es
Feedback

¡No caigas en manos de tramposos! Telemetrio encuentra y marca estos canales 👉 Si quieres ver la etiqueta, suscríbete 👈

Studi Islam

Studi Islam

Ir al canal en Telegram

Channel Pecinta Ilmu-Ilmu Agama

Mostrar más
423
Suscriptores
Sin datos24 horas
-27 días
-530 días
Archivo de publicaciones
Anatomi_Sistem_Ekonomi_Islam.pdf.crdownload16.48 MB

Anatomi_Al-Mabda_.pdf11.92 MB

Tuhan Bukan Imajinasi.pdf11.09 MB

*KENAPA ORANG INGIN JADI PEJABAT?* > Jabatan adalah amanah, Ia akan menjadi kehinaan & penyesalan. Tapi kenapa banyak yang mengejarnya? https://youtu.be/pN3r2Ae9wGs *Islam dan Kehidupan* _Membaca Realitas, Menjawab dengan Islam._ *Tayang setiap Hari Jumat Jam 18.30 WIB* #IslamDanKehidupan #KHROKHmatSLabib #Pejabat #Islam

25 September 2026.pdf8.75 KB

Document from Yan S. Prasetiadi

photo content

photo content

Ketiga, Strategi Negara dan Individu. Dapat berupa: (1) Latihan siber komprehensif, yakni simulasi penuh yang melibatkan seluruh lembaga pemerintahan untuk mengungkap celah sekaligus melatih para pemimpin menghadapi darurat digital. (2) Rencana keberlangsungan sektor kritis, yakni setiap bidang harus memiliki skenario cadangan yang diuji setiap tahun, termasuk kemungkinan kehilangan sistem sepenuhnya dan beralih ke operasi manual serta jalur komunikasi alternatif. (3) Cadangan teknologi dari berbagai sumber, yakni tidak bergantungnya teknologi pada satu penyedia atau satu negara. Diversifikasi sumber teknologi menjadi syarat mutlak menghindari kerentanan strategis. (4) Protokol respons lokal yang siap pakai, yakni keputusan dan kewenangan harus jelas sejak awal melalui undang-undang darurat siber. Krisis bukanlah waktu untuk menulis aturan protokol baru. (5) Budaya keamanan masyarakat, yakni kampanye edukasi berkelanjutan, pelatihan pegawai, dan integrasi dasar keamanan siber dalam kurikulum pendidikan. Sehingga kesadaran warga menjadi garis pertahanan pertama. *Enkripsi Pasca-Komputasi Kuantum* Ada ancaman mutakhir yang tidak lagi sekadar bersifat siber dalam pengertian tradisional, yaitu munculnya superkomputer kuantum. Ketika teknologi ini matang, akan mampu menembus sebagian besar algoritma enkripsi yang saat ini digunakan melindungi data pemerintahan. Bahayanya bukan hanya di masa depan, melainkan sudah dimulai sekarang melalui strategi lawan: “kumpulkan data sekarang, pecahkan enkripsinya nanti”. Hari ini, pihak-pihak yang bermusuhan merekam data terenkripsi yang bocor lewat kabel bawah laut dan satelit, lalu menyimpannya hingga tiba saat enkripsi itu bisa dipecahkan oleh perangkat kuantum di masa mendatang. Karena itu, diperlukan langkah segera yang mencakup: (1) Inventarisasi menyeluruh algoritma enkripsi yang digunakan dalam sistem pemerintahan kritis. (2) Klasifikasi data berdasarkan “usia kedaulatan”, yakni berapa lama data tersebut tetap sensitif dan layak dilindungi. (3) Transisi bertahap menuju standar enkripsi kuantum, memastikan setiap pengembangan baru sejak awal mendukung ketahanan enkripsi. *Kesimpulan* Ancaman nyata masa ini bukanlah runtuhnya sebuah negara secara tiba-tiba, melainkan hilangnya ruang manuver strategis dan terkikisnya kepercayaan publik terhadap institusi di saat kritis. Perbedaan antara negara yang mampu bertahan dan berkembang dengan negara yang tertinggal bukan terletak pada besarnya sumber daya, melainkan pada pola pikir kepemimpinan. Negara yang memperlakukan keamanan siber dan kecerdasan buatan sekadar sebagai isu teknis yang ditangani kementerian komunikasi atau departemen teknologi informasi akan tertinggal beberapa generasi. Sebaliknya, negara yang menempatkan isu ini sebagai agenda kedaulatan dan dikelola langsung oleh tingkat politik tertinggi akan berada dalam posisi siap dan berpengaruh. Pintu kesempatan masih terbuka sekarang. Namun, keterlambatan satu tahun dalam bidang ini setara dengan ketertinggalan satu dekade di sektor lain, mengingat laju perkembangan teknologi yang begitu sangat cepat. Oleh: Abdul Halim al-Haurani (Sumber: Majalah al-Wa’ie Arab, edisi 482 – Tahun ke 41, Rabi‘ul Awwal 1448 H/ Agustus 2026 M; Alih bahasa: Yan S. Prasetiadi)

