ILMU DAN RENUNGAN
Open in Telegram
Merupakan chanel untuk menyimpan arsip faidah-faidah ilmiyyah dan renungan. Pemilik @rozanabdullah (Muqim di lingkungan sekitar Ma'had Anwarussunnah-Petanahan)
Show more531
Subscribers
No data24 hours
+27 days
+530 days
Data loading in progress...
Similar Channels
No data
Any problems? Please refresh the page or contact our support manager.
Tags Cloud
No data
Any problems? Please refresh the page or contact our support manager.
Incoming and Outgoing Mentions
---
---
---
---
---
---
Attracting Subscribers
August '25
August '25
+3
in 4 channels
July '25
+220
in 8 channels
Get PRO
June '250
in 2 channels
Get PRO
May '250
in 2 channels
Get PRO
April '250
in 7 channels
Get PRO
March '250
in 1 channels
Get PRO
February '250
in 7 channels
Get PRO
January '250
in 3 channels
Get PRO
December '240
in 1 channels
Get PRO
November '240
in 6 channels
Get PRO
October '240
in 2 channels
Get PRO
September '240
in 3 channels
Get PRO
August '24
+7
in 3 channels
Get PRO
July '24
+48
in 1 channels
Get PRO
June '240
in 0 channels
Get PRO
May '24
+1
in 2 channels
Get PRO
April '24
+119
in 4 channels
Get PRO
March '240
in 2 channels
Get PRO
February '240
in 2 channels
Get PRO
January '24
+155
in 5 channels
| Date | Subscriber Growth | Mentions | Channels | |
| 20 August | +1 | |||
| 19 August | 0 | |||
| 18 August | 0 | |||
| 17 August | 0 | |||
| 16 August | +1 | |||
| 15 August | 0 | |||
| 14 August | 0 | |||
| 13 August | 0 | |||
| 12 August | 0 | |||
| 11 August | 0 | |||
| 10 August | 0 | |||
| 09 August | 0 | |||
| 08 August | 0 | |||
| 07 August | 0 | |||
| 06 August | +1 | |||
| 05 August | 0 | |||
| 04 August | 0 | |||
| 03 August | 0 | |||
| 02 August | 0 | |||
| 01 August | 0 |
Channel Posts
Renungkan Dulu Sebelum Berucap
Allah ta'ala berfirman,
مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
"Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir." Qs. Qaaf: 18
Ayat ini sudahlah mencukupi sebagai pengingat agar seorang merenungkan dulu mengucapkan sesuatu. Sebab, setiap kalimat yang terucap oleh manusia, akan ada dua malaikat yang selalu mengawasi dan sigap mencatatnya.
Ibnu Abbas radhiyallahu'anhuma berkata ,
"Malaikat itu akan mencatat setiap apa yang diucapkan manusia baik berupa kebaikan maupun keburukan, sampai pun ketika ia mengucapkan; 'aku makan, aku minum, aku pergi, aku datang, aku melihat.'
Hingga ketika hari kamis ucapan dan perbuatannya diangkat dan ditampilkan kepada Allah, lalu Allah menetapkan apa yang padanya terdapat kebaikan dan keburukan, dan membuang yang selain itu.
Itulah makna firman-Nya,
يَمْحُوا اللّٰهُ مَا يَشَاۤءُ وَيُثْبِتُ ۚوَعِنْدَهٗٓ اُمُّ الْكِتٰبِ
"Allah menghapus dan menetapkan apa yang Dia kehendaki. Dan di sisi-Nya terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuzh)." Qs. Ar-Ra'd: 39 (lihat Tafsir Ibnu Katsir)
Bahkan walau hanya rintihan yang keluar dari lisan seorang, itu juga akan ditulis.
Dikisahkan bahwasannya Imam Ahmad sempat merintih saat sedang sakit. Kemudian sampai kepada beliau dari Thawus yang mengatakan, "Malaikat itu menulis segala sesuatu sampai pun suara rintihan."
Sejak itu, Imam Ahmad tidak pernah lagi merintih sampai beliau meninggal dunia. (Tafsir Ibnu Katsir)
Lalu, tidakkah kamu malu bilamana catatan amalmu saat ditampilkan kepada Allah ternyata dipenuhi ucapan-ucapan kotor, jorok, lagi keji?!
Masjid Anwarussunnah, 25 Muharram 1447
https://t.me/ilmudanrenungan
| 2 | Maka, Allah akan membuat amalannya didengar oleh manusia dan diketahui di dunia, dan lalu Allah akan menghukumnya dan menghinakannya kelak di akhirat.
Dikarenakan yang diinginkan oleh Allah dari hamba-Nya adalah keikhlasan beramal semata-mata hanya untuk-Nya. Sedangkan sum'ah menafikan hal tersebut.
Wallahu A'lam
18 Muharram 1447
https://t.me/ilmudanrenungan | 0 |
| 3 | Mengobati Riya
Riya adalah memperlihatkan amalan supaya dilihat oleh manusia. Atau biasa disebut dengan pamer amalan atau pamrih. Sedangkan Sum'ah adalah memperdengarkan amalan kepada manusia.
Riya dan Sum'ah biasanya muncul karena keinginan diperhatikan oleh manusia; baik individual ataupun secara umum. Ia ingin menarik perhatian orang lain supaya dirinya dipuji, diakui, dihargai, dimuliakan, agar dianggap berjasa, atau alasan-alasan lain. Pada intinya, ia ingin amalannya diketahui orang lain.
Riya dan Sum'ah termasuk perangai tercela yang semestinya dijauhi, dan dibersihkan dari hati. Ibnu Jama'ah rahimahullah menyebutkan salah satu dari cara mengobati Riya dan Sum'ah, beliau menuturkan (Tadzkiratus Sami, hal. 107),
"Untuk mengobati Riya adalah dengan merenungkan bahwa manusia itu tidaklah mampu untuk memberi manfaat kepadanya bila tidak ditaqdirkan oleh Allah, dan juga tidak memiliki kuasa untuk menimpakan mudarat kepadanya bila tidak ditaqdirkan oleh Allah."
