Terapi Penyakit Hati (الدَّاءُ وَالدَّوَاءُ)
Ir al canal en Telegram
Arsip Rekaman | Kitab : Ad-Daa' Wad Dawaa' | Al-Ustadz Teuku Abdurrahman Abu Nabil At-Tuwasza حفظه الله | Kajian Rabu malam ba'da magrib di Masjid As-Sakinah Nogosari Boyolali
Mostrar másEl país no está especificadoLa categoría no está especificada
1 415
Suscriptores
+424 horas
+297 días
+38130 días
Archivo de publicaciones
🔈🔈 AUDIO REKAMAN :
TERAPI PENYAKIT HATI
📖 Kitab : الداء والدواء
::: Pertemuan ke 18 :::
💺Oleh : Al Ustadz Teuku Abdurrahman Abu Nabil At-Tuwasza حفظه اللــــــــه
🕌 Masjid As-Sakinah Gununglondo, Nogosari, Boyolali.
::: t.me/Terapi_PenyakitHati
◼️◼️◼️◼️◼️◼️◼️◼️◼️◼️◼️
🌿 التَّذْكِيرُ مِنْ كِتَابِ «الدَّاءِ وَالدَّوَاءِ» 🌿
033 | Setiap Akibat Memiliki Sebab [17]
Allah ta'ala berfirman:
﴿فَلَمَّا آسَفُونَا انْتَقَمْنَا مِنْهُمْ فَأَغْرَقْنَاهُمْ أَجْمَعِينَ﴾
"Maka ketika mereka membuat Kami murka, Kami menghukum mereka lalu Kami tenggelamkan mereka semuanya." (Az-Zukhruf: 55)
Fir'aun dan kaumnya tidak tenggelam pada hari pertama mereka bermaksiat.
Mereka tidak dibinasakan pada saat pertama kali mendustakan kebenaran.
Mereka tidak dihukum ketika kezaliman itu baru dimulai.
Akan tetapi dosa demi dosa bertumpuk.
Kesombongan demi kesombongan menggunung.
Penentangan demi penentangan terus berlangsung.
Hingga sebab-sebab itu sempurna, lalu datanglah akibat yang telah lama berjalan menuju mereka.
Begitulah sunnatullah.
Sebuah akibat sering kali tidak lahir dalam sehari.
Ia tumbuh perlahan dari sebab-sebab yang diremehkan.
Maka ketika hati terasa keras, jangan hanya menangisi kerasnya hati.
Lihatlah kembali dosa-dosa yang mungkin telah lama diberi tempat.
Ketika shalat kehilangan manisnya, jangan hanya mengeluhkan beratnya ibadah.
Lihatlah kembali pandangan yang tidak dijaga, lisan yang tidak dikendalikan, dan waktu yang terlalu banyak dihabiskan untuk selain Allah.
Ketika keberkahan terasa menghilang, jangan hanya bersedih atas apa yang hilang.
Lihatlah kembali syukur yang berkurang, amanah yang disia-siakan, dan hak-hak Allah yang pernah diabaikan.
Sebab tidak ada akibat yang datang tanpa perjalanan.
Ia hanyalah sebab-sebab lama yang akhirnya tiba di tujuan.
Karena itu, jangan takut hanya kepada azab yang besar.
Takutlah kepada dosa kecil yang terus dipelihara.
Jangan takut hanya kepada akhir yang buruk.
Takutlah kepada jalan yang mengantarkan kepadanya.
Sebab Fir'aun ditenggelamkan bukan oleh ombak semata.
Ia ditenggelamkan oleh kesombongan yang bertahun-tahun ia pelihara di dalam dadanya.
http://t.me/Terapi_PenyakitHati
🌿 التَّذْكِيرُ مِنْ كِتَابِ «الدَّاءِ وَالدَّوَاءِ» 🌿
032 | Setiap Akibat Memiliki Sebab [16]
Musa dan Harun datang membawa petunjuk yang nyata..
Namun Fir'aun dan pembesarnya berkata:
﴿فَقَالُوا أَنُؤْمِنُ لِبَشَرَيْنِ مِثْلِنَا وَقَوْمُهُمَا لَنَا عَابِدُونَ﴾
"Maka mereka berkata, 'Apakah pantas kami beriman kepada dua orang manusia seperti kami, padahal kaum mereka tunduk dan mengabdi kepada kami?'" (QS. Al-Mukminun: 47)
﴿فَكَذَّبُوهُمَا فَكَانُوا مِنَ الْمُهْلَكِينَ﴾
"Maka mereka mendustakan keduanya (Musa dan Harun), lalu mereka termasuk orang-orang yang dibinasakan." (QS. Al-Mukminun: 48)
Maka Jangan menunggu gelombang datang menghantam.
Perhatikanlah apa yang sedang tumbuh di dalam hati.
Sebab Fir'aun tidak binasa karena laut yang terbelah..
