Alvan
Open in Telegram
918
Subscribers
-324 hours
-157 days
-8430 days
Data loading in progress...
Similar Channels
No data
Any problems? Please refresh the page or contact our support manager.
Incoming and Outgoing Mentions
---
---
---
---
---
---
Attracting Subscribers
September '26
September '260
in 0 channels
August '260
in 0 channels
Get PRO
July '260
in 0 channels
Get PRO
June '26
+1
in 0 channels
Get PRO
May '26
+1
in 0 channels
Get PRO
April '26
+2
in 0 channels
Get PRO
March '260
in 0 channels
Get PRO
February '260
in 0 channels
Get PRO
January '260
in 0 channels
Get PRO
December '250
in 0 channels
Get PRO
November '25
+1
in 0 channels
Get PRO
October '250
in 0 channels
Get PRO
September '250
in 0 channels
Get PRO
August '250
in 0 channels
Get PRO
July '250
in 0 channels
Get PRO
June '25
+64
in 0 channels
Get PRO
May '25
+280
in 0 channels
Get PRO
April '25
+342
in 0 channels
Get PRO
March '25
+466
in 0 channels
Get PRO
February '25
+1 626
in 0 channels
Get PRO
January '250
in 0 channels
Get PRO
December '240
in 0 channels
Get PRO
November '240
in 0 channels
Get PRO
October '240
in 0 channels
Get PRO
September '24
+2
in 0 channels
| Date | Subscriber Growth | Mentions | Channels | |
| 10 September | 0 | |||
| 09 September | 0 | |||
| 08 September | 0 | |||
| 07 September | 0 | |||
| 06 September | 0 | |||
| 05 September | 0 | |||
| 04 September | 0 | |||
| 03 September | 0 | |||
| 02 September | 0 | |||
| 01 September | 0 |
Channel Posts
Rakyat diminta percaya kepada pemerintah. Tapi bukankah pemerintah juga wajib memberi alasan untuk dipercaya?
| 2 | No text... | 13 |
| 3 | Masyarakat diimbau untuk bekerja keras, mandiri, mengembangkan usaha, serta meningkatkan keterampilan. Namun, di tengah meningkatnya kesulitan lapangan kerja, terjadinya pemutusan hubungan kerja, melemahnya daya beli, serta tantangan yang dihadapi oleh Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), pihak manakah yang bertanggung jawab menciptakan ekosistem agar masyarakat dapat benar-benar produktif? Jangan terus-menerus mengimbau masyarakat untuk berlari jika infrastruktur dan jalur yang tersedia tidak pernah diperbaiki. | 14 |
| 4 | Pemerintah dan rakyat mesti berjalan bersama, bukan sekadar angka. Kepercayaan tumbuh apabila rakyat didengar dan pemerintah bekerja dengan amanah. Kekuatan negara terletak pada perhatian terhadap rakyat, bukan hanya pembangunan. | 14 |
| 5 | Kita hidup di dunia yang sering membuat kita takut. Takut kehilangan, takut gagal, takut masa depan. Kita merasa seolah-olah hidup ini ditentukan oleh manusia, oleh keadaan, oleh kekuatan dunia.
Padahal, ada satu kisah besar yang Allah abadikan untuk menghancurkan semua ketakutan itu.
Fir’aun… seorang raja yang begitu berkuasa. Ia bukan hanya berkuasa secara politik, tapi juga mengklaim dirinya sebagai tuhan. Ketika ia mendapat kabar bahwa akan lahir seorang anak laki-laki yang kelak menghancurkan kerajaannya, apa yang ia lakukan?
Ia membunuh ribuan bayi.
Ia kira dengan kekuasaannya, ia bisa menghentikan takdir.
Namun lihat bagaimana Allah membalas kesombongan itu…
Fir’aun membunuh ribuan bayi agar Musa tidak pernah datang. Namun ketika Musa benar-benar datang, justru ia dibesarkan di rumahnya sendiri. | 16 |
| 6 | Masyarakat memerlukan solusi, bukan kebijakan yang semakin membebani kehidupan. | 24 |
| 7 | -2147483648_-214068.webp | 1 |
| 8 | Jaksa ditangkap polisi.
Polisi ditangkap jaksa.
Rumah jaksa dijaga tentara.