Setinggi apa pujian manusia kepadanya, sebesar apa pemujaan dan pemuliaan manusia kepadanya, itu tidak akan meninggikan derajatnya di sisi Allah.
Sebagaimana seburuk apa penilaian manusia kepadanya, sehina apa celaan manusia kepadanya, itu tidaklah memengaruhi kedudukannya di sisi Allah.
Sebab, yang menjadi tolok ukur itu bukanlah penilaian dari manusia atau pujian dan celaan mereka, tetapi amalannya dan apa yang mengalir dalam hatinya. Yakni, mencocoki sunnah dan dikerjakan dengan ikhlas mengharap wajah Allah semata.
Rasulullah ﷺ bersabda;
إن الله لا ينظر إلى صوركم و لا إلى أجسامكم، و لكن ينظر إلى قلوبكم و أعمالكم
"Sesungguhnya Allah tidaklah memandang kepada rupa dan fisik kalian, namun Dia itu memandang kepada hati kalian dan amalan kalian". HR. Muslim
Karenanya, mesti direnungkan, untuk apa seorang itu berletih menghabiskan tenaga dan waktu hanya untuk mencari perhatian manusia yang penilaiannya itu hanyalah semu ?!
Kata Ibnu Jama'ah selanjutnya,
"Lalu untuk apa ia (orang yang riya) rela gugur amalannya, termudarati agamanya, dan sibuk diri hanya demi menjaga perasaan-perasaan manusia yang hakikatnya tidak punya memberi manfaat atau menimpakan mudarat?!"
Persis seperti yang dinasihatkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah, bahwa orang yang riya itu hanyalah membuat letih dirinya dengan sesuatu yang tidak berguna baginya.
Kata beliau, "Orang yang beramal tanpa disertai keikhlasan dan tidak mengikuti sunnah ibarat seorang musafir yang memenuhi kantong bekalnya dengan pasir; hanya membikin berat dan tidak memberi manfaat apapun." (Al-Fawaid)
Kemudian Ibnu Jama'ah melanjutkan,
"Di sisi lain, Allah ta'ala akan membongkar niat jeleknya dan kebusukan apa yang terpendam dalam dadanya. Sebagaimana hal telah shahih dalam sebuah hadits,
مَنْ سَمَّع سَمَّع اللهُ بِهِ، وَمَنْ رَاءَى رَاءَى اللهُ بِه
"Siapa yang memperdengarkan (amalannya) maka Allah akan memperdengarkannya, dan siapa yang memperlihatkan (amalannya) maka Allah akan memperlihatkannya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Al- Khaththabiy menerangkan, "Ma'nanya adalah siapa yang mengamalkan suatu amalan tanpa didasari keikhlasan, namun hanya ingin agar manusia melihatnya dan mendengarnya, maka dia akan mendapatkan balasan seperti itu; Allah akan memasyhurkannya, menyingkap dan menampakkan apa yang yang ada di bathinnya." (Fathul Bari, 11/336)
Maka, yang didapat oleh orang yang riya dan sum'ah adalah kehinaan. Kalaupun mendapat pujian dari manusia, itu hanyalah di dunia dan bersifat sementara, sedang di akhirat ia akan mendapatkan kehinaan yang berkepanjangan.
Rasulullah ﷺ bersabda,
مَن سَمَّعَ النَّاسَ بعَمَلِه ، سَمَّعَ اللهُ بِه مسامِعَ خَلقِه وصَغَّرَه وحَقَّرَه
"Siapa yang memperdengarkan amalannya kepada manusia, Allah akan memperdengarkannya pada pendengaran-pendengaran manusia, dan merendahkannya serta menghinakannya." (Shahih Targhib, no. 25)
Maknanya, siapa yang berbuat sum'ah dengan menceritakan amalannya kepada manusia agar dirinya terlihat sebagai ahli ibadah dan ahli tha'at dan supaya manusia memuji dan menghormatinya. | 0 |
| 4 | [ PUISI ] Ulama Bagaikan Bintang
Selagi bintang-bintang masih bertebaran,
Saat itulah manusia akan mudah menelusuri perjalanan.
Tatkala bintang-bintang redup dan terhijab awan.
Manusia terombang-ambing dalam kebingunan.
Itulah posisi ulama di tengah zaman;
Adanya mereka akan jelas suatu jalan.
Pemecah berbagai permasalahan.
Pemberi solusi atas fitnah yang berdatangan.
Wafatnya mereka sebuah musibah yang mengejutkan.
Tanpa mereka, manusia akan larut dalam kebingungan.
Mondar-mandir tanpa tentu arah tujuan.
Tersesat di tengah pengapnya kegelapan.
https://t.me/ilmudanrenungan | 0 |
| 5 | Inilah makna sabda Nabi ﷺ,
كن ورعا تكن من أعبد الناس
"Jadilah orang yang wara', sehingga kamu akan menjadi orang yang paling menegakkan ibadah." (Shahihul Jami' 7833) sebab sikap wara' itu akan mendorongnya untuk melakukan yang wajib dan meninggalkan larangan, mengerjakan yang sunnah dan meninggalkan yang makruh, dan menjauhi perkara-perkara yang syubhat.
Keseluruhan sikap wara' itu terhimpun dalam sabda Nabi ﷺ,
من حسن إسلام المرء تركه ما لا يعنيه
"Termasuk bagusnya keislaman seorang adalah ia meninggalkan perkara yang tidak berguna." (HR. Tirmidzi 2317)
Berkata Imam Ibnu Qayyim rahimahullah,
"Nabi ﷺ telah menghimpun keseluruhan sikap wara' dalam hadits ini.
Dan ini mencakup umum, setiap perkara yang tidak berguna dari ucapan, pandangan, mendengarkan, genggaman, jalan, pikiran, dan seluruh gerakan yang lahir maupun batin. Maka ini adalah kata-kata yang cukup untuk menjelaskan sikap wara'." (Madarijus Salikin, 2/23-24)
Wallahu A'lam
12 Muharram 1447
https://t.me/ilmudanrenungan | 0 |
| 6 | Dua Rambu Penuntun Jalan Hidup
Zuhud dan wara' merupakan dua perangai penting yang harus dimiliki oleh setiap muslim. Keduanya ibarat dua rambu yang akan menuntun jalan hidupnya.
