𝐁𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐏𝐮𝐢𝐬𝐢✨🇵🇸🇮🇩
Open in Telegram
1 020
Subscribers
-124 hours
-97 days
-2330 days
Posts Archive
1 020
Jam dinding berdetak di antara sunyi yang teramat asing.
"Apakah kamu benar-benar yakin ingin menghapus segalanya?"
"Harus."
"Bahkan kenangan yang dulu membuatmu tersenyum?"
Ia memegang jemarinya erat-erat. Mengabaikan getar samar ditangannya. "Menyimpan kenanganmu sama saja membiarkan diriku terus menunggu seseorang yang tak akan pernah kembali."
Aku menunduk, menggigit bibir bawah menahan sesak yang tak kunjung surut. "Jadi, aku tidak lagi punya tempat untuk pulang?"
Ia mengalihkan pandang. Tak sanggup menatap mataku yang kian mengembun. "Bukan... Kamu adalah rumah paling hangat yang pernah aku kenal, tapi pintunya telah terkunci dan kuncinya sudah patah di dalam."
Bahebbak
1 020
Aku selalu berusaha membuat kesibukan dengan hal-hal yang kulakukan, tapi setiap aku berhenti. Aku selalu memikirkanmu :(
1 020
Gerimis di luar jendela cafe semakin deras.
"Jadi, ini terakhir kali kita duduk berhadapan seperti ini?"
"Iya"
"Rasanya aneh, ya?"
Ia menunduk. Mengaduk minumannya yang tak lagi berasap. "Apa yang aneh?"
Air mataku akhirnya menetes tanpa permisi.
"Aneh bagaimana dua orang yang tahu segalanya tentang satu sama lain, besok harus berpura-pura tidak saling kenal."
Ia memejamkan mata rapat-rapat. Menahan sesuatu yang runtuh di dadanya.
"Bukan berpura-pura... Kita hanya sedang menyelamatkan diri masing-masing."