Dengan evolusi serangan berbasis AI, ancaman bisa lebih ekstrem: radar dapat dikacaukan sehingga mengklasifikasikan kawan sebagai lawan, atau sebaliknya. *Apakah Negara Bisa Runtuh?* Jawabannya bergantung pada jenis keruntuhan yang dimaksud: Pertama, keruntuhan total dan mendadak: Kemungkinannya rendah. Karena negara modern memiliki banyak jalur cadangan yang mencegah jatuhnya seluruh sektor vital sekaligus. Militer beroperasi dengan jaringan terpisah, sementara infrastruktur vital masih memiliki sistem kendali manual. Kedua, kelumpuhan bertahap dan berlapis: Kemungkinannya jauh lebih tinggi. Serangan terkoordinasi yang menghantam tiga atau empat sektor vital secara berurutan dalam hitungan hari, ditambah kampanye disinformasi, dapat membawa negara ke titik kehilangan kendali nyata. Perbedaan keruntuhan yang pertama dan yang kedua, seperti antara ledakan dahsyat dan kebakaran senyap yang menggerogoti. Negara bisa bangkit dari gempa bumi fisik dalam hitungan bulan, tetapi gempa kepercayaan di ranah siber bisa membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dipulihkan. *Tembok Pertahanan Tiga Lapis* Pertahanan yang efektif tidak lahir dari langkah-langkah terpisah, melainkan dari sistem terpadu yang berdiri di atas tiga fondasi utama: (1) Governansi dan Regulasi (Organisasi). Negara perlu membentuk badan keamanan siber dan kecerdasan buatan dengan otoritas independen, dilengkapi komando siber yang terhubung langsung dengan kepemimpinan tertinggi negara. Tugasnya menetapkan aturan dan pedoman resmi bagi sektor-sektor vital, sehingga tercipta standar minimum keamanan yang tak bisa ditawar. (2) Kapabilitas Teknis Berdaulat (Mesin). Kedaulatan berarti kendali penuh atas titik-titik kritis. Hal ini diwujudkan dengan membangun infrastruktur cloud nasional untuk menyimpan dan mengolah data pemerintahan yang sensitif, mendirikan pusat komputasi khusus, serta mengembangkan model kecerdasan buatan inti yang dilatih dengan data lokal yang bersifat kedaulatan. (3) Modal Manusia (SDM). Teknologi tanpa tim kerja hanyalah wadah kosong. Sebuah rencana yang berhasil selalu menempatkan manusia terbaik di garis depan. Negara perlu menyiapkan tim ahli dengan keterampilan tinggi dan mendirikan pusat riset yang mampu melahirkan “pasukan” tenaga profesional dari berbagai bidang—mulai dari intelijen, teknik, psikologi, ekonomi, hingga ilmu politik. Dengan kekuatan lintas disiplin ini, terbentuklah sistem pertahanan sekaligus serangan yang terpadu dan siap menghadapi ancaman kompleks. *Sistem Pertahanan dan Protokol Kedaulatan* Gagasan tentang AI Defense Force (tentara pertahanan kecerdasan buatan) lahir dari kenyataan bahwa serangan siber berlangsung secepat kilat. Tidak mungkin otak manusia yang bekerja di balik layar mampu menahan gempuran itu sendirian. Yang dibutuhkan adalah sistem pertahanan otomatis yang bisa merespons dalam hitungan detik. Kerangka ini terbagi ke dalam tiga pilar utama: Pertama, Sistem Digital Cerdas. Terdiri dari: (1) Pusat operasi pintar, yakni ruang kendali yang menyaring ribuan peringatan sepele, menyelesaikan masalah sederhana secara otomatis, dan hanya menyerahkan keputusan besar kepada manusia. (2) Pemburu proaktif, yakni agen digital yang menelusuri sistem untuk mendeteksi jejak penyusup sebelum mereka menyerang. Pencegahan selalu lebih murah daripada perbaikan. (3) Tim uji serangan etis, yakni peretas dan perangkat lunak yang secara rutin menyerang sistem negara untuk menemukan celah dan menutupnya sebelum dimanfaatkan musuh. Kedua, Kedaulatan Digital dan Perlindungan Konten. Berupa: (1) Cap digital, yakni tanda otentikasi tak kasat mata pada data resmi, melindungi masyarakat dari kabut informasi dan hoaks. Setiap pernyataan tanpa cap dianggap palsu. (2) Kemandirian teknologi, yakni pembangunan kecerdasan buatan lokal yang memahami budaya sendiri dan menjaga kerahasiaan data negara, tanpa bergantung pada perusahaan asing yang berisiko membocorkan informasi.

