Renjana
Open in Telegram
Entah sampai pada lembar ke-berapa tulisanku masih bermuara tentangnya, namun kupastikan dirinya akan abadi dalam kisah yang kutulis ulang, sebagai aksara roman picisan yang tak dapat menjadi utuh...
Show more322
Subscribers
No data24 hours
No data7 days
No data30 days
Posts Archive
322
Jika kamu ingin berkeluh kesah, ingin bercerita tentang kerasnya hidup atau perihal apapun silahkan menghubungi bot @sendupst_bot
Klik star lalu kirim pesan, jika bot tidak merespon mohon menunggu mungkin mimin lagi sibukπ«Έπ«·
Sampai jumpa...
Aku tunggu cerita-cerita kalianπ
322
βΏββββΰΌΊβΰΌ»βββββΎ
Kadang hanya tak menyangka semudah itu kau berkhianat. Mulanya aku hanya memberi jeda, ternyata kau lebih memilih berpindah.
Akhirnya, semua tentangmu tak lagi aku pedulikan. Tidak ada lagi rasa sakit saat kau dengan yang lain.
Tidak ada penyesalan, dan yang paling penting tidak akan ada lagi pengulangan.
Kau yang memilih jalanmu, maka aku tak ingin lagi jadi penghalang. Setelahmu, aku mungkin akan menemukan orang yang lebih tulus menerima cacatku.
Sementara, apa mungkin kau menemukan yang lebih menyayangimu dibanding aku?
ββββββββ γ» γ» γ» γ» β¦
322
βΏββββΰΌΊβΰΌ»βββββΎ
teruntuk rembulan yang sempat kutatap di persimpangan, aku izin merayu.
saat ini aku dan dia berpijak, di dalam ruang yang pernah menjadi tenang,
bersama uluran tangan yang lekas saling melepas,
sebagaimana ujung peristirahatan yang tak lagi satu tujuan.
namun sebelum perpisahan, kumohon rembulan ...
untuknya, leburkan ingatan indah tentangku dalam memorinya setara binarmu yang mempesona,
tenggelamkan asmaku dalam hatinya, serupa waktu aku menggapaimu.
sebab tak ada yang lebih menyiksa, dari kencangnya serayu yang berembus membawa rindu.
masuk kedalam celah kenangan, diantara gulita malam.
kau tahu rembulan ...
betapa aku membenci kesunyian, sebab disana namanya abadi bersemayam.
memusuhi jiwaku dengan kedok perasaan.
izinkan cakrawalamu menemani kesendirian, atau barangkali menjabat genggaman.
aku tak ingin lagi direnggut seonggok kisah yang telah menemui kata pisah.
ββββββββ γ» γ» γ» γ» β¦
322
βΏββββΰΌΊβΰΌ»βββββΎ
Puan, ini bukan tentang aku yang tak lagi mencintaimu
melainkan perasaan ragu yang mulai tumbuh di dadaku.
jarak.
itu yang menjadi masalah dalam hubungan kita
sebab kita hanya bercengkrama lewat maya
sementara perasaan kitapun sama-sama nyata.
begini Puan,
apa kau pernah berpikir tentang "bagaimana mempertahankan hubungan kita, sementara pemisah antara kita begitu nyata?"
sebab berpikir tentang hal itu setiap harinya saja
membuatku semakin lama semakin gila
meski begitu mudah kau ucap kata cinta,
begitu mudah kau mengaku bahwa kau merindu
namun tetap tak dapat meyakinkan hatiku yang terlanjur ragu.
ββββββββ γ» γ» γ» γ» β¦
322
βΏββββΰΌΊβΰΌ»βββββΎ
Perihal kehidupan memang terasa sulit tuk dihadapi. Terkadang memang benar lebih baik menggunakan topeng kehidupan agar mampu melewatkan seluruh permainan sang semesta.
Bersikap acuh tak acuh pun perlu agar lara dan nestapa tidak terus-menerus menghampiri. Karena ini tentang cerita hidupmu bukan cerita hidup orang lain pun cerita sang buana.