Terus kita bicara hukum untuk apa? | 39 |
| 9 | Kembali ke masa ketika senyum begitu sederhana🥰 | 21 |
| 10 | Anak 90-an tumbuh sederhana, tapi mimpinya luar biasa. | 28 |
| 11 | Hidupmu Berubah Saat Kamu Berhenti Menyalahkan Keadaan ⁉️ | 13 |
| 12 | Semakin Besar Mimpimu, Semakin Sedikit Orang yang Akan Percaya Padamu. ⁉️ | 10 |
| 13 | Jangan Takut Terlambat, Takutlah Berhenti Sebelum Sampai. ⁉️ | 12 |
| 14 | ketika kita disakiti oleh orang terdekat⁉️ | 20 |
| 15 | Kesempatan Besar Datang Kepada Orang yang Siap⁉️ | 11 |
| 16 | Kamu tidak gagal, kamu hanya terlalu cepat menyerah ⁉️ | 5 |
| 17 | Jaga hati❤️ | 18 |
| 18 | Wajah berminyak seharian? | 1 |
| 19 | 📸 Ketika Sedekah Berubah Menjadi Panggung.
Terdapat seorang pria yang senantiasa membawa kamera dan kendaraan mewah setiap kali memberikan bantuan kepada sesama. Saat menyerahkan paket sembako, kameranya dinyalakan. Saat memberikan uang kepada kaum dhuafa, tindakannya direkam. Setelahnya, video tersebut segera diunggah ke media sosial.
Ribuan orang memberikan pujian:
"Orang tersebut baik hati."
"Sangat dermawan."
"Semoga rezekinya semakin lancar."
Namun, sedikit yang menyadari bahwa ia lebih sering menghitung jumlah "like" dibandingkan jumlah orang yang benar-benar terbantu. Bagi sebagian pihak, sedekah tidak lagi bertujuan untuk meringankan beban sesama, melainkan untuk membangun citra diri. Bantuan yang diberikan menjadi instrumen untuk menunjukkan kekayaan, mencari pengakuan, dan memperoleh apresiasi dari masyarakat. Yang dicari bukan lagi senyuman penerima, melainkan pujian dari penonton.
Padahal, nilai sebuah kebaikan tidak selalu diukur dari seberapa banyak orang yang menyaksikannya. Justru, kebaikan yang paling tulus sering kali terjadi tanpa kamera, tanpa sorotan, dan tanpa perlu diketahui oleh siapa pun.
Karena ketika tujuan utama pemberian adalah pujian, maka yang diperoleh hanyalah pujian. Sebaliknya, ketika tujuan pemberian adalah membantu, maka yang tumbuh adalah kemanusiaan.
Di era media sosial, semakin banyak individu yang berlomba untuk terlihat baik. Namun, kebaikan sejati tidak selalu membutuhkan penonton. Sebab, hati yang tulus lebih sibuk menolong daripada menjelaskan kepada dunia bahwa dirinya sedang menolong.
Orang yang mencari pujian ingin dikenal sebagai dermawan.
Orang yang benar-benar dermawan tidak terlalu peduli apakah namanya dikenal atau tidak.
@AlvanGurami | https://www.facebook.com/share/17dT4GEcns/ | 31 |
| 20 | 📱 Sebuah paradoks zaman modern yang memberikan pelajaran berharga tentang keseimbangan digital dan pertumbuhan diri.
Saat sebagian komunitas di Eropa secara strategis melakukan realokasi fokus dari media sosial ke perangkat komunikasi sederhana untuk efisiensi, sebagian komunitas di negeri kita justru semakin imersif dalam ekosistem layar yang sama. Mereka yang pernah berada di puncak inovasi teknologi kini melakukan refleksi mendalam: "Apakah semua ini benar-benar menciptakan nilai hidup yang lebih bermakna?"
Sementara di sini, banyak individu berkompetisi untuk memiliki perangkat terbaru, bahkan rela mengalokasikan sumber daya finansial demi gengsi yang nilainya berfluktuasi secepat siklus rilis model berikutnya. Filsuf Jerman Arthur Schopenhauer pernah mengingatkan bahwa manusia sering mengejar apa yang diinginkan tanpa sempat melakukan due diligence apakah yang dikejar itu benar-benar dibutuhkan.
Hari ini, kita hidup dalam era ketika perhatian telah menjadi aset strategis. Setiap notifikasi meminta waktu. Setiap video meminta fokus. Setiap scroll meminta bagian dari portofolio hidup kita. Yang hilang bukan hanya kuota internet atau baterai ponsel.
Yang hilang adalah jam-jam yang seharusnya dialokasikan untuk berpikir kritis, membaca, berkarya, berdiskusi dengan keluarga, dan membangun masa depan. Ironisnya, semakin canggih perangkat yang dimiliki seseorang, belum tentu semakin merdeka pikirannya. Sebab kemewahan terbesar bukanlah memiliki teknologi terbaru, melainkan memiliki kemampuan untuk tidak diperbudak olehnya.
Barangkali ukuran kemajuan sebuah masyarakat bukan terletak pada seberapa sering mereka mengganti ponsel, melainkan pada seberapa bijak mereka menggunakan waktu. Sebab teknologi seharusnya menjadi alat bagi manusia. Bukan manusia yang menjadi alat bagi teknologi.
✨ | 32 |