Zuhud akan mengarahkannya untuk mengikis habis ambisi terhadap dunia, sedangkan wara' akan mengontrol hasratnya agar tidak terperdaya oleh rayuan kelezatan dunia yang bisa membinasakannya.
Zuhud adalah seorang meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat bagi akhiratnya. (Madarijus Salikin-Ibnul Qayyim 2/12)
Maka zuhud bukan berarti meninggalkan dunia secara total. Tetapi hilangnya ketertarikan hati terhadap dunia, dan semua hal yang tidak memberi manfaat untuk akhiratnya.
Perilaku zuhud dapat diaplikasikan dengan orang hanya menggunakan dunia seperlunya saja. Ia memosisikan dunia seperti tempat buang hajat yang dia menggunakannya bila butuh tanpa ada tempat (nilai) di hatinya, dan dia mencarinya sekedarnya, seperti memperbaiki tempat buang hajat.
Zuhud bukan berarti tidak bisa dilakukan orang kaya. Bahkan salah kaprah kalau zuhud diidentikkan dengan miskin, lebih-lebih kumuh.
Abdullah ibnul Mubarok rahimahullah adalah seorang yang kaya tapi juga dikenal dengan ulama yang zuhud. Maka aplikasi dari zuhud kalau begitu adalah menggenggam dunia hanya sebatas di tangan dan tidak memasukkannya ke dalam hati, bahkan ia jadikan dunia sebagai sarana jembatan menuju akhirat.
Allah ta'ala berfirman,
وَابۡتَغِ فِيۡمَاۤ اٰتٰٮكَ اللّٰهُ الدَّارَ الۡاٰخِرَةَ وَلَا تَنۡسَ نَصِيۡبَكَ مِنَ الدُّنۡيَا
"Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia." Qs. Al-Qashash: 77
Berkata Imam Ibnu Katsir rahimahulla,
"-Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu-, yakni pergunakanlah apa yang telah diberikan Allah kepadamu dari harta yang banyak dan nikmat yang berlimpah ini untuk mendukung keta'atan kepada Rabbmu, yaitu dengan mendekatkan diri kepada-Nya dengan berbagai macam taqarrub supaya kamu mendapatkan ganjarannya di akhirat, kelak.
-Tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia-, yakni dari apa-apa yang Allah halalkan kepadamu dari makan, minum, pakaian, tempat tinggal, dan menikah. Sebab, bagi Rabbmu ada hak atasmu yang kamu tunaikan, begitu juga dirimu, keluargamu, dan tamumu, masing-masingnya ada hak atasmu yang harus kamu tunaikan, maka berikanlah hak kepada setiap yang berhaq." (Tafsir Qur'anil Azhim-surat Al-Qashash: 77)
Sedangkan wara' adalah seorang meninggalkan hal-hal yang dikhawatirkan akan membahayakan akhiratnya. (Madarijus Salikin-Ibnul Qayyim 2/12)
Hal inilah yang akan mengontrol hasrat orang yang wara'. Sebab, dia akan merenungkan lebih dahulu sebelum berbuat, apakah yang dilakukannya itu akan memudarati akhiratnya atau tidak.
Jadi, wara' tidak hanya identik dengan meninggalkan perkara syubhat. Tapi meninggalkan semua perkara yang akan memudarati bagi akhiratnya.
Maka wara' itu bertingkat-tingkat hukumnya. Ada wara' yang wajib, yaitu wara' dari perkara yang haram, dan dari perilaku meninggalkan kewajiban. Dan ada wara' yang mustahab, yaitu wara' dari perkara yang makruh dan dari perilaku meninggalkan yang sunnah. Masuk dalam kategori ini, wara' dari perkata syubhat.
Namun, ada hal yang perlu ditegaskan di sini adalah kekeliruan manusia dalam menerapkan sikap wara'.
Pertama: orang yang sangat wara' dalam perkara syubhat, bahkan begitu antipati terhadapnya namun ia tidak menghindari perkara yang haram dan dosa-dosa besar. Semisal, orang yang menghindari penggunaan parfum yang mengandung alkohol namun ia masih bertranksaksi riba.
Ini merupakan kekeliruan yang fatal, sebab perkara yang haram dan dosa-dosa besar itu jelas-jelas memudarati akhiratnya.
Kedua: orang yang wara' dari perkara yang haram, namun ia tidak mengerjakan amalan yang wajib. Semisal, seorang yang meninggalkan dusta namun ia tidak shalat. Ini juga kekeliruan dalam menerapkan sikap wara'. Sebab, meninggalkan kewajiban itu memudarati akhiratnya lebih besar daripada dengan melakukan apa yang Allah haramkan. | 0 |
| 7 | Karena itu, jangan terjebak oleh masa lalumu. Selagi masih ada sisa umur, maka masih ada kesempatan bagimu berbenah dan memperbaiki diri. Ukirlah kebaikan di sisa hidupmu itu. Kelak, kebaikan - kebaikan itu akan mengubah penilaian manusia kepadamu.
09 Muharram 1447
https://t.me/ilmudanrenungan | 0 |
| 8 | Jangan Terjebak Oleh Masa Lalu, Ukirlah Kebaikan di Sisa Umur
Abul Atahiyah (130 - 211 H), seorang penyair handal di masa daulah Abasiyah. Nama aslinya adalah Ismail bin Qasim bin Suwaid Al-Ainiy. Kunyah beliau sebenarnya adalah Abu Ishaq, namun lebih dikenal dengan sebutan Abul Atahiyah.
Syair-syair beliau sangat indah dan memukau. Gubahannya mampu menarik minat banyak tokoh di masanya, bahka ulama dan para khalifah daulah abasiyah pada saat itu.