Tapi ia sudah binasa semenjak kesombongannya menolak hidayah.
http://t.me/Terapi_PenyakitHati
🌿 التَّذْكِيرُ مِنْ كِتَابِ «الدَّاءِ وَالدَّوَاءِ» 🌿
031 | Setiap Akibat Memiliki Sebab [15]
Allah ta'ala berfirman:
فَعَصَوْا رَسُولَ رَبِّهِمْ فَأَخَذَهُمْ أَخْذَةً رَابِيَةً
"Maka mereka mendurhakai rasul Rabb mereka, lalu Allah menyiksa mereka dengan siksaan yang sangat keras." [QS. Al-Haqah: 10]
Kadang manusia gemetar melihat besarnya hukuman...
namun lupa menoleh pada dosa yang mendahuluinya.
Padahal tidak ada petir yang menyambar, kecuali sebelumnya awan telah lama menghitam.
Tidak ada azab yang tiba-tiba turun, kecuali sebelumnya peringatan telah lama diabaikan.
Mereka melihat dahsyatnya akibat, tetapi Allah mengajak kita melihat sebabnya:
"Mereka mendurhakai rasul Rabb mereka..."
Karena setiap dosa yang diremehkan, sedang menulis takdir akibatnya.
Dan setiap maksiat yang terus dipelihara, sedang menumbuhkan buah yang kelak harus dipetik pemiliknya.
Maka takutlah.. bukan hanya kepada hukuman yang besar,
tetapi kepada dosa kecil yang hari ini masih dianggap biasa.
http://t.me/Terapi_PenyakitHati
كَلِمَاتُ تَعْزِيَةٍ وَمُوَاسَاةٍ
Kata-kata Takziyah dan Penghiburan.
__
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
Bunda, hari ini langit terasa lebih kelabu, dan air mata terasa lebih deras daripada kata-kata.
Ananda telah pergi mendahului. Meninggalkan dunia yang penuh luka, menuju rahmat Allah yang lebih luas daripada segala duka.
Mungkin hari ini yang tersisa hanyalah pelukan yang tak sempat terulang, suara yang tak lagi terdengar, dan rindu yang terus mengetuk hati. Namun seorang mukmin tidak hidup dengan perpisahan semata. Ia hidup dengan harapan.
Harapan bahwa Allah tidak menciptakan cinta untuk diakhiri oleh kematian. Sebab kematian hanyalah pemisah sesaat bagi mereka yang beriman.
Maka bersabarlah, Bunda...
Karena ada pertemuan yang lebih indah daripada semua kenangan, dan ada tempat yang tak lagi mengenal tangis maupun kehilangan.
Bunda... semoga di Surga kita kembali berjumpa.
http://t.me/Terapi_PenyakitHati
بِسْـــــــــــــمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيـــــــــــــْم
🔵🔴⚫ Dengan mengharap ridho Allah ta'ala semata...
🚌🚲🛵 Hadirilah Kajian Rutin Islam Ilmiah...
📎 *TERAPI PENYAKIT HATI*
(Pertemuan ke 18)
Dari Kitab :
الْجَوَابُ الْكَافِي لِمَنْ سَأَلَ عَنِ الدَّوَاءِ الشَّافِي *(الدَّاءُ وَالدَّوَاءُ)* لِلْإِمَامِ الْعَلَّامَةِ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي بَكْرٍ بْنِ أَيُّوبَ ابْنُ قَيِّمِ الْجَوْزِيَّةِ _رَحِمَهُ اللَّهُ_
💺Pemateri : *Al Ustadz Teuku Abdurrahman Abu Nabil At-Tuwasza* حفظه اللــــــــه
⏰ RABU malam Kamis Ba'da magrib - Isya, 17 Dzulhijjah 1447 H /03 Juni 2026 M
🕌 Tempat
Masjid As Sakinah
https://maps.google.com/?cid=14445733975884938598
🖥️ Arsip Rekaman :
https://t.me/Terapi_PenyakitHati
🌹🌻🌴🌳🎋🌳🌴🎋
"""""""""""""""""""""""""""""""""""""""
ADAB MASUK KAMPUNG:
1.Tidak ngebut
2. Buka kaca mobil/helm Motor
3. Menyapa warga/salam
📶 Bisa Anda Simak di:
📲 Aplikasi telegram
√ https://bit.ly/TaklimNogosari
Informasi :
📱081239391462
📖 Kajian Kitab Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa'
"Bukan rahmat Allah yang menipumu.. tapi yang menipumu.. adalah dosa yang kau tunda taubatnya."
✨ Pembahasan:
Tertipu di Pintu Rahmat
👤 Bersama:
Al-Ustadz Teuku Abdurrahman Abu Nabil At-Tuwasza حفظه الله
InsyaAllahu ta'ala :
🗓 Rabu, malam ini
🕕 18.07 WIB
📡 Live t.me/taklimnogosari
📲 Rekaman t.me/Terapi_PenyakitHati
"Ada yang menangis karena takut kepada Allah.
Ada pula yang terus bermaksiat karena merasa Allah terlalu baik untuk menghukumnya.
Padahal yang pertama mengenal Allah, sedangkan yang kedua hanya tertipu oleh angan-angannya."
Saat Diuji Dengan Yang Dicintai [3/akhir]
Banyak luka di hati…
bermula dari sini:
takut kehilangan makhluk
melebihi takut kehilangan Allah.
Takut ditinggalkan.
Takut gagal.
Takut kehilangan yang dicinta.
