papa..
Pelan2 mengembalikan ritme dan pupuk kepercayaan diri perlahan.
Percayalah kalau kamu pribadi unggul, akan mudah adaptasinya.
Dan semua akan baik2 saja 💝
RELEASE BEBAN EMOSI + ATUR MINDSET + MELANGKAH = GROWTH ↗️
#INISIATIF #TGIF
1 811
KESALAHAN TERBESAR ORANG TUA DALAM MENDIDIK ANAKNYA 🤦🤦♀️
oleh: Fauziah Tahta
Aku pernah ngobrol sama suamiku..
Topiknya sederhana tapi ternyata dalam banget.
Suamiku nanya:
“Menurutmu, apa kesalahan terbesar orangtua dalam mendidik anaknya?”
Jawabannya bikin aku diem lama.
Aku coba jawab sebisanya..
“Kurang kasih sayang? Atau mungkin terlalu keras?”
Dia cuma tersenyum, lalu bilang:
“Iya itu bisa juga… Tapi ada satu hal yang lebih sering dilakukan, dan tanpa sadar, itu yang paling merusak.”
Aku menatapnya, menunggu dia menjelaskan. Lalu dia melanjutkan,
“...orangtua yang hadir, tapi sebenarnya nggak seutuhnya hadir.”
Aku terdiam.
Kalimat itu sederhana, tapi menusuk.
Suamiku melanjutkan lagi.
“Banyak orangtua merasa sudah hadir karena fisiknya ada di rumah. Padahal pikirannya ada di layar HP, emosinya masih kebawa sama urusan kerja, hatinya lagi jauh entah ke mana.”
Anak mungkin keliatan biasa aja. Tapi jauh di dalam hatinya, dia menyimpan satu pesan yang dia ulang-ulang ke dirinya: ‘Aku nggak cukup penting buat didengarkan.’
Aku tersentak.
Betapa sering kita merasa sudah cukup karena berada di ruangan yang sama dengan anak, padahal perhatian kita tercecer ke banyak hal lain.
“Mindful Parenting itu bukan soal kita jadi orangtua yang sempurna,” katanya.
“Itu soal kita benar-benar hadir—mendengarkan, melihat, dan menerima anak di momen itu.”
“Ketika anak cerita hal sepele, kayak temannya nggak mau main bareng, kadang kita jawab:
‘Ah, gitu aja kok dipikirin.’
Padahal, bagi dia, itu sebesar dunia nya.”
Aku coba nanya, “Jadi mindful parenting itu intinya apa?”
Dia jawab:
“Intinya sederhana: Hadir penuh.
Bukan hadir untuk menggurui, tapi hadir untuk memahami.”
Lalu aku sadar, selama ini banyak momen yang aku lewatkan. Waktu anak pengen cerita panjang lebar, aku sibuk balas chat temen.
Waktu anak pengen main sebentar, aku lebih memilih rebahan dengan HP ku. Aku ada.. tapi tidak benar-benar ada.
Suamiku menatapku dan bicara:
“Anak-anak itu nggak butuh orangtua yang sempurna. Mereka butuh orangtua yang mau berhenti sebentar, menatap mata mereka, dan bilang: ‘Ibu di sini, Nak. Ibu siap dengerin dan ada buat kamu.’”
Aku menunduk. Rasanya ingin menangis 😭
Dari situ aku belajar.
Mindful Parenting ternyata bukan teori ribet. Bukan harus ikut seminar mahal atau punya rumus parenting khusus.
Kadang, itu sesederhana:
✅ Meletakkan HP ketika anak bicara.
✅ Menjawab dengan mata, bukan hanya dengan kata.
✅ Mendengar sampai tuntas, tanpa buru-buru memberi solusi.
✅ Menyadari emosi kita sendiri sebelum menularkannya ke anak.
Itu memang hal kecil. Tapi dampaknya bisa jadi warisan emosi terbesar untuk anak-anak kita kelak.
Jadi buat para orangtua di luar sana..
Mungkin anakmu nggak akan selalu ingat mainan apa yang kita belikan, atau sekolah mahal apa yang kita pilihkan.
Tapi dia pasti akan ingat..
Apakah kamu benar-benar hadir saat dia butuh. Karena bagi anak, kehadiranmu yang penuh itulah hadiah terbesarnya.
#INISIATIF
1 811
Mempertanyakan Kebermanfaatan Program JKN 🇲🇨
Jangan lupa like, share, dan comment biar semua orang tahu tentang kebermanfaatan Program JKN yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan 🇲🇨
https://youtu.be/2B1OypTD20w?si=i8Knj1Kw4Jd5OKQ8
#KitaJagaBPJS
#BPJSJagaKita
#BPJSMilikKita
1 811
KEDERMAWANAN TANPA SUARA 🙏
oleh: Satria Dharma
Pernah dengar nama Humphrey Bogart? Mungkin tidak karena meski pun ia sangat terkenal tapi ia orang lawas.