(1) Penyuntikan Informasi Palsu (Data Poisoning): Penyerang sengaja memasukkan data menyesatkan pada tahap pelatihan, sehingga sistem menyerap logika yang cacat tanpa disadari siapapun. Contoh: sebuah sistem audit kontrak konstruksi dilatih secara tersembunyi untuk mengabaikan klausul denda keterlambatan pada kontrak tertentu. (2) Serangan dengan Input Terselubung (Adversarial Attacks): Setelah sistem selesai dilatih, penyerang menyajikan masukan yang dimodifikasi secara cermat untuk menipu model. Misalnya, sedikit perubahan pada file virus agar terbaca sebagai dokumen teks biasa oleh sistem keamanan, atau modifikasi halus pada gambar yang membuat sistem pengenal wajah gagal mengenali identitas. (3) Pencurian Rahasia Sistem (Model Extraction): Penyerang berusaha mengambil data sensitif atau bahkan mencuri algoritma inti. Jika sistem dilatih dengan rahasia dagang sebuah perusahaan, serangan cerdas dapat memancing model untuk mengungkap informasi tersebut melalui serangkaian pertanyaan yang dirancang khusus. *Skenario Serangan Siber* Tidak semua sistem memiliki nilai yang sama; infrastruktur nasional yang sensitif adalah prioritas utama dalam perlindungan. Empat skenario nyata berikut menggambarkan bagaimana kecerdasan buatan dapat mengubah wajah ancaman: Skenario Pertama: Runtuhnya Jaringan Listrik dan Energi. Serangan terkoordinasi berbasis AI terhadap sejumlah gardu induk sekaligus dengan memanfaatkan celah pada sistem kendali industri. Dalam hitungan menit, gangguan berantai terjadi; dalam beberapa jam, negara terjerumus dalam pemadaman total. Baterai cadangan di rumah sakit dan pusat data pun habis. Bencana bukan sekadar gelap gulita, melainkan kelumpuhan total: komunikasi, perbankan, dan sistem pembayaran elektronik berhenti seketika. Dalam versi yang diperkuat AI, ini bukan lagi “titik melawan titik” seperti di Ukraina tahun 2015, melainkan “algoritma melawan algoritma” yang mengoordinasikan serangan multipoint dan menyesuaikan diri dengan pertahanan secara real-time. Skenario Kedua: Lumpuhnya Sistem Perbankan dan Keuangan. Serangan berlapis dimulai dengan panggilan palsu berbasis deepfake dari seorang pejabat keuangan senior, bersamaan dengan serangan ransomware yang melumpuhkan sistem kliring bank. Dalam beberapa jam, pembayaran instan berhenti; sehari kemudian, antrean panjang terbentuk di ATM untuk penarikan massal, sementara akun otomatis menyebarkan rumor yang mengguncang kepercayaan terhadap mata uang nasional. Kasus ini mengingatkan pada serangan ransomware di Kosta Rika tahun 2022 yang melumpuhkan institusi negara hingga memaksa deklarasi darurat. Namun dengan AI, ancaman bergeser dari sekadar kelumpuhan operasional menjadi krisis kedaulatan moneter penuh. Skenario Ketiga: Erosi Kepercayaan Sosial dan Ruang Informasi. Ini adalah skenario paling berbahaya karena tidak membutuhkan peretasan teknis, melainkan memanfaatkan sifat terbuka internet. AI menciptakan ribuan akun otomatis yang terkoordinasi, menyebarkan cuplikan video palsu berkualitas tinggi tentang pejabat, serta artikel yang meniru gaya media arus utama. Tujuannya bukan meyakinkan semua orang, melainkan menanamkan keraguan massal sehingga warga kehilangan kemampuan membedakan antara fakta dan rekayasa. Kondisi ini melumpuhkan kapasitas negara mengelola krisis; Akibatnya, setiap pernyataan resmi negara langsung dicurigai. Para peneliti menyebut fenomena ini sebagai The Liar’s Dividend (keuntungan strategis yang diperoleh pembohong ketika masyarakat hidup dalam iklim keraguan total) dan kemungkinan terjadinya dinilai paling tinggi. Skenario Keempat: Pengambilalihan Sistem Persenjataan dan Pertahanan. Dengan meluasnya penggunaan drone dan sistem otonom, muncul ancaman terhadap kendali senjata: serangan bisa menonaktifkan armada drone atau bahkan mengarahkannya menyerang pemiliknya sendiri. Hal ini dapat dilakukan melalui infiltrasi rantai pasok perangkat lunak atau data poisoning pada sistem identifikasi target. Beberapa medan perang telah mencatat insiden gangguan navigasi yang membuat drone berbalik menyerang pasukan sendiri.