Sampai hati gelisah
siang dan malam.
Namun Ibrahim mengajarkan:
jika Allah tetap bersamamu,
yang hilang tak akan menghancurkanmu.
Tapi jika Allah menjauh dari hati,
apa pun yang kau miliki
tak akan pernah menenangkanmu.
Obatnya…
dekatkan hati kepada Allah
lebih dari dekatnya pada dunia.
Sebab hati yang paling tenang
bukanlah hati yang memiliki segalanya…
melainkan hati yang yakin:
Hasbunallah…
Allah cukup bagiku.
http://t.me/Terapi_PenyakitHati
Saat Diuji Dengan Yang Dicintai [2]
Ada hati yang ringan saat ibadah masih sejalan dengan keinginan.
Shalat terasa mudah
selama hidup tenang.
Sedekah terasa ringan
selama harta masih lapang.
Namun menjadi berat…
saat perintah Allah menyentuh sesuatu yang paling dicintai.
Di situlah tunduk benar-benar diuji.
Dan Ibrahim ‘alaihissalam diuji pada titik itu.
Bukan dengan harta.
Bukan dengan hinaan manusia.
Tapi dengan putra
yang hadir setelah panjangnya doa dan penantian.
Penyejuk mata.
Penyejuk jiwa.
Lalu datang perintah dari langit.
Perintah yang membuat dada bergetar.
Namun Ibrahim tak menawar.
Dan Ismail tak membantah.
Seakan dua hati itu telah mengenal Rabb-nya.
Yakin…
bahwa tak ada perintah-Nya
kecuali membawa rahmah.
Tak ada takdir-Nya
kecuali menyimpan hikmah.
Maka keduanya memilih tunduk…
meski dada sesak,
meski air mata jatuh.
Karena hati yang sehat
bukan hati yang tak pernah sedih.
Bukan pula yang tak pernah merasa berat.
Tapi yang tetap berkata di tengah ujian:
"Kami dengar… dan kami taat."
meski air mata belum juga reda.
Maka sebelum ujian besar datang…
biasakan hati tunduk.
Saat adzan memanggil… datang.
Saat lisan ingin membalas… tahan.
Saat nafsu ingin melanggar… berhenti.
Saat Allah meminta sesuatu yang dicintai… lepaskan.
Sebab jiwa yang dilatih taat hari ini…
akan lebih kuat berserah esok hari.
http://t.me/Terapi_PenyakitHati
Saat Diuji Dengan Yang Dicintai [1]
Kadang yang membuat hati terasa berat.. bukan karena kita kehilangan.
Tapi karena ada sesuatu yang terlalu erat dalam genggaman.
Kita mencintai seseorang.. lalu perlahan hati bersandar penuh kepadanya.
Kita merasa tenang saat ia ada.
Merasa utuh saat ia dekat.
Dan tanpa sadar, hati mulai takut yang berlebihan jika harus berpisah.
Padahal semua yang ada di dunia ini.. hanya titipan.
Bahkan orang yang paling kita cintai pun bukan milik kita.
Lihatlah Ibrahim ‘alaihissalam.
Setelah penantian panjang, Allah menghadiahkan Ismail kepada beliau.
Anak yang hadir membawa kebahagiaan.
Penyejuk mata dan penenteram jiwa.
Namun ketika cinta itu telah tumbuh begitu dalam, datanglah ujian dari Allah:
﴿يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ﴾
“Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu…” (QS. Ash-Shaffat: 102)
Seakan Allah sedang mengajarkan kepada kita:
Jangan gantungkan hatimu kepada sesuatu yang bisa pergi.
Jangan sandarkan jiwamu kepada sesuatu yang suatu hari bisa diambil kembali.
Cintailah dengan penuh kasih.. namun tetap sisakan ruang di hati untuk ridha saat Allah memintanya kembali.
Karena yang kita peluk hari ini bisa saja lepas.
Yang kita pandang setiap hari bisa saja berpisah.
Yang membuat hati tenang hari ini bisa saja tak lagi bersama kita esok hari.
Dan obat bagi hati yang terlalu melekat.. adalah mengingat:
bahwa semua akan kembali kepada Pemiliknya.
Kita hanya dititipi sebentar.
Diberi waktu untuk mencintai.
Diberi kesempatan untuk menjaga.
Lalu belajar ikhlas saat takdir berkata, “cukup sampai di sini.”
Sebab satu-satunya yang tetap ada,
di saat semua hanya tinggal cerita.. hanyalah Allah ta'ala.
http://t.me/Terapi_PenyakitHati
Bismillah…
Sahabat TPH yang semoga Allah jaga hatinya,
Alhamdulillah, serial “Yang Terdalam dari Kesabaran Ibrahim ‘alaihissalam” telah selesai.
Sambil menanti faedah lanjutan dari kitab Ad-Da' wa Ad-Dawa’, insyaAllah kita akan mengisi hari-hari ke depan dengan serial tadabbur dari sebuah ayat yang sangat dalam maknanya, dan insyaAllah penuh faedah tentang terapi penyakit hati.
Tentang keterikatan…
tentang takut kehilangan…
dan tentang hati yang belajar ridha pada ketetapan Allah.
