Renjana
Open in Telegram
Entah sampai pada lembar ke-berapa tulisanku masih bermuara tentangnya, namun kupastikan dirinya akan abadi dalam kisah yang kutulis ulang, sebagai aksara roman picisan yang tak dapat menjadi utuh...
Show more322
Subscribers
No data24 hours
No data7 days
No data30 days
Posts Archive
322
βΏββββΰΌΊβΰΌ»βββββΎ
Di sudut kota kutemukan serpihan kecewa,
perihal angan yang direguk realita,
tersangkut pekatnya asa,
merangkak dijerat kabut nestapa.
Kutelusuri sudut kota ini,
dirundung sesak berselimut belati,
terpantri patah mengukir hati,
terjebak dalam penyangga halusinasi.
Lidah ini terasa kelu,
langkah kaki menyongsong kaku,
padahal yang kuingin hanya kamu,
menjadi tempat pulang segala rindu.
ββββββββ γ» γ» γ» γ» β¦
322
βΏββββΰΌΊβΰΌ»βββββΎ
Bisa ditegur saja tidak, bu....
tidak usah meninggikan suara dan membolakan matamu terhadapku.
Mungkin, amarahmu akan lenyap bersama celotehan yang engkau lontarkan untukku, akan tetapi kata yang keluar dari mulutmu akan terus membekas dalam ingatanku, dan rasa sakitnya akan abadi dalam hati.
Bu....
Tegur aku jika salah, tidak perlu dengan kalimat lembut, cukup pelankan suaramu, nasihati aku dengan baik.
Karena hal itu jauh akan lebih berpengaruh untuk perubahannku ketimbang tingginya suara dan makianmu.
Aku paham dan sangat mengerti, bahwa menjadi seorang ibu adalah kali pertama dalam hidupmu, akan tetapi ibu juga harus ingat bahwa dalam hidupku, akupun kali pertama menjalani peran menjadi seorang anak, dimana engkau lebih dulu merasakan peran itu.
Aku pikir, ibu juga dulu, pernah ada di posisiku sekarang. Dan tau bagaimana rasanya ketika seorang anak melakukan kesalahan bukannya di tegur lalu di beri nasihat, justru di bentak dan di perhitungkan dengan perjuangannya selama ini untuk kita, sakit bukan, bu?
Bu....
Jika aku melakukan kesalahan dan engkau enggan menegur, cukup kau tunjukkan sikap tidak suka mu atas perbuatanku, maka aku akan berpikir atas perubahan sikapmu, lalu aku akan merenungi kesalahanku, perlahan aku akan memperbaikinya, itu jauh lebih baik untukku daripada nada tinggimu, bu.
Bisa ya, bu, tidak menegurku dengan nada tinggimu.
Engkau yang memberi tahu semua orang bahwa aku sangat tidak bisa mendengar suara tinggi apalagi di bentak. Namun, kenapa engkau melakukanya?
ββββββββ γ» γ» γ» γ» β¦
322
βΏββββΰΌΊβΰΌ»βββββΎ
"KOPI, RINDU, DAN MALAM"
Kamu adalah puisi dalam kopi,
layaknya mengecap pahit dari hati,
rintihan aromanya yang bersembunyi,
mengukir benak menjelma halusinasi.
Saat malam sajak menjadi sebuah resah,
menikam rindu bak anak panah,
kendati juang temu ingin merapah,
namun waktu memisahkan arah.
ββββββββ γ» γ» γ» γ» β¦
322
βΏββββΰΌΊβΰΌ»βββββΎ
Jakarta, kota yang penuh dengan gedung pencakar langit
Polusi lengkap dengan serapah polisi atas kendaraan yang membantah sengit
Kuperkenalkan kota yang kisahnya tersimpan diatas langit
Perihal salah satu warganya yang membuat rinduku kian rumit
Aku tergila-gila dengan kota jakarta
Maksudku dengan seseorang yang berada disana
Perempuan yang berhasil membuatku jatuh cinta dengan segala pesonanya
Ini aku, lelakimu yang kau ikat dengan rindu
Meskipun bukan dengan tali temu,
kau tahu? bersamamu aku tak kenal rasa jemu
Malah aku kian akrab dengan semua tentangmu yang membuat candu
ββββββββ γ» γ» γ» γ» β¦
322
βΏββββΰΌΊβΰΌ»βββββΎ
Pada langit yang melukiskan warna,
akan kutitipkan sekeping cerita,
dibalik payoda indah nan mempesona,
ada wanita yang mengagumkan bak semesta.
Jika kalbumu tersayat,
lalu nestapa yang merayap dengan berat,
kutahu kamu akan selalu menjadi wanita kuat,
menyesap gundah menyiratkan sekat.
Kala rasa bersembunyi dibalik angin,
menghembuskan harapan yang terus berdesir sejak kemarin,
hingga aksaraku merapalkan doa pada malam yang dingin,
menjatuhkan namamu sebagai orang yang kuingin.
ββββββββ γ» γ» γ» γ» β¦
322
βΏββββΰΌΊβΰΌ»βββββΎ
Mari bertandang ke kalbuku,
kalbu yang rapuh namun sekeras batu,
penuh dengan sekelebat masa lalu,
tersirat rindu yang memaksa bertemu.
Dahulu dekapanmu selalu menenangkan,
hingga kepergian itu ada untuk menyakitkan,
disetiap malam diiringi keheningan,
mendamba kehadiranmu dalam setiap khayalan.
Berawal dari kata sederhana,
yang berakhir pergi selamanya,
pipi yang dahulu kau buat merona,
kini berhasil terkikis oleh air mata.
ββββββββ γ» γ» γ» γ» β¦
322
βΏββββΰΌΊβΰΌ»βββββΎ
"RAGA YANG SEMU."
Ketika kegelapan menguasai duniaku,
wujudmu menjelma bayangan semu,
hanya dapatku genggam dalam sendu,
mengungsung akhir penuh rindu.
Jiwa tumbang dibeban luka,
perih bersenandung hilir mudik,
mencumbu ilusi dengan buana,
persetanan dengan sakit yang pelik.
Aku ingin kamu disini,
menetap dan takkan pergi lagi,
kembali dengan rasa yang utuh,
dan menyuguhkan tatapan yang teduh.
ββββββββ γ» γ» γ» γ» β¦
322
βΏββββΰΌΊβΰΌ»βββββΎ
Pekatnya hitam menyambut mata,
terpukau kesunyian memekik semesta,
melangkah tuk bersimpuh pada sang kuasa,
kalbu yang gundah mengadu lewat doa.
Atmaku membelah sepertiga malam,
merapalkan harapan yang selalu bersemayam,
menyapu perihal dunia yang terpatri dendam,
mengecup semu rupa-Nya yang tak bisa digenggam.
Kubentangkan sejadah yang membakar kerinduan,
menumpahkan segalanya dalam tampungan tangan,
menyatu padu satu makna agar dikabulkan,
lalu merangkak naik ke nabastala dipungut Tuhan.
ββββββββ γ» γ» γ» γ» β¦
322
Terlihat tidak peduli, namun ternyata menjadi yang paling berisik memohon agar kau baik-baik saja.
322
Yang paling kurindukan setelah kepergianmu adalah diriku, yang baik-baik saja sebelum mencintaimu.
322
Pada akhirnya, aku memilih mencintaimu secara dewasa.
Tanpa memaksa untuk bersama.
Tanpa perlu kau mengetahuinya.
βR
322
Pada akhirnya, aku memilih mencintaimu secara dewasa.
Tanpa memaksa untuk bersama.
Tanpa perlu kau mengetahuinya.
R