Selamat datang di duniaku,
yang penuh dengan lika-liku.
ββββββββ γ» γ» γ» γ» β¦
322
βΏββββΰΌΊβΰΌ»βββββΎ
Monolog Rasa
: Dari manusia hina yang berjiwa hampa
Tentang 'tak bisa menjadi pelangi untuk mereka yang buta warna' Jika tak bisa jadi pelangi maka aku ingin menjadi kacamata untuknya atau bahkan menjadi mata untuk hatinya yang tak bisa lagi melihat indahnya warna.
This world is too beautiful to be sad if you are not happy.
Namun, jika tak bisa menjadi keduanya maka akan ku raih dan tuntun tangannya untuk menikmati betapa indahnya pelangi dan senja dan indahnya langit jingga.
Lalu akan ku ceritakan seisi dunia padanya, bahwa tak harus tahu apa yang kita lihat hanya untuk bisa menikmati alam semesta, layaknya kita menikmati angin yang berhembus.
ββββββββ γ» γ» γ» γ» β¦
322
βΏββββΰΌΊβΰΌ»βββββΎ
Mengapa rasanya, melupakanmu sesulit itu?
Kenangan kita hanya sekejap, tetapi mampu menguasai isi hati dan pikiranku sepenuhnya.
Aku tak kuasa membayangkan, jika kurun waktu kita bersama lebih lama lagi ...
Akankah aku memilih mengubur diri serta rasa ini?
Segala kesalahan tak mampu menutup pintu maaf.
Bodoh sekali memang.
Aku membencimu, namun sangat mencintaimu.
ββββββββ γ» γ» γ» γ» β¦
322
Nadin
lagumu hadir disaat aku merayakan kesendirian
Lagumu dirayakan oleh banyak mereka dengan orang terkasihnya.
Apakah aku boleh ikut serta meski sendirian?
Cr:?
322
βΏββββΰΌΊβΰΌ»βββββΎ
Selamat datang kemarau
Bersama usang penghisap habis sepat kerinduan.
Kemarilah
Kita menari bersama dalam kegersangan
Mengering terkelupas hingga yang tersisa hanyalah debu-debu kenangan.
"Apakah kita akan mati?" Tanya mu,-
Tidak...
Kita akan menyala dalam tandus.
ββββββββ γ» γ» γ» γ» β¦
322
βΏββββΰΌΊβΰΌ»βββββΎ
Meski kita telah saling nyaman,
daksa kita dalam rengkuhan,
hubungan pair dayita yang kuinginkan,
namun semesta berkata jika kita hanya sebatas teman.
Bersama dengan insan tanpa hubungan yang pasti,
memilikimu hanya bisa dalam ilusi,
ingin menggapaimu tetapi terlalu tinggi,
semua ini hanyalah impian tak bertepi.
Memperlakukanku dengan mesra,
tingkahmu seakan membawaku ke swargaloka,
perlahan berhasil membuatku dewana,
tanpa adanya sebuah hubungan diantara kita.
ββββββββ γ» γ» γ» γ» β¦
322
βΏββββΰΌΊβΰΌ»βββββΎ
Tuhan, apakah tidak ada cara lain yang sedikit lebih mudah dan tidak membingungkan?
Beribu pertanyaan tercampur aduk dikepalaku. Aku kebingungan mencari arah, tak ada satupun petunjuk yang membantu.
Aku tersesat, aku tersesat diantara banyaknya pertanyaan dan tak kunjung mendapatkan jawaban.
Tuhan, apakah serumit ini untuk berproses menjadi dewasa?
ββββββββ γ» γ» γ» γ» β¦
322
βΏββββΰΌΊβΰΌ»βββββΎ
Sikapmu membuatku mengerti puan, bahwasanya hidup tak melulu perihal memaksa kehendak diri sendiri.
Aku harus mulai menerima keadaan bahwa sesungguhnya kau tak pernah mengerti bentuk cinta sederhana ku ini.