Allah Ta‘ala berfirman:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
“Maka ketika anak itu sampai pada usia sanggup berusaha bersama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Wahai buah hatiku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.’ Ia menjawab: ‘Wahai ayahandaku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’” (QS. Ash-Shāffāt: 102)
Nantikan faedah-faedahnya.
Semoga Allah menjadikan ayat ini penawar bagi hati kita semua.
http://t.me/Terapi_PenyakitHati
Yang Terdalam dari Kesabaran Ibrahim ‘Alaihissalam [9/akhir]
Kadang ujian…
tak perlu diawali petir dan hujan.
Karena kali ini
yang sedang diuji…
adalah sesuatu yang paling dicintai.
Maka sesak terasa di dada.
Dan tanpa terasa
tangan pun menyapu linangan air mata.
Dan itulah yang pernah dipikul oleh Nabi Ibrahim kekasih Allah.
Setelah usia menua.
Setelah rambut memutih.
Setelah penantian yang panjang dan doa-doa yang dilangitkan siang dan malam.
Allah menganugerahkan seorang putra:
Ismail.
Penyejuk mata di masa tua.
Jawaban dari harapan yang lama menggantung di langit doa.
Rumah yang dulu sunyi.. kini hidup oleh tawa si buah hati.
Hari-hari Ibrahim menjadi indah oleh langkah putranya.
Namun justru ketika cinta itu tumbuh begitu dalam…
Ujian itupun tiba...
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ
“Maka ketika anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersama Ibrahim, Ibrahim berkata: Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.” (QS. Ash-Shaffat: 102)
Bayangkan itu…
seorang ayah menatap wajah putranya.
Putra yang lama dinanti.
Yang suaranya menghidupkan rumah.
Yang kehadirannya menjadi cahaya di masa senja usia.
Lalu ia harus mengajaknya menuju tempat sembelihan.
Tanpa membantah.
Tanpa menawar.
Tanpa berkata, “Mengapa harus dia?”
Dan yang lebih menggetarkan…
jawaban sang buah hati...
قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
“Wahai ayahandaku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ash-Shaffat: 102)
MasyaAllah..
Jawaban yang seketika merubah luka menjadi bangga.
seorang ayah diuji dengan cinta.
seorang anak diuji dengan nyawanya.
dan keduanya memilih tunduk kepada Rabb semesta.
Ketika pisau telah didekatkan…
yang paling berat bukan tangan yang bergerak.
Tapi hati.. yang sedang diremukkan oleh cinta.. namun tetap memilih taat.
Di situlah sabar mencapai puncaknya.
Saat air mata mengalir.. namun dihati zikir tetap terukir.
Saat hati sangat mencintai.. namun rela menyerahkan tuk sang ilahi..
Saat jiwa belum mengerti.. namun keyakinan tak pernah terganti.
Lalu Allah memanggil Ibrahim:
قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا
“Sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu.” (QS. Ash-Shaffat: 105)
Dan Allah mengganti Ismail dengan sembelihan yang besar.
Karena tidak ada sesuatu yang diserahkan kepada Allah dengan ikhlas…
melainkan Allah mampu menggantinya
dengan rahmat yang lebih indah.
Bukankah hidup kita kadang seperti itu?
Ada yang harus merelakan orang yang dicintai.
Ada yang harus mengubur harapan
yang dibangun bertahun-tahun.
Ada doa yang belum dijawab.
Ada takdir yang datang
tak seperti yang diminta.
Dan dada terasa sesak.. karena yang diuji adalah bagian dari lubuk hati yang paling dalam.
Maka ingatlah Ibrahim.
Kadang Allah tidak sedang mengambil sesuatu darimu.
Allah hanya sedang menguji.. siapa yang tetap tinggal di dalam hati.
Apakah dunia.. atau Dia jalla wa 'ala.
Sebab jalan menuju ketenangan.. kadang memang harus melewati air mata penyerahan.
Dan tak ada air mata yang jatuh karena taat.. melainkan Allah melihatnya.
menyimpannya.
lalu menggantinya kelak dengan ketenangan
yang tak pernah kita bayangkan.
http://t.me/Terapi_PenyakitHati
Yang Terdalam dari Kesabaran Ibrahim 'Alaihissalam [8]
Ada ujian yang tidak meninggalkan luka di tubuh.. namun menghunjam hati begitu dalam.. hingga dada terasa sesak, dan air mata jatuh tanpa suara.
Dan di antara ujian paling sunyi yang pernah dipikul manusia…
adalah saat Ibrahim
diperintah meninggalkan istrinya Hajar, dan bayi kecilnya Ismail,
di sebuah lembah yang tak berpenghuni.
Bukan di kota yang ramai.
Bukan di tempat yang ada rumah-rumah.
Bukan di dekat sumur yang mengalir
atau kebun yang menenangkan mata.
Tetapi di lembah tandus lagi kering…
siangnya dibakar matahari…
malamnya dipenuhi sunyi.
Allah mengabadikan momen itu dalam firman-Nya:
﴿رَبَّنَآ إِنِّىٓ أَسْكَنْتُ مِن ذُرِّيَّتِى بِوَادٍ غَيْرِ ذِى زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ ٱلْمُحَرَّمِ..