Pada awalnya beliau mengarang syair seputar cinta, kemudian di akhir-akhir hidupnya beralih mengarang syair seputar zuhud dan negeri akhirat.
Syair-syair beliau sebagiannya dikumpulkan oleh Ibnu Abdil Barr rahimahullah.
Di antara gubahan syair beliau yang masyhur, antara lain; -dan mungkin sebagian kita pernah mendengarnya bahkan menghafalnya-
1. Waktu Luang dan Masa Muda
إن الشباب والفراغ والجدة مفسدة للمرء أي مفسده
"Sungguh, masa muda, waktu luang, dan kekayaan itu benar-benar sangat merusak seseorang."
2. Andai Masa Muda Bisa Kembali
فيا ليت الشباب يأتي يوما
فأخبره بما فعل المشيب
"Andaisaja masa muda bisa kembali satu hari saja, ingin rasanya bercerita betapa berat derita di masa tua"
3. Perahu Jalan di Daratan
ترجو النجاة و لم تسلك مسالكها
إن السفينة لا تجري على اليبس
"Kamu berharap keselamatan namun tidak menempuh jalan-jalannya, sesungguhnya perahu itu tidak akan jalan di atas daratan."
4. Perjalanan Manusia di Dunia
نأتي إلى الدنيا ونحن سواسية
طفلُ الملوكِ كطفل الحاشية
ونغادر الدنيا ونحن كما ترى
متشابهون على قبور حافية
أعمالنا تُعلي وتَخفض شأننا
وحسابُنا بالحق يوم الغاشية
حور، وأنهار، قصور عالية
وجهنمٌ تُصلى، ونارٌ حامية
فاختر لنفسك ما تُحب وتبتغي
ما دام يومُك والليالي باقية
وغداً مصيرك لا تراجع بعده
إما جنان الخلد وإما الهاوية
"Kita datang (lahir) ke dunia dalam keadaan sama; anak para raja sama seperti anak penduduk pinggiran kota.
Lalu kita meninggalkan dunia ini seperti yang kita lihat; tidak ada perbedaan, semua masuk ke liang kubur tanpa beralas-kaki.
Amalan kitalah yang akan meninggikan (derajat) kita, atau malah menurunkannya di sana. Dan dihisabnya amal kita pada hari kiamat itu sudah kepastian.
Ada bidadari, sungai-sungai, dan istana-istana tinggi. Dan ada juga jahannam yang dimasuki di dalamnya ada api yang sangat panas
Silakan pilih untuk dirimu sendiri apa yang kamu suka dan apa yang kamu cari, selagi hari-hari dan malam-malammu masih tersisa.
Namun besok saat kamu sampai ke tempat kembalimu, maka tiada bisa kamu mengulang setelahnya. Apakah menuju surga yang abadi, ataukan masuk jurang neraka yang sangat dalam".
Namun siapa sangka, Abul Atahiyah dulunya adalah sosok yang kontrovensial. Ia tumbuh sebagai remaja yang salah pergaulan. Masa mudanya dipenuhi kenakalan dan kisah-kisah kelam. Perbuatannya kadang di luar nalar.
Sampai-sampai Al-Mahdi -salah satu khalifah daulah Abasiyah- berkata kepadanya,
إني أراك مُتَحَذْلِق مُتَعَتِّه
"Sungguh saya menduga kamu adalah seorang yang suka membual kepandaian lagi dungu; kurang waras." Lantaran Abul Atahiyah secara berani menyatakan cintanya kepada Atbah; salah satu pelayan di Istana Al-Mahdi, sementara ia sendiri orang yang fakir. Dan sejak saat itu beliau dipanggil dengan Abul Atahiyah.
Di masa tuanya, Abul Atahiyah bertaubat dan memilih jalur ibadah dan kezuhudan. Dan mulai membuat syair-syair tentang kezuhudan, wejangan, negeri akhirat, dan mendekat kepada sang Khaliq.
Abul Atahiyah, sebutan ini sebenarnya mewakili kisah masa lalu beliau yang kelam. Namun demikianlah kebaikan yang diukir oleh seorang di masa hidupnya, akan membuat namanya harum. Bahkan sebutan Abul Atahiyah terdengar indah, setiap orang mendengarnya yang terlintas di pikirannya adalah beliau seorang penyair yang zuhud lagi shalih, dan tidak terbayangkan olehnya kisah masa lalunya.
Maka keburukan di masa silam menjadi tertutupi lantaran kebaikan yang dilakukannya. | 0 |
| 9 | Bila Tiba Waktunya, Sakit Juga Akan Sembuh, Jangan Bersedih
Ada gubahan syair yang cukup unik berbunyi seperti berikut;
أَلَـمٌ أَلَـمَّ أَلَـمْ أُلِــمَّ بِـدَائِــهِ
إِنْ آنَ آنٌ آنَ آنُ أَوَانِـهِ
Terjemah bebasnya :
"Ada rasa sakit menimpaku yang aku tidak tahu apa jenis sakitnya itu, namun tetap saja ketika tiba waktunya sembuh, sakit itu akan sembuh juga."
....
Ada yang mengatakan syair ini adalah gubahan Al-Mutanabbi. Salah satu penyair ulung di masa lalu (303 - 354 H). Namun, saya sendiri belum menemukan sumber yang valid menjelaskan hal tersebut.
Saya tertarik karena baitnya yang unik dan maknanya yang menarik
Syair ini sedang memberi tahu kita agar jangan panik ketika ditimpa sakit. Apapun jenis sakitnya; diketahui atau tidak diketahui, kalau sudah datang kesembuhan dari Allah, maka sakit itu juga akan sembuh.
Maka janganlah pesimis, dan tidak perlu panik. Hadapi dengan hati yang tenang. Bahkan, ketenangan hati dan gembiranya termasuk sebab kesembuhan yang cukup ampuh. Sebagaimana halnya kesedihan adalah sebab datangnya sakit.
Misalnya, nabi Ya'qub alaihissalam, karena sedih yang mendalam ketika kehilangan kedua putranya -Yusuf dan saudaranya-, kedua mata beliau menjadi buta. Dan tatkala beliau mencium bau baju nabi Yusuf, beliau sembuh dari butanya. Kisah ini bisa dilihat di dalam surat Yusuf.