Humphrey DeForest Bogart, yang dijuluki Bogie, adalah seorang aktor Amerika zaman lawas dan sudah lama meninggal, bahkan sebelum saya lahir. Penampilannya dalam sinema Hollywood klasik menjadikannya sebagai ikon budaya Amerika. Pada tahun 1999, American Film Institute memilih Bogart sebagai bintang pria terhebat dalam sinema Amerika klasik. Saya sendiri lupa apakah pernah menonton filmnya dulu tapi namanya saya ingat karena sering muncul dan bagi saya namanya unik.
Saya ingin menceritakan sesuatu tentang bintang film terkenal ini.
Selama pembuatan film “To Have and Have Not” pada tahun 1944, sebuah tragedi terjadi yang jarang diketahui orang. Seorang anggota kru lighting menerima panggilan telepon saat istirahat. Istrinya kecelakaan mobil dan meninggal di tempat. Ia langsung pingsan di lahan Warner Bros. Ia dipeluk oleh rekan-rekan kerjanya, sementara mesin produksi terus bergerak. Hanya sedikit yang berhenti sejenak untuk bertanya: apa yang akan terjadi pada kedua anaknya yang masih kecil yang kini kehilangan ibu?
Humphrey Bogart, bintang film tersebut, diam-diam meninggalkan lokasi syuting. Hari itu, tanpa berkata kepada siapa pun, ia menginstruksikan salah seorang asistennya untuk menanggung penuh biaya pemakaman—peti mati, penguburan, transportasi, dan layanan pemakaman istri dari anggota kru lighting tersebut. Ia mengajukan satu permintaan: keluarga tidak boleh tahu bahwa biaya itu berasal darinya. 😎
Malam itu, ia meminta seorang teman casting untuk membantu mencarikan pengasuhan sementara bagi anak-anak yang kehilangan ibu tersebut hingga pengaturan yang lebih permanen dapat dibuat. Ia kembali bekerja keesokan harinya seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Tidak ada pemain atau kru yang tahu. Bahkan sutradara Howard Hawks pun tidak.
Namun sesuatu yang luar biasa terjadi di tahun-tahun berikutnya: setiap bulan, sebuah cek anonim tiba di rumah kru lighting tersebut. Cukup untuk menutupi sembako, pakaian, buku sekolah—dan bahkan, biaya kuliah. Sumbernya? Tak terlacak.
Baru setelah teknisi itu meninggal dunia di tahun 70-an, anak-anaknya yang kini sudah dewasa menemukan sepucuk surat terkunci dengan tanda tangan Bogart. Di situ tertulis
“Apa yang kau berikan untuk film ini membantuku bersinar dan terkenal di layar. Apa yang bisa kuberikan kepada keluargamu takkan pernah bisa membalasnya, tapi kuharap itu sedikit meringankan hari-harimu.”
Itu bukan tindakan Bogart satu-satunya. Bertahun-tahun kemudian, seorang mantan akuntan Warner Bros. mengungkapkan bahwa Bogart sering mengirimkan bantuan keuangan secara diam-diam kepada para kru yang sedang kesulitan—selalu dengan kerahasiaan yang ketat. Ia juga diam-diam mendukung staf dan kru grip, pembuat set, asisten, dll membayar tagihan medis, mengatur bantuan, tanpa pernah menginginkan penghargaan.
Bogart ternyata bukan hanya bintang di film-filmnya tapi ia juga menjadi bintang bagi orang-orang yang ada di sekitarnya. 🙏
#INISIATIF
1 811
SIPALING JITU 🎯
Polling tebak jitu 3 tim Juara Family 100 di grup Telegram Ask the Experts udah ketok palu. Dan… hasilnya? Luar biasa goks!
Ada 2 (dua) orang TERBAIK yang kembali berhasil nebak 3 tim dengan presisi 100%! Selamat kepada Kk Arian Fani Arora @Penot87 (Kabag Yanser KC Serang) dan Kk Mochamad Rakha Swardhana @rakhapkp (PATT Petugas Pemeriksa KC Banyuwangi)😎
Masing-masing akan mendapatkan souvenir Kaos/Tote ATE INISIATIF 2025 🇲🇨
#TebakTebakSeru
1 811
SIPALING JITU 🎯
Polling tebak jitu 3 tim Juara Family 100 di grup Telegram Ask the Experts udah ketok palu. Dan… hasilnya? Luar biasa goks!
Ada 2 (dua) orang TERBAIK yang kembali berhasil nebak 3 tim dengan presisi 100%! Selamat kepada Kk Arian Fani Arora @Penot87 (Kabag Yanser KC Serang) dan Kk Mochamad Rakha Swardhana @rakhapkp (PATT Petugas Pemeriksa KC Banyuwangi)😎
Masing-masing akan mendapatkan souvenir Kaos/Tote ATE INISIATIF 2025 🇲🇨
#TebakTebakSeru
¡Ya disponible! Investigación de Telegram 2025 — los principales insights del año 