“Wahai Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di sebuah lembah yang tidak mempunyai tanaman, di dekat rumah-Mu yang dihormati…” (Ibrahim: 37)
Bayangkan itu…
Seorang ayah berjalan membawa amanah yang paling ia cintai.
Di belakangnya istri yang setia.
Di pelukannya bayi kecil yang belum mengenal dunia.
Lalu saat tiba.. beliau berbalik hendak pergi.
Dan Hajar memanggil
dengan suara yang bergetar menahan cemas:
“Wahai Ibrahim.. ke mana engkau pergi? Apakah engkau meninggalkan kami di tempat ini.. sementara tak ada manusia.. tak ada air.. dan tak ada apa pun?”
Ibrahim hanya terdiam.
Bukan karena tak peduli.
Bukan karena hati yang tega.
Namun karena ada duka yang terlalu berat diutarakan dengan kata-kata.
Karena bila beliau menoleh…
mungkin air mata itu akan jatuh.
Dan langkah kaki itu
akan terasa berat untuk diangkat.
Hajar kembali bertanya:
“آللَّهُ أَمَرَكَ بِهَذَا؟”
“Apakah Allah yang memerintahkanmu?”
Ibrahim menjawab singkat:
“نَعَمْ”
“Ya.”
Lalu keluarlah kalimat yang menenangkan langit dan bumi:
“إِذًا لَا يُضَيِّعُنَا”
“Kalau begitu.. Allah tidak akan menelantarkan kami.”
Allahu akbar…
Betapa berat langkah Ibrahim saat meninggalkan mereka.
Setiap langkah demi langkah yang menjauh.. ada rasa yang mengoyak dada.
Namun beliau tetap berjalan.
Karena hati para nabi tahu…
jika Allah yang memerintah, maka Allah pula yang akan menjaga.
Dan benar…
Saat bekal telah habis.
Saat tak ada lagi setetes air.
Saat Ismail kecil menangis kehausan.
Saat seorang ibu berlari antara Shafa dan Marwah, dengan hati yang nyaris pecah…
Allah keluarkan air dari tanah tandus itu.
Zamzam.
Dari tempat yang tampak tak mungkin ada kehidupan…
Allah munculkan mata air yang tak pernah berhenti mengalir hingga hari ini.
Bagi kita hari ini..
Kadang Allah juga membawa kita
ke “lembah tandus” dalam kehidupan masing-masing.
Ada yang diuji dengan kehilangan.
Ada yang diuji dengan penantian panjang.
Ada yang diuji rumah tangga yang terasa berat dijalani.
Ada yang diuji dakwah
yang sepi dari dukungan.
Ada pula yang diuji
harus melepaskan sesuatu yang paling dicintai…
demi taat kepada Allah.
Lalu hati pun bertanya:
“Ya Allah…
kenapa harus di sini?”
“Kenapa harus sekarang?”
“Kenapa harus aku?”
Seperti Hajar dahulu.
Tak tampak jalan.
Tak terlihat pertolongan.
Tak ada yang bisa digenggam.
Namun ada satu kalimat
yang layak kita simpan di dada:
إِذًا لَا يُضَيِّعُنَا
“Kalau begitu.. Allah tidak akan menelantarkan kami.”
Mungkin hari ini
engkau belum melihat zamzam itu.
Masih tandus.
Masih sepi.
Masih berat.
Masih penuh tangis
yang itu hanya Allah yang tahu.
Tapi yakinlah..
Rabb yang menumbuhkan air di tengah padang pasir…
mampu menumbuhkan jalan di saat hidupmu terasa getir.
Rabb yang menjaga Hajar dalam sunyi yang menggetarkan…
mampu menjagamu saat tak ada satu pun yang memahami apa yang kau rasakan.
Dan Rabb yang menghadirkan senyum Nabi Ibrahim setelah panjang ujian…
mampu menghadirkan kemudahan setelah sabar yang kau perjuangkan.
Maka bila hari ini
engkau sedang berada di lembah yang tandus.. bersabarlah.
Tetaplah bertahan.
Tetaplah percaya.
Karena boleh jadi.. di tanah yang terasa paling gersang itu…
Allah sedang menyiapkan mata air terbaik untuk hidupmu.
http://t.me/Terapi_PenyakitHati
Yang terdalam dari kesabaran
adalah saat hidup dibakar ujian, namun hati tetap sejuk dalam keimanan.
Selamat Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriyah.
تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ
“Semoga Allah menerima (amal ibadah) dari kami dan dari kalian.”
Tim TPH
http://t.me/Terapi_PenyakitHati
Lautan Air Mata di Arafah
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ
"Tidak ada hari ketika Allah paling banyak membebaskan hamba dari neraka melebihi hari Arafah."
(Sahih Muslim no. 1348)
Siapa yang tak bergetar hatinya… siapa yang tak berlinang air matanya… saat mendengar janji sebesar itu, disampaikan oleh lisan Nabi ﷺ yang mulia.
Bahwa ada satu hari… ketika rahmat Allah turun begitu dekat… dan pintu pembebasan dari api neraka dibuka begitu luas.