...
Syair ini mengajarkan untuk tawakkal secara penuh kepada Allah. Memasrahkan segalanya kepada Allah, bukan bergantung kepada obat ataupun dokter. Karena memang Allah lah Dzat yang berkuasa untuk memberikan kesembuhan.
...
Namun, syair ini akan memiliki makna yang lain apabila dibaca dengan harakat yang lain. Misalnya apabila dibaca,
إِنْ أَنَّ آنٌّ آنَ آنُ أَوَانِـهِ
Dengan ditasydid pada huruf Nun yang kedua dan ketiga. أَنَّ artinya merintih, sedangkan آنٌّ adalah orang yang merintih.
Sehingga makna baitnya menjadi,
"Ketika seseorang merintih kesakitan maka sudah tiba waktu sembuhnya."
Merintih karena sakit terjadi ketika sakitnya sudah mencapai puncak Dan biasanya, ketika sakit sudah memuncak, maka besoknya sakit itu akan mulai mereda, dan kemudian sembuh.
Maka rintihan itu, semacam tanda akan tiba waktu sembuh. Seperti yang diungkapkan oleh Imam Ibnu Rajab rahimahullah dalam Nurul Iqtibas, "Bahwa kesusahan itu bila semakin menghimpit maka itu semakin dekat dengan pertolongan dan kelapangan."
Meski demikian, akan lebih baik apabila rintihan itu diganti dengan kalimat-kalimat dzikir. Dan itulah yang biasa dilakukan para salaf; mereka lebih menyukai untuk mengucapkan dzikir pada waktu yang keumuman orang merintih padanya.
Wallahu A'lam
Petanahan, 6 Muharram 1447
https://t.me/ilmudanrenungan | 0 |
| 10 | Bersihkan Debu-debu yang Menutupi Penglihatan Matamu
Keruhnya hidup yang kamu alami bisa jadi karena banyaknya debu yang menutupi penglihatan matamu, hingga kau sulit melihat, bahkan yang ada malah penglihatan yang kabur.
Mata yang selalu tertuju melihat nikmat orang lain sampai debu ketamakan mengkaburkan penglihatannya sehingga tidak bisa melihat nikmat yang dimilikinya.
Akibatnya, selalu merasa dirinya serba kekurangan, bernasib sial, dan akhirnya tidak pernah bersyukur atas nikmat yang sudah digenggamnya.
Mata yang terlalu teliti terhadap keberhasilan orang lain sampai tertutupi debu hasad dan dengki sehingga hati selalu resah dan gelisah melihat setiap apa yang didapat orang lain.
Mata yang diumbar sehingga dibiarkan melihat hal-hal yang mengundang syahwat sehingga ia terjerumus ke dalam berbagai macam maksiat dan dosa.
Ibnul Jauzi Rahimahullah pernah mengatakan, "Manakala kamu melihat kekeruhan pada suatu keadaan (hidupmu) maka ingat-ingatlah (barangkali itu karena) nikmat yang belum kamu syukuri atau dosa yang telah kamu lakukan." (Shaidul Khatir)
Dzulhijjah 1446
https://t.me/ilmudanrenungan | 0 |
| 11 | Perbedaan dan Perbandingan
Sudah perkara yang maklum bahwa pintu surga berjumlah delapan, sedangkan pintu neraka ada tujuh.
Selain dari sisi jumlah, Ibnul Qayyim rahimahullah (dalam Ĥadil Arwah-Bab ke-Sembilan) menyebutkan sisi perbedaan yang lain.
Di antaranya;
▪️Pintu surga tidak langsung dibuka saat penduduknya sampai di surga, sedangkan pintu neraka langsung dibuka.
Hal ini berdasarkan firman-Nya,
وَسِيْقَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اِلٰى جَهَنَّمَ زُمَرًا ۗحَتّٰىٓ اِذَا جَاۤءُوْهَا فُتِحَتْ اَبْوَابُهَا
"Orang-orang yang kafir digiring ke neraka Jahanam secara berombongan. Sehingga apabila mereka sampai kepadanya (neraka) pintu-pintunya dibukakan." Qs. Az-Zumar: 71.
Sedangkan tentang penduduk surga, Allah ta'ala firmankan,
وَسِيْقَ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ اِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا ۗحَتّٰىٓ اِذَا جَاۤءُوْهَا وَفُتِحَتْ اَبْوَابُهَا
"Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya diantar ke dalam surga secara berombongan. Sehingga apabila mereka sampai kepadanya (surga) dan pintu-pintunya dibukakan". Qs. Az-Zumar: 73
Bila diperhatikan, pada ayat pertama tentang pintu neraka, disebutkan jawabus syarat-nya.
Artinya, pintu-pintu itu langsung dibuka ketika orang-orang kafir yang digiring itu sampai padanya; tanpa ada jeda atau menunggu dimintakan izin terlebih dahulu.
Sehingga mereka langsung dikejutkan oleh siksa neraka secara tiba-tiba ketika sampai di pintu neraka. Hal ini semakin menambah pedih siksa yang mereka dapatkan.
Berbeda dengan ayat kedua tentang pintu surga; jawabus syarat-nya dihapus dan ada tambahan huruf wawu.
Hal ini menunjukkan, bahwa orang-orang bertaqwa yang diantar itu ketika sampai di surga, pintunya tidak langsung dibuka. Tapi mereka menunggu terlebih dahulu sampai datang Rasulullah ﷺ yang meminta izin supaya pintunya dibuka.
Selain hikmah daripada terwujudnya salah satu kedudukan Rasulullah ﷺ, hal itu juga agar semakin menambah kerinduan penduduk surga untuk segera memasukinya, setelah mereka melewati berbagai hal yang melelahkan dari semenjak mereka dirahim ibu, dilahirkan ke dunia, alam barzakh, padang mahsyar, dan seterusnya. Sehingga menjadi semakin sempurnalah nikmat dan bahagia yang mereka rasakan pada saat memasuki surga.