*Kecerdasan Buatan dan Kedaulatan Keamanan Siber* Artikel ini ditulis dengan kesadaran penuh bahwa sebagian besar tulisannya akan segera kehilangan kekinian dalam waktu singkat; sebab laju perubahan di bidang ini melampaui kemampuan kita mendokumentasikannya. Persoalan kecerdasan buatan tidak lagi berhenti pada ranah penelitian akademik, lebih jauh lagi telah masuk pada ranah perang siber dan meresap dalam detail kehidupan sehari-hari. Negara yang terlambat hari ini membangun pertahanannya tidak hanya kehilangan satu atau dua sistem, tetapi akan kehilangan seluruh ruang gerak strategisnya, di momen krusial ketika kedaulatan negara benar-benar dipertaruhkan. Dan meskipun persiapan menghadapi hal ini membutuhkan anggaran yang besar, penyesalan karena tidak bersiap akan jauh lebih mahal dan lebih berat ditanggung dampaknya setelah kejadian. *Perubahan Doktrin Serangan* Ada kekeliruan yang cukup umum dalam membedakan ragam kecerdasan buatan, dan hal ini memengaruhi cara kita memahami ancaman yang muncul. Untuk memudahkan agar bisa dimengerti masyarakat luas, perbedaan ragam kecerdasan buatan dapat dijelaskan sebagai berikut: Pertama, ada yang namanya Kecerdasan Buatan Diskriminatif (Discriminative AI): jenis yang agak kuno dan paling banyak digunakan. Tugas utamanya memilah dan mengklasifikasikan objek. Contohnya mirip filter pada kotak masuk email yang mampu mengenali pesan spam dan secara otomatis memisahkannya. Kedua, Kecerdasan Buatan Generatif (Generative AI): inilah yang kita lihat pada model modern seperti ChatGPT dll. AI ini mampu berkreasi dan menghasilkan konten baru sepenuhnya berdasarkan data yang telah dilatih sebelumnya. Sebelum tercipta model generatif, serangan siber membutuhkan tim terorganisasi dan anggaran besar untuk melakukan pengintaian. Hal itu membuat kemampuan ofensif hanya berada di tangan negara-negara besar dan segelintir elit. Namun kini, kecerdasan buatan telah menurunkan biaya operasi serangan secara drastis. Akibatnya, tim kecil atau bahkan individu dengan keterampilan menengah sekalipun dapat menimbulkan kerusakan serius dengan anggaran operasional yang sangat rendah. *Ragam Serangan Siber* Berdasarkan fakta hari ini, ada beberapa ragam serangan siber yang berkembang, diantaranya sebagai berikut: (1) Intelijen Cerdas (Intelligent Reconnaissance atau Automated Reconnaissance): Proses yang dulu membutuhkan waktu berminggu-minggu yang dilakukan agen manusia mengumpulkan informasi dan memetakan target, kini dapat dilakukan agen digital hanya dalam hitungan jam, melampaui kemampuan pertahanan yang ada. (2) Penciptaan Celah Otomatis (Automated Vulnerability Generation atau Exploitation): Alat kecerdasan buatan yang mampu mencari kelemahan dalam perangkat lunak dan mengubahnya menjadi kode eksploitasi nyata dalam waktu singkat, mendahului kemampuan pihak yang diserang untuk memperbaiki sistemnya. (3) Phishing Terarah Cerdas (Intelligent Spear Phishing): Era pesan penipuan yang kikuk sudah berakhir; kecerdasan buatan kini mempelajari jejak digital dan gaya komunikasi korban, lalu menyusun pesan khusus yang sulit dikenali bahkan oleh pengguna berpengalaman. (4) Deepfake (Deepfake Attack): Teknologi ini telah melampaui tahap eksperimen; cukup dengan sampel suara singkat, sistem dapat meniru suara dengan kualitas tinggi dan membuat percakapan audio atau video palsu untuk menipu korban agar melakukan transfer dana besar. (5) Malware Berkamuflase (Polymorphic Malware): Perangkat lunak berbahaya yang terus mengubah bentuk dan kodenya setiap kali berpindah, sehingga membingungkan sistem deteksi klasik dan memungkinkan virus bertahan dalam sistem tanpa terdeteksi. *Serangan terhadap Kecerdasan Buatan* Pada perkembangannya ada hal yang lebih mengerikan, yakni telah terjadi sebuah pergeseran mendasar: target serangan kini bukan lagi sekadar sistem jaringan, melainkan “otak” kecerdasan buatan itu sendiri. Bentuk serangan ini umumnya mengambil tiga pola utama:

BYPASS.. Akses WATCHING 🖥️ https://qudwah.space/watch https://qudwah.space/watch https://qudwah.space/watch *nonton QUDWAH now!!*📺

KAJIAN TAFSIR AL-WA'IE | "PELAJARAN PENTING SURAH AN-NAS : BERLINDUNG DARI GODAAN SYAITHAN" Tafsir QS An Nas: 5-6 💥 BERLINDUNG DARI GODAAN SYAITHAN Siapa yang tak kenal Surah An-Nas? Surah penutup dalam Al-Qur'an ini bukan sekadar hafalan, melainkan benteng utama seorang muslim dari godaan syaitan yang membisikkan kejahatan ke dalam dada manusia. > Pelajaran-pelajaran penting dari Surah An-Nas dan bagaimana menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari agar hati kita senantiasa terjaga dari gangguan bisikan jahat. Yuk, simak pembahasannya sampai selesai! Jangan lupa Like, Comment, dan Subscribe agar tidak ketinggalan konten bermanfaat lainnya. Mari ikuti Kajian Tafsir Al-Wa'ie bersama: 🎙️ KH. Rokhmat S. Labib 🗓️ Rabu, 19 Agustus 2026 ⏰ Pukul 20.00 WIB 🔴 SAKSIKAN : ▶️ YouTube: https://youtu.be/AGok-OwqhwU ▶️ TikTok: https://www.tiktok.com/@rokhmatslabib ✍️ Ajak keluarga, sahabat, dan rekan untuk ikut menyimak. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat dan menambah keteguhan dalam menjalankan Islam secara kaffah. #TafsirAlWaie #TafsirAlQuran #KajianIslam #IslamKaffah #SyariatIslam #DakwahIslam #KHRokhmatSLabib #LiveYouTube