Tanggal 9 Dzulhijjah…
di Padang Arafah yang luas dan hening, terhampar lautan air mata para hamba Allah.
Ada tangan-tangan yang terangkat gemetar ke langit… ada suara-suara lirih yang tertatih menyebut nama-Nya… ada dada yang sesak menahan tangis…
karena dosa-dosa yang selama ini dipikul, akhirnya diakui sepenuh hati di hadapan Rabb semesta alam.
Mereka memuji-Nya… mereka memohon kepada-Nya… mereka menangis di hadapan-Nya…
berharap dengan seluruh jiwa yang tersisa, agar nama mereka termasuk di antara hamba-hamba yang Allah bebaskan dari neraka.
Dan betapa banyak air mata jatuh di Arafah hari itu…
namun tak ada yang sia-sia.
Sebab setiap air mata yang jatuh karena taubat… dipersaksikan oleh Rabb Yang Maha Pengampun.
Dan bagi hati yang hari ini masih jauh dari sana… yang belum Allah izinkan menjejak tanah suci-Nya…
jangan pernah berhenti berharap.
Bisa jadi kerinduan yang kau simpan dalam diam… dan air mata yang jatuh di sepertiga malam…
sedang Allah catat satu per satu.
Hingga kelak…
engkau pun berdiri di Arafah…
mengangkat kedua tanganmu ke langit…
lalu menangis di hadapan-Nya…
sebagai tamu yang dipanggil dengan rahmat-Nya… dan termasuk jiwa yang dibebaskan dari neraka.
http://t.me/Terapi_PenyakitHati
Yang Terdalam dari Kesabaran Ibrahim ‘Alaihissalam [7]
Ada ujian yang tidak datang dalam bentuk api.
Tidak tampak menyala, tidak terlihat membakar.
Namun panasnya merayap diam-diam ke dalam dada.. dan tinggal di sana bertahun-tahun lamanya.
Itulah ujian yang dipikul oleh Nabi Ibrahim.
Beliau bukan hanya diuji oleh kaumnya.
Bukan hanya dilempar ke dalam kobaran api.
Bukan hanya meninggalkan tanah kelahiran.
Ada ujian yang jauh lebih sunyi.
Beliau menunggu, menunggu seorang anak.
Hari demi hari berganti.
Musim demi musim berlalu.
Rambut yang dahulu hitam mulai memutih.
Tubuh yang dahulu kuat mulai menua.
Sementara rumahnya masih sama:
hening.. tanpa suara kaki kecil berlari.
Tak ada panggilan “ayah” yang menyambutnya di pintu.
Tak ada tangan mungil yang digenggamnya menuju ibadah.
Yang ada hanya doa-doa panjang di tengah malam.. dan hati yang tetap berharap kepada Allah.
Sampai akhirnya lisannya berbisik dengan penuh adab kepada Rabb-nya:
﴿رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ﴾
"Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang saleh." (QS. As-Saffat: 100)
Lihatlah.. beliau tidak berkata:
“Ya Allah, berilah aku anak banyak.”
Beliau meminta satu hal yang paling beliau rindukan:
anak yang saleh.
Karena Ibrahim bukan sekadar menginginkan keturunan.
Beliau merindukan ada yang meneruskan tauhid.
Ada yang berdiri membawa kalimat la ilaaha illallah setelah dirinya.
Tahun berlalu.
Doa itu belum juga terlihat jawabannya.
Namun Ibrahim tidak menggugat.
Tidak berkata:
“Ya Allah, mengapa belum?”
Tidak berkata:
“Sudah sekian lama aku berdoa.”
Beliau tetap sabar.
Tetap taat.
Tetap berjalan.
Tetap membangun hari-harinya dengan ibadah.
Sampai Allah mengabadikan kabar gembira itu:
﴿فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ﴾
"Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang sangat penyantun." (QS. As-Saffat: 101)
Betapa panjang jarak antara ayat 100 dan ayat 101 itu.
Dalam mushaf memang hanya satu ayat.
Namun dalam hidup Ibrahim.. itu adalah tahun-tahun yang dipenuhi penantian.
Air mata yang hanya Allah tahu.
Doa yang terus diulang.
Harapan yang tidak pernah dibiarkan mati.
Dan saat usia beliau telah senja.. Allah memberi karunia.
Seakan Allah mengajarkan kepada kita:
bahwa ada pemberian yang sengaja ditunda..
agar saat ia datang, kita benar-benar tahu, bahwa itu bukan hasil kekuatan kita.
Tapi murni rahmat Allah.
Maka Ibrahim memuji Rabb-nya:
﴿الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ ۚ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ﴾
"Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di masa tua Ismail dan Ishaq. Sungguh Rabbku benar-benar Maha Mendengar doa." (QS. Ibrahim: 39)
Di masa tua..
bukan di masa muda.
Saat tenaga sudah tak seperti dulu.
Saat harapan menurut hitungan manusia mulai mengecil.
Allah justru membukakan pintu karunia.
Dan hari ini..
mungkin ada hati yang sedang menunggu juga.
Menunggu doa yang belum Allah bukakan.
Menunggu jalan keluar yang belum tampak.
Menunggu harapan yang terasa lama.