▪️Pintu surga senantiasa dibuka setelah semua penduduknya memasukinya, sedangkan pintu neraka akan ditutup setelah semua penduduknya memasukinya.
Allah ta'ala berfirman tentang pintu surga,
جَنّٰتِ عَدْنٍ مُّفَتَّحَةً لَّهُمُ الْاَبْوَابُۚ
"(Yaitu) surga 'Adn yang pintu-pintunya terbuka bagi mereka." Qs. Shaad: 50
Hikmahnya, karena surga adalah negeri yang aman, sehingga tidak perlu untuk ditutup pintunya. Penduduk surga tidak merasa khawatir jikalau mereka akan dikeluarkan darinya, sebab siapa yang masuk surga ia akan tinggal selama-lamanya di dalamnya.
Adapun tentang pintu neraka, Allah ta'ala berfirman,
اِنَّهَا عَلَيْهِمْ مُّؤْصَدَةٌۙ
"Sungguh, api itu ditutup rapat atas (diri) mereka." Qs. Al-Humazah: 8
Berkata Muqatil, "Maksudnya, pintu-pintunya ditutup dan tidak dibuka satupun bagi mereka. Sehingga kesedihan mereka tidak akan keluar darinya, juga harapan tidak akan masuk kepada mereka, selama-lamanya."
Maka semakin pedihlah siksaan yang mereka dapatkan, dan semakin besar rasa putus asa mereka dari dikeluarkan darinya.
Inilah di antara perbedaan pintu surga dengan pintu neraka. Betapa jauh perbandingan antara keduanya.
Renungkan, pintu mana yang akan kamu tuju?
Allahu A'lam
Malam Jum'at, 22 Sya'ban 1446
https://t.me/Fawaid_Arsip | 0 |
| 12 | Benih yang Kamu Tabur, Itulah yang Akan Kamu Panen
Hidup itu perkara memberi dan menerima.
Siapa memberi kebaikan, ia akan menerima kebaikan pula sebagai balasannya. Sebaliknya, siapa memberi keburukan, ia akan menerima keburukan pula sebagai balasannya.
Dan itu termasuk keadilah Allah yang Allah perlakukan untuk hamba-hamba-Nya.
Allah ta'ala berfirman,
هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ
Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula). Qs. Ar-Rahman: 60
Allah ta'ala juga berfirman,
هَلْ تُجْزَوْنَ اِلَّا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ
"Kamu tidak diberi balasan, melainkan (setimpal) dengan apa yang telah kamu kerjakan." Qs. An-Naml: 90
Siapa yang memberikan raga dan hidupnya untuk menghamba kepada Allah, maka ia akan menerima kemuliaan.
Siapa yang memberikan waktunya untuk ilmu, maka ia akan menerima balasan yang sesuai. Allah akan membukakan untuknya pintu-pintu ilmu.
Sebaliknya, manakala orang itu enggan memberikan waktunya untuk ilmu, maka kejahilan lah yang akan ia terima.
Ada salah satu ucapan dari Al-Mujaddid Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullah yang cukup menarik. Beliau mengatakan,
عدم الفهم في أكثر الناس اليوم عدل منه سبحانه لما يعلم في قلوبهم من عدم الحرص على تعلم الدين . فتبين أن من أعظم الأسباب الموجبة لكون الإنسان من شر الدواب هو عدم الحرص على تعلم الدين.
"Banyaknya manusia yang tidak memahami ilmu agama pada hari ini itu termasuk keadilan dari Allah, dikarenakan Dia mengetahui apa yang ada dalam hati-hati mereka berupa tidak adanya semangat untuk mempelajari agama.
Maka menjadi jelaslah, bahwa, sebab terbesar yang menjadikan manusia keadaannya lebih buruk dari hewan ialah karena tidak adanya kesemangatan mempelajari agama." (Mufidul Mustafid, Fi Kufri Tarikit Tauhid).
Pada intinya, benih yang kamu tabur, itulah yang kamu panen. Apa yang kamu berikan, itulah yang akan kamu terima.
Tapi, untuk memperoleh kemuliaan, sudah seberharga apakah yang kamu berikan?
Senin, 18 Sya'ban 1446
https://t.me/Fawaid_Arsip | 0 |
| 13 | Maka syukurilah nikmat hidayah itu. Jangan sampai nikmat tersebut dicabut dari kita akibat kurangnya kita bersyukur.
Al-Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah melanjutkan, "Tiada yang lebih bermudarat bagi hamba melebihi rasa bosannya terhadap suatu nikmat yang Allah anugerahkan kepadanya. Ia tidak memandangnya sebagai nikmat, tidak mensyukurinya, tidak senang dengannya, bahkan ia murka kepadanya, mengeluh dan menganggapnya sebagi musibah. Padahal, itu adalah nikmat paling besar yang Allah anugerahkan kepadanya." (Al-Fawaid, hal. 178)
Kamis, 14 Sya'ban 1446. Di bawah guyuran hujan pagi hari.
https://t.me/Fawaid_Arsip | 0 |
| 14 | Mensyukuri Nikmat Hidayah
"Bila sunrise yang dinanti tertutup mendung, masih ada arunika yang bersinar terang memukau."
"Bila arunika redup digantikan hujan, masih ada senja dengan lembayungnya yang menawan."
"Bila senja tiba dan hujan belum juga enggan mereda, masih ada purnama yang indah, dengan bintang-bintang yang bersinar memperindah malam."
Anggapnya dengan menggerutu karena hujan yang tidak kunjung reda.
Namun, alih-alih mengeluh akan hadirnya hujan, kamu harus mengerti datangnya hujan termasuk nikmat yang seharusnya disyukuri. Ketika ia tiada, maka hadirnya adalah sesuatu yang paling dinantikan.
Begitulah manusia terkadang ia lupa kalau ia berada dalam sebuah nikmat, namun ia merasa sesak dengannya dan mencari-cari dan menanti nikmat yang lain; yang entah apakah ia bisa menggapainya, atau bahkan itu lebih buruk dari nikmat yang sekarang ia ada di atasnya.