Aku tersesat puan, dalam belantara asa dan nestapa. Sajakku hanya tertulis tentangmu dan perihalmu, lantas sikapmu memaksaku menghapus setiap kata yang menggambarkan elok manis dirimu puan.
Cintaku tak lagi tertulis dalam sajak sajakku, jikalau nanti kau merindukanku.
Carilah aku dalam setiap tulisanku, cintaku ada disana sebelum akhirnya di paksa bungkam dengan keadaan.
ββββββββ γ» γ» γ» γ» β¦
322
βΏββββΰΌΊβΰΌ»βββββΎ
Terlepas dari semua gairah, sajakku mulai usang.
Buku-buku catatan mulai koyak berantakan.
Luapan emosi dengan gaya mulai sirna terganti sambatan acak.
Tak ada lagi frasa penyusun klausa yang menjadikannya kalimat penuh makna.
Tak ada lagi bujuk rayu sepanjang lintasan jalan kota yang bermakna cinta.
Tak ada lagi sedih pedih perih yang terpapar dalam kata.
Seolah mati jiwa sang pujangga penikmat senja..
Yang dahulu mempuja kosakata indah bertabur ribuan makna.
Kini ntah kemana jiwanya, mungkin kelak akan bangkit atau terkubur selamanya.
ββββββββ γ» γ» γ» γ» β¦
322
βΏββββΰΌΊβΰΌ»βββββΎ
aku disini.
mencoba menikmati semesta yang memberikan sepi,
mencoba bertahan dengan cahaya rembulan yang menemani,
mencoba tersenyum menatap kepergian puan sang pemilik hati.
aku disini
menitikan air mata pilu,
mengingat memori dimana kamu tersenyum manis di layar ponsel ku,
bercerita tentang kejamnya buana, cantiknya bianglala, dan indahnya senja.
untukmu yang kini semakin jauh dari radarku
mungkin aku hanya ingin memutar waktu,
aku ingin mengembalikan segalanya seperti dahulu
sebab, kali ini aku benar benar merindukanmu
ββββββββ γ» γ» γ» γ» β¦
322
βΏββββΰΌΊβΰΌ»βββββΎ
Saya dan kamu memiliki banyak perbedaan, bertengkar sepanjang hari karena sebuah ego yang ditinggikan. Tidak pernah mau mengalah apalagi saling bertukar sapa. Hanya rasa benci yang ditunjukkan antara kita berdua.
Hingga semesta lupa caranya untuk beretika. Ia mendatangkan sebuah rasa yang tak pernah terlintas diotak saya. Buana memberinya sebuah nama yaitu cinta. Imajiku memberontak akan tetapi hatiku berteriak dengan lantang, bahwa ia mencintai wanita bermata teduh dengan bait sajaknya yang indah.
Nyatanya cinta tak selamanya berpihak dan indah layaknya sajak milik puan bermata teduh. Seperti kalimat Tuhan memang satu tapi kita yang tak sama. Kita bertemu, menjalin cinta, tapi ujungnya berpisah jua.
Tolong beritahu,
doβa apa yang harus aku rapalkan pada Tuhan agar kamu paham,
bahwa berbeda bukan hanya tak sama,
tetapi juga tiap kisah yang dirangkai pasti akan berakhir usai.
ββββββββ γ» γ» γ» γ» β¦
322
βΏββββΰΌΊβΰΌ»βββββΎ
Aku dan kamu,
hanya memainkan peran masing-masing di sebuah dialektika romansa.
Kamu dengan segala juta pesona,
aku dengan seluruh rasa yang terkesan sederhana.
Memang seharusnya aku tak pernah berharap lebih,
kepada perempuan dengan pesonanya yang melebihi keindahan sang buana.
Semesta pun seolah mendukung,
perihal aku yang seharusnya tahu diri,
bahwa kamu sangat tinggi hingga aku sulit menggapainya.
Pada akhirnya,
rasa ini harus dikubur di dalam relung hati.
Lalu melupakan fakta bahwa aku pernah jatuh cinta,
kepada seorang perempuan yang diksinya tak pernah aku pahami.