Belajarlah dari Ibrahim.
Bahwa penantian bukan tanda Allah meninggalkanmu.
Kadang Allah menunda..
karena Dia sedang menyiapkan waktu terbaik.
Kadang Allah diam..
bukan karena Dia tak mendengar.
Tapi karena Dia ingin engkau semakin dekat.
Sebab ada doa-doa yang Allah jawab segera.
Dan ada doa-doa yang Allah simpan..
sampai hati benar-benar matang oleh sabar.
Maka jika hari ini engkau masih menunggu,
jangan padam.
Tetap berdoa.
Tetap sujud.
Tetap yakin.
Karena Rabb yang mendengar doa Ibrahim di ujung usia…
adalah Rabb yang sama, yang mendengar doamu hari ini.
http://t.me/Terapi_PenyakitHati
Yang Terdalam Dari Kesabaran Ibrahim ‘Alaihissalam [6]
Setelah Ibrahim selamat dari kobaran api, masih saja kaumnya tetap berpaling, namun Ibrahim tidak berhenti. Beliau tetap melangkah, hingga berkata:
﴿إِنِّي مُهَاجِرٌ إِلَىٰ رَبِّي﴾
“Sesungguhnya aku berhijrah menuju Rabbku.” (QS. Al-Ankabut: 26)
Beliau meninggalkan ayahnya, meninggalkan kaumnya, dan berpisah dengan negeri tempat kenangannya tumbuh, demi menjaga iman tetap menyala di dada, dan menjaga takwa tetap hidup bersama Rabbnya.
Di situlah kita belajar bahwa sabar tak selalu berarti diam menunggu.
Terkadang sabar adalah tetap melangkah saat hati mulai lelah, tetap bertahan saat harapan belum terjamah, dan tetap percaya kepada Allah meski jalan di depan belum tampak arah.
Bukankah sering begitu dalam hidup kita?
Ada yang sudah lama mendidik anak dengan doa dan kesungguhan, tapi perubahan yang diharap belum juga tampak.
Ada yang sudah berusaha memperbaiki rumah tangga, menjaga lisan, menahan diri.. tapi ujian masih datang silih berganti.
Ada yang berusaha istiqamah di atas kebaikan, namun justru merasa sendiri, tidak dipahami, bahkan ditinggalkan.
Berat.
Dan yang membuat berat bukan hanya karena ujiannya.. tapi karena hati bertanya, “Sampai kapan?”
Kisah Ibrahim menjawab itu.
Bahwa tidak semua kesabaran langsung memperlihatkan buahnya.
Kadang Allah belum mengubah keadaan di sekitar kita saat ini… tapi Allah sedang menguatkan hati kita agar tidak tumbang di keesokan hari
Kadang jalan masih terasa panjang… tapi Allah sedang menuntun langkah kita sedikit demi sedikit.
Dan kadang yang Allah minta dari kita bukan melihat hasil hari ini… tapi tetap melangkah menuju-Nya dengan hati yang ridha.
Seperti Ibrahim.
Beliau tidak tahu bagaimana akhir perjalanan itu.
Namun beliau tetap berjalan.
Karena orang yang sabar tidak selalu melihat semua jawabannya di awal.
Tapi ia percaya: selama ia berjalan menuju Allah, tidak ada satu pun langkahnya yang sia-sia.
http://t.me/Terapi_PenyakitHati
Yang Terdalam Dari Kesabaran Ibrahim ‘Alaihissalam [5]
Ketika seluruh negeri memusuhinya..
ketika ayah yang paling ia cintai menolaknya..
ketika kaumnya menyeret tubuhnya, mengikat tangan dan kakinya, lalu melemparkannya ke dalam lautan api..
﴿ قَالُوا حَرِّقُوهُ وَانْصُرُوا آلِهَتَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ فَاعِلِينَ ﴾
“Mereka berkata: ‘Bakarlah dia dan tolonglah tuhan-tuhan kalian, jika kalian benar-benar hendak bertindak.’” (QS. Al-Anbiyā’: 68)
di saat itu.. Ibrahim ‘alaihis salam tidak menoleh kepada manusia.
Beliau tidak sibuk mencari siapa yang akan menolongnya.
Tidak pula mengadukan pedihnya kepada makhluk.
Yang keluar dari lisannya hanyalah kalimat tawakal seorang hamba yang seluruh hatinya telah bersandar kepada Rabb-nya:
حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
“Cukuplah Allah bagi kami, dan Dia sebaik-baik Pelindung.” (HR. Al-Bukhari)
Tubuhnya jatuh menuju kobaran api..
namun hatinya jatuh lebih dalam lagi ke dalam pelukan tawakal kepada Allah.
Dan di situlah letak kesabaran yang paling agung..
bukan sekadar mampu menangis dalam diam,
bukan sekadar mampu bertahan di tengah luka,
tetapi tetap yakin bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya..
meski seluruh dunia meninggalkannya.
Lalu Allah berfirman:
﴿ يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ ﴾
“Wahai api, jadilah engkau dingin dan keselamatan bagi Ibrahim.” (QS. Al-Anbiyā’: 69)
Api itu tetap menyala..
tetapi Allah mencabut panasnya.
