en
Feedback
[] Let's share the awareness

[] Let's share the awareness

Open in Telegram
889
Subscribers
No data24 hours
-107 days
-3330 days
Posts Archive
Lagian tunjangan komunikasi itu digunakan untuk komunikasi dengan rakyat salah satunya, tapi faktanya?????

Selain itu, tunjangan komunikasi intensif Rp20 juta per bulan sangat janggal. Dengan era digital sekarang, komunikasi bisa dilakukan murah lewat WhatsApp, Zoom, atau email. Jadi kenapa rakyat harus membiayai komunikasi DPR puluhan juta per bulan? Logikanya tidak masuk akal.

Ahli hukum administrasi negara, Prof. Zainal Arifin Mochtar, pernah menegaskan bahwa ā€œefisiensi anggaran negara harus menyentuh pos-pos besar, bukan sekadar kosmetik politik.ā€

Ini ibarat orang yang bilang mau diet, tapi yang dikurangi cuma es teh manis, sementara tetap makan nasi padang pakai rendang, ayam, dan gulai. Akhirnya, ya tetap saja boros.

Padahal, ada tunjangan jauh lebih besar, seperti tunjangan kehormatan (Rp7,1 juta), tunjangan komunikasi (Rp20 juta), dan fungsi-fungsi konstitusional (Rp8 juta per bidang). Kalau memang serius mau hemat, kenapa yang besar tidak disentuh?

Kalau benar ingin efisiensi, seharusnya pemangkasan dilakukan menyeluruh. Pasal 23 UUD 1945 sudah jelas: semua pengeluaran negara harus digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

Disebutkan akan dievaluasi biaya listrik, telepon, komunikasi intensif, dan transportasi. Pertanyaannya: kenapa hanya ini yang dipotong? Padahal ada tunjangan besar seperti tunjangan kehormatan, tunjangan komunikasi, dan lain lainnya.

Jeng jeng jeng, saatnya membahas tuntutan ketiga sekaligus THP DPR.

sticker.webp0.00 KB

Darisini apa ada pertanyaan? Karena selanjutnya akan membahas point ketiga sekaligus bedah THP untuk DPR, jadi pertanyaan soal dua kebijakan diatas silahkan ditanyakan disini biar langsung dijelaskan.

sticker.webp0.00 KB

Karena moratorium seperti ini hanya mengurangi sedikit beban APBN, sementara kebocoran anggaran lain masih jauh lebih besar. Padahal yang kita mau itu hal-hal yang dibiayai negara seharusnya untuk kepentingan rakyat.

Nah kalau DPR bilang moratorium tapi tetap buka celah ā€œboleh pergi kalau undangan kenegaraanā€, itu bisa ditafsirkan luas. Seminar internasional? Bisa dibilang kenegaraan. Forum ekonomi? Bisa dibilang kenegaraan juga. Akhirnya aturan ini jadi sekadar basa-basi politik

Tapi masalahnya muncul di realita. Kebanyakan perjalanan luar negeri DPR selama ini tidak terasa dampaknya buat rakyat. Mereka pulang bawa laporan tebal, tapi rakyat di bawah tetap tidak merasakan manfaat nyata. Jadi siapa yang paling diuntungkan? Anggota DPR sendiri.

Logika awalnya benar perjalanan luar negeri bisa jadi penting kalau memang untuk kepentingan rakyat, misalnya diplomasi, studi banding, atau konferensi resmi. Dalam teori hukum tata negara, fungsi DPR memang salah satunya menjalin hubungan internasional

Kalau kita dengar kata itu, pasti yang terbayang acara resmi negara, misalnya pertemuan antarparlemen dunia atau sidang PBB. Tapi kenyataannya, banyak kegiatan internasional yang bisa dipoles jadi ā€œkenegaraanā€. Misalnya seminar, forum bisnis, atau pertemuan partai politik di luar negeri

Tapi masalahnya apa sih definisi ā€œundangan kenegaraanā€?

DPR bilang, mulai 1 September 2025 mereka tidak akan melakukan perjalanan luar negeri, kecuali kalau ada ā€œundangan kenegaraanā€. Sekilas, kedengarannya bagus seperti bentuk penghematan anggaran.

sticker.webp0.00 KB

Seharusnya DPR menjelaskan secara gamblang dasar hukum penghentian, pengganti tunjangan apa, berapa anggaran yang dihemat, dan bagaimana penghematan itu bisa dialihkan untuk kepentingan rakyat.