Hingga ketika nikmat itu dicabut darinya, barulah ia menyadari betapa berharganya nikmat tersebut yang tidak ia sadari sebagai nikmat.
Seperti halnya hujan yang dikeluhkan hadirnya, hingga manusia mengharap hadirnya sunrise, arunika, lembayung senja, purnama dan bintang. Dan ketika hujan benar-benar tidak lagi turun, barulah manusia menyadari akan berharga dan butuhnya ia terhadap turunnya hujan.
Al-Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata, "Termasuk malapetaka ialah ketika seorang hamba berada dalam sebuah nikmat yang Allah anugerahkan kepadanya dan memilihkannya untuknya, namun hamba merasa bosan dengan nikmat itu. Karena jahilnya ia mencoba berpindah dari nikmat itu kepada apa yang ia anggap lebih baik menurutnya.
Namun, dengan rahmat-Nya, Allah tidak mengeluarkan ia dari nikmat itu, dan memberinya udzur atas kejahilannya dan pilihan yang buruk untuk dirinya. Hingga ketika ia merasa sesak dengan nikmat itu, ia murka, dan semakin kuat rasa bosannya, Allah cabut nikmat itu dari dirinya.
Tetapi ketika ia sudah berpindah menuju kesenangan yang ia harapkan, dan melihat perbandingan yang jauh antara nikmat yang dulu ia ada di atasnya dengan keinginan yang sudah ia peroleh tersebut. Saat itulah ia mulai gelisah dan sangat menyesal. Ia berharap Allah mengembalikannya kepada nikmat yang dahulu ia ada di atasnya." (Al-Fawaid, hal. 178)
Hal ini serupa dengan orang yang sudah mendapatkan nikmat hidayah. Namun ia merasa bosan dengan nikmat itu, dan menganggapnya itu bukan nikmat. Bahkan baginya itu seakan penjara yang mengurungnya. Ia terus berusaha bisa lepas darinya. Ia lebih memilih mengejar kesenangan-kesenangan yang ditawarkan dunia.
Hingga ketika dia bisa meraih kesenangan duniawi yang dianggap sebagai nikmat, dan ia menanggalkan hidayah yang Allah anugerahkan kepadanya, ternyata ia mendapati kegersangan setelahnya. Hampa, kurang bermakna. Ia mulai merasakan bahwa berada di atas nikmat hidayah itu jauh lebih baik dan menentramkan.
Ia pun menyesal dan berharap bisa kembali kepada hidayah itu. Namun kembalilah orang yang kembali karena taufiq dari Allah, namun siapa yang tertutup dari taufiq maka semakin buruklah keadaannya.
Memang terkadang seorang tertahan karena hidayah dari kesenangan duniawi. Namun, dengan tetap berada dalam hidayah dia akan menemukan ketenangan dan bahagia yang sesungguhnya. Sehingga semakin berlangsunglah nikmat ia dapatkan, bahkan semakin bertambah.
Seperti hujan yang turun, terkadang menutupi indahnya sunrise, arunika, lembayung senja, bahkan purnama. Namun, dengan sebab hujanlah tanaman itu tumbuh, sungai mengalir, dan hewan ternak bisa makan dan minum. Sehingga menjadi sebab kelangsungan hidup manusia.
Bisa dibayangkan bila hujan tidak lagi turun, meski dengan itu manusia bisa menikmati indahnya sunrise, arunika, panorama senja, dan purnama, namun mereka akan kesulitan mendapatkan air. Sungai mengering dan tanaman mati. Kelangsungan hidup pun terancam.
Begitulah bila hidayah dicabut dari hamba. Mungkin saja ia mendapatkan kesenangan yang ia harapkan tersebut, namun hatinya gersang. Ia tersiksa dan menderita. | 0 |
| 15 | Emas selamanya akan tetap menjadi emas. Walau ia dipola, dibentuk, disepuh, dipotong, diremuk, diinjak, pun dilebur ia akan tetap menjadi emas; tetap berharga dan bernilai.
Itulah gambaran orang yang ikhlas dalam beragama. Ia tetap mulia, meski manusia beragam dalam menilainya. Sebab, yang menjadi perhatiannya ialah pemuliaan dari Allah; bukan penilaian dari makhluq.
Ia tidak perlu memantaskan diri di hadapan para makhluq, sebab ia tetap bermartabat walau tidak ada yang memujinya.
Ia juga tidak khawatir bila dicela, toh celaan itu tidaklah menjatuhkan kemuliaannya.
Ibnul Qayyim Rahimahullah (Madarijus Salikin 2/172) menyebutkan salah satu definisi ikhlas ialah membersihkan amalan dari mencari perhatian makhluq.
Dzun Nun Al-Mishri Rahimahullah (Hilyatul Aulia, 10/243) berkata, "Apabila kamu dalam beramal tidak suka dipuji manusia, dan tidak takut dari celaan mereka, insyaallah, kamu tergolong orang-orang yang ikhlas."
Maka orang yang ikhlas itu terus konsisten beramal meski sepi apresiasi. Tetap istiqamah dengan tanpa terpengaruh oleh celaan dan hinaan yang diarahkan kepadanya.
11 Sya'ban 1446
https://t.me/Fawaid_Arsip | 0 |
| 16 | Tinggikan Perananmu,
Bukan nada suaramu.
Sebab, karena dengan hujanlah tanaman itu tumbuh.
Bukan dengan gelegar petir.
Gemericik suara hujan terdengar menentramkan. Pun tanah yang gersang, bisa menjadi subur bila mendapat bagian curahan airnya.
Demikianlah ucapan yang baik bila diiringi dengan kelembutan, akan memberi pengaruh positif. Betapa banyak orang masuk islam, atau bertaubat dari dosa setelah mendengarkan tutur kata nasihat yang lembut serta mendapat perlakuan yang baik.
Sementara itu petir, seringkali gelegar suaranya membuat takut orang yang mendengar. Pun sambaran kilatnya, terkadang membuat hangus terbakar pohon-pohon yang terkenainya.