Sebab diksinya penuh teka-teki,
sehingga terlalu rumit untuk aku rangkai dengan diksiku sendiri.
ββββββββ γ» γ» γ» γ» β¦
322
βΏββββΰΌΊβΰΌ»βββββΎ
Teruntuk alam raya yang terus menerus terjaga,
sampaikan rasa rinduku kepada sang dayita.
Sampaikan pula rasa cinta yang kian hari semakin besar jumlahnya.
Katakan padanya, aku; sang perasa yang tak pernah tampak dimatanya.
Kekasih hati dengan segala pesona,
aku hanyalah lelaki dengan rasa yang terkesan sederhana.
Mencintaimu dalam diam bukanlah sebuah keinginan,
akan tetapi menjadi hal yang aku harus lakukan.
Keberanianku mendadak hilang untuk sekedar mengungkapkan rasa yang penuh sesak di dalam jiwa, tak pernah terlintas di imaji untuk mengungkapkan, sebab aku terlalu takut jika akhirnya menimbulkan nestapa.
Pada akhirnya,
aku hanya ingin alam raya mengizinkan.
Agar aku mencintai seluruh pesona sang dayita,
walau hanya sekedar cinta yang terpendam di dalam samudera.
ββββββββ γ» γ» γ» γ» β¦
322
βΏββββΰΌΊβΰΌ»βββββΎ
Kemari,
duduk melingkar bersamaku ditemani oleh sepi.
Dengan secangkir cokelat panas yang tersaji.
Menikmati sarayu malam yang begitu menenangkan hati.
Keluarkan seluruh emosimu.
Ruang bicara akan selalu aku sediakan setiap waktu.
Sukmamu sudah menjerit tak tertolong olehku.
Diksi pun sudah tak sanggup mewakilkan ceritamu.
Bicarakanlah apa yang tak bisa kau ungkap lewat aksara.
Suarakan apa yang selama ini belum bersuara.
Nyatakan senyata-nyatanya.
Biarkan ia ada dalam segala pinta.
Kalau perlu aku siap menjadi objek terlukamu.
Biarlah ku tampung segala air matamu.
Agar aku menjadi peluk hangatmu.
Dan dirimu bisa nyaman dalam segala riang tawaku.
ββββββββ γ» γ» γ» γ» β¦
322
βΏββββΰΌΊβΰΌ»βββββΎ
PATAH HATI.
Kala mulut tak bersuara
Daksa tak pernah bersua
Tangan tak lagi menyapa
Maka tulisan yang akan menggema.
Menyalurkan harsa yang hirap oleh lara
Yang kini merangkai menjadi retisalya
Riuh gemuruh sesak mendekap dada
Kemudian atma menghapus asa.
Tertatih jemari untuk mencoret frasa
Sebab luka yang kian menjadi lara
Perihal rasa yang menjadi kecewa
Tentang cinta yang membawa duka.
Dari perih ku curahkan isi hati
Sesak rasa rindu yang berbisik sepi
Membawaku jatuh kedalam jurang kehancuran
Aku kalah, berakhir dipatahkan.
ββββββββ γ» γ» γ» γ» β¦
322
βΏββββΰΌΊβΰΌ»βββββΎ
Aku terduduk lemas memandang dua insan yang sedang memadu kasih. Saling bercumbu nikmat tanpa tahu perihal insan lain yang tersakiti. Menciptakan goresan luka hingga membunuh seluruh diksi yang penuh makna elegi.
Aksara demi aksara yang ku ciptakan tentangnya, kini membunuhku perlahan-lahan, hingga secara tak sadar hati ini menjadi mati. Nabastala pun menintikkan air matanya, seolah ingin mewakilkan aksa yang tak mampu berkedip sedikit pun.
Aku terjebak dalam asmaraloka dengan tuan penuh pesona namun ternyata pengkhianat sejati, permainannya terlalu handal sampai tak sadar aku terbuai dalam pesona yang menanggalkan luka.
Terimakasih,
atas hancurnya rasa percaya,
dan sebuah lara yang tercipta.
ββββββββ γ» γ» γ» γ» β¦