Kayu-kayu itu tetap berkobar…
tetapi Allah menjadikan kobaran itu taman keselamatan bagi kekasih-Nya.
Dan begitulah cara Allah menolong hamba-hamba-Nya.
Terkadang Allah tidak langsung memadamkan api ujian kita..
tetapi Allah membuat hati tetap tenang di tengah nyala yang paling menyakitkan.
Maka pelajaran terbesar dari Ibrahim bukan hanya tentang mukjizat selamat dari api..
melainkan tentang hati yang tidak ikut terbakar oleh rasa takut,
meski tubuhnya dilempar ke dalam nyala.
Hari ini, mungkin kita tidak dilempar ke dalam api seperti Ibrahim…
tetapi ada hati yang dibakar oleh fitnah,
dibakar oleh pengkhianatan,
dibakar oleh kehilangan,
dibakar oleh kesendirian,
dibakar oleh beratnya mempertahankan iman di tengah dunia yang semakin asing terhadap kebenaran.
Dan bisa jadi.. Allah belum mengangkat api itu dari hidupmu.
Karena Allah sedang mendidik hatimu agar setabah Ibrahim..
agar jiwamu belajar bersandar hanya kepada-Nya.
Terkadang keselamatan bukan berarti hilangnya ujian..
tetapi hati yang tetap dipenuhi keikhlasan,
lisan yang tetap basah dengan doa dan harapan,
serta sujud yang tetap bertahan..
meski hidup dipenuhi luka dan kehilangan.
http://t.me/Terapi_PenyakitHati
Yang Terdalam Dari Kesabaran Ibrahim ‘Alaihissalam [4]
Ada luka yang tidak sempat diceritakan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam kepada manusia…
Saat ibrahim mencoba menggali kembali fitrah ke islaman kaumnya yang sudah lama terkubur..
Ibrahim bertekad:
وَتَاللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصْنَامَكُمْ بَعْدَ أَنْ تُوَلُّوا مُدْبِرِينَ
“Demi Allah, sungguh aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhala kalian setelah kalian pergi meninggalkannya.” (QS. Al-Anbiyā’: 57)
Lalu ia melakukannya:
فَجَعَلَهُمْ جُذَاذًا إِلَّا كَبِيرًا لَّهُمْ لَعَلَّهُمْ إِلَيْهِ يَرْجِعُونَ
“Lalu Ibrahim menghancurkan berhala-berhala itu berkeping-keping, kecuali berhala yang terbesar, agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya.” (QS. Al-Anbiyā’: 58)
Maka ketika kaumnya bertanya siapa yang menghancurkan berhala-berhala itu, Ibrahim menjawab dengan hujjah yang membungkam mereka:
قَالَ بَلْ فَعَلَهُ كَبِيرُهُمْ هَٰذَا فَاسْأَلُوهُمْ إِنْ كَانُوا يَنْطِقُونَ
“Ibrahim berkata: ‘Sebenarnya berhala besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada mereka jika mereka dapat berbicara.’” (QS. Al-Anbiyā’: 63)
kaumnya sempat tersentak oleh hujjah yang sangat telak itu:
فَرَجَعُوا إِلَىٰ أَنْفُسِهِمْ فَقَالُوا إِنَّكُمْ أَنْتُمُ الظَّالِمُونَ
“Maka mereka kembali kepada kesadaran mereka, lalu berkata: ‘Sesungguhnya kalianlah orang-orang yang zalim.’” (QS. Al-Anbiyā’: 64)
Artinya, hati mereka sebenarnya sempat mengakui kebenaran.
Mereka sadar, berhala itu tidak bisa bicara, tidak bisa membela diri, apalagi memberi manfaat dan mudarat.
Namun sayangnya, kesadaran itu tidak bertahan lama:
ثُمَّ نُكِسُوا عَلَىٰ رُءُوسِهِمْ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا هَٰؤُلَاءِ يَنْطِقُونَ
“Kemudian mereka kembali kepada kesesatan mereka dan berkata: ‘Sungguh engkau telah tahu bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara.’” (QS. Al-Anbiyā’: 65)
Mereka sadar.. tetapi gengsi menghalangi mereka tunduk.
Lalu Ibrahim menekan mereka dengan hujjah yang lebih keras:
أَفَتَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكُمْ شَيْئًا وَلَا يَضُرُّكُمْ . أُفٍّ لَكُمْ وَلِمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ ۖ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
“Mengapa kalian menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak pula memberi mudarat kepada kalian? Celakalah kalian dan apa yang kalian sembah selain Allah. Tidakkah kalian berakal?” (QS. Al-Anbiyā’: 66–67)
Dan setelah hujjah itu benar-benar mematahkan mereka, barulah mereka berkata:
قَالُوا حَرِّقُوهُ وَانصُرُوا آلِهَتَكُمْ
“Bakarlah dia dan tolonglah tuhan-tuhan kalian!” (QS. Al-Anbiyā’: 68)
Begitulah kebatilan..
Ketika tidak mampu menjawab kebenaran, ia mulai meninggikan suara, lalu berakhir dengan kekerasan.
Bersambung..
http://t.me/Terapi_PenyakitHati