Itulah arogansi. Seringnya membuat takut orang-orang sekitarnya. Betapa banyak orang-orang yang sebenarnya berpotensi menjadi kandas ibarat pohon yang tersambar kilatan petir, akibat ucapan-ucapan keras lagi kaku.
Kamu diperintahkan untuk menyampaikan kebenaran kepada manusia, bukan menjadi pemaksa. Pilihlah tutur kata yang baik, bukan bentakan-bentakan arogansi. Beri teladan yang baik dan berperilaku lemah lembutlah, bukan bersikap otoriter, kaku serta kasar.
Coba renungkan firman Allah ta'ala,
اذْهَبَا إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَىٰ فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ
"Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, karena sesungguhnya dia telah melampui batas. Berbicaralah kalian dengannya dengan kata-kata yang lemah lembut. Mudah-mudahan dia sadar atau takut" (Qs. Thaha: 43-44)
Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, "Ayat ini padanya ada pelajaran yang berharga. Yaitu: bahwasannya Fir'aun (waktu itu) berada pada puncak keangkuhan dan kesombongan, sedang Nabi Musa adalah hamba Allah yang pilihan saat itu.
Pun demikian Allah memerintahkan kepada Nabi Musa untuk mengajak bicara Fir'aun dengan lunak dan lemah lembut" (Tafsir Qur'anul Azhim).
Kamis, 07 Sya'ban 1446
https://t.me/Fawaid_Arsip | 0 |
| 17 | Sedikit Kisah Menjelang Wafatnya Syaikh Ibnu Baaz dan Syaikh Al-Albani rahimahumallah
Telah bercerita kepada kami guru kami Al-Ustadz Abdul Mu'thi Sutarman hafizhahullah pada 5 Sya'ban 1446 di Masjid Fathimah-Gombong, beliau berkata,
"Syaikh kami bercerita bahwa beliau melihat dalam mimpi terjadinya gerhana matahari dan gerhana bulan secara bersamaan.
Beliau menafsirkan, gerhana matahari maksudnya adalah wafatnya Syaikh Ibnu Baaz, sedangkan gerhana bulan maksudnya adalah wafatnya Syaikh Al-Albani. Dan tidak lama kemudian, ternyata benar. Beliau berdua meninggalkan dunia."
Dari sini kita bisa mengambil faidah, terkadang memang ada semacam tanda meninggalnya orang besar dan berpengaruh melalui mimpi yang dilihat oleh seseorang. Hal ini tentu terjadi dengan hikmah dari Allah.
Guru kami; Al-Ustadz Abdul Mu'thi juga menyebutkan salah satu riwayat, bahwa ada seseorang yang bermimpi melihat ada dua bintang, salah satunya mendahului bintang yang lain. Maka orang itu menanyakan perihal mimpinya kepada Muhammad bin Sirin Rahimahullah.
Muhammad bin Sirin menerangkan, "Bintang yang mendahului adalah Al-Hasan Al-Bashri, sedangkan bintang yang didahului adalah saya".
Ternyata benar. Tidak lama berselang Imam Al-Hasan Al-Bashri wafat, kemudian disusul oleh Imam Muhammad bin Sirin. Rahimahumallah.
Selasa, 5 Sya'ban 1446
https://t.me/Fawaid_Arsip | 0 |
| 18 | [ PDF ] SISI LAIN SUDUT PANDANG DUNIA
Petikan Hikmah dari Untaian Syair Abul Fath Al-Busty tentang Kehidupan Dunia.
Sumber Syair: Unwanul Hikam | 0 |
| 19 | Nemu di Pinterest.
Sebuah permisalan yang bagus; menggambarkan apabila ada dua kekuatan besar yang seharusnya mengayomi tapi malahan bertikai maka akan berdampak sangat buruk pada orang-orang yang seharusnya diayomi.
Dua kubu pejabat negara misalnya, apabila berselisih yang akan merasakan dampak kerusakan paling parah adalah rakyat.
Sesama guru yang semestinya bahu membahu membimbing para murid, maka jika ada perselisihan antara keduanya maka para murid lah korban yang paling parah merasakan dampaknya.
Suami dan istri juga sama, manakala mereka bertengkar maka anak-anak mereka lah yang jadi korban parah. Bahkan, tidak jarang anak-anak itu hilang arah karena sebab pertikaian kedua orangtuanya.
Perselisihan suatu hal yang pasti terjadi, maka bijaklah dalam menyikapi. Berpikirlah mana yang lebih umum maslahatnya, bukan egois memikirkan diri sendiri.
25 Rajab 1446 | 0 |
| 20 | Sabar; Anugerah Terindah
Rasulullah ﷺ bersabda,
وما أُعْطِيَ أحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ
"Tidaklah seorang diberi anugerah dengan sesuatu yang lebih baik lagi lebih luas daripada kesabaran". (HR. Bukhari 1469)
Sabar adalah tindakan menahan jiwa dari keluh kesah, menahan lisan dari mengadu, dan menahan anggota badan dari sesuatu yang tidak pantas untuk dilakukan.
Siapa yang diberi taufiq untuk bersabar maka ia telah diberi anugerah terindah.
Sebab ia adalah anugerah paling luas. Mencakup berbagai perangai mulia. Keberanian, menjaga kehormatan diri, tekad dan banyak lainnya itu lahir dari kesabaran.
Dan dengan kesabaran, segala sesuatu yang sempit menjadi luas. Sempitnya dada karena sedih, menderita, berduka, terluka, dan semisalnya, itu dapat terurai dengan kesabaran sehingga menjadikannya lapang nan luas.
Dan juga karena sabar adalah anugerah terbaik. Bahkan ia merupakan sumber kebaikan. Segala sesuatu akan menjadi baik dan indah bila ditemani oleh kesabaran.
Karena ini dahulu para salaf mengatakan, "Kami menemukan indahnya hidup kami itu terletak pada kesabaran".
Wallahu A'lam
Malam Kamis, 23 Rajab 1446
https://t.me/Fawaid_Arsip | 0 |