photo content

photo content

Perlu dipahami, Nabi saw hijrah ke Madinah bukan karena takut dibunuh Quraisy. Namun motif hijrah adalah karena di Madinah terdapat kesiapan masyarakat untuk menegakkan Daulah Islamiyah dan mendukung dakwah Islam yang diemban Nabi saw. (Taqiyuddin an-Nabhani, Ad-Daulah al-Islamiyah, hal. 47). *Ketiga, Wafatnya Nabi SAW* Hari Senin tanggal 12 Rabiul Awwal tahun 11 H Nabi wafat. (Ibnu Katsir, As-Sirah An-Nabawiyah, IV/507; Al-Mas’udi, Muruj adz-Dzahab, II/304). Wafatnya Baginda SAW ini merupakan sinyal lahirnya negara Khilafah Islam Rasyidah. Karena, pada hari yang sama, sebelum jenazah SAW dimakamkan, umat Islam telah membaiat Abu Bakar sebagai khalifah. Tegasnya, Rasul SAW meninggal pada waktu Dhuha hari Senin tersebut. Sementara Abu Bakar dibaiat (baiat in’iqad) sebagai khalifah hari Senin itu pula. Lalu, selasa pagi Abu Bakar ra dibaiat (baiat tha’at) oleh kaum muslimin di masjid. Nabi SAW sendiri baru dimakamkan pada pertengahan malam pada malam Rabu. (Ajhizah Daulah al-Khilafah, hal.13). Tiga kejadian besar ini menunjukan alur historis yang sangat penting dalam membangun rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW. *Manifestasi Cinta Rasulullah SAW yang Sejati* Cinta tanpa manifestasi dan pembuktian tentunya hanyalah kedustaan belaka, karenanya berikut akan dijelaskan, perwujudan cinta hakiki kepada Rasulullah saw, diantaranya: Pertama, mentauhidkan Allah. Sebab, para rasul diutus, termasuk Rasulullah saw, adalah untuk menyeru manusia pada tauhid yang murni dan menentang syirik (QS. an-Nahl [16]: 36). Kedua, mempelajari, memahami dan mengamalkan al-Quran yang Beliau bawa, sebagai petunjuk dan rahmat bagi manusia (QS. an-Nahl [16]: 89). Berkenaan dengan ini, Ibnu Mas’ud berkata: “Janganlah seseorang meminta untuk dirinya kecuali al-Quran. Jika dia mencintai al-Quran berarti dia mencintai Allah dan Rasul-Nya.” (Al-Firyabi, Fadha’il al-Qur’an, no. 6). Ketiga, meneladani segala ucapan dan perbuatan Nabi saw. (Lihat: QS al-Ahzab [33]: 21). Keempat, mencintai mereka yang dicintai Nabi saw, seperti keluarga dan Sahabatnya, serta seluruh kaum muslim yang berpegang teguh kepada ajarannya; serta membenci orang yang dibenci Beliau, seperti orang kafir yang memusuhi Islam dan kaum Muslim. Kelima, membela Nabi saw, dari serangan kaum kafir dan munafik, sebagaimana akhir-akhir ini semakin nampak dilakukan mereka. Keenam, menaati semua perintah Nabi saw, dan menjauhi larangan Beliau (QS al-Hasyr [59]: 7). Ketujuh, mengemban risalah Beliau, yakni mendakwahkan syariah yang Beliau bawa. Allah saw berfirman: “Hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyerukan al-khair (Islam) serta melakukan amar ma’ruf nahi munkar.” (QS Ali Imran [3]: 103). Kedelapan, karena pada bulan Rabiul Awwal terjadi tiga peristiwa besar, yaitu Maulid Nabi saw, Maulid Daulah Islamiyah, dan Maulid Khilafah Rasyidah. Maka, ketiganya wajib dipahami dan dijadikan sebagai sumber spirit di masa kini, demi berjuang menegakkan kembali sistem pemerintahan Islam, yakni Khilafah. Sebab Khilafah inilah sunnah (metode) yang dirintis Nabi saw sebagai Daulah Islamiyah, lalu sunnah ini dilanjutkan para Khulafaur Rasyidin sebagai Khilafah Rasyidah. Inilah relevansi Sabda Nabi saw: “Maka hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk, dan gigitlah sunnah-sunnah itu dengan gigi-gigi gerahammu [peganglah dan amalkan dengan kuat].” (HR. At-Tirmidzi, no 2816). Walhasil, menegakkan kembali Khilafah yang akan menegakkan kembali risalah yang dibawa Rasul, dan menyebarluaskannya ke seluruh dunia, jelas merupakan puncak manifestasi kecintaan kita terhadap Baginda Rasulullah saw, sekaligus menunjukan dalamnya pemahaman kita akan makna Maulid. Sehingga, sungguh aneh jika ada yang mengaku mencintai Nabi SAW, tetapi enggan menegakkan syariah dan enggan pula memperjuangkan negara yang dulu pernah beliau SAW dirikan. Wallâhu a’lam. (Disadur dari buku “Islam Rahmatan Lil Alamin Solusi untuk Indonesia", 2016). https://www.trenopini.com/2022/10/memahami-maulid-nabi-secara-mendalam.html?m=1